Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Senin, 17 September 2012

Proteksi Minimal Yang Bisa Dilakukan Perempuan

Segala sesuatu berubah sangat cepat dewasa ini. Ketika orang mau yang lebih untuk dirinya atau orang lain, mereka pun mau melakukan apa saja untuk memenuhi desakan perubahan tersebut. Loyalitas pun terkikis hanya karena orang kemudian lebih loyal pada keinginan untuk perubahannya dan bukan karena entitasnya. Orang ingin lebih baik, lebih sejahtera, lebih makmur, lebih terkenal, lebih mapan, lebih dll, tapi mengukur lebihnya dengan menggunakan takaran uang. Tidak heran kalau sekarang perubahan yang drastis bisa terjadi di semua aspek kehidupan. Lingkungan dengan cepatnya berubah, lebih polusi, lebih panas, matahari pun lebih menyengat. Cuaca berubah lebih ekstrem, lebih banyak badai dan angin puting beliung terjadi. Bumi pun berubah, lebih bergoyang dengan laut yang lebih agresif menyerang daratan. Agamapun berubah menjadi lebih radikal, tapi malah sangat kontras dengan kejahatan kriminal yang lebih kompleks dan violence. Pergerakan yang huru-hara dan hura-hura lebih banyak ditampilkan sebagai bagian kehidupan sehari-hari, it does look like we're getting worse, tapi tetap saja semakin banyak orang yang meneriakkan perubahan dan ingin yang lebih lagi, seakan-akan mereka kebal akan perubahan (huru-hara dan hura-hura inilah yang mungkin menyebabkan kita tidak sensitif akan adanya konsekuensi dari sebuah perubahan). Perempuan pun bisa jadi lebih vulnerable dan harus bisa menyikapinya dengan kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi gempuran perubahan ini. Kesiapan fisik dan mental dapat dilakukan dengan aktif memproteksi diri terhadap hal yang bisa membahayakan baik dari unsur alam maupun lingkungan. Berikut beberapa hal yang minimal menurut gue yang dapat dilakukan sekarang oleh perempuan untuk memproteksi dirinya terhadap perubahan alam dan lingkungan:     


1. Penggunaan Sunscreen
Akhir-akhir ini ketika gue keluar dan matahari lagi terik-teriknya, wajah akan terasa panas banget dan mata berasa silau. Biasanya gue ga terlalu khawatir karena gue selalu pakai krim tabir surya yang emang udah dari dulu menjadi penghuni setia di dompet kosmetik gue (jauh sebelum bb krim yang identik dengan SPF muncul). Kulit gue termasuk yang sensitif, makanya butuh perlindungan ekstra dan SPF 30+ biasanya sudah cukup melindungi kulit wajah gue. Sun Protection Factor (SPF) memberi perlindungan terhadap sinar ultra violet, UVA dan UVB, dari matahari, walaupun banyak produk yang ternyata hanya memblock UVB saja. Padahal, UVA sangat berbahaya bagi tubuh karena radiasi yang ditimbulkannya dapat membunuh tanpa ketahuan dan menyebabkan kanker. Label "broadspectrum" pada produk SPF mengindikasikan kalau produk tersebut juga dapat memblock UVA selain UVB, atau untuk produk-produk dari Asia, label yang digunakan adalah PA beserta tanda plus, dimana yang tertinggi saat ini adalah PA+++. SPF mempunyai nilai berkisar antara 8 sampai dengan 50, dimana diatas 50 tidak akan terlalu memberikan perlindungan tambahan yang berarti.

Tapi, walaupun sudah menggunakan produk SPF bukan berarti kulit kita sudah terlindungi. Gue aja sekarang ngerasa kalau produk SPF yang biasa gue pakai udah kurang efektif. Selalu aja ada patch gelap di kulit muka gue setelah gue berjemur (sebentar) di matahari (dulu ga begitu loh, produknya selalu sukses menjaga kulit gue). Mungkin perlu juga ditambah dengan foundation yang bisa menutup kulit dengan warna secara sempurna. Serangan matahari? Foundation + sunscreen here I come...

2. Asupan Antioxidant
Banyaknya suplemen berisi antioxidant dipasaran menandakan masyarakat sudah cukup sadar akan pentingnya antioksidan. Antioksidan dapat memproteksi tubuh karena menghambat proses oksidasi molekul-molekul di dalam tubuh yang dapat menghasilkan radikal bebas. Radikal bebas berbahaya karena bisa menimbulkan reaksi berantai yang merusak sel-sel dalam tubuh. Ada banyak sekali sumber-sumber antioksidan baru yang khasiatnya berlipat ganda dari yang biasa kita konsumsi sehari-hari, dan banyak yang berasal dari tanaman tropis negeri ini. Kita mengenal vitamin A, C dan E sebagai antioksidan yang baik yang bisa didapatkan dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan segar. Antioksidan lainnya adalah Lycopene yang bisa didapatkan dengan mengkonsumsi tomat, lemon atau semangka. Flavonoid, yang sering terdapat pada tanaman obat tradisional dan rempah-rempah, juga termasuk antioksidan yang berguna bagi tubuh kita. Pokoknya, kalau ingin tubuh kita sehat dan terbebas dari berbagai penyakit degeneratif, maka antioksidan adalah salah satu solusi yang akan menjaga tubuh kita dari serangan-serangan penyakit tersebut. Bahkan kalau tubuh kita mendapatkan virus dan bakteri (bakteri penyebab jerawat juga termasuk!) tak terduga, antioksidan dapat membantu tubuh kita untuk melawan serangan tak terduga tersebut. 

3. Physical Exercise
Dulu sampai bosen kita disekolah mendengar kata "Men sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat" untuk menegaskan betapa pentingnya kesehatan tubuh kita (gue rasa mungkin pada masanya, ada benarnya perkataan tersebut, tetapi untuk masa modern sekarang ini dimana ada banyak faktor yang lebih kuat yang dapat mempengaruhi jiwa kita selain tubuh kita, maka gue agak meragukan arti dari kalimat ini). Walaupun gue agak ragu akan arti pernyataan ini, tapi bukan berarti tubuh menjadi tidak penting untuk kesejahteraan kita, karena kalau kita sakit pasti daya berpikir dan emosi kita akan terpengaruh. Latihan fisik secara teratur dan berkelanjutan memang penting untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Olah fisik dapat melancarkan peredaran darah, melatih otot, tulang dan jantung, serta membantu tubuh mengeluarkan racun lewat keringat yang keluar. Kekuatan fisik yang didapatkan dari olah tubuh secara teratur dapat menjaga kesehatan tubuh, sehingga minimal tubuh dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Bahkan, latihan fisik dapat membantu wanita menghadapi hal-hal yang tak terduga seperti berhadapan dengan orang jahat, mungkin tidak untuk melawan, tapi cukup punya kekuatan untuk bisa mengelak dan mengambil langkah seribu (kalau ibu-ibu biasanya larinya malah mengejar Smiley, tapi hal ini sangat tidak disarankan!). Latihan fisik sangat beragam bentuknya, mulai dari yang membutuhkan daya tahan yang ringan seperti berjalan kaki sampai yang berat seperti sepeda marathon. Ada juga yang butuh keahlian khusus seperti panjat tebing dan akurasi seperti bowling. Olah tubuh lain bahkan membutuhkan kerjasama team seperti basket. Untuk wanita, olahraga yang membutuhkan kelenturan seperti senam dan balet, atau yang membutuhkan konsentrasi seperti Yoga banyak diminati. Dengan pilihan yang banyak, maka para wanita dapat memilih olah tubuh yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan kesenangannya. Lebih enak dan nyaman rasanya melakukan latihan apabila tidak terpaksa atau memaksa diri. Gue sendiri memilih Yoga dan berjalan kaki sebagai bentuk latihan fisik yang gue sukai. Jalan kaki bisa dilakukan di tempat-tempat favorit pilihan kita atau hanya dengan memilih untuk naik busway (yang kita tauk beberapa jalanan koridor transitnya cukup panjaaang) daripada menggunakan mobil atau motor pribadi.    

4. Self-Awareness
Biasanya perempuan lebih gampang aware dengan hal-hal yang berbau keindahan dan materi, pokoknya yang bagus, baru dan menarik pasti akan masuk waiting list daftar belanjaan kita. Ketika ada event perayaan, kita pun ingin tampil berbeda dan baru, at least kalau ga bajunya ya sepatunya, belum lagi tambahan aksesorisnya, tasnya, rambutnya... namanya juga perempuan, kitakan mikirnya semakin indah dan bagus maka akan semakin baik. Apalagi sekarang jamannya teknologi canggih, perempuan pun ingin yang terlihat bagus dan canggih tanpa mempertimbangkan rasio. Ada BlackBerry baru kepingin, ada iPad yang lebih keren kepingin, padahal ga butuh-butuh banget karena teknologi yang lama dan yang sudah dimiliki sudah mencukupi. Gue terus terang ga punya yang namanya BlackBerry (kasian deh gue...Smiley), makanya gue sering dibilang gaptek. Masalahnya, kenapa harus bangga kalau cuma bisa makai teknologi orang, malu dong, buatnya aja kita ga bisa kok makainya bangga. Lagian, kalau ilmunya aja kita ga punya, kok berani kita mimpi punya ini itu. Palingan kita jadi tergantung sama teknologi orang apalagi yang baru-baru tuh costnya mahal, bisa-bisa semakin berat aja kita menggantung...lah kalau nanti keberatan dan talinya putus gimana? (kasian deh lo...Smiley). Makanya, perlu juga untuk belajar mengerem dan mengenal siapa, apa dan bagaimana diri kita, seberapa cepat dan jauh kita bisa melangkah. Kalau ini saja kita ga ngerti, bisa-bisa tahun depan tergadai semua milik kita. Mungkin para perempuan harus bertanya pada diri mereka sendiri, apakah orang yang ingin kita terlihat lebih cantik, lebih bagus, lebih ini dan itu berarti orang yang mencintai dan menyayangi kita? Terlihat peduli mungkin, tapi loyalkah? (mengingat kemampuan kita yang terbatas). Apa mau kita diutak-atik, tuning sana-sini untuk mendapatkan leverage yang lebih itu, lalu bagaimana kalau sudah mentok? Masih ingatkan kasus perempuan yang dijanjikan mau dijadikan model, sudah dipoles sana, dipoles sini tapi ujung-ujungnya malah dieksploitasi?

Perempuan terkadang sulit untuk aware akan konsekuensi yang akan atau bisa dihadapi dalam sebuah situasi. Apalagi ketika lingkungan dimana mereka berada, memasang modus siluman atau stealth mode, maksudnya, tidak mengakui adanya permasalahan ketika sebenarnya ada permasalahan. Modus siluman mengabaikan permasalahan sehingga permasalahan akan semakin besar dan akan menimbulkan kerugian yang terbesar pada elemen terlemah didalam society (anak-anak dan perempuan). Bahkan ketika ada yang  seakan-akan peduli dan bertanya mengenai sebuah permasalahan dan menjajikan solusi, perempuan tidak bisa percaya begitu saja. Karena, ketika yang bertanya dan berjanji tersebut adalah bagian dari permasalahan, sehingga menyebabkan si perempuannya terbentur pada solusi yang percuma, maka, hal tersebut bisa membuat dia putus asa yang malah akan mendorong perempuan untuk ikut mengingkari permasalahan. Ketika perempuan ikut mengingkari permasalahan (hypocrisy) sehingga melepaskan tamengnya, disinilah kekuatan jahat yang mengintai dapat tiba-tiba muncul dan mungkin berakibat fatal. Makanya ladies, kalau ada orang nongol mau memberikan solusi atau sekedar mengatakan "ceritakan dong ke Pram permasalahannya apa..." dan sok ngorek-ngorek masalah, jangan langsung percaya, karena kalau terbukti mereka adalah bagian orang yang ikut berkongkalingkong, hal-hal tersebut malah akan membuat perempuan tersebut dimanfaatkan. Jangan gunakan penilaian per individu karena dalam sebuah perkongkalingkongan tidak ada yang namanya inisiatif sendiri. Jadi, walaupun orang tersebut terlihat sebagai orang baik-baik atau si Pram ini mengaku ustadz dan memberikan banyak kebaikan, jangan mengharapkan apa-apa dari personality individual mereka, that's just the way they work. Seingat gue ada peristiwa mahasiswi yang ga nongol pas UAS, dibawa orang tauk-tauk dah sampai ke RS (dapet lampu "kuning" tuh). Eh, dejavu, mau berulang lagi kejadiannya ketika setelah pulang dari pusat perbelanjaan (untungnya prampuan ini udah pulang sekarang, kalau nggak, bisa-bisa dapet lampu "merah"). Banyak orang mengatasnamakan agama untuk aktivitas kriminal mereka, sehingga jangan sampai terhipnotis oleh tampang, perilaku santun dan atribut agama. Coba cek dulu keluarganya dan tempat tinggalnya dimana dia sudah berpuluh-puluh tahun tinggal, kalau ada yang ga beres atau aneh dengan kondisi keluarganya (ortu ga ada, istri/suami yang ditelantarkan, diceraikan dengan percekcokan, atau anak yang tidak ketahuan juntrungannya) maka sebagai perempuan, kita harus hati-hati.

Uang (dan peluang) ga bisa dijadikan patokan akan sebuah kebaikan. Kalau kita menerima uang, bukan berarti yang memberikan uang (dan peluang) baik sama kita, tapi kemungkinannya kita akan dimanfaatkan dengan banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi. Manfaat dan persyaratan yang seperti apa, harusnya bisa kita ukur dengan mengenal kemampuan kita dan batasannya apa. Apakah ada keanehan dan ketidak wajaran dari persyaratannya, misalnya berupa pengambilan hak diri sendiri atau orang lain sebagai syarat uang tersebut? Karena, ga bisa kita biarkan diri kita dimanfaatkan dan diarahkan dalam hal apapun hanya supaya bisa lolos untuk hari ini atau esok hari, atau untuk euforia sesaat, karena bisa jadi taruhannya adalah masa depan orang banyak atau diri sendiri yang memang ga bisa diukur dengan uang (dan peluang). Orang lain yang peduli dan menyuplai kehidupan dan penghidupan kita, belum tentu peduli dengan hidup dan nyawa kita. Banyak kasus dimana perempuan mendapat kehidupan dan penghidupan yang lebih baik seperti di negeri seberang pada akhirnya malah kehilangan nyawanya.

Terkadang orang yang kita bisa percayapun dapat melakukan tipu muslihat, hanya perlu sensitifitas kalau ada yang sedikit aneh. Contoh kasus ya, gue punya teman orang padang, dia didatengin saudara jauhnya (tauk sendirikan orang padang banyak banget saudaranya). Dia bawa teman yang menurut pengakuannya berasal dari padang juga. Sebenarnya teman gue ini udah curiga karena logat padang orang yang dibawa ini ga ada dan pas lihat ktp dia juga bukan lahir di padang tapi di jawa. Tapi, karena tingkah laku dan bawaan orang ini alim dan santun, temen gue nih percaya aja malah termotivasi dengan cerita-cerita suksesnya dan memberikan dia jabatan sebagai penanggung jawab. Lagian, bisnis yang dilakukan dengan saudara jauhnya ini juga menghasilkan keuntungan banyak karena kemudahan pasokan barang yang dia terima dari saudara jauhnya ini. Suatu saat temen gue nih menderita sakit tiba-tiba, sehingga harus ke RS. Ketika dia pulang dari rumah sakit, dia melihat rumahnya sudah porak peranda dan mendapatkan harta benda yang sudah dia dapat dari hasil jerih payahnya berbisnis selama ini hilang, hal-hal yang dia dapat sehingga impian-impian indahnya bisa terwujud hilang. Bisnisnya pun akhirnya ambruk karena uang kas dibawa kabur orang, dan teman gue ini kemudian menyalahkan orang bawaan saudara jauhnya yang hilang tak tauk rimbanya. Saudara jauhnya mengaku tidak tauk menauk masalah tersebut dan ikut menuding orang yang dia bawa (yang udah kabur entah kemana). Usut punya usut, ternyata bisnis yang selama ini temen gue lakukan menguntungkan bos saudara jauhnya karena dialah pemasoknya (bosnya semakin kaya). Temen gue pun akhirnya bangkrut karena utang yang harus dibayar dan modal awal yang sudah semakin tinggi untuk memulai bisnisnya. Dari cerita ini harusnya kita melihat kalau kecurigaan tidak bisa dianggap enteng, temen gue mungkin hanya kehilangan harta bendanya, tapi bisa jadi di cerita yang lain, orang akan kehilangan nyawanya. Sekali lagi gue tekankan, cek keluarganya dan tempat tinggalnya dimana dia sudah berpuluh-puluh tahun tinggal, kalau ada yang ga beres maka kita harus hati-hati. Awareness itu penting apapun situasinya, jangan hanya uang dan peluang saja yang dilihat.                 

Masalah awareness ga bisa ditampik dengan alasan yang ga jelas dasarnya apa. Terkadang, ada aja perempuan yang mengatakan "berserah diri aja sama yang diatas dan minta perlindungannya, insya allah akan aman-aman saja" ketika perempuan dinasehati untuk tidak sering pulang malam, atau menempuh rute perjalanan ditempat yang sepi, atau mengendarai sendiri motor kemana-mana. Mereka pun menjadi tidak hati-hati dan menganggap enteng apa yang sudah biasa mereka lakukan. Seakan-akan mereka bawa-bawa nama agama, tapi mereka tidak aware akan ketentuan-ketentuan dalam agama tersebut. Mereka hanya yakin pada dirinya sendiri kalau sudah mendapat blessing, tapi tidak yakin pada ketentuan dalam agama tersebut sehingga pelanggaran apapun bisa mengatasnamakan Tuhan. Ketika kita (gue termasuk) berjalan sendiri di tempat yang sepi misalnya, kita harusnya sadar sedang mengundang takdir buruk untuk terjadi sehingga akan selalu waspada. Kalau kuat keyakinannya akan ketentuan Tuhan YME, maka minimal kita tidak mau melakukannya lagi, apalagi kalau untuk mendapat kenaikan gaji (karyawati) atau menjadi aktivis sejati (mahasiswi). Lebih baik bekerja pada waktunya atau belajar lebih keras lagi daripada menghalalkan segala cara seperti diatas. Lagian, kita tidak sedang berada di surga dimana orang beriman pasti mendapat semua kebaikan (kesejahteraan, ketentraman) yang sudah dijanjikan Tuhan YME. Banyak perempuan mengejar kebaikan-kebaikan tersebut didunia, dengan sengaja melanggar tanpa menyadari akibatnya karena beranggapan hal tersebut ditujukan untuk kebaikan-kebaikan ini. Kekuatan orang-orang jahat muncul karena adanya hypocrisy seperti ini, makanya perlu untuk membangkitkan dan mengembalikan kesadaran dan tanggung jawab para perempuan, at least pada diri mereka sendiri. Kita sedang hidup di dunia dimana kejahatan bermacam-macam bentuknya dan dapat mengenai siapa saja, apalagi tanpa adanya awareness. Ilmu dan pengetahuan perlu ditingkatkan untuk membangun self-awareness tersebut sebatas apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan.

Untuk menunjukkan betapa vulnerablenya perempuan dalam masa-masa perubahan alam dan lingkungan ini, maka berikut data yang gue dapatkan dari search engine mengenai kematian mahasiswi oleh berbagai sebab dalam satu tahun terakhir (dan daftarnya terus bertambah):

UPH, Caroline Oktavianie Tamboto, 25 Nov'11, 19th, Lippo village (kondo-dibunuh)  
Trisakti, Arum Natalie Ratna, 12 Jan, depan Kompleks Istana Negara (RS- tertimpa pohon)
Unsuri, Suhartini, 15 jan, 20th, Sidoarjo (kubangan parit-dibunuh)
ITB, Angelina Yovanka, 5 Feb, 19th, Garut (sungai-tenggelam)
IT Telkom, Diayu Eritasari, 7 maret, 20th, dayeuhkolot (kos-dibunuh)
Syiah Kuala, Siska, 22 Maret, 20th, Lhokseumawe (RS-sakit tiba-tiba)
STAIN, Dakwatul Khoirot, 27 Mar, Pamekasan (jalan-kecelakaan motor)
IPB, Rifda Izatunisa, 30 Mar, 19th, Bogor (jalan-kecelakaan motor)
Stikes, Lilik Andriana, 5 April, 19th, Surabaya (rumah-dibunuh)
UIN Syarif H, Izzun Nahdiyah, 7 Apr, 24th, Tangerang (rumah pelaku-dibunuh)
STAIN, Afridarni, 2 Mei, 21 th, Bukittinggi (jurang-dibunuh)
UNDIP Fisip, Bunga Hoetami, 7 Mei, 20th, Semarang (jalan-kecelakaan motor)
 Trisakti, Suharti La Popo, 9 Mei, 22th, Tangerang (jurang-dibunuh)
  ..., Noviani, 14 Mei, 22th, Pacitan (RSUD-overdosis miras)
..., Charstia Anggraeni, 6 Jun, 17th, Wonogiri (jalan-kecelakaan motor)
UNDIP Sastra Inggris, Natisa Listyani Nasiroh, 7 Jun, 24th, Semarang (jalan-jambret)
IPDN, Nesya Khairunisa, 16 Jun, 22th, Bandung (RS-sakit kanker darah)
Petra, Zaza Yesika Sinjaya, 19 Jun, 20th, Surabaya (kos-gantung diri)
STIAMI, Aprilia Indriyani, 3 Jul, 21th, Penjaringan (Hotel Pondok Kencana Indah-dibunuh)
UNS, Umi Khasanah, 23 Jul, 19th, Solo (jalan-kecelakaan)
UI, Lucia Novianti Dewi, 24 Jul, 23th, Pondok bambu (jalan-kecelakaan motor)
STIE Wira Wacana, Karin Kamba Ipu, 7 Agu, 22th, Waingapu Sumba Timur (RS-kekerasan)
STIKES Ahmad Yani, Desy Sriyudianti, 9 Agu, 22th, Cimahi (kost-dibunuh)
Unibraw, Lintang Chandra, 10 Agu, 21th, Madiun (jalan-kecelakaan motor)
Unika Kupang, FB, 27 Agu, 22th, Kupang (kos-aborsi)
STKIP, Azizatul Sakdiyah, 1 Sep, 22th, Klatakan Situbondo (warung pantai-dicekek)

Sementara yang hilang:
Trisakti, Nadia Dwi, Nov '11, 20th (ditemukan)
UI, Nurul Fitriyah, Juni, 23 th (ditemukan)


Makanya proteksi itu penting, ga bisa jugakan korbannya kalau cuma disuruh ngomong "jangan dong...". Tapi, bukan berarti proteksi hanya untuk para mahasiswi aja lo. So, the next para ibu, para istri...harus hati-hati dan waspada karena sekarang bukan saatnya positif thinking lagi, jaman berubah, alam semakin kejam dan kejahatan dapat mengintai dimana-mana, jangan biarkan kejahatan tersebut menang secara total. Lagian, kita juga sudah kehilangan Bu Menkes dan gue rasa hal tersebut alarm untuk perempuan akan kondisi yang semakin vulnerable. 

Sebagai tambahan, angka kecelakaan selama lebaran naik dari tahun lalu dengan kenaikan 32,48% untuk sepeda motor dan 16% untuk korban meninggal dunia (Sumber: disini). Sementara itu, angka kecelakaan lalin DKI Jakarta dari Januari sampai Oktober 2011 memprihatinkan dengan jumlah kecelakaan 6732 kasus dengan 935 orang meninggal dunia. Di wilayah Jakut hampir setiap pekan ada kecelakaan yang melibatkan truk kontainer (Sumber: Jalan Raya Bak Medan Perang, Warta Kota, hal 2, 29 November 2011)


Noah said its going to be painful for them...to learn its the sea of life.


Sabtu, 08 September 2012

Milih-milih...Milih yang mana ya?

Setelah habis milih-milih baju yang mana yang akan digunakan untuk berlebaran, apa memakai baju yang lama atau baju yang baru, kemudian milih mau jalan-jalan kemana di akhir minggu lebaran...akhirnya tiba saatnya milih hal yang lebih berat lagi...milih pemimpin untuk kota Jakarta!

Milih pemimpin memang tugas yang berat, kalau salah milih, bukannya rakyat yang selangkah lebih maju, malah dapet langkah seribu berlari meninggalkan segudang masalah. Pemilih adalah para individual yang sudah dewasa, dimana pengetahuan, nilai dan persepsi akan permasalahan yang ada sudah terbentuk melalui sebuah proses panjang, sehingga semua hal tersebut sudah melekat erat dalam pemikirannya yang dapat dipakai dalam mengambil keputusan. Pemilih diharapkan bukan orang yang mudah diperintah dan didoktrin seperti anak kecil, dimana yang benar dan yang salah hanya berdasarkan perkataan saja, dan mudah mempercayai impian-impian idealis yang disampaikan. Seorang pemilih yang dewasa akan menyikapi dengan bijak, sekat-sekat, perbedaan dan permasalahan yang ada, dengan tidak mengacuhkannya dan tidak melibasnya dengan sebuah langkah tidak membumi yang penuh idealisme, simbolisasi dan impian seakan-akan perbedaan dan sekat-sekat tersebut tidak ada dan tidak pernah ada didalam kehidupan bermasyarakat. Sekat-sekat, perbedaan dan permasalahan harus digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dengan menyikapinya dengan sikap tenggang rasa, kepedulian dan menghormati antar sesama manusia agar ketentraman dalam bermasyarakat dapat terjaga. Isu SARA yang dihembuskan (hembusan terlalu halus sebenarnya, karena isu SARA ini dipakai untuk menggempur habis-habisan persepsi masyarakat Jakarta) di masa pemilihan gubernur Jakarta ini, seakan-akan mengkriminalkan sebuah pemikiran akan sisi Jakarta dimana justru kaum yang dianggap mayoritas dan penduduk aslinya masih sering  termaginalkan dan masih timpang dalam hal ekonomi dan pendidikan. Kaum yang dianggap mayoritas ini kepentingannya masih dianggap belum tercukupi, sehingga diharapkan dengan mengangkat pemimpin yang berasal dari mereka, maka gap dan ketimpangan yang terjadi dapat diminimalkan (dan meminimalkan gesekan yang masih sangat rawan terjadi). Sementara itu, untuk kaum yang dianggap minoritas, sejak jaman reformasi sudah cukup banyak sebenarnya hal yang dilakukan untuk menghormati kepentingan kaum minoritas, jangan sampai hal tersebut dirusak dengan langkah grasak-grusuk yang secara picik mengangkat isu SARA.

Lagipula, sebagai pemilih, ada banyak faktor yang menjadi alasan untuk memilih figur tertentu yang tidak bertumpu hanya pada rasio saja. Walaupun kita bisa menggunakan rasio untuk menyelesaikan problem hidup, tapi tetap saja rasio tersebut harus dibatasi dengan nilai-nilai yang kita miliki. Sehingga, faktor keyakinan, agama dan nilai-nilai yang kita pegang selama ini seharusnya juga dapat berpengaruh dalam memilih siapa pemimpin Jakarta nantinya. Kerusuhan di Sampang bisa dikatakan tindakan berdasarkan isu SARA, tetapi, pemilih yang menggunakan nilai dan keyakinannya ga bisa diplintir dan disalahkan dengan menggunakan isu SARA. Pemilih adalah seorang individu dewasa, dan mereka berhak memilih berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai yang mereka miliki karena hal tersebut adalah hal yang legal. Mereka toh tidak melakukan tindakan lain (baik tersembunyi maupun terang-terangan) yang bisa merusak pilkada seperti menghasut, intimidasi, teror dan lainnya. Di negara paman Sam aja, faktor agama sering menjadi bahan perdebatan dalam pemilihan pemimpin mereka (mereka mendebatkan masalah agama gereja mormon yang dimiliki salah satu kandidatnya). Dan, mereka tidak melihat hal tersebut sebagai masalah SARA, melainkan kesiapan warganya menerima figur dari agama gereja mormon tersebut yang merupakan minoritas, karena, walaupun Amerika cukup liberal kalau dilihat dari kacamata orang kita, tapi mereka tetap melihat agama sebagai faktor yang kritikal dalam pemilu mereka dan merupakan bagian dari pandangan kritis mereka, akan nilai-nilai yang mereka miliki. Nah, jika kesiapannya yang dilihat, maka, apakah warga Jakarta sudah siap dipimpin oleh figur yang berasal dari kalangan minoritas? Jawabannya tentu harus secara real tergambarkan dari apa yang ada di lapangan dan bukannya melulu hasil survey. Hasil survey tidak menjawab hal real seperti: apa warga Jakarta yang mayoritas bisa menjamin dan menjaga keamanan warganya yang minoritas akibat dari gesekan yang mungkin timbul akibat pemilihan ini sehingga warga minoritas tidak perlu lagi sibuk menjaga lingkungannya dengan mendirikan portal-portal dan pagar-pagar yang tinggi di kota Jakarta? (Survey menggunakan sampling dan gue bukan fans dari teknik-teknik statistik seperti sampling apabila hal yang disampling terlalu crucial dan kompleks. Sampling dilakukan untuk menentukan tindakan yang tepat bagi keseluruhan populasi. Karena targetnya adalah keseluruhan populasi maka sampling harus acak, jumlahnya cukup dan bisa merepresentasikan populasi. Individu atau sekelompok orang dipilih untuk menjadi objek atau sasaran experiment atas hal yang akan berpengaruh terhadap populasi yang ditargetkan. Sampling adalah "cara cepat dan mudah" untuk mendapatkan kesimpulan atas gambaran keseluruhan populasi, sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat bagi populasi tersebut.)  

Gue cuma berharap masyarakat Jakarta tidak bisa dikerdilkan dan dengan mudahnya dibodohi dengan diberikan hanya "isu SARA" karena dua pilihan yang ada untuk masyarakat Jakarta, masing-masing ada alasan tersendiri untuk memilihnya. Ga bisa kalau dikatakan kita memilih si anu berarti masalah SARA sudah tidak ada di Jakarta, atau kita memilih si anu berarti kita pro terhadap sikap yang SARA. Kita menghargai masing-masing individu dengan tidak melakukan tindakan terhadap orang lain berdasarkan SARA tanpa dasar dan peraturan yang jelas. Kita juga tidak bisa ikut campur mempengaruhi kebebasan seorang individu dalam menggunakan haknya, baik dengan intimidasi berupa perkataan maupun perbuatan karena hal tersebut adalah bentuk teror. Teror berisu SARA yang terjadi belakangan ini memang tidak berhubungan dengan pilkada DKI, tapi timingnya sangat tepat untuk mempengaruhi keputusan warga Jakarta dengan persepsi yang bisa merugikan dan membelah kedua kubu sehingga tercipta suasana yang tidak sehat dan tidak produktif. Di satu kubu isu SARA mendeskriditkan agama dan menyudutkan kubu tertentu, sementara di kubu yang lain bisa saja merasa sedang diteror.

Off the topic: gue mau bicara sekali lagi soal teror. Kriminalitas yang terjadi di lingkungan masyarakat biasanya berupa pengambilan hak seseorang secara paksa yang berwujud fisik atau materi yang dilakukan perorangan atau berkelompok, sehingga, persepsi yang fisik dan materi ini dapat jelas tertangkap oleh masyarakat dan masyarakat paham benar bentuk-bentuk kriminalitas ini. Pencurian, pemerasan, penyuapan, pengrusakan sampai kriminalitas berat seperti korupsi dan pembunuhan sudah cukup dipahami bentuk-bentuknya oleh masyarakat beserta hukumnya. Teror adalah tindak kriminal yang masih belum jelas dasar hukumnya apalagi yang bersifat individual dan perseorangan karena bukti yang dihasilkan sangat minim. Bukti yang minim tersebut karena teror menyerang (usaha untuk merusak, mengambil, mengubah dengan paksaan) fitrah seseorang yang tidak mempunyai wujud fisik seperti jati diri, pemikiran, psikologi (emosi dan perasaan), nilai, perilaku dan keyakinan. Teror bisa dibedakan dengan kriminalitas biasa karena adanya pengulangan (tindakan yang berulang-ulang) kepada satu target. Teror yang melibatkan masyarakat luas (dimana masyarakat luas sebagai pelakunya atau targetnya) biasanya sudah terorganisir dengan baik dan para pelaku biasanya hanya menjalani perintah atau mengikuti orang lain. Teror memang tidak bertujuan mengambil materi atau uang dari korbannya, bahkan pelaku teror biasanya malah harus mengeluarkan dana untuk aksinya, walaupun demikian, akar masalah atau penyebab dari tindak kejahatan teror mungkin karena masalah ekonomi juga, yang dibungkus rapi dengan tujuan-tujuan yang mulya dan baik. Makanya, sumber dana dan bagaimana para pelaku mendapatkan dana dan fasilitasnya adalah hal yang penting dalam mengusut tindakan terorisme ini. Menurut pendapat gue pribadi, pelaku teror adalah orang-orang yang tidak puas atas hasil ciptaan Tuhan atau kuasa Tuhan, sehingga mengambil jalan pintas untuk mengubah psikologis, nilai dan keyakinan orang lain dengan cara-cara paksaan. Cara-cara paksaan maksudnya dihadapkan langsung, face to face, dengan sikap dari keyakinan mereka tapi dengan konsekuensi targetnya tidak bisa mengelak atau melawan karena ketidakjelasan tindakan dan serangan yang dilakukan (teror mungkin membuat kita bertanya dan meragukan orang lain, ini kawan atau lawan?). Teror merancukan pemikiran kita akan siapa the real enemy is karena tendensi dan persepsi kita sudah dirusak oleh teror tersebut. Kita selalu dibuat mengira-ngira apa sebenarnya tujuan (yang tidak jelas atau tersembunyi) dari tindakan teror tersebut. Ok, back to topic.

Hal yang lebih penting sebenarnya daripada mengangkat isu SARA ini, adalah bagaimana program dan kesiapan dari masing-masing kandidat dalam memimpin Jakarta kedepannya. Apakah Jakarta akan dirubah dengan menggunakan jalan pintas dengan memanfaatkan fasilitas dari pihak lain sehingga dapat membebani Jakarta dan independensinya di masa mendatang? Apakah Jakarta akan dirubah secara drastis sehingga Jakarta bisa jadi kehilangan akar budayanya dengan kehilangan cagar budayanya? Bagaimana sikap para kandidat terhadap para pemilihnya, yaitu warga Jakarta sebagai stakeholder dalam pembangunan kota Jakarta, apa akan disingkirkan dan diasingkan begitu saja (secara damai atau paksaan tetap saja namanya disingkirkan) atau diajak berperan serta? Ingat kalau Jakarta, walau menyandang status sebagai ibukota RI yang representatif terhadap keberagaman RI secara keseluruhan, tetapi Jakarta harus tetap sebagai Jakarta yang mempunyai kekhasan tersendiri. (Salah satu kandidat memang khas banget betawinya, tapi kandidat lainnya mengusung kekhasan yang mengingatkan gue pada video klip lagu "The Lazy Song"-nya Bruno Mars).             

Kalau dilihat dari incumbent atau bukan, pastinya masing-masing bisa punya argumennya sendiri. Yang incumbent memang ga sempurna, tapi, masih banyaknya pendukung yang mempercayai dan berharap akan kepemimpinanya membuktikan dia memang layak sebagai pemimpin. Sementara itu, yang bukan incumbent dapat memberikan harapan dan impian yang baru dari yang sudah didapatkan warga Jakarta selama ini.

Yang juga sangat penting adalah, bagaimana seorang pemimpin harusnya bisa bekerja secara independen, tanpa dibayang-bayangi tekanan, intimidasi atau ancaman dari kubu-kubu yang membawa kepentingan kelompok atau perorangan. Kalau kondisi tersebut tidak tercapai, maka percuma saja kita bicara dan berdiskusi panjang lebar mengenai maslahat bangsa, karena kebijakan yang diambil tidak akan atau tidak bisa berpihak pada rakyat. Ketika seorang pemimpin berkata "saya mendapat tekanan" atau "saya terus diganggu bisikan-bisikan" atau "ada yang terus mengikuti saya", maka hal tersebut jangan dianggap sebagai paranoia dari pemimpin tersebut, melainkan ancaman serius dalam kehidupan bernegara. Seorang pemimpin adalah orang yang bisa dimintai pertanggung jawabannya akan kebijakannya memimpin rakyat, sementara rakyat harus mau dipimpin dan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemimpin tersebut dalam menjalankan kewajibannya. Apa iya rakyat dapat dibebankan tanggung jawab penuh ketika pada kenyataannya, rakyat bisa lari kocar-kacir, tapi pemimpin tidak mungkin melakukan hal tersebut (hal ini seharusnya menjadi pertimbangan akan bentuk demokrasi yang kita inginkan). Nah, kalau rakyat dan pemimpinnya kemudian yang selalu kemasukan pengaruh dan unsur asing, bagaimana sebuah wilayah dapat tetap menjadi tempat berlindung dan memberi lingkungan yang kondusif? Aturan dan hukum memang dapat melindungi warga negaranya, tapi ancaman dari luar adalah persoalan lain, persoalan wilayah. Seperti sebuah keluarga dimana terdapat suami, istri dan anak. Apabila suaminya terus menerus memberi peluang akan kebebasan dan kemandirian kepada anggota keluarga lainnya, sehingga, istrinya selalu membayang-bayangi kepemimpinan suaminya dengan kekuasaan dan pengaruh dari luar yang dimilikinya, atau anak terus menerus memakai peluang kebebasan yang dimilikinya untuk membawa masuk pengaruh dan unsur dari luar, apa jadinya keluarga tersebut?  

Akhir kata, disini gue tambahkan artikel dalam bahasa inggris yang memperlihatkan kesuksesan dan kegagalan beberapa kota besar di dunia:

Chicago: http://www.time.com/time/nation/article/0,8599,1193833,00.html
Stockton, California: http://www.cbsnews.com/8301-201_162-57461273/stockton-calif-to-become-largest-city-to-declare-bankruptcy/
Moscow: http://www.askmen.com/top_10/travel/top-10-public-transit-systems_2.html
Tokyo: http://www.askmen.com/top_10/travel/top-10-public-transit-systems_1.html


Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More