Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Kamis, 21 Juni 2012

Mengenai Penyesatan (Bag. 2)

We can only see a short distance ahead, but we can see plenty there that needs to be done. Alan Turing - Computing Machinery and Intelligence. 


Ada beberapa hal dari keempat contoh sebelumnya yang bisa gue catat dan analisa mengenai aliran sesat beserta pemimpinnya, yaitu:



Click here for more graphics and gifs!  Kebanyakan aliran sesat masuk sebagai petunjuk yang membawa agama/aliran tertentu, menuntun pengikutnya sehingga pengikut tersebut menjalankan ritual-ritual ibadah yang dianjurkan oleh agama/aliran tersebut. Para pengikutnya merasa dituntun untuk mendapatkan pengalaman religius sehingga mereka percaya pada aliran tersebut. Akibatnya, setiap penugasan yang diperintahkan pemimpinnya dianggap sebagai ibadah karena untuk tujuan baik/bersama bahkan ketika terjadi penyimpangan dalam kotbah yang mengandung unsur riya (mengekspos ibadah yang dilakukan supaya orang lain mengikuti), munafik (ada unsur ajakan bunuh diri, menghancurkan rasa saling percaya satu sama lain, dll), syirik (mereka mempercayai pemimpinnya seperti Tuhan, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, menghalalkan perkara yang haram), takabur (merasa spesial dimata Tuhan, meyakini karma dan bukan hari akhir), fitnah dsb. Sifat dari ritual yang dijalankan ditujukan untuk mendapatkan keselamatan dan kemakmuran dalam hidup, ketenangan batin dalam menjalankan kehidupan, hampir sama seperti ritual pada ajaran animisme dan dinamisme, dimana sifat dan tujuan keduniaan dari ritual aliran tersebut lebih dititik-beratkan. Makanya dengan mudah aliran ini meninggikan ego individual dari pengikutnya, dengan memenuhi kebutuhan duniawi dan impian dari pengikutnya tersebut sebagai konsep kehidupan yang baik (PT). Apalagi perkumpulan mereka lebih mengarah ke jemaah daripada umat, sehingga masa yang dibangun lebih rapat karena aktifnya pemimpin mereka. Bahkan ketika ajakan dan ajarannya bisa menyimpang dari ajaran Nabinya sendiri. Ego individual bisa juga ditinggikan dengan memuji superioritas manusia atau kelebihan yang dimiliki oleh pengikutnya (HG & AS). Kalau di MF, gue rasa Manson memang pintar memilih para perempuan pengikutnya yang mempunyai ego yang tinggi dengan paras cantik dan bertalenta. Para pengikutnya pun merasa terangkat dan mudah hidupnya setelah mengikuti dan menjalani ritual di aliran tersebut, karena spiritualitas mereka naik bersamaan dengan meningkatnya kehidupan mereka (mereka seperti terjamin kualitas hidup dan batinnya). Ketenangan ini memberikan aura positif, sehingga ketika aliran ini meminta hal yang menyimpang untuk kelompok mereka, mereka masih pada pikiran positif mereka.

Intermezzo: Gue rasa kita di Indonesia lebih beruntung daripada mereka di LN. Kita mendapatkan pelajaran agama dan pelajaran mengenai Pancasila dan UUD di sekolah, sehingga sebagai individu, kita mengetahui apa yang menjadi ekspektasi dalam hubungan dengan orang lain ketika bermasyarakat, yaitu masing-masing memahami dan mengikuti aturan antar individu tersebut sesuai dengan peraturan agama dan negara yang diajarkan. Ekspektasi bahwa kita menggunakan aturan, norma dan ajaran yang berlaku adalah hal yang paling sederhana dalam kehidupan antar individu dalam bermasyarakat yang bisa menjaga ketentraman dan kemaslahatan bersama. 

Tapi pada aliran sesat seperti PT, ekspektasi dalam hubungan dengan orang lain dapat dirusak karena Jim berhasil memanipulasi ekspektasi dalam hubungan dengan Tuhannya. Ada beberapa cara yang terlihat dilakukan oleh Jim, salah satunya adalah dengan meyakinkan bahwa Tuhan YME akan memberikan segala sesuatu yang diinginkan, dijanjikan atau dibutuhkan, apabila mengikuti ajaran Jim. Misalnya, dengan berusaha aktif menentukan takdir dirinya dengan mengikuti arahan dan perintah Jim, penghapusan dosa dengan mengikuti arahan dan perintah Jim, dsb.

Cara lainnya adalah dengan menjadikan orang lain atau dirinya sendiri, sebagai penjelantahan dari keinginan Tuhan, yang harus dia perlihatkan dan diekspos (dengan menempatkan dirinya sebagai subjek atau eksekutor kuasa Tuhan) sehingga orang lain mendapatkan pembelajaran (juga atas ajaran Jim). Mereka akan memperlihatkan dengan kemunafikan (sandiwara) jika perlu atas kekuasaan Tuhan agar yang lain mendapat cahaya mereka.  Mereka bisa mengetahui, menimbang, menilai hubungan dirinya atau orang lain dengan Tuhannya, sehingga mereka bisa memperlakukan dirinya atau orang lain sebagai wujud KuasaNya sesuai dengan pertimbangan tersebut (eksekutor). Artinya, mereka bisa aktif/pasif secara instan menghukum atau menganugrahkan dirinya/orang/orang banyak berdasarkan informasi dan pertimbangan dia sendiri, dengan tindakan yang menurut dia pantas terhadap  dirinya/orang/orang banyak (misalnya bad karma atau anugerah keajaiban penyembuhan). Bandingkan ekspektasi perilaku manusia adalah penjelantahan keinginan Tuhan ini dengan ekspektasi kalau perilaku manusia adalah sebagai hamba Tuhan, dimana penanggung-jawab dan penyebab dari semua langkah yang diambil oleh seseorang adalah masih pada dirinya sendiri. Orang-orang ini tidak mempercayai hari akhir, mereka bisa menempatkan dirinya ditengah-tengah hubungan seorang individu dengan Tuhannya, dan bahkan menentukan/berbicara takdir.

Ketika mereka melihat seseorang atau dirinya berhasil (mendapat kesembuhan, menjadi pemimpin, mendapat impiannya), dengan cepatnya mereka mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut terjadi karena anugrah Tuhan, padahal dia tidak punya cukup informasi atau memang sengaja mengacuhkannya untuk menilai hal tersebut. Banyak hal yang tidak kasat mata yang terjadi diluar pengetahuan kita, bisa jadi seseorang yang sukses dan menjadi pemimpin seperti Shoko dan Jim adalah hal yang akan mendatangkan malapetaka. Mungkin para pengikutnya dulu sempat berkata "ini mukjizat dari Tuhan dia bisa jadi orang hebat seperti ini", walaupun pada saat itu sudah banyak terjadi pelanggaran, masalah dan perkara buruk. Hanya orang dengan ego yang tinggi bisa mengabaikan berbagai pelanggaran tersebut dan lanjut terus, memuaskan ego mereka akan konsep kehidupan yang lebih baik.

Orang-orang yang sangat egois juga mampu mengambil kesimpulan dan kesempatan atas penderitaan dan permasalahan orang lain, karena menganggap masalah tersebut adalah takdir yang harus diterima orang itu, padahal tidak pada tempatnya manusia mengambil kesimpulan akan takdir seseorang. Manipulasi ekspektasi perilaku manusia yang selalu merupakan penjelantahan dari  keinginan Tuhannya (mempunyai keyakinan bahwa setiap langkahnya adalah langkah Tuhan) dan bukan hambaNya tentunya membutuhkan sifat egosentris yang tinggi dari para pengikutnya. Makanya, para pemimpin aliran sesat adalah orang-orang dengan ego yang super, merekapun dapat merubah orang lain menjadi sangat egosentris. Mereka mengubah orang menjadi sangat egosentris dengan dua cara, bisa dengan menyanjung dan meninggikan orang yang mempunyai sifat egois tersebut, atau bisa juga dengan membuat orang tersebut berkorban (give) banyak atau menjadi korban sehingga merasa berhak mendapatkan solusi yang terbaik (gue rasa menerima (get) banyak juga akan membuat orang berpikir bahwa mereka akan/sudah mendapat solusi terbaik).    


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Setelah ego individu ini membesar, para pemimpin aliran sesat inipun mulai berkotbah mengenai kesamaan tujuan. Terkadang dengan menggembar-gemborkan sebuah permasalahan yang ada di masyarakat, realitas yang menyakitkan dan ketidakadilan yang secara umum sedang terjadi, bahaya yang mengancam, atau mungkin dengan menandingkan dengan musuh abadi dari para pengikutnya sehingga akan menimbulkan keinginan mencari solusi bagi para pengikutnya. Kebutuhan akan salvation atau penyelamat inilah yang kemudian bisa mempersatukan para pemimpin ini dengan pengikutnya. Ego individu yang sudah dibesar-besarkan itu kemudian pelan-pelan diparalelkan dengan ego kelompok (ego pemimpinnya) dengan solusi yang dibawanya. Ketika kedua ego ini diperbesar dan saling menyokong, para pengikutpun mulai melebur individualisme mereka dengan misi dan tujuan kelompok.

Intermezzo: Karena Jim sudah berhasil memanipulasi ekspektasi dalam hubungan dengan Tuhan (karena seseorang bisa menjadi subjek/eksekutor Tuhan dan langkah manusia merupakan penjelantahan keinginan Tuhan), maka ketika mereka menginginkan solusi, orang yang sangat egosentris menganggap solusi bisa didapatkan atau diberikan oleh individu lainnya atau dirinya sebagai eksekutor dari Tuhan atau keinginan Tuhan. Hal ini akan merubah ekspektasi dalam hubungan dengan orang lain menjadi perilaku get and give, mendapatkan dan memberikan. Mereka berharap memberi (dengan menjadi bagian dari solusi) dan mendapatkan sesuatu (solusi itu sendiri) dari individu lain, Jim atau dirinya sendiri sebagai eksekutor Tuhan. Seperti sebuah konsep perantara, dimana mempunyai perantara bisa jadi termasuk menyekutukan Tuhan YME (perantara dari jin, orang dengan ilmu magis, dll).     

Normalnya, jika kita punya ekspektasi antar individu, maka hal tersebut karena kita punya aturan dan pedoman dalam hubungan antar individu, kita berharap aturan dan pedoman tersebut dijaga dan dilaksanakan. Ketika kita tidak percaya pada sistem sehingga tidak mempunyai ekspektasi apa-apa terhadap sistem tersebut, kekosongan itu akan diisi oleh orang-orang seperti Jim dengan ekspektasi Get and Give diatas. Dimana pada ekspektasi give kita bisa memberikan dengan berpartisipasi, melakukan pengorbanan, pengucapan, memberitahukan, memperlihatkan, membayar, menguji dan menghukum sesuatu hal sebagai hal yang benar. Dan ekspektasi get, dimana kita bisa mendapatkan dengan mengambil, menerima, menyetujui, menyambut, mengabulkan, penyesuaian, pengiyaan dan penyimpulan sesuatu hal sebagai hal yang benar. Hanya ada aura positif didalam ekspektasi tersebut, yaitu tanpa batas (bisa lagi dan lebih lagi). Hal ini jauh berbeda dengan ekspektasi akan penegakan ajaran dan aturan, dimana ada unsur batasan dan hukuman disitu, yang memberikan aura negatif seperti takut, tidak bebas, terbatas, terhukum dll. (Sebenarnya didalam ekspektasi Get and Give juga ada rasa takut, terbatas dan terhukum, tapi semuanya remang-remang sehingga ga bisa dipertanggung jawabkan. Takutnya bukan sama aturan tapi ga tauk sama apa. Terhukum tanpa sebuah aturan sehingga batasannya ga ada. Terbatas tapi sangat subjektif, padahal subjektivitas tidak mengenal batasan, dll).   

Untuk pengikut aliran sesat, masalahnya adalah bahwa sesuatu hal yang diberikan dan didapatkan ini akan ditentukan oleh pemimpinnya. Ketika jemaah PT mendapatkan penghidupan yang mereka inginkan (get), mereka harus memberikan (give) individualisme mereka dengan mengiyakan perkataan pemimpinnya (mereka melepaskan kebebasan berpikir), dilanjutkan dengan memberikan (give) kepatuhan, terkadang melalui tindakan yang menyimpang dari ajaran dan aturan yang ada (mereka harus melepaskan nilai, ajaran dan pengetahuan yang mereka punya). Mereka pun harus membuktikan ketidaksesuaian mereka dengan sistem yang ada dengan perilaku menyimpang tersebut atau dengan membangun rivalry dari sistem yang ada.

Untuk lebih jelasnya,, kita bisa menganalogikan ekspektasi mengikuti aturan main yang jelas dalam hubungan antar individu adalah seperti mengendarai mobil, dan ekspektasi Get and Give adalah seperti menaiki subway (kereta bawah tanah). Setiap pengendara mobil mempunyai ekspektasi bahwa pengendara lain mengikuti aturan yang berlaku sehingga tidak terjadi kesemrawutan dijalan. Pengendara mobil mempunyai tujuan yang berbeda-beda, dan sangat bergantung pada kemampuan pengambilan keputusan individu-individu lainnya untuk mengetahui, memahami dan melaksanakan peraturan di jalan. Makanya kepercayaan menjadi sangat penting, dan ini yang membuat mereka lebih fragile dalam mencapai tujuan, yang mungkin sekali tidak tercapai ketika kepercayaan tersebut dilanggar. Sementara itu, pengguna subway mempunyai ekspektasi untuk dapat sampai ketujuan (get) dengan memberikan (give) segala keputusan kepada masinis dan sistem komputerisasi di subway tersebut. Pengguna subway bisa saling tidak percaya satu sama lainnya walaupun mereka saling berdekatan, bahkan ada rivalry untuk bisa tetap berada di subway tersebut. Banyaknya pengguna Subway tergantung pada kesamaan pandangan, tujuan dan bujukan untuk masuk ke subway tersebut. Apapun yang terjadi antara pengguna didalam subway, dengan tidak ada atau adanya aturan, tidak akan berdampak pada pencapaian tujuan dari subway. Walaupun ketika pada akhirnya pengguna subway cuma tersisa satu orang, subway akan terus melaju menuju tujuan. 


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs! Ketika individualisme mereka sudah melebur dengan misi dan tujuan kelompok, persepsi, pemikiran, pengetahuan dan nilai dari individu tersebut pun menjadi tidak penting lagi. Mereka menjadi satu kata dalam hal persepsi, pemikiran dan nilai yang dipegang. Para pengikutnya mulai menjalani kehidupan ganda (double life), di satu sisi mereka membawa identitas fisik sebagai seorang individu yang merupakan bagian dari masyarakat, tapi disisi lain mereka membawa roh atau jiwa sebuah kelompok dan mendasari tindakan mereka terhadap jiwa dari kelompok tersebut. Dan ini berarti setiap pengikut meyakini yang benar atau yang salah berdasarkan kesepakatan dalam kelompok tersebut atau mengikuti pemimpin dari kelompok tersebut. Individualisme yang membawa pengetahuan, persepsi, pemikiran masing-masing individu yang terakumulasi sebelum mengikuti kelompok tersebut, yaitu ketika mereka belum menjadi pengikut dan berada disebuah lingkungan masyarakat dengan aturan, nilai dan norma didalam masyarakat tersebut, dapat hilang dan tergantikan. Beberapa aliran sesat menggunakan LSD untuk mempercepat proses replace and conformity ini. Merekapun dengan mudahnya bersandiwara dan menikmati peran masing-masing. Kehidupan ganda yang dijalankan semakin jelas ketika mereka tidak bersesuaian lagi dengan aturan dan hukum di dalam masyarakat dimana mereka berada.

Intermezzo:   Didalam ekspektasi Give and Get, sesuatu hal yang diberikan dan didapatkan akan ditentukan oleh pemimpinnya, Jim misalnya, dengan sebuah alasan yang masuk diakal. Akibat ekspektasi yang sudah dimanipulasi ini, hubungan antara pengikut aliran sesat dan pemimpinnya adalah hubungan yang logical. Jika mereka diberikan sebuah alasan, mereka akan segera menjelantahkannya menjadi suatu aksi. Logical tidak mengenal fisik, aksi tersebut tidak memandang bulu apakah terhadap orang dikenal atau tidak atau siapa orang tersebut. Akibat dari hubungan yang logical terhadap pemimpinnya ini, jiwa dan fisik pengikut aliran sesat seperti terpisah. Secara fisik mereka berada di dalam masyarakat, tapi secara jiwa, keyakinan pada mana yang benar dan salah dipegang oleh pemimpinnya. Inilah yang membuat para penganut aliran sesat ini secara fisik dimasyarakat, kalau dianalogikan, terlihat seperti pengendara mobil. Secara fisik, mereka mempunyai identitas masing-masing dengan tujuan lokasi yang berbeda-beda, dimana masyarakat harus menaruh kepercayaan kepada mereka, sehingga semua dapat melanjutkan kehidupan kesehariannya dalam sistem yang ada. Tapi secara jiwa, mereka dapat dianalogikan seperti ada didalam subway, bersama pengikut lainnya (yang secara fisik mungkin tidak berdekatan) dengan basis rivalry dan ketidaksesuaian dengan sistem yang ada. Pemisahan fisik dan jiwa inilah yang membuat mereka menjadi ringan mengambang ditengah masyarakat.  

Didalam masyarakat, tidak seorangpun mempunyai ekspektasi, bahwa orang yang mereka hadapi secara fisik adalah manifestasi dari keinginan dan perintah Manson/Jim/Shoko, yang dapat memaksa seseorang tersebut secara tidak langsung berurusan dengan Manson/Jim/Shoko. Hal ini menyebabkan secara tidak langsung Manson/Jim/Shoko telah merusak rasa kepercayaan antar individu, dan seperti yang sudah disebutkan diatas, kepercayaan adalah hal yang penting dalam bermasyarakat (analoginya, kepercayaan adalah modal utama pengendara mobil untuk sampai ke tujuan). Akibatnya bisa ditebak, keresahan masyarakat.  Hal ini terlihat ketika jiwa pengikut aliran sesat sudah dipegang oleh pemimpinnya, maka semua hubungan seperti perkawinan, kekeluargaan, profesi, pertemanan, kemasyarakatan, terreduksi nilainya menjadi hanya koneksi fisik. Jika diminta oleh pemimpinnya, seorang suami bisa menceraikan istrinya, teman mengucilkan teman lainnya, ilmuwan bisa menggunakan ilmunya untuk mencederai masyarakat, dsb.      

Nah, akibat dari pemisahan jiwa dari fisiknya inilah, maka para penganut aliran sesat pada suatu waktu dapat ditrigger (diaktivasi) jiwanya hanya dengan sebuah alasan untuk memangsa korbannya, dan ini dilakukan tanpa disadari masyarakat. Orang-orang ini, yang terkadang mempunyai tujuan yang sungguh mulia (baca: besar dan jangka panjang), tapi karena kewenangan tidak/belum dimiliki, mereka tidak/belum mampu membuat hal yang besar tersebut menjadi kenyataan. Merekapun akhirnya bisa menjustifikasi tindakan terhadap seseorang/sebagian kecil orang yang merupakan bagian dari sistem bermasalah sebagai "act of authority" mereka. Akibatnya, mereka mampu memandang seseorang/sebagian kecil orang adalah masalah tersebut, walaupun seseorang tersebut sangat tidak relevan untuk mewakilkan sistem yang bermasalah (MF). Makanya aliran sesat kebanyakan mempengaruhi anak muda dan pelajar yang masih belum punya kewenangan (AS, MF). Menurut gue, Shoko dan Manson berhasil menekan kemampuan dan keterampilan anak-anak muda tersebut yang bisa digunakan untuk kemaslahatan bersama dengan mengarahkan kepada kemampuan yang bisa menghancurkan manusia. Dengan manipulasi, orang seperti Shoko dan Manson bisa mengajarkan mereka untuk melakukan penyerobotan kewenangan dengan memasuki properti orang/umum dan tidak menghargai martabat orang lain. Bahkan bisa saja tindakan tersebut dilakukan kepada orang-orang yang dikenal atau dekat dengannya apabila pemimpinnya mulai meminta bentuk-bentuk pengorbanan tertentu (PT). 

Ketika sebuah kelompok dengan tujuan yang besar ini mempermasalahkan dan mempergunakan orang per orang sebagai bagian dari usahanya, dan bukannya menggunakan kewenangan dalam  memperbaiki sistem yang ada, disitulah bentuk pengorbanan (give&get) mulai dilakukan. Bahkan ketika sebuah kelompok mempunyai target seseorang/beberapa individu, maka bisa dikatakan mereka mulai memangsa (MF). Padahal, untuk para korbannya, menghadapi dan berhadap-hadapan dengan pengikut aliran sesat ini, sama saja seperti mobil yang berada di jalur hantu kereta subway super cepat, bukan tandingannya dan ga kelihatan kalau yang dihadepin tuh kereta, karena yang terlihat adalah sebuah mobil juga. Makanya, jarang aliran sesat dapat dihilangkan sebelum terjadi hal yang buruk dan masiv, bahkan setelah terjadi hal yang burukpun mereka masih susah untuk dibubarkan. Merekapun sulit terdeteksi karena yang berkaitan adalah jiwa mereka, bisa saja secara fisik mereka tidak terkait (AS).   

Rata-rata pemimpin aliran sesat sangat tidak konsisten, dan ketidakkonsistensian ini bisa terdeteksi pada para pengikutnya. Hanya dengan kaca pembesar, ketidakkonsitensian para pengikut aliran sesat ini terlihat melalui perkataan dan perbuatan mereka. Karena ibaratnya lipsync, mereka mengatakan dan melakukan hal yang persis sama dengan pemikiran dan perkataan pemimpinnya. Bahkan setiap perkataan dan perbuatan, dari pengikut yang loyal, adalah sebuah bagian dari puzzle yang apabila disusun dengan benar bisa menggambarkan sifat dan misi dari pemimpin aliran sesat tersebut, bahkan bisa menggambarkan sebuah blueprint pembantaian yang akan dilakukan. Gue aja harus menggali lebih jauh, dari rekam jejak masa lalu yang ada, apa saja perkataan mereka dan yang mereka lakukan (yang cukup nyeleneh menurut gue) untuk mendapat gambaran mengenai aliran sesat tersebut.

Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Ketika ego kelompok (ego pemimpinnya) semakin besar karena kepatuhan dari para pengikutnya, maka ego kelompok ini dapat diarahkan untuk menghancurkan ego individu dan individualisme dari orang-orang diluar kelompok tersebut, atau bahkan menghilangkannya sama sekali dengan menghilangkan nyawa individu diluar kelompok tersebut (MF & AS). Atau seperti yang terjadi pada PT dan HG, ego individu dan individualisme dari setiap anggota kelompok tersebut benar-benar dihilangkan dengan menghilangkan nyawa para pengikutnya. Hal tersebut biasanya dilakukan dengan tujuan menguji kesetiaan dari pengikutnya terhadap misi dari kelompok. Intimidasi dilakukan untuk orang-orang yang dianggap tidak setia dan tidak conform pada tujuan kelompok. Banyak aliran sesat terbukti memaksakan kehendak dan menahan orang diluar kehendak orang yang bersangkutan dengan ancaman, intimidasi dan gangguan-gangguan lainnya. Mereka bisa dengan sistematis atau perorangan melakukan tindakan tidak etis dan pelanggaran berat atau ringan terhadap seseorang. Nampaknya mereka tidak mengerti bahwa manusia bukan pembawa takdir, sehingga tidak bisa bicara atau menentukan takdir sembarangan. Bukan tugas manusia untuk menentukan takdir, tugas manusia hanya mengikuti ajaran dan petunjuk dari Yang Diatas.

Intermezzo: Proses membangun ekspektasi give and get ini kemudian dipakai untuk mengontrol ego mereka sekaligus mengontrol sistem tertutup yang mereka bangun (PT). Memberi dan menerima (Give and Get) dalam konteks ini akan membangun persepsi bahwa segala sesuatu adalah seperti properti yang bisa dipindahtangankan begitu saja kepada orang lain. Seakan-akan segala sesuatu adalah properti yang  bisa diberikan dan didapatkan. Perkataan seperti boleh, tidak boleh, bisa, tidak bisa  yang tidak berdasar sering dikatakan Jim yang merasa pengikutnya adalah propertinya. Nah, properti menurut persepsi kita adalah sesuatu yang bisa dimiliki, sehingga cara pemikiran dari aliran sesat ini tidak mengenal yang namanya amanah (titipan yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun kecuali penciptanya), seperti bumi beserta isinya, anak dan istri (untuk yang pria). Karena konsep amanah tersebut hilang, akibatnya yang tidak dimilikipun (amanah/tanggung jawab) dapat diberikan dan didapatkan. Bahkan para pengikut aliran sesat ini menjadi ringan jalannya karena sudah bisa/boleh melepas beban (tanggung jawab) duniawi ketangan Jim. Dari faktor inilah pengrusakan dapat timbul termasuk pembunuhan dan bunuh diri.

Ketika Jim ingin melakukan eksekusi terhadap para pengikutnya, dengan loudspeaker Jim meminta anak-anak dulu untuk diikhlaskan oleh orang tuanya. Jim melihat bayi dan anak-anak adalah properti yang bisa dia ambil (get). Pada awalnya orang tua mereka merasa bahwa anak adalah properti mereka dan tidak bisa diambil oleh Jim. Tapi setelah dorongan dan bujukan dari Jim, akhirnya mereka menyerahkannya. Dari sini, terlihat Jim berhasil mereduksi segala sesuatu (bukan hanya individualisme dan materi saja) menjadi hanya properti (hak milik) yang bisa diserahkan dan diambil, dan bukan amanah yang mempunyai aturan dalam perlakuannya. Ketika mereka melihat teman, saudara, ortu, anak atau istri, atau dirinya sendiri terambil nyawanya, mereka terbiasa dengan ekspektasi give sehingga tidak melakukan apapun, pemberian adalah hal yang positif. Mereka pun positif berpikir akan mendapatkan (get) sesuatu sebagai pembalasannya (bisa berupa blessing, kemurnian, imortalitas dll). Padahal pembunuhan tersebut adalah pembunuhan masal dengan berdalih pengorbanan (PT), bad karma (AS, MF) dan imortalitas (HG). Hal ini pun menyadarkan kita bahwa jika amanah tidak terjaga, kita akan kehilangan what we don't have, semua titipan kita yang sebenarnya jauh lebih berharga daripada apa yang kita miliki (materi) AS dan MF bahkan berkeinginan menghancurkan dunia yang jelas bukan miliknya demi mewujudkan cita-cita kelompok mereka. AS mengambil nyawa pengikutnya sebagai cara untuk mengatur siapa yang keluar dan masuk dalam sistem tertutup mereka.       

Ketika seseorang melihat segala sesuatu sebagai properti yang bisa diberikan dan didapat, ekspektasi mereka adalah mereka bisa memberi dan mendapatkan sesuatu. Mereka pun menjadi aktif dalam menentukan takdir mereka sendiri karena faktor give and get ini yang langsung bisa terlihat hasilnya (makanya Jim selalu berusaha memenuhi kebutuhan para pengikutnya). Mereka menjadi terbiasa untuk aktif sebagai penentu takdir dimana pada akhirnya mereka pun bisa sangat aktif menentukan takdir orang lain diluar kewenangan mereka. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang perantara seperti Manson dan Jim. Mereka tahu para pengikutnya mengasumsikan apa yang mereka terima (get) berguna dan baik untuk orang lain, sehingga ekspektasi mereka terhadap orang lain adalah orang lain mau mengikuti apa yang mereka inginkan atau tuntutkan (give) agar semua bisa mendapat solusi bersama, walaupun hal tersebut diluar kewenangan mereka (pemaksaan kehendak). Tidak ada yang namanya menghargai antar sesamanya karena mereka menginginkan individualisme yang membatasi antar orang perorang hilang (disini konsep amanah menjadi hilang sama sekali akibat campur tangan orang-orang yang tidak berkepentingan).  Mereka pun bisa teraktifasi untuk mengambil dari orang lain akibat tujuan bersama tersebut. 

Makanya para pengikut aliran sesat adalah orang yang sangat egosentris, dimana dia tidak bisa memikirkan akibat perbuatannya terhadap orang lain selain sebuah alasan yang diberikan. Analogi permasalahan yang diakibatkan oleh pengikut aliran sesat ini adalah ketika terjadi kecelakaaan pada pengendara mobil. Dengan muka tidak bersalah mereka bisa mengatakan, "oh, kami tidak melakukan apa-apa kok terhadap dia, tidak ada yang menyuruh kami, andaikan kami melakukan sesuatu kepadanya, itu karena alasan yang menurut kami benar, dan alasan itu kan menyangkut (karena) dia juga,"  seperti yang terjadi pada MF. Selama ada alasan, perbuatan apapun bisa dimaklumi dan dianggap tidak ada, bahkan ketika kecelakaan mobil terjadi. Padahal kita harusnya tauk, alasan bukanlah hal yang cukup untuk melandaskan suatu perbuatan, setiap orang bisa dicari-cari alasannya yang sifatnya sangat subjektif.  

Pemaksaan kehendak inilah yang berbuntut pada apa yang dilakukan MF. MF cukup menakutkan. Pelakunya adalah perempuan-perempuan yang biasa kita temui sehari-hari, yang bisa tiba-tiba muncul di glodok, di kantin, di mall KG, dirumah (sbg sales), dipinggir jalan nunggu diangkut.... Bedanya, mereka nyetor mukanya sambil membawa misi dari pemimpinnya. Kalau tiba-tiba mereka nongol bukan karena kebetulan tapi karena perintah menyatroni si korban yang memang menjadi target operasi, ketika si korban sedang melakukan aktivitasnya, padahal si korban tidak punya urusan apapun dengan mereka dan tidak mengerti alasan mereka, apakah hal tersebut bukan teror namanya? Teror dengan maksud dan alasan yang bisa dibenarkan menurut mereka, yang dilakukan dengan wajah yang indah dan seperti tidak ada apa-apa (seperti dipersidangan mereka), hmmm! (dan tujuan mereka sebenarnya cuma mau survived dan ingin mengambil bagian dari sesuatu yang besar??) OMG, fitnah apa yang masuk ketelinga mereka dari orang-orang seperti Manson, sampai mereka bertindak sembrono mengganggu dan berusaha menyakiti orang seperti itu demi peace and love? Ketika ditanyapun mereka seperti batu, ngeyel dan nyangkal. Pantas dinegeri paman Sam, Charles Manson menjadi sangat terkenal, karena perempuan-perempuan ini mau mempunyai hubungan pribadi dengan Manson dengan menuruti perintahnya. Apa para Devil's Advocate ini sadar kalau mereka sebenarnya adalah juga korban? Bahkan jika pada akhirnya tujuan mulia dari Manson tercapai pun (unlikely), seharusnya mereka berpikir keadaan tersebut tidak dapat membenarkan perbuatan mereka yang sudah mereka lakukan.  

Gue rasa alasan kenapa Jim dan Manson membawa ekspektasi para pengikutnya menjadi Get and Give adalah karena memang ingin menyesatkan orang. Para pengikutnya diharapkan can't do the right thing, karenanya mereka hanya bisa memberi (seperti partisipasi, pengorbanan, pengucapan, memberitahukan, memperlihatkan, membayar, menghukum, menguji) dan menerima(seperti persetujuan, penyambutan, pengabulan, penyesuaian, penyimpulan) sesuatu sebagai hal yang positif dan mendapat pembenaran. Ketika ada seseorang ingin melakukan hal yang benar dengan mengkritisasi atau keluar dari kelompoknya, ekspektasi Give and Get ini pun yang dijadikan senjata dialogis. Mereka akan mempeributkan bahwa hal tersebut tidak beralasan. Semuanya mendapatkan (get) hal yang baik, tidak kurang suatu apapun (PT), dan bahwa seseorang tersebut mengkritisasi atau keluar karena tidak mendapatkan sesuatu hal (get) atau tidak mau memberikan (give) sesuatu (AS). Bisa jadi ketika seseorang akan dipermasalahkan, hal yang dikedepankan adalah karena seseorang tersebut tidak mau melakukan ini (give dalam bentuk partisipasi, pengucapan , dll) atau dia tidak mau mengambil itu (get dalam bentuk persetujuan, penyambutan, pengabulan, dll). Get and Give adalah sebuah ekspektasi yang mengorbankan individualisme dengan kendali ditangan pemimpinnya. 

Gue akan kasih contoh bagaimana ekspektasi Get and Give ini menjadi dialog dikehidupan. Didalam sebuah kelompok, karena sesuatu alasan, seseorang akan memberitahukan sesuatu hal atau memperlihatkan sesuatu hal (give) kepada temannya yang lain demi mengharapkan reaksi darinya, yaitu berupa persetujuan dan penyimpulan (get) dari temannya tersebut. Seseorang tersebut tidak akan peduli apakah sesuatu hal yang dia beritahukan atau dia perlihatkan adalah hal yang benar atau salah, atau bersumber darimana, atau apakah akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Dia hanya peduli kalau dia sudah memberikan (give) sesuatu hal tersebut. Dia juga mengharapkan temannya tersebut tidak peduli bahwa hal yang dia katakan atau lakukan adalah salah atau benar, dia hanya menginginkan temannya menimbulkan reaksi penerimaan (get). Dan ini adalah salah satu cara untuk membuka pintu kesesatan, yang memanfaatkan jalur pertemanan dimana rasa percaya seharusnya ada.     
   
Kalau dalam konteks aliran sesat, contohnya adalah seperti yang terjadi pada PT. Setiap hari pengikut PT disuguhkan bentuk-bentuk seperti pemberitahuan (give) dimana pemberitahuan itu seperti menuntut persetujuan dari pengikutnya. Para pengikutnya hanya mendengarkan dari loudspeaker dan lanjut dengan pekerjaannya sehari-hari, sepertinya kegiatan keseharian mereka tersebut merupakan bentuk persetujuan (get) mereka dengan apa yang dikatakan Jim. Para pengikutnya hanya melihat bentuk give and get ini (berupa pemberitahuan dan persetujuan), dan tidak mampu melihat sebuah permasalahan karena mereka sudah tidak ada ekspektasi lain lagi didalam hidupnya. Tapi, tidak peduli apakah pengikutnya setuju atau tidak, Jim akan terus melantunkan hal persetujuan yang sama. Terus menerus (get dan give ini) atas hal yang sama sampai saat tiba menjelang kematian. Malah gue lihat ini sebagai tanda-tanda kematian, karena Jim terus menerus mengulangi pernyataan dan pemberitahuan hal yang sama, bahkan ketika dia sudah tidak peduli akan reaksi pengikutnya. Gue tidak tahu apa tindakan yang mengulang dan mengulang terus hal yang sama tanpa perlu mengetahui reaksi atau sambutannya, adalah salah satu tindakan yang akan mengarah ke pembunuhan sadistis. Tapi memang kalau di cerita MF, salah satu perempuannya terus-menerus mengulang menikam korban walaupun korbannya sudah tidak bereaksi lagi, seakan-akan perempuan ini sudah ketagihan sampai tidak melihat kondisi lagi. Freaky! Jadi, apakah kegiatan pengucapan, pemberitahuan, memperlihatkan, dsb yang berulang-ulang atas suatu hal tanpa peduli apa reaksi dari si korban akan hal tersebut, adalah tindakan sadis yang dapat ditujukan kepada seseorang? Ga tauk deh, soalnya gue bukan expert sih. 

Tapi, jujur saja, untuk pengikut aliran sesat ini, sebenarnya jika mereka berani untuk menentukan nasibnya sendiri, mereka tidak perlu mempeributkan dan mempermasalahkan nasib dan takdir orang lain dengan mengharapkan orang lain melakukan Get and Give ini.    


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs! Para pemimpin aliran sesat biasanya adalah orang yang narsis dan psikopat, seorang megalomania yang mampu memanipulasi orang, mengelabui orang dengan menutupi tujuan mereka sebenarnya. Dengan egonya yang besar mereka mampu memandang pengikutnya seperti properti yang bisa dipermainkan takdirnya (Jim). Di dalam Islam hal ini sama dengan perbudakan. Coba baca makalah berikut mengenai perbudakan. Para pemimpin aliran sesat adalah seorang Mastermind seperti Shoko yang berusaha  mengalihkan dosa seluruh dunia ketangannya, yang mungkin bisa berarti dia ingin menguasai dunia atas apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.         

Intermezzo: Faktor kepemimpinan sangat kuat pada aliran sesat ini, walaupun terkadang tidak ada link yang visible antara pemimpin dengan pengikutnya seperti di MF. Jika pemimpinnya tidak ada maka hilanglah tujuan yang dibawa pemimpinnya. Sepertinya Jim sadar akan hal tersebut, sehingga mengambil langkah yang dramatis. Karena sama seperti laju subway, pemimpin aliran sesat ini tidak mempunyai rasa bersalah atas perbuatan mereka, mereka akan maju terus membawa jemaahnya sampai tujuan tercapai, seperti seorang Jim. Karena disitulah arti tanggung-jawab seorang Jim yang sesungguhnya, mencapai tujuan. Dan bukannya tanggung-jawab atas segala perbuatannya seperti keyakinan di agama kita yang kemudian bisa memaksanya untuk berhenti.          


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Para pemimpinnya bisa mengangkat keadaan dan kondisi dari para pengikutnya dengan penghilangan resiko dan pemberian kepastian dalam menjalani kehidupan (PT), meditasi (AS), janji masa depan dengan dunia yang baru (HG & AS) dan LSD (AS & MF), sehingga mempengaruhi gaya hidup dari pengikutnya. Mereka mengasuh seakan-akan pengikutnya anak kecil yang harus didikte dan diberikan jalan kemana harus melangkah dengan alih-alih rasa keamanan, kemakmuran, cinta, perdamaian dll.

Intermezzo: Faktor kehati-hatian dari pengikutnya bisa hilang karena kepercayaan yang kuat pada pemimpinnya. Kalau berdasarkan analogi mobil-subway diatas, pengendara mobil bisa melakukan hal yang salah, tapi adalah tanggung jawabnya ketika terjadi kesalahan, makanya dia menjadi lebih hati-hati. Tapi kalau pengguna subway, mereka merasa tidak melakukan kesalahan karena faktor kebersamaan (tujuan bersama) dan kepercayaan bahwa pemimpinnya adalah benar. Padahal hal tersebut bisa fatal kalau tidak ada alur tanggung-jawabnya yang jelas seperti di MF atau mempunyai tujuan yang tersembunyi seperti di PT. Ketika mereka terbiasa mendengar yang baik-baik maka akan mudah baginya menerima yang buruk sebagai sebuah kebaikan. (Ibaratnya orang kalau sudah dibilangin yang bagus-bagus mengenai dirinya, maka akan susah dia untuk tidak mendengarkan yang jelek-jelek mengenai orang lain.) Para pengikut aliran sesat sebenarnya tidak mempunyai sokongan yang kuat seperti sangkaan mereka. Sokongan atau tiang tersebut sebenarnya hanya delusi yang dibangun oleh para pemimpin aliran sesat ini, dengan memaksimalkan ego para pengikutnya. Sokongan atau tiang yang dibangun dengan fondasi pemenuhan dan pemaksimalan ego tentunya bukan sokongan yang kuat. 

Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Para pemimpin aliran sesat ini, secara implisit (MF, AS, PT) atau terang-terangan (HG), secara langsung atau tidak langsung, menghendaki pengikutnya untuk membenci kehidupan dan dunia yang sekarang. MF misalnya, dengan gaya hidup ala hippie yang tanpa beban sangat mencintai kehidupan yang mereka jalani, tapi mereka sanggup merusaknya dengan teror dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap korban-korban mereka, sehingga mereka harus menanggung akibatnya sepanjang hidup mereka. Sedangkan AS bercita-cita mewujudkan Armageddon dan menghancurkan dunia. PT yang selalu mengumandangkan persamaan dan hak individu, kedamaian dan kemakmuran malah menciptakan sebuah sistem kecil seperti surga bagi para pengikutnya sebagai simbol ketidak sesuaian mereka dengan sistem. Sama sekali bukan solusi atas permasalahan yang selalu mereka dengungkan, karena mereka hanya aktif menolong dan mengisolasi korban permasalahan tanpa pernah menyentuh permasalahan tersebut lewat otoritas/kewenangan yang berlaku atau yang mereka miliki. Pada akhirnya mereka malah menciptakan ceruk pelarian dari sistem yang ada, dimana Jim harus mempertahankan kondisi bahagia didalamnya dengan memperlakukannya sebagai sistem yang tertutup (Ga heran kalau pengikutnya dikontrol pemikirannya, agar sistem kecil tersebut bisa lebih stabil). Cara mempertahankan kondisi stabil inilah yang menurut gue malah bisa membiakkan praktek-praktek tersamar seperti pencucian uang yang justru merupakan masalah dari sistem yang lebih besar. (Ada yang heran bagaimana Jim mendanai para penembak bayaran beserta persenjataannya? Ironi bukan ketika uang yang digerakkan oleh para pengikut aliran sesat tersebut digunakan untuk pembunuhan masal dimana mereka adalah juga korbannya?) 

Intermezzo: Yang termasuk secara langsung dalam membenci kehidupan adalah ketika pengikut aliran sesat dapat secara pasif (pembenaran) atau aktif (perlakuan) menyikapi persepsi mereka akan sesuatu yang benar dan adil dengan merusak, menghilangkan, meneror kepada para korbannya. Sementara yang tidak langsung adalah ketika mereka menjadi rivalry dari sistem yang ada, misalnya dengan pencucian uang, dimana hal tersebut adalah hal yang berbahaya apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Fasilitas pemusnah masal yang dibangun dua puluh tahun yang lalu tidak akan bisa secanggih apabila dibangun saat sekarang, yang tentunya akan memakan korban jauh lebih banyak. 


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Gue cukup heran ketika ternyata aliran-aliran sesat ini berhasil membangun mekanisme penghancur masal yang sistematis tanpa ketahuan masyarakat dan para pengikutnya. AS misalnya, membangun fasilitas penghancur masal berupa pabrik gas sarin dan mungkin fasilitas lainnya. PT menyewa para pembunuh bayaran dengan persenjataan untuk menghabisi para pengikutnya. MF berhasil menciptakan mesin pembunuh berwujud perempuan-perempuan cantik. Sementara HG juga menciptakan mekanisme bunuh diri bagi para pengikutnya.

Intermezzo: Terkadang para pemimpin aliran sesat ini menggunakan layering dalam menuntaskan aksi mereka sehingga tidak ada alur tanggung jawab yang jelas serta dapat tidak ketahuan oleh pengikutnya maupun masyarakat.  Para pengikutnya bisa tidak mengetahui bahaya yang mengancam dan tidak sadar bahwa mereka hanya dimanipulasi. Karena adanya layering inilah, proses Give and Get dapat berbahaya, karena sebagai bentuk persetujuan (give) mereka bisa melakukan sebuah tindakan atau perlakuan yang mungkin tidak berbahaya, tapi akan mengarahkan seseorang atau orang banyak pada kondisi dimana layer berikutnya akan melakukan eksekusi.    
Bahkan ketika ada permasalahan yang nampak, ekspektasi mereka masih memberi dan mendapatkan sesuatu, sehingga, selama mereka masih bisa memberi dan mendapatkan sesuatu hal (terjebak dalam putaran dialogis give and get), tidak akan ada yang peduli mengenai keanehan dan pelanggaran yang dilakukan. 

Kesadaran masyarakat akan berbahayanya aliran sesat memang terkadang terlambat, setelah ada kejadian yang signifikan dan masiv barulah kita sadar akan apa yang dapat terjadi. Walaupun kemungkinan sudah banyak korbannya, tapi karena tidak signifikan atau tidak terdeteksi sehingga masyarakat lengah dan aliran sesat tersebut masih bisa melancarkan aksinya (AS). Para pengikutnya pun berpikir korbannya sangat tidak signifikan kalau dibandingkan dengan tujuan yang akan dicapai. Padahal, harusnya bukan korbannya yang menjadi tolak ukur karena bukan disitu masalahnya, tapi berapa banyak jumlah pengikutnya dan kemampuan mereka dalam melancarkan aksi. Ingat bahwa pengikut adalah juga korban, dimana mereka adalah orang-orang yang dapat menyalahi/disalahi takdirnya karena semua langkahnya ditentukan oleh pemimpinnya. Pembunuhan dan bunuh diri adalah klimaks dalam manusia menyalahi takdir mereka.

Dari beberapa literatur barat yang gue baca, gue bisa ambil kesimpulan bahwa perbedaan antara orang barat dan timur dalam memandang penyebab bunuh diri adalah orang barat melakukannya karena mereka ingin takdir kematian adalah merupakan keputusannya sendiri, sebuah pernyataan dan pembuktian diri bahwa adalah hak mereka dalam menentukan kematiannya sendiri (pembangkangan terhadap Tuhan). Sedangkan orang timur melakukannya karena putus asa, karena hidupnya tidak punya harapan/berharga lagi atau mereka lebih berharga jika mereka mati.

Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Sebenarnya gue ga mau ngebahas soal psikologi disini, soalnya gue rasa yang menjadi faktor kunci dari aliran sesat ini adalah faktor manipulasi kepada para pengikutnya dan bukan psikologi para pengikutnya. Psikologi adalah sifat yang diberikan oleh Tuhan YME kepada masing-masing individu, sehingga tidak seharusnya kita utak-atik dan dipermasalahkan. Tapi karena psikologi tersebut sekarang dapat di"create" dan bisa saja bukan sifat alami dari si pengikut tersebut, jadi gue putuskan untuk membahasnya saja. Beberapa dari pengikut aliran sesat ini mempunyai kecenderungan sebagai orang yang anti sosial. Anti sosial bukan berarti tidak mau bersosialisasi dan penyendiri. Banyak orang-orang anti sosial yang malah aktif dan hidup berkelompok seperti pada MF dan AS. Anti sosial (mengutip dari salah satu acara di channel TV)  adalah suatu sifat dimana seseorang melakukan sesuatu hal yang tidak menghargai perasaan orang lain, tidak mengikuti aturan dan hukum yang berlaku, tidak menghargai kemakmuran dan kesejahteraan orang lain. Anti sosial bahkan tidak memperlihatkan penyesalan akan apa yang dilakukan atau bahkan berbohong. Mereka tidak berhati-hati dan sembrono pada keamanan orang lain, serta membengkokkan realitas dan melakukan hal yang ekstrem untuk menghindari tanggung jawab. Para pengikut aliran sesat ini juga kebanyakan orang-orang yang delusional karena tidak mendasarkan perbuatan dan keputusannya pada suatu hal yang benar yaitu yang memiliki dasar dan referensi yang jelas seperti ajaran dan aturan yang ada. Mereka malah mengikuti perkataan dari pemimpin aliran sesat ini. Para pengikut aliran sesat ini juga gagal dalam melihat proses sebab akibat yang nyata dari sebuah tindakan karena impian dan tujuan jangka panjang yang dibenamkan oleh pemimpin kelompok tersebut.

Intermezzo: Kalau di agama gue, niat adalah yang mendahului perbuatan. Sehingga ketika mengucapkan niat, disebutkan dulu perbuatannya (immediate action). Hal ini membuat kita sadar apa yang akan dilakukan. Kalau kita menggunakan tujuan, kita ga perlu mendahuluinya dengan menyatakan apa perbuatan kita sehingga akan terjadi banyak penyimpangan disitu. 


Terkadang pembunuhan dapat dijelaskan dengan hukum sebab-akibat, tapi ada pula yang tidak. Pembunuhan yang terjadi pada pengikut aliran sesat hampir mirip dengan yang terjadi pada pembunuhan oleh Serial killer. Serial killer hanya bisa dijelaskan menggunakan ilmu psikologi, ketika kondisi psikis seseorang adalah pusat dari segalanya. Serial killer sangat pintar menyembunyikan emosinya dan mungkin tidak mempunyai emosi walaupun sudah melakukan tindakan yang tidak manusiawi. Serial killer tidak tampak amarah, tidak ada rasa bersalah, tidak ada ketakutan dan biasanya sangat pintar untuk berbaur dan menyamarkan tindakannya dan memalsukan identitasnya. Ketika ada kondisi yang seharusnya menimbulkan kekesalan pada dirinya, dia tidak akan tampak gusar, bahkan cenderung tenang dan tidak mendendam. Ketenangan seperti itu adalah hal yang baik ketika kesabaran yang menjadi alasannya (orang yang sabar tetap punya kesadaran bahwa hal tersebut adalah hal yang salah, dan sesuatu harus dilakukan terhadap hal yang salah tersebut dengan tidak melanggar aturan). Tapi tidak ketika ketenangan disebabkan karena tidak adanya emosi dan tidak adanya kesadaran (hal ini dibuktikan dengan tidak adanya aksi lanjutan terhadap penyebab kondisi tersebut karena dia menganggap hal yang terjadi pada dirinya adalah bukan hal yang salah dan hal yang bisa dimaklumi). Pemakluman dapat menimbulkan mati rasa, karena kemudian dia belajar mengacuhkan, menghilangkan kesadaran bahwa hal tersebut seharusnya menimbulkan emosi (tidak ada memori untuk emosi). Masalahnya kemudian, dia dapat melakukan perbuatan yang sama terhadap orang lain, tanpa melibatkan emosi pada dirinya karena tidak adanya memori bahwa perbuatan seperti itu dapat mengesalkan, atau kesadaran bahwa perbuatan tersebut adalah hal yang salah. Makanya serial killer dapat terus melakukan aksinya karena memang perbuatannya tidak didasarkan pada dendam terhadap orang tertentu, bahkan mungkin didasarkan pada kesenangan dan pencapaian yang dia dapat setelah melakukan aksi tersebut. Psikis manusia yang demikian bisa berbahaya ketika dia melakukan aksi sendiri, apalagi ketika ada orang yang mampu memanipulasinya. Apabila ada orang yang bisa memanfaatkannya, seperti misalnya dia berada dalam kelompok aliran tertentu dimana kepatuhan dan kesetiaan dijunjung tinggi, perbuatan yang dia lakukan akan dapat diarahkan dan ditujukan untuk kepentingan pemimpin dari kelompok aliran tersebut. Atau mungkin saja aliran tersebut memang menciptakan orang-orang dengan kepribadian dengan emosi yang terkontrol tersebut untuk mencapai misinya.




Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs!  
Kesetiaan dan ketaatan (devotion) pada aliran sesat dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang bisa melanggar kode etik, tata-tertib, membahayakan keselamatan, atau melakukan hal yang tidak wajar. Seperti yang terlihat pada apa yang dilakukan oleh pengikut Shoko, mereka mengenakan helm yang bertujuan mensinkronisasi pikiran mereka dengan pemimpinnya, yang tentunya terlihat tidak wajar. Atau ketika mereka menempuh resiko menguji kemampuan mereka sampai kebatas maksimum dengan mengunci diri mereka di ruang bawah tanah tanpa makan dan membahayakan keselamatan diri mereka sendiri. Pada PT, pekerjaan sehari-hari yang dilakukan pengikutnya, bahkan bisa menjadi tanda kesetiaan pada pemimpinnya ketika mereka mengerjakannya demi berada didalam kelompok tersebut. Dalam kondisi dimana faktor eksternal dan internal terjaga sedemikian rupa sehingga beban resiko pengikutnya menjadi minimum, kesetiaan dan ketaatan akan dituntut untuk maksimum sehingga menyangkut segala aspek kehidupan dan penghidupan dari pengikutnya. Nah, yang maksimum inilah yang dapat menjelma menjadi hal yang extreme seperti terlihat pada PT.       


Intermezzo: Devotion pada aliran sesat tidak memakai nalar, reasoning yang digunakan dalam melakukan tindakan devotion tidak masuk akal dan tidak berhubungan sama sekali. Bahkan lebih extremenya terkadang malah tidak dibutuhkan reasoning sama sekali, mereka melakukannya hanya karena diperintah melakukannya. Pada aliran sesat, semakin loyal dan devoted mereka, maka mereka akan semakin berbahaya. Mereka tidak menggunakan karunia mereka, yaitu akal pikirannya sebagai bekal dalam menghadapi dunia diluar sana, sehingga membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka percaya bahwa semua langkah mereka adalah benar karena manifestasi dari keinginan Tuhan YME. Devotion pada aliran sesat menggunakan tindakan Give and Get, sehingga faktor pengorbanan sangat melekat pada tindakan devotion. Mereka mendera dan menyakiti (give) dirinya sendiri atau orang lain, agar dirinya atau orang lain mendapat kesucian dan kemurnian (get). Bagaimana bisa, supaya orang sadar akan berkah kehidupan (get) yang diterimanya maka harus dilakukan dengan tindakan yang mempertaruhkan resiko keselamatan (give) dirinya atau orang lain tanpa dasar yang jelas. Benarkah menaruh orang didalam air dengan resiko maksimum dan menantang maut agar dirinya dapat merasa bahwa hidup adalah sebuah berkah (AS)? Menyadarkan manusia bahwa kita sudah diberi kesempatan hidup dan harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya? Menguji (give) kehidupan seseorang atau diri sendiri, dengan sengaja mengundang maut dan membuka pintu resiko sebesar-besarnya, bukankah hal tersebut adalah percobaan pembunuhan? Benarkah tindakan merusak ketentraman orang lain, mengganggu kegiatan kesehariannya, merampas haknya, untuk alasan agar orang lain tersebut mendapat berkah? Menguji kehidupan dengan cara demikian berarti kita menguji berkah dan rahmat Tuhan YME, yaitu kehidupan itu sendiri, dan menguji ciptaan Tuhan, inikah tanda terima kasih kita kepada Tuhan YME? Secara logika, nurani dan ajaran agama saja hal tersebut menimbulkan pertentangan, cuma orang-orang yang mati rasa dan akal yang bisa melakukan hal yang demikian. Itulah makanya gue mengatakan bahwa dalam ekspektasi Give and Get ini, orang tidak bisa melakukan hal yang benar.        





Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs! 
Pengikut aliran sesat terkadang membuat koneksi yang tidak rasional akan satu hal dengan hal yang lain. Seperti pada MF, bagaimana tindakan intimidasi dan pembunuhan brutal yang mereka lakukan dapat menjadi satu langkah untuk memenuhi keinginan menjadi survivor dan menjadi bagian sebuah kejadian yang besar? Ketika pembunuhan beruntun terjadi, polisi California sempat cuek dengan adanya rekam jejak dari hubungan yang tidak rasional tersebut pada TKP, sehingga memperlambat penyelidikan. Pola hubungan yang tidak rasional memang terkadang menjadi trademark aliran sesat. Contohnya saja, aliran sesat dapat memanfaatkan rasa kekeluargaan diantara para pengikutnya. Tujuannya agar tercipta lingkungan positif untuk melakukan manipulasi dan menimbulkan rasa saling percaya. Selain itu sistem kekeluargaan juga dapat memudahkan kita untuk melepas kontrol diri dan menjadi pengikut yang setia. Dilingkungan keluarga, banyak tindakan negatif, seperti saling memanipulasi, berbohong, bertengkar, adalah hal yang diabaikan (setidaknya perspektif kita mengatakan demikian).  Tapi disinilah masalahnya, hubungan kekeluargaan yang dibangun, menjadi sebuah koneksi yang tidak rasional ketika sebenarnya satu sama lainnya tidak mempunyai garis keluarga sama sekali. Sehingga, tindakan-tindakan negatif seperti yang disebutkan diatas, tidak seharusnya dianggap dapat diabaikan, melainkan sesuatu yang serius yang bisa menimbulkan konsekuensi negatif.  Yang kemudian lebih aneh lagi adalah ketika mereka lebih mempercayai Jim dan malah melihat kerabat dan teman sebagai orang yang harus diawasi, dicurigai dan bahkan dikhianati. Gue rasa sistem kekeluargaan yang dibangun oleh aliran sesat ini juga mempercepat penghilangan konsep amanah yang sesungguhnya karena mereka berpikir mengenai semua dapat menjadi amanah bersama, semua bisa campur tangan karena menjadi tanggung jawab bersama. Padahal jelas agama dan negara sangat ketat dalam pengaturan penentuan siapa yang berhak dalam memegang amanah/tanggung jawab atas seseorang atau sesuatu.

Intermezzo: Sensitivitas terhadap ketidakkonsistensian dapat menjadi filter dari pengaruh aliran sesat tersebut apabila kita berada dalam sebuah kelompok. Misalnya saja, untuk sebuah tujuan yang besar (MF), bagaimana mungkin pemikiran seperti anak kecil yang dengan mudahnya dikendalikan dan ga mengerti aturan dapat memenuhi tujuan tersebut. Contoh lainnya adalah pengujian loyalitas kepada kelompok, yang dilakukan dengan menyerahkan, mengkhianati, menyakiti, sesama manusia dengan melanggar hukum dan ajaran yang ada. Padahal kalau mau ditelaah lebih jauh, hal tersebut berarti mereka mencederai arti sesungguhnya dari loyalitas itu sendiri (terhadap sesama atau ajaran dan hukum yang ada). Lalu kemudian dengan loyalitas yang sudah terbukti "broken" dan "meaningless"  tersebut mereka mempercayai dan loyal pada pemimpinnya (dan berharap bahwa kata loyal tersebut tidak "broken"). Hal tersebut sangat tidak rasional dan tidak konsisten. Contoh lain lagi adalah ketika mereka melakukan perbuatan dan perkataan yang menghukum dan menindak seseorang atas sebuah permasalahan, tapi pada kenyatannya mereka ternyata membela orang yang benar-benar bersalah seperti Manson. Sebenarnya, pergerakan ini tidak peduli dengan apa yang terjadi pada korbannya (terbukti pada apa yang memang terjadi terhadap para korbannya). Tapi, mereka mendasarkan pergerakan tersebut pada rasa kepedulian antar sesama. Tidak konsisten bukan? Gue tidak tahu apakah para korbannya diberi tahu alasan perlakuan mereka, kenapa mereka membunuh korbannya. Tapi mungkin saja mereka berasumsi bahwa tidak diberitahupun harusnya para korban bisa tahu sendiri (Bleh, padahal para pengikut Manson ini pun tidak "bisa tahu sendiri" alias harus diberitahu dulu siapa yang menjadi korbannya dan apa yang harus dilakukan).  

Ketidakkonsistensian ini juga bisa terlihat dari motivasi mereka. Motivasi dari pengikut aliran sesat ini sebenarnya agar tetap bisa eksis (MF), tapi secara bersamaan mereka sudah diambil alih kendalinya oleh orang-orang seperti Manson (secara jiwa sudah tidak eksis lagi). Kalau di PT, bagaimana mereka bisa mempertahankan eksistensi ajaran mereka, ketika sebegitu banyak orang tapi tidak ada satupun yang mau/bisa melakukan hal yang benar menurut ajarannya, akan sebuah peristiwa, yang akhirnya menjadi sebuah tragedi.    






Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs! 
Manusia adalah makhluk sosial. Mereka akan berada di suatu kelompok yang cukup besar untuk pemenuhan kebutuhan ego mereka, tapi cukup kecil sehingga tidak membatasi dan mengalahkan ego mereka. Orang-orang yang sangat egosentris terkadang merasa tidak akan bisa mempunyai kedudukan yang bagus dengan konsep yang terlalu besar atau terlalu kecil (relatif terhadap individu tersebut). Orang-orang seperti Manson dan Jim tahu benar mengenai hal tersebut, sehingga mereka memanfaatkannya untuk membuat ceruk kecil mereka.

Intermezzo: Gue rasa orang-orang seperti Shoko/Jim/Manson sangat pintar memilih siapa-siapa saja yang masuk dalam kelompok mereka. Walaupun kelompok tersebut terkesan terbuka (ada video perempuan penyebar kopian di kampus, yang berarti kelompok mereka terbuka menerima siapa saja) tapi gue rasa ada mekanisme yang mengatur siapa yang masuk dan siapa yang keluar. Kemungkinan mereka sudah mempertimbangkan faktor psikologis dan/atau fisik dari para pengikutnya supaya kelompok mereka lebih terkendali. Ingat bahwa para pemimpin aliran sesat ini sangat narsis dan psikopat, mereka akan berusaha supaya kendali ada ditangan.

Mungkin kita sudah banyak mengenal kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat, kelompok yang anggotanya adalah para dokter ahli misalnya, atau kelompok penghobi fotografi misalnya. Kelompok tersebut jelas dan kasat mata apa yang menjadi tujuan, aksi dan gerakan mereka serta apa yang mengelompokkan mereka (keterampilan atau keahlian mereka). Terkadang kita juga mengenal kelompok kejahatan seperti geng motor yang bringas atau kelompok preman wilayah tertentu, mereka  juga berkelompok untuk menentukan aturan main mereka (karena kejahatan memang tidak mempunyai aturan main yang tertulis). Tapi, kelompok yang didasarkan pada pertimbangan logis yang menuju kearah hal yang baik harusnya bisa lebih berhati-hati, karena arah yang baik tersebut sebenarnya sudah didefinisikan dengan jelas didalam aturan negara dan agama. Jangan sampai hanya untuk terdiferensiasi dengan yang lain, sebuah kelompok malah keluar dari apa yang sudah didefinisikan secara umum, dan mendefinisikan perubahan dari aturan negara dan agama untuk arah yang lebih baik. Istilahnya "overpowering" dari yang sudah ada, apalagi kalau menyangkut aliran sesat, ajaran agamanya yang akan di"overclock". Ditambah lagi, pemimpin aliran sesat ini biasanya menggunakan psikologi untuk memanipulasi orang, yang berarti kelompok yang dibentuk mempunyai karakter psikologis yang sama. Homogenitas kejiwaan...terdengar mengerikan!

Off the record nih, karakter kejiwaan terkadang juga bisa dikelompokkan dengan  menggunakan persepsi, terutama atas kondisi fisik manusia. Kalau untuk mempertontonkan pencapaian sebuah keberhasilan, harus membawa-bawa faktor kesamaan fisik pasti lebih terlihat lucunya daripada meyakinkan,  karena kayak gitu tuh ga ada hubungannya. Apa ga lucu kalau melihat yang seperti ini: Kami kelompok dengan tampang jelek tapi bisa sangat hebat, atau kami kelompok dengan wajah persentil 80% keatas yang mempunyai masa depan cerah. Bahkan menyatakan "kami bertampang jelek(atau cakep) tapi bisa hebat" saja sudah termasuk persetujuan terhadap penilaian fisik mereka, apalagi kalau sekelompok orang menyatakan hal yang seperti itu. Kalau gue boleh punya saran untuk yang muda-muda, jangan mau dipertontonkan karena kesamaan fisik, betapapun hebat dan memujinya alasan yang disampaikan (kecuali kelompok binaragawan atau foto model yang memang dituntut untuk dinilai secara fisik). Kesesatan memang menggunakan karakter manusia yang merupakan anugrah Tuhan seperti psikologi dan fisik untuk mengelompokkannya. Egoisme yang merendahkan ciptaan Tuhan yang beragam      


Kebanyakan para pengikut aliran sesat merasa nyaman dengan kelompok kecil yang mereka buat, sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada sistem yang lebih besar lagi yaitu sistem dimana mereka berada dengan segala kemajuan dan pergerakannya. Tidak mungkin mereka bergerak maju tanpa memperhitungkan gerak langkah sistem diluar mereka. Tapi itulah yang terjadi pada para pengikut PT. Mereka gagal memperhitungkan bahwa walaupun mereka merasa lebih makmur dan sejahtera dari sistem luar yang dulu menaungi mereka, tapi aspek-aspek kehidupan yang berkembang di sistem luar tersebut jauh lebih kompleks dan canggih, dan akan selalu terkait dengan sistem kecil yang mereka bangun, karena mereka masih menjadi bagian dari sistem yang lebih besar tersebut. Dan ketika Jim adalah satu-satunya orang dalam kelompok tersebut yang berinteraksi dengan sistem luar, masalah pun timbul karena Jim mempunyai tujuan yang terselubung.      



Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs!  Di negara kita, kebebasan berkelompok, mengeluarkan pikiran dan berpendapat diamanatkan dalam Undang-undang. Tapi didalam undang-undang itu tidak ada yang namanya kebebasan bertindak, karena tindakan(perkataan, perbuatan, perlakuan) ada aturan lain yang mengaturnya. Nah, tindakan yang dilakukan oleh kelompok aliran sesat biasanya adalah tindakan yang tidak punya landasan hukumnya, baik agama maupun negara. Bahkan yang sulit adalah, terkadang tindakan mereka tidak dapat dilacak karena tindakan tersebut ada di wilayah abu-abu kalau dilihat dari hukum negara (mungkin kalau menggunakan hukum agama bisa dijelaskan). Karena yang dilanggar adalah hukum agama, makanya terkadang aliran sesat dapat lolos begitu saja dari pantauan masyarakat. Mereka tidak terlalu meresahkan dibandingkan maling ayam misalnya, karena yang digerogoti adalah ajaran agamanya yang tidak bisa dijelaskan oleh hukum negara. Palingan kita cuma punya feeling "wah ini pasti aliran sesat nih, abisnya tindakannya cuma berdasarkan informasi dan alasan dari pemimpinnya, melanggar ajaran agama pula" tapi tetap ga bisa berbuat apa-apa. Lagipula, bagaimana membuktikan kalau aliran sesat tersebut akan berakhir mengerikan seperti di PT atau MF? Makanya, membubarkan sebuah kelompok yang dianggap sesat adalah hal sulit dan tidak bisa sembarangan, mereka menggunakan agama sebagai pintu masuknya tapi menggunakan hukum negara sebagai celah untuk berkembang-biak.

Intermezzo: Menghentikan pergerakan dari aliran sesat cukup sulit, terbukti banyak aliran sesat masih ada sampai saat ini, walaupun pemimpinnya udah ga ada sekalipun. Hal tersebut karena jiwa pemimpin tersebut masih dipegang kuat oleh pengikutnya dan masih terus hadir ditengah masyarakat. 

Di era demokrasi tentunya kita lebih berharap kepada masing-masing individunya untuk bisa lebih mandiri dan mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan, karena mereka mempunyai kebebasan yang lebih daripada ketika mereka mempunyai sistem kediktatoran. Tapi, kebebasan apabila tidak terjaga dapat menimbulkan malapetaka melalui orang-orang seperti Manson/Jim/Shoko yang pintar dengan trik manipulasinya. Ketika negara tidak bisa menyentuh kelompok aliran sesat, agama bisa, dengan semua sensitivitas yang dimiliki, kita bisa melihat apa perbuatan mereka sesat atau tidak. Tapi agama kembali pada masing-masing individunya, dimana terkadang merekapun tidak sadar kalau agamanya sedang disenggol-senggol. Pembentukan opini disebuah kelompok aliran tertentu misalnya, kalau kita tidak kritis melihatnya dari segi agama, maka opini tersebut bisa dipakai sebagai bumerang terhadap agama itu sendiri. 



Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs! Gue tidak membahas aliran sesat yang mengarah ke aliran setan disini. Tapi dikehidupan nyata, aliran sesat selalu dapat mengarah ke bentuk-bentuk pemujaan setan karena mereka memakai metode yang hampir sama dengan aliran setan, ada pengikut, perantara dan ada pengorbanan. Tindakan memberi dan mendapatkan  (Give and Get) pada aliran sesat merupakan salah satu bentuk pengorbanan, dimana ada yang mengorbankan atau ada yang dikorbankan. Sedangkan, pengorbanan pada aliran setan lebih kearah persembahan, dimana persembahan tersebut bertujuan memanggil roh atau jin untuk membantunya melakukan sesuatu. Walaupun begitu, terkadang aliran sesat juga bisa mengarah kepada pengorbanan untuk memanggil setan dengan melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agamanya, yaitu dengan melakukan dosa besar seperti syirik, munafik, riya, fitnah dan pembunuhan atau bunuh diri, dengan perantara seperti Jim/Manson/Shoko. Sebagai ilustrasinya, ketika Jim menyuruh pengikutnya melakukan bunuh diri atau pembunuhan, sebenarnya dia menyuruh pengikutnya untuk berpihak pada musuh abadi manusia, yaitu iblis dan setan. Bahkan terkadang yang bukan dosa pun seperti menceraikan istri, akan menjadi dosa besar ketika hal tersebut dilakukan atas perintah Jim yang dilakukan demi menjaga keamanan dan ketentaraman didalam aliran sesat tersebut. Dualisme yang dibangun oleh aliran sesat, dimana didalam langkah yang mereka tempuh terdapat dua hal yang berbeda, tujuan yang baik dan perbuatan yang buruk, adalah bentuk kesesatan yang mengarah pada karakteristik aliran setan yaitu dualitas.


Tulisan berikutnya gue akan membahas mengenai keadaan sekarang ini, mengenai bagaimana penyesatan dilakukan oleh beberapa aliran yang ada dewasa ini, dan bagaimana yang namanya applied religion dapat masuk dan merusak kehidupan beragama kita.

Hmmm, sebagai bocorannya, mungkin salah satu cara penyesatan adalah dengan mengeksploitasi soft spot manusia, seperti ini:



R.I.P. May 2012

 Bersambung...  Smiley

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More