Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Jumat, 16 Mei 2014

Tujuh Warna Pelangi

Waktu kecil dulu gue suka nonton film animasi yang ceritanya mengenai seorang gadis kecil bernama Lulu yang mendapat misi keliling dunia mencari bunga 7 warna agar bunga tersebut tidak jatuh ketangan orang jahat. Untuk misinya tersebut dia mendapat sebuah keajaiban yaitu bisa merubah penampilannya sesuai dengan apa yg diinginkannya. Selama dia berkelana, dia membantu orang-orang yg ditemuinya dengan keajaiban yg dia miliki. Diapun harus berkejaran dengan orang jahat yg ingin memiliki bunga 7 warna tsb. Beberapa kali dia hampir menemukan bunga 7 warna tsb, tetapi hanya palsu atau isu belaka. Gue ga tauk akhir ceritanya gimana karena jaman dulu film animasi itu rentalan (format vhs jadul) dan ga ada yg bisa komplit masuk ke Indonesia, cuma beberapa episode dan setelahnya ga ada kelanjutannya lagi. 

Anyway, sesuatu yg berwarna-warni tentunya sangat menarik karena keindahan warnanya. Apalagi yg asli dan natural sangat jarang terjadi, seperti pelangi misalnya. Karena keindahannya, warna pelangi sering dijadikan simbol oleh masyarakat tertentu. Di Amerika sana warna pelangi dijadikan simbol kebanggaan untuk kaum trans gender dan homosexual. Gue ga tauk kenapa pelangi dijadikan simbol oleh kaum tersebut tapi mungkin karena indahnya kebebasan dan fleksibilitas yg ada pada warna pelangi tersebut. Daripada warna hitam-putih yg membosankan dan membatasi, warna pelangi memberikan banyak opsi yang menarik. Kesempatan untuk menjadi sebebas-bebasnya (berwarna) tanpa komitmen pada batasan yg putih dan yg hitam. Bebas menjadi apa yg diinginkan selama kesempatan tersebut ada. Pada kaum trans gender, ketika yg kita lihat adalah seorang laki-laki ternyata dia bukan laki-laki, dan yang kita lihat perempuan ternyata dia bukan perempuan. Yg kita lihat putih ternyata tidak putih dan yg kita lihat hitam ternyata tidak hitam. Penampilan boleh fix pada batasan tertentu tapi jiwanya (baca:komitmen) melayang mengambil opsi-opsi yg ada. Integritas batasan yang bertolak belakang tersebut hilang. Bingung? 

Setauk gue putih adalah warna ketika semua warna dihilangkan dan hitam adalah ketika semua warna digabungkan. So putih adalah warna ketika fleksibilitas dihilangkan, dan hitam adalah ketika fleksibilitas digabungkan. Ini berarti opsi fleksibilitas warna-warni berada ditengah, diantara hitam dan putih. Pelangi adalah warna transisi. Dan karena kita sangat senang dengan keindahan maka efek trans ini menarik kita utk mengambil semua warna yg ada. Ilusi atas warna-warni pelangi tersebut kemudian bisa terjadi dengan bantuan cahaya. Ketika semua warna bisa berubah-ubah dengan cepat (satu warna hilang berganti dg yg lain) maka yg warna-warni tersebut akan memantulkan warna putih (seperti pada disc yg sudah kita cat warna-warni dan disc tersebut diputar dengan cepat maka yg tampak adalah warna putih). Ketika warna-warni tersebut tidak mendapat cahaya maka tidak ada cahaya yg memantulkan warna mereka sehingga semuanya menjadi hitam. 

Kita sebagai manusia kayaknya sulit untuk bisa komit pada batasan tertentu. Dengan kelemahan yg kita miliki, selalu ada opsi yg kita pilih yg keluar dari batasan tersebut. Kalau pilih begini ya kelihatannya begini, kalau pilih begitu ya kelihatannya begitu. Apa adanya. Kalau gue merah ya gue kelihatan merah dan akan sulit buat gue untuk mengambil opsi warna-warni lain karena warna gue ya cuma merah itu. Tapi ketika kita memilih untuk tidak apa adanya, penuh kebohongan, kerahasiaan dan tipu muslihat,  fleksibilitas kita akan tinggi, kita bisa memilih dan berganti-ganti warna sesuai opsi yg ada dan kita bisa terlihat putih. Seperti ilusi warna yg gue ceritakan sebelumnya. Ilusi yg seperti ini bisa berbahaya karena bisa menempelkan dirinya kemana-mana, dia bisa berubah jadi merah dan menempel ke merah, jadi hijau dan nempel ke hijau, jadi kuning dan nempel ke kuning. Ketika berubah menjadi warna tertentu dia melakukan operasi (kayak polisi aja) diwilayah orang tersebut, berurusan dan kalau perlu malah ngurusin wilayah orang tersebut seakan-akan mereka punya solusi yang baik untuk orang diwilayah tersebut. Mereka beroperasi diwilayah tersebut tanpa ada komitmen bahwa kalau mereka masuk menjadi biru maka mereka harus tetap biru, berjiwa biru dan terlihat biru. Mereka yakin mereka bisa jadi solusi dan bantuan untuk setiap orang, walau tanpa ada hubungan apapun atau komitmen apapun atau tanggung jawab apapun, sehingga mereka bisa  melompat-lompat beroperasi atas orang lain. Walhasil yg nempel kemana-mana ini membuat yg merah, hijau, kuning dan biru ini jadi tercampur. Mereka tidak defending integritas dari setiap warna tersebut tapi mereka mixing warna-warni tsb. Kesuksesan mencampur warna-warni tersebut terlihat ketika yg hijau dirubah kemerah tanpa boleh defending warna hijau mereka. Tulus ikhlas dirubah ke merah. 

Terkadang it makes you wonder, darimana fasilitas, kekuatan, energi yg mereka miliki utk berubah-ubah dengan cepat, melakukan operasi disana-sini tanpa harus menjejakkan kaki mereka. It's like they are crawling to the top of pyramid dengan mem-blur-kan identitas mereka, dengan mengambil setiap opsi dan kesempatan one at a time. Compromising the integrity dari identitas mereka dan tentunya yg paling parah integritas yg lainnya. Pada akhirnya ketika ilusi tersebut mulai terkuak, they start to crawl for their life, menyelamatkan diri mereka sendiri dengan compromising everything. Ketika ini terjadi ga ada lagi yg tersisa dari mereka untuk dibela, all is compromised.

Ketika orang sibuk mencari solusi tercepat, mereka akan pindah dari satu eksisten ke eksisten yg lain. Ketika satu eksisten ditampilkan compang-camping maka solusi yg muncul adalah eksisten yg lain. Begitu terus sehingga mereka akan terus ketarik ketengah diatas pusaran arus kehidupan. Gue ngomongin warna-warni disini jangan diartikan sempit sebagai cuma warna-warni. Warna-warni disini adalah opsi-opsi dan kesempatan yg bisa berupa jabatan, posisi, kerjaan, materi, identitas, atau berupa opini, informasi, faktual, idola atau yg lebih prinsip seperti ideologi, suku, bangsa dan agama. Semakin cepat dan mudah opsi-opsi ini utk diambil, berganti-ganti dengan cepat, semakin blur dan putih warna yg dihasilkan dibawah cahaya spotlight. So utk tetap terlihat putih (bersih tidak bernoda) mereka membutuhkan opsi-opsi ini, loncatan-loncatan kesempatan yg berwarna-warni. Tidak heran kalau kemudian mereka tidak bisa membedakan antara yg putih dan hitam karena persepsi putih yg mereka tangkap di indra mereka adalah bukan putih sebagai warna yg memang putih(hakiki) tapi putih sebagai ilusi cahaya hasil dr lompatan-lompatan ini. Ibaratnya orang yg mempunyai warna kuning masih bisa melihat batasan yg putih dan yg hitam, tapi orang yg putih akibat cahaya spotlight ini sangat susah utk membedakan antara yg putih dan hitam. Integritas batasan (warna putih) yg prinsip kemudian terancam akibat fleksibilitas opsi (lompatan-lompatan) yg mewarnai kehidupan ini. 

Balik ke film animasi yg gue tonton, dulu film animasi ceritanya selalu berkisar pada tokoh yg ingin menjaga kedamaian dunia, memberantas kejahatan, mencegah pengrusakan dunia. Penerimaan kita akan tontonan seperti ini sangat tinggi. Sekarang film, baik animasi ataupun tidak, sudah banyak yg bercerita ketika kerusakan total sudah terjadi (post-apocalyptic). Dunia hancur total tapi penerimaan masyarakat tetap tinggi. "Ah, itukan cuma imajinasi orang aja. Ga beneran." Tapi perkataan tersebut agak aneh ketika keluar dari orang-orang yg mempercayai impian bisa dicapai, harus digapai dan dikejar. Ga konsisten menurut gue karena, relatif terhadap kehidupan, imajinasi dan impian cuma beda tipis.

Ah ya, bicara soal loncatan, kucing-kucing gue banyak kutu loncatnya. Sulit dibersihin klo cuma atu-atu dipetesin. Mungkin saatnya "the owner" melakukan mass extermination kutu-kutu loncat. Hmmmm...



Ini bunga mawar artificial atau rekayasa genetik, bagus banget.
 So, Lulu finally get her rainbow flower. Or is it the villain?



0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More