My Facebook

not shown

Sabtu, 29 Desember 2012

The Road To Perfection


Pengecualian terkadang adalah hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari. Pengendara mobil misalnya, diperempatan yang sepi dan ga ada polisi, menerabas lampu merah karena melihat hal tersebut tidak akan berakibat buruk. Pengendara mobil berpikir pengecualian tersebut akan memberinya manfaat, yaitu bisa mempercepat dia sampai ketujuan. Korupsi dan kolusi misalnya, adalah bentuk pengecualian dalam menggunakan dan memanfaatkan jabatan yang dapat menguntungkan seseorang atau sekelompok orang.  Dari dua hal diatas dapat disimpulkan bahwa pengecualian adalah hal yang diluar standar batasan yang umum yang mungkin dirasakan bermanfaat untuk diri kita dan orang lain walaupun terkadang dapat membahayakan. Pengecualian bisa menjadi hal yang besar dan tidak terkendali ketika pengecualian tersebut tidak didasarkan pada analisa permasalahan yang benar beserta pengendalian implementasinya. Pengecualian juga terkadang dibutuhkan, tetapi hal tersebut harus dilakukan menggunakan aturan perundangan yang jelas. Seorang ibu misalnya, karena anaknya sangat berprestasi maka dia berharap anaknya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya dalam hal pendidikan dan pengembangan kemampuannya. Ibu ini berasumsi bahwa negara bisa menyediakan kesempatan tersebut sehingga berpikir bagaimana mempercepat jenjang pendidikan anaknya sehingga tidak lagi harus mengikuti aturan main pendidikan disekolah umum. Kebijakan dan aturan dalam pendidikan anak memang didasarkan pada kemampuan anak rata-rata, sehingga, kalau ada anak diatas rata-rata intelegensianya, maka dia mungkin mampu untuk melampaui apa yang dibatasi tersebut dan pantas mendapat pengecualian. Masalahnya, walaupun intelegensia diatas rata-rata, belum tentu hal lain seperti kemampuan sosial, mental atau pengalaman si anak juga bagus. Faktor-faktor selain intelegensia inilah yang kemudian terlibat dalam lingkungan pendidikan si anak tapi tidak bisa terukur.  Faktor-faktor ini penting karena di lingkungan sekolah, anak tidak hanya bergaul dengan guru saja, tapi juga dengan lingkungan, orang lain dan anak-anak lainnya. Anak diharapkan sudah cukup mampu memilah apa yang boleh dan tidak boleh diterimanya. Anak diharapkan pula tidak menerima begitu saja apa-apa yang disampaikan kepadanya di lingkungan sekolah. Jadi, walaupun hanya pelajaran yang diukur didalam penjenjangan dunia pendidikan, bukan berarti hanya pelajaran tersebut yang berkembang didalam diri anak didalam masa pendidikannya. Terdapat aspek lainnya yang tidak terukur sehingga karena keterbatasan pengukuran inilah, batasan dengan asumsinya dibuat agar kita tidak perlu mengukur semua aspek dan faktor yang bisa mempengaruhi anak tersebut didalam dunia pendidikan (karena akan sangat kompleks). Batasan usia masuk 6-7 tahun dan penjenjangan 12 tahun ditetapkan agar dapat dibuat asumsi bahwa semua faktor yang mempengaruhi anak dalam dunia pendidikan sudah cukup terbentuk dalam usia dan jenjang tersebut. Its a simplified but scientific solution, and we have to believe in that. Sistem ini sudah teruji selama puluhan tahun dan kita tidak mau keinginan besar seorang ibu kemudian dapat mencelakakan anaknya. Ketika ibu ini berasumsi "bisa" tanpa melihat atau menggunakan batasan-batasan yang sudah ditetapkan/tertulis, maka konsekuensi logisnya adalah kebebasan tanpa batas. Dan kebebasan tanpa batas sangat berbahaya untuk sistem yang rentan seperti Indonesia.  

Pengecualian-pengecualian membutuhkan sistem yang fleksibel dan agile. Walaupun hal tersebut rasa-rasanya adalah hal yang baik demi tercapainya keadilan, tapi sistem yang ada sekarang belum bisa menangani hal tersebut. Kenapa? Karena Indonesia Raya ini masih banyak permasalahan-permasalahan yang belum bisa tertangani, kita masih sebuah negara dunia ketiga dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang cukup luas. Dengan sumber daya yang ada sekarang saja sudah cukup sulit untuk mempertahankan sistem yang ada. Sistem yang fleksibel dengan menggunakan banyak pengecualian membutuhkan penanganan yang khusus dan spesial (makanya hanya bisa untuk sistem yang kecil atau stabil).  Pengecualian memang terlihat hebat, tapi bisa mengacaukan sistem ketika sistem masih kerepotan bahkan ketika tidak ada pengecualian. Malah tidak adil kan jadinya untuk masalah-masalah tak tertangani tersebut kalau kita memaksakan pengecualian. Ibaratnya jalan raya, kalau mau idealnya yaitu yang fleksibel, maka setiap waktu jalur berlawanan yang kosong harus bisa dipakai untuk mengurangi kepadatan jalur yang lain. Tapi hal ini sulit untuk diterapkan, karena kalau penanganannya kurang, maka malah akan menimbukan keruwetan atau kecelakaan dijalan raya tersebut. Belum lagi perombakan sistem yang harus dilakukan yang akan memakan sumber daya yang dimiliki. Makanya, pengecualian-pengecualian (yang terlihat baik dan tidak apa-apa) bisa menggoyang atau menghancurkan sebuah sistem karena kompleksitas implementasinya tidak bisa tertangani. Dan kita tidak mau negeri ini mempeributkan pengecualian-pengecualian dan perombakan-perombakan dengan asumsi "bisa"-nya ketika masih banyak masalah yang belum tertangani. Karet yang fleksibel aja bisa putus kalau terus-menerus ditarik sana-sini. Sekali lagi, kita tidak mau hal yang seharusnya bisa memproteksi menjadi malah mencelakakan.    

Contoh diatas mungkin cuma berbicara soal rasa kebahagiaan atau kebanggaan seorang ibu atas anaknya  sehingga mau melompati tembok tinggi yaitu batasan yang sudah dibuat. Rasa kecewa seseorang juga bisa membuat orang ingin melompat-lompat dengan tingginya dan ingin mendapat pengecualian. Ketika kita tidak percaya lagi sama orang-orang politik yang mewakilkan kita misalnya, apa boleh kita kemudian berpikir inkonstitusional bahwa para politikus itu bukan wakil rakyat lagi dan kemudian melakukan tindakan terhadapnya? Cara berpikir yang inkonstitusional (pengecualian pada konstitusi yang berlaku) akan mengarahkan pada tindakan yang inkonstitusional  juga. Sebuah kelompok masa akan sangat mudah menghancurkan aturan dan batasan yang sudah dibuat, yang sudah susah payah berusaha ditegakkan, dengan terjebak pada cara-cara mudah dan cepat untuk menerabas aturan dan batasan tersebut (mengecualikan batasan dan aturan). Cara berpikir praktis yang menerabas aturan dan batasan secara logika tidak bisa diperuntukan sebagai solusi jangka panjang dan ga bisa dipakai untuk meraih hal yang muluk. Tapi, banyak yang dengan mudahnya mengira bahwa cara berpikir praktis akan menghasilkan sesuatu yang baik. Untuk sementara mungkin, tapi tidak untuk sebuah tujuan yang mulya. Memang mungkin ada benarnya kalau banyak masalah yang melibatkan wakil rakyat, tapi solusi yang meloncat dari aturan dan batasan yang sudah sejak lama kita bangun bukan solusi yang tepat untuk negeri sebesar dan serentan ini. Pengecualian memang kelihatannya hebat banget dan jika terekspos akan sangat menyilaukan mata. Tapi, daripada pengecualian dan mempeributkan orang perorang, lebih baik benahi dulu sistem dan aturan yang ada dan kemudian penegakannya. Pada akhirnya, solusi yang dibuat tidak berdasarkan pada batasan beserta asumsinya hasilnya akan chaos, sulit diimplementasikan dan bablas ga ketahuan ujungnya. Kenapa? Karena manusia bukan hal yang super dan ideal, manusia sangat rentan dengan kesalahan  dan kekhilafan dan dengan keterbatasan pengetahuan, sehingga batasan dengan asumsinya dibuat agar permasalahan dalam kehidupan manusia bisa diatasi.

Manusia berpijak pada batasan dan aturan, norma dan etika, ajaran dan hukum, pedoman dan prinsip dasar, untuk menjaga manusia dari kesalahan dan kelemahannya sehingga masalah bisa diminimalisir. Ketika kita memiliki keyakinan, maka pijakan dan batasan tersebut adalah hal yang menihilkan bahwa manusia adalah zat yang super dan ideal (kesempurnaan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan YME jangan disamakan dengan anggapan bahwa kita sebagai zat yang sempurna/super/ideal). Menggunakan pijakan dan batasan adalah cara yang cukup untuk hidup dengan memanggul amanah. Ketika pijakan dan batasan tersebut menjadi tidak berguna dalam kehidupan, maka pasti sudah terjadi sesuatu yang menyimpang yang harus segera ditangani. Biasanya penyimpangan ini terjadi karena kita sudah kehilangan keyakinan kita. Ketika kita tidak memiliki keyakinan dan hanya mempercayai fakta, kita mempercayai kesalahan dan kekhilafan manusialah hal yang menihilkan bahwa manusia adalah zat yang super dan ideal. Akibatnya, dengan sengaja kita melakukan kesalahan dan kekhilafan sebagai pembuktian dan pemakluman bahwa kita tidak sempurna dan ideal. Pemakluman inilah malah yang menyebabkan kita melanggar batasan dan aturan dengan kesalahan dan kekhilafan tersebut, yang kemudian malah membuat kita menjadi zat yang super dan ideal karena dengan pemakluman tersebut kita tidak lagi memerlukan batasan dan ajaran yang sudah ditetapkan. (Disini kita bisa lihat kalau mempercayai fakta adalah hal yang tidak konsisten). 

Kalau keyakinan digunakan, maka yang dianggap ideal dan sempurna adalah pijakannya karena berasal dari ajaran agama dan aturan hukum. Makanya, kalau kita sadar bahwa kita bukan zat yang sempurna dan ideal, kenapa kita harus mempercayai bahwa kehidupan yang ideal ada di dunia yang fana ini. Tapi yang namanya manusia, terkadang kita susah untuk melihat kelemahan kita sendiri dan memilih ketamakan dengan hanya melihat kemungkinan-kemungkinan yang tanpa batas (just seeing the endless possibilities) akan kehidupan yang ideal. Bahkan kita bisa berasumsi tanpa melihat atau menggunakan batasan. Kita pun sangat mudah bosan dengan yang standar apalagi batasan. Akibatnya, sebuah pemikiran manusia yang abstrak akan hal yang ideal dilempar jauh kedepan sebagai batasan hidup (tujuan) dan dijadikan alasan untuk melakukan pengecualian-pengecualian. Keidealan seperti kesejahteraan, kedamaian, ketentraman dan kemapanan akan sangat mudah menjebak persepsi manusia akan impian masa depannya, karena memang naluri manusia untuk memuja-muja yang ideal. Apalagi kalau yang ideal tersebut dipercaya dapat berwujud nyata didalam dunia yang fana ini. Ideal yang seperti ini, walaupun dianggap sebagai pemikiran yang positif, sehingga bisa memikat banyak orang, pada akhirnya bisa menjadi sangat destructive, akibat pengecualian yang dilakukan untuk menuju keidealan tersebut. Apalagi kalau kepemimpinan yang diharapkan cukup kuat untuk bisa menyelaraskan rakyatnya dengan standar, batasan dan aturan yang baku tidak ada, sehingga membuat rakyatnya haus akan pengecualian-pengecualian. Akhirnya, karena tujuan yang ideal inilah pengecualian bisa menjadi hal-hal yang besar.

Perasaan bahagia, perasaan bangga, rasa kecewa akan sesuatu hal (biasanya hal yang dia miliki) atau seseorang dan banyak rasa lainnya bisa memicu orang untuk mencari keidealan sesuai dengan perspektifnya.  Apalagi, rasa bahagia, bangga, kecewa yang datang dari hati kemudian juga akan mengarahkan orang untuk berbuat sesuka hatinya. Untuk hal yang dia banggakan, manusia akan berpikir kearah yang super ideal untuk menunjang hal yang dia banggakan tersebut. Untuk hal yang dibanggakan, apapun yang dia lakukan adalah benar kalau menguntungkan apa yang dia banggakan tersebut. Cara berpikir seperti ini, bahwa hal yang secara persepsi manusia ideal adalah hal yang harus diwujudkan, akan memicu kita untuk melakukan pengecualian-pengecualian dari hal yang standar. Melakukan pengecualian dari hal yang standar berarti kita menganggap diri kita super dan ideal karena yang super dan ideal adalah sebuah keistimewaan dan pengecualian diluar standar yang tidak membutuhkan batasan (aturan, ajaran, norma, adat). Kita akan bisa menerabas aturan dan ajaran agar bisa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan hal yang ideal kepada yang dibanggakan. Akibatnya, kita sendirilah yang mentransform diri kita menjadi hal yang ideal (yang tidak berpijak dan tanpa batasan) untuk bisa mewujudkan dan memberikan sesuatu yang ideal untuk hal yang dia banggakan tersebut. Makanya, orang-orang yang ingin memberikan sesuatu yang ideal terkadang mengambang dan malah mentransform kehidupannya menjadi sebuah panggung sandiwara. Padahal, sebuah panggung sandiwara bisa menerima skenario apapun yang akan menunjang keidealan untuk hal/orang yang dibanggakan. Mereka pun kemudian menjadi percaya pada skenario tersebut dan yakin karena hasilnya baik (dan yang baik itu lebih dilihat dari fakta yaitu akibat dan persepsi yang terjadi, bukan pertimbangan akan hal yang salah dan yang benar berdasarkan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan dalam ajaran dan aturan yang ada).

Yang super dan ideal adalah sebuah keistimewaan dan pengecualian diluar standar yang tidak membutuhkan batasan dan asumsi. Ini akan menjadi masalah besar ketika kita berbicara mengenai keyakinan agama, karena berusaha menyandingkan agama (yang sempurna karena berasal dari Zat Yang Maha Esa) dengan suatu persepsi kehidupan ideal yang berasal dari manusia. Yang super dan ideal biasanya akibat sebuah persepsi akan manfaat dan akibat yang terbaik untuk manusia dan terkadang kalau iman kita ga kuat, maka persepsi inilah yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah diarahkan dan dirubah untuk sesuatu yang dianggap sebuah kebaikan dan manfaat. Bahkan ketika kita dihadapkan pada pengambilan keputusan, maka kita akan lebih memikirkan manfaat dan akibat yang dapat ditimbulkan oleh keputusan tersebut (konsekuensi duniawi) terhadap diri dan kelompok kita, dan bukan pengetahuan kita akan agama atau keimanan kita. Simple aja alasannya, karena hal tersebutlah yang lebih dirasakan oleh manusia dalam kehidupannya. Rasa dan persepsi yang ditimbulkan oleh manfaat dan akibat, membentuk pemikiran manusia akan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Inilah yang biasanya bermain mempengaruhi keyakinan kita. Misalnya saja dalam agama gue, untuk hal-hal yang haram dan halalnya tidak jelas, maka pengukurannya akan baik tidaknya tidak bisa berdasarkan akibat dan manfaatnya saja, tapi juga diukur berdasarkan ajaran dan aturan agama. Jika yang mudharat didasarkan pada akibat dan manfaatnya saja dan bukan ajaran dan aturan agama, maka yang namanya manfaat dan akibat bisa ditarik sedemikian rupa sehingga batasan-batasan ajaran agama dan aturan menjadi tidak berarti dan bernilai lagi. Karena, yang namanya akibat dan manfaat adalah sebuah persepsi yang mudah sekali untuk ditarik ulur sesuai persepsi dan kondisi kita dan inilah yang menyebabkan penyimpangan dapat terjadi.

Didalam tulisan gue di blog ini "Mengenai Penyesatan" beberapa pergerakan dalam mengejar hal yang ideal malah berujung kesesatan hanya karena mereka bisa mencap diri mereka sendiri sebagai hal yang ideal tersebut dan keyakinan bahwa mereka bisa menjadi patokan akan hal yang baik dan benar. The people who believe the ideal will follow any lead that direct them to the ideal which will turn them from god itself. Inilah salah satu contoh command and conquer ala aliran sesat yang gue bahas di tulisan gue,  "Mengenai Penyesatan bag.3."  Perspektif ideal yang mengarahkan pada penciptaan skenario atau perintah-perintah agar keidealan tersebut dapat terwujud di dunia ini, adalah penghancuran akan harapan atas hal yang ideal yang bisa didapat diakhir nanti. Mempercayai sesuatu yang ideal di dunia ini sama saja dengan mengecilkan keyakinan kita bahwa yang ideal tersebut (surga) hanya akan ada diakhirat nanti. Perspektif ideal tentang kedamaian contohnya, ketika kita berbicara soal keyakinan, maka kedamaian yang sesungguhnya tidak akan pernah ada di dunia ini karena kedamaian di dunia mengisyaratkan kita sudah berdamai dengan musuh-musuh manusia yaitu syaitan (Kalau ada yang yakin pada dirinya bahwa dirinya sudah kebal akan gangguan syaitan, coba pikirkan lagi. Tidak ada didalam Rukun Iman kalau kita harus yakin dan percaya pada diri kita sendiri, yakin pada apa yang kita lakukan. Kita yakin akan janji Allah SWT soal ibadah dan manfaatnya, tapi kita tidak bisa meyakini kesempurnaan diri kita dan amal perbuatan kita, apalagi sampai menggembor-gemborkan ibadah yang sudah kita lakukan sudah berhasil mengusir musuh-musuh manusia. Sampai tiba hari akhir nanti dimana amal ibadah kita ditimbang, kita hanya bisa berharap dan terus menjaga dan berdoa agar ibadah kita bisa diterima dan mendatangkan manfaat. Kalau kita takabur dengan meyakini bahwa amal ibadah kita sudah diterima Allah SWT, maka dengan hal inilah cara kita berdamai dengan syaitan dan mendatangkan syaitan tersebut).

Kalau dalam ajaran agama, kita membatasi pemikiran akan adanya hal yang ideal di alam dunia ini dengan harapan dan doa yang selalu kita lantunkan, sebuah harapan akan hal yang baik dan ideal menurut kita. Doa dan harapan seakan mengingatkan bahwa kesempurnaan yang super tidak ada di dunia ini, makanya kita harus selalu menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Diatas karena Dialah Yang Maha Kuasa. Bahkan ketika kita meyakini RasulNya, dan kita tauk betapa mulyanya para Rasul dan Nabi dengan segala amal baiknya, tetap saja setiap hari kita harus selalu berdoa akan keselamatan para Rasul dan Nabi kita di akhirat nanti. Di dunia ini tidak ada yang lebih mulya daripada para Rasul dan Nabi, tetapi tidak ada yang lebih Kuasa daripada Tuhan pencipta alam semesta. Kalau para Nabi dan Rasul saja membutuhkan harapan dan doa untuk kesempurnaan amal ibadahnya dan membutuhkan umatnya selalu melafadzkan doa dan harapan tersebut, lalu kenapa banyak sekali manusia dan umatnya merasa dirinya sendiri sempurna dan baik sehingga mampu mencap dirinya sendiri atau sesuatu sebagai hal yang ideal yang bisa dijadikan barometer dan patokan untuk orang lain. Sehingga, merekapun mampu melakukan cara-cara yang tidak sesuai dengan ajaranNya karena mereka ingin mendapatkan hal yang ideal. Mereka pun akhirnya secara aktif menghilangkan harapan dengan mendapat atau mengejar kepastian akan hasil yang baik dan sempurna didunia. Mereka bertindak seakan-akan harapan itu tidak ada dan doa hanyalah sebagai pembenaran dan penguatan keyakinan atas dirinya saja bahwa akibat doa-doa dan ibadah yang dilakukannyalah impiannya bisa menjadi kenyataan (takabur).

Lebih lanjut lagi, yang super dan ideal adalah sebuah pengecualian-pengecualian dari hal yang biasa (standar). Pengecualian berarti pula hal yang dikecualikan dapat menjadi patokan baru, karena sesuatu yang keluar dari batasan berarti juga sebuah batasan yang baru dan tentunya sangat terlihat (mencolok mata). Masalahnya, pengecualian adalah hal yang terikat pada suatu subjek, akibatnya, patokan dan batasan yang baru tersebut adalah juga suatu subjek yaitu yang dikecualikan. Kalau yang dikecualikan (yang mendapat pengecualian) adalah dirinya sendiri atau sesuatu yang menurut persepsinya ideal, maka dirinya sendiri atau sesuatu yang ideal tersebut dapat menjadi patokan bahkan untuk menimbang atau menghakimi dirinya sendiri dan orang lain. Inilah makanya pengecualian sering digunakan dalam melakukan penyesatan. Pengecualian membutuhkan ego yang tinggi dan rasa yang tinggi (GR) dan terkadang delusional yang tidak disadari. Contoh-contoh pengecualian dan delusional terhadap diri sendiri adalah mempercayai mimpi dan firasat sebagai petunjuk dari Tuhan YME atas hal-hal yang sudah ditentukan oleh agama dalam kitab suci dan hadist atau hal-hal yang seharusnya tidak diketahui. Misalnya, melakukan  hal yang disebutkan dalam rukun Islam atau kewajiban agama lainnya karena mempercayai mimpi dan firasat yang ghaib yang datang padanya (hal ini bertolak belakang dengan Rukun Iman dan lebih mengarah kepada aliran kebatinan. Kita meyakini kitab suci berarti kitab sucilah yang menjadi pegangan dan bukan mimpi atau firasat). Atau, mempercayai firasat yang ghaib akan kematian seseorang padahal tidak ada seorang manusia pun yang bisa mengetahui kapan, dimana dan bagaimana kematian seseorang. (Tolong bedakan firasat yang ghaib dengan perencanaan yang real atau nyata, yaitu ketika musuh berencana untuk menyerang atau seorang kriminal merencanakan sesuatu tindak kriminal. Hal dan perencanaan yang nyata masih bisa kita cegah). Contoh lainnya lagi adalah ketika mempercayai sudah melihat yang ghaib seperti syaitan,roh,malaikat padahal arti ghaib itu sendiri adalah tidak terlihat atau tidak ketahuan oleh panca indra manusia.

Pengecualian membutuhkan sebuah alasan. Makanya dalam penyesatan alasan dibuat untuk menimbulkan pengecualian dan mengingkari pegangan kita yaitu aturan dan ajaran agama. Contohnya, jika ada yang bilang "sudah suratan ilahi," bukan berarti yang dijadikan pegangan dan patokan adalah suratan ilahi yaitu jalan hidup kita (redundant jadinya), tapi tetap saja surat-surat di dalam kitab suci yang sudah diturunkan melalui UtusanNya. Karena tidak ada di dunia ini yang lebih bisa memastikan manfaat dan akibat yang baik dari suatu hal yang sudah terdapat didalam kitab suci. Terkadang pula pengecualian ditimbulkan tidak secara langsung tapi lewat "jasa" orang lain. Ketika seseorang tidak mau memihak pada pengecualian dan tidak mau secara sukarela untuk diistimewakan, maka bisa saja orang lainlah yang mengecualikan dia sehingga dia pun mendapat perlakuan pengecualian (dari orang lain). Kalau sudah begini, berarti semua orang bisa mendapat pengecualian, dan hancurlah sistem peraturan dan ajaran agama ketika pengecualian-pengecualian tersebut banyak terjadi.

Pengecualian dari batasan dan asumsi akan semakin parah ketika mereka mempercayai bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Tuhan YME.  Misalnya saja, mereka bisa menimbang antara perbuatan dunia dan perbuatan akhirat yang mereka lakukan. Perkataan seperti: "Dalam kehidupan kita harus seimbang, dunia kita cari, akhirat juga kita cari," seakan-akan ingin memisahkan roh kita akan hal yang dunia dan hal yang akhirat. Padahal roh kita harusnya satu, apa yang kita lakukan di dunia adalah apa yang dipertimbangkan diakhirat nanti. Dunia dan akhirat memang secara fisik terpisah, tapi dalam konteks jiwa dan roh kita sebagai manusia, maka dunia dan akhirat tidak bisa dipisahkan apalagi kemudian ditimbang-timbang agar seimbang. Ketika manfaat dunia dipisahkan dari manfaat akhirat maka akan sulit sekali untuk manusia yang pada dasarnya egois untuk tetap berpegangan pada ajaran dan aturan yang ada. Lagipula, pertimbangan akan hal yang seimbang adalah hak Yang Maha Kuasa di akhir nanti dan bukan hak kita didunia ini, memisahkannya saja kita ga bisa apalagi menimbangnya. Tuhan YME adalah zat yang berbeda, jadi ketika ada yang berpikir bahwa tangan kita adalah tangan Tuhan YME, maka sebagai orang Islam kita harus menyadari betul hal ini adalah salah. Kita tidak bisa sembarangan dengan menganggap diri kita satu kesatuan dengan Tuhan YME karena bisa menyebabkan kita balik kejaman Jahiliyah dulu dengan tangan-tangan jahilnya.

Menurut gue pribadi, yang namanya agama memang seharusnya ketat, keras dan kaku. Perspektif keduniaan yang ideal apabila dimasukkan keranah agama akan bisa mengecilkan keimanan kita karena kita berusaha mengejar yang ideal tersebut didunia dan menciptakan perspektif kehidupan yang ideal itu didunia. Padahal yang ideal atau sempurna sebenarnya hanya dapat diciptakan oleh zat yang tidak mempunyai batasan (Zat Yang Maha Kuasa) sehingga kehidupan yang sempurna (yang penuh kedamaian, kesejahteraan dan ketentraman) tidak bisa diharapkan terjadi dan diciptakan oleh manusia di dunia fana ini. Sebagai manusia kita adalah mahluk yang sempurna karena kita ciptaan Tuhan YME, tapi kehidupan manusia didunia jauh dari kesempurnaan, karena, apa yang kita ciptakan didunia ini dari tangan kita adalah bukan ciptaanNya. Semua ciptaan tangan manusia seperti rumah, mobil, meja, kursi, dsb adalah bukan ciptaan Tuhan YME (sebenarnya ga usah dibahas disini karena gue yakin anak SD juga ngerti akan hal ini), tapi dibawah kekuasaanNya-lah kita bisa menciptakan hal-hal tersebut. Dibawah kekuasaanNya pulalah kita bisa menciptakan hal-hal yang buruk seperti permusuhan dan kebencian antar sesama, maksiat, tipu muslihat dan sebagainya. Karena ketidaksempurnaan kehidupan didunia inilah makanya ajaran agama datang dari Tuhan YME sebagai hal yang sempurna untuk mengatur kehidupan manusia yang tidak sempurna di dunia yang fana ini (kejahiliyahan). Pada aliran sesat hal ini tidak berlaku, mereka merasa berhak mendapat pengecualian-pengecualian dalam ajaran agama dan peraturan yang ada karena mereka menganggap diri mereka adalah satu kesatuan dengan Tuhannya. Mereka pun mentransform dirinya menjadi hal yang ideal seperti Tuhan. Ideal untuk mereka adalah dimana mereka bisa ringan melayang melakukan kesalahan-kesalahan tanpa meyakini bahwa hal tersebut salah sehingga tidak perlu menanggung kesalahan tersebut didunia sesuai ajaran dan aturan yang ada. Mereka meyakini kesalahan-kesalahan tersebut adalah kehendak Tuhan YME, sehingga semua yang mereka lakukan pastinya bermanfaat (ada hikmahnya).

Kehidupan yang ideal  berarti kehidupan tanpa permasalahan dan hal tersebut hanya bisa diciptakan oleh zat yang sempurna yang tidak memiliki kesalahan. Makanya, ketika persepsi kehidupan yang ideal dianggap nyata didunia ini, berarti kita juga beranggapan manusia adalah zat yang super dan ideal (dan kita tauk kalau hal tersebut tidak benar). Lagipula, mempunyai persepsi kehidupan yang ideal adalah nyata didunia atau mempunyai tujuan yang ideal sama saja dengan menyandingkan/menyetarakan agama (sebagai sebuah keidealan yang ada didunia) dengan suatu keidealan duniawi berdasarkan persepsi manusia. Dan di agama gue menyandingkan agama dengan sesuatu yang lain adalah hal yang dapat merusak iman (menyandingkan berarti meyakini hal lainnya tersebut). Kayaknya gue pernah ingat kalau dulu pernah ada yang mengajarkan agar ketika kita shalat jangan ada benda-benda yang eye catching disekitar kita atau jangan menggunakan mukena yang berwarna-warni karena bisa mengganggu shalat yang lainnya. Memang, ketika kita menyandingkan keimanan dengan suatu hal yang duniawi maka rontoklah keimanan kita karena kita juga meyakini hal yang disandingkan tersebut. Sayangnya, sekarang ini segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan agama sudah berusaha disandingkan tanpa kita sadari. Ketika mendengarkan azan di tv misalnya, bukannya kita khusyu mendengarkan azan tersebut malah kita menonton alur cerita yang dipersembahkan bersama azan tersebut. Memang alur ceritanya baik tapi sebenarnya sangat mengganggu. Contoh lainnya ketika agama disandingkan dengan politik yang sebenarnya cuma tingkah polah hidup manusia, maka politiknyalah yang diyakini dan berusaha dimajukan tapi agamanya mengalami kemunduran karena kompromi sana sini. Juga ketika kita menyandingkan agama dengan keindahan, misalnya dengan perkataan seperti "agama itu indah," maka keindahannya-lah yang akhirnya diutamakan (karena hanya keindahan yang bisa diutak atik dan bukan agama). Akhirnya sandingan tersebut  lebih diyakini karena lebih menarik yang malah akan melemahkan agama dan keimanannya itu sendiri. Pada akhirnya malah keindahan tersebut yang dilabelkan dan dibela bahkan diyakini sebagai agama dan patokannya. Sebuah bangunan misalnya, terdapat tulisan kaligrafi indah dan bertahta emas sehingga kita menyebutnya bangunan Islam, tapi apakah benar yang didalamnya menjaga keIslamannya dan agamanya? Belum tentu, tapi tetap saja mereka bilang ini bangunan Islam. Pada akhirnya ketika dalam mempertahankan bangunan megah tersebut mereka harus berkompromi terhadap agamanya sendiri dan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama mereka, maka mereka akan lakukan karena manfaat dan akibat yang mereka rasakan benar. Adanya sandingan-sandingan tersebut kemudian diperparah lagi dengan keyakinan pada diri sendiri (percaya pada diri sendiri) yang sebenarnya percaya dan yakin pada diri sendiri tersebut ga ada didalam Rukun Iman (malah bisa memperkecil keimanan karena jadi takabur). (Masalah PD dan sandingan terlihat ketika ada salah satu mantan Ketum partai Islam yang mau mencalonkan diri menjadi kandidat kepala daerah kemudian menyesatkan umat dengan diam saja ketika dakwah di salah satu tv nasional yang dihadirinya tersebut mengatakan salah satu negara barat, yang gue tauk bukan negara Islam tapi kapitalis-sosialis, adalah negara yang islami karena kemajuan dan peradabannya)      

Manusia memang sangat mudah meyakini kehidupan yang ideal. Mudahnya manusia untuk mempercayai perspektif yang ideal bisa dilihat dari mudahnya mentrigger orang-orang yang berpikiran bahwa persepsi ideal itu nyata. Misalnya saja, salah satu contoh bagaimana instink kita selalu terbawa kearah perspektif ideal dengan melakukan pengecualian adalah ketika kita mempercayai kekurangan, kelemahan dan keburukan orang lain atau suatu subjek bahkan menggali atau mempertunjukkan kesalahan-kesalahannya. Ketika kita mempercayai kelemahan dan kekurangan suatu subjek, maka kita mulai berbuat sesuai dengan yang kita percaya tersebut, bawaannya kemudian jadi gerah ingin melakukan sesuatu. Orang yang berpikir negatif akan menggunakan informasi tersebut untuk meledek atau membullying seseorang atau subjek tersebut, atau mungkin mengancam dan memalak orang atau subjek tersebut. Sementara, orang yang berpikir positif akan gampang sekali diberdayakan, tinggal katakan kelemahan seseorang atau subjek tertentu, maka mereka akan mau "membantu" menghilangkan kelemahan tersebut, bahkan dengan cara-cara yang menunjukkan kelemahan mereka sendiri. Biasanya dengan melakukan perbuatan atau tindakan diluar standar yang sesuai dengan kekurangan atau kelemahan subjek tersebut, yang ditujukan agar subjek tersebut menjadi "lebih baik" alias lebih sempurna. Tapi disinilah masalahnya, karena yang kita percaya adalah kelemahan dan kekurangan suatu subjek, kita jadi lupa untuk mempercayai hal yang lebih penting, yaitu batasan dan aturan yang ada di masyarakat. Lagipula, mempercayai informasi akan kelemahan dan kekurangan secara subjektif  bisa dikategorikan fitnah dan tidak etis karena kekurangan dan kelemahan suatu subjek bukanlah informasi yang lengkap (terkadang malah sumber informasinya tidak disebutkan). Perbuatan yang dilandaskan atas informasi fitnah, baik itu positif maupun negatif, apalagi yang tidak dikonfrontir dengan yang bersangkutan, adalah perbuatan yang menuntut pengecualian dari ajaran dan norma yang berlaku. Secara tidak langsung sebenarnya, perbuatan-perbuatan berdasarkan informasi akan kelemahan dan kesalahan suatu subjek mencerminkan bahwa mereka mempercayai perspektif ideal harus diwujudkan. Lagipula, kalau kita dibiasakan melihat atau mempertontonkan kesalahan atau kelemahan suatu hal atau orang tanpa mendalami bukti-bukti yang ada atau tanpa proses mengenal orang atau hal tersebut, akan mempertajam semangat adu domba  masyarakat tanpa mengasah pemikiran kritis. Yang seperti ini biasanya tidak ditujukan untuk menemukan solusi, hanya menambah pengrusakan mental dan moral dengan pemikiran yang apriori dan main hakim sendiri. Sebenarnya, lebih baik diam dan berbenah diri daripada ramai menuding, memperlihatkan atau membicarakan kesalahan dan kelemahan orang atau hal atau bahkan memperlihatkan eksekusi-eksekusi yang dilakukan, karena hal tersebut bisa mengikis nilai, aturan dan ajaran yang kita miliki. Gue akan cerita contoh konkritnya, seseorang membicarakan perempuan yang diduga hamil diluar nikah. Dia akan mengatakan bahwa perempuan tersebut nakal dan melakukan dosa besar. Mungkin hal tersebut memang fakta yang benar, tapi dengan hanya membicarakan kesalahan tersebut tidak akan memberi solusi apa-apa (malah menambah dosa). Memang kelihatannya seakan-akan ada kepedulian sosial dengan menceritakan hal tersebut, tapi tanpa adanya keberanian untuk menegakkan aturan atau mengambil tindakan nyata (tindakan sesuai ajaran agama, aturan, adat, norma atau etika yang berlaku), maka hal tersebut adalah percuma dan tindakan pengecut. Apalagi, bukti yang ditunjukkan hanya dengan memata-matai perut yang agak besar dan kebiasaan dugem dari si wanita tersebut. Ujung-ujungnya malah perempuan yang dianggap berdosa besar tersebut dijauhi dan dikucilkan sebagai hukuman yang harus diterimanya (bahkan tanpa ada bukti yang jelas dan tidak dikonfrontir langsung) yang malah akan menjerumuskan wanita tersebut lebih jauh kepada kenistaan. Padahal, ternyata orang-orang yang membicarakan perempuan ini kerjanya hanya menjilati orang-orang yang sebenarnya tumpukan dosanya melebihi si perempuan tersebut. Ini adalah salah satu bentuk pengecualian atas hukum, aturan, norma dan adat yang berlaku. Lagian, kalau masalah hamil diluar nikah, mungkin lebih baik dimulai dari diri sendiri dulu dengan tidak memakai rok ketat atau pendek yang mengundang nafsu atau kebiasaan pulang malam. Dan, untuk yang laki-laki mungkin tidak perlu berurusan dengan perempuan yang bukan hak dan tanggung-jawabnya, dan apabila dia memang mau meluruskan perempuan tersebut, tegakkanlah amanah atau ambil tanggung jawab kalau perempuan tersebut tidak mempunyai pemegang amanah. Jadi, bukannya malah membesar-besarkan kesalahan perempuan tersebut seakan-akan perempuan tersebut harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, karena jujur saja, sebaik apapun keimanan perempuan, tidak bisa diyakini dan dijadikan patokan bahkan untuk dirinya sendiri. Menjadi pemimpin mungkin bisa dilakukan seorang perempuan, tapi masalah keimanan dimana agama seharusnya diperlakukan dengan keras, ketat dan kaku adalah hal yang jauh dari sifat alami para perempuan. Perempuan terkadang bergerak hanya karena instinct mereka dan ini yang terkadang sering membuat mereka melanggar batasan. Kita toh tidak mau kalau primary instinct perempuan dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk melakukan penyesatan (seperti masalah gosip-menggosip yang sudah menjadi kebiasaan kaum perempuan) karena hal tersebut dapat menjadi masalah besar (gue akan bahas lebih lanjut hal ini dibawah). Memanfaatkan orang adalah hal yang sering terjadi, tetapi memanfaatkan orang untuk melakukan penyesatan adalah cerita lain. Karena, keyakinan itu hubungannya dengan sistem pertahanan diri kita sama seperti hukum dan peraturan. Ketika ada yang ingin menyesatkan keyakinan, maka berarti ada yang ingin menghancurkan pertahanan diri kita. Makanya, ketika yang main hakim sendiri dengan pengecualian skalanya bersifat nasional, apalagi kalau melakukannya dengan dibantu atau mengandalkan kekuatan lain, hal tersebut hanya akan menunjukkan kelemahan kita dan ketidakmampuan kita untuk memiliki dan mengelola sistem pertahanan dan keamanan (bagaimana orang yang kerjaannya main hakim sendiri bisa memegang senjata?). Pada akhirnya, the blue print of exceptions leads to a total defenseless system.

Contoh lain kalau manusia sangat mempercayai perspektif ideal adalah mempercayai dan mencap dirinya, orang lain atau sesuatu hal adalah objek yang memiliki perspektif ideal (pasangan ideal, rumah ideal, masa depan ideal). Banyak orang mempercayai bahwa perspektif yang ideal tersebut ada dan nyata, misalnya, dengan mengatakan kami/mereka adalah keluarga bahagia dan sejahtera atau dunia ini adalah dunia yang penuh kedamaian. Kalau kita punya keyakinan agama maka seharusnya kita sadar kalau kesejahteraan dan kedamaian yang sesungguhnya tidak bisa didapatkan di dunia yang fana ini.

Contoh lainnya kalau manusia mudah mempunyai perspektif ideal adalah ketika seseorang dengan mudahnya berprasangka kepada orang lain/sesuatu hal bahwa seseorang atau suatu hal tersebut mempunyai perspektif ideal. Misalnya saja ketika seseorang mengatakan, "Ah, diakan melakukan hal tersebut karena ingin masa depannya cerah," setelah melihat teman sekantornya sangat rajin dalam bekerja (padahal mungkin teman sekantor tersebut memang sedang membutuhkan uang untuk membayar tagihan RS keluarganya). Atau, "Dia baru menikah setelah menemukan pasangan yang sempurna," ketika melihat pasangan temannya yang ganteng dan tajir (padahal temannya itu hanya melakukannya karena menurut moral dan agama dia harus melakukannya). Bahkan hanya dengan mengatakan "Ah, dia tuh orangnya inginnya selalu perfect," juga salah satu contoh bagaimana kita sebagai manusia selalu meyakini bahwa persepsi ideal itu ada dan nyata. Percaya dan sangkaan bahwa orang lain memiliki perspektif ideal mengimplikasikan dia juga percaya bahwa perspektif ideal tersebut ada dan nyata didunia ini.

Ketika kita mempercayai hal yang ideal, maka kita akan berusaha mengarahkan kehidupan kita ke hal yang ideal. Seperti layaknya impian negeri dongeng, kita mengarahkan kehidupan kita ke kehidupan happily ever after. Bak cinderela, dimana seorang putri diarahkan untuk menjalani kehidupan yang  happily ever after, tindakan dan perbuatan kita berusaha ditujukan untuk mengarah pada kehidupan yang  happily ever after ini. Apapun dilakukan demi tercapainya kehidupan yang  happily ever after ini. Bahkan merekapun menulis cara-cara, metode, petunjuk supaya menjadi cinderella di kehidupan yang  happily ever after. Dan yang lainnya membaca dan belajar cara-cara, metode, petunjuk supaya menjadi cinderella tersebut. Akhirnya dunia ini penuh dengan cerita cinderela dan cinderfela yang menggunakan magic word untuk mewujudkan impian tersebut. Ok, lets face it, ini dunia nyata dimana bahkan seorang putri nan cantik rupawanpun tidak bisa menjadi seperti cinderella. At one time she's an admirable princess but other time she's ended with a tragic life. Jadi, ga ada itu cerita putri-putrian. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengarahkan dan menjamin orang lain menuju ke kehidupan happily ever after, karena kalau kalian punya keyakinan, apa yang sudah tertulis di ajaran agama dan peraturan-peraturan yang sudah dibuat sebenarnya sudah mencukupi. We just need to believe. Ga perlu dipikirkan dan berlaku sedemikian rupa bak sebuah panggung sehingga kondisi happily ever after tanpa masalah bisa terpenuhi. This life is not about living in an ideal life but just enough to make everything going as it is. Ohh-emh-geh, cinderella bisa cerai kalau dijahatin sama sang pangeran, its just that simple, we believe its just that simple. Pada akhirnya mereka malah menciptakan cerita-cerita baru yang kemudian dijadikan pegangan hidup yang baru.

Penciptaan skenario-skenario yang menyimpang akibat dari penerapan pengecualian terhadap aturan dan ajaran agama demi mendapatkan manfaat-manfaat didunia pernah pula gue lihat di salah satu situs web keagamaan. Situs web tersebut memajang dakwah agama mereka yang sangat bagus sekali dengan mengggunakan referensi-referensi yang jelas. Hanya saja disalah satu pojok di situs web tersebut ada countdown menuju kiamat 2012. Gue ga ngerti kenapa pengecualian dipaksakan masuk untuk komunitas web tersebut, tapi alangkah nistanya ketika hal seperti kiamat dan takdir manusia yaitu kematian atau musibah besar kita permainkan begitu saja dengan kebohongan-kebohongan. Apalagi kemudian kita mempercayai kebohongan-kebohongan tersebut hanya karena kita mau mempercayai manfaat yang ditimbulkannya. Walaupun demi manfaat yang besar untuk umat misalnya, karena bisa membaca tulisan-tulisan yang bermanfaat, tapi tetap saja sebuah pengecualian akan takdir manusia adalah kesalahan yang sangat besar karena sudah berusaha mempermainkan ciptaan Tuhan YME. Mempermainkan takdir dan ciptaan Tuhan YME dengan kebohongan-kebohongan yang diciptakan oleh manusianya itu sendiri apalagi mengajak orang lain untuk mempercayai kebohongan-kebohongan tersebut bisa menciptakan monster yang mampu mempermainkan takdir. Sekali lagi saya tekankan jangan perlakukan agama seperti pasar informasi yang penuh spekulan yang selalu bereaksi akan informasi dan hal yang disampaikan, apalagi kalau menyangkut takdir dan ciptaan Tuhan YME seperti manusia dan jagat raya. Ketika takdir mulai dipermainkan coba cek lagi siapa dibelakang semua itu karena hal tersebut bisa mendatangkan monster yang mampu mempermainkan takdir bukan hanya yang kecil tapi takdir yang besar sekalipun.

Di tulisan gue "Mengenai Penyesatan", para pengikut aliran sesat merasakan akibat dan manfaat yang baik yang diterima ketika masuk aliran tersebut, sehingga mereka pun secara tidak sadar sudah melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama mereka. Karena patokan mereka adalah hal yang bermanfaat dan akibat yang baik, maka kesetiaanpun mereka berikan pada hal atau sesuatu yang  bermanfaat dan berakibat baik untuk mereka. People only have loyalty to what is good and best for them. Sehingga, mereka merasa pantas dikecualikan dari aturan dan ajaran yang ada selama manfaat dan akibat baik tersebut mereka rasakan. Yang "mereka pikir dan rasakan" bermanfaat untuk mereka dan agama mereka, digunakan sebagai patokan keberhasilan akan keimanan mereka. Mereka pun berpikir bagaimana ya caranya supaya bisa merasa bangga terhadap agama mereka dan mereka pun berpikir untuk menempatkan Nabi dan Rasul sebagai idola mereka (posisi yang jauh lebih rendah dari posisi sebagai utusanNya yang harus diyakini). Idola dan bangga hanya merupakan rasa dan persepsi manusia, yang sangat mudah untuk dimanfaatkan. Sehingga, ketika manfaat dan akibat yang baik menurut rasa dan pikiran mereka tersebut menuntut mereka melakukan hal-hal yang melanggar, mereka akan lakukan karena kesetiaan mereka sudah bukan pada ajaran agama mereka lagi, tapi pada keyakinan akan manfaat dan akibat yang baik yang dirasakan didunia fana ini. Mereka pun dengan keegoisannya menempatkan rasa dan pikiran mereka diatas ajaran agama mereka. Merekapun akhirnya hanya menerima apa yang terbaik untuk mereka dan menyangkal hal lainnya. Penyangkalan-penyangkalan tersebutlah yang kemudian melewati batas dengan perilaku pengrusakan terhadap ciptaan Tuhan yang lain dan pelanggaran ajaran agama.  Inilah cara-cara aliran sesat kemudian membabat habis apa yang sudah ditetapkan dalam ajaran agama.

Banyak yang melihat agama hanya sebagai sesuatu hal yang mendatangkan manfaat bagi umat, sehingga berpikir kalau setiap hal yang mendatangkan manfaat untuk mereka sebagai umat, adalah juga hal yang sesuai dengan ajaran agama. Akibatnya, banyak yang membenarkan bahwa agama bisa dimanfaatkan bahkan untuk memuaskan rasa dan pikiran mereka (menambah rasa kebanggaan dan kecintaan mereka). Agama kemudian dengan keegoisan manusia "dipakai" untuk mendatangkan manfaat bagi umat, dimana persepsi manfaat ini adalah hal yang sangat terbatas dan duniawi seperti misalnya meningkatkan taraf hidup mereka agar rasa bangga dan cinta mereka bertambah. Hal ini akan diperparah ketika konsep umat yang lebih luas kemudian direduksi menjadi jamaah, sehingga yang manfaat tersebut kemudian hanya berlaku untuk jamaah tersebut. Logikanya, akan lebih mudah menguntungkan sebagian orang daripada seluruh umat, karena akan lebih mudah memberi pengecualian (yang menguntungkan) kepada sebagian orang. Apalagi keegoisan manusia akan semakin menjadi-jadi ketika apa yang manfaat dan menguntungkan bagi mereka tersebut didukung oleh kelompoknya yang merupakan sejumlah masa tertentu. Mereka pun akhirnya lengah tidak menjaga agama mereka hanya karena mereka merasa masih mendapat manfaat yang mereka inginkan. Merekapun lengah karena merasa mereka sudah menyatu dengan masa tersebut sehingga pengecualian tersebut menjadi tidak terlihat (padahal apapun bentuknya, pengecualian adalah hal yang eye catching dan ini harus disadari betul).

Mendapatkan manfaat dan akibat duniawi yang baik adalah salah satu nafsu manusia juga, dan yang namanya nafsu melemahkan iman apabila dalam menyalurkan nafsu tersebut kita tidak mengindahkan aturan dan ajaran yang ada. Di dalam agama gue, menyangkal dan menangkal nafsu secara total juga dapat melemahkan iman karena akan melawan kodrat manusia, sehingga didalam agama gue nafsu dibiarkan mengalir dengan dibatasi menggunakan aturan-aturan tertentu. Kenapa keimanan penting? Karena keimanan adalah salah satu bentuk pertahanan didalam diri manusia yang harus terus dijaga. Ketika pertahanan sudah ter-"compromised" (terlemahkan akibat kompromi disana-sini, keluar dari standar) maka kekalahan sudah diambang mata yang terkadang tidak terlihat akibat sebuah realitas bahwa manfaat dan akibat yang dirasa baik masih diterima. Pada aliran sesat, kekalahan tersebut bisa dilihat dari adanya tuntutan pengorbanan-pengorbanan yang berlebih-lebihan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Mereka pun berpikir, semakin besar pengorbanan semakin besar manfaatnya. Sehingga, kata "lebih" ini kemudian menjadi sakti sekali karena mereka berpendapat, pengorbanan dan ibadah yang lebih ini pasti akan membuat mereka mendapat manfaat yang lebih juga di dunia (riya dan takabur). Mereka pun berpendapat bahwa pengorbanan dan ibadah mereka adalah untuk mendatangkan manfaat dan akibat baik (terkadang berupa ketenangan batin) untuk mereka didunia (riya). Misalnya, dengan perkataan seperti "kalau kita memberi sedekah kepada orang lain, kita pasti mendapat gantinya yang berlipat ganda didunia". Penyangkalan terhadap ajaran agama seperti ini memang biasanya dilakukan dengan menyangkal ajaran agama yang tingkat visibilitasnya rendah (ajaran mengenai syirik, munafik, riya, takabur, fitnah, amanah, dsb) tapi sebenarnya sangat berpengaruh karena bisa menghilangkan amal ibadah dan keimanan kita. Penyangkalan dan pengecualian seperti ini biasanya dibungkus dengan rapi oleh manfaat dan akibat terbaik yang akan kita terima.

Sebagai contoh mungkin gue mau menceritakan pengalaman gue sendiri yang sebenarnya terjadi sudah cukup lama mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan gue. Dulu gue ga terlalu mau ambil pusing mengenai hal ini, jadi gue diamkan saja dan seperti kata temen gue, kalau berusaha dipengaruhi orang dan merasa ga cocok dengan ajakan mereka, mendingan sudah keluar saja dan ga usah urusan dengan mereka. Pada waktu itu mungkin ada benarnya kalau cuma keluar saja, karena dulu gue sendiri masih kecil dan belum punya pemikiran yang stabil. Tapi sekarang setelah cukup berumur, setelah melihat kemungkinan yang bisa terjadi kalau kita masuk aliran sesat, maka gue pikir cerita mungkin awal yang baik untuk membuka pandangan kita. Tetapi sebelumnya gue akan ceritakan dulu bagaimana secara psikologis kita sebagai perempuan akan lebih rentan menghadapi aliran sesat. Sebagai perempuan, kita lebih mudah tertarik pada hal yang bersifat duniawi, kita senang dengan kehidupan sosial yang riuh dan gemerlap, kita pun senang dengan hal-hal yang kita anggap bisa memberikan sesuatu untuk kita. Contohnya saja, kita sebagai perempuan (biasanya para ibu) senang bergunjing, entah karena kita senang menyemarakkan suasana atau karena kita merasakan manfaat mendapat dan memberi info-info baru. Banyak ibu-ibu sadar kalau pergunjingan adalah hal yang salah (tapi merasakannya sebagai hal yang bermanfaat), biasanya mereka akan melakukannya saat para suami tidak ada supaya tidak ada yang menegur, dan berhati-hati memilih tempat yang tepat untuk bergunjing agar orang yang digosipin tidak mendengar. Jika ditegur, para ibu ini pun mungkin cuma mesem-mesem malu dan menghentikan gosipnya (walaupun setelah yang menegur pergi akan dilanjutkan gosipnya, duh nakalnya!). Tapi setidaknya para ibu ini sadar akan pelanggaran yang mereka lakukan dan sadar akan resiko yang harus mereka hadapi. Lalu, apa hubungannya para ibu ini dengan cerita penyesatan yang gue mau ceritakan? Hubungannya ga ada memang, tapi coba pikirkan apa yang terjadi kalau kemudian para ibu ini bertemu dengan orang yang berusaha menyesatkan mereka? Orang tersebut kemudian memberitahu ibu-ibu ini kalau dengan bergunjing, maka sama saja dengan para ibu ini melakukan berdakwah, karena dengan bergunjing orang bisa belajar dari kesalahan orang lain. Orang tersebut juga membujuk ibu-ibu agar informasi dari pergunjingan kesalahan orang lain atau suatu hal tersebut dijelantahkan menjadi misi kepedulian sosial yang tinggi dengan tindakan-tindakan (yang dianggap) perbaikan akan kelemahan dan kesalahan suatu hal atau orang lain. Orang tersebut datang dengan membawa atribut agama, dengan segudang manfaat dan kebaikan yang bisa diberikannya dan dengan dukungan dan sokongan spiritual maupun material dari sebuah kelompok jamaah tertentu, sehingga para ibu ini kemudian lupa nasehat yang selalu diberikan kepada anak-anak mereka agar jangan pernah menerima kebaikan dari orang yang tidak dikenal. Kebaikan yang diberikan oleh orang yang terlihat seperti ulama tersebut adalah seperti es krim yang diberikan oleh orang asing kepada anak-anak mereka yang akan membawa mereka ketempat dimana mereka akan tersesat. Perubahan yang kemudian terjadi pada para ibu ini adalah, mereka rajin beribadah dan menjadi sangat aktif, tapi mereka kemudian juga berani secara terang-terangan menceritakan perihal orang lain atau kekurangan dan kelemahan suatu hal kepada khalayak karena mereka pikir hal tersebut bermanfaat. Ketika ditegur pun mereka tidak akan punya malu lagi, malah percaya pada dirinya sendiri yang sanggup mengemban misi karena dukungan besar secara spiritual dan material yang didapatnya dari komunitasnya (dan bukan karena kemampuan dan pengetahuan agama yang ada pada diri mereka). Keyakinan mereka pun langsung tercabut sampai keakarnya karena sudah membenarkan yang salah yaitu pergunjingan hanya karena perasaan awal mereka bahwa pergunjingan dapat bermanfaat sudah mendapat dukungan pembenaran dari komunitas jamaahnya. Aliran penyesatan tersebut berhasil mengeluarkan primary instinct kaum perempuan yaitu kejahilan bergunjing yang justru semakin berbahaya karena sekarang mereka berpikir kalau hal tersebut bukan kenakalan lagi, tapi sebagai bentuk keidealan/ke-super-an/kesempurnaan dari diri mereka yang bisa menghilangkan batasan yang mereka miliki dengan memberi pengecualian pada perbuatan seperti menggunjing dan menceritakan perihal orang lain. Kenakalan adalah hal yang sering terjadi, tapi kesesatan adalah hal yang luar biasa. Hal ini akhirnya melemahkan/menggerogoti ibadah yang mereka lakukan. Defensif mereka pun berubah dari yang seharusnya ajaran agama, aturan, norma dan adat sebagai lini pertahanan individu manusia, menjadi komunitas jemaah mereka sebagai lini pertahanannya. Kerentanan dari hal ini adalah hilangnya kekuatan individual dan dirubah menjadi kekuatan komunal dimana kekuatan komunal tersebut diisi oleh individu-individu yang sudah ter-compromised. Kalau kita pikir hal tersebut tidak apa-apa, coba pikirkan situasi ketika kita dalam masa penjajahan dulu. Kita melakukan perjuangan dengan gerilya dan bukan secara masiv karena kita tauk musuh mempunyai senjata yang bisa menghancurkan secara masal. Makanya terkadang yang aman belum tentu yang ramai-ramai dilakukan. Persatuan penting tapi tidak bisa dengan melemahkan pertahanan dan jati diri individunya, karena menurut agamapun pertanggung jawaban di hari akhir nanti adalah pertanggung jawaban orang-perorang dan bukan kelompok. Dalam agama Islam, shalat lima waktu berjamaah dianjurkan tapi tidak diwajibkan, karena sebagai individu kita harus mampu menegakkan apa yang diwajibkan walaupun tanpa ada jamaah atau komunitas yang mendukung kita.

Yang perlu juga disadari adalah penyesatan dilakukan dengan melihat kelemahan para ibu ini, yaitu mudah mempercayai informasi dan kemudian melakukan tindakan berdasarkan informasi tersebut dan melakukan pengecualian dengan melanggar peraturan, etika dan ajaran agama hanya karena para ibu ini merasakan manfaat tindakan tersebut (salah tapi bermanfaat). Hal ini diperparah oleh adanya dukungan dan sokongan dalam melakukan tindakan dan perbuatan mereka yang berdasarkan informasi tersebut, sehingga para ibu ini menjadi sangat berani dalam melakukan penyimpangan. Penyesatan dilakukan dengan memborbardir ibu-ibu ini dengan informasi-informasi baru (perihal agama atau masalah tertentu) yang membuat pengetahuan dan informasi mengenai agama yang pernah mereka terima sebelumnya hilang (atau bahkan menghilangkan ajaran agama mereka dengan mengganti ajaran ayat-ayat Al-Quran dengan ajaran mengenai kebaikan dan manfaat). Agama diperlakukan seperti pasar yang menjadi riuh karena aksi-aksi yang mereka lakukan adalah reaksi dari informasi yang mereka terima dari orang dalam kelompoknya, makanya, para ibu ini kemudian bisa terlihat sangat aktif. Semangat SOSIALIS (berkelompok, tujuan dan misi kelompok, acara rutin, mengejar keidealan dunia dengan penghilangan sifat-sifat alami) dengan perbuatan yang KAPITALIS (aliran sesat terkadang identik dengan uang dan materi seperti bangunan dan gedung bagus, rumah-rumah baru, aliran dana untuk menunjang pergerakannya, MLM, sumbangan-sumbangan sebagai bentuk kegiatan sosial mereka, panggung dan perhelatan, selain juga melihat agama sebagai pasar informasi yang reaktif) memang sering terlihat diberbagai aliran sesat. Pengecualian yang dilakukan berdasarkan informasi-informasi yang ga ketahuan juntrungannya (fitnah) lebih berbahaya daripada korupsi dan kolusi. Orang yang melakukan korupsi dan kolusi, adalah orang yang memang memegang tanggung jawab atas penyalahgunaan yang dilakukan sehingga dapat ditindak-lanjuti dengan hukuman penyalahgunaan tersebut. Tapi, orang yang bertindak hanya karena sebatas informasi, dimana dia memang tidak memegang/mempunyai tanggung jawab apapun pada apa yang ditindak (disalahgunakan), akan jauh lebih berbahaya karena tindakannya tidak mengikat pada apapun. Tindakan yang mengikat hanya pada informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lagipula, korupsi dan kolusi hubungan langsungnya hanya dengan uang dan materi (ciptaan manusia), sedangkan pengecualian berdasarkan informasi hubungan langsungnya bisa dengan apa saja, termasuk langsung dengan ciptaan Tuhan YME. Inilah yang bisa membangkitkan kelompok-kelompok jahil. Kalau dulu jaman Nabi Muhammad SAW yang jahiliyah adalah mayoritas, tapi kalau sekarang, yang jahiliyah berada di ceruk-ceruk yang tersembunyi dan terbungkus dengan rapi, menunggu alasan-alasan pembenaran untuk menyerang dengan primary instinct mereka atau sekedar mengubah yang standar dan batasan.

Lalu mengenai pengalaman gue sendiri, tidak terlalu berbeda jauh karena inti ajaran sesat biasanya sama, yaitu, dalam memberikan kebaikan dan manfaat untuk orang lain, mereka lakukan dengan cara-cara yang melanggar ajaran agama, peraturan, etika dan norma sehingga mengeluarkan primary instinct mereka ke wilayah bebas tanpa batas. Terkadang yang mau menyesatkan ini kalau mau nempel, nyari atau mengumandangkan kesalahan dulu biar nempelnya lebih kenceng karena seakan-akan berusaha membawa perbaikan. Mereka juga selalu mempertontonkan atau membanggakan ibadah yang mereka lakukan (riya) sebagai sebuah keteladanan. Tapi ujungnya mereka sering mengajak untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan seakan-akan hal tersebut adalah sebuah pengecualian. Jujur aja gue ga akan terlalu mempermasalahkan kalau masalahnya hanya sesederhana penyimpangan tapi kalau bagian dari sebuah gerakan penyesatan gue agak merinding juga. Yang gue lihat juga, penyesatan dilakukan dengan tidak sungkan-sungkan membawa-bawa syiar dan dakwah agama mereka dengan menggunakan fitnah, pergunjingan, cerita-cerita yang diambil dari barat ataupun cerita agama yang ga ketahuan juntrungannya asalnya dari mana, hadist yang maknanya sudah dirubah, perkataan-perkataan yang terdengar baik dan bermanfaat tapi menyesatkan, logika yang sempit, perkataan-perkataan yang delusional, pengalaman orang lain dan lain sebagainya. Mereka juga melakukan perbuatan yang mengambil hak orang lain, intimidasi dan sebagainya sebagai bagian aktivitas yang berasal dari kelompoknya demi mendapat manfaat dari kelompoknya. Mereka berpura-pura didalam syiar dan dakwah mereka, tidak menggunakan referensi yang jelas seperti Al-Quran dan hadist shahih. Untuk menggunakan dan mengucapkan ayat Al-Quran dan artinya saja dalam dakwah agama jarang sekali dilakukan. Karena hal-hal yang tidak standar tersebutlah mereka harus selalu berada dalam lingkupan dan pengaruh kekuatan kelompoknya. Gue juga pernah ngerasa dibuntutin orang-orang misionaris (yang menggunakan atribut agama gue sendiri) hanya gara-gara ibadah gue ga sesuai dengan "kualitas" yang mereka inginkan yang berarti gue ga "pandai" mengikuti perintah dan suruhan mereka. Mereka mengintimidasi orang berdasarkan ibadahnya sehingga seakan-akan ibadah seseorang adalah untuk dilihat dan diketahui oleh mereka (ibadah untuk diketahui orang lain). Entah mereka mengerti atau tidak tapi kelompok tersebut sebenarnya menginginkan gue memperlakukan ibadah seperti meditasi, dengan mengosongkan dan memusatkan pikiran. Padahal menurut gue pribadi, khusyu bukan berarti ringan melayang. Mereka kemudian menghubung-hubungkan hal tersebut dengan ketidakmampuan gue memusatkan energi positif dari ibadah tersebut sehingga hal-hal buruk seperti kezaliman dan kejahatan dengan mudah menimpa gue. Orang-orang ini kemudian aktif "ngerjain" gue dengan "sengaja" berlaku zalim. Mereka menzalimi gue untuk membuktikan bahwa gue tidak mampu memancarkan energi pemberantas kejahatan dan kezaliman. Tapi, inilah masalahnya. Dengan kesengajaan berlaku zalim, bukankah hal tersebut membuktikan bahwa mereka mampu mengeluarkan energi jahat dan zalim??? Bahkan ketika mereka meyakini kualitas ibadah mereka, bagaimana energi jahat dan zalim ini bisa keluar bahkan dengan kesengajaan???  (Gue ga ngerti jalan pikiran mereka yang berpikir kalau hal yang salah tapi disengaja dapat dibenarkan, padahal, justru kesalahan yang sengaja dilakukan akan lebih berdosa dan berbahaya daripada yang tidak sengaja dilakukan karena menjadi kejahatan terencana). Yang gue heran, mereka melihat yang zalim bisa sebagai sebuah tindakan yang benar. Padahal, cuma aliran sesat yang berpendapat bahwa membantu setan dan iblis dengan berbuat zalim dan melakukan pelanggaran ajaran agama adalah hal yang baik karena sudah membantu melaksanakan tugas para pesuruh Tuhan YME yaitu setan dan iblis. Selain itu, mereka juga melakukan tindakan meneriakkan hal yang ga jelas (yang ga jelas tuh tandanya ga berilmu) di ruang publik atau wilayah properti orang, di depan umum atau orang-orang yang harusnya dihormati dimana hal tersebut tidak bisa dibilang sebuah aksi kebaikan. Apalagi kemudian dengan sengaja menghalang-halangi hak seseorang hanya karena alasan yang sudah direkayasa. Dari sini gue ngerti kalau mereka sebenarnya bukan orang-orang yang peduli dengan ajaran agama, mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri agar bisa eksis (walaupun eksisnya sebagai umat tetap saja hal tersebut merupakan kepentingan manusianya). Hujatan, fitnahan, tekanan dan intimidasi hanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin memurtadkan orang lain, sama seperti cara-cara orang kafir zaman Nabi dulu yang dengan sengaja merendahkan martabat orang lain. Masih ingatkan cara-cara mereka yang terus menerus mengikuti Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya, dan bahkan melemparkan kotoran, batu dll? Pada akhirnya, gue melakukan sebuah pengujian "ekstrem" untuk melihat apa reaksi mereka terhadap hal yang salah, dan apakah mereka punya inisiatif sendiri untuk meluruskan hal yang salah. Dan kesimpulan gue? Mereka cuma digembala orang lain. Lalu kira-kira siapa gembala mereka? Gue baru bisa mengetahui hal tersebut sekarang.

Overall, inti masalah yang paling krusial dari penyesatan ini adalah menciptakan orang-orang yang sudah ter-compromised dengan primary instinct untuk menghakimi orang lain hanya berdasarkan informasi yang didapat dari komunitasnya. Ketika orang-orang yang sudah ter-compromised agamanya kemudian menggunakan agama tersebut untuk menghakimi orang lain, maka hasilnya akan chaos, karena apapun yang mereka lakukan akan mereka anggap benar (walaupun hal tersebut salah). Agama digunakan untuk membentuk pasar informasi yang reaktif dengan spekulan-spekulan yang selalu menggunakan informasi-informasi sebagai hal yang mendasari tindakan dan perbuatannya. Merekalah yang tidak menggunakan keyakinan mereka dalam bertindak tapi hanya menggunakan fakta. Selain itu, hal tersebut juga salah satu bentuk adu domba yang digunakan untuk mengeliminasi orang-orang yang dianggap bersalah (padahal mungkin cuma rekayasa saja untuk mengeliminasi orang-orang yang bisa mempunyai pengaruh dan kekuatan menggoyang kelompok sesat tersebut). Satu hal sebenarnya yang harus selalu diingat, ketika kita ingin membela suatu hal (agama, keyakinan, negara, wilayah) bukan kemudahan-kemudahan dan kesempatan-kesempatan bagus yang seharusnya ada didepan mata kita, karena yang namanya membela itu penuh resiko dan tantangan. Kalau kita dalam membela sesuatu hal ternyata mendapat kenyamanan, kemudahan-kemudahan yang sifatnya duniawi, itu berarti kita sedang DISUAPIN dengan propaganda dari musuh-musuh yang tidak terlihat untuk menyesatkan kita dalam sebuah perjuangan. Kalau ada yang bilang kemudahan-kemudahan duniawi tersebut datang dari Tuhan YME, coba lihat perjuangan para Nabi kita terdahulu. Perjuangan para Nabi tidak terdapat kemudahan-kemudahan tersebut, mereka berjuang dalam kondisi yang jauh dari keadaan nyaman, aman dan tentram. Bagaimana mungkin manusia biasa seperti kita mendapat kemudahan-kemudahan dalam perjuangan ketika Nabi saja harus menempuh hal yang sangat sulit dan berbahaya. Lagipula, para Nabi kita berjuang tidak dengan merusak keamanan, kenyamananan dan ketentraman orang lain. Apa benar kita bisa seenaknya sendiri saja dalam berjuang? Sekarang coba pikirkan, kemudahan-kemudahan yang diterima tersebut, apakah jika kita menolaknya berarti kita kehilangan kenyamanan, keamanan dan ketentraman? Kalau ya, berarti seharusnya perjuangan tersebut dimulai dengan menolak kemudahan-kemudahan yang kita terima. Coba pikirkan lagi juga apakah kemudahan-kemudahan tersebut ditujukan pada akhirnya untuk  merusak keamanan, kenyamananan dan ketentraman orang lain yang ditujukan salah satunya sebagai cara untuk mengadu domba? Untuk yang Islam coba lihat Surat Al-Kahf mengenai sekelompok anak muda dalam menghadapi musuh-musuh mereka, tidak ada kekerasan apalagi radikalisme disana (bukankah Al-Quran adalah yang sebenar-benarnya?).                

Bukan hanya manfaat dan akibat yang baik yang bisa menghancurkan batasan dan ajaran agama, terkadang aliran sesat bisa menghancurkan batasan dan ajaran agama serta moral karena mereka melihat akibat buruk dari memegang batasan dan ajaran tersebut. Loh, kenapa memegang batasan dan ajaran agama bisa berakibat buruk? Sederhana jawabnya, karena mereka sudah kalah dari hawa nafsu mereka dan dari musuh bebuyutan mereka sehingga pertahanan mereka sudah tidak ada lagi. Ketika keyakinan tergadaikan, secara tidak sadar mereka kehilangan pertahanan mereka. Merekapun kalah dan menolak untuk berjuang, dan akan mau kehilangan lebih banyak lagi sampai tidak bersisa apa-apa lagi untuk dibela. Pada aliran sesat, Winning is when nothing can bound them so they as free as sky above, defenseless and light just like being in heaven. Winning is like being in an accomplished and ideal life, a perfected life. 

Saran gue, waspadalah dengan kegiatan huru hara dan hura-hura, karena serangan datang ketika kita dalam keadaan euforia yang berlebihan. Selamat Tahun Baru!











0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More