Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Rabu, 20 September 2017

Kekeringan di Negeri Tropis

Ketika orang ribut-ribut mengenai toleransi, ada satu yang nampaknya terlupakan. Toleransi kita terhadap alam. Ketika gue mendengar masalah kekeringan yang terjadi di banyak daerah, gue cukup khawatir karena kita ini hidup di negeri tropis, bagaimana kekeringan bisa melanda negeri tropis? Inikan hal yang bertolak belakang.
Lalu apa sebenarnya toleransi terhadap alam itu, dan bagaimana kita bisa melupakannya? Alam punya kebutuhannya sendiri, manusia pun punya kebutuhan. Ketika dua kebutuhan ini saling bertemu, manusia yang sadar bahwa kita lebih membutuhkan alam dibanding alam membutuhkan kita, menyadari bahwa ketika kita menggunakan alam, kita menggunakan toleransi yang diberikan oleh alam. Artinya, daerah yang dipergunakan oleh kita tidak sepenuhnya milik kita tapi alam juga bisa mempergunakannya. Ini makanya, ketika kita membangun, kita juga menanam pohon disekitarnya. Toleransi yang berusaha kita jaga ini, ternyata sekarang mulai terlupakan akibat gencarnya pembangunan. Alih-alih memberikan alam sedikit kekuasaannya atas tanah yang kita gunakan, kita malah menyingkirkannya ke kantong-kantong dimana  alam bisa terkontrol. Supremasi manusia dan arogansinya nampaknya melupakan bahwa alam juga bisa mengontrol kita. Dan bukan hanya itu, kenyataan kalau kita adalah negara tropis harusnya meyakinkan kita bahwa kita jauh lebih membutuhkan pepohonan-pepohonan berhijau tua tersebut dibandingkan negeri non tropis. Negeri non tropis boleh tidak membutuhkan pepohonan tersebut dan melakukan pembangunan tanpa pohon karena memang mereka jarang pohon. Tapi kita tidak seperti mereka, kita membutuhkan pohon-pohon ini agar dunia tidak terbalik.
Kalau kekeringan sudah mulai melanda, tolong dilihat lagi kebijakan yang dilakukan. Kembalilah ke lokal "wisdom", karena memang tidak semuanya diciptakan sama. Tanamlah tanaman lokal kita, dan ingat, makanlah sayuran hijau lokal kita sehingga kita bisa seimbang baik diluar maupun didalam. Menangkanlah hijau, in its real form, not just a cliche.

NB: Pohon berusia ratusan tahun  adalah grounding yang terbaik ketika semuanya ter-compromised.

Kamis, 07 September 2017

Modern Superstitious

Sorry, ini artikel cut and paste dari akun google+ gue dan ga sempat diterjemahkan ke bhs Indonesia. So, silahkan baca aja dan terjemahin sendiri. Maaf juga klo inggrisnya pas-pasan.

Long ago, diseases were believed to be a curse or bad fate. People were superstitious then that they just afraid to get a better understanding of the unknown. Now, we know that diseases are caused by some little creatures unable to be seen by the naked eye, thanks to all the pioneers brave enough to explore to the extreme.
But eventhough now we have a reasonable explanation of diseases and how to cure most of them, too many of us are only believing the explanation without the need to get a better understanding of the problem. We just accept the unknown to be known and believe it as told. In other words, we are not less superstitious than what we once before since we only believing something. And this happens to all matters that constitute our modern life. But since the fear has gone we might think that what we believe is not superstitious anymore. And so now people daringly tresspassing the unknown without any consideration to understand about it, undermining all the pioneers effort to get to what once is a lurking danger. And worse, we keep accepting things that we dont know as if those bad fate are no more accompany those things, we had lose our fear.
As modern people, we believe we are not superstitious, although we only know things by believing them. It seems, we've became superstitious but we never realize it, huh that is worse than the old day's people. A perfect world is an easy world, maybe that is the definition of modern world. Oddly enough modern people treat victims as a bad luck although they never consider the bad luck when dealing and making decision on things. Victims need to be sealed away or slipped them under the rug as if they are the bad luck. Very primitive actually considering that it is how primitive people cast away bad luck, cast and sacrifice people.
Now, as many new theories arouse and accepted and believed, one has intrigued me a lot. The one that said the world is flat. I want to smile but this is not a joke. No really this is not a joke!
It is an undisputable belief that earth is round. All and every progress that mankind achieved as of today are all based on this observation, that earth is round. It is within my expectation that the earth is round nothing else. No way.
But as an open minded person I question this statement more. If it is true that the earth is flat then everything we achieve as of today is false. All our experience and progress that had happen based on the assumption of a round earth is not suppose to be able to exist. So the flat earth couldnt be true, right? Since the existence of our being now on this earth is the prove that the earth is round. Unless someone can prove that history is false or a lie. This is why we dont mess with history. We dont lie around and conspire against it, creating an alternative history to live on.
The other thing about flat earth is that if it can be true then we must have lose one degree of information. If earth is flat, we had lost one variable that existed when earth was round and so things could be more easily predicted or determined. Just consider traveling on flat earth in one direction, we sure know we'll find the edge to stop. But on round earth, we never be sure where we could stop and we might continue traveling without ever stop unless we know one variable which is our destination, an objective.
So if flat earth could ever be true, the lost of one variable of information could only mean that we probably have undergo some changes. Wait, changes? Then I need to find something that could prove this changes had already happen. I should see something that has lost one degree of information but can fully describe reality. For instance, having less information like a 2D plane that could describe or present 3D object. If I could find this kind of evidence then I should say: OMG!! We live in WONDERLAND!! We live in flat earth but we dont know it!
Ok, what else to consider that could prove we have lose one degree of information? Well, if coincidence happens too often, if people behave like they know many things that they dont know, if people consume too much and more than they could swallow, if lies are written more often than the truth, if creativity surpass beyond necessary, if the cause is seems much smaller and negligible than the effect, then perhaps it is true the world is only "selebar daun kelor". At least in the mind of people living on it, they who lose their objective. Fear gives us objective, I think people should know that.
But flat earth might not be that bad since we couldnt mine too much from it anymore. So less destruction on earth?

Now, if I say the moon is virus that can do bad things to us, would you believe it? Further more it's not even the virus that is a warrant, it's the antivirus. No joke.


But seriously, this could be used for water purification.

Selasa, 05 September 2017

Krisis Kepemimpinan?

Gue bingung, kalau ada perbedaan atau kritik yang berbeda bukankah hal tersebut bisa dimusyawarahkan dan bukan kemudian malah di taruh ke ranah hukum? Bagaimana kepemimpinan bisa teruji jika tidak dapat mencapai mufakat atas sesuatu dan malah adu kekuatan di ranah hukum? Tidakkah negara ini sudah terjadi krisis kepemimpinan?
Bahkan untuk apa sesuatu diperdebatkan di muka publik ketika tidak terjadi permufakatan atas sesuatu yang didebatkan. Yang terjadi malahan perbedaan yang semakin meruncing dan pikiran kotor untuk bermain di wilayah abu-abu diantara dua perbedaan tersebut. Karena terkadang, yang namanya perbedaan bisa ditarik ke dua kutub yang saling bertolak belakang dan sangat umum, seperti perbedaan antara kuat dan lemah, kaya dan miskin serta pintar dan bodoh. Sehingga ketika ada yang bermain diwilayah abu-abu, merekalah yang kemudian menjadi kekuatan de facto yang bisa mengerucutkan dua perbedaan ini. Apapun hasilnya, apakah kemudian yang bodoh yang menang atau yang kaya yang menang, atau tidak ada yang menang sama sekali, atas dikotomi yang terjadi, merekalah yang bermain diwilayah abu-abu ini yang sebenarnya menang dan menjadi kaya sekaligus kuat sekaligus pintar. Pintar bukan? Tapi apakah mereka yang bermain ini punya pemikiran cukup panjang untuk tidak merusak keseimbangan yang ada? Apakah para non-bigotry ini kemudian tidak akan jatuh ke kebigotrian? Bagaimana kemudian sebuah kepemimpinan bisa digerogoti oleh yang berada di wilayah abu-abu ini yang semakin merajalela? Lagipula, perdebatan publik hanya untuk memenangkan secara de facto siapa yang lebih kuat dan pintar dan kaya? Isn't that bigotry? A fat bigotry? Is that the idea of democracy?
Balik lagi ke masalah hukum, memangnya hukum bisa menjadi pemimpin di negeri ini sehingga mampu mempertanggungjawabkan kebijakan-kebijakan yang terjadi di negeri ini? Lalu selanjutnya apa? Apakah persatuan Indonesia bisa ditaruh diatas meja hukum?
Pancasila ada di tangan masing-masing individu warga negara. Pelaksanaan dan perwujudannya hanya ada di tangan warga negaranya. Hukum punya batasan tertentu, jangan kemudian menaruh hal-hal yang tidak jelas atau fuzzy ke wilayah hukum. Tidak semua hal bisa terkuantifikasi, makanya hukum tidak bisa sepenuhnya mengatasi masalah keadilan dan peradaban di negeri ini. Negara ini negara hukum, ya, tapi negara ini juga butuh pemimpin. Hukum yang jelas dan pemimpin yang adil dan bijaksana, ini yang negara kita butuhkan.

Minggu, 29 November 2015

Jumat, 13 Februari 2015

Links Video Mengenai Aliran Yg Dianggap Sesat dan Pemurtadan

Weekend nonton video dari Youtube mungkin asyik juga ya, makanya gue post beberapa video yg "wajib" ditonton sblm baca artikel-artikel yg gue post di blog ini:

Di LN :
Jonestown Massacre:
https://www.youtube.com/watch?v=jpWr45bKWpE

Aum Shinrikyo:
https://www.youtube.com/watch?v=kZ3prE4sG3E

Heaven's Gate:
https://www.youtube.com/watch?v=__Bsm4QI3z0

Manson's Girls:
https://www.youtube.com/watch?v=v0xYKV4fwr0

Di Indonesia:

Anti Islam:
https://www.youtube.com/watch?v=5lizJRwnDPQ

https://www.youtube.com/watch?v=3SsXjf4xADY

Selasa, 03 Februari 2015

Taman Bermain Akibat Ketidakindependensian

Independensi berasal dari kata independence yang artinya kemerdekaan atau tidak bergantung pada apapun atau siapapun. Ketika sesuatu tidak bergantung, berarti sesuatu tersebut tidak terhubung dengan sesuatu yg lain yang lebih dominan.

Antara pemerintah dan rakyat misalnya, dalam pemenuhan kewajiban dan haknya, independensi antara dua elemen ini harus terjaga. Artinya, hubungan antara keduanya harus mempunyai batasan yg jelas karena posisi pemerintah yg memang lebih dominan thdp rakyatnya dlm penyelanggaraan negara. Ketika rakyat berurusan dengan birokrasi didlm pemerintahan misalnya, batasan secara fisik dibuat dengan jelas, berupa loket kaca tempat rakyat mengantri atau utk cakupan yg lebih luas lagi, adanya jenjang terstruktur yg menghubungkan pemerintah dan rakyat seperti kecamatan dan kelurahan. Batasan yg jelas ini dibuat agar independensi antar dua elemen ini (rakyat dan pemerintah) bisa terjaga. Batasan seperti ini juga terjadi pada setiap intervensi antara rakyat thdp pemerintahnya dan tidak melulu fisik. Intervensi tsb hrs dijaga agar tidak ada hubungan yg dpt terjadi antara kedua elemen tersebut. Contohnya ketika rakyat memilih pemimpin yg akan memerintahnya. Kerahasiaan, kebebasan dan keumuman dari proses pemilihan dijaga, sehingga intervensi rakyat yg berupa pemilihan tersebut tdk menciptakan hubungan atau jalur antara rakyat dan pemerintah. Jalur tersebut terputus oleh kerahasiaan dan keumuman dari proses pemilihan.

Di jaman reformasi seharusnya independensi lebih terjaga krn posisi rakyat yg semakin kuat. Rakyat membutuhkan profesionalisme dlm andilnya menentukan kebijakan publik, dan profesionalisme cuma bisa terjadi apabila ada independensi antara rakyat dan pemerintahnya. Ini berarti kerahasiaan dan keumuman dlm proses yg melibatkan andil atau intervensi rakyat ke pemerintah harus terselenggara. Dlm memberikan komplain atau pengaduan yg sifatnya umum atau publikpun, hubungan tsb hrsnya diputus dengan kerahasiaan dan keumuman. Jangan sampai hanya krn teknologi, kita semua lupa utk menjaga independensi ini. Komplain melalui sms dan yg sejenisnya, atau komplain secara langsung bisa membuka peluang terbukanya hubungan yg tidak profesional antara rakyat dan pemerintah krn sms dan yg sejenisnya tdk menjaga prinsip kerahasiaan dan keumuman dr intervensi rakyat. Dulu hal ini dilakukan dg pos atau kotak pengaduan. Kerahasiaan pengirim melalui pos dan kotak pengaduan terjaga sehingga tdk dimungkinkan adanya hubungan atau kontak. Sms atau komplain secara langsung mengenai kebijakan publik pemerintah, tdk menjaga prinsip kerahasiaan ini. Bahkan kmdn bisa merusak prinsip keumuman. Gue pernah nonton acara tv seri luar negeri yg ceritanya berkisar mengenai cerita di kantor pemda mereka. Ada perempuan cantik yg komplain soal lahan kosong yg membahayakan utk warga setempat. Komplain tsb pun mendpt tanggapan dr pemda dan pada akhirnya terselenggaralah proyek taman utk lahan kosong tsb. Media massa kmdn mengapresiasi proyek tsb, begitu pula masyarakat sekitar. Yg menjadi ganjalan adlh kmdn di tv seri tersebut juga diperlihatkan bgmn hubungan yg tdk profesional terjadi antara pejabat pemda dan perempuan yg komplain tsb, shg mereka menjadi sahabat karib hanya krn si tukang komplain tsb hrs secara intens berurusan dg pemda soal kebijakan publik. Perempuan tersebut, yg juga berprofesi sbg perawat pun, akhirnya sering nongkrong di kantor pemda tsb bahkan mendpt obyekan disana. Apresiasi yg dia dpt membuat dia tdk malu lagi utk sering nempel di kantor tersebut. Dan ga hanya itu, pacar si perempuan yg pengangguran pun akhirnya dpt kerjaan di kantor pemda tersebut. Bahkan ketika keduanya putus, merekapun masing2 dapat pasangan dr kantor pemda tsb. Gue nontonnya lucu aja, soalnya memang tv seri komedi dan agak aneh bin ajaib ceritanya.

Gue ga tauk apa di Indonesia pernah terjadi yg seperti ini, hubungan personal antara rakyat dan pemerintah terjadi dg sangat intense nya akibat dibutakan oleh teknologi dan informasi, tapi kalau ya, maka ini sangat rentan terhadap penyimpangan. Ketidakprofesionalisme-an dpt dg mudah terjadi akibat adanya hubungan kontak-mengkontak antara rakyat dan pemerintahnya. Apalagi penyimpangan sistemik tsb malah mendpt apresiasi dari media dan tdk bisa tersentuh oleh lembaga pemberantas korupsi. Loh, yg pentingkan hasilnya? Hasil klo dilakukan dg cara yg ga benar dan ga sesuai malah mendorong perilaku KKN. Lubang ventilasi memang dibutuhkan, tapi kalau lubang tsb dpt menghubungkan lumbung padi dan dunia luar, sehingga tikus bisa masuk, mk lebih baik ditutup. Habis nanti stok pangan kita. Lebih buruk lagi, bisa-bisa calo proyek masuk utk mendikte dan mengintervensi kerjaan pemda. Akhirnya rakyat tertentu yg disokong kepentingan luar, bisa mengintervensi pemda dg kekuatannya. Rakyat tertentu tsb pun akhirnya bisa lbh dominan dr pemerintah dlm penyelenggaraan negara. Inilah liberalisme, sistem dituntut utk menghilangkan batasan yang ada sehingga terhubung deh rakyat dan pemerintahnya. Kemudian liberalisme ini membawa kapitalisme sehingga peran pemerintah dan rakyat dpt diplintir. Yang seharusnya pemerintah lebih dominan thdp rakyat dlm penyelenggaraan pemerintahan, ini malah rakyat tertentu bisa lebih dominan dr pemerintah akibat batasan yg hilang yg mereka manfaatkan. Diapresiasi pula oleh media yg menyangka lubang ventilasi di lumbung padi membawa angin segar, yaitu proyek baru. Lucunya, ketika gue bicara bahwa yg menghilangkan batas ini bisa menimbulkan KKN, gue malah dituduh punya pikiran "kotor" oleh, mungkin, yg membutuhkan angin segar ini. Lucu kan, seakan-akan ada manusia yg pikirannya bersih setiap saat shg kita tdk membutuhkan batasan lagi.

Seyogyanya pemerintah punya posisi yg lebih dominan dlm penyelenggaraan pemerintahan, krn jabatan yg diembankan ke mereka. Jabatan mempunyai tanggung jwb dan hrs bisa dipertanggung jawabkan. Klo sebagian dari rakyat yg secara struktural tdk terkait dg pemerintahan bisa lbh dominan dg membawa kepentingannya atau kepentingan lain, inilah yg namanya liberal. Jadi kata siapa treatment yg cenderung personal tdk liberal, justru treatment yg personal dan istimewa (personal berarti tdk profesional) akan menunjukkan sifat liberal krn menghilangkan batasan "profesional" yg ada.

Liberalisme memang dg mudah terjadi akibat tidak adanya batasan sehingga segala sesuatu bisa terhubung. Ini berarti liberalisme bisa menciptakan ketidakindependesian krn satu dan yg lain saling terhubung. Padahal, ketidakindependensian adalah ketergantungan yg adiktif yang bisa membodohkan. Bodoh? Ya, krn kita bergantung pada hal yg lain yg lebih dominan sehingga kita selalu membutuhkan pengayoman. Yg selalu diayomi adalah bodoh krn tdk memiliki kemampuan yg membuktikan dirinya independen.

tambahan:  batasan yg biasanya mereka hilangkan adalah batasan fisik, sehingga hal hal yg termaterialisasi bisa langsung terhubung  dg persepsi . Ini artinya mereka menciptakan ketergantungan pd hal yg termaterialisasi. Bahayanya adlh ketika yg termaterialisasi ini bukan hanya hal-hal yg fisikal tapi juga yg non fisikal seperti konsep, filosopi, idealisme, keyakinan dsb.  Akan lebih mudah  menerima suatu konsep atau filosopi dsb, yg termaterialisasi ketika batasan sdh tdk ada lagi, krn secara intrinsik manusia membutuhkan batasan shg pada akhirnya konsep dsbnya tersebut malah menjadi batasan baru. Yg artinya pula, orang lebih rentan thdp manipulasi ketika batasan sdh tdk ada lagi. Misalnya saja konsep bhw suatu agama adlh buruk yg kemudian termaterialisasi oleh tindak terorisme. Ketergantungan akan konsep tersebut akan menjadi dominan apabila memang batasan fisik sdh tdk ada. Karena mereka menganggap hanya konsep tsb yg bisa membatasi mereka dg eksistensi agama tsb. Contohnya lagi konsep mengenai orang jahat berasal dari ras atau ciri2 tertentu, seorang perempuan yg meyakini konsep tsb krn konsep tsb termaterialisasi oleh pengalaman dirinya, akan menggunakan konsep tsb ketika dirinya pulang malam. Tidak apa-apa pulang malam asal jauh jauh dengan tipe tipe orang dr ras atau ciri ttt. Ini sama saja dg menasehati anak gadis bahwa tdk apa-apa pacaran sampai malam asal dengan pria baik-baik(yg terlihat baik dan dpt dipercaya 100%). Ditangan liberalis hal-hal seperti ini bisa menjadi ekstrem karena mereka bisa berayun(seperti ayunan)lbh jauh lagi dan menjadi sangat judgemental. Atas stereotype ttt mereka bisa jadi sangat restrictive, sangat sensitive dan sangat concern bahkan judgemental pada hal yg sifatnya personal dan privacy. Sementara utk stereotype yg lain mereka bisa sangat bebas lepas, tdk peduli apa yg mereka lakukan baik yg sifatnya publik atau personal, semua akan terlihat baik. Stereotyping adalah produk dari subconscious mind yg terbina dlm perjalanan hidup seseorang.Ketika seseorang bingung akan pijakan dia, maka dia akan menggunakan pengalaman hidupnya sbg pijakan termasuk stereotyping.

Lewat mekanisme yg namanya liberalisme, kebodohan bisa dipupuk secara kreatif. Liberalisme tdk mempunyai dasar dan batasan yg jelas, sehingga utk negara seperti Indonesia yg punya dasar negara Pancasila dan batasan yg berupa UUD, liberalisme bisa menggerogoti dari dalam dasar negara kita. Dengan liberalisme akan ada orang-orang yang berlindung dibalik Pancasila, tapi mereka juga tdk mau menjaga dan menghormati Pancasila. Akan ada orang-orang yg bisa secara kreatif ada di dua titik berbeda secara bersamaan. Kota-kota besar sangat rentan terhadap liberalisme karena dinamismenya bisa menciptakan kreativitas tersebut. Ketika gue googling di internet, gue pernah baca perdebatan seru soal patung, yg mempertontonkan bagian tubuh manusia yg seharusnya ditutup, yg dipajang di tempat umum. Patung tersebut akhirnya dicopot dan tdk dipertontonkan lagi, tapi yg menarik adlh komen-komen liberal yg mendukung patung tsb. Sekali lagi yg liberal ini menuduh yg mencopot patung tersebut punya pikiran "kotor" thdp patung tsb, seakan-akan dia mengasumsikan bhw setiap manusia bisa setiap saat punya pikiran yg bersih 100% shg hal-hal yg "kotor" bisa dipertontonkan tanpa takut pengaruhnya pd manusia yg melihatnya. Secara pribadi gue ga mendukung patung tersebut karena ga sesuai dengan sila 1 Pancasila. Patung sebagai sebuah karya seni yg originalitas ide dan inspirasinya adalah manusia, harusnya menghargai pencipta dari sumber inspirasinya tersebut. Dan krn republik ini berdasarkan Pancasila, maka pencipta manusia adalah Tuhan YME. Lagipula adalah common sense kalau ketika kita menjiplak atau mengkutip karya orang lain maka kita menghargai orang lain tersebut dg mencantumkan namanya. Apalagi klo kita berurusan dg penjiplakan karya Tuhan YME, sudah sepatutnya kita menghargaiNya dengan mengikuti aturanNya. Dan krn patungnya adlh patung publik, maka mayoritas hampir semua agama di masyarakat tdk memperbolehkan bagian manusia tsb dipertontonkan shg kita hrs menghargai hal tersebut. Jadi bukan karena pikiran "kotor", tapi karena di setiap agama tidak ada yg mengasumsikan manusia bisa setiap saat 100% bersih pikirannya. Manusia bukanlah robot. 

Ketika orang berpikir secara liberal, mereka cenderung menghilangkan batasan yg ada dan dengan sengaja menghubungkan segala sesuatu (termasuk melalui indra seperti penglihatan) yg tdk seharusnya terhubung (terlihat). Penghilangan batasan yg akhirnya membuat mereka tidak independen ini krn mereka mengasumsikan bahwa setiap manusia bisa dipercaya sbg hal yg super bersih. Makanya yg liberal dan tidakindependen ini bisa dg gampangnya percaya 100% ketika ada orang yg ngomong  atau sesumbar "Gue anti korupsi atau gue ga suka korupsi" tanpa adanya sumpah atau legalitas lainnya. Padahal omongan atau sesumbar dr seseorang tanpa legalitas, secara rasional, tdk bisa dijadikan dasar penilaian atau dasar tindakan. Dasar penilaian yg cuma berdasarkan omongan orang tentang "kesukaan seseorang" adlh dasar penilaian yg sangat emosional, seperti orang yg lagi jatuh cinta, percaya aja apa kata pasangannya. Atau seperti ketika kita mengidolakan sesuatu krn eksistensi dia, kita kemudian percaya aja apa yg dia omongin. Yang emosional seperti ini mudah utk dimanfaatkan atau diperdaya sehingga mereka bisa bermain sekaligus juga dipermainkan (ada di dua titik secara bersamaan). Contohnya ya seperti cerita komedi tv diatas, si perempuan cantik tsb bisa berada di dua tempat secara bersamaan, sbg rakyat dan juga sbg bagian dari pemerintah.

Ketika orang berpijak pada liberalisme, asumsi justru bisa menghilangkan batasan. Liberal berarti bisa bergerak secara dinamis sesuai dg dinamika kehidupan. Mereka lebih suka berlari dlm menghadapi kehidupan. Makanya mereka tdk suka melihat sebuah masalah, ketika ada masalah, mereka akan mencari opsi atau solusi yg tercepat dan termudah. Dinamika kehidupan pun ditangkap sebagai sebuah persepsi yang bisa dijadikan dasar oleh seseorang (sebagai common ground). Jadi, ketika seseorang tdk suka korupsi misalnya, dia tdk suka korupsi krn koruptor membuat dirinya dan orang banyak miskin dan sulit (korupsi membuat keterkaitan yg emosional pd dirinya) sesuai dg realitas kehidupan yg dia persepsikan. Akhirnya dia berasumsi bhw dirinya bersih pikirannya dr korupsi hanya krn dia membenci secara emosional korupsi yg demikian (yg membuat org miskin dan kesulitan). Padahal korupsi adlh sebuah tindakan pelanggaran, dan asumsi yg meyakini diri kita bersih hanya bisa didpt ketika semua tindakan korupsi sdh ditindak. Ketika semua tindakan korupsi sudah ditindak dan kita tdk termasuk yg ditindak barulah kita bisa yakin bahwa diri kita bersih. Jadi bknnya diri kita bersih hanya krn membenci korupsi tanpa adanya bukti. Asumsi bersih yg dibuat berdasarkan persepsi emosional seperti inilah yg bisa menghilangkan batasan. So, it works like this, orang mengasumsikan bhw dirinya bersih pikirannya dari korupsi, dia kemudian bisa mereferensikan dirinya sbg dasar pijakan(=batasan) dalam bertindak memberantas korupsi. Dia mempercayai dirinya sbg salah satu perwujudan anti korupsi. Di dlm lingkungan, orang tsb kemudian memproyeksikan dirinya setiap kali dia berhadapan dg orang lain. Seperti cermin, dia melihat sosok dirinya, yg menurut dia bersih, setiap kali dia melihat orang lain. Ketika orang lain berteriak "Saya tdk suka korupsi", dan orang tsb eksistensinya sama atau lebih dari dirinya, dia pun merefer kpd dirinya sendiri yg juga "tdk suka korupsi" shg dia meyakini orang lain tsb sbg hal yg benar sama seperti dirinya. Akhirnya batasan penilaian akan hal yg benar dan bersih adlh dirinya dan orang lain tsb yg eksis sbg hal yg anti dan benci korupsi, dan bkn krn penegakan aturan hukum yg berlaku. Dirinya dan orang lain tsb adlh substitusi dr aturan hkm yg berlaku dlm hal pemberantasan korupsi, shg selama euforia eksistensi gerakan tdk suka korupsi ini ada, mereka yakin bhw korupsi tdk akan ada (bahkan bisa menghilangkan kebutuhan utk penegakan hkm thdp koruptor). Bahkan saking yakinnya bhw diri mereka bersih, ketika ada yg mau melubangi sistem (dg membuat hubungan yg tdk berbatas dan langsung) mereka tidak mempermasalahkannya. Loh kan orang-orangnya sudah pada ga suka korupsi, so its okay utk membuka batasan dan membuat lubang-lubang yg menghubungkan entitas yg ada, begitu katanya. Disini terlihat bhw orang yg berpijak pd hal yg emosional sangat rentan thdp paham liberalisme.

Lebih jauh lagi, "tdk suka korupsi" ini berdasarkan common ground "bisa memiskinkan dan menyulitkan" dan bukan krn korupsi sbg sebuah pelanggaran hukum. Common ground (penyebab) inilah yg kmdn lebih mempersatukan mereka (krn terkait secara emosional).  Merekapun terhubung melalui common ground ini, sebuah dinamika realitas kehidupan yg sama yaitu "membenci hal yg memiskinkan dan menyulitkan". Krn adanya ikatan emosional inilah, "Tdk suka korupsi" kmdn akhirnya cuma sbg jargon dan kendaraan saja,  karena dinamika hidup yg sama -lah yg lebih punya andil dan menghubungkan mereka, serta keyakinan pada diri mereka bhw diri mereka adlh benar (krn sama-sama "tdk suka" korupsi dan bkn krn sama-sama berusaha menjunjung tinggi penegakkan hukum). Common ground akibat realitas kehidupan seperti inilah yg kmdn memunculkan orang-orang yg bisa ada di dua titik secara bersamaan (tdk suka korupsi tapi terkadang bisa menjadi fasilitator terciptanya korupsi). Ketika ada orang yg "suka korupsi" merekapun menghakimi orang tsb dg aturan yg longgar, krn dinamika kehidupan (common ground) memberikan kelonggaran tsb. Dimana cuma orang tertentu aja yg ditindak krn korupsi, tapi sebagian lagi lepas bebas krn korupsi tersebut  "tdk memiskinkan dan mempersulit" mereka. Ketika dinamika kehidupan menuntut mereka menerabas batasan yg ada bhkn melakukan pelanggaran, persepsi mereka masih meyakini bhw mereka benar, shg mereka malah terjerat lebih jauh lagi dlm menciptakan dinamika dan persepsi yg membenarkan diri mereka (dg menghilangkan batasan tentunya). Ketergantungan pada dinamika dan persepsi yg membenarkan diri mereka seperti inilah (yg cuma bener secara emosional doang, bhw mereka benci hal yg dilarang dan suka hal yg baik) yang menciptakan ketidakindependensian.

Suka dan tidak suka adalah sebuah ekspresi emosional saja dan bukan sebuah keputusan hidup yg bisa ditindaklanjuti. Suka dan tidak suka terkadang cuma hal yg spontan yg tdk membutuhkan sebuah proses seperti yg terjadi pd proses mengambil keputusan. Suka dan tidak suka bknlah hal yg penting, bukan hal yg bisa diyakini, krn gampang sekali berubahnya (gue sbg perempuan mengerti banget soal beginian, perempuan secara kodrat tdk punya kewajiban memanggul tanggung jwb keluarga seperti yg terjadi pd kaum lelaki, sehingga yg namanya keseriusan dlm pengambilan keputusan dan aksi/tindakan biasanya ditunggu sampai segala sesuatunya jelas. Makanya yg namanya cewek tuh terkadang banyak kesenangannya, suka ini suka itu tanpa hrs terbebani, mereka tdk beraksi yang serius menghadapi hal yg suka-suka ini, tapi sebenarnya mereka ngerti kapan hrs serius dan bertindak, yaitu ketika segala sesuatu sdh jelas. Mungkin ada juga perempuan yg hrs selalu serius all the time shg hal yg ga jelas pun harus diperjelas dan dihadapi, mau aja disuruh melakukan sesuatu utk hal-hal yg ga jelas, tapi biasanya hal tsb krn keterpaksaan akibat sesuatu hal atau ada yg salah dg figur seorang bapak/suami dikeluarganya...heh jadi ngelantur deh, tapi ini penting, soalnya banyak perempuan yg senseless kayak gini dipakai dan dimanipulasi utk "menyerang" perempuan yg sense kodratinya msh ada. Mereka berpikir secara terbalik dan sdh termanipulasi. Menurut mereka yg suka-suka adlh hal yg serius dan membutuhkan proses, sedangkan tindakan/aksi serta pengambilan keputusan adalah hal yg bisa dilakukan ketika ada orang lain yg "menyuruhnya". Yg dimanipulasi ini sebenarnya juga adlh korban, korban negligance shg dia jadi sangat independen thdp keluarganya, walaupun kmdn dia tetap saja membutuhkan sosok yg bisa dia percayai shg dia cari sosok tersebut ke luar. Sosok yg dia percayai tsb dia anggap sbg sponsor utk dirinya, shg semua tindakan dan pengambilan keputusan dilakukan sesuai perintah sponsor tsb, yg artinya tindakan dan pengambilan keputusan adalah hal yg tanpa proses dan tdk jelas krn berasal dr sosok sponsor yg ga jelas dan tdk diakui. Mereka pun dipakai dan dimanipulasi utk "ngerjain dan menjahili" perempuan lain dg melakukan aksi utk hal yg ga jelas, seperti hal suka dan tidak suka, shg hal yg ga jelas tsb menjadi penting krn menjadi masalah baru utk perempuan lain tsb. Untuk mereka, tindakan dan aksi "ngerjain dan menjahili" tsb adalah tindakan pembenaran/counteract atas kebutuhan mereka akan sosok sponsor tsb. Ketidakseriusan mereka dalam pengambilan keputusan atas aksi/tindakan (yg mengandalkan sponsor) dicounteract dg menganggap hal yg emosional (suka dan tdk suka) sbg hal yg serius. Gue mungkin akan cerita lebih lanjut mengenai ini diposting yg lain). Banyak orang, yg cenderung emosional, yg meyakini bahwa suka dan tidak suka adlh sebuah keputusan yg sdh jelas juntrungannya shg bisa ditindaklanjuti dg aksi. Aksi yg berdasarkan hal yg indecisive seperti ini akan menciptakan kebingungan dan masalah baru, aksi yg tdk bisa dipertanggung jawabkan karena implikasinya thdp seorang individu adlh individu tsb akan bisa membuka batasan yg ada dg keseriusannya atas hal suka dan tidak suka tsb. Kalau pakai cerita di mall seperti pada artikel yg gue posting sblmnya, maka ketika seseorang "suka" akan suatu barang di mall maka dia akan berani melakukan aksi apapun yg serius utk mendapatkan barang tsb hanya krn dia berpikir bhw sebagai pengunjung mall dia mempunyai hak utk bisa membeli barang tsb( dia berasumsi bhw pemenuhan kebutuhan 100% bisa terpenuhi). Atau ketika ada orang lain menyukai atau tidak menyukai suatu barang di mall, maka dia bisa melakukan aksi yg serius untuk mempengaruhi orang lain tsb agar orang lain tersebut membeli atau tdk membeli barang tsb atau sekedar mengubah preferensi orang lain tsb hanya krn dia merasa dia punya kewajiban utk "meluruskan" orang lain tsb (dia berasumsi bahwa orang lain bisa 100% lurus). Disini terlihat bhw manipulasi yg terjadi memfokuskan pd hak yg menyangkut dirinya dan kewajiban yg menyangkut orang lain dan asumsi keidealan yg 100%.

Ketidakindependensian mengurangi kebutuhan kita untuk memiliki kemampuan yg produktif. Ketika seseorang tidak independen, tanpa kemampuan yg cukup pun orang tsb bisa terlihat "produktif" krn kemampuan yg cukup tsb sudah terbagi-bagi secara modular pada setiap orang yg terkoneksi. Setiap orang hanya bisa melakukan satu modul kemampuan saja, shg produktivitas dia sangat bergantung pada modul yg lainnya. Produktif yg seperti ini terlihat seperti fatamorgana, kayaknya hasil kemajuannya ada didpn mata padahal kenyatannya kemampuan minim atau ga ada. So, kemampuan secara utuh sebenarnya sdh tdk ada lagi ketika seseorang tdk independen. But thats fine right? As long as everyone is happy. Modular tdk sama dg spesialisasi, krn spesialisasi biasanya bisa memenuhi satu kebutuhan secara utuh sdgkn modular tdk. Ketika kemudian yg modular ini bisa terselenggara dlm satu tempat maka semuanya baik-baik saja, tapi ketika ada salah satunya hilang (missing link) mk segala sesuatunya bisa berhenti berjalan.

Dari ketidakindependensian akibat liberalisme terlihat hal yg bertolak blkg. Bgmn yg saling bergantung dan terkoneksi satu sama lain (membentuk kesatuan) justru malah terpecah didalamnya (menjadi modular). Bgmn yg disebut produktif justru malah menghancurkan produktivitas  itu sendiri dr dalam krn kemampuan yg tdk utuh. Ketika yg seperti ini dihadapi secara emosional, maka yg tidak indepeden ini akan selalu bergantung pada realitas dan dinamika yg memberikan pembenaran(perasaan benar) atas ketidakindependensian tersebut, yaitu realitas yg tampak diluar saja. Ketika yg ditampilkan hanya yg tampak diluar saja maka sdh terjadi pembodohan. Dari sini bisa ditarik kesimpulan bhw liberalisme bergerak secara beriringan dg pembodohan.

Pembodohan yg terjadi ketika kemampuan secara utuh tdk ada kmdn menciptakan kompetisi yg tidak sehat. Pembodohan yg seperti ini menghasilkan orang-orang yg emosional yg selalu membutuhkan orang lain untuk "diambil" manfaatnya atau utk dimanfaatkan dan mengeliminasi orang lain yg tdk bermanfaat. Jadi sebenarnya yg tidak independen ini, mereka selalu butuh berurusan dg orang lain dimana dlm berurusan tsb "otak kriminal" mereka diasah bahkan tanpa mereka sadari. Mereka tdk menyadari bhw usaha yg selama ini mereka lakukan secara tdk profesional (secara personal), kmdn menggerogoti kemampuan mereka dan juga hak mereka. Ketidakprofesionalan akibat dualitas mereka (ketika mereka berada pada dua titik secara bersamaan) membingungkan persepsi mereka akan apa yg menjadi hak mereka ketika hak tsb sebenarnya adalah sebuah konsep yg berlaku hanya ketika seseorang independen thdp yg lainnya. Dan karena aset kita adlh salah satu hak kita, maka ketika kita tdk independen, kemampuan mengelola dan mengolah aset akan terbengkalai. Apalagi ketika aset kemudian diproyeksikan dan ditransform sebagai sebuah liabilites(kewajiban) shg menjadi beban tanggungan yg besar, maka akan semakin sulit utk mengelolanya bahkan lupa utk mengelolanya krn sibuk berkejaran dg pemenuhan liabilities tsb. SDM misalnya ditransform menjadi entitas yg hrs menghasilkan upah yg tinggi, aset tanah dan bangunan ditransform menjadi objek pajak yg tinggi, aset bergerak ditransform menjadi objek pinjaman yg hrs dibayar secara regular, negara ditransform menjadi entitas yg tergantung pada utang dan inflasi.

Satu hal lagi mengenai ketidakindependensian: akibat pergerakan yg tdk mempunyai batasan, mereka menjadi lebih aktif dan fleksibel. Keaktifan mereka membuat mereka menjadi pemain. Para pemain yg terbentuk akibat ketidakindependensian ini terhubung dengan entitas yg lebih dominan dengan berbagai jaminan (jaminan adlh suatu mekanisme yg mengikat satu entitas dg entitas lainnya atas suatu hal yg digadaikan yg bisa terkuantifikasi). Akibat dari jaminan yg diberikan kepada para pemain ini, maka kmdn mereka akan menjadi sangat positif. Mereka percaya bhw jaminan tsb membuat mereka akan selalu tercover (tdk merugi). Kepositifan ini membuat mereka semakin aktif lagi. Mereka pun akhirnya bisa bermain thdp entitas lain diluar dirinya. Bermain dg menjaminkan(mengkuantifikasi) entitas lain selain dirinya, sehingga membuat entitas lain tsb "terjaminkan"(baca:tergadaikan dan terkuantifikasi). Penjaminan selalu mencakup rentang waktu kedepan (masa depan). So basically, para pemain ini sdh menggadaikan keyakinan mereka ketika "Demi masa" mereka percayakan pada entitas lain, entitas yg memberikan mereka jaminan dan yg membuat mereka menjadi orang-orang yg "tdk merugi".

__________




tambahan: Mengenai perempuan yg sdh gue bahas diatas, gue ingin menambahkan sedikit lagi. Nilai tambah seorang perempuan dibanding laki-laki dalam berkehidupan bermasyarakat yg selama ini diyakini masyarakat adlh naluri keibuan mereka yg menghindari sesuatu yg remang-remang dan ga jelas. Hal ini juga didukung dg kenyataan bhw laki2 secara fisik lebih perkasa dibanding perempuan, selain juga laki2 lebih memakai nalar sdgkn perempuan memakai naluri. Makanya masyarakat menganggap perempuan bisa dipercaya dan tdk macam-macam ketika mengemban tugas. Ketika nilai tambah ini hilang (naluri keibuan utk menghindari hal yg ga jelas hilang meninggalkan naluri yg lainnya), padahal kenyataannya perempuan msh kalah secara fisik dan naluri lebih digunakan drpd nalar (bkn krn nalar mereka kurang dibanding laki2, tp krn mereka lebih prefer thdp naluri), kekurangan ini bisa terisi oleh pihak-pihak luar yg ingin memanfaatkan perempuan dg penjaminan yg mereka berikan. Jadi jangan heran klo kmdn perempuan bisa membawa masuk pihak-pihak tdk berkepentingan kedalam ruang keberadaan mereka.

Tambahan lagi, ketika seseorang bisa berada di dua titik sekaligus, suatu paradoks terjadi lagi. Berada di dua titik sekaligus membuat mereka merasa "tauk" segala hal di dua titik tersebut, shg seakan-akan mereka lebih "conscious" akan segala hal diluar dirinya, tapi krn berada di dua titik menyalahi konsep consciousness didalam dirinya sendiri, orang tsb tidak akan cukup "conscious" utk menguasai dirinya sendiri. Tingkat kesadaran akan dirinya hilang berganti dg kesadaran akan segala eksistensi diluar dirinya. Dari sini, hal-hal yg hidup termaterialisasi. Sebenarnya mengetahui sesuatu hal tanpa berada di titik tsb dimungkinkan melalui observasi dan analisa yg tajam, jadi tdk perlu dg berada di dua titik sekaligus.
Paradoks yg sama terjadi pula ketika seseorang terikat pada penjaminan masa depannya. Keterikatan dia pada entitas yg melebihi dirinya membuat dia mempunyai kendali lebih atas segala sesuatu hal diluar dirinya, tapi bersamaan dg hal tsb dia pun hrs menenggelamkan dirinya dibawah bayang-bayang kekuasaan entitas yg melibihi dirinya tsb. Ini berarti dia kehilangan kendali atas dirinya demi mendapatkan kendali atas hal yg lain.


Selasa, 30 September 2014

Alkalosis dan Acidosis

Tanpa kita sadari, tubuh kita mempunyai mekanisme untuk menjaga keseimbangan tingkat keasaman (pH) tubuh. pH merupakan singkatan dari potential Hydrogen adalah ukuran konsentrasi dari ion hydrogen pada suatu cairan. Apabila ukuran pH tersebut ada dibawah 7.0 maka disebut asam (kelebihan ion hydrogen) dan apabila diatas 7.0 maka disebut basa (kekurangan ion hydrogen). Tubuh kita mempunyai jangkauan pH normal pada 7.35 sampai 7.45 (sedikit basa). pH darah yg berada diluar jangkauan tersebut menandakan tubuh kita mempunyai masalah dan tubuh tidak bisa berfungsi secara normal.

Alkalosis adalah kondisi dimana tubuh mempunyai pH diatas normal (basa). Ketika tubuh kita mendeteksi kondisi seperti ini, maka tubuh akan secara otomatis berusaha mengurangi kebasa-an tubuh misalnya dg melambatkan pernapasan. Alkalosis bisa disebabkan oleh muntah yg terus menerus, dehidrasi, hyperventilasi (nafas cepat), kekurangan oksigen (misalnya seperti berada pd dataran tinggi), konsumsi dieuretics yg berlebihan dan penyebab lainnya yg bisa menghilangkan ion hydrogen di dlm tubuh. Gejala dari alkalosis adalah kram otot, otot menjadi capek dan lemah, tremor (jari tangan bergetar sendiri), konstipasi (usus besar melambat kerjanya). Pada kondisi ini, tingkat kalsium dan potassium dalam darah menjadi rendah sehingga konsumsi makanan yg mengandung dua zat tersebut sangat diperlukan.

Acidosis adalah kondisi dimana tubuh mempunyai pH dibawah normal (asam). Ketika tubuh mendeteksi kondisi seperti ini maka tubuh akan mengkompensasinya dengan mempercepat pernapasan. Acidosis bisa disebabkan karena adanya penyakit seperti kanker atau gagal ginjal. Konsumsi suplemen yg mengandung bicarbonate biasanya digunakan utk menormalkan kondisi ini, selain mengobati penyebabnya.

Di zaman modern seperti sekarang, kebiasaan kita tentunya juga bisa berpengaruh pada tingkat pH didalam tubuh. Gue sering denger klo kebiasaan makan makanan yg tdk sehat seperti junk food bisa menyebabkan pH tubuh menjadi lebih asam. Tapi yg gue ingin tauk juga adalah bgmn pengaruh radiasi elektromagnetik yg sering kita terima dr peralatan canggih yg kita punya, apakah bisa menyebabkan tubuh kita menjadi lebih basa atau lebih asam? Lalu bgmn dg radiasi matahari?

Jumat, 12 September 2014

Efek Transisional


Perubahan memang selalu terjadi seiring dengan waktu. Terkadang perubahan sifatnya natural sehingga memakan waktu yang lama dan proses perubahan yang perlahan, tapi terkadang pula bersifat tidak natural sehingga memotong proses dan waktu yang dibutuhkan menjadi sangat cepat bahkan untuk perubahan yang cukup besar. Penemuan-penemuan baru yang dihasilkan manusia sedikit banyak menghasilkan perubahan yang tidak natural. Penemuan-penemuan tersebut pada umumnya mendatangkan manfaat yang besar untuk manusia tetapi kompleksitas dari dampak yang ditimbulkan terkadang tidak bisa terukur sehingga manfaat tersebut bisa berbalik arah menjadi merugikan. Ketika manusia kemudian menjadi tamak dan dengan keidealannya ingin mendapat manfaat yang sebanyak-banyaknya, dampak yang tidak terukur tersebut akan menjadi bumerang seiring dengan waktu dan proses perubahan yang dihasilkannya. Makanya dampak pengrusakan (yang kita kenal juga dengan perubahan) ini pula berlangsung melalui proses yang lama dan perlahan.

Dampak yang terjadi bukan hanya dampak lingkungan tapi juga dampak pada manusianya itu sendiri. Hal ini karena pada umumnya orang tidak mau mengerti bagaimana penemuan tersebut bisa terjadi, mereka hanya mau mengerti eksistensi dari penemuan tersebut dan manfaatnya saja karena hal tersebut adalah yang paling mudah. Dulu ketika sebuah penemuan baru hanya  sebatas wacana yang berkumandang mungkin sebagian orang akan menertawakannya atau menihilkannya karena mereka sulit mempercayai sesuatu yang tidak eksis (tidak tertangkap oleh indra mereka). Mereka menertawakan hal yg tidak eksis tersebut krn cara pandang mereka bahwa eksistensi lebih penting dari pengetahuan (meremehkan pengetahuan). Seperti misalnya penemu yang menginginkan manusia bisa terbang, orang-orang di zaman dimana belum ada pesawat terbang mungkin menganggap keinginan tersebut sebagai mimpi yang aneh dan lucu, bahkan mungkin mentertawakan eksperimen yang dilakukan penemu tersebut. Tetapi, penemu yang mengerti bagaimana bisa mewujudkan keinginan tersebut, menggunakan ilmu pengetahuan yang dia miliki, pada akhirnya bisa mewujudkannya. Penemu melihat keinginan tersebut bukan sebagai mimpi tapi kalkulasi dari ilmu yang dimiliki. Penemu mewujudkan hal yang tidak ada menjadi ada melalui proses panjang menyerap ilmu pengetahuan yang ada. Bagi sebagian besar orang, secara intrinsik, mereka akan menolak sesuatu yang tidak eksis (makanya sebagian besar orang mengejar eksistensi mereka didunia). Sekarang di zaman modern, sifat kebanyakan orang yg dulunya menertawakan penemu dan "impian"nya, mengalami perubahan akibat gempuran eksistensi dari hal yg sebelumnya tidak eksis (hal yg dianggap impian). Di zaman ini, gempuran atas hal yg awalnya impossible untuk eksis lalu kmdn menjadi eksis, membentuk kebanyakan orang utk dg mudah mempercayai sesuatu yg dianggap impian atau impossible. Kita percaya manusia bisa terbang hanya karena kita melihat manusia bisa terbang dengan pesawat, walaupun alam bawah sadar kita masih meyakini hal tsb impossible atau tdk sesuai nalar. Kita dengan mudah mempercayai sesuatu (yg sebelumnya tidak ada atau dianggap impossible) hanya karena eksistensinya atau keberadaannya dan mengeliminasi proses panjang yang dibutuhkan. Seiring dengan waktu dan banyaknya penemuan yang membuka mata kita, kita pun kemudian dengan mudahnya mempercayai sesuatu yang belum ada seperti impian, perencanaan, ramalan, harapan, ideal karena kita tauk manusia bisa mewujudkannya, karena ada orang-orang yang bisa mewujudkannya. Dengan kata lain kita mempercayai sesuatu karena adanya kemungkinan akan ada yang mewujudkan eksistensinya didunia ini. Kita sudah terlalu banyak melihat hal yang impossible menjadi possible di zaman modern ini dengan sangat mudahnya, sehingga kita menganggap kemungkinan terwujudnya impian tersebut adalah keniscayaan. Kita pun menganggap sesuatu yang ideal, perencanaan, ramalan, impian, harapan dari manusianya akan bisa selalu terwujud (bisa mendapat kepastian). Pengalaman hidup kemudian membuktikan banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi. Pengalaman ini kemudian menjadi lebih benar daripada ilmu, nilai dan norma yang dimiliki. Ketika pengalaman lebih berat proporsinya dari ilmu pengetahuan maka orang di zaman modern akan cenderung membuka keran kemungkinan sebesar-besarnya. Kemungkinan yang belum terjadi inilah yang dinamakan peluang atau kesempatan. Bahkan ketika ada yang bisa memastikan kemungkinan akan hal yang belum terjadi, maka jaminan kepastian tersebut akan terjual laris manis ditengah kurangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki. Kesadaran akan adanya gap pengetahuan hilang akibat euforia manfaat yang sebanyak-banyaknya yang dihasilkan oleh perubahan dan penemuan yang baru. Bahkan euforia terkadang menghilangkan kebutuhan akan ilmu pengetahuan itu sendiri dan menggantinya dengan informasi. Misalnya saja, seorang penemu menciptakan robot yang bisa masak. Orang lain bisa menciptakan robot yang sama ketika dia mendapatkan informasi mengenai rancang bangun dari robot tersebut beserta program yang dibutuhkannya tanpa perlu mengerti proses awal menterjemahkan bahasa logic ke mesin/sirkuit dan mesin ke bahasa expression. Dia hanya perlu informasi daripada ilmu pengetahuan yang mendasarinya untuk terlihat hebat. Karena informasi seperti ini terbatas maka yang terbatas ini bisa dijual dan sesuatu yang bisa dijual adalah peluang. Inilah peluang yang menjual kalkulasi dan usaha para penemu.

Yang kemudian menjadi permasalahan adalah ketika dengan mudahnya orang beramai-ramai menjanjikan sesuatu yang mereka sendiri ga bisa pegang dan bahkan terkadang diluar domainnya. Bukan hanya itu, orang-orang yang sebenarnya hanya bisa mempercayai sesuatu karena eksistensinya (akibat pengetahuannya belum mature) sekarang mulai bisa bermimpi hanya karena ada orang lain yang mereka percayai, bisa memasok impian (terkadang berupa ramalan, perencanaan, harapan, visi-misi, ideal) tersebut. Impian, ramalan, perencanaan, harapan, ideal dan visi-misi adalah hal yang belum dimiliki oleh seseorang, sehingga yang diawang-awang (tidak jelas) tersebut tidak lain adalah sebuah titik lemah yang intrinsik dari orang-orang yang hanya mempercayai eksistensi. Titik kelemahan orang yg sangat mempercayai eksistensi adalah hal yg tdk eksis (hal yg mereka tdk percayai). Tapi titik kelemahan tsb sekarang malah diekspos sebagai pijakan tindakan (titik kekuatan) bagi mereka yang menerima(membeli) peluang jaminan kepastian akan hal yg ga eksis seperti  perencanaan dan impian. Gue ga akan analisa lebih lanjut akibat apa yang bisa ditimbulkan ketika modal awal kita berupa peluang mengejar mimpi dan keidealan melalui informasi yang seperti ini, tapi menurut pendapat dan logika gue hal ini bisa sangat destructive. Ini adalah paradoks ketika orang yang sangat mempercayai eksistensi, kemudian mengejar eksistensi mereka dengan membeli/menggunakan sesuatu yang tidak eksis seperti impian, perencanaan dsb. Jadi antara ada dan tiada. Paradoks seperti ini kompleksitasnya sangat tinggi dan diluar nalar gue untuk menjelaskan akibatnya. It's a twilight zone.

Ada banyak sekali derivatif peluang yang berasal dari eksploitasi sifat intrinsik manusia yang hanya mempercayai eksistensi atau keberadaan dari sesuatu. Perlu ditegaskan kalau sifat intrinsik adalah hal yang ada baik itu disadari atau tidak disadari. Salah satu derivatif tersebut adalah seperti yang sudah dijelaskan diatas yaitu dengan menciptakan peluang melalui impian (terkadang berupa ramalan, perencanaan, harapan, visi, ideal) tersebut. Derivatif ini kemudian dapat menciptakan derivatif baru misalnya dengan peluang melakukan markup (menilai tinggi) pada kondisi yang tidak dapat terkuantifikasi atau kondisi dengan ketidakjelasan tinggi sehingga penilaiannya bisa menguntungkan sebagian orang. Segala sesuatu akan berusaha utk dikuantifikasi (dinilai), agar bisa dimarkup. Lebih parahnya lagi, untuk kondisi yang sebenarnya jelas dasarnya (terkuantifikasi) pun dapat dibuat ga jelas agar bisa dimarkup. Kondisi seperti ini sangat mudah digenerate dan diterima pada situasi paradoks seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Pada kondisi seperti ini dimungkinkan nilai yang tinggi tanpa adanya leverage, tetapi akan sangat sulit dan malah menjadi anomali. Kesulitan inilah yang membuat apa-apa yang dinilai tinggi menjadi sangat mencolok mata dan membuat orang tidak sadar akan dasar penilaian yang ada. Contohnya nilai-nilai (values) yang ada dimasyarakat ketika pengalaman hidup yang terkuantifikasilah yang dijadikan dasar penilaian dimasyarakat. Disini sebagian orang akan mempromosikan orang lain yang sudah mendapat leverage dengan mengukur secara kuantitas apa-apa yang sudah didapatnya atau dilakukannya. Yang mendapat leverage inilah yang kemudian diidolakan. Promosi sosok idola tersebut mengalir melalui arus informasi satu arah, sehingga mengubah pola pikir dan perilaku yang ada dimasyarakat (satu arah karena tidak ada yang cukup peduli dan berani untuk mengecek benar tidaknya promosi tersebut). Ketika nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat, referensi penilaiannya adalah orang-orang yang sudah dileverage tersebut, maka ketika orang-orang tersebut digoyang kekiri dan kekanan leveragenya, maka akan goyang pula masyarakatnya. Ketika orang menggunakan referensi penilaian berdasarkan pengalaman hidup seseorang atau aksi dan tindakan seseorang yang dikuantifikasi, maka dinamika hidup yang bergerak akan terus mengubah referensi tersebut. Padahal kuantifikasi selalu menimbulkan nafsu "more". Makanya orang yang berpijak pada pengalaman yang dikuantifikasi, tindakannya menjadi liberal, mereka tidak bisa komit dan akan terus bergerak relatif terhadap dinamika yang ada dan sangat rentan terhadap arus informasi. Ketika kita bicara "waktulah yg akan membuktikan (demi waktu)," maka kita percaya pada proses, sehingga kita akan menempatkan hal yg positif (benar) sebagai positif (benar) dan hal yang negatif (salah) sebagai negatif(salah). Tetapi ketika kita bicara "demi kuantitas," maka hasil-lah yang kita percayai dan kita akan menempatkan segala sesuatunya sebagai hal positif, yang artinya pula kita menghalalkan segala cara untuk mendapat hasil berupa manfaat yg sebanyak-banyaknya. Cara berpikir bahwa segala sesuatu ada sisi negatif dan sisi positifnya, adalah cara pandang atheisme karena bisa menempatkan hal yg positif sebagai hal yg negatif, dan hal yg negatif sebagai hal yg positif. Cara berpikir seperti ini bisa menempatkan agama sebagai hal yg mempunyai sisi positif dan sisi negatif (dan bukan absolut positif seperti yg seharusnya). Sehingga agama bisa dibedah untuk diambil hanya sisi yg dianggap positif saja(bermanfaat) dan yg dianggap negatif dpt dibuang. Cara pendidikan agama yg membedah agamanya seperti inilah yg sangat mengutamakan supremacy dari pemikiran manusia sehingga mereka bisa menentukan manfaat yg dibutuhkan tanpa perlu hal lain yg membatasinya secara absolut. Pemikiran merekapun akhirnya hanya bertautan dengan hal-hal didalam agama yg dianggap positif(yg bisa terkuantifikasi). Inilah yg selalu menimbulkan paradoks di masyarakat.

Kuantitas sebagai penentu memang bisa berbahaya apabila domainnya secara inherent tidak dapat dinilai dengan kuantitas saja (bahkan seharusnya hanya dpt dinilai secara kualitatif). Secara ideal kuantitas dan kualitas memang bisa menyatu, tapi implementasinya sangat tergantung dari sisi lingkungannya yaitu manusianya. Karena manusia bukan hal yang ideal maka dua hal ini sangat sulit untuk disatukan seperti dua kutub magnet yang berbeda. Kuantitas akan mengorbankan kualitas ketika pertumbuhannya hanya mengandalkan kemampuan manusianya tanpa menggunakan aturan dan dasar yang ideal(mendasar). Contohnya emansipasi wanita, ketika masyarakat masih mempunyai keragu-raguan yang tinggi dan apriori terhadap sosok wanita, maka apabila kuantitas yang dijadikan acuan gerakan emansipasi, hasilnya akan seperti kartu deck yang jatuh beruntun. Kartunya memang masih banyak berserakan dilantai tapi sudah tidak tegak lagi. Secara kuantitas memang terlihat banyak sekali, tetapi ketika satu persatu mulai jatuh karena perkara yang cukup berat dan terekspos, keragu-raguan dan apriori masyarakat tersebut akan semakin terakumulasi. Apabila tidak ada koreksi yang terjadi, karena memang akumulasi keraguan adalah dampak yang tidak kelihatan wujudnya sehingga kalah dengan euforia kuantitas, maka persepsi masyarakatlah yang berubah. Yang tampak dan terlihat di masyarakat adalah euforia kuantitas tapi dialam bawah sadar keraguan terus terakumulasi. Jadi yg diragukan ini seperti ada dan tiada, eksistensinya diterima tapi tidak dipercaya sehingga keraguan ini justru berdampak pada meragukan sistem yg ada (negatif feedback). Sebagian orang, terutama yg sangat mempercayai eksistensi, sangat sensitif terhadap perubahan sesuatu dari yg tadinya tidak eksis menjadi eksis. Mereka menganggap perubahan tsb hasil dari campur tangan manusia menggunakan kekuasaan, tipu muslihat dsb. Paradoks pun terjadi lagi karena ditengah ketidakpercayaan mereka pada sistem yg ada dan hal lainnya yg diragukan,  mereka masih mempercayai eksistensi diri mereka sendiri didalam sistem yg ada sehingga mereka menjadi sangat aktif. Inilah yg menyebabkan mereka kemudian tidak peduli pada hal yg diragukan tsb selain aktif memanfaatkan eksistensinya dan ikut serta dalam euforia kuantitas. Gue cuma sedih aja ketika yang kuantitas ini memaksa perempuan untuk dipersepsikan sama seperti badut dengan kostumnya dan topengnya, diapresiasi hanya karena ikut memeriahkan suasana, sementara apa yang ada didalam topeng dan kostum tersebut tidak pernah diperhatikan dengan baik. Kenapa orang mau memperhatikan yang didalam topeng ketika dia jauh lebih bermanfaat dan berguna dengan topeng dan kostum yang dia pakai. Ketika ada permasalahan, maka diambilpaksalah topeng dan kostum tersebut dan dipertontonkan kerapuhan yang ada didalamnya. Perempuan-perempuan yang sudah tanpa tameng ini pun kemudian harus berhadapan dengan kecanggihan teknologi dengan arus informasi digitalnya. Lalu kemana hidungnya orang-orang yg sudah mendorong emansipasi tersebut? Persepsi seperti itukah yang harus ada untuk sosok seorang ibu, persepsi pahlawan bertopeng? Apakah seseorang yang membiarkan dirinya dimanfaatkan atau memanfaatkan orang lain bisa punya cukup kepedulian? Gue bicara psikologis disini, sosok seorang ibu harus punya kepedulian terhadap anak-anaknya, memanfaatkan perempuan dengan tamak dan tidak sesuai kodratnya akan punya konsekuensi yang besar untuk generasi y.a.d.. Mempunyai sosok ayah seorang pahlawan bertopeng saja sudah cukup menyulitkan untuk anak-anak (tanya deh anaknya si Spiderman) apalagi kalau ibunya ikutan jadi pahlawan bertopeng. Anak-anaknyapun akhirnya harus pakai topeng. Dan kepedulian pun akhirnya hanya berbicara mengenai manfaat dan keberhasilan topeng tersebut menyemarakkan suasana ditengah euforia yang ada. Amazing. Bahkan utk hal ini (memanfaatkan si anak), para ortu pun mendidik si anak dg hanya mengapresiasi dan memuji anaknya, tanpa hukuman dan memarahi si anak ketika mereka berbuat kesalahan (si ortu melihat hukuman dan kemarahan adlh hal yg negatif dan tdk menghargai si anak, menimpa ajaran agama serta nilai nilai dan tradisi yg sdh lama ada di masyarakat sbg hal yg negatif). Kasarnya, si ortu menjilati anaknya sendiri, dg selalu mengapresiasikan anaknya, agar si anak selalu bisa dimanfaatkan. Akhirnya krn "dimanfaatkan" dan diapresiasi sejalan seirama, si anak pun merasa senang utk selalu dimanfaatkan. Ini makanya anak-anak tsb dari kecilpun sdh bisa menyandang misi, dimanfaatkan dan dipergunakan utk tujuan tertentu sesuai skenario orang dewasa disekitarnya (gue sendiri sekarang cukup sering nemuin anak yg dimanfaatkan seperti ini). Si anak pun akhirnya tdk pernah mengambil keputusan sendiri (indecisive), selalu membutuhkan arahan dan tuntunan orang lain yg memanfaatkan dirinya (ketika anak tsb udah gede, bayangkan kebingungan yg terjadi dimasyarakat atas keputusan2 yg indecisive seperti ini). Si anakpun menganggap anak lainnya sbg ancaman utk dirinya krn menganggap anak yg lain tersebut bisa dimanfaatkan dan lebih diapresiasi menggantikan dirinya. Sehrsnya ortu seperti ini sadar klo "maju" tuh bkn berarti dimanfaatkan (ortu seperti ini berpikir klo ortu yg memarahi anaknya membuat si anak jadi "terbelakang", padahal klo terbelakang menurut mereka artinya "tdk maju utk dimanfaatkan", maka terbelakang is just fine by me). But here is another paradox, seberapapun tereksploitasinya wilayah personal, tidak akan cukup bermanfaat ketika hanya sebagai penyemarak suasana. Bahkan hal-hal yang fungsional pun tidak akan cukup bermanfaat ketika fungsi tersebut ditujukan untuk menunjang penyemarak suasana.

Derivatif yang lain lagi yang muncul akibat eksploitasi sifat intrinsik manusia yang hanya mempercayai eksistensi atau keberadaan dari sesuatu (sesuai naluri mereka) adalah dibutuhkannya orang yang bisa menjadi pelindung dalam melakukan aktivitas keseharian. Mungkin kita biasa melihat yang seperti ini di pasar tradisional dimana kegiatan ekonomi berpusat. Tetapi hal ini punya batasan yang jelas dimana hanya aktivitas pasarlah yang dilindungi yaitu aktivitas yang hanya berurusan dengan uang. Hal seperti ini sudah berlangsung ratusan tahun dan berjalan tanpa masalah berarti karena batasannya yang jelas tersebut dan karena keduanya sejalan (pelindung vs eksistensi, pelindung memang tugasnya menjaga eksistensi, menjaga perputaran uang). Budaya yang terjadi adalah kemudian masyarakat menjadi permisif akan keberadaan pelindung atau yang kita sebut secara kasar premanisme. Masalahnya dizaman modern ini, karena kompleksitas yang ada, ternyata banyak orang membutuhkan pelindung yang aktivitasnya meluas dan tidak terbatas pada masalah perut saja, atau eksistensi. Mereka secara sadar atau tidak membawa pelindung mereka masuk kewilayah personal mereka, ke rumah-rumah mereka dimana di wilayah tersebut eksistensi mereka bukanlah hal yang utama. Wilayah personal tersebut sebenarnya wilayah dimana eksistensi mereka dipertaruhkan. Ada banyak hal di wilayah personal yang lebih besar dari manusianya itu sendiri, makanya menjaganya bukan persoalan mudah karena harus mempertaruhkan eksistensi manusianya itu sendiri. Paradoks terjadi lagi ketika orang menjaga wilayah tersebut dengan mendapatkan kepastian eksistensi dirinya dan bukan mempertaruhkan eksistensi dirinya. Mereka bukannya mempertahankan wilayah yg personal tsb, malah berkompromi menjaminkan(menggadaikan) wilayah personal utk mendapat jaminan eksistensi dirinya. Mereka menyamakan kedudukan eksistensi dirinya dengan eksistensi apa-apa yg ada diwilayah personal. Tarik-menarik kepentingan pun terjadi antara pelindung mereka dan apapun yang ada diwilayah personal tersebut. Apapun yang ada di wilayah tersebut harus ikut serta dimanfaatkan untuk mendapat kepastian eksistensi mereka yang berarti mengikuti keinginan pelindung mereka. Butuh keegoisan yang tinggi dari manusianya ketika demi mendapatkan kepastian eksistensi tersebut mereka harus memanfaatkan apa yang ada diwilayah personal. Untuk mereka yang membiarkan pengalamannya, ego dan informasi mengasah prinsip dan nilai yang mereka miliki, tarikan-tarikan kepentingan seperti ini tidak mereka rasakan lagi (ibarat mur yang sudah kendor akibat asahan yang terlalu kasar dan keras). Apalagi, pelindung eksistensi adalah orang yang hanya peduli dengan uang. Pelindung seperti ini tidak bisa menjaga yg tidak memberi manfaat untuk mereka dan tidak eksis. Disini menjaga pada akhirnya akan sama maknanya dengan menimbulkan manfaat untuk apa-apa yang ada di wilayah personal. Inilah makanya kemudian kepedulian diukur dengan mengusahakan timbulnya manfaat (yg ujungnya uang). Akhirnya semua yang ada di wilayah personal tersebut harus dimanfaatkan, walaupun ini artinya mereka harus memakai topeng dan kostum sebagai penyemarak suasana. Merekapun berlomba-lomba mempertontonkan apa-apa yang ada diwilayah personal demi kemudahan yang ingin mereka dapatkan. Kekuasaan absolut dari pelindung eksistensi ini mulai tercium (kalau sensitivitasnya belum kendor) ketika hal yang negatif, yaitu memanfaatkan apa yang ada di wilayah personal demi sebuah eksistensi, menjadi positif. Padahal, you just don't care enough untuk menjaga sesuatu, untuk memiliki amanah, kalau membiarkan wilayah personal ini dimanfaatkan. Disini pulalah ketika naluri ibu untuk menjaga anaknya dari hal yg negatif dan eksternal, berubah menjadi mencitrakan segala sesuatunya positif karena adanya pelindung tersebut, sehingga si anak dapat bersentuhan dengan kemungkinan dan kesempatan yang tak terbatas demi si anak tersebut. So, kids can be whatever they want to be, ...yup whatever. Kemungkinan dan kesempatan tak terbatas, ga ada yg lebih positif dari hal tsb. Asal tauk aja, sewaktu gue kecil sampai gede, ga pernah gue tinggal diJakarta ngalamin banjir didpn rumah gue, perubahan temperatur menjadi rendah, air yang dinginnya kayak di pegunungan, pagi yang terlalu dini, atmosphere yg terlalu kuning, gempa dimana-mana, tsunami, dsb seperti yang dialami anak jaman sekarang. Yah tapi, whatever lah.

Seperti yang sudah gue jelaskan diatas, ada sedikit orang yang bisa mewujudkan hal yang sebelumnya tidak ada karena kalkulasi dan pengetahuannya, dan, ada sebagian besar (orang kebanyakan), yang awalnya dengan naluri mereka menertawakan/menihilkan usaha tersebut (karena menganggap hal tersebut imajinasi dan mimpi yg impossible), walaupun kemudian mengikuti hal yang sebelumnya dinihilkan/ditertawakan hanya karena gempuran eksistensinya. Bahkan yang sebagian besar ini mulai mengikuti dan mengadopsi pemikiran yang sedikit ini, dengan mempercayai apa-apa yang tidak ada, hanya karena pengalaman dan naluri mereka bahwa yang tidak eksis tersebut (yg mereka sebut impian) dapat terjadi, karena akan ada manusia yg bisa mewujudkannya. Ini yg membuat orang di zaman modern banyak yg mempercayai bahwa ideal, impian, harapan, dsb dapat selalu diwujudkan. Mereka cuma mengenal "result" dan bukan prosesnya akibat gempuran eksistensi atas hal yg sebelumnya tdk ada. Makanya di zaman modern ini, gap antara dua tipe tersebut sudah sangat tersamar, walaupun, tetap saja perbedaan sifat dan psikologis yang utama dari keduanya masih ada. Perbedaan ini dapat terlihat dari cara mereka menghargai orang lain, sifat dualisme mereka, persepsi dan jangkauan penilaian mereka terhadap sesuatu hal. Stereotyping antara dua tipe ini ada karena manipulasinya ada dan berkembang dewasa ini. Tulisan ini tidak akan bicara kedua tipe tersebut, tapi hanya satu saja yaitu yang kebanyakan orang (mayoritas). Yang satu ini lebih menarik bukan hanya krn keumumannya, tapi juga karena ketika kita bicara mengenai tipe orang yang hanya bisa menerima sesuatu yang menurut naluri mereka eksis/ada/berwujud, kita melihat sifat follower terhadap eksistensi/keberadaan dan ini yang paling rentan terhadap manipulasi. Karena mereka ini follower, maka mereka dengan mudahnya menerima pengaruh eksternal dan dengan mudahnya mengagumi sesuatu. Mereka bisa dimanipulasi untuk menghargai/menilai suatu subjek hanya dengan informasi saja (bahkan hanya dengan informasi searah saja) atau menghargai/menilai suatu subjek hanya dengan hal sepele seperti emosi, perasaan, keinginan dan impian. Makanya tidak heran kalau harga seorang manusia(yg menjadi subjek utama dlm kefanaan) menjadi sangat murah untuk mereka, dan kalau mengikuti pemikiran progresif maka mereka sedang menggadaikan hidup mereka sendiri setiap kali mereka mengisi perut mereka dengan informasi-informasi yang bisa digunakan utk menilai hidup manusia. Mereka memurahkan harga manusia padahal mereka sendiri juga manusia. Yang banyak pula inilah yang akhirnya selalu menciptakan paradoks-paradoks seperti disebutkan diatas akibat sifat dualisme mereka. Paradoks2 ini yang kemudian membingungkan masyarakat dibawah alam sadar mereka dan seperti sebuah lubang hitam, menarik apapun disekitarnya untuk masuk ke lubang hitam tersebut.

Derivatif-derivatif dari manipulasi sifat intrinsik manusia yang hanya bisa menerima sesuatu yang berwujud ini membuat manusianya menjadi melayang (ringan). Mereka mempercayai impian, perencanaan, ramalan, harapan, ideal dari orang lain sehingga mereka sibuk beraksi menggapainya. Mereka juga lebih mempercayai pengalaman-pengalaman mereka atau pengalaman orang lain (melalui informasi satu arah) sehingga pijakan mereka goyah karena dinamika hidup terus bergerak. Mereka memilih memakai topeng dan kostum agar bermanfaat bagi orang banyak sehingga membedakan dirinya dari orang lain dan menampikkan dirinya sendiri (dengan kesengajaan menciptakan jarak yang lebih jauh antara dirinya dan orang lain, menciptakan inequality antara dirinya dan orang lain). Mereka mengkuantifikasi segala sesuatu yang mempunyai domain yang ga jelas (atau dibuat ga jelas) sehingga mudah di leverage. Mereka menggunakan pelindung (orang yg mereka follow) demi eksistensi mereka sehingga selalu melempar permasalahan dan tanggung jawab kepada pelindung tsb (tidak membumi, selalu berlari). Merekapun meyakini eksistensi mereka ketika mereka tdk mempercayai sistem yg menaungi mereka. Bahkan dalam hal agama mereka mempercayai agama mereka karena eksistensinya dan bukan karena kebenaran yg dibawa agama tsb. Semua derivatif ini punya efek meringankan dan melayang (menggapai orang lain, pijakan dinamis, inequality, demi kuantitas, leverage, tidak membumi). Kalau sudah ringan dan melayang seperti ini maka sedikit dorongan atau usaha saja dapat menggerakkan mereka dengan mudah, cepat dan tanpa meninggalkan jejak. Mereka bisa menjadi kekuatan masa yg asal ikut saja. Ketika ada suatu permasalahan mereka bisa menunjukkan support/bantuan mereka secara masiv dan terselubung tanpa kejelasan bentuk support mereka itu apa (kalau support mereka didefinisikan maka mereka akan menolak atau bahkan tdk mau mengakuinya) dan hubungan mereka apa terhadap masalah tersebut. Kegiatan yg terselubung inilah yg membuat mereka sangat-sangat hipokrit. Merekapun dapat dengan mudahnya dikendalikan untuk bergerak kekiri dan kekanan. Kemudahan, kecepatan, fleksibilitas yg seperti inilah yg kemudian menjadi jargon dalam mengejar impian/rencana yg sudah mendapat jaminan kepastian.

Dizaman modern ini eksistensi selalu berhubungan dengan perputaran uang (di tulisan gue yang lain gue pernah jelaskan mengenai salah satu model perputaran uang. Silahkan baca disini). Ketika yang floating (melayang) ini diintercept dengan arus perputaran uang, mereka akan terbawa oleh arus tersebut untuk membentuk siklus, karena arus memang membutuhkan siklus. Model siklus yang terburuk dari perputaran uang adalah siklus money laundering, dan sayangnya, siklus yang terburuk inilah yang paling sesuai untuk orang-orang yang melayang ini karena stereotype yang mereka miliki. Yang floating selalu merasa dirinya spesial, lebih dari orang lain, karena mereka mau untuk dimanfaatkan dan memanfaatkan (termasuk apa yg ada diwilayah personal mereka) sehingga mereka merasa sudah menciptakan manfaat yang sebesar-besarnya. Mereka tidak akan bisa cukup peduli dan sadar untuk melakukan kalkulasi atas kemampuan mereka karena secara inherent mereka hanya peduli untuk perwujudan mimpi, perencanaan dsb. Tanpa kalkulasi, terkadang mereka overshoot kuantitas yg sebenarnya mereka deserve makanya mereka sangat prone terhadap siklus yang terburuk yaitu money laundering. Merekapun menerima arus money laundering dengan kuantitas yg biasanya cukup besar sebagai hal lumrah sebagai imbalan atas manfaat sebesar-besarnya (termasuk manfaat dari eksploitasi yg ada diwilayah personal) yang sudah mereka timbulkan. Mereka pun tidak menyadari bahwa arus yang mereka bawa tersebut menciptakan tegangan-tegangan yang bisa terjadi pada lingkungan mereka sendiri dititik-titik dimana terdapat resistansi. Tapi karena mereka ini kebanyakan follower, mereka mengikuti saja ketika mereka diperintahkan untuk menyerang atau terus bersinggungan dengan resistansi-resistansi ini, baik secara mental atau fisik, sehingga resistansi berkurang dan mungkin hilang. Ironinya, karena mereka tidak bisa mengkalkulasikan kuantitas yang seharusnya mereka terima, maka its just more and more, sehingga tidak ada lagi resistansi (termasuk resistansi dari kepentingan yang sifatnya personal). Ketika tidak ada resistansi, by default mereka akan shorting (short circuit). Sehingga, untuk menjaga agar resistansi tetap ada dan mencegah shorting, mereka mulai mengambil lebih banyak lagi diwilayah yg personal ini yang berhubungan dengan orang lain sehingga resistansi terakumulasi dari wilayah yg personal ini. Walaupun, untuk menahan arus yang mengalir akibat dedikasi mereka, wilayah personal yang mereka gadaikan(jaminkan) yang terus terdorong ini hanya menimbulkan resistansi yg tidak berarti. Disini terjadi paradoks lagi, untuk menimbulkan resistansi dan mencegah shorting, mereka melakukan usaha yg justru dapat menghilangkan resistansi (mereka semakin terdedikasi). Mereka mendorong-dorong batasan (hambatan, resisten) yang tersisa, yang selama ini mencegah terjadinya shorting, hanya utk menimbulkan resistansi tambahan. Padahal, dorongan tersebut justru bisa menghilangkan/melemahkan batasan ini. Pada akhirnya, resistansi kecil diwilayah personal yang semakin tergerus dengan dorongan ini akan dapat diabaikan, ketika arus yang mengalir semakin besar seiring dengan dedikasi para follower, yang ingin tetap floating ini, yang juga semakin besar. Terjadilah short.

Ini yg gue pelajari dr analisa gue mengenai aliran sesat: siklus money laundering terjadi ketika ada pelaku kejahatan dan ada pencucian uang. Ada si hitam dan ada si putih berputar dan yang mereka perlu lakukan adalah mengikuti arus tersebut terkadang dengan mengikuti perintah yang ada. Disini memberi dan menerima didedikasikan untuk siklus tersebut. Simbiosis mutualisme terjadi secara natural dimana keduanya tidak terlihat menyatu karena adanya sekat penghubung. Si putih mengcover kejahatan yang dilakukan si hitam. Si putih overshoot kuantitas, si hitam merajalela. Tapi si putih ini tidak pernah menyadari kalau mereka bagian dari extra-ordinary crime, hanya karena mereka yang sudah memberi manfaat sebanyak-banyaknya (mengeksploitasi manfaat sampai ke wilayah yg sifatnya personal), merasakan kalau overshoot kuantitas yg mereka terima adalah hak mereka atas manfaat yg mereka sdh berikan dan mereka pun pantas mendapat leverage. Yang putih ini pulalah yang menganggap aksi mereka melenyapkan resistansi yang ada, termasuk dengan terus mendorong wilayah personal, sebagai salah satu manfaat yg mereka berikan kepada lingkungan, terutama demi tercapainya kuantitas impian mereka. Ketika its just more and more, garis pembatas menipis, dan si hitam dan si putih mulai berbaur sehingga ada yang abu2. Yang abu2 inilah yg pertama kali terkena imbasnya ketika shorting mulai terjadi. Si hitam mungkin kejahatannya bisa didefinisikan sehingga bisa ada tindakan hukum, tetapi si putih, kejahatan mereka tidak terdefinisi makanya mereka diarahkan dan dipersiapkan untuk keikhlasan menerima nasib yang ditentukan oleh orang yang mereka follow, orang yang mereka ikuti demi eksistensi mereka. Yg putih tdk mengetahui apa yg diketahui orang yg mereka follow, apa yang direncanakannya. Mereka lupa utk mencari tauk apa yg harusnya mereka ketahui sehingga seringkali hal ini berakibat fatal. Mereka ini cuma orang2 yg malas utk menentukan nasib mereka sendiri. Kalau ada orang lain yg tauk apa yang akan terjadi pada kita, itu berarti ada orang lain yg ingin membelokkan takdir dari Tuhan YME. Ketika seseorang punya kekuasaan yg bisa membelokkan takdir dan nasib orang lain dengan paksaan maka pastinya ada yg salah dengan pijakan tempat kita berdiri.

Ketika seseorang hanya bisa mempercayai sesuatu yg eksis atau berwujud, maka seseorang sudah mengikuti nalurinya. Naluri untuk eksis menimbulkan instinct survival. Ketika naluri ini kemudian jauh lebih besar daripada pemikiran manusia yg bertautan dengan ajaran dan aturan yg berlaku, maka yang terjadi adalah naluri tersebut menyetir logika/pemikiran manusia tersebut. Naluri yg merupakan titik lemah manusia dipakai sebagai dasar yang menentukan logika/pemikiran (titik kelebihan manusia relatif thdp mahluk lainnya). Disini hal-hal yg tdk normal menjadi normal agar konsisten dengan naluri mereka. Disinilah ketika manusia menjadi sangat berbahaya dan destructive karena dengan logika dan pemikiran, mereka berusaha memenuhi naluri mereka. Kucing aja klo kepepet tidak akan memakan bangkai kucing lain, tapi manusia dengan logika survival mereka bisa menjustifikasi hal seperti ini. Inilah makanya beberapa aliran sesat mensyaratkan hal-hal yg aneh utk dilakukan sebagai inisiasi mereka. Dari awal mereka sudah dibina mengedepankan naluri mereka, yaitu untuk menjadi bagian dari sesuatu yg lebih eksis dari diri mereka, shg mengenyampingkan kewajaran. Naluri ini dibina shg lebih utama daripada pemikiran yg berasal dari pengetahuan yg bisa mencegah mereka melakukan hal yg tidak wajar. Naluri ini yg kemudian menerobos lebih jauh menggerogoti wilayah personal mereka, seperti hubungan mereka dengan orang lain, masyarakat atau negara, sehingga resistansi semakin berkurang. Mereka hanya dengan mengandalkan informasi akan bisa menjatuhkan orang lain dengan aksi mereka, bahkan mereka mampu menggunakan fasilitas yang disediakan yang datang bersama informasi tersebut untuk aksi yang mereka lakukan. Inilah pengorbanan yg mereka lakukan. Pengorbanan-pengorbanan seperti inilah yang membuat harga manusia murah sekali termasuk harga mereka sendiri yg melakukan aksi tersebut. Tapi anehnya, akibat kuantitas yg mereka terima dan persepsikan, mereka tidak menyadari hal tersebut dan malah membangun persepsi kuantitas yg besar tersebut sebagai tameng wilayah personal mereka yg sudah kosong karena tergerogoti. Akibat kebutuhan akan kuantitas yang seperti inilah mereka akan menjadi seperti kontainer. Disinilah ketika kontainer kosong tersebut mulai berkoar masalah kekayaan, jabatan, dan segala sesuatu di wilayah personal yg bisa terkuantifikasi (yg bisa terkuantifikasi pasti bisa dipamerkan), termasuk agama.  Dan krn mereka selalu menginginkan "more", mk kontainer tsb akan selalu setengah kosong. Mereka pun kmdn menjadi kontainer-kontainer yg selalu haus akan misi mengisi kontainer dengan kuantitas apapun utk dibawa ketujuan tertentu.

Tanpa resistansi, yang biasanya timbul akibat gesekan naluri dan pengetahuan, wilayah personal kemudian semakin tergerus ketika kuantitas digunakan sebagai dasar perhitungan akan manfaat atau tidaknya suatu hal tanpa menggunakan ajaran dan aturan yang berlaku. Tanpa ajaran dan aturan, segala sesuatu yang menurut kuantitas lebih banyak menghasilkan (lebih eksis), maka akan dianggap lebih bermanfaat. Dengan kuantitas, manusia menjadi lebih mudah menilai segala sesuatunya, termasuk sesuatu yang tidak pada tempatnya untuk mereka nilai (yg tidak merupakan tugas dan tanggung jawab mereka sesuai aturan yang berlaku). Gue udah kasih contoh ditulisan sebelumnya bagaimana mereka menghargai manusia lain, padahal kita tauk manusia adalah ciptaanNya yg terlalu berharga untuk dinilai dan ditindak dengan hanya menggunakan informasi yang ga bisa terverifikasi sumbernya. Apalagi mereka bisa melakukan aksi tanpa ada alur tanggung jawab yg jelas akan aksi mereka, aksi akan hal yg mereka tidak ketahui/kenal, aksi yg hanya mereka ketahui melalui informasi searah saja. Action out of nothing. Inilah ketika orang meremehkan pengetahuan agama, menganggap Tuhan mereka tidak eksis sehingga menganggap pengetahuan agama tidak penting dibandingkan eksistensi mereka sebagai umat, sehingga penyimpangan terjadi. Mereka menganggap informasi, impian, idea, harapan mereka lebih penting daripada pengetahuan. Tingkat kekosongan kontainer-kontainer ini semakin tinggi ketika informasi tersebut hanya mengandung informasi mengenai emosi, perasaan, psikis, harapan, pengalaman, impian dari orang lain yang sebenarnya tidak bisa mereka nilai. Penilaian yg tidak pada tempatnya dan pada hal yg tidak dapat terkuantifikasi menciptakan kekosongan dan menjadi budaya yg kmd tereksploitasi dan termanipulasi oleh teknologi dan globalisasi.

Kekosongan yg merupakan efek transisional ketika orang berusaha mengkuantifikasi (mengukur) hal yg tdk dpt terkuantifikasi bahkan tanpa menggunakan batasan yg jelas, menciptakan efek transisi yg lebih parah lagi (berantai). Kekosongan ini menciptakan dorongan utk mengisinya dengan materi tertentu, dimana materi tsb terkadang bisa didapat melalui jalur yg ga jelas(jalur yg tdk diakui) atau dg mempertaruhkan apa yg ada diwilayah personal mereka atau dengan menerima perwujudan impian menjadi kenyataan. Pada akhirnya, eksistensi mereka, yg merupakan referensi mereka dalam menentukan segala hal, ternyata sangat bergantung pada hal-hal yg tidak mereka akui/yakini keberadaannya atau yg mereka ragukan eksistensinya atau yg sebenarnya semu. It's all paradox. Adalah juga paradoks ketika massa atau komunitas tertentu kemudian dapat aktif mendikte dan mengendalikan ideologi dan bukan sebaliknya ideologi mengendalikan massa. 

But why all of these paradoxes? Tuhan YME memperkenalkan satu paradoks kepada manusia dengan mensabdakan bahwa dunia (kenyataan) hanyalah sebuah kesemuan dan memperkenalkan ajaran agama sbg hal yg real utk tempat berpijak shg paradoks tersebut mempunyai ujung yg jelas. Tapi paradoks-paradoks yg gue utarakan sebelumnya, asal muasalnya adalah dari paradoks yg melihat dunia yg semu sbg hal yg nyata (bahkan skrg internet memperparah hal ini), shg tindakan mereka akan berpijak pd hal yg mereka anggap nyata tsb (contohnya eksistensi dan hal yg eksis, pengalaman hidup). Disini jelas klo paradoks-paradoks tsb asalnya bukan dari Tuhan YME krn bertolak belakang dg ketentuan Tuhan YME. So, ada Tuhan yg lain?



Ketika ada hal yg diremehkan atau tdk diyakini, hal yg ditertawakan krn hal tsb impossible, coba renungkan sejenak, karena mungkin saja kelakuan tsb akibat kurangnya pemahaman yg detail atas sesuatu yg seharusnya dipahami. Ketika batasan hilang, you should believe all the impossible, like Alice.

Selasa, 19 Agustus 2014

Gembala

Jujur aja ketika menganalisa aliran sesat banyak hal yg muncul dibenak gue krn untuk gue perilaku mereka banyak yg aneh dan ga wajar. Mereka ini follower, mereka gembala tapi orang yg mereka ikuti sebenarnya cuma orang yg hrsnya diragukan kebenarannya dan legitimasinya. Ok orang yg mereka follow tersebut mungkin tidak diragukan eksistensinya, dia mungkin eksis dan dikenal secara luas atau dia mungkin powerful shg bisa membuat pengikutnya eksis disebuah jaringan yg dia miliki, tapi tetap saja eksistensi tsb tdk bisa memverifikasi legitimasi dia utk diikuti. Kita tauk masing-masing agama punya rasul dan nabinya masing-masing, para nabi dan rasul pun legitimasinya jelas krn hal tsb ada di kitab suci. Tapi kayaknya pada aliran sesat mereka lebih mengutamakan eksistensi, shg krn para nabi dan rasul ini sudah wafat, mereka kmd mencari hal lain yg masih eksis atau yg bisa mewujudkan eksistensi mereka. Terkadang malah krn banyak aliran sesat sifatnya shady, mk pengikutnya tdk mengakui eksistensi dr apa yg mereka ikuti. Mereka tdk akan mengakui adanya aliran sesat tsb, tapi eksistensi mereka sendiri akan mereka akui walaupun hal tsb tidak pernah terlepas dr pengaruh yg bsr aliran sesat tsb. Terjadilah paradoks krn eksistensi para pengikutnya ternyata berasal dr hal yg tdk eksis dan tdk diakui. Disini mereka hrsnya sadar bhw sesuatu yg shady pasti berhubungan dg kejahatan terorganisir, shg yg namanya hal yg baik tdk mungkin berasal dr hal yg shady tapi eksis tersebut. Hal yg baik tdk mungkin berasal dr uluran tangan yg tdk bisa diakui. Mereka pun harus sadar bahwa sesuatu yg shady sering memakan korban dan menimbulkan konsekuensi yg hrs diterima baik pengikutnya atau korbannya.

Pada aliran sesat yg berbahaya, sesuatu yg mereka follow ternyata mengajak mereka utk mengikuti naluri dan instinct tanpa menggunakan batasan (batasan ini contohnya batasan kemampuan sesuai kodrat kita sebagai manusia, batasan ajaran dan aturan yg berlaku, batasan hak dan kepentingan orang lain, batasan antara hubungan satu hal dengan yg lainnya, batasan wilayah, dll). Hal inilah yg membuat aliran sesat berbahaya krn yg digembala ternyata adalah sekelompok orang dg kebuasan dan keliaran naluri mereka. Analoginya klo ada orang yg menggembala kambing atau sapi, kita tentunya tidak akan terganggu. Kambing dan sapi tidak agresif dan tidak buas, mereka bukan pemangsa. Nah klo ada orang yg menggembala harimau atau banteng atau gajah, bisa kebayang ga bgmn kacaunya lingkungan disekitarnya. Kebuasan, keliaran dan kekuatan yg bsr klo digembala bisa sangat menakutkan. Belum lagi ancaman apabila yg menggembala tiba-tiba melepaskan gembalaannya. Hancurlah semuanya.

Analogi gue diatas mungkin terlalu meremehkan kompleksitas yg ada pada manusia apabila manusia tsb adlh pengikut. Manusia jauh lebih kompleks makanya jauh lebih berbahaya. Yg jauh lebih kompleks ini hrsnya mau utk diatur oleh batasan-batasan yg kompleksitasnya sulit terukur oleh manusianya itu sendiri. Manusia dibatasi oleh wilayah negara mereka masing-masing. Kenapa hrs dibatasi? Manusia dibatasi oleh ajaran dan aturan agama mereka masing-masing. Kenapa hrs dibatasi? Kenapanya ini sangat sulit utk dijelaskan krn kompleksitasnya yg tinggi. Krn kompleksitas yg tinggi ini pula orang jadi kmdn lebih memilih yg gampang dan mudah. Lebih gampang dan mudah mengikuti naluri dan instinct, krn kita bisa mengikuti hati kita aja. Lebih gampang dan mudah mengikuti hal yg eksis (materi) atau yg membuat kita eksis. Akhirnya karena yg eksis ini atau yg membuat kita eksis bentuknya manusia atau uang(materi), merekapun tunduk pada kekuasaan manusia atau uang tersebut yg ternyata tdk mempunyai batasan shg buas dan liar walaupun masih terkendali (krn digembala oleh kekuatan dr kekuasaan tsb).

Lalu kenapa orang yg beragama bisa digembala oleh kekuasaan dan kekuatan orang lain (seperti pd People's Temple)? Hal ini mungkin karena mereka menggunakan realitas utk mendefinisikan keyakinan mereka. Misalnya realitas sebuah institusi(atau orang) dg embel-embel dan nuansa agamis yg kental yg eksis di masyarakat sbg hal yg agamis. Orang-orang yg menggunakan realitas utk mendefinisikan keyakinannya akan mempercayai dan meyakini institusi(/orang) tsb sbg bagian dr keimanannya. Mereka pun dibiasakan melakukan ketidakwajaran demi eksistensi yg dibawa institusi/orang tsb. Lalu kenapa ketika institusi tsb menyimpang, mereka masih juga belum sadar? Karena realitas yg menyimpang tsb ga kelihatan oleh mereka. Persepsi mereka sdh sangat diplintir utk menihilkan penyimpangan seakan akan penyimpangan tsb hal yg hrs terjadi dan perlu utk dilakukan (akibat kompetisi dg feedback negatif). Lagipula kebanyakan dari mereka realitasnya sdh dikungkung, realitas adlh sebuah penjara bagi mereka. Realitas dibangun seperti benteng shg bahkan keyakinan agama tidak bisa menyentuh mereka. Jadi akibat embel-embel dan nuansa agamis, nuansa kebenaran sebagai realitas yg mereka pertontonkan, penyimpangan yg bertentangan dg agama dan hukum pun dilakukan tanpa bisa tersentuh oleh yg diluar benteng tsb.

Pada aliran sesat benteng realitas tsb dibangun dg jargon-jargon, informasi, dan orasi yg menyejukkan hati, menyanjung dan menampilkan nilai moralitas yg tinggi utk khalayak ramai atau manfaat yang sebesar-besarnya. Sehingga masyarakat tauknya kelompok aliran tsb hebat dan bermartabat. Tapi didalam benteng tsb, mereka terbagi lagi menjadi komunitas-komunitas kecil yg ternyata bergerak menyimpang dari apa yg diketahui khalayak ramai tsb, didalam komunitas inilah hal yg tdk bermartabat dan bermoral terjadi. Komunitas kecil tsb keluar dari benteng dan mengganggu korbannya (utk alasan baik yg dibuat-buat), ketika korban sudah lemah, komunitas kecil yg lainnya membantu si korban dan dipertontonkan deh bantuan mereka kekhalayak ramai. Akhirnya si korban dan masyarakat lainnya pun tertarik utk masuk menjadi bagian aliran tsb. Begitu seterusnya kerjaan dan gaya hidup mereka, sampai yg namanya integritas dan profesionalisme pupus. Komunitas yg terkecil dr mereka adalah keluarga. Disinilah kenapa perceraian sangat mudah terjadi pada aliran sesat. Harusnya mereka sadar, realitas tuh cuma temporer doang, mereka boleh berkoar mereka kuat, kekuatan masa mereka menang, tapi klo mereka menginjak-injak hukum dan aturan agama dan negara, mereka pasti kalah, semua yg membiarkan hal kayak gini terjadi pun terkena imbasnya (ini yg membuat gue gerah).

Pada aliran sesat, realitas mereka dibangun atas dasar kecepatan, kepastian, dan tanpa melanggar hukum. Hal seperti ini agak ga masuk diakal sebenarnya, krn yg cepat biasanya melanggar hukum atau lewat jalan blkg. Yg cepat biasanya minus mengolah dan mengelola sesuatu. Manusia juga kodratnya ga tauk akan hal yg pasti, manusia tuh penuh ketidakpastian. So, supaya realitas tsb masuk akal utk mereka, merekapun dikasih realitas berupa misi, dipuji-puji (dileverage), trus mereka difokuskan pd kekurangan dan kelemahan apapun yg diluar mereka. Dan krn realitas yg idealis dan sempurna tsb memang apa yg mereka inginkan, mereka akan menerima realitas tsb. Surgawi bgt ga sih realitas kayak gitu, cepat, pasti, ga melanggar hukum, misi jelas, dileverage dan mereka cuma hrs fokus pada kekurangan dan kelemahan yg lain. Realitas tsb pun dikomunikasikan searah saja (one direction, broadcast), hanya dari pemimpin ke pengikutnya, bahkan terkadang lewat alam bawah sadar. "Anda pokoknya ga perlu korupsi, mencuri atau tindak kriminal yg lain, semua akan kami sediakan dg cepat krn anda orang baik, tapi anda kerja seperti biasa ya, dan turuti apa yg kami perintahkan." Inilah yg menghancurkan loyalitas, amanah dan tanggung jwb.

Yg namanya gembala tuh pengikut, dan utk aliran sesat mereka ikuti apapun yg di perintahkan, bahkan sampai hal terkecilpun, hal yg berupa keseharian tdk luput dr penggembalaan ini. Ga wajar sebenarnya ketika hal yg personal diputuskan atau dituntun oleh orang lain. Hal yg personal yg menyangkut diri kita, yg menyangkut hubungan kita dg orang lain dan dengan Tuhan YME digadaikan hanya demi sebuah eksistensi dan materi. Ini kemunafikan yg parah sekali. Mereka tanpa ancaman dan paksaan mau disuruh "hey, situ hari ini jam segini sama si ini ke tempat ini ya lakukan ini katakan begini karena begini nih", so mereka akan selalu ada at the right time, at the right place, a right condition for a right cause utk para korbannya. Dan merekapun merasa "right all the time whatever happens". Dan suruhan-suruhan seperti ini adalah bagian gaya hidup yg menunjang penghidupan mereka, dan mereka berfikir mereka orang baik krn semua mereka lakukan utk tujuan yg baik: eksistensi mereka sebagai orang baik. Mereka ga sepenuhnya percaya bhw klo tdk ada cara mudah dan baik seperti ini, mereka tdk dpt eksis sbg orang baik. So, mudah bukan utk menjadi baik dan mendpt kehidupan yg baik, tapi ga semua orang mau hidup dg cara seperti ini, eksis dg cara seperti ini. Terkadang topeng mereka tuh agama mknya nereka kelihatan seperti orang baik-baik, tapi aksi mereka lintas agama. Merekapun makan informasi yg diberikan ke mereka dan mereka bertindak berdasarkan informasi tsb. Mereka tuh seperti latihan makan bara api yg berkobar krn dicekoki fitnah. It's just low, very low, tapi krn hal ini tersembunyi mereka pun asyik-asyik aja membanggakan eksistensi dan materi yg mereka miliki. Harga diri mereka sudah dibarter dg materi. Mengerikan klo membiarkan mereka merajalela krn dijaman modern ini uang memang berbicara lebih banyak dan teknologi bahkan bisa berbicara lebih banyak lagi.

Pembaca blog ini mungkin heran kenapa gue jadi agak obsesi thdp aliran sesat ini. Masalahnya yg namanya aliran sesat tuh banyak korbannya (korban tkdg juga berarti pengikut) dan biasanya perempuan dan anak-anak. Dan terkadang hal seperti ini is a matter of life and death. Mereka melakukan operasi terselubung thdp perempuan, tkdg ngebully perempuan tsb dan usaha mereka tuh sebenarnya utk merubah takdir orang. Mereka sangat aktif dan kelakuan mereka sangat sulit untuk ditindak krn motifnya ga pernah bisa terungkap. Karena hal ini sudah terjadi sepanjang hidup mereka, kesalahan dan tipu muslihat dan kemunafikan selalu berhasil ditutupi, mereka tuh jadi sangat berani, thdp hukum, agama ataupun sesama makhluk Tuhan lainnya. Pada aliran sesat, mental mereka sudah dirubah utk menyepelekan dan meninggalkan amanah (gue udah pernah bahas bgmn hal ini dilakukan pd posting gue: Mengenai Penyesatan bag.3). Amanah seperti suami ke istri, ortu ke anak, dan jabatan, dimainkan hanya utk kepentingan yg dianggap lebih besar, yaitu kepentingan aliran sesat tsb. Gue cuma bisa analisa aja mengenai hal ini supaya bisa diketahui banyak orang sambil berharap ruang lingkup aliran sesat ini tdk semakin membesar. Klo banyak orang yg tauk, mk gerakan mereka akan semakin terbatas. Mungkin yg terbatas ini akan membuat mereka semakin menggila, mengancam kemana-mana, menubruk siapa saja, tapi setidaknya akan lebih banyak orang yg menghadapi kenyataan aliran sesat ini, banyak akan lebih baik dari satu orang bukan? Kita ga bisa ngarepin super hero utk menyelesaikan masalah kita, sementara kitanya sibuk lomba lari marathon, lari dari masalah yg ada.

Akhir kata, gembala aliran sesat seperti sebuah perhiasan dunia yg mendatangkan musibah. Sangat indah tapi menyesatkan. Mentereng, keren, terhormat, tapi ga ada harganya.

------------


Side note:Gue agak heran kenapa orang-orang yg sangat mempercayai eksistensi, selalu menganggap hal yg eksisten bisa dijadikan referensi. Referensi harusnya berasal dari hal yg konseptual, prevail, dan bisa diimplementasikan, dan bukan berasal dari suatu hal yg eksis (seperti orang, institusi, komunitas, dsb). Referensi adalah subjek yg bisa menjelaskan sesuatu sdgkan hal yg eksisten adalah objek yg bisa dijelaskan menggunakan referensi tsb.

Ketika gue menjelaskan dan menganalisa aliran sesat (hal yg eksis dewasa ini), gue menggunakan logika gue yg dibangun berdasarkan pengetahuan agama gue, tapi krn gue ingin tulisan ini netral, gue cuma menampilkan logika gue aja (walaupun tkdg tergelitik juga utk menampilkan dasar agamanya). Yg gue heran adalah ketika orang-orang membedah dan menganalisa agama mereka sendiri, apa dasar referensi yg mereka gunakan dlm membedah agama mereka? Apakah logika mereka yg jadi dasar referensi mereka? Kalau logika mereka yg dijadikan referensi, mk cara berpikir mereka akan tanpa dasar, endlessly looping by itself.
Juga ketika gue menganalisa aliran sesat, rasa-rasanya aliran seperti ini berasal dr orang-orang yg membedah agamanya dan menegasikannya. Kayak ada yg berusaha outsmarting agama mereka utk kepentingan mereka sendiri.

Memang terkadang sebelum bertindak ada baiknya kita bertanya kepada diri kita, "what is my point of reference on doing this action? Is it me, or, is it other, or is it reality that defines me?" Shg kita tidak terjebak pada hal yg terlalu complicated.



Minggu, 27 Juli 2014

Selamat Berlebaran

Selamat Hari Raya Idul Fitri

1435 Hijriyah

Mohon Maaf Lahir dan Batin


Selasa, 17 Juni 2014

Don't Take Things For Granted

Kampanye hitam? Bagaimana dengan pelanggaran-pelanggaran yg cuma berkumandang ketika kampanye doang tapi tidak pernah ditindak ketika berkuasa? (semua pihak sebenarnya sudah pernah berkuasa sblmnya, cuma interface aja yg beda). Bagaimana dengan kebaikan-kebaikan yg terus-terusan berkumandang ketika kampanye berlangsung? Hal-hal ini bisa membutakan masyarakat, terlalu silau shg gelap mata. Ini lebih gelap dari kampanye hitam yg jelas-jelas hitam dan mudah dikenali dan dihindari.


Di masa kampanye seperti sekarang tingkat kesadaran masyarakat seperti sedang diuji. Sekali lagi masyarakat dihujani oleh informasi-informasi yg bisa menggiring masyarakat menjadi judgemental, berprasangka buruk, kompetisi yg penuh intrik sekaligus terbawa oleh janji-janji manis baik dari kandidatnya atau pendukungnya. Padahal masyarakat sebentar lagi harus mengambil keputusan yg penting dlm menentukan arah kemana negara akan dibawa. Di dalam era demokrasi, tanggung jawab dalam menentukan arah haluan negara (gue pakai arah dan haluan karena lebih realistis dibanding masa depan, klo pakai masa depan tuh jadi kayak Tuhan yg bisa aktif menjadi penentu takdir) ditanggung oleh setiap individu warga negara. Ini berarti setiap individu warga negara sepenuhnya bertanggung jawab dalam menentukan arah kemana negara akan dibawa. Masalahnya terkadang orang menyangka bahwa yg demokratis ini sama dengan musyawarah untuk mufakat. Dalam musyawarah semua suara akan terakomodasi dan berusaha dipersatukan dalam permufakatan. Jadi dalam permusyawaratan setiap orang bisa menerima dan belajar dari pengetahuan dan kebijakan orang lain ketika menerima permufakatan, sehingga its okay klo dlm permusyawaratan setiap orang pada awalnya hanya memiliki sepersekian pengetahuan. Tapi dalam demokrasi karena sifatnya yg lebih individual, yang sepersekian pengetahuan ini seharusnya tidak terjadi. Transparansi dan keterbukaan adalah asumsi awal terjadinya  proses demokrasi sehingga setiap individu punya akses pengetahuan yg sama dalam mengambil keputusan. Bahkan demokrasi berasumsi bahwa setiap individu dalam proses tersebut adalah individu dewasa yang mampu mengambil keputusan secara utuh. Secara utuh maksudnya manusia yg dengan intelegensia mereka bisa mempertimbangkan dengan matang segala aspek (percabangan) yang ada dalam pengambilan keputusan. Ini berarti mereka harusnya imun terhadap penggiringan informasi dan pengetahuan kearah tertentu. Mereka harusnya aktif dlm mencari pengetahuan yg relevan utk pengambilan keputusan tersebut. Merekapun harus yakin bahwa suara mereka adalah satu dan bukan sepertigaratusjuta suara. Artinya mereka sadar suara mereka yang satu itu adalah penentu arah kehidupan mereka dalam berbangsa dan bernegara sehingga mereka tidak bisa hanya mendengarkan suara perut mereka saja tapi juga masalah keamanan mereka, kedaulatan mereka. Ga bisa kalau kemudian seorang individu hanya memikirkan aspek kesejahteraan saja dan menyerahkan aspek lainnya pada orang lain. Sehingga klo misalnya yg duaratusjuta pemikirannya seperti ini, hanya kesejahteraan aja yg dipikirkan (krn kemiskinan merajalela ataupun tidak mandiri), maka demokrasi akan mudah goyah dari aspek keamanan dan kedaulatan karena yg menang adalah yg melulu kesejahteraan (urusan perut). Pemilih pada ruang lingkup yg kecil bisa sangat menyadari tanggung jwbnya utk memperhitungkan segala aspek krn aspek-aspek tersebut bersangkutan langsung pada dirinya. Tetapi pemilih pada ruang lingkup yg besar, jauh lebih sulit utk melakukan hal tersebut krn aspek yg seharusnya diperhitungkan tidak secara langsung mengena pada dirinya. Pada ruang lingkup yg kecil, seorang ibu rumah tangga, ketika memilih prt utk keluarganya, dia ga bisa memilih yg paling murah gajinya shg kesejahteraan si ibu ini meningkat. Dia hrs lihat kejelasan keluarga dan asal usul si prt. Klo masalah sifat dan sikap prt, kita jangan terlalu naif, banyak orang bagus diluar, manis tutur katanya, santun bahasanya, lemah lembut orangnya tapi ternyata.... Percaya dengan jaminan keamanan dari si penyalur juga, well, yg namanya jaminan cuma uangnya aja yg balik, resikonya ditanggung sendiri. Ibu rumah tangga tauk klo sembarangan dan percaya-percaya aja maka resikonya harta bahkan nyawa keluarga. Yg namanya keamanan tuh bukan dijamin tapi dijaga. Ujung-ujungnya yah kerjain aja sendiri. Itu ibu rumah tangga yg bertanggung jawab. Ah, itu mah namanya mempersulit diri sendiri, kita mah hrsnya percaya kemudahan datangnya dari Tuhan YME, klo solusi yg mudah ada kenapa hrs mempersulit diri sendiri. Yah masalahnya, klo dari Tuhan YME ya ga mungkin datangnya dari calo, dari perantara orang lain, kemudahan yg dimaksud adalah krn keikhlasan seorang ibu menerima tanggung jawabnya yg berat dan bukan keikhlasan seorang ibu melepas tanggung jawabnya kepada calo. Nah, klo pemilih dimana cakupannya lebih luas, mk tanggung jwbnya pun lebih luas dan besar, resiko pun jauh lebih besar.  Ga bisa kemudian, ah yg penting yg janji proyeknya macam-macam, masalah keamanan nanti bayar uang keamanan aja, beres. BERES! Pada ruang lingkup seperti negara, kasus seperti lepasnya timor-timur, sipadan ligitan,  dan penjualan indosat dari tangan RI harusnya jadi bahan pertimbangan yg menyangkut aspek kedaulatan (coba diingat di zaman siapa kita kecolongannya). Sementara dari aspek keamanan dan kebebasan warga negaranya, RI selalu punya catatan kelam, bahkan sampai sekarang. (Gue aja heran, ditengah maraknya pembunuhan sadis, penembakan disiang bolong dll, yg terjadi baik diluar atau didalam negeri, kok ada pemimpin yg terlihat santai dan aman-aman saja. Ironis). Aspek-aspek ini penting utk dipertimbangkan dan bukan melulu yg berhubungan dengan uang seperti korupsi, upah, investasi, dan segala janji-janji gratisan. Hati-hati dengan penggiringan informasi yg hanya mementingkan kesejahteraan saja, janji semua gratisan tapi tanah, bumi dan aset kita hilang satu persatu.

Peradaban kita dibangun atas asumsi-asumsi yg hrs dijaga. Baik itu sistem pendidikan, pemerintahan ataupun perekonomian. Asumsi harus dijaga krn klo tidak terjaga bisa menghancurkan bangunan yg berdiri diatasnya. Bangun mall misalnya, asumsinyakan mall tersebut untuk tempat berbelanja dan makan, ketika pengunjung mall tersebut lebih banyak yg nongkrong doangan maka tutuplah mall tersebut. Makanya ketika mendirikan mall, sideveloper harus yakin apakah asumsi tersebut bisa dijaga. Asumsi-asumsi ini ada di setiap sistem yg dibangun. Pemerintahan yg demokratis berasumsi bahwa setiap rakyat punya independensi, kebijaksanaan dan kedewasaan dalam sistem yg transparan. Begitu juga dengan sistem pendidikan kita, ada asumsi yg juga harus dijaga bahwa sistem penilaian adalah cukup utk mendukung pendidikan sekolah tapi tidak bisa mencakup semua faktor dalam diri anak sehingga dibuat batasan 12 thn untuk menjaga asumsi kecukupan tersebut.

Asumsi-asumsi ini kalau tidak disadari sepenuhnya rawan akan penyelewengan dan dpt dimanfaatkan oleh sebagian orang. Ketika banyak orang yang karena kenaifannya atau ketidakmandiriannya, atau sifat ignorance mereka, berasumsi bahwa mereka sudah mendapat informasi yg sebenar-benarnya dan transparan padahal ada sebagian dari mereka yg secara aktif mengunci, menggiring, menutup informasi pada yg berhak mengetahuinya, maka rusaklah asumsi tersebut. Sebagian orang yg lebih tauk ini akan bisa menari-nari dg kebebasan yg mereka miliki, menabrak batasan-batasan yg ada, diatas ketidaktaukan orang lain. Belum lagi tingkat rasional orang yg berbeda-beda (krn perbedaan pendidikan dan kemampuan) atau tingkat strata dimasyarakat yg berbeda-beda (akibat kedudukan dan kesejahteraan yg berbeda) sehingga kerawanan akan penyelewengan bisa terjadi. Egoisme dan demi kepentingan pribadi adalah kelemahan manusia yang ada dan akan selalu ada. Dengan keegoisannya, orang yg lebih pintar akan merasa lebih mampu untuk mengunci informasi kepada yg lain krn mereka merasa lebih mampu mencerna informasi tersebut daripada yg lain. Begitu pula orang yg merasa lebih bodoh, karena keegoisannya mereka akan pasrah saja dibodohi krn membutuhkan momongan dr orang lain. Opposite attract. Lalu ada pula orang yg ditengah, yg super egois, mau dibodohi krn membutuhkan momongan orang lain, tapi kemudian membodohi sebagian yg lain dengan mengunci informasi dan kongkalingkong main belakang. Split personality. Mereka yg ditengah ini orang pintar yg pura-pura bodoh, atau orang bodoh yg pura-pura pintar, entahlah. Yg lebih sejahtera dan yg kurang sejahtera pun begitu, idem dito. Merekapun menjadi masa mengambang. Ditengah jargon keterbukaan dan transparansi, hal yg mereka percayai dan jalankan lain. Level tanggung jawab akan sangat sangat rendah dan kecil sekali krn apa yg sesungguhnya mereka lakoni tdk pernah terlihat bentuknya, bahkan bentuk yg tampak diluar bisa 180 derajat bedanya. Mereka menari diatas asumsi demokrasi yg ada yaitu keterbukaan. Demokrasi pun rusak. Bahkan yg aktif bicara rusaknya demokrasi ternyata aktif pula merusak demokrasi memanfaatkan dangkalnya pola pikir yg ada.

Lalu apakah demokrasi berasumsi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut harusnya tidak ada? Tidak. Perbedaan didalam demokrasi ada tapi hak dan kewajiban setiap individu  yg disamakan, diharapkan pula kedewasaan individu menyikapi perbedaan tsb. Klo perbedaan ga ada namanya jadi sosialis.

Gue rasa Indonesia dengan dasar negara Pancasila tidak sesuai dengan demokrasi yg kebablasan menjadi sosialis. Kebablasan? Ya, misalnya dengan menghapus perbedaan tersebut sehingga semua sama, sehingga toleransi tdk dibutuhkan lagi. Utk jelasnya bgmn perbedaan tsb berusaha dihilangkan, gue akan analogikan bangunan demokrasi dengan sebuah mall yg megah biar lebih mudah neranginnya. Asumsi ketika dibangun mall adalah pengunjung datang untuk berbelanja. Ketika pengunjung datang cuma utk windows shopping apakah hal tersebut perlu ditindak? Apakah perlu pihak mall menyuruh orang utk melakukan tindakan seperti menggiring atau membullying pengunjung yg cuma windows shopping sehingga asumsi mall bisa tercapai? Sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara pengunjung? Padahal pengunjung yg cuma windows shopping sudah melakukan kewajibannya (dalam konteks mall) misalnya seperti bayar parkir, tdk buang sampah sembarangan dll. Masalah dia mau memakai hak dia atau tidak utk berbelanja sebenarnya terserah si pengunjung. Ketika kemudian ada spg yg belingsatan supaya pengunjung membeli bukankah hal ini mengesalkan sekali, apalagi klo sampai si spg kurang ajar sehingga norma dan nilai yg umum didalam mall bahwa kastemer adalah raja dilanggar, bahkan nilai dan norma yg cakupannya lebih umum lagi pun dilanggar, seperti kita hrs menghormati sesama misalnya. Bahkan utk mendapat alasan dalam melakukan pelanggaran, pihak mall pun mengobok-obok kewajiban yg dilanggar si pengunjung diluar konteks mall. Akhirnya si spg mendapat info dr pihak intel mall, bahwa si pengunjung yg cuma windows shopping tadi menerabas lampu merah waktu mau belok ke arah mall . Dan akhirnya si spg berubah menjadi polisi lalin yg merasa berhak menindak si pengunjung. Terjadilah pelanggaran yg lebih berat lagi yg dilakukan spg yg merasa sdh mendpt justifikasi akan tindakannya thdp pengunjung. Apakah bisa kemudian pelanggaran si spg disalahkan pada pengunjung tersebut yg sebenarnya korban pihak mall? Ah, abisnya si pengunjung keras kepala tdk mau beli kata si spg, atau ah, kita kan tdk bisa baca pikiran dia jadi kita tidak tauk bahwa perbuatan kita mengganggu. Baca pikiran orang, wow, rasional sekali cara pikir spg ini ya, sangat rasional tapi tidak cukup dewasa utk menggunakan batasan-batasan yg ada. Akhirnya si spg tadi mendapat kenaikan gaji dan jabatan krn misi bantuan sosialnya utk menyadarkan pengunjung yg cuma windows shopping sudah sukses.

Semua pelanggaran dr pihak Mall dilakukan ketika pengunjung yg lain tdk tauk apa yg terjadi dengan pengunjung lain yg cuma windows shopping. Mereka sibuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yg bisa diberikan oleh pihak mall, sementara pihak mall mengunci informasi. Mereka tidak tauk bahwa ada hal yg tdk tertulis yg berusaha dipaksakan oleh pihak Mall. Ada hal yg tidak jelas dilakukan oleh pihak Mall. Hal yg tdk tertulis bahkan diluar konteks utk memenuhi asumsi mall tersebut yg kita tauk sudah bablas, yaitu jangan ambil kesempatan masuk ke mall ini klo ga punya kemampuan (atau keinginan) utk membeli (secara umumnya, jangan mengambil kesempatan klo kita tidak punya kemampuan dan keinginan yg mendukung). Hal seperti ini menyangkut perbedaan diantara pengunjung. Pihak mall mungkin bisa berkelit bhw mereka menjunjung tinggi toleransi thdp perbedaan dengan melindungi orang-orang yg berbeda, yg nyeleneh, yaitu orang-orang yg mau melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam sebuah sistem demi eksistensi dari sistem tersebut. Inilah paham sosialis dan sedikit komunis yg bisa terbaca dari perilaku mereka.

Sebentar, dalam konteks mall apakah hanya penyelenggara saja yg dpt merusak sistem yg ada di mall tersebut? Tidak. Kastemer mungkin ada yg mengetahui apa yg dilakukan pihak mall, tapi akibat pendewasaan dengan negative feedback, mereka merasa hal ini perlu utk dilakukan. (Pendewasaan dg negative feedback yg ada ditulisan gue sblmnya menganggap orang yg tidak berfeedback negatif adalah orang yg tidak dewasa sehingga tidak perlu diperhitungkan. Masalahnya, orang dengan negative feedback tidak memiliki sense negatif pada hal yg negatif. Mereka berpikir hal yg negatif adalah hal yg lumrah terjadi sehingga yg negatif pun dianggap biasa saja, bahkan bisa menjadi positif (ada paradoks disini, bahwa feedback negative justru menghasilkan persepsi yg melulu positif). Logika berpikir pun akhirnya rusak krn cara pikir menjadi seperti jalan tol, tidak ada lagi kanan dan kiri (positif dan negatif). Semua yg didepan, yg eksis dan kelihatan oleh mereka adalah positif, sementara yg dibelakang adalah hal yg sudah tidak eksis lagi, hal yg mendapat umpan balik negatif. Pada suatu titik mereka bahkan meyakini bahwa hal yg tidak eksis adalah hal yg seharusnya ditolak. Ini makanya mereka sangat mudah menerima yg eksis tapi menolak hal yg dianggap tidak eksis. So, pengambilan keputusan didasarkan pada apa yg eksis dan tidak eksis, bukan positif dan negatif. Sehingga hanya keputusan ya dan tidak yg dihasilkan tanpa penindakan lanjutan. Padahal ketika kita bertemu dg hal yg negatif seharusnya ada hal lain yg perlu dilakukan (penindakan sesuai aturan yg berlaku) dan bukan cuma melabelkannya sebagai tidak eksis. Bahkan dengan logika seperti ini hal yg sebenarnya positif tapi tidak eksis akan mereka tolak (bahkan mendapat penindakan dg temporarily melebarkan konteks permasalahan), sementara hal yg negatif akan mereka terima selama yg negatif tersebut tidak eksis (tdk tampak dipermukaan). Ini artinya mereka akan bisa sejalan dengan suatu masalah selama masalah tersebut tidak terlihat (tidak eksis). Merekapun sangat mudah menerima hal yg baru hanya karena eksistensi dari hal yg baru tersebut. Lemparkan saja solusi, kesempatan, informasi, dll didepan muka mereka dan mereka akan terima hal tsb selama hal tsb dianggap eksis. Mereka akan jadi pengikut sejati hal-hal yg eksis. Ketika mereka dihadapkan pada kegagalan akibat aktivitas mereka, mereka akan menggunakan apapun mekanismenya utk membuat kegagalan tsb tidak eksis (menutupinya). Singkat cerita, pada pendewasaan berfeedback negatif, pada setiap decision making, logika berpikir yg harusnya terdiri dari positif dan negatif, kanan dan kiri, menjadi logika positif yg menilai apapun yg didepan mereka sbg eksis dan tidak eksis, logika 1 (eksis) dan 0 (tdk eksis). Logika 1 dan 0 ini ada diwilayah positif krn 1 dan 0 memang nilainya positif. Disini perilaku yg mereka tunjukkan adalah perilaku get and give. Mereka akan ambil apa-apa yg (dianggap dan diinginkan) eksis, dan melempar hal-hal yg (dianggap dan diinginkan) tdk eksis. Akibatnya hanya ada pertambahan dari keputusan yg mereka ambil krn 1 dan 0 memang tidak pernah bernilai negatif. Makanya mereka akan terus bergerak maju, tanpa bisa melihat persimpangan krn sense negatif sudah ga ada. Jangankan belok, berhenti pun tidak ketika ada hal yg negatif. Bahkan mereka melihat yg negatif sbg hal yg positif klo didukung atau mendukung hal yg (dianggap) eksis. Permasalahan/problem adalah tidak eksis, sementara saya adalah eksis, krn saya dan permasalahan ada diwilayah yg sama yaitu positif, maka saya berdiri diatas permasalahan yg ada. Selama saya bisa memanipulasi permasalahan shg menjadi tdk eksis, saya akan terus bisa eksis, kita semua bisa eksis, jadi ayuh ramai ramai kita tutupi (naungi) permasalahan yg ada. Klo dia adalah bagian dari permasalahan mk dia tidak eksis. Mereka seakan-akan setuju bahwa ketika permasalahan menjelma menjadi hal yg eksis maka saat itulah mereka sudah tidak eksis lagi. Persetujuan seperti inilah yg berbahaya krn permasalahan yg cuma dianggap tidak ada sebenarnya terus berkembang krn dinaungi (ditutupi). Pada pendewasaan berfeedback negatif mereka tidak akan terganggu oleh hal yg negatif (masalah) tp mereka akan terganggu ketika ada hal yg mengganggu eksistensi, mengganggu hal yg dianggap eksis. Logika berpikir seperti ini kemudian akan menjadi sangat kuantitatif krn nilainya semua positif. Logika seperti ini tidak kualitatif krn ketika keputusan berpatokan pada hal yg eksis atau tidak eksis, prior knowledge akan tidak diperlukan lagi. Mereka cuma berpegangan/mengikuti apa yg saat itu eksis saja. Pada logika yg mengalami pendangkalan seperti ini, penilaian hal-hal yg konseptual dan mendasar seperti agama, dasar negara, dll menjadi sangat kuantitatif, bahkan menjadi objek penilaian yg kuantitatif sehingga akhirnya implementasinya pun jadi cuma hal yg klise, hanya dipakai untuk mendukung eksistensi mereka. Agama misalnya, mereka hanya dukung agama tsb hanya krn agama tsb punya eksistensi dimasyarakat. Untuk mereka hanya sesuatu yg mendukung eksistensi saja yg bermakna dlm hal yg konseptual. Padahal semenjak agama diturunkan, manusia menyadari bahwa ada hal-hal yg jauh lebih penting dari eksistensi mereka. Ada hal-hal yg wajib mereka pertahankan bahkan dengan mempertaruhkan eksistensi mereka. Hal-hal yg hrsnya dibela dg mempertaruhkan eksistensi mereka, sekarang malah dibalik, hal-hal tsb dipertaruhkan untuk membela eksistensi mereka. Gue melihat paradoks disini. Nah, bukan hanya utk hal yg konseptual saja pengaruh yg signifikan dari logika ini, tapi juga utk hal yg "dimarjinalkan" di masyarakat seperti perempuan dan anak-anak. Yg marjinal sering kali dianggap tidak eksis. Masalahnya, sampai seberapa jauh yg marjinal ini hrs dieksploitasi untuk merubah anggapan tersebut. Apakah anggapan tersebut ternyata jauh lebih penting daripada kaum yg marjinal-nya itu sendiri. Ketika anggapan tsb jauh lebih penting maka makna perempuan dan anak-anak hanya akan sebatas eksistensi mereka saja, sehingga hanya ketika seorang perempuan/anak mendukung eksistensi atau didukung oleh suatu eksistensi saja dia akan bermakna. Selain daripada itu, tidak. Eksploitasi perempuan dan anak-anak pun terjadi dan dianggap positif hanya krn eksploitasi tsb mendukung eksistensi. Hal ini akan gue bahas dilain posting, sekarang cukup disini dulu, lanjut ke topik awal). Kastemerpun bisa turut aktif membantu pihak mall mengganggu si pengunjung demi tercapainya asumsi tersebut. Mereka tidak sepenuhnya independen, they have common ground, yaitu eksistensi mall tersebut. Sama seperti si spg, merekapun melebarkan sayap mereka secara temporarily utk bisa aktif mendukung eksistensi mall. Patokan mereka adalah hal yg eksis, sehingga ketika dihadapkan dan dibandingkan dengan eksistensi mall, hal-hal lainnya seperti pengunjung mall tsb menjadi dianggap tidak eksis. Mereka akan bertindak diluar konteks mereka sbg kastemer. Atau mereka bisa pula mendukung secara implisit aktivitas mall, seperti ketika mereka mengetahui kesulitan yg dihadapi pengunjung lain, mereka malah menyuruh pengunjung yg cuma windows shopping tersebut membuat buku dan cerita mengenai beban dan derita hidup yg dia hadapi di mall ini sehingga buku tsb bisa dijual di mall sebagai sebuah kontroversi. Disini terlihat logika kuantitatif bahwa masalah (kesulitan pengunjung lain) dianggap tidak eksis, mereka akan full denial akan apa-apa yg dianggap tidak eksis. Lalu muncul solusi atas hal yg tdk eksis tersebut yaitu mentransformnya menjadi hal lain yg eksis, yaitu buku tadi, supaya orang bisa belajar. Dan apa yang orang bisa pelajari? Yg mereka pelajari adalah jangan ke mall tsb klo ga mau belanja. Hilanglah satu kebebasan yg dimiliki pengunjung diganti oleh norma baru yg mereka pelajari. (Permasalahanpun dianggap nothing, tdk eksis, shg merekapun bisa aktif membuat masalah baru). Moralitas pun hancur tdk berbekas.

Kastemer juga bisa jual buku cara-cara asyik belanja di mall, utk mendukung aktivitas mall tersebut. Akhirnya saking asyiknya mereka melakukan aktivitas mereka, mereka tdk sadar klo salah satu pengunjung yg cuma windows shopping yg mereka jahili adalah anak dari pemilik mall yg juga developer dan pemilik tanah seluruh kompleks di mall tersebut. The lack of respect and their denial untuk hal-hal yg dianggap tdk eksis, pada akhirnya memunculkan suatu kegagalan. Ketika kegagalan seperti ini yg mereka hadapi, mereka akan buka semua possibility yg ada utk menutupi kegagalan mereka. Ibaratnya keran, semuanya dibuka, mereka akan bisa menenggelamkan semua yg ada dengan aliran air yg melimpah. Oh...noooo, the drama, dan terjadilah apa yg kemudian terjadi, the drama. Okay cerita yg terakhir ini mungkin cuma karangan gue aja, atau karangan orang lain, tapi gue harap intinya jelas mengenai bangunan mall ini.

Satu hal lagi dari pemikiran sosialis (sedikit komunis), ketika seorang pengunjung datang ke mall tersebut, dia punya hak yg sama utk membeli barang yg ada di mall. Tapi hak membeli ini dibatasi oleh kemampuan dia utk menggunakan haknya tersebut. Kemampuan seseorang adalah apa yg dia miliki. Seseorang tentu bisa meningkatkan kemampuannya tapi dengan fasilitas dan legalitas yg jelas. Klo di mall dia bisa pake atm misalnya. Masalahnya orang dengan pemikiran sosialis terkadang berpikir bahwa hak membeli yg sama berarti kemampuan utk menggunakan hak tersebut harus disejajarkan, hrs secara kuantitas sama. Sehingga ketika dia masuk ke mall dan dia melihat pengunjung lain yg lagi berbelanja, dia akan menggunakan nalurinya dan berpikir kalau dia harus bisa dan mampu membeli barang tersebut sama seperti pengunjung yg lain. Akhirnya karena terdorong akan tuntutan penggunaan hak yg sama tersebut, dia pun mau menggunakan cara-cara yg tidak legal dan tidak jelas. Keadilan yg menganggap penggunaan hak secara kuantitatif dan kualitatif harus sama, bukanlah arti adil yg sesungguhnya. (Perempuan banyak terjebak pada naluri seperti ini). Akhirnya degradasi moral terjadi krn setiap orang mengejar kemampuan membeli barang yg ada di mall tsb krn mereka merasa mereka memiliki hak membeli tsb. Naluri seperti ini adalah "the red gem" dari pergerakan sosialis dan komunis. It's the heart of socialism and communism that will destroy the liberty. Harusnya kita ingat peribahasa yg mengatakan "tak akan lari gunung dikejar". Untuk apa mengejar sesuatu yg secara kuantitatif sudah fix. Klo dilihat dr cerita mall ini mk keaktifan "the red gem" bahkan sampai pada mengejar-ngejar, dengan berupa ilusi, gangguan, persekongkolan dan godaan, kepada orang yg tidak mengejar gunung agar berubah haluan mengejar gunung. Ilusi (misalnya dengan membuat seakan-akan gunung bisa lari menjauh), gangguan, persekongkolan dan godaan seperti inilah yg merusak kebebasan setiap individu. Nah cerita diatas adalah analogi jadi bukan cerita mall beneran. Di mall ga ada cerita ginian, cuma analogi aja supaya lebih mudah gue neranginnya.

Bangunan mall bisa diruntuhkan krn ga ada kastemer yg beli seperti juga sistem yg runtuh krn ga ada lagi orang yg percaya pada sistem tersebut. Dan seperti juga sebuah sistem, bangunan mall juga bisa runtuh krn degradasi moral oleh orang-orang yg ada didalamnya. Ketika bangunan mall runtuh akibat ga ada yg beli, setidaknya orang-orang tsb bisa menggantinya dengan membangun bangunan lain, seperti pasar tradisional misalnya. Tapi ketika mall tersebut runtuh krn degradasi moral, apa yg bisa dibangun diatas runtuhan tsb akibat sumber daya yg rusak.

Hak yg kita miliki sebagai manusia memang tidak ada yg boleh mengganggu gugat, tapi dengan peradaban yg kita junjung tinggi harusnyalah kita sadar klo hak ini dibatasi. Hak hidup misalnya, setiap manusia punya hak hidup tapi klo kita WNI dan hidup dinegara lain, hak hidup kita dibatasi oleh surat perijinan. Klo ijin udah habis ga bisa lagi hidup dan tinggal disana, hrs pulang. Sewaktu gue sekolah di Chicago (tempatnya mafia amrik jaman dulu), gue lihat tingkat kesejahteraan dan keteraturan masyarakat yg tinggi. Pas balik kesini (gue cuma dua thn disana ga selesai sekolahnya), yah balik dengan kesemrawutan dan hiruk pikuk beragam strata masyarakat...dan bajaj. Gue bingung ketika ada pemikiran kita akan disamakan dg negara maju. Jujur aja, mereka pakai otak, kita masih pakai dengkul. Gue cari nomor rumah disana gampang banget, setiap blok udah ada range penomorannya, tinggal hitung blok aja. Disini, kita harus muter-muter nanya sana sini. Sistem pendidikan juga disana bagus bgt, semua yg dibutuhkan udah disediakan. Gue aja sampai kayak orang norak disana karena ga nahan sama fasilitasnya yg berlimpah dan bersihnya itu lo! Mereka juga sangat tepat waktu. Ketika mereka sudah menemukan dan menciptakan sesuatu, kita masih mondar-mandir cari informasi atau berharap ada informasi jatuh dari langit biar kita bisa menciptakan sesuatu. Masih jauhlah klo kita mengharap kesamaan tsb.
Dr segi pertahanan keamanan aja kita tdk mampu utk disamakan, dr segi sumber daya apalagi, kemampuan mengolah, memanage sumber daya, mereka jauh diatas kita. Kenapa kok kita mau jadi sejahtera (secara kuantitatif) kayak mereka, punya fasilitas kayak mereka. Klo minjem cara berpikir orang sosialis, maka klo kita ingin kesejahteraan, fasilitas, dll disamakan dg mereka, apakah kita juga siap dianggap sama dari segi pertahanan keamanan dan sumber daya? Hal-hal seperti ini gue kemukakan supaya kita ga mudah terbujuk mengambil kesempatan (proyek) yg ada tanpa tauk siapa yg memberi kesempatan tsb, apa paham, prinsip yg mereka anut. Janji-janji proyek yg banyak, aliran uang yg berlimpah (yg memang bukan milik kita), jaminan keamanan, hrs bisa disikapi dg bijak.

Seperti yg pernah gue tulis sebelumnya mengenai kesempatan, kesempatan tuh ga punya kaki, jreng... tiba-tiba muncul, jreng...tiba-tiba hilang, jreng ...tiba-tiba lompat. Lain sama jabatan yg harus merangkak naik utk sampai ke posisi tertentu dan punya tanggung jawab. Resistensi utk penyelewengan tetap ada ketika orang mempunyai jabatan krn dia bisa dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawabannya. Kesempatan yg tanpa kekuasaan dan jabatan biasanya sangat rakus. Apalagi ketika orang-orang yg biasanya berkuasa kmdn tidak lagi berkuasa, dia akan ambil apapun kesempatan yg datang utk mempertahankan posisinya. Ibaratnya gajah yg biasanya duduk manis menunggu kelapa jatuh. Ketika dia terusik dan ga bisa duduk manis lagi, itu pohon kelapa bisa kecabut sampai keakarnya klo gajah tersebut menginginkan kelapanya. Diposting gue sebelumnya gue pernah cerita soal gajah dan semut. Its just not wise utk membiarkan gajah senada seirama dg semut menggunakan hanya bahasa universal (money).

Hal ini juga berlaku utk sesuatu yg masif dan besar kayak gajah. Apalagi klo yg masif itu bernuansa negatif, dilepas dari lokalisirnya, dari jatidirinya yg negatif, padahal keran semuanya dibuka sehingga mengalir semua pengaruh dan hal dari luar. Nah yg masif dan negatif tersebut yg sudah lepas bebas ini kayak mendapat angin segar dr pengaruh luar yg negatif utk menjadi besar, bahkan tanpa jejak dan tersembunyi bercampur baur ditengah degradasi moral yg terjadi tanpa resisten berarti. Yg namanya menjadi bijak sehingga bisa menelurkan kebijakan, bukanlah dengan satu kaki dibenamkan ke lumpur dan satu kaki dibenamkan ke air surga. Lalu yg diperlihatkan cuma kakinya yg bersih yg berbau surga sehingga menghilangkan resisten yg ada. Menghilangkan sesuatu yg negatif harusnya dengan melakukan penindakan sesuai dengan hukum yg berlaku, bukan dengan hanya menghilangkan labelnya, menurunkan plang namanya, menghapus eksistensinya. Tanpa penindakan tidak akan ada resistensi di dlm masyarakat akan hal yg negatif. Begitu juga dengan yg namanya komunisme, yg merupakan sebuah paham yg berakar dari pandangan materialistis seseorang. Klo dari pandangan gue yg sebenarnya awam (bkn bidang gue sebenarnya masalah kayak gini, tapi semenjak gue menganalisa aliran sesat gue hrs melirik definisi dr paham ini yg menurut gue punya kemiripan dg paham di aliran sesat) komunisme ini paham yg memaksakan fleksibilitas untuk memenuhi rasionalitas mereka terhadap hal yg sifatnya materi dimana fleksibilitas ini membebankan entitas lain atau sistem. Yg namanya paham tidak bisa dihilangkan begitu saja, akan selalu ada dan tetap ada. Laten, bisa tumbuh dan berkembang tanpa embel-embel dan label tertentu. Ingat klo di Indonesia paham ini pernah punya pengaruh dan masa yg sangat besar dan asalnya dari rakyat. Dan cuma pernah di Indonesia yg agamis bisa bergandeng tangan dengan komunis. Yg membuat gue prihatin ketika gue melihat video (ada di channel youtube gue, dislike 3) sebuah institusi di Bandung yg jauh dari kewajaran. Jelas ada atheisme disitu, tapi gue juga melihat bibit paham merah yg justru lebih berbahaya krn pd paham tsb selalu disertai dg aksi dan perbuatan (mereka berorasi) secara bersama-sama. Ada fleksibilitas yg dipaksakan demi tuntutan eksistensi mereka (eksistensi=materi) yg akan membebani sistem krn mereka adlh orang-orang yg membawa embel-embel agama. Padahal agama itu hal yg mendasar, pada sesuatu yg bersifat materi pun agama sangat strict, jauh dr fleksibilitas. Kenapa yg membawa embel-embel agama ini menjadi sangat fleksibel dan kenapa yg seperti ini luput dr pengetahuan masyarakat dan media, shg masyarakat tdk tauk apa yg sedang berkembang ditengah-tengah mereka. Sebegitu besarnya kah masalah ini sampai tidak ada yg mampu utk mengeksposnya. Klo dari contoh bangunan mall karangan gue, bibit paham komunis terlihat dr tindakan dan perbuatan mereka yg tidak wajar dan membedakan terhadap seorang pengunjung demi tujuan mereka yg dilakukan secara bersama-sama. Tidak wajar karena perbuatan mereka ga ada dasarnya, makanya mereka hrs tutupi apa yg sdh mereka lakukan ke korbannya. Mereka fleksibel krn hanya melebarkan sayap mereka pada orang-orang tertentu saja. Herannya mereka melihat perbuatan mereka sbg hal yg wajar hanya krn adanya eksistensi yg mendukung perbuatan tsb. Sama sekali tidak ada resistensi akan ketidakwajaran yg terjadi. Makanya kita harus selalu mendidik dan mengajarkan masyarakat akan bahaya dari paham tersebut, apa arti dari paham tersebut, supaya ada resistensi terhadap paham tersebut. Bukan dilepas begitu saja ditempa pengaruh luar.

Resistensi itu perlu dalam sebuah sistem supaya tidak bablas, apalagi utk yg segede gajah. Orang yg idealis akan selalu tergiur oleh hal yg baru yg minim resistensi. Yg minim resistensi hrsnya perlu dicurigai krn hal yg tdk real, tdk nyata, biasanya minim resistensi, melayang dg berbagai macam jaminan. Harusnya mereka sadar klo mereka tidak perfect. Mereka pikir mereka perfect shg tidak membutuhkan resistensi. Percayalah, sirkuit listrik aja bisa short klo ga ada resisten.

Balik ke masa kampanye, di masa kampanye seperti sekarang, banyak janji dan kesempatan manis yg ditawarkan baik secara terbuka atau individual. Gue bahkan denger ada yg janji bhw aliran dana akan masuk dengan derasnya klo si ini maju. Well gue rasa yg kayak gini pasti janji kampanyenya penuh dengan proyek, proyek besar akan ada dimana-mana. Duh masa milih pemimpin yg mirip calo proyek sih. Uang is a universal language, semua paham akan arti uang bahkan anak kecil sekalipun. Tapi anak kecil ga ngerti ilmu ekonomi. Anak kecil ngertinya klo harga permen naik artinya uang jajan harus naik, udah. They take everything for granted. Mereka ga ngerti kalau inflasi atau kenaikan harga barang dan penurunan nilai tukar Rupiah bisa terjadi akibat pengeluaran uang yg berlebihan apalagi larinya ke LN. Bedanya anak kecil dan orang dewasa, orang dewasa bisa mencari tauk mengenai hal ini. Orang dewasa bisa mengetahui bahwa indikator terpenting dari perekonomian negara adalah yg dua itu, inflasi dan nilai tukar rupiah, bukan hanya konsumsi dan investasi masyarakat. Kebijakan seperti pengurangan subsidi bbm dan konversi minyak tanah yg katanya utk mengurangi beban negara (dan menambah beban rakyat) ternyata tidak berpengaruh pada tingkat inflasi dan nilai tukar. Belum lagi pajak yg katanya akan ditingkatkan pendapatannya. Lalu kemana larinya uang hasil penghematan tsb klo kmdn rakyat masih tetap dibebani oleh indikator yg kata ahli ekonomi bagus tsb. Hemat berartikan harusnya kita lebih stabil, tapi kok malah inflasi  dan penurunan nilai tukar yg kita dapatkan? Tapi memang ditengah konsumsi dan investasi yg tinggi, banyak masyarakat seperti tdk sadar klo mereka sedang digerogoti. Oleh pembodohan publik ataupun indikator yg katanya bagus tsb.

Gue ngerasa di masa kampanye ini informasi terutama dr media tdk ditampilkan secara utuh. Ada rekam jejak yg diekspos habis-habisan dan ada yg ditutupi. Ketika gue cek rekam jejak salah satu capres, ada beberapa hal yg tdk pernah terekspos. Pada capres nomor urut dua, dia sudah berganti nama, nama masa kecilnya berbeda dg yg sekarang. Itu yg gue baca dr wiki. Apakah itu artinya semua ijazah yg dia pegang beserta akte kelahiran tdk menggunakan nama dia yg sekarang? Ini penting soalnya gue aja klo ngelamar pekerjaan semua ijazah hrs lengkap, beda nama dikit aja gue sudah dicurigai. Apalagi ini jabatan yg teramat penting di negeri ini. Satu hal lagi, klo dia berhasil jadi presiden nantinya, ini berarti dia sudah dua kali meninggalkan posisi dia kepada kelompok minoritas. Ketika dia meninggalkan Solo, dia meninggalkannya kpd wakilnya yg beragama kristen, sementara di Jakarta dia akan meninggalkannya kpd Ahok yg merupakan warga keturunan. Ini agak jarang ditanah Jawa bahwa pucuk kepemimpinan dipegang oleh minoritas. Dua kali bisa disebut sbg sebuah "prestasi" di negeri ini, bahwa ada kesetaraan, walaupun agak kurang fair krn harusnya hal tsb hasil dr pemilihan warganya. Yg tidak fair tdk pantas disebut prestasi.

Anyway, bicara soal dua kali, gue jadi ingat pepatah orang luar yg mengatakan "once is happenstance, twice is coincidence and third is enemy action". Ini artinya situ ngundang serangan musuh siluman klo sampai suatu hal terjadi dua kali. Musuh siluman tdk terlihat, yg tdk terlihat tdk bisa dilawan, you just simply cannot win. Negeri ini terbukti bisa menang melawan musuh yg kelihatan, Portugis, Belanda, Jepang, komunisme, diktator(bkn musuh sebenarnya tp produk ignorance kita bersama dan kita sdh buat sistem yg bagus utk menangkalnya skrg), butuh pengorbanan dan waktu yg panjang, tapi kita hadapi semuanya. Cuma nyawa yg dipertaruhkan. Nah klo musuh yg ga kelihatan, semua kita pertaruhkan pun kita tdk akan menang. Ketika dasar negara Pancasila, agama dipertaruhkan, kita akan berada diujung tanduk. Its next to nothing.

Tulisan gue cuma berupa analisa dan pendapat aja, bkn hal yg besar dan gede menurut gue. Tulisan ini juga bukan postulat yg biasanya ditulis oleh orang yg punya gelar yg gede. Ini cuma sebuah tulisan yg mungkin bisa diterima dan mungkin juga nggak. Bukan juga sebuah kedudukan dan jabatan yg gede, uang yg gede, proyek gede, profesi gede, bahkan impian yg gede dll yg gede-gede yg mungkin sangat sulit utk ditolak. Klo dianggap gede, mungkin karena yg seadanya cuma terlalu besar utk muat dikepalanya yg sudah kepenuhan oleh yg gede-gede kayak gelar, harta dan kedudukan.

Tulisan gue juga cuma berupa common sense aja bukan hal yg hebat seakan-akan gue tauk segalanya, tauk bgmn dunia ini berputar sehingga merasa mampu dan berani menerima apapun fasilitas, misi, informasi dan kesempatan yg ditawarkan, yg diberikan, yg ditampilkan. Mereka yg menerima dan menerima melakukannya dengan asumsi mereka tauk hal tersebut untuk apa. Padahal ketika menerima sesuatu, mereka juga memberi sesuatu yaitu kebebasannya dan terkadang kebebasan orang lain.

Tulisan ini juga terbuka dan apa adanya, tidak seperti sebuah lakon, sandiwara, kebohongan publik, persekongkolan atau konspirasi yg menganggap manusia tdk equal sehingga yg satu lebih tauk dr yg lain. Walaupun akhirnya yg lebih tauk dari yg lain ini nyatanya tidak tauk apa-apa dan menyebabkan yg lain yg mereka anggap ga tauk terseret dalam dunia kegelapan akibat persekongkolan yg mereka lakukan. Tulisan ini cumalah common sense yg biasa dimiliki oleh orang kebanyakan (terutama yg belum silau oleh mudahnya kesempatan-kesempatan emas). Seperti perkataan "Don't take things for granted" yg hanya sebuah common sense dan bukan ungkapan yg sok tauk kepada "dia" yg belum tauk.

Ah iya gue masih belum menyelesaikan tulisan gue "Mengenai Penyesatan bagian  3". Hal-hal yg tragis bisa terjadi ketika menaruh perantara sebagai seorang pemimpin. Pada hakekatnya perantara menempati tempat diantara dua hal yg jelas batasannya dan dia akan lebih menginginkan tempat tersebut tersembunyi. Tapi ketika batasan sdh tidak jelas lagi maka si perantara akan menjelma menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin dia akan mempunyai urgensi utk dikenal dan terlihat powerful, membuat sejarah, making a bold statement of his existence, walaupun dengan cara-cara yg tdk wajar. Dan karena ini adalah aliran sesat, bukan hanya kekuasaan yg dia cari (dia sudah punya kuasa tsb dan terbukti dia bisa melakukan apa aja yg dia inginkan), tapi juga persetujuan, persetujuan tanpa perlawanan akan ketidakwajaran dan kesesatan yg dia lakukan termasuk dlm mengakhiri hidup para pengikutnya.
Hal-hal yg tragis juga bisa terjadi ketika moralitas terkikis justru oleh orang-orang yg senang mengumandangkan peace, love and freedom, sebagai jargon yg membiuskan. Bahkan senyum dan tawa dan kelakuan yg full denial yg berusaha perempuan-perempuan ini tampilkan diatas permasalahan yg terjadi, yaitu pembunuhan keji atas korban yg juga perempuan, semakin memperlihatkan hancurnya moralitas perempuan-perempuan ini di sebuah komunitas tersebut. Masak korbannya udah berdarah-darah gitu mereka masih juga ngomong peace sih. Gue sampai sekarang masih heran kenapa dictatorship ala jin dan yg sesat lainnya bisa sangat menarik. Dictatorship ala manusia memang mengungkung naluri manusia lainnya utk berkembang tetapi tdk mengukung pilihan personal mereka. Klo dictatorship ala jin memang naluri dibuka selebar-lebarnya, kita bisa dapatkan semua yg diinginkan, tapi ada syarat-syarat yg personal dan khusus yg hrs dijalani. Si jin akan berbisik, klo situ mau punya mobil mk mobilnya hrs yg ini ya, yg warnanya merah dan harus bau menyan. Atau klo situ mau rumah, mk disini nih lokasinya dan jeruji pagar hrs ganjil, dan isinya hrs begini dan begitu. Naluri memang terpuaskan tapi dictatorship ala jin ini jauh lebih berbahaya daripada dictatorship ala manusia. Klo manusia masih bisa diturunkan, lah klo jin, turun kemana? Emang sih full happy hour tapi ...bahaya. But still, history repeats by itself...



Well, thats a scary decepticon when all hell break loose.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More