Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Senin, 31 Desember 2012

Bookmark Kalender 2013 Gratis

Happy New Year 2013!

Kebetulan gue baru buat kalender 2013 berbentuk bookmark, jadi gue sharing aja di blog ini ya. Silahkan di-save gambarnya kalau tertarik. Klik saja gambar dibawah ini untuk menuju ke gambar aslinya:




=======
 

Sabtu, 29 Desember 2012

The Road To Perfection


Pengecualian terkadang adalah hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari. Pengendara mobil misalnya, diperempatan yang sepi dan ga ada polisi, menerabas lampu merah karena melihat hal tersebut tidak akan berakibat buruk. Pengendara mobil berpikir pengecualian tersebut akan memberinya manfaat, yaitu bisa mempercepat dia sampai ketujuan. Korupsi dan kolusi misalnya, adalah bentuk pengecualian dalam menggunakan dan memanfaatkan jabatan yang dapat menguntungkan seseorang atau sekelompok orang.  Dari dua hal diatas dapat disimpulkan bahwa pengecualian adalah hal yang diluar standar batasan yang umum yang mungkin dirasakan bermanfaat untuk diri kita dan orang lain walaupun terkadang dapat membahayakan. Pengecualian bisa menjadi hal yang besar dan tidak terkendali ketika pengecualian tersebut tidak didasarkan pada analisa permasalahan yang benar beserta pengendalian implementasinya. Pengecualian juga terkadang dibutuhkan, tetapi hal tersebut harus dilakukan menggunakan aturan perundangan yang jelas. Seorang ibu misalnya, karena anaknya sangat berprestasi maka dia berharap anaknya diberikan kesempatan yang seluas-luasnya dalam hal pendidikan dan pengembangan kemampuannya. Ibu ini berasumsi bahwa negara bisa menyediakan kesempatan tersebut sehingga berpikir bagaimana mempercepat jenjang pendidikan anaknya sehingga tidak lagi harus mengikuti aturan main pendidikan disekolah umum. Kebijakan dan aturan dalam pendidikan anak memang didasarkan pada kemampuan anak rata-rata, sehingga, kalau ada anak diatas rata-rata intelegensianya, maka dia mungkin mampu untuk melampaui apa yang dibatasi tersebut dan pantas mendapat pengecualian. Masalahnya, walaupun intelegensia diatas rata-rata, belum tentu hal lain seperti kemampuan sosial, mental atau pengalaman si anak juga bagus. Faktor-faktor selain intelegensia inilah yang kemudian terlibat dalam lingkungan pendidikan si anak tapi tidak bisa terukur.  Faktor-faktor ini penting karena di lingkungan sekolah, anak tidak hanya bergaul dengan guru saja, tapi juga dengan lingkungan, orang lain dan anak-anak lainnya. Anak diharapkan sudah cukup mampu memilah apa yang boleh dan tidak boleh diterimanya. Anak diharapkan pula tidak menerima begitu saja apa-apa yang disampaikan kepadanya di lingkungan sekolah. Jadi, walaupun hanya pelajaran yang diukur didalam penjenjangan dunia pendidikan, bukan berarti hanya pelajaran tersebut yang berkembang didalam diri anak didalam masa pendidikannya. Terdapat aspek lainnya yang tidak terukur sehingga karena keterbatasan pengukuran inilah, batasan dengan asumsinya dibuat agar kita tidak perlu mengukur semua aspek dan faktor yang bisa mempengaruhi anak tersebut didalam dunia pendidikan (karena akan sangat kompleks). Batasan usia masuk 6-7 tahun dan penjenjangan 12 tahun ditetapkan agar dapat dibuat asumsi bahwa semua faktor yang mempengaruhi anak dalam dunia pendidikan sudah cukup terbentuk dalam usia dan jenjang tersebut. Its a simplified but scientific solution, and we have to believe in that. Sistem ini sudah teruji selama puluhan tahun dan kita tidak mau keinginan besar seorang ibu kemudian dapat mencelakakan anaknya. Ketika ibu ini berasumsi "bisa" tanpa melihat atau menggunakan batasan-batasan yang sudah ditetapkan/tertulis, maka konsekuensi logisnya adalah kebebasan tanpa batas. Dan kebebasan tanpa batas sangat berbahaya untuk sistem yang rentan seperti Indonesia.  

Pengecualian-pengecualian membutuhkan sistem yang fleksibel dan agile. Walaupun hal tersebut rasa-rasanya adalah hal yang baik demi tercapainya keadilan, tapi sistem yang ada sekarang belum bisa menangani hal tersebut. Kenapa? Karena Indonesia Raya ini masih banyak permasalahan-permasalahan yang belum bisa tertangani, kita masih sebuah negara dunia ketiga dengan jumlah penduduk yang besar dan wilayah yang cukup luas. Dengan sumber daya yang ada sekarang saja sudah cukup sulit untuk mempertahankan sistem yang ada. Sistem yang fleksibel dengan menggunakan banyak pengecualian membutuhkan penanganan yang khusus dan spesial (makanya hanya bisa untuk sistem yang kecil atau stabil).  Pengecualian memang terlihat hebat, tapi bisa mengacaukan sistem ketika sistem masih kerepotan bahkan ketika tidak ada pengecualian. Malah tidak adil kan jadinya untuk masalah-masalah tak tertangani tersebut kalau kita memaksakan pengecualian. Ibaratnya jalan raya, kalau mau idealnya yaitu yang fleksibel, maka setiap waktu jalur berlawanan yang kosong harus bisa dipakai untuk mengurangi kepadatan jalur yang lain. Tapi hal ini sulit untuk diterapkan, karena kalau penanganannya kurang, maka malah akan menimbukan keruwetan atau kecelakaan dijalan raya tersebut. Belum lagi perombakan sistem yang harus dilakukan yang akan memakan sumber daya yang dimiliki. Makanya, pengecualian-pengecualian (yang terlihat baik dan tidak apa-apa) bisa menggoyang atau menghancurkan sebuah sistem karena kompleksitas implementasinya tidak bisa tertangani. Dan kita tidak mau negeri ini mempeributkan pengecualian-pengecualian dan perombakan-perombakan dengan asumsi "bisa"-nya ketika masih banyak masalah yang belum tertangani. Karet yang fleksibel aja bisa putus kalau terus-menerus ditarik sana-sini. Sekali lagi, kita tidak mau hal yang seharusnya bisa memproteksi menjadi malah mencelakakan.    

Contoh diatas mungkin cuma berbicara soal rasa kebahagiaan atau kebanggaan seorang ibu atas anaknya  sehingga mau melompati tembok tinggi yaitu batasan yang sudah dibuat. Rasa kecewa seseorang juga bisa membuat orang ingin melompat-lompat dengan tingginya dan ingin mendapat pengecualian. Ketika kita tidak percaya lagi sama orang-orang politik yang mewakilkan kita misalnya, apa boleh kita kemudian berpikir inkonstitusional bahwa para politikus itu bukan wakil rakyat lagi dan kemudian melakukan tindakan terhadapnya? Cara berpikir yang inkonstitusional (pengecualian pada konstitusi yang berlaku) akan mengarahkan pada tindakan yang inkonstitusional  juga. Sebuah kelompok masa akan sangat mudah menghancurkan aturan dan batasan yang sudah dibuat, yang sudah susah payah berusaha ditegakkan, dengan terjebak pada cara-cara mudah dan cepat untuk menerabas aturan dan batasan tersebut (mengecualikan batasan dan aturan). Cara berpikir praktis yang menerabas aturan dan batasan secara logika tidak bisa diperuntukan sebagai solusi jangka panjang dan ga bisa dipakai untuk meraih hal yang muluk. Tapi, banyak yang dengan mudahnya mengira bahwa cara berpikir praktis akan menghasilkan sesuatu yang baik. Untuk sementara mungkin, tapi tidak untuk sebuah tujuan yang mulya. Memang mungkin ada benarnya kalau banyak masalah yang melibatkan wakil rakyat, tapi solusi yang meloncat dari aturan dan batasan yang sudah sejak lama kita bangun bukan solusi yang tepat untuk negeri sebesar dan serentan ini. Pengecualian memang kelihatannya hebat banget dan jika terekspos akan sangat menyilaukan mata. Tapi, daripada pengecualian dan mempeributkan orang perorang, lebih baik benahi dulu sistem dan aturan yang ada dan kemudian penegakannya. Pada akhirnya, solusi yang dibuat tidak berdasarkan pada batasan beserta asumsinya hasilnya akan chaos, sulit diimplementasikan dan bablas ga ketahuan ujungnya. Kenapa? Karena manusia bukan hal yang super dan ideal, manusia sangat rentan dengan kesalahan  dan kekhilafan dan dengan keterbatasan pengetahuan, sehingga batasan dengan asumsinya dibuat agar permasalahan dalam kehidupan manusia bisa diatasi.

Manusia berpijak pada batasan dan aturan, norma dan etika, ajaran dan hukum, pedoman dan prinsip dasar, untuk menjaga manusia dari kesalahan dan kelemahannya sehingga masalah bisa diminimalisir. Ketika kita memiliki keyakinan, maka pijakan dan batasan tersebut adalah hal yang menihilkan bahwa manusia adalah zat yang super dan ideal (kesempurnaan kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan YME jangan disamakan dengan anggapan bahwa kita sebagai zat yang sempurna/super/ideal). Menggunakan pijakan dan batasan adalah cara yang cukup untuk hidup dengan memanggul amanah. Ketika pijakan dan batasan tersebut menjadi tidak berguna dalam kehidupan, maka pasti sudah terjadi sesuatu yang menyimpang yang harus segera ditangani. Biasanya penyimpangan ini terjadi karena kita sudah kehilangan keyakinan kita. Ketika kita tidak memiliki keyakinan dan hanya mempercayai fakta, kita mempercayai kesalahan dan kekhilafan manusialah hal yang menihilkan bahwa manusia adalah zat yang super dan ideal. Akibatnya, dengan sengaja kita melakukan kesalahan dan kekhilafan sebagai pembuktian dan pemakluman bahwa kita tidak sempurna dan ideal. Pemakluman inilah malah yang menyebabkan kita melanggar batasan dan aturan dengan kesalahan dan kekhilafan tersebut, yang kemudian malah membuat kita menjadi zat yang super dan ideal karena dengan pemakluman tersebut kita tidak lagi memerlukan batasan dan ajaran yang sudah ditetapkan. (Disini kita bisa lihat kalau mempercayai fakta adalah hal yang tidak konsisten). 

Kalau keyakinan digunakan, maka yang dianggap ideal dan sempurna adalah pijakannya karena berasal dari ajaran agama dan aturan hukum. Makanya, kalau kita sadar bahwa kita bukan zat yang sempurna dan ideal, kenapa kita harus mempercayai bahwa kehidupan yang ideal ada di dunia yang fana ini. Tapi yang namanya manusia, terkadang kita susah untuk melihat kelemahan kita sendiri dan memilih ketamakan dengan hanya melihat kemungkinan-kemungkinan yang tanpa batas (just seeing the endless possibilities) akan kehidupan yang ideal. Bahkan kita bisa berasumsi tanpa melihat atau menggunakan batasan. Kita pun sangat mudah bosan dengan yang standar apalagi batasan. Akibatnya, sebuah pemikiran manusia yang abstrak akan hal yang ideal dilempar jauh kedepan sebagai batasan hidup (tujuan) dan dijadikan alasan untuk melakukan pengecualian-pengecualian. Keidealan seperti kesejahteraan, kedamaian, ketentraman dan kemapanan akan sangat mudah menjebak persepsi manusia akan impian masa depannya, karena memang naluri manusia untuk memuja-muja yang ideal. Apalagi kalau yang ideal tersebut dipercaya dapat berwujud nyata didalam dunia yang fana ini. Ideal yang seperti ini, walaupun dianggap sebagai pemikiran yang positif, sehingga bisa memikat banyak orang, pada akhirnya bisa menjadi sangat destructive, akibat pengecualian yang dilakukan untuk menuju keidealan tersebut. Apalagi kalau kepemimpinan yang diharapkan cukup kuat untuk bisa menyelaraskan rakyatnya dengan standar, batasan dan aturan yang baku tidak ada, sehingga membuat rakyatnya haus akan pengecualian-pengecualian. Akhirnya, karena tujuan yang ideal inilah pengecualian bisa menjadi hal-hal yang besar.

Perasaan bahagia, perasaan bangga, rasa kecewa akan sesuatu hal (biasanya hal yang dia miliki) atau seseorang dan banyak rasa lainnya bisa memicu orang untuk mencari keidealan sesuai dengan perspektifnya.  Apalagi, rasa bahagia, bangga, kecewa yang datang dari hati kemudian juga akan mengarahkan orang untuk berbuat sesuka hatinya. Untuk hal yang dia banggakan, manusia akan berpikir kearah yang super ideal untuk menunjang hal yang dia banggakan tersebut. Untuk hal yang dibanggakan, apapun yang dia lakukan adalah benar kalau menguntungkan apa yang dia banggakan tersebut. Cara berpikir seperti ini, bahwa hal yang secara persepsi manusia ideal adalah hal yang harus diwujudkan, akan memicu kita untuk melakukan pengecualian-pengecualian dari hal yang standar. Melakukan pengecualian dari hal yang standar berarti kita menganggap diri kita super dan ideal karena yang super dan ideal adalah sebuah keistimewaan dan pengecualian diluar standar yang tidak membutuhkan batasan (aturan, ajaran, norma, adat). Kita akan bisa menerabas aturan dan ajaran agar bisa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk memberikan hal yang ideal kepada yang dibanggakan. Akibatnya, kita sendirilah yang mentransform diri kita menjadi hal yang ideal (yang tidak berpijak dan tanpa batasan) untuk bisa mewujudkan dan memberikan sesuatu yang ideal untuk hal yang dia banggakan tersebut. Makanya, orang-orang yang ingin memberikan sesuatu yang ideal terkadang mengambang dan malah mentransform kehidupannya menjadi sebuah panggung sandiwara. Padahal, sebuah panggung sandiwara bisa menerima skenario apapun yang akan menunjang keidealan untuk hal/orang yang dibanggakan. Mereka pun kemudian menjadi percaya pada skenario tersebut dan yakin karena hasilnya baik (dan yang baik itu lebih dilihat dari fakta yaitu akibat dan persepsi yang terjadi, bukan pertimbangan akan hal yang salah dan yang benar berdasarkan ketentuan-ketentuan yang sudah ditetapkan dalam ajaran dan aturan yang ada).

Yang super dan ideal adalah sebuah keistimewaan dan pengecualian diluar standar yang tidak membutuhkan batasan dan asumsi. Ini akan menjadi masalah besar ketika kita berbicara mengenai keyakinan agama, karena berusaha menyandingkan agama (yang sempurna karena berasal dari Zat Yang Maha Esa) dengan suatu persepsi kehidupan ideal yang berasal dari manusia. Yang super dan ideal biasanya akibat sebuah persepsi akan manfaat dan akibat yang terbaik untuk manusia dan terkadang kalau iman kita ga kuat, maka persepsi inilah yang paling berpengaruh dalam kehidupan kita. Kita sangat mudah diarahkan dan dirubah untuk sesuatu yang dianggap sebuah kebaikan dan manfaat. Bahkan ketika kita dihadapkan pada pengambilan keputusan, maka kita akan lebih memikirkan manfaat dan akibat yang dapat ditimbulkan oleh keputusan tersebut (konsekuensi duniawi) terhadap diri dan kelompok kita, dan bukan pengetahuan kita akan agama atau keimanan kita. Simple aja alasannya, karena hal tersebutlah yang lebih dirasakan oleh manusia dalam kehidupannya. Rasa dan persepsi yang ditimbulkan oleh manfaat dan akibat, membentuk pemikiran manusia akan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Inilah yang biasanya bermain mempengaruhi keyakinan kita. Misalnya saja dalam agama gue, untuk hal-hal yang haram dan halalnya tidak jelas, maka pengukurannya akan baik tidaknya tidak bisa berdasarkan akibat dan manfaatnya saja, tapi juga diukur berdasarkan ajaran dan aturan agama. Jika yang mudharat didasarkan pada akibat dan manfaatnya saja dan bukan ajaran dan aturan agama, maka yang namanya manfaat dan akibat bisa ditarik sedemikian rupa sehingga batasan-batasan ajaran agama dan aturan menjadi tidak berarti dan bernilai lagi. Karena, yang namanya akibat dan manfaat adalah sebuah persepsi yang mudah sekali untuk ditarik ulur sesuai persepsi dan kondisi kita dan inilah yang menyebabkan penyimpangan dapat terjadi.

Didalam tulisan gue di blog ini "Mengenai Penyesatan" beberapa pergerakan dalam mengejar hal yang ideal malah berujung kesesatan hanya karena mereka bisa mencap diri mereka sendiri sebagai hal yang ideal tersebut dan keyakinan bahwa mereka bisa menjadi patokan akan hal yang baik dan benar. The people who believe the ideal will follow any lead that direct them to the ideal which will turn them from god itself. Inilah salah satu contoh command and conquer ala aliran sesat yang gue bahas di tulisan gue,  "Mengenai Penyesatan bag.3."  Perspektif ideal yang mengarahkan pada penciptaan skenario atau perintah-perintah agar keidealan tersebut dapat terwujud di dunia ini, adalah penghancuran akan harapan atas hal yang ideal yang bisa didapat diakhir nanti. Mempercayai sesuatu yang ideal di dunia ini sama saja dengan mengecilkan keyakinan kita bahwa yang ideal tersebut (surga) hanya akan ada diakhirat nanti. Perspektif ideal tentang kedamaian contohnya, ketika kita berbicara soal keyakinan, maka kedamaian yang sesungguhnya tidak akan pernah ada di dunia ini karena kedamaian di dunia mengisyaratkan kita sudah berdamai dengan musuh-musuh manusia yaitu syaitan (Kalau ada yang yakin pada dirinya bahwa dirinya sudah kebal akan gangguan syaitan, coba pikirkan lagi. Tidak ada didalam Rukun Iman kalau kita harus yakin dan percaya pada diri kita sendiri, yakin pada apa yang kita lakukan. Kita yakin akan janji Allah SWT soal ibadah dan manfaatnya, tapi kita tidak bisa meyakini kesempurnaan diri kita dan amal perbuatan kita, apalagi sampai menggembor-gemborkan ibadah yang sudah kita lakukan sudah berhasil mengusir musuh-musuh manusia. Sampai tiba hari akhir nanti dimana amal ibadah kita ditimbang, kita hanya bisa berharap dan terus menjaga dan berdoa agar ibadah kita bisa diterima dan mendatangkan manfaat. Kalau kita takabur dengan meyakini bahwa amal ibadah kita sudah diterima Allah SWT, maka dengan hal inilah cara kita berdamai dengan syaitan dan mendatangkan syaitan tersebut).

Kalau dalam ajaran agama, kita membatasi pemikiran akan adanya hal yang ideal di alam dunia ini dengan harapan dan doa yang selalu kita lantunkan, sebuah harapan akan hal yang baik dan ideal menurut kita. Doa dan harapan seakan mengingatkan bahwa kesempurnaan yang super tidak ada di dunia ini, makanya kita harus selalu menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Diatas karena Dialah Yang Maha Kuasa. Bahkan ketika kita meyakini RasulNya, dan kita tauk betapa mulyanya para Rasul dan Nabi dengan segala amal baiknya, tetap saja setiap hari kita harus selalu berdoa akan keselamatan para Rasul dan Nabi kita di akhirat nanti. Di dunia ini tidak ada yang lebih mulya daripada para Rasul dan Nabi, tetapi tidak ada yang lebih Kuasa daripada Tuhan pencipta alam semesta. Kalau para Nabi dan Rasul saja membutuhkan harapan dan doa untuk kesempurnaan amal ibadahnya dan membutuhkan umatnya selalu melafadzkan doa dan harapan tersebut, lalu kenapa banyak sekali manusia dan umatnya merasa dirinya sendiri sempurna dan baik sehingga mampu mencap dirinya sendiri atau sesuatu sebagai hal yang ideal yang bisa dijadikan barometer dan patokan untuk orang lain. Sehingga, merekapun mampu melakukan cara-cara yang tidak sesuai dengan ajaranNya karena mereka ingin mendapatkan hal yang ideal. Mereka pun akhirnya secara aktif menghilangkan harapan dengan mendapat atau mengejar kepastian akan hasil yang baik dan sempurna didunia. Mereka bertindak seakan-akan harapan itu tidak ada dan doa hanyalah sebagai pembenaran dan penguatan keyakinan atas dirinya saja bahwa akibat doa-doa dan ibadah yang dilakukannyalah impiannya bisa menjadi kenyataan (takabur).

Lebih lanjut lagi, yang super dan ideal adalah sebuah pengecualian-pengecualian dari hal yang biasa (standar). Pengecualian berarti pula hal yang dikecualikan dapat menjadi patokan baru, karena sesuatu yang keluar dari batasan berarti juga sebuah batasan yang baru dan tentunya sangat terlihat (mencolok mata). Masalahnya, pengecualian adalah hal yang terikat pada suatu subjek, akibatnya, patokan dan batasan yang baru tersebut adalah juga suatu subjek yaitu yang dikecualikan. Kalau yang dikecualikan (yang mendapat pengecualian) adalah dirinya sendiri atau sesuatu yang menurut persepsinya ideal, maka dirinya sendiri atau sesuatu yang ideal tersebut dapat menjadi patokan bahkan untuk menimbang atau menghakimi dirinya sendiri dan orang lain. Inilah makanya pengecualian sering digunakan dalam melakukan penyesatan. Pengecualian membutuhkan ego yang tinggi dan rasa yang tinggi (GR) dan terkadang delusional yang tidak disadari. Contoh-contoh pengecualian dan delusional terhadap diri sendiri adalah mempercayai mimpi dan firasat sebagai petunjuk dari Tuhan YME atas hal-hal yang sudah ditentukan oleh agama dalam kitab suci dan hadist atau hal-hal yang seharusnya tidak diketahui. Misalnya, melakukan  hal yang disebutkan dalam rukun Islam atau kewajiban agama lainnya karena mempercayai mimpi dan firasat yang ghaib yang datang padanya (hal ini bertolak belakang dengan Rukun Iman dan lebih mengarah kepada aliran kebatinan. Kita meyakini kitab suci berarti kitab sucilah yang menjadi pegangan dan bukan mimpi atau firasat). Atau, mempercayai firasat yang ghaib akan kematian seseorang padahal tidak ada seorang manusia pun yang bisa mengetahui kapan, dimana dan bagaimana kematian seseorang. (Tolong bedakan firasat yang ghaib dengan perencanaan yang real atau nyata, yaitu ketika musuh berencana untuk menyerang atau seorang kriminal merencanakan sesuatu tindak kriminal. Hal dan perencanaan yang nyata masih bisa kita cegah). Contoh lainnya lagi adalah ketika mempercayai sudah melihat yang ghaib seperti syaitan,roh,malaikat padahal arti ghaib itu sendiri adalah tidak terlihat atau tidak ketahuan oleh panca indra manusia.

Pengecualian membutuhkan sebuah alasan. Makanya dalam penyesatan alasan dibuat untuk menimbulkan pengecualian dan mengingkari pegangan kita yaitu aturan dan ajaran agama. Contohnya, jika ada yang bilang "sudah suratan ilahi," bukan berarti yang dijadikan pegangan dan patokan adalah suratan ilahi yaitu jalan hidup kita (redundant jadinya), tapi tetap saja surat-surat di dalam kitab suci yang sudah diturunkan melalui UtusanNya. Karena tidak ada di dunia ini yang lebih bisa memastikan manfaat dan akibat yang baik dari suatu hal yang sudah terdapat didalam kitab suci. Terkadang pula pengecualian ditimbulkan tidak secara langsung tapi lewat "jasa" orang lain. Ketika seseorang tidak mau memihak pada pengecualian dan tidak mau secara sukarela untuk diistimewakan, maka bisa saja orang lainlah yang mengecualikan dia sehingga dia pun mendapat perlakuan pengecualian (dari orang lain). Kalau sudah begini, berarti semua orang bisa mendapat pengecualian, dan hancurlah sistem peraturan dan ajaran agama ketika pengecualian-pengecualian tersebut banyak terjadi.

Pengecualian dari batasan dan asumsi akan semakin parah ketika mereka mempercayai bahwa mereka bisa melakukan hal-hal yang dilakukan oleh Tuhan YME.  Misalnya saja, mereka bisa menimbang antara perbuatan dunia dan perbuatan akhirat yang mereka lakukan. Perkataan seperti: "Dalam kehidupan kita harus seimbang, dunia kita cari, akhirat juga kita cari," seakan-akan ingin memisahkan roh kita akan hal yang dunia dan hal yang akhirat. Padahal roh kita harusnya satu, apa yang kita lakukan di dunia adalah apa yang dipertimbangkan diakhirat nanti. Dunia dan akhirat memang secara fisik terpisah, tapi dalam konteks jiwa dan roh kita sebagai manusia, maka dunia dan akhirat tidak bisa dipisahkan apalagi kemudian ditimbang-timbang agar seimbang. Ketika manfaat dunia dipisahkan dari manfaat akhirat maka akan sulit sekali untuk manusia yang pada dasarnya egois untuk tetap berpegangan pada ajaran dan aturan yang ada. Lagipula, pertimbangan akan hal yang seimbang adalah hak Yang Maha Kuasa di akhir nanti dan bukan hak kita didunia ini, memisahkannya saja kita ga bisa apalagi menimbangnya. Tuhan YME adalah zat yang berbeda, jadi ketika ada yang berpikir bahwa tangan kita adalah tangan Tuhan YME, maka sebagai orang Islam kita harus menyadari betul hal ini adalah salah. Kita tidak bisa sembarangan dengan menganggap diri kita satu kesatuan dengan Tuhan YME karena bisa menyebabkan kita balik kejaman Jahiliyah dulu dengan tangan-tangan jahilnya.

Menurut gue pribadi, yang namanya agama memang seharusnya ketat, keras dan kaku. Perspektif keduniaan yang ideal apabila dimasukkan keranah agama akan bisa mengecilkan keimanan kita karena kita berusaha mengejar yang ideal tersebut didunia dan menciptakan perspektif kehidupan yang ideal itu didunia. Padahal yang ideal atau sempurna sebenarnya hanya dapat diciptakan oleh zat yang tidak mempunyai batasan (Zat Yang Maha Kuasa) sehingga kehidupan yang sempurna (yang penuh kedamaian, kesejahteraan dan ketentraman) tidak bisa diharapkan terjadi dan diciptakan oleh manusia di dunia fana ini. Sebagai manusia kita adalah mahluk yang sempurna karena kita ciptaan Tuhan YME, tapi kehidupan manusia didunia jauh dari kesempurnaan, karena, apa yang kita ciptakan didunia ini dari tangan kita adalah bukan ciptaanNya. Semua ciptaan tangan manusia seperti rumah, mobil, meja, kursi, dsb adalah bukan ciptaan Tuhan YME (sebenarnya ga usah dibahas disini karena gue yakin anak SD juga ngerti akan hal ini), tapi dibawah kekuasaanNya-lah kita bisa menciptakan hal-hal tersebut. Dibawah kekuasaanNya pulalah kita bisa menciptakan hal-hal yang buruk seperti permusuhan dan kebencian antar sesama, maksiat, tipu muslihat dan sebagainya. Karena ketidaksempurnaan kehidupan didunia inilah makanya ajaran agama datang dari Tuhan YME sebagai hal yang sempurna untuk mengatur kehidupan manusia yang tidak sempurna di dunia yang fana ini (kejahiliyahan). Pada aliran sesat hal ini tidak berlaku, mereka merasa berhak mendapat pengecualian-pengecualian dalam ajaran agama dan peraturan yang ada karena mereka menganggap diri mereka adalah satu kesatuan dengan Tuhannya. Mereka pun mentransform dirinya menjadi hal yang ideal seperti Tuhan. Ideal untuk mereka adalah dimana mereka bisa ringan melayang melakukan kesalahan-kesalahan tanpa meyakini bahwa hal tersebut salah sehingga tidak perlu menanggung kesalahan tersebut didunia sesuai ajaran dan aturan yang ada. Mereka meyakini kesalahan-kesalahan tersebut adalah kehendak Tuhan YME, sehingga semua yang mereka lakukan pastinya bermanfaat (ada hikmahnya).

Kehidupan yang ideal  berarti kehidupan tanpa permasalahan dan hal tersebut hanya bisa diciptakan oleh zat yang sempurna yang tidak memiliki kesalahan. Makanya, ketika persepsi kehidupan yang ideal dianggap nyata didunia ini, berarti kita juga beranggapan manusia adalah zat yang super dan ideal (dan kita tauk kalau hal tersebut tidak benar). Lagipula, mempunyai persepsi kehidupan yang ideal adalah nyata didunia atau mempunyai tujuan yang ideal sama saja dengan menyandingkan/menyetarakan agama (sebagai sebuah keidealan yang ada didunia) dengan suatu keidealan duniawi berdasarkan persepsi manusia. Dan di agama gue menyandingkan agama dengan sesuatu yang lain adalah hal yang dapat merusak iman (menyandingkan berarti meyakini hal lainnya tersebut). Kayaknya gue pernah ingat kalau dulu pernah ada yang mengajarkan agar ketika kita shalat jangan ada benda-benda yang eye catching disekitar kita atau jangan menggunakan mukena yang berwarna-warni karena bisa mengganggu shalat yang lainnya. Memang, ketika kita menyandingkan keimanan dengan suatu hal yang duniawi maka rontoklah keimanan kita karena kita juga meyakini hal yang disandingkan tersebut. Sayangnya, sekarang ini segala sesuatu yang berhubungan dengan ibadah dan agama sudah berusaha disandingkan tanpa kita sadari. Ketika mendengarkan azan di tv misalnya, bukannya kita khusyu mendengarkan azan tersebut malah kita menonton alur cerita yang dipersembahkan bersama azan tersebut. Memang alur ceritanya baik tapi sebenarnya sangat mengganggu. Contoh lainnya ketika agama disandingkan dengan politik yang sebenarnya cuma tingkah polah hidup manusia, maka politiknyalah yang diyakini dan berusaha dimajukan tapi agamanya mengalami kemunduran karena kompromi sana sini. Juga ketika kita menyandingkan agama dengan keindahan, misalnya dengan perkataan seperti "agama itu indah," maka keindahannya-lah yang akhirnya diutamakan (karena hanya keindahan yang bisa diutak atik dan bukan agama). Akhirnya sandingan tersebut  lebih diyakini karena lebih menarik yang malah akan melemahkan agama dan keimanannya itu sendiri. Pada akhirnya malah keindahan tersebut yang dilabelkan dan dibela bahkan diyakini sebagai agama dan patokannya. Sebuah bangunan misalnya, terdapat tulisan kaligrafi indah dan bertahta emas sehingga kita menyebutnya bangunan Islam, tapi apakah benar yang didalamnya menjaga keIslamannya dan agamanya? Belum tentu, tapi tetap saja mereka bilang ini bangunan Islam. Pada akhirnya ketika dalam mempertahankan bangunan megah tersebut mereka harus berkompromi terhadap agamanya sendiri dan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar ajaran agama mereka, maka mereka akan lakukan karena manfaat dan akibat yang mereka rasakan benar. Adanya sandingan-sandingan tersebut kemudian diperparah lagi dengan keyakinan pada diri sendiri (percaya pada diri sendiri) yang sebenarnya percaya dan yakin pada diri sendiri tersebut ga ada didalam Rukun Iman (malah bisa memperkecil keimanan karena jadi takabur). (Masalah PD dan sandingan terlihat ketika ada salah satu mantan Ketum partai Islam yang mau mencalonkan diri menjadi kandidat kepala daerah kemudian menyesatkan umat dengan diam saja ketika dakwah di salah satu tv nasional yang dihadirinya tersebut mengatakan salah satu negara barat, yang gue tauk bukan negara Islam tapi kapitalis-sosialis, adalah negara yang islami karena kemajuan dan peradabannya)      

Manusia memang sangat mudah meyakini kehidupan yang ideal. Mudahnya manusia untuk mempercayai perspektif yang ideal bisa dilihat dari mudahnya mentrigger orang-orang yang berpikiran bahwa persepsi ideal itu nyata. Misalnya saja, salah satu contoh bagaimana instink kita selalu terbawa kearah perspektif ideal dengan melakukan pengecualian adalah ketika kita mempercayai kekurangan, kelemahan dan keburukan orang lain atau suatu subjek bahkan menggali atau mempertunjukkan kesalahan-kesalahannya. Ketika kita mempercayai kelemahan dan kekurangan suatu subjek, maka kita mulai berbuat sesuai dengan yang kita percaya tersebut, bawaannya kemudian jadi gerah ingin melakukan sesuatu. Orang yang berpikir negatif akan menggunakan informasi tersebut untuk meledek atau membullying seseorang atau subjek tersebut, atau mungkin mengancam dan memalak orang atau subjek tersebut. Sementara, orang yang berpikir positif akan gampang sekali diberdayakan, tinggal katakan kelemahan seseorang atau subjek tertentu, maka mereka akan mau "membantu" menghilangkan kelemahan tersebut, bahkan dengan cara-cara yang menunjukkan kelemahan mereka sendiri. Biasanya dengan melakukan perbuatan atau tindakan diluar standar yang sesuai dengan kekurangan atau kelemahan subjek tersebut, yang ditujukan agar subjek tersebut menjadi "lebih baik" alias lebih sempurna. Tapi disinilah masalahnya, karena yang kita percaya adalah kelemahan dan kekurangan suatu subjek, kita jadi lupa untuk mempercayai hal yang lebih penting, yaitu batasan dan aturan yang ada di masyarakat. Lagipula, mempercayai informasi akan kelemahan dan kekurangan secara subjektif  bisa dikategorikan fitnah dan tidak etis karena kekurangan dan kelemahan suatu subjek bukanlah informasi yang lengkap (terkadang malah sumber informasinya tidak disebutkan). Perbuatan yang dilandaskan atas informasi fitnah, baik itu positif maupun negatif, apalagi yang tidak dikonfrontir dengan yang bersangkutan, adalah perbuatan yang menuntut pengecualian dari ajaran dan norma yang berlaku. Secara tidak langsung sebenarnya, perbuatan-perbuatan berdasarkan informasi akan kelemahan dan kesalahan suatu subjek mencerminkan bahwa mereka mempercayai perspektif ideal harus diwujudkan. Lagipula, kalau kita dibiasakan melihat atau mempertontonkan kesalahan atau kelemahan suatu hal atau orang tanpa mendalami bukti-bukti yang ada atau tanpa proses mengenal orang atau hal tersebut, akan mempertajam semangat adu domba  masyarakat tanpa mengasah pemikiran kritis. Yang seperti ini biasanya tidak ditujukan untuk menemukan solusi, hanya menambah pengrusakan mental dan moral dengan pemikiran yang apriori dan main hakim sendiri. Sebenarnya, lebih baik diam dan berbenah diri daripada ramai menuding, memperlihatkan atau membicarakan kesalahan dan kelemahan orang atau hal atau bahkan memperlihatkan eksekusi-eksekusi yang dilakukan, karena hal tersebut bisa mengikis nilai, aturan dan ajaran yang kita miliki. Gue akan cerita contoh konkritnya, seseorang membicarakan perempuan yang diduga hamil diluar nikah. Dia akan mengatakan bahwa perempuan tersebut nakal dan melakukan dosa besar. Mungkin hal tersebut memang fakta yang benar, tapi dengan hanya membicarakan kesalahan tersebut tidak akan memberi solusi apa-apa (malah menambah dosa). Memang kelihatannya seakan-akan ada kepedulian sosial dengan menceritakan hal tersebut, tapi tanpa adanya keberanian untuk menegakkan aturan atau mengambil tindakan nyata (tindakan sesuai ajaran agama, aturan, adat, norma atau etika yang berlaku), maka hal tersebut adalah percuma dan tindakan pengecut. Apalagi, bukti yang ditunjukkan hanya dengan memata-matai perut yang agak besar dan kebiasaan dugem dari si wanita tersebut. Ujung-ujungnya malah perempuan yang dianggap berdosa besar tersebut dijauhi dan dikucilkan sebagai hukuman yang harus diterimanya (bahkan tanpa ada bukti yang jelas dan tidak dikonfrontir langsung) yang malah akan menjerumuskan wanita tersebut lebih jauh kepada kenistaan. Padahal, ternyata orang-orang yang membicarakan perempuan ini kerjanya hanya menjilati orang-orang yang sebenarnya tumpukan dosanya melebihi si perempuan tersebut. Ini adalah salah satu bentuk pengecualian atas hukum, aturan, norma dan adat yang berlaku. Lagian, kalau masalah hamil diluar nikah, mungkin lebih baik dimulai dari diri sendiri dulu dengan tidak memakai rok ketat atau pendek yang mengundang nafsu atau kebiasaan pulang malam. Dan, untuk yang laki-laki mungkin tidak perlu berurusan dengan perempuan yang bukan hak dan tanggung-jawabnya, dan apabila dia memang mau meluruskan perempuan tersebut, tegakkanlah amanah atau ambil tanggung jawab kalau perempuan tersebut tidak mempunyai pemegang amanah. Jadi, bukannya malah membesar-besarkan kesalahan perempuan tersebut seakan-akan perempuan tersebut harus menjadi pemimpin untuk dirinya sendiri, karena jujur saja, sebaik apapun keimanan perempuan, tidak bisa diyakini dan dijadikan patokan bahkan untuk dirinya sendiri. Menjadi pemimpin mungkin bisa dilakukan seorang perempuan, tapi masalah keimanan dimana agama seharusnya diperlakukan dengan keras, ketat dan kaku adalah hal yang jauh dari sifat alami para perempuan. Perempuan terkadang bergerak hanya karena instinct mereka dan ini yang terkadang sering membuat mereka melanggar batasan. Kita toh tidak mau kalau primary instinct perempuan dieksploitasi dan dimanfaatkan untuk melakukan penyesatan (seperti masalah gosip-menggosip yang sudah menjadi kebiasaan kaum perempuan) karena hal tersebut dapat menjadi masalah besar (gue akan bahas lebih lanjut hal ini dibawah). Memanfaatkan orang adalah hal yang sering terjadi, tetapi memanfaatkan orang untuk melakukan penyesatan adalah cerita lain. Karena, keyakinan itu hubungannya dengan sistem pertahanan diri kita sama seperti hukum dan peraturan. Ketika ada yang ingin menyesatkan keyakinan, maka berarti ada yang ingin menghancurkan pertahanan diri kita. Makanya, ketika yang main hakim sendiri dengan pengecualian skalanya bersifat nasional, apalagi kalau melakukannya dengan dibantu atau mengandalkan kekuatan lain, hal tersebut hanya akan menunjukkan kelemahan kita dan ketidakmampuan kita untuk memiliki dan mengelola sistem pertahanan dan keamanan (bagaimana orang yang kerjaannya main hakim sendiri bisa memegang senjata?). Pada akhirnya, the blue print of exceptions leads to a total defenseless system.

Contoh lain kalau manusia sangat mempercayai perspektif ideal adalah mempercayai dan mencap dirinya, orang lain atau sesuatu hal adalah objek yang memiliki perspektif ideal (pasangan ideal, rumah ideal, masa depan ideal). Banyak orang mempercayai bahwa perspektif yang ideal tersebut ada dan nyata, misalnya, dengan mengatakan kami/mereka adalah keluarga bahagia dan sejahtera atau dunia ini adalah dunia yang penuh kedamaian. Kalau kita punya keyakinan agama maka seharusnya kita sadar kalau kesejahteraan dan kedamaian yang sesungguhnya tidak bisa didapatkan di dunia yang fana ini.

Contoh lainnya kalau manusia mudah mempunyai perspektif ideal adalah ketika seseorang dengan mudahnya berprasangka kepada orang lain/sesuatu hal bahwa seseorang atau suatu hal tersebut mempunyai perspektif ideal. Misalnya saja ketika seseorang mengatakan, "Ah, diakan melakukan hal tersebut karena ingin masa depannya cerah," setelah melihat teman sekantornya sangat rajin dalam bekerja (padahal mungkin teman sekantor tersebut memang sedang membutuhkan uang untuk membayar tagihan RS keluarganya). Atau, "Dia baru menikah setelah menemukan pasangan yang sempurna," ketika melihat pasangan temannya yang ganteng dan tajir (padahal temannya itu hanya melakukannya karena menurut moral dan agama dia harus melakukannya). Bahkan hanya dengan mengatakan "Ah, dia tuh orangnya inginnya selalu perfect," juga salah satu contoh bagaimana kita sebagai manusia selalu meyakini bahwa persepsi ideal itu ada dan nyata. Percaya dan sangkaan bahwa orang lain memiliki perspektif ideal mengimplikasikan dia juga percaya bahwa perspektif ideal tersebut ada dan nyata didunia ini.

Ketika kita mempercayai hal yang ideal, maka kita akan berusaha mengarahkan kehidupan kita ke hal yang ideal. Seperti layaknya impian negeri dongeng, kita mengarahkan kehidupan kita ke kehidupan happily ever after. Bak cinderela, dimana seorang putri diarahkan untuk menjalani kehidupan yang  happily ever after, tindakan dan perbuatan kita berusaha ditujukan untuk mengarah pada kehidupan yang  happily ever after ini. Apapun dilakukan demi tercapainya kehidupan yang  happily ever after ini. Bahkan merekapun menulis cara-cara, metode, petunjuk supaya menjadi cinderella di kehidupan yang  happily ever after. Dan yang lainnya membaca dan belajar cara-cara, metode, petunjuk supaya menjadi cinderella tersebut. Akhirnya dunia ini penuh dengan cerita cinderela dan cinderfela yang menggunakan magic word untuk mewujudkan impian tersebut. Ok, lets face it, ini dunia nyata dimana bahkan seorang putri nan cantik rupawanpun tidak bisa menjadi seperti cinderella. At one time she's an admirable princess but other time she's ended with a tragic life. Jadi, ga ada itu cerita putri-putrian. Tidak ada satu orangpun yang bisa mengarahkan dan menjamin orang lain menuju ke kehidupan happily ever after, karena kalau kalian punya keyakinan, apa yang sudah tertulis di ajaran agama dan peraturan-peraturan yang sudah dibuat sebenarnya sudah mencukupi. We just need to believe. Ga perlu dipikirkan dan berlaku sedemikian rupa bak sebuah panggung sehingga kondisi happily ever after tanpa masalah bisa terpenuhi. This life is not about living in an ideal life but just enough to make everything going as it is. Ohh-emh-geh, cinderella bisa cerai kalau dijahatin sama sang pangeran, its just that simple, we believe its just that simple. Pada akhirnya mereka malah menciptakan cerita-cerita baru yang kemudian dijadikan pegangan hidup yang baru.

Penciptaan skenario-skenario yang menyimpang akibat dari penerapan pengecualian terhadap aturan dan ajaran agama demi mendapatkan manfaat-manfaat didunia pernah pula gue lihat di salah satu situs web keagamaan. Situs web tersebut memajang dakwah agama mereka yang sangat bagus sekali dengan mengggunakan referensi-referensi yang jelas. Hanya saja disalah satu pojok di situs web tersebut ada countdown menuju kiamat 2012. Gue ga ngerti kenapa pengecualian dipaksakan masuk untuk komunitas web tersebut, tapi alangkah nistanya ketika hal seperti kiamat dan takdir manusia yaitu kematian atau musibah besar kita permainkan begitu saja dengan kebohongan-kebohongan. Apalagi kemudian kita mempercayai kebohongan-kebohongan tersebut hanya karena kita mau mempercayai manfaat yang ditimbulkannya. Walaupun demi manfaat yang besar untuk umat misalnya, karena bisa membaca tulisan-tulisan yang bermanfaat, tapi tetap saja sebuah pengecualian akan takdir manusia adalah kesalahan yang sangat besar karena sudah berusaha mempermainkan ciptaan Tuhan YME. Mempermainkan takdir dan ciptaan Tuhan YME dengan kebohongan-kebohongan yang diciptakan oleh manusianya itu sendiri apalagi mengajak orang lain untuk mempercayai kebohongan-kebohongan tersebut bisa menciptakan monster yang mampu mempermainkan takdir. Sekali lagi saya tekankan jangan perlakukan agama seperti pasar informasi yang penuh spekulan yang selalu bereaksi akan informasi dan hal yang disampaikan, apalagi kalau menyangkut takdir dan ciptaan Tuhan YME seperti manusia dan jagat raya. Ketika takdir mulai dipermainkan coba cek lagi siapa dibelakang semua itu karena hal tersebut bisa mendatangkan monster yang mampu mempermainkan takdir bukan hanya yang kecil tapi takdir yang besar sekalipun.

Di tulisan gue "Mengenai Penyesatan", para pengikut aliran sesat merasakan akibat dan manfaat yang baik yang diterima ketika masuk aliran tersebut, sehingga mereka pun secara tidak sadar sudah melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama mereka. Karena patokan mereka adalah hal yang bermanfaat dan akibat yang baik, maka kesetiaanpun mereka berikan pada hal atau sesuatu yang  bermanfaat dan berakibat baik untuk mereka. People only have loyalty to what is good and best for them. Sehingga, mereka merasa pantas dikecualikan dari aturan dan ajaran yang ada selama manfaat dan akibat baik tersebut mereka rasakan. Yang "mereka pikir dan rasakan" bermanfaat untuk mereka dan agama mereka, digunakan sebagai patokan keberhasilan akan keimanan mereka. Mereka pun berpikir bagaimana ya caranya supaya bisa merasa bangga terhadap agama mereka dan mereka pun berpikir untuk menempatkan Nabi dan Rasul sebagai idola mereka (posisi yang jauh lebih rendah dari posisi sebagai utusanNya yang harus diyakini). Idola dan bangga hanya merupakan rasa dan persepsi manusia, yang sangat mudah untuk dimanfaatkan. Sehingga, ketika manfaat dan akibat yang baik menurut rasa dan pikiran mereka tersebut menuntut mereka melakukan hal-hal yang melanggar, mereka akan lakukan karena kesetiaan mereka sudah bukan pada ajaran agama mereka lagi, tapi pada keyakinan akan manfaat dan akibat yang baik yang dirasakan didunia fana ini. Mereka pun dengan keegoisannya menempatkan rasa dan pikiran mereka diatas ajaran agama mereka. Merekapun akhirnya hanya menerima apa yang terbaik untuk mereka dan menyangkal hal lainnya. Penyangkalan-penyangkalan tersebutlah yang kemudian melewati batas dengan perilaku pengrusakan terhadap ciptaan Tuhan yang lain dan pelanggaran ajaran agama.  Inilah cara-cara aliran sesat kemudian membabat habis apa yang sudah ditetapkan dalam ajaran agama.

Banyak yang melihat agama hanya sebagai sesuatu hal yang mendatangkan manfaat bagi umat, sehingga berpikir kalau setiap hal yang mendatangkan manfaat untuk mereka sebagai umat, adalah juga hal yang sesuai dengan ajaran agama. Akibatnya, banyak yang membenarkan bahwa agama bisa dimanfaatkan bahkan untuk memuaskan rasa dan pikiran mereka (menambah rasa kebanggaan dan kecintaan mereka). Agama kemudian dengan keegoisan manusia "dipakai" untuk mendatangkan manfaat bagi umat, dimana persepsi manfaat ini adalah hal yang sangat terbatas dan duniawi seperti misalnya meningkatkan taraf hidup mereka agar rasa bangga dan cinta mereka bertambah. Hal ini akan diperparah ketika konsep umat yang lebih luas kemudian direduksi menjadi jamaah, sehingga yang manfaat tersebut kemudian hanya berlaku untuk jamaah tersebut. Logikanya, akan lebih mudah menguntungkan sebagian orang daripada seluruh umat, karena akan lebih mudah memberi pengecualian (yang menguntungkan) kepada sebagian orang. Apalagi keegoisan manusia akan semakin menjadi-jadi ketika apa yang manfaat dan menguntungkan bagi mereka tersebut didukung oleh kelompoknya yang merupakan sejumlah masa tertentu. Mereka pun akhirnya lengah tidak menjaga agama mereka hanya karena mereka merasa masih mendapat manfaat yang mereka inginkan. Merekapun lengah karena merasa mereka sudah menyatu dengan masa tersebut sehingga pengecualian tersebut menjadi tidak terlihat (padahal apapun bentuknya, pengecualian adalah hal yang eye catching dan ini harus disadari betul).

Mendapatkan manfaat dan akibat duniawi yang baik adalah salah satu nafsu manusia juga, dan yang namanya nafsu melemahkan iman apabila dalam menyalurkan nafsu tersebut kita tidak mengindahkan aturan dan ajaran yang ada. Di dalam agama gue, menyangkal dan menangkal nafsu secara total juga dapat melemahkan iman karena akan melawan kodrat manusia, sehingga didalam agama gue nafsu dibiarkan mengalir dengan dibatasi menggunakan aturan-aturan tertentu. Kenapa keimanan penting? Karena keimanan adalah salah satu bentuk pertahanan didalam diri manusia yang harus terus dijaga. Ketika pertahanan sudah ter-"compromised" (terlemahkan akibat kompromi disana-sini, keluar dari standar) maka kekalahan sudah diambang mata yang terkadang tidak terlihat akibat sebuah realitas bahwa manfaat dan akibat yang dirasa baik masih diterima. Pada aliran sesat, kekalahan tersebut bisa dilihat dari adanya tuntutan pengorbanan-pengorbanan yang berlebih-lebihan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Mereka pun berpikir, semakin besar pengorbanan semakin besar manfaatnya. Sehingga, kata "lebih" ini kemudian menjadi sakti sekali karena mereka berpendapat, pengorbanan dan ibadah yang lebih ini pasti akan membuat mereka mendapat manfaat yang lebih juga di dunia (riya dan takabur). Mereka pun berpendapat bahwa pengorbanan dan ibadah mereka adalah untuk mendatangkan manfaat dan akibat baik (terkadang berupa ketenangan batin) untuk mereka didunia (riya). Misalnya, dengan perkataan seperti "kalau kita memberi sedekah kepada orang lain, kita pasti mendapat gantinya yang berlipat ganda didunia". Penyangkalan terhadap ajaran agama seperti ini memang biasanya dilakukan dengan menyangkal ajaran agama yang tingkat visibilitasnya rendah (ajaran mengenai syirik, munafik, riya, takabur, fitnah, amanah, dsb) tapi sebenarnya sangat berpengaruh karena bisa menghilangkan amal ibadah dan keimanan kita. Penyangkalan dan pengecualian seperti ini biasanya dibungkus dengan rapi oleh manfaat dan akibat terbaik yang akan kita terima.

Sebagai contoh mungkin gue mau menceritakan pengalaman gue sendiri yang sebenarnya terjadi sudah cukup lama mengenai orang-orang yang berusaha menyesatkan gue. Dulu gue ga terlalu mau ambil pusing mengenai hal ini, jadi gue diamkan saja dan seperti kata temen gue, kalau berusaha dipengaruhi orang dan merasa ga cocok dengan ajakan mereka, mendingan sudah keluar saja dan ga usah urusan dengan mereka. Pada waktu itu mungkin ada benarnya kalau cuma keluar saja, karena dulu gue sendiri masih kecil dan belum punya pemikiran yang stabil. Tapi sekarang setelah cukup berumur, setelah melihat kemungkinan yang bisa terjadi kalau kita masuk aliran sesat, maka gue pikir cerita mungkin awal yang baik untuk membuka pandangan kita. Tetapi sebelumnya gue akan ceritakan dulu bagaimana secara psikologis kita sebagai perempuan akan lebih rentan menghadapi aliran sesat. Sebagai perempuan, kita lebih mudah tertarik pada hal yang bersifat duniawi, kita senang dengan kehidupan sosial yang riuh dan gemerlap, kita pun senang dengan hal-hal yang kita anggap bisa memberikan sesuatu untuk kita. Contohnya saja, kita sebagai perempuan (biasanya para ibu) senang bergunjing, entah karena kita senang menyemarakkan suasana atau karena kita merasakan manfaat mendapat dan memberi info-info baru. Banyak ibu-ibu sadar kalau pergunjingan adalah hal yang salah (tapi merasakannya sebagai hal yang bermanfaat), biasanya mereka akan melakukannya saat para suami tidak ada supaya tidak ada yang menegur, dan berhati-hati memilih tempat yang tepat untuk bergunjing agar orang yang digosipin tidak mendengar. Jika ditegur, para ibu ini pun mungkin cuma mesem-mesem malu dan menghentikan gosipnya (walaupun setelah yang menegur pergi akan dilanjutkan gosipnya, duh nakalnya!). Tapi setidaknya para ibu ini sadar akan pelanggaran yang mereka lakukan dan sadar akan resiko yang harus mereka hadapi. Lalu, apa hubungannya para ibu ini dengan cerita penyesatan yang gue mau ceritakan? Hubungannya ga ada memang, tapi coba pikirkan apa yang terjadi kalau kemudian para ibu ini bertemu dengan orang yang berusaha menyesatkan mereka? Orang tersebut kemudian memberitahu ibu-ibu ini kalau dengan bergunjing, maka sama saja dengan para ibu ini melakukan berdakwah, karena dengan bergunjing orang bisa belajar dari kesalahan orang lain. Orang tersebut juga membujuk ibu-ibu agar informasi dari pergunjingan kesalahan orang lain atau suatu hal tersebut dijelantahkan menjadi misi kepedulian sosial yang tinggi dengan tindakan-tindakan (yang dianggap) perbaikan akan kelemahan dan kesalahan suatu hal atau orang lain. Orang tersebut datang dengan membawa atribut agama, dengan segudang manfaat dan kebaikan yang bisa diberikannya dan dengan dukungan dan sokongan spiritual maupun material dari sebuah kelompok jamaah tertentu, sehingga para ibu ini kemudian lupa nasehat yang selalu diberikan kepada anak-anak mereka agar jangan pernah menerima kebaikan dari orang yang tidak dikenal. Kebaikan yang diberikan oleh orang yang terlihat seperti ulama tersebut adalah seperti es krim yang diberikan oleh orang asing kepada anak-anak mereka yang akan membawa mereka ketempat dimana mereka akan tersesat. Perubahan yang kemudian terjadi pada para ibu ini adalah, mereka rajin beribadah dan menjadi sangat aktif, tapi mereka kemudian juga berani secara terang-terangan menceritakan perihal orang lain atau kekurangan dan kelemahan suatu hal kepada khalayak karena mereka pikir hal tersebut bermanfaat. Ketika ditegur pun mereka tidak akan punya malu lagi, malah percaya pada dirinya sendiri yang sanggup mengemban misi karena dukungan besar secara spiritual dan material yang didapatnya dari komunitasnya (dan bukan karena kemampuan dan pengetahuan agama yang ada pada diri mereka). Keyakinan mereka pun langsung tercabut sampai keakarnya karena sudah membenarkan yang salah yaitu pergunjingan hanya karena perasaan awal mereka bahwa pergunjingan dapat bermanfaat sudah mendapat dukungan pembenaran dari komunitas jamaahnya. Aliran penyesatan tersebut berhasil mengeluarkan primary instinct kaum perempuan yaitu kejahilan bergunjing yang justru semakin berbahaya karena sekarang mereka berpikir kalau hal tersebut bukan kenakalan lagi, tapi sebagai bentuk keidealan/ke-super-an/kesempurnaan dari diri mereka yang bisa menghilangkan batasan yang mereka miliki dengan memberi pengecualian pada perbuatan seperti menggunjing dan menceritakan perihal orang lain. Kenakalan adalah hal yang sering terjadi, tapi kesesatan adalah hal yang luar biasa. Hal ini akhirnya melemahkan/menggerogoti ibadah yang mereka lakukan. Defensif mereka pun berubah dari yang seharusnya ajaran agama, aturan, norma dan adat sebagai lini pertahanan individu manusia, menjadi komunitas jemaah mereka sebagai lini pertahanannya. Kerentanan dari hal ini adalah hilangnya kekuatan individual dan dirubah menjadi kekuatan komunal dimana kekuatan komunal tersebut diisi oleh individu-individu yang sudah ter-compromised. Kalau kita pikir hal tersebut tidak apa-apa, coba pikirkan situasi ketika kita dalam masa penjajahan dulu. Kita melakukan perjuangan dengan gerilya dan bukan secara masiv karena kita tauk musuh mempunyai senjata yang bisa menghancurkan secara masal. Makanya terkadang yang aman belum tentu yang ramai-ramai dilakukan. Persatuan penting tapi tidak bisa dengan melemahkan pertahanan dan jati diri individunya, karena menurut agamapun pertanggung jawaban di hari akhir nanti adalah pertanggung jawaban orang-perorang dan bukan kelompok. Dalam agama Islam, shalat lima waktu berjamaah dianjurkan tapi tidak diwajibkan, karena sebagai individu kita harus mampu menegakkan apa yang diwajibkan walaupun tanpa ada jamaah atau komunitas yang mendukung kita.

Yang perlu juga disadari adalah penyesatan dilakukan dengan melihat kelemahan para ibu ini, yaitu mudah mempercayai informasi dan kemudian melakukan tindakan berdasarkan informasi tersebut dan melakukan pengecualian dengan melanggar peraturan, etika dan ajaran agama hanya karena para ibu ini merasakan manfaat tindakan tersebut (salah tapi bermanfaat). Hal ini diperparah oleh adanya dukungan dan sokongan dalam melakukan tindakan dan perbuatan mereka yang berdasarkan informasi tersebut, sehingga para ibu ini menjadi sangat berani dalam melakukan penyimpangan. Penyesatan dilakukan dengan memborbardir ibu-ibu ini dengan informasi-informasi baru (perihal agama atau masalah tertentu) yang membuat pengetahuan dan informasi mengenai agama yang pernah mereka terima sebelumnya hilang (atau bahkan menghilangkan ajaran agama mereka dengan mengganti ajaran ayat-ayat Al-Quran dengan ajaran mengenai kebaikan dan manfaat). Agama diperlakukan seperti pasar yang menjadi riuh karena aksi-aksi yang mereka lakukan adalah reaksi dari informasi yang mereka terima dari orang dalam kelompoknya, makanya, para ibu ini kemudian bisa terlihat sangat aktif. Semangat SOSIALIS (berkelompok, tujuan dan misi kelompok, acara rutin, mengejar keidealan dunia dengan penghilangan sifat-sifat alami) dengan perbuatan yang KAPITALIS (aliran sesat terkadang identik dengan uang dan materi seperti bangunan dan gedung bagus, rumah-rumah baru, aliran dana untuk menunjang pergerakannya, MLM, sumbangan-sumbangan sebagai bentuk kegiatan sosial mereka, panggung dan perhelatan, selain juga melihat agama sebagai pasar informasi yang reaktif) memang sering terlihat diberbagai aliran sesat. Pengecualian yang dilakukan berdasarkan informasi-informasi yang ga ketahuan juntrungannya (fitnah) lebih berbahaya daripada korupsi dan kolusi. Orang yang melakukan korupsi dan kolusi, adalah orang yang memang memegang tanggung jawab atas penyalahgunaan yang dilakukan sehingga dapat ditindak-lanjuti dengan hukuman penyalahgunaan tersebut. Tapi, orang yang bertindak hanya karena sebatas informasi, dimana dia memang tidak memegang/mempunyai tanggung jawab apapun pada apa yang ditindak (disalahgunakan), akan jauh lebih berbahaya karena tindakannya tidak mengikat pada apapun. Tindakan yang mengikat hanya pada informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lagipula, korupsi dan kolusi hubungan langsungnya hanya dengan uang dan materi (ciptaan manusia), sedangkan pengecualian berdasarkan informasi hubungan langsungnya bisa dengan apa saja, termasuk langsung dengan ciptaan Tuhan YME. Inilah yang bisa membangkitkan kelompok-kelompok jahil. Kalau dulu jaman Nabi Muhammad SAW yang jahiliyah adalah mayoritas, tapi kalau sekarang, yang jahiliyah berada di ceruk-ceruk yang tersembunyi dan terbungkus dengan rapi, menunggu alasan-alasan pembenaran untuk menyerang dengan primary instinct mereka atau sekedar mengubah yang standar dan batasan.

Lalu mengenai pengalaman gue sendiri, tidak terlalu berbeda jauh karena inti ajaran sesat biasanya sama, yaitu, dalam memberikan kebaikan dan manfaat untuk orang lain, mereka lakukan dengan cara-cara yang melanggar ajaran agama, peraturan, etika dan norma sehingga mengeluarkan primary instinct mereka ke wilayah bebas tanpa batas. Terkadang yang mau menyesatkan ini kalau mau nempel, nyari atau mengumandangkan kesalahan dulu biar nempelnya lebih kenceng karena seakan-akan berusaha membawa perbaikan. Mereka juga selalu mempertontonkan atau membanggakan ibadah yang mereka lakukan (riya) sebagai sebuah keteladanan. Tapi ujungnya mereka sering mengajak untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan seakan-akan hal tersebut adalah sebuah pengecualian. Jujur aja gue ga akan terlalu mempermasalahkan kalau masalahnya hanya sesederhana penyimpangan tapi kalau bagian dari sebuah gerakan penyesatan gue agak merinding juga. Yang gue lihat juga, penyesatan dilakukan dengan tidak sungkan-sungkan membawa-bawa syiar dan dakwah agama mereka dengan menggunakan fitnah, pergunjingan, cerita-cerita yang diambil dari barat ataupun cerita agama yang ga ketahuan juntrungannya asalnya dari mana, hadist yang maknanya sudah dirubah, perkataan-perkataan yang terdengar baik dan bermanfaat tapi menyesatkan, logika yang sempit, perkataan-perkataan yang delusional, pengalaman orang lain dan lain sebagainya. Mereka juga melakukan perbuatan yang mengambil hak orang lain, intimidasi dan sebagainya sebagai bagian aktivitas yang berasal dari kelompoknya demi mendapat manfaat dari kelompoknya. Mereka berpura-pura didalam syiar dan dakwah mereka, tidak menggunakan referensi yang jelas seperti Al-Quran dan hadist shahih. Untuk menggunakan dan mengucapkan ayat Al-Quran dan artinya saja dalam dakwah agama jarang sekali dilakukan. Karena hal-hal yang tidak standar tersebutlah mereka harus selalu berada dalam lingkupan dan pengaruh kekuatan kelompoknya. Gue juga pernah ngerasa dibuntutin orang-orang misionaris (yang menggunakan atribut agama gue sendiri) hanya gara-gara ibadah gue ga sesuai dengan "kualitas" yang mereka inginkan yang berarti gue ga "pandai" mengikuti perintah dan suruhan mereka. Mereka mengintimidasi orang berdasarkan ibadahnya sehingga seakan-akan ibadah seseorang adalah untuk dilihat dan diketahui oleh mereka (ibadah untuk diketahui orang lain). Entah mereka mengerti atau tidak tapi kelompok tersebut sebenarnya menginginkan gue memperlakukan ibadah seperti meditasi, dengan mengosongkan dan memusatkan pikiran. Padahal menurut gue pribadi, khusyu bukan berarti ringan melayang. Mereka kemudian menghubung-hubungkan hal tersebut dengan ketidakmampuan gue memusatkan energi positif dari ibadah tersebut sehingga hal-hal buruk seperti kezaliman dan kejahatan dengan mudah menimpa gue. Orang-orang ini kemudian aktif "ngerjain" gue dengan "sengaja" berlaku zalim. Mereka menzalimi gue untuk membuktikan bahwa gue tidak mampu memancarkan energi pemberantas kejahatan dan kezaliman. Tapi, inilah masalahnya. Dengan kesengajaan berlaku zalim, bukankah hal tersebut membuktikan bahwa mereka mampu mengeluarkan energi jahat dan zalim??? Bahkan ketika mereka meyakini kualitas ibadah mereka, bagaimana energi jahat dan zalim ini bisa keluar bahkan dengan kesengajaan???  (Gue ga ngerti jalan pikiran mereka yang berpikir kalau hal yang salah tapi disengaja dapat dibenarkan, padahal, justru kesalahan yang sengaja dilakukan akan lebih berdosa dan berbahaya daripada yang tidak sengaja dilakukan karena menjadi kejahatan terencana). Yang gue heran, mereka melihat yang zalim bisa sebagai sebuah tindakan yang benar. Padahal, cuma aliran sesat yang berpendapat bahwa membantu setan dan iblis dengan berbuat zalim dan melakukan pelanggaran ajaran agama adalah hal yang baik karena sudah membantu melaksanakan tugas para pesuruh Tuhan YME yaitu setan dan iblis. Selain itu, mereka juga melakukan tindakan meneriakkan hal yang ga jelas (yang ga jelas tuh tandanya ga berilmu) di ruang publik atau wilayah properti orang, di depan umum atau orang-orang yang harusnya dihormati dimana hal tersebut tidak bisa dibilang sebuah aksi kebaikan. Apalagi kemudian dengan sengaja menghalang-halangi hak seseorang hanya karena alasan yang sudah direkayasa. Dari sini gue ngerti kalau mereka sebenarnya bukan orang-orang yang peduli dengan ajaran agama, mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri agar bisa eksis (walaupun eksisnya sebagai umat tetap saja hal tersebut merupakan kepentingan manusianya). Hujatan, fitnahan, tekanan dan intimidasi hanya dilakukan oleh orang-orang yang ingin memurtadkan orang lain, sama seperti cara-cara orang kafir zaman Nabi dulu yang dengan sengaja merendahkan martabat orang lain. Masih ingatkan cara-cara mereka yang terus menerus mengikuti Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya, dan bahkan melemparkan kotoran, batu dll? Pada akhirnya, gue melakukan sebuah pengujian "ekstrem" untuk melihat apa reaksi mereka terhadap hal yang salah, dan apakah mereka punya inisiatif sendiri untuk meluruskan hal yang salah. Dan kesimpulan gue? Mereka cuma digembala orang lain. Lalu kira-kira siapa gembala mereka? Gue baru bisa mengetahui hal tersebut sekarang.

Overall, inti masalah yang paling krusial dari penyesatan ini adalah menciptakan orang-orang yang sudah ter-compromised dengan primary instinct untuk menghakimi orang lain hanya berdasarkan informasi yang didapat dari komunitasnya. Ketika orang-orang yang sudah ter-compromised agamanya kemudian menggunakan agama tersebut untuk menghakimi orang lain, maka hasilnya akan chaos, karena apapun yang mereka lakukan akan mereka anggap benar (walaupun hal tersebut salah). Agama digunakan untuk membentuk pasar informasi yang reaktif dengan spekulan-spekulan yang selalu menggunakan informasi-informasi sebagai hal yang mendasari tindakan dan perbuatannya. Merekalah yang tidak menggunakan keyakinan mereka dalam bertindak tapi hanya menggunakan fakta. Selain itu, hal tersebut juga salah satu bentuk adu domba yang digunakan untuk mengeliminasi orang-orang yang dianggap bersalah (padahal mungkin cuma rekayasa saja untuk mengeliminasi orang-orang yang bisa mempunyai pengaruh dan kekuatan menggoyang kelompok sesat tersebut). Satu hal sebenarnya yang harus selalu diingat, ketika kita ingin membela suatu hal (agama, keyakinan, negara, wilayah) bukan kemudahan-kemudahan dan kesempatan-kesempatan bagus yang seharusnya ada didepan mata kita, karena yang namanya membela itu penuh resiko dan tantangan. Kalau kita dalam membela sesuatu hal ternyata mendapat kenyamanan, kemudahan-kemudahan yang sifatnya duniawi, itu berarti kita sedang DISUAPIN dengan propaganda dari musuh-musuh yang tidak terlihat untuk menyesatkan kita dalam sebuah perjuangan. Kalau ada yang bilang kemudahan-kemudahan duniawi tersebut datang dari Tuhan YME, coba lihat perjuangan para Nabi kita terdahulu. Perjuangan para Nabi tidak terdapat kemudahan-kemudahan tersebut, mereka berjuang dalam kondisi yang jauh dari keadaan nyaman, aman dan tentram. Bagaimana mungkin manusia biasa seperti kita mendapat kemudahan-kemudahan dalam perjuangan ketika Nabi saja harus menempuh hal yang sangat sulit dan berbahaya. Lagipula, para Nabi kita berjuang tidak dengan merusak keamanan, kenyamananan dan ketentraman orang lain. Apa benar kita bisa seenaknya sendiri saja dalam berjuang? Sekarang coba pikirkan, kemudahan-kemudahan yang diterima tersebut, apakah jika kita menolaknya berarti kita kehilangan kenyamanan, keamanan dan ketentraman? Kalau ya, berarti seharusnya perjuangan tersebut dimulai dengan menolak kemudahan-kemudahan yang kita terima. Coba pikirkan lagi juga apakah kemudahan-kemudahan tersebut ditujukan pada akhirnya untuk  merusak keamanan, kenyamananan dan ketentraman orang lain yang ditujukan salah satunya sebagai cara untuk mengadu domba? Untuk yang Islam coba lihat Surat Al-Kahf mengenai sekelompok anak muda dalam menghadapi musuh-musuh mereka, tidak ada kekerasan apalagi radikalisme disana (bukankah Al-Quran adalah yang sebenar-benarnya?).                

Bukan hanya manfaat dan akibat yang baik yang bisa menghancurkan batasan dan ajaran agama, terkadang aliran sesat bisa menghancurkan batasan dan ajaran agama serta moral karena mereka melihat akibat buruk dari memegang batasan dan ajaran tersebut. Loh, kenapa memegang batasan dan ajaran agama bisa berakibat buruk? Sederhana jawabnya, karena mereka sudah kalah dari hawa nafsu mereka dan dari musuh bebuyutan mereka sehingga pertahanan mereka sudah tidak ada lagi. Ketika keyakinan tergadaikan, secara tidak sadar mereka kehilangan pertahanan mereka. Merekapun kalah dan menolak untuk berjuang, dan akan mau kehilangan lebih banyak lagi sampai tidak bersisa apa-apa lagi untuk dibela. Pada aliran sesat, Winning is when nothing can bound them so they as free as sky above, defenseless and light just like being in heaven. Winning is like being in an accomplished and ideal life, a perfected life. 

Saran gue, waspadalah dengan kegiatan huru hara dan hura-hura, karena serangan datang ketika kita dalam keadaan euforia yang berlebihan. Selamat Tahun Baru!











Kamis, 06 Desember 2012

Tambahan Baru Pada My Communities

Internet memang sebuah dunia maya yang asyik untuk dijelajahi. Sifatnya yang personal, bebas dengan cakupan yang luas tidak dimiliki oleh sarana komunikasi lainnya. Tapi karena sifatnya yang maya terkadang Internet mempunyai aturan yang tidak jelas dan dapat merugikan penggunanya. Akhir-akhir ini misalnya, banyak situs penyedia sosial networking atau jasa berbasis komunitas mengganti/merubah konsep situs mereka sehingga para pengguna kehilangan hasil kreativitas/jerih payah mereka selama menggunakan jasa tersebut di Internet. Beberapa tahun lalu Friendster mengganti konsep situs mereka sehingga banyak para pengguna kehilangan testimoni-testimoni yang sudah mereka buat di halaman perkenalan mereka. Waktu itu Friendster sempat menawarkan download data kepada para pengguna untuk memindahkan data mereka ke situs lain. Gue ga terdaftar di Friendster jadi ga tauk kelanjutan ceritanya, hanya saja halaman-halaman situs Friendster sekarang sudah tidak bisa di akses lagi. Nah, sekarang gue ngerasain hilangnya data yang sudah gue kumpulkan pada situs Digg. Digg mengganti konsep secara total, sehingga halaman tempat gue menyimpan berita, hilang tidak berbekas. Parahnya, mereka tidak memberikan kesempatan download data pada para pengguna. You Tube pun begitu, ketika tampilan baru dipaksakan ke penggunanya, banyak yang mengeluhkan keterbatasan kreativitas yang mereka miliki pada tampilan baru tersebut.

Makanya, mengingat pengalaman gue yang dulu pernah di Blogger juga kena hapus (karena memang gue lama ga aktif) dan karena ada tampilan baru dari Blogger yaitu Dynamic View yang mungkin "mengancam" keberadaan situs ini, gue buat duplikat situs ini dengan menggunakan PDF yang gue simpan di Scribd. Semacam archive juga untuk situs ini biar ga menguap kalau Blogger tiba-tiba ingin mengganti konsepnya. Berikut linknya :

 

Selain itu gue juga sudah buat tampilan dynamic view untuk situs ini (Bleh... gue ga terlalu suka soalnya ga bisa gue rubah-rubah tampilannya, membosankan).

Anyway gue masih berusaha mengumpulkan link-link gue yang gue taruh di Digg. Ada berita politik, ekonomi, hiburan disitu. Entah bagaimana restore-nya.

Berikut link-link lainnya:

 


Dan berikut link-link yang gue taruh di Digg dan link tambahan lainnya, gue taruh disini untuk sementara sampai gue menemukan tempat yang cocok selain Digg:

Pasar Murah BI gelar Pasar Murah Dari Dana BSR
Down to -50C: Russians freeze to death as strongest-in-decades winter hits
Massive explosion rips oil tanker in Saudi Arabia, with at least 26 killed, over 100 injured (VIDEO, PHOTOS) — RT
Hurricane Sandy: Manhattan Flooding - Business Insider
BBC News - US Navy F-18 crashes in residential Virginia
Bakries to sell half their stake in Bumi - FT.com
Ismiyati Sempat Dilarang Ibunya Naik Pesawat - KOMPAS.com
Maqam Siti Dalam Surabaya
Pengemudi Xenia Maut Dimaki-maki di Twitter (Jadi Trending Topic) - tabloidbintang.com
CARREFOUR HENGKANG: Chairul Tanjung Bakal Akuisisi 100% Saham Carrefour Indonesia? - Bisnis.com
At least 87 slaughtered at Labor Party youth gathering in Norway
Biola Tertua di Dunia Ada di Malang - KOMPAS.com




Sabtu, 01 Desember 2012

Mengenai Penyesatan (Bag. 3)


Sebuah kereta melaju dengan cepat, kereta tersebut penuh berisi jiwa-jiwa yang tersesat yang menemukan jalan mereka di rute perjalanan kereta tersebut. Kereta berjalan dan berhasil menerabas melewati gerbang-gerbang yang tidak tampak. Gerbang yang tak tampak tersebut adalah perumpamaan untuk ajaran-ajaran agama, etika dan norma yang diterabas oleh kelompok aliran sesat. Kereta tersebut terus bergerak maju, bahkan mobil-mobil pun sudah berhenti ketika kereta lewat memotong jalanan mereka. Sehingga, kereta pun akhirnya tiba pada perlintasan dimana terdapat gerbang-gerbang yang kasat mata atau terlihat. Gerbang kasat mata tersebut adalah perumpamaan untuk hukum dan aturan yang berlaku di masyarakat, dimana ketika kereta menerabasnya berarti sudah terjadi pelanggaran yang harusnya bisa ditindaklanjuti. Gerbang kasat mata adalah gerbang dimana terdapat para korban aliran sesat, gerbang dimana jika tidak ada tindakan maka akan ada lebih banyak korban jika kereta terus melaju. Gerbang tersebut adalah ketika kereta mendapatkan hasil nyata berupa suratan tertulis yang sudah mengubah realitas dan takdir seseorang atau sekelompok orang. Ketika kereta sudah melewati gerbang yang kasat mata, maka laju kereta akan berada di titik dimana kereta tidak bisa kembali lagi (point of no return). Titik dimana konsekuensi yang ditimbulkan oleh kereta tersebut harus diterima dan tidak dapat diperbaiki lagi. Kereta yang sudah  melewati gerbang kasat mata akan terus melesat maju melewati gerbang-gerbang kasat mata berikutnya sampai akhirnya mendekati gerbang yang terakhir. Kalau gerbang yang terakhir tersebut berhasil dilewati, tidak ada lagi yang bisa menghentikan kereta, karena dibalik gerbang tersebut adalah fisik atau tubuh dari semua jiwa-jiwa yang terdapat pada kereta tersebut yang akan terhantam oleh laju kereta. Gerbang terakhir terdiri dari dua pintu, dimana pintu yang kanan bertuliskan World dan pintu yang kiri bertuliskan Earth. Seakan-akan menyiratkan simbol bahwa ketika gerbang dibuka, maka dunia akan terpisah dari fisiknya yaitu bumi. Gerbang dipegang oleh dua orang, yang perempuan dikiri dan yang laki-laki dikanan. Kereta bisa melewati gerbang tersebut setelah menerima hasil nyata berupa suratan tertulis akan apa yang menjadi konsekuensi tindakannya yang mengubah realitas dan takdir yang dibutuhkan untuk membuka gerbang tersebut, sehingga gerbang terlepas ikatannya. Yang laki-laki akan membuka gerbang kekanan, dan yang perempuan akan membuka gerbang kekiri agar kereta bisa segera lewat.  Padahal, setelah gerbang terlewati, kereta akan segera menyiapkan pertunjukan akhirnya, dimana di balik gerbang tersebut, tubuh dari jiwa-jiwa yang ada di kereta sudah dipersiapkan untuk menyambut hantaman dari kereta setelah gerbang terbuka. Kalau gerbang tidak juga dibuka, maka hantaman demi hantaman akan dilancarkan oleh kereta tersebut sampai gerbang terbuka, dimana setiap hantaman berarti akan jatuh korban, yaitu tubuh-tubuh dibalik gerbang yang terkena dampak hantaman tersebut. Setelah tubuh mereka hilang, maka hanya ada jiwa-jiwa mereka yang terkunci didalam kereta kesesatan menuju tujuan akhir dari kereta tersebut. Ilustrasi  atas Kompleksitas Aliran Sesat.

Di bagian terakhir ini gue ga akan menjelaskan apa-apa saja aliran yang dianggap sesat yang sedang berkembang dewasa ini, tapi langsung ke bagian analisanya saja. Kalau ingin mengetahui aliran-aliran tersebut, coba cek saja YouTube channel gue disini untuk yang luar negeri dan disini atau disini untuk yang dalam negeri.

Sebelumnya, kita sudah membahas bahwa ketika hubungan kepada Tuhan YME sudah dimanipulasi sehingga seseorang menganggap individu lain atau dirinya dapat berperilaku sebagai pemberi dan penerima perwujudan keinginan Tuhan, seseorang tersebut akan mengubah ekspektasi kepada orang lain menjadi sebagai pemberi sesuatu dari Tuhan, atau orang lain sebagai penerima sesuatu dari Tuhan melalui dirinya atau individu lainnya. Seseorang dengan mudahnya melihat orang lain atau dirinya sebagai penerima (get) dan pemberi (give) solusi atas nasib dan takdir mereka atau orang lain. Bahkan, mereka akan berpikir bahwa untuk memberi maka mereka harus mau menerima (kalau tidak menerima maka tidak bisa memberi). Makanya, ekspektasi Get and Give ini mampu menempatkan individu lain atau dirinya sebagai perantara (orang tengah) dalam sebuah hubungan (kepada Tuhan atau kepada orang lain) yang ikut menentukan nasib atau takdir orang lain atau dirinya. Karena sebagai penghubung langsung dengan nasib dan takdir, dimana perantara menawarkan sesuatu atau solusi, maka peran perantara dapat menjadi besar dan membuat orang menjadi takabur. Apalagi dengan asumsi bahwa tawaran yang mereka terima ditujukan untuk memberi. Terkadang petunjuk dan perkataan dari perantara malah dijadikan pegangan akan perbuatan-perbuatan yang dilakukan dalam sebuah hubungan, dan bukan petunjuk dan perkataan dari substansi atau zat yang dituju oleh hubungan tersebut (Tuhan YME atau orang lain). Perantara membelokkan dan memutus hubungan yang seharusnya terjadi melalui tawaran-tawaran yang diberikan.

Sebagai perantara, seseorang bisa memberikan (give) dengan cara berpartisipasi, melakukan pengorbanan, pengucapan, memberitahukan, memperlihatkan, membayar, menguji dan menghukum sesuatu hal kepada orang lain sebagai perilaku yang menjawab suatu permasalahan dan mendapat pembenaran karena memberi adalah hal yang baik. Seorang perantara kemudian juga bisa mendapatkan (get) dengan cara mengambil, menerima, menyetujui, menyambut, mengabulkan, penyesuaian, pengiyaan dan penyimpulan sesuatu hal dari orang lain sebagai  perilaku yang menjawab suatu permasalahan dan mendapat pembenaran karena menerima ditujukan untuk hal yang baik (memberi). Pada akhirnya, perilaku Get and Give ini menjadi dialog dikehidupan sehari-hari, dimana benar atau tidaknya sebuah perilaku dan selesai atau tidaknya permasalahan tidak akan menjadi masalah, karena pada kelompok aliran sesat, kecenderungan berpikir positif dan pengaruh uang dan kekuasaan berbicara lebih banyak. Ditengah uang dan kekuasaan, mengucapkan dan memberitahukan yang benar atau yang salah dan kemudian memelintirnya, akan semudah membalikkan telapak tangan. Akibatnya, dialog get and give tersebut akan terus berputar tanpa henti karena tidak adanya landasan dan dasar (seperti ajaran agama, aturan hukum, norma dan adat) yang digunakan dalam memecahkan permasalahan. (Kalau diibaratkan sebagai komputer, maka ketika terjadi looping yang terus menerus tanpa menyentuh base case, maka akan ada blue screen yang menandakan sistem crashed dan harus di shutdown, atau bisa juga prosedur  exception handling dijalankan sehingga sistem harus dishutdown setelah melakukan ritual pembersihan yang diinginkan.)

Dalam perkembangannya dewasa ini, aliran-aliran yang dianggap sesat juga masih melakukan pola yang sama. Mereka memanipulasi ekspektasi hubungan kepada Tuhan YME dari para pengikutnya. Hal ini dilakukan dengan membentuk opini-opini yang harus dibenarkan oleh pengikutnya dengan memaksakan informasi dan kondisi yang terkontrol, dan kemudian harus diwujudkan sebagai realitas oleh para pengikutnya. Gue akan menerangkan bentuk-bentuk penyesatan tersebut dan cara-cara mereka berdasarkan pengamatan gue sendiri dari aliran-aliran sesat (dianggap sesat) yang banyak berkembang dewasa ini sekaligus dengan ilustrasinya.


Pembentukan Opini

Sebelum opini dibentuk dengan bujukan dan rayuan, pengikutnya harus berada pada kondisi dimana persepsi(panca indra) dijadikan pijakan berpikir mereka. Hal tersebut dilakukan dengan mempermasalahkan dan membanding-bandingkan penilaian atas kondisi fisik dan ekonomi seseorang atau lingkungan sehingga membuat persepsi(panca indra) menjadi pijakan cara berpikir. Ketika orang berpijak pada persepsi fisik dan material, mereka akan menjadi subjektif, yang memicu perilaku atas apa, siapa dan dimana subjeknya akan menentukan benar atau tidaknya suatu perbuatan dilakukan. Mereka juga akan cenderung membenarkan berdasarkan konteks yang dibangun oleh persepsi indra mereka. Setelah menjadikan persepsi sebagai pijakan mereka, pengikutnya juga harus ditinggikan ego dan perasaannya dengan sanjungan atau meyakinkan bahwa dirinya spesial terhadap orang lain, bahwa mereka bisa mempunyai arti yang lebih, memberi yang lebih untuk orang lain. Egoisme juga dibentuk dengan memperlihatkan inferioritas orang lain/lingkungan, menampilkan kelemahan dan kekurangan  orang lain/lingkungan, sehingga superioritas dirinya meningkat. 

Setelah ego dan perasaan sudah tinggi, dan persepsi digunakan sebagai landasan berpikir, opini yang dangkal tapi tidak berdasar pun dapat dimasukkan yang akan menjadi acuan perbuatannya kemudian. Perbuatan yang kemudian dilakukan adalah dengan bentuk Get and Give yang sudah dijelaskan diatas. Perbuatan yang berdasarkan opini dan bukan opininya itu sendiri yang kemudian membangun/mengubah realitas. Dan karena opini yang dibuat adalah sesat, maka kelompok aliran sesat berkeinginan mengubah takdir setiap orang menjadi takdir yang tidak baik dan menerima takdir tersebut dengan suka cita (keikhlasan menerima takdir yang tidak baik akibat perbuatan-perbuatan sesat tanpa adanya usaha perlawanan).     

Supaya lebih jelasnya, gue lontarkan sebuah ilustrasi yang menimpa seorang korban bernama Alisa, (nama rekaan) yang sedang berusaha disesatkan oleh para pengikut aliran tertentu, dan seorang pengikut aliran sesat, IS, yang baru masuk dan sebenarnya adalah korban juga. Alisa sudah berumah tangga, sedangkan IS baru saja bercerai. Ketika opieni akan digunakan untuk mempengaruhi realitas, maka IS akan dipengaruhi dulu cara berpikirnya dengan perbincangan mengenai penilaian kondisi fisik atau psikologis seseorang. IS akan diarahkan menggunakan persepsi dia sebagai sebuah nilai, tentunya untuk menghilangkan nilai ajaran, nilai norma, nilai adat dan etika yang dia miliki sebelumnya selama bermasyarakat. Misalnya saja dengan penilaian yang "baik" hasil dari persepsi atas kondisi fisik, seperti: "Lisa tuh cantik ya, harusnya dia punya pasangan yang putih dan tinggi", atau "seharusnya dia berpasangan dengan orang baik-baik", yang bermaksud mengarahkan IS mencacat pasangan Alisa yang sekarang. Jika IS setuju, maka IS sudah terjebak pada pandangan sempit yang menggunakan persepsi dan subjektivitas untuk merusak hal yang sakral seperti pernikahan. Apalagi, yang dipakai untuk menilai adalah fisik atau psikologis seseorang (yang merupakan anugrah), serta perilakunya, bukan dari sudut pandang yang bagus-bagusnya dari seseorang tersebut, melainkan yang jelek-jeleknya saja. (Kejujuran dan mengungkapkan kebenaran juga mempunyai batasan dan tidak bisa diumbar begitu saja).

-----------------------------------
Off the topic, gue ingin membicarakan ajaran heboh mengenai wanita oleh Pak MT tahun 2010 lalu di salah satu channel TV, dimana seakan-akan perilaku seseorang tidak bisa dirubah, dan pria tidak usah bertanggung jawab penuh pada perilaku para wanitanya. Setauk gue, menurut hadist di agama gue sendiri, yang dipakai sebagai alasan seorang pria menikahi perempuan adalah bukan hal yang jelek-jeleknya, tapi hal yang bagus-bagusnya dari perempuan tersebut, dan merupakan preferensi dari si pria tersebut untuk memilih mau yang bagus dihal mananya yang bisa saja relatif  menurut dia. Gue rasa hal itu juga untuk mengangkat derajat wanita, karena ga bisa mengharapkan wanita perfect diseluruh hal (makanya didasarkan pada preferensi) atau perfect di satu hal (makanya didasarkan pada suatu hal yang relatif). Yang relatif berarti yang berhak menilai adalah subjek yang bersangkutan, yaitu pria itu sendiri dengan takarannya sendiri, dan bukannya menggunakan penilaian dengan hal yang sangat spesifik dan ditentukan. Dengan preferensi dan lebarnya kriteria untuk memilih, jelas sekali kalau agama gue memberikan kebebasan dan menghormati dan menghargai keberagaman anugrah yang dimiliki setiap individu (perempuan ada yang mendapat anugrah kekayaan, ada yang mendapat anugrah kecantikan, ada yang anugrahnya kedudukan keluarganya dan ada yang anugrahnya adalah keyakinan agama yang kuat dan semua kriteria tersebut tingkat visibilitasnya tinggi, artinya, tanpa harus berdekatan dengan si wanita pun hal-hal tersebut dapat dinilai dengan mata telanjang). Hal itu juga menegaskan pentingnya nilai-nilai ajaran dan aturan yang dimiliki seorang pria dalam mengambil keputusan.  Jadi, yang gue tangkep dari ajaran agama gue tersebut adalah, pria dibolehkan memilih kriteria yang mana yang akan dia jadikan acuan. Kalau seorang pria ingin yang cantik, ya seperti apa cantik tersebut adalah persepsi dia sendiri (gue ga melihat ada yang salah dengan preferensi akan "tampilan luar" tersebut, asalkan dia sendiri yang menilai kecantikan yang dia inginkan). Kalau ingin yang beriman, ya keimanan seperti apa yang cukup untuk dia, dia yang mengukur apa yang dia inginkan. Kalau ingin yang kaya, ya usaha dia sendiri untuk mencari tauk apa si perempuan cukup kaya untuk dia (Nabi Muhammad SAW memilih istri pertamanya karena juga kekayaannya). Makanya untuk dapat menilai seperti itu, seorang pria harus cukup dewasa untuk menikah sehingga dia dapat menggunakan pengetahuan dan nilai-nilai yang dia miliki. Ketika dia sudah tauk kriteria yang dia inginkan dan hal tersebut terlihat pada diri seorang perempuan, maka kalau mau melakukan sesuatu atas perempuan yang bukan haknya tersebut, hal yang pertama dia harus lakukan adalah mendapatkan hak tersebut. Setelah dia mempunyai hak tersebut, misalnya dengan menikahinya, barulah si pria boleh memaksakan sebuah kriteria yang spesifik dengan membimbing wanita yang dia pilih tersebut kearah yang menurut dia benar, baik dari hal perilakunya atau agamanya. (Karena agama gue membolehkan poligami, maka istri yang bisa dibimbing dengan baik adalah yang lebih diutamakan). Kalau belum apa-apa konsekuensi keinginan yang spesifik tersebut sudah dibebankan kepada wanitanya, lalu dimana peran seorang pria sebagai pemimpin? Di agama gue, kemampuan pria untuk memimpin berbagai macam kalangan dan perilaku, dilatih mulai dari memimpin wanitanya. Kita toh butuh pemimpin yang kuat yang mau menanggung resiko dan berjiwa besar (coba deh pikirkan, negeri ini mau dibawa kemana ketika teknologi aja kita tertinggal jauh, lalu kemudian manusianya dibuat lemah karena berpikir subjektif dan sempit). Perlu dicatat pula bahwa didalam kriteria diatas tidak termasuk anugrah kemampuan mencari nafkah, pria bertanggung jawab penuh dalam hal menafkahkan keluarganya. 

Nah, kalau orang-orang seperti IS yang menilai berdasarkan perkataan orang lain, maka ini sudah termasuk penilaian oleh publik, apalagi memaksa Lisa untuk mendapatkan seperti yang persepsi IS inginkan padahal Lisa cuma seorang perempuan dan kenyataan kalau sudah terjadi pernikahan dimana ikatan tersebut harus dihormati.    
--------------------------------------------

Setelah persepsi yang fisik dijadikan landasan, untuk membesarkan ego, IS diberikan sebuah informasi mengenai kesalahan atau kelemahan Lisa yang berhubungan dengan masalah di keluarga Lisa. "Eh, si Lisa tuh ga begini dan ga begitu loh, payah si Lisa itu", dan kemudian IS pun menerima informasi tersebut dan merasa bahwa dia bisa berbuat lebih kepada Lisa karena merasa ada yang "kurang" dari Lisa.  Setelah itu, IS yang merasa dirinya berhasil dibimbing agamanya dengan baik oleh kelompok tersebut mendapat opini bahwa "Jangan tunggu sampai sempurna ilmu, ibadah dan amalan untuk melakukan aksi-aksi kebaikan, aksi-aksi menegakkan hukum Tuhan. Langsung saja melakukan aksi-aksi atas nama Tuhan, yang pentingkan niatnya." Sehingga IS merasa bahwa dia mempunyai kelebihan keyakinan (agama) dimana yang lebih itu bisa ditransfer ke Alisa. Sekarang, IS merasa dia bisa berbuat lebih berdasarkan keyakinan yang baik. Kemudian, karena IS tauk Lisa sedang mempunyai masalah keluarga, IS pun menerima opini "yang baik", bahwa seseorang harus terbuka akan masalahnya agar dia menjadi lebih ringan. Sehingga, sebagai bentuk persetujuan atas opini tersebut, IS menceritakan pada Lisa mengenai masalah di keluarga IS sendiri yang sebenarnya tabu untuk diceritakan. IS bertujuan "baik" agar Lisa menjadi nyaman dan mau menceritakan masalah di keluarganya.  Dari sini, IS yang merasa dia bisa berbuat lebih berdasarkan keyakinan yang baik, mendapat jalan untuk berbuat berdasarkan apa yang dia rasakan baik. Padahal, IS tidak sadar, bahwa keyakinan agama dialah yang menjadi target dan bukan Alisa dengan perbuatan yang dia lakukan. IS terjebak pada perilaku get and give, dimana dia menyampaikan perihal keluarganya kepada Alisa (give) untuk mendapatkan cerita perihal keluarga Alisa (get).             

Sekarang, coba bandingkan kelakuan IS ini dengan menggosip ala ibu-ibu (rata-rata perempuan suka menggosip termasuk gue). IS membicarakan hal yang terlarang, karena dia sudah dimanipulasi untuk memperlakukan hal terlarang tersebut sebagai tindakan yang baik dan benar hanya karena hal tersebut bertujuan baik. Sementara, ibu-ibu penggosip tauk dan sadar mereka membicarakan hal yang terlarang tapi tetap mereka lakukan karena ga kuat akan godaan untuk menggosip. Ketika ditegur, maka akan lebih sulit berbicara dengan IS, ketimbang berbicara dengan ibu-ibu penggosip. IS akan sangat defensif bahwa hal yang dia lakukan adalah benar, sedangkan ibu-ibu penggosip biasanya hanya mengangguk-angguk saja (mereka ngerti mereka salah), walaupun diam-diam lanjut dengan gosipnya setelah yang menegur pergi (pengalaman pribadi).  Keyakinan SI sudah diselewengkan karena menganggap apa yang dia lakukan bukan pelanggaran, sedangkan ibu-ibu penggosip masih memegang keyakinan bahwa yang mereka lakukan adalah salah dan sebuah pelanggaran. Makanya, ibu-ibu penggosip bergunjing secara sembunyi-sembunyi karena takut yang digosipin mendengar atau takut ketahuan suami mereka, yang berarti mereka mengerti akan resiko dan konsekuensi dari pelanggaran bergosip. Tetapi IS, andaikan dia melakukannya secara tersembunyi dengan Lisa, hal tersebut karena dia commit pada kelompoknya untuk menyembunyikan aksinya, dan bukan karena dia melihat dan sadar adanya resiko dan konsekuensi atas perbuatannya yang melanggar tersebut. Ini terlihat ketika aksi yang dilakukan IS bisa menjadi sebuah pergerakan yang masiv karena adanya pembenaran. Hal lainnya adalah ibu-ibu penggosip memilih lawan bicaranya yang memang asyik untuk diajak ngegosip, tapi IS memilih lawan bicaranya karena Alisa memang menjadi target penyesatan dari kelompok IS.   

Untuk IS, bergunjing bukan sekedar bergunjing tetapi ibadah (karena mengandung unsur kebaikan) sehingga dia bisa diterima di kelompok tersebut, sekaligus juga menyeret orang lain (Alisa) kedalam kelompok tersebut.  Disini, IS tidak sadar bahwa sesuatu yang benar, bukan berarti benar untuk diutarakan. Aturan yang kita pegang melarang permasalahan (bukan kesalahan!) didalam keluarga untuk disebarluaskan walaupun hal tersebut benar adanya. IS pun akhirnya sudah mengkhianati keluarganya sendiri, mengingkari keyakinannya dan menjadi mata-mata untuk Alisa. 

Pembentukan opini dilakukan ketika ego manusia sangat tinggi, sehingga mereka akan mudah lepas kendali atas aksi-aksi dimana hanya persepsi, opini dan alasan saja sebagai landasan berpikirnya. Perilaku menyimpang dapat dihasilkan dari aksi-aksi tersebut dan pengabaian akan dampak aksi tersebut dapat dilakukan karena adanya kepentingan dari dirinya sendiri untuk eksis dan bersama kelompoknya.

Setelah cara berpikir dipengaruhi, emosi adalah hal selanjutnya yang akan dimanipulasi. Diharapkan dengan memanipulasi emosi, perbuatan yang dihasilkan dari emosi tersebut dapat dikendalikan.  


Pengendalian Emosi

Beberapa aliran yang menyesatkan banyak menggunakan jargon-jargon yang menyangkut emosi manusia seperti misalnya "sedih itu dosa" atau "cinta memberi kebaikan pada sesama". Bahkan, kondisi psikis manusia adalah solusi yang dapat memberi kebaikan untuk manusia tersebut. Aliran-aliran tersebut menganggap emosi dan perasaan adalah sentral dari seorang manusia. Mereka beranggapan bahwa kondisi psikis (emosi dan perasaan) seseorang adalah hal yang paling penting dalam menilai dan mengukur seseorang, atau kondisi psikis seseorang adalah hal yang menentukan sesuatu sebagai benar atau salah (sedih itu dosa?). Padahal, yang namanya kondisi psikis orang yang waras masih belum bisa terukur, karena baru dapat dideteksi hanya dengan perbuatan dan perkataan saja, sehingga, penilaian berdasarkan persepsi yang ditangkap tersebut belum memadai dalam menilai emosi dan perasaan tersebut. Kalau menurut gue, kondisi psikis dan fisik manusia adalah anugrah, dan anugrah ga bisa dinilai karena memang tidak ternilai harganya. Nah, yang kemudian berbahaya dari aliran-aliran ini adalah ketika emosi dan perasaan adalah sentral dari seorang manusia, maka perilaku dan perbuatan menjadi hal yang inferior terhadap emosi dan perasaan tersebut. Artinya, dalam tindak-tanduknya, manusia mendasarkan keputusannya untuk melakukan suatu perbuatan, hanya berdasar pada emosi dan perasaan seseorang, dan bukan pada esensi dari perbuatan tersebut (sebab-akibat dan aturan yang melandasinya). Salah satu contoh tindakan berdasarkan emosi tetapi tidak berdasar yaitu menyenangkan orang sebagai sebuah kebaikan, sehingga kita harus selalu (bertindak) menyenangkan orang. Padahal, yang namanya menyenangkan orang luas sekali spektrumnya, dan bisa mencakup tindakan yang salah dan benar (dan bukan baik atau tidak baik). Bukan hanya itu saja, emosi dan perasaan juga sangat rentan dimanipulasi karena keterkaitannya dengan persepsi. Manipulasi berarti ada emosi yang berusaha untuk ditekan (dihilangkan) sehingga bisa diganti dengan sebuah definisi yang dihasilkan oleh persepsi seseorang, dan ada emosi yang berusaha untuk ditimbulkan sehingga definisinya dapat ditegaskan melalui persepsi seseorang. Biasanya yang berusaha ditekan atau dihilangkan adalah emosi yang negatif sedangkan emosi yang positif akan berusaha ditegaskan. Kenapa yang positif ditegaskan dan yang negatif dihilangkan? Karena pada aliran sesat mereka ingin pengikutnya menjadi tidak sensitif karena mengucilkan emosi negatif tersebut. Dengan emosi yang berdasarkan definisi inilah, perbuatan seseorang kemudian bisa dikontrol.  

Gue akan kasih contoh dengan lanjutan kasus SI dan Alisa diatas. Ketika Lisa pada akhirnya mau menceritakan masalahnya kepada IS, akhirnya diketahui kalau suami Lisa yang pergi mencari nafkah di Batam sudah dua tahun belum juga pulang. Lisa yang mempunyai seorang anak perempuan yang masih balita, mendengar kabar kalau suaminya sudah mempunyai wanita lain di Batam dan sudah pulang kampung ke Padang. Untungnya, Lisa tidak menceritakan lebih lanjut perihal keluarganya pada IS, walaupun IS memaksa dengan menceritakan lebih jauh perihal prahara di keluarganya sendiri. IS yang memandang emosi dan perasaan adalah pusat dari segalanya, sangat mudah terpengaruh akan kondisi seseorang yang menimbulkan kesedihan dan penderitaan. Dia pun menjadi mudah prihatin dengan kondisi Lisa, dan berusaha mendapatkan solusi untuk kebaikan Lisa. IS pun kembali terjebak dengan perilaku Get and Give dimana kelompok aliran tersebut sudah menyediakan solusi untuknya. Atas saran kelompok tersebut, IS berusaha menjodohkan Lisa dengan seorang temannya. Lisa diperkenalkan kepada temannya tersebut, ketika Lisa datang dalam sebuah acara yang rutin didatangi Lisa.

Perbuatan yang dilakukan IS untuk Lisa sebenarnya hanya berdasarkan pada persepsi dia bahwa kesedihan harus diobati, dan bukan pada keinginan untuk menyelesaikan masalah Alisa. Kelompok ini pintar, karena memilih IS yang mempunyai pengalaman pahit dalam berumah tangga, sehingga dia menggunakan emosi tersebut dalam mengambil keputusan untuk membantu Alisa. Seperti cermin, IS melihat dirinya pada diri Alisa. Diapun kemudian menyimpulkan sendiri bahwa kondisi Lisa memprihatinkan tanpa mengenal Lisa lebih jauh. Status Lisa yang masih menjadi suami orang yang masih dinafkahi setiap bulannya atau perasaan Lisa yang masih mempercayai suaminya  nampaknya tidak dipedulikan oleh IS. Dia sangat terpengaruh oleh aliran kelompoknya yang mengatakan bahwa "kesedihan adalah dosa" atau "cinta membawa kebaikan kepada sesama."  Ketika akhirnya dia berhasil memperkenalkan Lisa dengan temannya (yang mungkin sesuai dengan yang persepsi IS atau kelompoknya inginkan), maka SI sudah menjadi orang tengah yang bermain dikehidupan Alisa. 


Selanjutnya, segera setelah dipertemukan dengan seseorang, Lisa merasa ada yang lain dihatinya. Tapi dia tidak menggubrisnya, karena status dia yang masih istri orang. (OK, Lisa bukan termasuk perempuan yang "gatel" yang mau bertandang ke rumah seorang pria yang masih lajang dan dia juga bukan tipe yang mau mengejar laki-laki). Entah bagaimana, IS sepertinya tauk kalau Lisa sudah jatuh hati pada orang yang diperkenalkannya. Kelompok IS pun akhirnya menggembar-gemborkan keberhasilannya kepada semua orang, mengambil privasi Lisa. Ketika Lisa sadar bahwa orang lain membicarakan isi hatinya, ia tidak bisa menampiknya begitu saja. Ia pun merasa bersalah karena dia sudah mencintai orang lain yang bukan suaminya, walaupun dia tidak pernah melakukan  perbuatan yang mengarah pada perselingkuhan. Tapi, IS dan kelompoknya ternyata sangat aktif sekali, dan cerita Lisa yang mempunyai PIL kemudian sampai kepada suami Lisa yang ternyata masih berusaha untuk mencari nafkah untuk Lisa dan anaknya.   

Dari sini, terlihat bagaimana kelompok IS memandang cinta dan perasaan adalah segalanya, dan bagaimana tingkat kepedulian mereka sebenarnya. Kelompok IS mengambil tindakan dan menampilkan perilaku tidak terpuji, hanya karena "mengetahui" perasaan Lisa, seakan-akan hal tersebut adalah penting. Padahal, Alisa saja tidak melakukan tindakan yang berarti untuk menanggapi perasaan tersebut. Tindakan yang dilakukan berdasarkan perasaan orang lain, misalnya dengan mengucilkan, menggembar-gemborkan, melaknat, adalah bukti bahwa kelompok IS memandang perasaan adalah pusat segalanya, sehingga mereka mampu melakukan tindakan berdasarkan perasaan tersebut. Kelompok IS tidak peduli, bagaimana Lisa masih menjaga perilaku dan tindakannya terhadap seorang pria yang bukan suaminya, karena Lisa menganggap keluarganya lebih penting dari perasaan cintanya. Yang kelompok tersebut pedulikan adalah hanya perasaan Alisa, dan apa yang bisa mereka lakukan (give & get). Lagi-lagi, informasi yang "benar" tapi salah ini adalah hasil manipulasi dari persepsi manusia terhadap sebuah emosi atau perasaan, sehingga tidak mempedulikan aturan, ajaran serta norma yang berlaku. Dengan tindakan mereka, mereka sudah tidak menghargai Lisa sebagai seorang individu dengan nilai-nilai yang dia pegang. Dengan cara-cara seperti inilah aliran sesat mengambil paksa nilai-nilai yang dimiliki seorang individu.   

Kalau ditilik lebih lanjut, maka kelompok IS sebenarnya sudah merendahkan nilai nyata (real) dari sebuah perasaan (cinta) tersebut, karena mereka menilai cinta dan perasaan hanya sebatas informasi yang disampaikan. Ketika mereka menerima cinta hanya sebatas informasi saja, maka makna dari cinta itu sendiri sudah rancu untuk mereka. Mereka tidak perlu merasakannya, hanya diberitahukan saja dan itu sudah cukup bagi mereka untuk menyimpulkan sendiri seperti apa cinta tersebut. Mereka pun dengan mudah didikte mengenai apa itu cinta (atau emosi dan perasaan yang lain) sebagai sebuah definisi yang bersumber dari informasi dan bukan bersumber dari perasaan itu sendiri. Kalau sudah terpengaruh oleh informasi seperti ini, maka untuk menekan atau menampikkan rasa cinta itu sendiri, bisa dilakukan dengan definisi atau informasi lanjutan seperti, "cinta itu menyakitkan", atau "cinta membawa sengsara." Yang lalu menjadi masalah adalah, bagaimana kemudian pernikahan yang sakral, ikut pula diterjemahkan berdasarkan informasi mengenai perasaan yang mendasarinya, seperti cinta dan kasih sayang, yang pada akhirnya bisa mempersepsikan orang bahwa mereka harus commit dengan perasaaan cinta dan bukan pernikahan. Mereka inilah yang kemudian menganggap mengingkari cinta adalah hal yang munafik, bahwa cinta harus selalu berwujud, kalau tidak ada perwujudannya berarti... salah! La siafa kite! (Padahal menurut ketentuan Tuhan YME, emosi dan perasaan memang tidak mempunyai wujud. Jadi, yang mengingkari ketentuan Tuhan bahwa emosi dan perasaan harus mempunyai wujudlah yang sebenarnya munafik). Lagipula, apabila mengingkari perasaan cinta adalah munafik, lalu bagaimana dengan mengingkari hubungan yang sudah berusaha dijalin selama bertahun-tahun? Sebagai orang lain, ada atau tidak adanya hubungan, jangan mempermasalahkan cinta yang ada dalam diri seseorang, karena yang seperti itu tidak penting. Diwujudkan atau tidak, tidak menjadi masalah. Apabila kemudian emosi atau rasa tersebut kemudian diwujudkan, dan jika perwujudan emosi atau rasa tersebut masih dalam batasan-batasan agama dan moral tertentu, maka hal tersebut tidak apa-apa karena terbukti bahwa rasa tersebut tidak berlebihan. Kalau ada perwujudannya berupa perbuatan dan perbuatan tersebut melanggar baik moral atau agama, barulah pelanggaran tersebut bisa ditindaklanjuti karena ada pelanggaran. Kalau dalam kasus Lisa, yang melakukan pelanggaran adalah justru orang-orang yang tidak memiliki perasaan tersebut, yang berusaha mewujudkan (menampilkan) perasaan cinta Alisa dengan perbuatan-perbuatan mereka (berkomplot menjebaknya dalam suatu plot tertentu juga termasuk perbuatan yang tidak mempunyai batasan norma, etika dan agama).    

Balik kepada kasus Lisa diatas, ternyata yang dialami Lisa kemudian adalah malapetaka, karena sekarang keluarga Lisa berada diujung tanduk. Lisa tidak lagi menerima uang dari suaminya. Lisa sekarang harus berusaha mencari nafkah untuk anaknya dan dia tidak bisa mengharapkan pria yang dikenalkan oleh IS karena memang yang dilakukan bukan perjodohan tapi perkenalan saja. Lisa merasa dia hanya dikenalkan dan tidak punya hubungan apa-apa apalagi komitmen dengan pria tersebut, begitu pula pria tersebut. Sepertinya IS tidak mengerti bahwa yang namanya menjodohkan itu harus didasarkan pada niat yang pasti dari prianya dan kesiapan dari pria dan wanita tersebut, tidak bisa sembarangan dilakukan mengenalkan seorang wanita terhadap seorang pria. Hal ini untuk menjaga wanitanya karena wanita selalu akan mempunyai konsekuensi yang lebih besar dalam setiap hubungan. Apalagi dengan bertindak hal-hal yang tidak perlu pada pasangan yang tidak mempunyai komitmen apapun, seakan-akan memang ada hubungan (yang malah membuat hubungan tersebut menjadi nyata in a wrong way). 

Kelompok ini memang aktif sekali menghubung-hubungkan seseorang yang belum punya hubungan apa-apa dengan ucapan, perkataan dan perbuatan, sehingga yang tidak punya hubungan tersebut menjadi terhubung oleh sebuah akibat dari perbuatan yang dilakukan kelompok ini. Perasaan tidak bisa menghubungkan orang, tapi tindakan dan perbuatan bisa. Seperti tindakan yang melewati batas yang dilakukan kelompok IS, yang bukan lagi tindakan freedom of expression tapi murni tindakan melanggar etika dan aturan yang ada. Crime is an act and not a feeling. Disini, bukan perasaan Alisa yang salah, tapi perilaku, perkataan dan perbuatan manusia-manusia ini yang berusaha menilai dan berbuat berdasarkan anugrah tersebut, yang membuat pelanggaran bisa terjadi.           

Pada akhirnya, kelompok aliran ini pulalah yang aktif menyebabkan adanya informasi yang melenyapkan emosi atau perasaan cinta tersebut, sehingga ketika perasaan cinta tersebut hilang,  mereka akan menciptakan definisinya saja yang harus mereka angkat dan agung-agungkan dengan kata-kata yang indah yang mereka ciptakan sendiri. Inilah salah satu cara pengontrolan emosi, yang ditujukan untuk mengaburkan tindakan yang kita lakukan berdasarkan perasaan tersebut seperti pernikahan misalnya.


Lalu, untuk apa sebenarnya pengendalian emosi dan cara berpikir dilakukan oleh aliran yang dianggap sesat ini? Pengendalian emosi dan cara berpikir dilakukan, agar persepsi kita terhadap emosi dan perbuatannya berubah sesuai definisi atau informasi yang disampaikan. Ketika cara berpikir kita terpusat pada perasaan dan emosi, maka, apabila mereka berhasil mendefinisikan bahwa, cinta itu berarti berusaha memberikan segala keinginan dan kebutuhan yang membahagiakan kepada orang yang dicintai, cinta berarti mencegah semua hal-hal yang buruk atas orang yang dicintai, dan cinta berarti sesuatu yang harusnya menyenangkan dan berbalas, maka mereka berhasil mendefinisikan perasaan cinta. Dari definisi perasaan  cinta tersebut, mereka menyetir harapan atau ekspektasi dan perilaku dari para pengikutnya terhadap seseorang atau sesuatu yang dicintai atau mencintai mereka. Kelompok aliran sesat ini ingin mendefinisikan apa yang harus dilakukan dan diharapkan orang tua kepada anaknya, suami /istri terhadap pasangannya dan seorang hamba Tuhan kepada Tuhannya.     


Atas definisi cinta seperti diatas, maka bisa diharapkan orang tua akan berperilaku sbb: berusaha memberikan segala keinginan dan kebutuhan anaknya yang berhubungan dengan kebahagiannya, mencegah semua hal-hal yang buruk atas anaknya, dan menyenangkannya dan berharap mendapat hal yang sama dari anaknya tersebut. Tapi tunggu dulu, walaupun perilaku diatas terlihat make sense, tetapi sebenarnya sama sekali tidak masuk akal. Ketika orang tua berusaha memberikan segala keinginan dan kebutuhan anaknya, menyenangkannya dan mengharapkan balasan atas yang dilakukannya (anak juga harus memberikan keinginan dan kebutuhannya, menyenangkannya) maka hilanglah amanah karena keinginan dan kebutuhan serta kesenangan manusia bukan sesuatu yang mulya, tapi malah bisa mengakibatkan kekufuran. Orang tua bisa saja mengajarkan anaknya bahwa semua keinginan dan kebutuhan anaknya yang bisa membahagiakannya adalah hal yang baik dan benar yang harus diraih. Padahal, konsep bahagia yang bisa ditangkap seorang anak cenderung mengarah pada pemenuhan materi dan kesenangan si anak. Para orang tua juga akan cenderung memberikan reward daripada hukuman, karena reward dapat berupa pemenuhan keinginan dan kebutuhan anaknya yang membahagiakannya tersebut. Sedangkan hukuman bukan kebutuhan yang seperti itu, yang bisa muncul dari dalam diri si anak. Hal ini akan membuat si anak berpikir bahwa pemenuhan keinginan dan kebutuhan adalah segalanya, yang juga berarti materi adalah segalanya. Yang berarti pula mengajarkan sang anak bahwa cinta bisa diberikan dan didapatkan dengan pemenuhan keinginan dan kebutuhan materi atas seseorang. Hal ini bisa merusak persepsi si anak, bahwa kalau dia ingin mencintai atau dicintai orang tuanya, maka ia harus memenuhi keinginan dan kebutuhan yang membahagiakan orang tuanya yang bersifat materi yang mungkin saja fatal ketika dia beranjak dewasa, yang malah memicu dia melakukan hal-hal yang terlarang untuk pemenuhan materi tersebut.

Karena memberi hanya didasarkan pada keinginanan dan kebutuhan yang membahagiakan si anak, maka memberi pengajaran juga dilakukan atas hal-hal yang menjadi keinginan dan kebutuhan anaknya yang bisa membahagiakannya, termasuk pengajaran akan kewajiban si anak. Ini berarti, apabila keinginan dan kebutuhan akan kewajiban tersebut tidak muncul sendiri dari dalam diri si anak, maka orang tua perlu menciptakan kondisi yang membuat munculnya keinginan dan kebutuhan si anak akan kewajiban tersebut sebagai bentuk pengajaran untuk si anak. Ketika orang tua memandang mengkondisikan anaknya adalah sebagai bentuk pengajaran, mereka dapat melakukan hal-hal yang sebenarnya ga perlu atau bahkan dosa, karena dilakukan diluar aturan yang ada. Aliran sesat bisa masuk lewat celah ini, misalnya menawarkan pendidikan dan pengajaran yang bisa menciptakan kondisi tersebut, yaitu dengan mengambil alih peran orang tua secara total. Mereka juga bisa membujuk orang tua agar membiarkan anaknya mencicipi dunia luar, sehingga menghasilkan kondisi dimana kebutuhan akan kewajiban tersebut kemudian muncul dengan sendirinya dalam diri si anak. Masalahnya, hanya sedikit orang tua yang tauk bahwa tindakan tersebut dapat membuat si anak terperosok kedalam jurang yang terdalam, dimana, munculnya kebutuhan akan kewajiban tersebut adalah hanya sebuah desperate attempt agar anak tersebut bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan lainnya, yang justru muncul karena bersinggungan dengan dunia luar. Artinya, kebutuhan akan kewajiban tersebut muncul karena kebutuhan ingin hidup, seperti juga kebutuhan untuk makan, minum dan lainnya, dan bukan karena keimanan yang muncul dari dalam diri anak tersebut karena ajaran yang diajarkan oleh agamanya. Hal ini menyebabkan si anak berpikir bahwa kewajibannya yang juga adalah bagian dari keimanannya, adalah sebatas keinginan dan kebutuhan untuk hidup. Si anak akan berpersepsi bahwa keimanannya sejalan dengan keinginan dan kebutuhan hidupnya (yang material) yang malah menggerus keimanan si anak tersebut ketika dia dihadapkan pada pilihan yang mengancam hidupnya (dan mengancam gaya hidupnya dengan kebutuhan-kebutuhannya tersebut). Bahkan apabila alirannya cukup ekstrem maka pengkondisian yang dilakukan kepada seorang anak bisa dengan sengaja membawa anaknya ke jurang maut sehingga akan muncul berbagai kebutuhan hidup dalam diri si anak yang kemudian dengan mudah disediakan oleh aliran sesat tersebut dengan syarat-syarat tertentu yang termasuk juga kewajiban tersebut.  Akibatnya, keimanannya hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup dan untuk mempertahankan statusnya (state of happiness).

Orang tua pun tidak bisa menjadi peramal untuk mencegah semua hal buruk yang dapat menimpa anaknya dengan melakukan cara-cara diluar dari aturan dan ajaran yang berlaku. Untuk hal-hal yang bersifat material memang bisa, seperti melarang merokok untuk mencegah penyakit yang berbahaya, karena bahaya rokok bukan sebuah ramalan, rokok bisa dinilai kadar nikotinnya dan seberapa besar bahayanya untuk tubuh. Tapi menilai hal yang non material sehingga membuat orang tua menjadi peramal nasib anaknya, adalah hal yang percuma karena membuat orang tua sibuk mencegah sesuatu yang belum ada kepastiannya (kekhawatiran yang berlebihan akan kebahagiaan anaknya misalnya). Justru yang pasti-pasti seperti yang terdapat dalam ajaran dan aturan yang berlaku tidak dilaksanakan karena aktifnya mencegah yang tidak pasti. Yang tidak pasti tidak bisa dicegah, tapi orang tua bisa memberi bekal kepada anaknya sehingga dapat menjaga dirinya sendiri. Lagian, apabila ada ancaman terhadap anaknya, apakah orang tua kemudian dapat menghalalkan segala cara agar ancaman tersebut hilang karena cintanya terhadap anaknya? Keyakinan bisa hilang dengan cara-cara seperti ini, karena aktifnya orang tua melakukan tindakan pencegahan.

Hal yang sama kemudian terjadi pula pada suami/istri terhadap pasangannya ketika definisi cinta diatas diimplementasikan. Suami bisa saja menceraikan istri karena istrinya tidak mau mengikuti semua keinginan dan kebutuhan sang suami yang mungkin saja ada karena keinginan kelompok aliran sesat tersebut, begitupun sebaliknya. Suami pun bisa saja terjebak pada solusi mudah dan cepat karena kekhawatirannya tidak bisa memenuhi keinginan atau kebutuhan istrinya, atau takut istrinya kenapa-napa maka sang suami menyerahkan istrinya dan keluarganya ke orang yang bisa menjaminkan keselamatan mereka.     

Lalu, bagaimana hubungan dengan Tuhan YME berdasarkan definisi diatas, karena kita semua tauk kalau Tuhan YME Maha Penyayang dan mencintai hambaNya. Ketika seseorang meyakini definisi cinta diatas, dia akan meyakini bahwa, kondisi dimana dia terpenuhi kebutuhan dan keinginannya yang membahagiakan dirinya adalah bukti bahwa dia dicintai Tuhan YME. Sehingga, kalau dia ingin merasa dicintai oleh TuhanNya, maka dia harus mempertahankan kondisi tersebut dengan menerima hal-hal atau kesempatan yang bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya, serta, menolak hal-hal yang bisa menghilangkan kondisi tersebut. Dia pun cenderung berpikir bahwa, ketika semua keinginan dan kebutuhannya terpenuhi, berarti dia sudah ada di jalan yang benar karena Tuhan YME sudah membuktikan kasih sayang-Nya terhadap dia. Singkatnya, dengan egonya dia membenarkan apa yang menguntungkan baginya dan menghilangkan apa yang merugikan baginya. Ibadahpun dilakukan sebagai klaim bahwa dirinya berhak dicintai Tuhannya sehingga berhak menikmati kebahagiaan dunia. Dia seperti menciptakan surga kecil, dimana didalam surga, manusia yang beriman selalu mendapat keinginan dan kebutuhan yang membahagiakannya. Ketika hal yang buruk terjadi pada seseorang, dia pun langsung menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mencintai orang tersebut, bahwa orang tersebut pasti sudah melakukan hal-hal yang buruk, dan dunia ini harus dijadikan neraka untuknya. Secara tidak langsung dia mempercayai adanya karma dan melakukan penilaian terhadap amalan seseorang jauh sebelum hari pembalasan di akhirat nanti. Makanya gue bilang mereka tidak mempercayai hari akhir, karena surga kecil yang mereka bentuk dan penilaian terhadap amalan seseorang (termasuk dirinya).

Hubungan dengan Tuhan YME berdasarkan definisi diatas juga membuat seseorang berusaha menyamakan Zat Tuhan dengan manusia, dengan mendefinisikan perilaku cinta Tuhan YME sebagai perilaku cinta yang sama dengan manusia, sehingga seakan-akan perlakuan seperti memeluk, menimang, membelai adalah hal yang akan dilakukan Tuhan kepada manusia. Delusi yang demikian ini karena mereka menganggap diri mereka adalah sentral, bahkan terhadap Tuhannya, sehingga mereka merasa perilaku Tuhan yang mencintai dirinya adalah sama seperti ketika mereka mencintai seseorang. 

Selain itu dengan definisi cinta diatas seorang hamba Tuhan akan selalu yakin dirinya terjaga keselamatannya ketika dia merasa dirinya dicintai Tuhannya. Pada akhirnya dengan definisi cinta yang demikian, bisa saja dikemudian hari timbul ketidakpuasan, arogansi, saling curiga, menuntut yang berlebihan, bahkan menggoyang keyakinan kita dengan kekufuran, takabur dan kesyirikan. Yah, kalau menurut gue pribadi, please deh jangan menilai cinta itu seperti apa dan kasih sayang itu seperti apa, manusia ga punya ilmu untuk menilai hal yang seperti itu, apalagi menilai dan mendefinisikan Maha Penyayang itu seperti apa.... wah bisa-bisa takabur deh. Kita hanya perlu mempercayai sifat-sifat Tuhan YME, tapi jangan menilai sifat tersebut karena kita tidak bisa tauk bentuk-bentuk kasih sayang yang Maha tersebut seperti apa. Ketika kita mendengar sebutan Maha, maka pemikiran kita harus berhenti sampai disitu dan tidak berdelusi untuk memikirkan dan menuntut lebih lanjut bukti-bukti dan bentuk-bentuknya selain apa yang sudah ditetapkan/disebutkan dalam kitab suci dan hadist, karena yang disebutkan tersebut sudah lebih dari cukup untuk membuktikan apa yang Maha tersebut (mempercayai kitab suci berarti kita tidak menduakannya dengan mencari dan menentukan hal lain selain yang sudah disebutkan/ditetapkan dalam kitab suci tersebut, seperti misalnya keajaiban yang aneh-aneh yang sekarang ini sering terjadi yang mungkin saja sebuah rekayasa). So, kalau ada seseorang yang mengatakan harta dan kekuasaan yang dimiliki dirinya adalah bentuk dan bukti kasih sayang Tuhan YME terhadapnya, think twice, sebagai manusia kita tidak bisa menilai hal tersebut.    

Ketika emosi adalah sentral, dan emosi yang sentral tersebut adalah yang positif seperti cinta, bahagia, senang, dan tentram, dimana aliran kelompok ini sudah berhasil mendefinisikan dan memanipulasi emosi-emosi tersebut sehingga berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dan keinginannya, maka, pemenuhan kebutuhan dan keinginannya tersebut akan pula menjadi sentral dalam pencapaian tujuan hidupnya. Karena yang sentral berarti yang utama, maka perilaku dia akan ditujukan untuk mendapatkan/mempertahankan kondisi yang dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan hidupnya. Dia kemudian mengharapkan pengendalian kondisi dalam pencapaian tujuan hidupnya, yang berarti adanya kemapanan yaitu ketika seluruh keinginan dan kebutuhan hidupnya dapat terpenuhi secara langgeng. Secara langgeng berarti resiko sudah diminimalkan dan adanya perlindungan atas resiko tersebut. Dia pun aktif mencari kemapanan sebagai hal yang sentral dalam hidupnya sehingga aspek lainnya hanya digunakan dan dimanipulasi untuk menyokong kemapanan tersebut, termasuk agama. Disinilah aliran sesat mulai bermain.


Kemapanan dan Masa Depan Yang Lebih Baik  

Pada pemikiran yang berpijak pada persepsi (indra), kemapanan lebih ditentukan oleh kuantitas daripada kualitas. Kuantitaslah (fisik, waktu, uang) yang menentukan kualitas dari kemapanan seseorang. Kuantitas pulalah yang membentuk euforia sehingga orang bisa lupa, teralihkan dan tersesat. Ketika seseorang masuk dalam kelompok aliran tertentu, dia diharapkan akan melepaskan (give) kendalinya atas aspek-aspek kehidupan yang dijalaninya, termasuk aspek ekonomi kepada individu lain (perantara). Imbalannya (get) adalah peminimalan, penghilangan dan perlindungan atas resiko yang biasanya menyertai pemenuhan kebutuhan didalam aspek ekonomi ini oleh orang lain/entitas lain (perantara tersebut). Inilah command and conquer ala kelompok aliran sesat, seseorang harus terus mengikuti perintah pemimpinnya dalam menjalankan roda kehidupannya (command), dan harus melepaskan hasil dari roda  kehidupan tersebut untuk dipergunakan bagi kesejahteraan kelompok (conquer), agar kelompok bisa terus maju. Mereka membutuhkan perantara untuk kelangsungan hidupnya dan menjadi perantara dalam pemenuhan kesejahteraan kelompok. Akibat pengendalian tersebut, inisiatif pribadi hilang, digantikan dengan inisiatif kelompok. Dan yang benar-benar menyesatkan adalah ketika kelompok aliran sesat menggunakan syarat-syarat tertentu sebagai syarat penjaminan kelangsungan perputaran roda kehidupannya, dimana syarat-syarat tersebut terkadang tidak berhubungan dengan pemenuhan aspek ekonomi mereka. Bahkan kelompok aliran sesat ini juga sering menimbulkan resiko yang mungkin tidak berhubungan dengan aspek ekonomi tersebut, dan mengancam korbannya untuk menuruti kemauan kelompok mereka kalau masih menginginkan masa depan mereka, atau kalau tidak, maka resiko tersebut akan dimaksimalkan.

Tidak jarang kehidupan pribadi akan dipengaruhi kalau berhubungan dengan kelompok aliran sesat. Hal ini terjadi pada keluarga Alisa. Suami Alisa, sebut saja Daus, pergi meninggalkan Alisa ketika dipindah tugaskan ke Batam, setidaknya itu yang diketahui oleh Alisa. Tapi ternyata bukan hal itu yang membuat Daus pergi meninggalkan keluarganya. Entah bagaimana, Daus terlibat aliran sesat yang mensyaratkan dia menceraikan istrinya dan meninggalkan anaknya karena kalau tidak ancamannya nyawa istri dan anaknya. Ketika Daus pergi dan ternyata tidak juga pulang, Lisa tidak mengetahui kalau suaminya mendapat masalah dan ketidakpulangannya bukan karena keretakan hubungan dia dan suaminya. Di Batam, Daus memang bekerja dan masih mencari nafkah untuk Lisa dan anaknya, tapi ancaman terhadap masa depan Lisa dan anaknya membuatnya berpikir untuk bertemu mereka kembali. Dia pun hanya bisa mengirimkan uang setiap bulan kepada Alisa. Alisa hanya bisa mengetahui kabar Daus dari teman-teman sekantor Daus yang ternyata penyebab kenapa Daus bisa terlibat aliran sesat tersebut. Dari mereka Alisa mendapat kabar kalau Daus ternyata mempunyai wanita lain, sebut saja SA. Dari mereka pulalah Alisa mengenal IS karena mereka satu kamar hotel ketika kantor Daus mengadakan seminar dan mengundang Alisa. Alisa dan IS tidak tauk kalau kabar tersebut hanya rekaan dari kelompok mereka dan SA adalah salah satu pengikut dari kelompok tersebut. Lalu, apa yang menyebabkan Daus, SA dan IS berpikir kalau yang mereka lakukan adalah yang terbaik untuk masa depan Alisa dan anaknya?

Daus. Ketika Daus pergi ke Batam, dia berpikir kalau dia mengikuti kemauan kelompok tersebut maka dia akan bisa memenuhi kebutuhan hidup Alisa dan anak-anaknya dikemudian hari. Daus juga berpikir kepergiannya hanya sementara, karena kelompok tersebut meyakinkannya kalau suatu saat dia bisa kembali sambil membawa hasil jerih payahnya. Daus positif thinking karena kelompok tersebutlah yang memperkenalkan dirinya dengan Alisa beberapa tahun yang lalu dimana ketika itu Alisa sedang kena masalah. Tapi seiring berjalannya waktu selepas kepergiannya ke Batam, kelompok aliran tersebut malah berusaha memisahkan dirinya dengan keluarganya. Dia tidak bisa berkomunikasi dengan Lisa dan diapun dikungkung dengan berbagai ancaman, bahkan dia harus menceraikan Lisa apabila ingin Lisa dan anaknya selamat. Beberapa kali Daus sebenarnya mengunjungi Alisa tapi tanpa sepengetahuan Alisa. Daus pun diancam kalau dia tidak berbohong atas hubungannya dengan SA maka semua teman-temannya didalam kelompok aliran tersebut akan dipersulit masa depannya dan SA akan diceraikan oleh suaminya. Solusi yang kemudian diberikan oleh kelompok tersebut adalah "take more money" karena bisa digunakan untuk membekali Alisa dan anaknya dikemudian hari, dan  sebuah janji "we'll be taking a good care of Alisa and her kid". Its promises on top of broken promises, yang berarti Alisa dan anaknya dititipkan kepada kelompok aliran tersebut dengan penjaminan yang palsu dan dengan uang suapan. Dari sini saja sudah terlihat ketidak-konsistensian kelompok aliran sesat ini, dengan menyuruh pemegang amanah atas Alisa dan anaknya untuk menjual masa depan mereka demi mendapatkan masa depan mereka. Inikan seperti bernapas dengan menghirup dan mengeluarkan udara secara bersamaan.   

IS. IS sebenarnya orang baru di kelompok tersebut. Dia diperkenalkan kepada Lisa untuk membantu Lisa yang bernasib sama dengan dia. IS diutus  untuk mengajarkan, memperlihatkan sesuatu kepada Lisa. Dia merasa kelompok tersebut sudah membantunya di masa-masa sulit dan telah menuntunnya menempuh jalan yang benar dan IS ingin melakukan hal yang sama untuk orang lain lewat kelompok tersebut. IS sekarang sudah bekerja setelah dibantu kelompok tersebut dan bisa menghidupi anaknya yang masih kecil. Tapi, yang IS tidak tauk adalah masa-masa sulit yang dia alami sebenarnya disebabkan oleh kelompok aliran yang sama. Merekalah yang menjadi penyebab keretakan di keluarganya sehingga IS harus mencari solusi untuk menghidupi anak-anaknya. Tapi berbeda dengan Alisa, IS mempercayai isu yang dilontarkan kelompok ini dan membalas kelakuan suaminya dengan menanggapi telepon-telepon dari teman prianya yang berasal dari kelompok tersebut, sehingga keretakan rumah tangganya tidak bisa dibendung lagi.  

SA. SA hanya mengerti kalau dirinya dipergunakan untuk memisahkan Daus dan Lisa karena Daus harus konsentrasi di pekerjaannya dan untuk menguji kesetiaan Lisa terhadap Daus. Dia merasa kelompok aliran tersebut bertujuan baik yaitu untuk kelangsungan hidup Lisa karena SA dan keluarganya juga menggantungkan hidupnya pada kelompok tersebut. SA merasa timbal balik yang dia berikan untuk kelompoknya ditujukan untuk kepentingan bersama. SA pun takut kalau dia tidak menurut, maka masa depan suaminya yang juga menjadi pengikut kelompok tersebut bisa berantakan dan suaminya merasa SA tidak menurutinya karena tidak percaya lagi padanya sehingga dapat berakhir pada perceraian (ingat kalau cinta berarti saling berusaha untuk memberikan keinginan dan kebutuhan pasangannya dan menyenangkannya). 

Sementara itu, yang lainnya yaitu pengikut aliran tersebut yang kepentingannya terhadap Alisa sangat kecil, tetapi mereka justru mengambil peranan terbesar. Mereka memaksa masuk kedalam kehidupan Alisa setelah si pemegang amanah yaitu Daus, menitipkan Alisa dan anaknya kepada kelompok tersebut. Yang lainnya ini hanya mengetahui bahwa aksi yang mereka lakukan kepada Alisa adalah krusial untuk kelangsungan hidup mereka bersama (termasuk Alisa dan anaknya). Pintu fitnah yang terbuka lebar akibat adanya pemaksaan kebohongan antara SA dan Daus dipakai untuk mengintimidasi Lisa. Sementara, kalau mereka tidak melakukannya, maka mereka bisa dikeluarkan dari kelompok dan masa depannya tidak lagi disokong oleh kelompok tersebut. Kemapanan yang mereka cita-citakan hilang. Para pengikut kelompok ini tidak akan berani mengkonfrontir informasi yang mereka terima kepada Alisa, apalagi mengatakan hal yang sebenarnya, mereka harus menjaga kondisi supaya fitnah tersebut bisa langgeng seperti harapan langgengnya masa depan mereka. Sadar atau tidak, mereka dengan sengaja memakan hasil uang dari fitnahan dan memberi makan keluarganya dengan hasil dari fitnahan tersebut, karena mereka dengan sengaja mempercayai info tersebut atau melanggengkan info tersebut. Masalahnya kemudian, aliran sesat yang seperti apa yang menaungi mereka karena ada berbagai macam aliran sesat dimana masing-masing mempunyai aturan main sendiri.  

Alisa vs. masa depan orang banyak ini sebenarnya adalah hubungan yang ga make sense, karena sebenarnya tidak ada hubungan antara aksi terhadap Alisa dan keluarganya dengan kelangsungan hidup mereka. Bagaimana kemudian sebuah aksi pelucutan amanah seseorang dengan konsep "titipan" dan pelancaran fitnah dengan menempatkan orang tengah seperti SA, bahkan pemaksaan terhadap Daus untuk menceraikan Alisa, dapat menghasilkan masa depan yang mengcover kebutuhan kelompok tersebut. Tanpa sadar mereka sudah mematok harga untuk kehidupan mereka, yaitu hidup orang lain.  If life is valued by another life, keresahan masyarakat terjadi karena kelompok tersebut mulai memangsa para korbannya, seperti Alisa. Yang tidak masuk akal juga adalah, mereka berpikir kalau hal yang mereka lakukan adalah kecil karena "hanya" menyangkut nasib Alisa dan anaknya. Padahal tidak demikian, karena ketika perlakuan terhadap Alisa dijadikan syarat untuk masa depan kelompok tersebut, maka langkah yang mereka lakukan bukan satu langkah kecil untuk menentukan nasib Alisa dan Daus, tapi satu langkah besar akumulatif karena dilakukan oleh sekian banyak pengikut aliran tersebut untuk merubah nasib dan masa depan sekian banyak pengikut tersebut. Dan satu langkah besar dari sebuah kelompok aliran yang dianggap sesat pastinya sebuah langkah yang crucial dalam mencapai tujuan aliran sesat tersebut, yang bisa saja merupakan tujuan tersembunyi dari pemimpin aliran tersebut yang mungkin berbahaya. Mungkin akan ada alasan lain yang mengatakan kalau kelompok tersebut melakukan aksi karena mendapat ancaman bahwa jika tidak dilakukan maka keluarga Alisa akan berada dalam bahaya. Kalau menurut pendapat gue pribadi, kalau Daus yang mengatakan hal tersebut maka hal tersebut masih bisa diterima akal. Tapi kalau dikatakan oleh orang lain dimana tidak mungkin mereka menjaga Alisa (menjaga diri sendiri dan keluarganya saja sudah cukup repot) maka bentuk kepedulian mereka adalah sebuah pepesan kosong. Ketika sekelompok orang yang cukup banyak, yang mampu melakukan sesuatu yang berarti terhadap sumber masalahnya, maka mempermasalahkan dan memperlakukan Alisa  yang cuma korban sebenarnya tidak bisa dijadikan alasan. Mungkin pula alasan lainnya adalah mereka ingin menjaga keselamatan keluarga mereka, tapi, didalam sebuah kelompok aliran sesat keselamatan adalah hanya sebuah jaminan, dimana yang tercover adalah kerugiannya ketika terjadi sesuatu dan bukan keselamatannya (seperti asuransi). Malah keselamatan keluarga mereka sebenarnya dipertaruhkan ketika mereka masuk kedalam aliran sesat tersebut karena yang namanya penjaminan sangat rentan terhadap aksi ambil untung dan keserakahan. 

Kelompok aliran sesat ini merangkai masa depan dengan menggunakan happiness daripada represi, menuju tujuan jangka panjang dengan menggunakan langkah-langkah praktis dan mudah, dan menggunakan pengorbanan (mengorbankan orang lain atau dirinya) daripada berusaha sendiri. Resep yang dibutuhkan untuk mengumpulkan orang-orang yang super egois dalam satu kelompok. Hanya pemikiran positif yang ditimbulkan bahkan ketika kelompok aliran ini mulai aktif melakukan agresi terhadap seseorang bahkan terhadap kelompok tertentu dengan sembunyi-sembunyi. Padahal, banyak aliran sesat menggunakan sistem kontrak seumur hidup bagi para pengikutnya, sehingga apapun yang dihasilkan dari kegiatan mereka di dalam kelompok tersebut akan selalu dibawah kendali kelompok tersebut. Dan, apabila ternyata seorang psikopat yang memimpin aliran tersebut, maka keselamatan bersamalah yang menjadi resikonya.   


Ketika kita bicara akan masa depan dan kemapanan, dan bersedia melakukan apa yang diperintahkan untuk mencapainya, maka akan ada nilai-nilai yang hilang. Nilai-nilai yang hilang ini terkadang adalah nilai yang sangat berharga dalam posisi kita sebagai manusia, yang seharusnya tidak hilang atau tergantikan karena dapat merusak sendi-sendi kehidupan. Tapi, karena nilai-nilai tersebut tidak berwujud, maka terkadang seseorang dengan mudah melepaskannya hanya karena alasan-alasan yang mereka anggap positif seperti kemajuan masa depan mereka. Masalahnya pada aliran sesat, penghilangan nilai yang tidak berwujud ini secara perlahan diarahkan untuk penghilangan hal yang berwujud yang bisa jadi yang berwujud tersebut adalah ciptaanNya.

Konsep Properti dan Kebendaan Dalam Kebebasan

Konsep bahwa mahluk hidup adalah properti atau sesuatu yang bisa dimiliki adalah salah satu sifat manusia yang tidak bisa dihilangkan dan sudah berlangsung selama ribuan tahun dan akan selalu ada. Dalam agama gue sendiri perbudakan ada dan tidak dilarang, dimana perbudakan didalam agama gue jelas memandang budak sebagai orang yang tidak bebas. Pada aliran sesat, konsep-konsep yang menempatkan makhluk hidup sebagai properti diberikan pada orang yang bebas. Konsep kebendaan seperti: titipan, perantara, pinjaman, penjaminan, pengadaan, pengganti, utang-piutang, deadline, penjadwalan, pengujian, dipertontonkan (dipamerkan), ekploitasi, manipulasi dan mungkin lebih banyak lagi, diberikan untuk orang-orang yang bebas yang bukan budak. Inilah yang membuat aliran sesat berbahaya karena berusaha mendegredasikan kekuasaan Tuhan YME terhadap orang-orang yang bebas.         

Dari kasus diatas, gue sudah perlihatkan bagaimana konsep titipan, perantara dan pinjaman  diperlakukan kepada seseorang oleh para pengikut aliran sesat. Ketika SA "dipinjamkan" untuk Daus, SA berada di posisi dimana tidak seharusnya dia berada. Mungkin persepsi SA sendiri mengatakan bahwa hal tersebut tidak berbahaya, karena yang dia hadapi adalah Alisa, seorang perempuan juga. SA tidak sadar bahwa dalam posisi dia yang sudah keluar jalur, Alisa bukanlah satu-satunya yang dia hadapi dan berurusan. Dalam posisi tersebut, SA sudah bersedia melibatkan dirinya lebih dalam dengan kelompok aliran sesat ini dan berurusan dengan mereka. Dan dari mereka inilah resiko bahaya terbesar berasal.

Intimidasi yang dilakukan oleh aliran ini menggunakan penjaminan masa depan terhadap korbannya sehingga aksi yang dilakukan tetap dilihat sebagai hal yang positif. Atau ditujukan untuk perbaikan dan perubahan kearah yang lebih baik untuk para korbannya, sehingga pelaku merasa melakukan hal yang baik. Kalau dilihat analoginya adalah seperti asuransi, barang dijaminkan oleh seseorang sehingga dia mendapat premi, dan apabila barang tersebut dikemudian hari rusak, maka orang tersebut harus menanggung resiko polisnya. Ketika para pengikut kelompok aliran ini melakukan aksinya kepada Alisa, mereka berpikir positif bahwa perlakuan mereka akan membawa kebaikan kepada Alisa. Mereka bahkan "berani" menjamin masa depan yang lebih baik untuk Alisa dan anaknya dengan perlakuan yang mereka berikan. Merekapun mendapat sesuatu (premi) dari keberanian mereka memberi perlakuan yang seakan-akan menjamin Alisa kearah yang lebih baik. Masalahnya adalah, yang dijaminkan masa depannya bukan barang, tapi orang. Dan apabila terjadi sesuatu pada Alisa dan anaknya dikemudian hari, kira-kira resiko polis seperti apa yang harus mereka bayar? Ingat kalau materi dan kesempatan yang mereka dapatkan adalah seperti premi hasil dari perlakuan khusus mereka terhadap Alisa dan anaknya, apakah polis ini akan sepadan dengan premi yang mereka terima? Ditambah lagi Alisa dan anaknya harus hidup tanpa Daus sekarang, sehingga tidak ada lagi pengemban amanah untuk keduanya. Makanya, coba dipikirkan lagi kalau kita ingin berbuat sesuatu kepada seseorang (yang bukan tanggung jawab kita) berdasarkan jaminan kebaikan yang diberikan. Bisa jadi hal tersebut dimaksudkan untuk mencederai kita sendiri dan mungkin orang lain.
        
Perspektif positif mengenai konsep kebendaan seperti pengganti yang lebih baik, juga dapat dipakai untuk memandang orang sebagai properti. Daus misalnya, rupa-rupanya dia kenal dengan seseorang yang istrinya meninggal mendadak dan Daus mencurigai kalau kematian tersebut tidak wajar karena berhubungan dengan kelompok aliran tertentu. Walaupun masa depan duda ditinggal mati tersebut menjadi lebih maju dan mendapat istri yang lebih cantik dan lebih pintar, hal tersebut tidak dapat menjadi sebuah pembenaran akan pelepasan amanah untuk kearah yang lebih baik. Apalagi ketika hal tersebut dipertontonkan kepada publik dan orang awam dengan tujuan menyesatkan mereka. Daus mungkin tidak setuju, tapi orang awam akan melihatnya sebagai sebuah anugrah yang datang dari langit setelah sebuah kepedihan/musibah. Aliran sesat menganggap akan selalu ada pengganti yang lebih baik dari sebuah kehilangan karena kesalahan-kesalahan fatal yang dilakukan yang tidak bisa diperbaiki atau ditindaklanjuti. Pemikiran tersebut bisa dikatakan melawan Tuhan dengan memberikan reward ketika kita tidak menjaga anugrah atau amanah yang kita terima. 

Untuk para penganut aliran sesat, batasan yang digunakan bukan ajaran dan aturan hukum, tapi deadline, yaitu batasan waktu akan sesuatu hal. Dengan batasan waktu ini mereka tidak akan peduli hal apa yang telah atau akan mereka lakukan, mereka hanya mengerti kapan hal tersebut dimulai dan diakhiri. Ketika IS berteman dengan Alisa, dia diberitahu kapan harus memulai dan sampai berapa lama pertemanan tersebut. Ketika batas waktu berakhir, IS akan mendapat alasan dari kelompoknya (dengan menggunakan kondisi) untuk meninggalkan Alisa sendiri dengan permasalahannya (yang semakin bertambah dengan hadirnya IS). IS tidak akan mau tauk dengan masalah yang dia buat terhadap Alisa, dia percaya semua akan ditangani oleh kelompoknya. Mereka juga menggunakan konsep seperti penjadwalan dalam pertemanan IS dan Alisa. IS ditentukan hanya boleh bertemu Alisa pada hari kerja dan sabtu, tidak boleh pada hari minggu, dan IS tidak boleh mempertanyakan mengenai hal ini. 

Konsep utang piutang seperti hutang budi juga digunakan untuk mengungkung para pengikutnya pada tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Daus menerima banyak sekali hal yang tidak perlu untuk menjalin hubungan dengan Lisa dan untuk mengeluarkan Lisa dari masalah, sehingga keduanya terhubung dengan hutang budi yang harus dibayarkan tersebut.         

Para pengikut kelompok aliran yang dianggap sesat memang sangat mematuhi pemimpinnya sehingga mereka mau melakukan apa saja untuk kelompok tersebut. Hal ini seperti sebuah bentuk pengadaan, dimana setiap anggota kelompok "selalu bisa dipakai" sesuai kebutuhan, baik untuk aktivitasnya atau bahkan untuk merubah nasib seseorang. Kesetiaan yang seperti ini berbahaya karena akan merongrong masyarakat dari dalam. 

Alasan untuk melakukan pengujian terhadap seseorang juga sering dipergunakan ketika sebuah kelompok sesat ingin memaksakan sebuah tindakan terhadap orang tersebut. SA misalnya, terjebak pada keinginan untuk menguji kesetiaan Lisa terhadap Daus. IS juga terjebak pada sebuah pengujian oleh kelompoknya agar bisa masuk ke kelompok tersebut.      

Kelompok aliran sesat juga senang memanfaatkan dan mengekspos kelemahan seseorang. Terkadang seseorang bahkan dimanipulasi (kalau orang tersebut mudah dipengaruhi) atau dieksploitasi (kalau orang tersebut posisinya lemah). Kalau dalam contoh diatas maka SA dan SI adalah orang-orang yang dimanipulasi, sementara Alisa adalah orang yang dieksploitasi. Gue sendiri berpendapat yang menjadi masalah adalah bukan psikologi seseorang sehingga dimungkinkan terjadinya manipulasi dan eksploitasi, tapi kenyataan kalau uang dan kekuasaan bisa berbicara lebih banyak, sehingga manusia menjadi tidak berharga dan rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi tersebut.  

Ketika manusia sudah diperlakukan dengan menggunakan konsep-konsep kebendaan (properti), akan lebih mudah untuk sebuah kehilangan, baik itu kehilangan atas dirinya sendiri atau kehilangan atas orang lain.



Bersambung...


Sanggupkah? Ketika kita kehilangan hal yang besar seperti ciptaan Tuhan YME? 

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More