My Facebook

not shown

Selasa, 15 Maret 2011

Rezekikah yang Datang Tak Diundang, Pergi Tak Tauk Rimbanya?

Terkadang rezeki dapat datang tiba-tiba, eh tapi tunggu, jangan GR dulu, soalnya apa benar rezeki yang datang berasal dari sesuatu yang baik dan halal. Jangan-jangan rezekinya dari sumber yang ga jelas, apalagi zaman sekarang, dimana segala sesuatunya saling terkoneksi dan uang seakan-akan lebih berharga dari segalanya.
Lalu gimana tauknya kalau uang yang dihasilkan memang dari sumber yang benar? Susahlah ngejawab yang beginian. Tapi menurut gue ada beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan ketika kita menerima rezeki:

1. Prinsip kewajaran --> maksudnya segala sesuatu harusnya proporsional, dari kemampuan dan keterampilan yang kita miliki, dari kerja keras kita, dari efisiensi dan efektifitas kerjanya (bukan kerja bodong), dari lamanya waktu kita mendapatkan hasil, dan dari banyaknya rezeki yang didapatkan. Untuk yang terakhir ini harusnya selalu diingat bahwa resiko berbanding lurus dengan jumlah uang yang ingin didapat. Sesuatu dengan resiko yang besar maka hasilnya akan besar pula, begitu pula sebaliknya. Kalau resiko kecil tapi uang yang dihasilkan besar nah perlu deh curiga. Ketidakpastian juga sebuah resiko. Makanya ketika orang bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar dengan resiko ketidakpastiannya rendah akan cukup mengherankan (kecuali kalau sudah mapan). Jadi kalau ada yang menawarkan yang pasti-pasti aja, pasti dapet, pasti untung, pasti langgeng dsb, curigalah akan biaya yang menyertainya yang tersembunyi dibalik kepastian tersebut.

2. Prinsip kehati-hatian --> maksudnya ga gampangan menurut terhadap bujukan yang tidak masuk akal atau bahkan bujukan yang masuk akal tapi tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat secara umum. Jangan subjektif, karena yang namanya identitas (dalam bentuk apapun: suku, agama, gender, status sosial, background dan umur) gampang dipalsukan dan dimanfaatkan.

3. Pertimbangkan persyaratan yang disyaratkan baik yang bersifat umum, terselubung atau rahasia. Syarat umum biasanya tidak berbahaya, yang berbahaya adalah yang terselubung atau bersifat rahasia. Nah yang rahasia inilah yang harusnya diwaspadai kenapa harus dirahasiakan. Berbahayakah bagi orang lain atau diri kita untuk kedepannya? Yang pasti, ketika digunakan syarat-syarat yang sebenarnya ga ada hubungannya sama sekali dengan urusan yang bersangkutan nah kita harus curiga. Pokoknya syarat-syarat yang ridiculous dan ludicrous lebih baik jangan diikuti, walaupun syarat tersebut negligible alias ga berarti apa-apa menurut pendapat kita.

4. Tidak merugikan dan mempersulit orang lain.
Jangan merugikan pihak ketiga karena tanggung jawab yang terbesar bukan berada pada pihak ketiga. Pihak ketiga adalah orang-orang selain pihak pelaksana dan pihak peminta.

5. Faktor ketergantungan. Identifikasi dari keterkaitan dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan rezeki tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Wah, kapan jadi kaya kalau banyak yang harus dipikirin? Yah, ga semuanya memang yang dapat terpenuhi, tapi cobalah pertimbangkan baik-baik point-point diatas. Semakin berkuasa dan maju seseorang, maka harus semakin banyaklah hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Uang dan jabatan yang mudah didapat pasti mudah juga pergi, tapi kalau rezeki yang halal pastinya ga kemana-mana.

Kalau kita menemukan sesuatu yang dianggap resikonya nol alias pasti-pasti aja, bukankah artinya sesuatu tersebut tidak mempunyai nilai atau nothing to lose? Mudahnya orang mendirikan bangunan saat ini ditengah banyaknya musibah dan bencana seperti gempa dan tsunami bukankah sebuah bukti bahwa nilai sebenarnya dari bangunan tersebut adalah tidak ada alias nol? 

Pada intinya, kalau kita sudah merasa seperti berada di negeri dongeng, waspadalah!


Survival of The Fittest

Lagipula, rezeki juga ga melulu uang dan hal-hal yang bersifat materi. Jangan sampai rezeki yang bersifat materi dan yang terlihat, yang berasal dari olahan manusia, menyepelekan atau merendahkan rezeki atau anugerah yang langsung diciptakan oleh Tuhan YME, yaitu alam dan mahluk hidup yang ada didalamnya. Jangan sampai melihat orang-orang yang tidak mendapat rezeki materi sebagai orang-orang yang tidak beruntung karena tidak mendapat rezeki yang terlihat, padahal orang-orang tersebut adalah mahluk hidup yang merupakan karunia Tuhan YME. Siapa tahu rezeki yang berupa materi dan kasat mata malah datang dari jin... lebih tidak beruntung lagi bukannya?

Masalahnya, orang cenderung berputar pada poros yang sama. Ketika mereka terjebak didalam sistem hutan rimba dimana yang menang adalah yang lebih kuat, solusi yang mereka tawarkan adalah solusi dimana mereka bisa menjadi lebih kuat. Yang pertama, bisa dengan usaha melampaui yang lebih kuat dari mereka, seperti meningkatkan sumber daya untuk diolah menjadi sumber kekuatan baru. Yang kedua, dengan menindas yang lemah atau dengan merangkul yang lebih kuat. Alasannya, mereka takut yang lebih lemah akan mengalahkan mereka apabila mereka tidak menjadi lebih kuat, bahkan lebih gila lagi, mereka akan mengatakan membuang mudharat yang ditimbulkan oleh kekalahan ketika kebobrokan diungkap. Padahal kalah dan menang seharusnya hal yang biasa. Makanya, solusi yang mereka lakukan akan memberi jalan untuk mempertahankan sistem agar tetap berada di hutan rimba, yaitu, yang lebih kuat yang hidup. Dan ini berarti, ketika mereka tahu bahwa ada yang jauh lebih kuat dari mereka dan tidak bisa mereka lampaui, maka sebenarnya mereka sadar kemana takdir akan membawa mereka.

Di dalam sebuah lingkungan dimana fear lebih dominan dibandingkan hal yang lain, maka solusi kedualah yang diambil. Akibatnya kemudian fatal karena mereka yang kemudian berhasil adalah mereka yang membuang resiko kekalahan tanpa harus menambah kekuatan dengan mengolah sumber dayanya dengan baik. Secara keseluruhan masyarakat akan menjadi lemah karena ketidakmampuan untuk mengolah sumber daya menjadi kekuatan yang dibutuhkan.

Dengan mengandalkan cara-cara termudah yang ada atau yang ditawarkan kita akan terjebak pada mengurangi resiko dengan cara mentransfer tanggung jawab atau menghilangkan tanggung jawab untuk diberikan kepada orang-orang yang berada diatasnya. Ketika sebuah solusi termudah ditawarkan, cobalah melihat ke sisi koin dibaliknya. Siapa yang terbebani dengan biaya hilangnya resiko akibat mengambil cara termudah yang ditawarkan tersebut? Pada akhirnya, kelompok yang terlemah dari masyarakatlah yang harus membayar beban resiko yang dihilangkan tersebut. Dan yang saya maksudkan adalah anak-anak, padahal, bukankah mereka adalah segalanya? Hmm..





Sebenarnya, saya kurang setuju dengan dua cara yang ditawarkan pada survival of the fittest. Karena sederhana saja, tanpa usaha untuk keluar dari sistem hutan rimba tersebut, kita semua pasti akan kalah. Lebih baik berhadapan dengan kebenaran dan menunjukkan niat baik daripada membawa semuanya pada jurang kehancuran.

1 comments:

Ya setuju...kita kan ga mau denger komentar, kerjanya bagus kok ya dicopot sih...susah ngejawabnya.

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More