Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Selasa, 17 Juni 2014

Don't Take Things For Granted

Kampanye hitam? Bagaimana dengan pelanggaran-pelanggaran yg cuma berkumandang ketika kampanye doang tapi tidak pernah ditindak ketika berkuasa? (semua pihak sebenarnya sudah pernah berkuasa sblmnya, cuma interface aja yg beda). Bagaimana dengan kebaikan-kebaikan yg terus-terusan berkumandang ketika kampanye berlangsung? Hal-hal ini bisa membutakan masyarakat, terlalu silau shg gelap mata. Ini lebih gelap dari kampanye hitam yg jelas-jelas hitam dan mudah dikenali dan dihindari.


Di masa kampanye seperti sekarang tingkat kesadaran masyarakat seperti sedang diuji. Sekali lagi masyarakat dihujani oleh informasi-informasi yg bisa menggiring masyarakat menjadi judgemental, berprasangka buruk, kompetisi yg penuh intrik sekaligus terbawa oleh janji-janji manis baik dari kandidatnya atau pendukungnya. Padahal masyarakat sebentar lagi harus mengambil keputusan yg penting dlm menentukan arah kemana negara akan dibawa. Di dalam era demokrasi, tanggung jawab dalam menentukan arah haluan negara (gue pakai arah dan haluan karena lebih realistis dibanding masa depan, klo pakai masa depan tuh jadi kayak Tuhan yg bisa aktif menjadi penentu takdir) ditanggung oleh setiap individu warga negara. Ini berarti setiap individu warga negara sepenuhnya bertanggung jawab dalam menentukan arah kemana negara akan dibawa. Masalahnya terkadang orang menyangka bahwa yg demokratis ini sama dengan musyawarah untuk mufakat. Dalam musyawarah semua suara akan terakomodasi dan berusaha dipersatukan dalam permufakatan. Jadi dalam permusyawaratan setiap orang bisa menerima dan belajar dari pengetahuan dan kebijakan orang lain ketika menerima permufakatan, sehingga its okay klo dlm permusyawaratan setiap orang pada awalnya hanya memiliki sepersekian pengetahuan. Tapi dalam demokrasi karena sifatnya yg lebih individual, yang sepersekian pengetahuan ini seharusnya tidak terjadi. Transparansi dan keterbukaan adalah asumsi awal terjadinya  proses demokrasi sehingga setiap individu punya akses pengetahuan yg sama dalam mengambil keputusan. Bahkan demokrasi berasumsi bahwa setiap individu dalam proses tersebut adalah individu dewasa yang mampu mengambil keputusan secara utuh. Secara utuh maksudnya manusia yg dengan intelegensia mereka bisa mempertimbangkan dengan matang segala aspek (percabangan) yang ada dalam pengambilan keputusan. Ini berarti mereka harusnya imun terhadap penggiringan informasi dan pengetahuan kearah tertentu. Mereka harusnya aktif dlm mencari pengetahuan yg relevan utk pengambilan keputusan tersebut. Merekapun harus yakin bahwa suara mereka adalah satu dan bukan sepertigaratusjuta suara. Artinya mereka sadar suara mereka yang satu itu adalah penentu arah kehidupan mereka dalam berbangsa dan bernegara sehingga mereka tidak bisa hanya mendengarkan suara perut mereka saja tapi juga masalah keamanan mereka, kedaulatan mereka. Ga bisa kalau kemudian seorang individu hanya memikirkan aspek kesejahteraan saja dan menyerahkan aspek lainnya pada orang lain. Sehingga klo misalnya yg duaratusjuta pemikirannya seperti ini, hanya kesejahteraan aja yg dipikirkan (krn kemiskinan merajalela ataupun tidak mandiri), maka demokrasi akan mudah goyah dari aspek keamanan dan kedaulatan karena yg menang adalah yg melulu kesejahteraan (urusan perut). Pemilih pada ruang lingkup yg kecil bisa sangat menyadari tanggung jwbnya utk memperhitungkan segala aspek krn aspek-aspek tersebut bersangkutan langsung pada dirinya. Tetapi pemilih pada ruang lingkup yg besar, jauh lebih sulit utk melakukan hal tersebut krn aspek yg seharusnya diperhitungkan tidak secara langsung mengena pada dirinya. Pada ruang lingkup yg kecil, seorang ibu rumah tangga, ketika memilih prt utk keluarganya, dia ga bisa memilih yg paling murah gajinya shg kesejahteraan si ibu ini meningkat. Dia hrs lihat kejelasan keluarga dan asal usul si prt. Klo masalah sifat dan sikap prt, kita jangan terlalu naif, banyak orang bagus diluar, manis tutur katanya, santun bahasanya, lemah lembut orangnya tapi ternyata.... Percaya dengan jaminan keamanan dari si penyalur juga, well, yg namanya jaminan cuma uangnya aja yg balik, resikonya ditanggung sendiri. Ibu rumah tangga tauk klo sembarangan dan percaya-percaya aja maka resikonya harta bahkan nyawa keluarga. Yg namanya keamanan tuh bukan dijamin tapi dijaga. Ujung-ujungnya yah kerjain aja sendiri. Itu ibu rumah tangga yg bertanggung jawab. Ah, itu mah namanya mempersulit diri sendiri, kita mah hrsnya percaya kemudahan datangnya dari Tuhan YME, klo solusi yg mudah ada kenapa hrs mempersulit diri sendiri. Yah masalahnya, klo dari Tuhan YME ya ga mungkin datangnya dari calo, dari perantara orang lain, kemudahan yg dimaksud adalah krn keikhlasan seorang ibu menerima tanggung jawabnya yg berat dan bukan keikhlasan seorang ibu melepas tanggung jawabnya kepada calo. Nah, klo pemilih dimana cakupannya lebih luas, mk tanggung jwbnya pun lebih luas dan besar, resiko pun jauh lebih besar.  Ga bisa kemudian, ah yg penting yg janji proyeknya macam-macam, masalah keamanan nanti bayar uang keamanan aja, beres. BERES! Pada ruang lingkup seperti negara, kasus seperti lepasnya timor-timur, sipadan ligitan,  dan penjualan indosat dari tangan RI harusnya jadi bahan pertimbangan yg menyangkut aspek kedaulatan (coba diingat di zaman siapa kita kecolongannya). Sementara dari aspek keamanan dan kebebasan warga negaranya, RI selalu punya catatan kelam, bahkan sampai sekarang. (Gue aja heran, ditengah maraknya pembunuhan sadis, penembakan disiang bolong dll, yg terjadi baik diluar atau didalam negeri, kok ada pemimpin yg terlihat santai dan aman-aman saja. Ironis). Aspek-aspek ini penting utk dipertimbangkan dan bukan melulu yg berhubungan dengan uang seperti korupsi, upah, investasi, dan segala janji-janji gratisan. Hati-hati dengan penggiringan informasi yg hanya mementingkan kesejahteraan saja, janji semua gratisan tapi tanah, bumi dan aset kita hilang satu persatu.

Peradaban kita dibangun atas asumsi-asumsi yg hrs dijaga. Baik itu sistem pendidikan, pemerintahan ataupun perekonomian. Asumsi harus dijaga krn klo tidak terjaga bisa menghancurkan bangunan yg berdiri diatasnya. Bangun mall misalnya, asumsinyakan mall tersebut untuk tempat berbelanja dan makan, ketika pengunjung mall tersebut lebih banyak yg nongkrong doangan maka tutuplah mall tersebut. Makanya ketika mendirikan mall, sideveloper harus yakin apakah asumsi tersebut bisa dijaga. Asumsi-asumsi ini ada di setiap sistem yg dibangun. Pemerintahan yg demokratis berasumsi bahwa setiap rakyat punya independensi, kebijaksanaan dan kedewasaan dalam sistem yg transparan. Begitu juga dengan sistem pendidikan kita, ada asumsi yg juga harus dijaga bahwa sistem penilaian adalah cukup utk mendukung pendidikan sekolah tapi tidak bisa mencakup semua faktor dalam diri anak sehingga dibuat batasan 12 thn untuk menjaga asumsi kecukupan tersebut.

Asumsi-asumsi ini kalau tidak disadari sepenuhnya rawan akan penyelewengan dan dpt dimanfaatkan oleh sebagian orang. Ketika banyak orang yang karena kenaifannya atau ketidakmandiriannya, atau sifat ignorance mereka, berasumsi bahwa mereka sudah mendapat informasi yg sebenar-benarnya dan transparan padahal ada sebagian dari mereka yg secara aktif mengunci, menggiring, menutup informasi pada yg berhak mengetahuinya, maka rusaklah asumsi tersebut. Sebagian orang yg lebih tauk ini akan bisa menari-nari dg kebebasan yg mereka miliki, menabrak batasan-batasan yg ada, diatas ketidaktaukan orang lain. Belum lagi tingkat rasional orang yg berbeda-beda (krn perbedaan pendidikan dan kemampuan) atau tingkat strata dimasyarakat yg berbeda-beda (akibat kedudukan dan kesejahteraan yg berbeda) sehingga kerawanan akan penyelewengan bisa terjadi. Egoisme dan demi kepentingan pribadi adalah kelemahan manusia yang ada dan akan selalu ada. Dengan keegoisannya, orang yg lebih pintar akan merasa lebih mampu untuk mengunci informasi kepada yg lain krn mereka merasa lebih mampu mencerna informasi tersebut daripada yg lain. Begitu pula orang yg merasa lebih bodoh, karena keegoisannya mereka akan pasrah saja dibodohi krn membutuhkan momongan dr orang lain. Opposite attract. Lalu ada pula orang yg ditengah, yg super egois, mau dibodohi krn membutuhkan momongan orang lain, tapi kemudian membodohi sebagian yg lain dengan mengunci informasi dan kongkalingkong main belakang. Split personality. Mereka yg ditengah ini orang pintar yg pura-pura bodoh, atau orang bodoh yg pura-pura pintar, entahlah. Yg lebih sejahtera dan yg kurang sejahtera pun begitu, idem dito. Merekapun menjadi masa mengambang. Ditengah jargon keterbukaan dan transparansi, hal yg mereka percayai dan jalankan lain. Level tanggung jawab akan sangat sangat rendah dan kecil sekali krn apa yg sesungguhnya mereka lakoni tdk pernah terlihat bentuknya, bahkan bentuk yg tampak diluar bisa 180 derajat bedanya. Mereka menari diatas asumsi demokrasi yg ada yaitu keterbukaan. Demokrasi pun rusak. Bahkan yg aktif bicara rusaknya demokrasi ternyata aktif pula merusak demokrasi memanfaatkan dangkalnya pola pikir yg ada.

Lalu apakah demokrasi berasumsi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut harusnya tidak ada? Tidak. Perbedaan didalam demokrasi ada tapi hak dan kewajiban setiap individu  yg disamakan, diharapkan pula kedewasaan individu menyikapi perbedaan tsb. Klo perbedaan ga ada namanya jadi sosialis.

Gue rasa Indonesia dengan dasar negara Pancasila tidak sesuai dengan demokrasi yg kebablasan menjadi sosialis. Kebablasan? Ya, misalnya dengan menghapus perbedaan tersebut sehingga semua sama, sehingga toleransi tdk dibutuhkan lagi. Utk jelasnya bgmn perbedaan tsb berusaha dihilangkan, gue akan analogikan bangunan demokrasi dengan sebuah mall yg megah biar lebih mudah neranginnya. Asumsi ketika dibangun mall adalah pengunjung datang untuk berbelanja. Ketika pengunjung datang cuma utk windows shopping apakah hal tersebut perlu ditindak? Apakah perlu pihak mall menyuruh orang utk melakukan tindakan seperti menggiring atau membullying pengunjung yg cuma windows shopping sehingga asumsi mall bisa tercapai? Sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara pengunjung? Padahal pengunjung yg cuma windows shopping sudah melakukan kewajibannya (dalam konteks mall) misalnya seperti bayar parkir, tdk buang sampah sembarangan dll. Masalah dia mau memakai hak dia atau tidak utk berbelanja sebenarnya terserah si pengunjung. Ketika kemudian ada spg yg belingsatan supaya pengunjung membeli bukankah hal ini mengesalkan sekali, apalagi klo sampai si spg kurang ajar sehingga norma dan nilai yg umum didalam mall bahwa kastemer adalah raja dilanggar, bahkan nilai dan norma yg cakupannya lebih umum lagi pun dilanggar, seperti kita hrs menghormati sesama misalnya. Bahkan utk mendapat alasan dalam melakukan pelanggaran, pihak mall pun mengobok-obok kewajiban yg dilanggar si pengunjung diluar konteks mall. Akhirnya si spg mendapat info dr pihak intel mall, bahwa si pengunjung yg cuma windows shopping tadi menerabas lampu merah waktu mau belok ke arah mall . Dan akhirnya si spg berubah menjadi polisi lalin yg merasa berhak menindak si pengunjung. Terjadilah pelanggaran yg lebih berat lagi yg dilakukan spg yg merasa sdh mendpt justifikasi akan tindakannya thdp pengunjung. Apakah bisa kemudian pelanggaran si spg disalahkan pada pengunjung tersebut yg sebenarnya korban pihak mall? Ah, abisnya si pengunjung keras kepala tdk mau beli kata si spg, atau ah, kita kan tdk bisa baca pikiran dia jadi kita tidak tauk bahwa perbuatan kita mengganggu. Baca pikiran orang, wow, rasional sekali cara pikir spg ini ya, sangat rasional tapi tidak cukup dewasa utk menggunakan batasan-batasan yg ada. Akhirnya si spg tadi mendapat kenaikan gaji dan jabatan krn misi bantuan sosialnya utk menyadarkan pengunjung yg cuma windows shopping sudah sukses.

Semua pelanggaran dr pihak Mall dilakukan ketika pengunjung yg lain tdk tauk apa yg terjadi dengan pengunjung lain yg cuma windows shopping. Mereka sibuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yg bisa diberikan oleh pihak mall, sementara pihak mall mengunci informasi. Mereka tidak tauk bahwa ada hal yg tdk tertulis yg berusaha dipaksakan oleh pihak Mall. Ada hal yg tidak jelas dilakukan oleh pihak Mall. Hal yg tdk tertulis bahkan diluar konteks utk memenuhi asumsi mall tersebut yg kita tauk sudah bablas, yaitu jangan ambil kesempatan masuk ke mall ini klo ga punya kemampuan (atau keinginan) utk membeli (secara umumnya, jangan mengambil kesempatan klo kita tidak punya kemampuan dan keinginan yg mendukung). Hal seperti ini menyangkut perbedaan diantara pengunjung. Pihak mall mungkin bisa berkelit bhw mereka menjunjung tinggi toleransi thdp perbedaan dengan melindungi orang-orang yg berbeda, yg nyeleneh, yaitu orang-orang yg mau melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam sebuah sistem demi eksistensi dari sistem tersebut. Inilah paham sosialis dan sedikit komunis yg bisa terbaca dari perilaku mereka.

Sebentar, dalam konteks mall apakah hanya penyelenggara saja yg dpt merusak sistem yg ada di mall tersebut? Tidak. Kastemer mungkin ada yg mengetahui apa yg dilakukan pihak mall, tapi akibat pendewasaan dengan negative feedback, mereka merasa hal ini perlu utk dilakukan. (Pendewasaan dg negative feedback yg ada ditulisan gue sblmnya menganggap orang yg tidak berfeedback negatif adalah orang yg tidak dewasa sehingga tidak perlu diperhitungkan. Masalahnya, orang dengan negative feedback tidak memiliki sense negatif pada hal yg negatif. Mereka berpikir hal yg negatif adalah hal yg lumrah terjadi sehingga yg negatif pun dianggap biasa saja, bahkan bisa menjadi positif (ada paradoks disini, bahwa feedback negative justru menghasilkan persepsi yg melulu positif). Logika berpikir pun akhirnya rusak krn cara pikir menjadi seperti jalan tol, tidak ada lagi kanan dan kiri (positif dan negatif). Semua yg didepan, yg eksis dan kelihatan oleh mereka adalah positif, sementara yg dibelakang adalah hal yg sudah tidak eksis lagi, hal yg mendapat umpan balik negatif. Pada suatu titik mereka bahkan meyakini bahwa hal yg tidak eksis adalah hal yg seharusnya ditolak. Ini makanya mereka sangat mudah menerima yg eksis tapi menolak hal yg dianggap tidak eksis. So, pengambilan keputusan didasarkan pada apa yg eksis dan tidak eksis, bukan positif dan negatif. Sehingga hanya keputusan ya dan tidak yg dihasilkan tanpa penindakan lanjutan. Padahal ketika kita bertemu dg hal yg negatif seharusnya ada hal lain yg perlu dilakukan (penindakan sesuai aturan yg berlaku) dan bukan cuma melabelkannya sebagai tidak eksis. Bahkan dengan logika seperti ini hal yg sebenarnya positif tapi tidak eksis akan mereka tolak (bahkan mendapat penindakan dg temporarily melebarkan konteks permasalahan), sementara hal yg negatif akan mereka terima selama yg negatif tersebut tidak eksis (tdk tampak dipermukaan). Ini artinya mereka akan bisa sejalan dengan suatu masalah selama masalah tersebut tidak terlihat (tidak eksis). Merekapun sangat mudah menerima hal yg baru hanya karena eksistensi dari hal yg baru tersebut. Lemparkan saja solusi, kesempatan, informasi, dll didepan muka mereka dan mereka akan terima hal tsb selama hal tsb dianggap eksis. Mereka akan jadi pengikut sejati hal-hal yg eksis. Ketika mereka dihadapkan pada kegagalan akibat aktivitas mereka, mereka akan menggunakan apapun mekanismenya utk membuat kegagalan tsb tidak eksis (menutupinya). Singkat cerita, pada pendewasaan berfeedback negatif, pada setiap decision making, logika berpikir yg harusnya terdiri dari positif dan negatif, kanan dan kiri, menjadi logika positif yg menilai apapun yg didepan mereka sbg eksis dan tidak eksis, logika 1 (eksis) dan 0 (tdk eksis). Logika 1 dan 0 ini ada diwilayah positif krn 1 dan 0 memang nilainya positif. Disini perilaku yg mereka tunjukkan adalah perilaku get and give. Mereka akan ambil apa-apa yg (dianggap dan diinginkan) eksis, dan melempar hal-hal yg (dianggap dan diinginkan) tdk eksis. Akibatnya hanya ada pertambahan dari keputusan yg mereka ambil krn 1 dan 0 memang tidak pernah bernilai negatif. Makanya mereka akan terus bergerak maju, tanpa bisa melihat persimpangan krn sense negatif sudah ga ada. Jangankan belok, berhenti pun tidak ketika ada hal yg negatif. Bahkan mereka melihat yg negatif sbg hal yg positif klo didukung atau mendukung hal yg (dianggap) eksis. Permasalahan/problem adalah tidak eksis, sementara saya adalah eksis, krn saya dan permasalahan ada diwilayah yg sama yaitu positif, maka saya berdiri diatas permasalahan yg ada. Selama saya bisa memanipulasi permasalahan shg menjadi tdk eksis, saya akan terus bisa eksis, kita semua bisa eksis, jadi ayuh ramai ramai kita tutupi (naungi) permasalahan yg ada. Klo dia adalah bagian dari permasalahan mk dia tidak eksis. Mereka seakan-akan setuju bahwa ketika permasalahan menjelma menjadi hal yg eksis maka saat itulah mereka sudah tidak eksis lagi. Persetujuan seperti inilah yg berbahaya krn permasalahan yg cuma dianggap tidak ada sebenarnya terus berkembang krn dinaungi (ditutupi). Pada pendewasaan berfeedback negatif mereka tidak akan terganggu oleh hal yg negatif (masalah) tp mereka akan terganggu ketika ada hal yg mengganggu eksistensi, mengganggu hal yg dianggap eksis. Logika berpikir seperti ini kemudian akan menjadi sangat kuantitatif krn nilainya semua positif. Logika seperti ini tidak kualitatif krn ketika keputusan berpatokan pada hal yg eksis atau tidak eksis, prior knowledge akan tidak diperlukan lagi. Mereka cuma berpegangan/mengikuti apa yg saat itu eksis saja. Pada logika yg mengalami pendangkalan seperti ini, penilaian hal-hal yg konseptual dan mendasar seperti agama, dasar negara, dll menjadi sangat kuantitatif, bahkan menjadi objek penilaian yg kuantitatif sehingga akhirnya implementasinya pun jadi cuma hal yg klise, hanya dipakai untuk mendukung eksistensi mereka. Agama misalnya, mereka hanya dukung agama tsb hanya krn agama tsb punya eksistensi dimasyarakat. Untuk mereka hanya sesuatu yg mendukung eksistensi saja yg bermakna dlm hal yg konseptual. Padahal semenjak agama diturunkan, manusia menyadari bahwa ada hal-hal yg jauh lebih penting dari eksistensi mereka. Ada hal-hal yg wajib mereka pertahankan bahkan dengan mempertaruhkan eksistensi mereka. Hal-hal yg hrsnya dibela dg mempertaruhkan eksistensi mereka, sekarang malah dibalik, hal-hal tsb dipertaruhkan untuk membela eksistensi mereka. Gue melihat paradoks disini. Nah, bukan hanya utk hal yg konseptual saja pengaruh yg signifikan dari logika ini, tapi juga utk hal yg "dimarjinalkan" di masyarakat seperti perempuan dan anak-anak. Yg marjinal sering kali dianggap tidak eksis. Masalahnya, sampai seberapa jauh yg marjinal ini hrs dieksploitasi untuk merubah anggapan tersebut. Apakah anggapan tersebut ternyata jauh lebih penting daripada kaum yg marjinal-nya itu sendiri. Ketika anggapan tsb jauh lebih penting maka makna perempuan dan anak-anak hanya akan sebatas eksistensi mereka saja, sehingga hanya ketika seorang perempuan/anak mendukung eksistensi atau didukung oleh suatu eksistensi saja dia akan bermakna. Selain daripada itu, tidak. Eksploitasi perempuan dan anak-anak pun terjadi dan dianggap positif hanya krn eksploitasi tsb mendukung eksistensi. Hal ini akan gue bahas dilain posting, sekarang cukup disini dulu, lanjut ke topik awal). Kastemerpun bisa turut aktif membantu pihak mall mengganggu si pengunjung demi tercapainya asumsi tersebut. Mereka tidak sepenuhnya independen, they have common ground, yaitu eksistensi mall tersebut. Sama seperti si spg, merekapun melebarkan sayap mereka secara temporarily utk bisa aktif mendukung eksistensi mall. Patokan mereka adalah hal yg eksis, sehingga ketika dihadapkan dan dibandingkan dengan eksistensi mall, hal-hal lainnya seperti pengunjung mall tsb menjadi dianggap tidak eksis. Mereka akan bertindak diluar konteks mereka sbg kastemer. Atau mereka bisa pula mendukung secara implisit aktivitas mall, seperti ketika mereka mengetahui kesulitan yg dihadapi pengunjung lain, mereka malah menyuruh pengunjung yg cuma windows shopping tersebut membuat buku dan cerita mengenai beban dan derita hidup yg dia hadapi di mall ini sehingga buku tsb bisa dijual di mall sebagai sebuah kontroversi. Disini terlihat logika kuantitatif bahwa masalah (kesulitan pengunjung lain) dianggap tidak eksis, mereka akan full denial akan apa-apa yg dianggap tidak eksis. Lalu muncul solusi atas hal yg tdk eksis tersebut yaitu mentransformnya menjadi hal lain yg eksis, yaitu buku tadi, supaya orang bisa belajar. Dan apa yang orang bisa pelajari? Yg mereka pelajari adalah jangan ke mall tsb klo ga mau belanja. Hilanglah satu kebebasan yg dimiliki pengunjung diganti oleh norma baru yg mereka pelajari. (Permasalahanpun dianggap nothing, tdk eksis, shg merekapun bisa aktif membuat masalah baru). Moralitas pun hancur tdk berbekas.

Kastemer juga bisa jual buku cara-cara asyik belanja di mall, utk mendukung aktivitas mall tersebut. Akhirnya saking asyiknya mereka melakukan aktivitas mereka, mereka tdk sadar klo salah satu pengunjung yg cuma windows shopping yg mereka jahili adalah anak dari pemilik mall yg juga developer dan pemilik tanah seluruh kompleks di mall tersebut. The lack of respect and their denial untuk hal-hal yg dianggap tdk eksis, pada akhirnya memunculkan suatu kegagalan. Ketika kegagalan seperti ini yg mereka hadapi, mereka akan buka semua possibility yg ada utk menutupi kegagalan mereka. Ibaratnya keran, semuanya dibuka, mereka akan bisa menenggelamkan semua yg ada dengan aliran air yg melimpah. Oh...noooo, the drama, dan terjadilah apa yg kemudian terjadi, the drama. Okay cerita yg terakhir ini mungkin cuma karangan gue aja, atau karangan orang lain, tapi gue harap intinya jelas mengenai bangunan mall ini.

Satu hal lagi dari pemikiran sosialis (sedikit komunis), ketika seorang pengunjung datang ke mall tersebut, dia punya hak yg sama utk membeli barang yg ada di mall. Tapi hak membeli ini dibatasi oleh kemampuan dia utk menggunakan haknya tersebut. Kemampuan seseorang adalah apa yg dia miliki. Seseorang tentu bisa meningkatkan kemampuannya tapi dengan fasilitas dan legalitas yg jelas. Klo di mall dia bisa pake atm misalnya. Masalahnya orang dengan pemikiran sosialis terkadang berpikir bahwa hak membeli yg sama berarti kemampuan utk menggunakan hak tersebut harus disejajarkan, hrs secara kuantitas sama. Sehingga ketika dia masuk ke mall dan dia melihat pengunjung lain yg lagi berbelanja, dia akan menggunakan nalurinya dan berpikir kalau dia harus bisa dan mampu membeli barang tersebut sama seperti pengunjung yg lain. Akhirnya karena terdorong akan tuntutan penggunaan hak yg sama tersebut, dia pun mau menggunakan cara-cara yg tidak legal dan tidak jelas. Keadilan yg menganggap penggunaan hak secara kuantitatif dan kualitatif harus sama, bukanlah arti adil yg sesungguhnya. (Perempuan banyak terjebak pada naluri seperti ini). Akhirnya degradasi moral terjadi krn setiap orang mengejar kemampuan membeli barang yg ada di mall tsb krn mereka merasa mereka memiliki hak membeli tsb. Naluri seperti ini adalah "the red gem" dari pergerakan sosialis dan komunis. It's the heart of socialism and communism that will destroy the liberty. Harusnya kita ingat peribahasa yg mengatakan "tak akan lari gunung dikejar". Untuk apa mengejar sesuatu yg secara kuantitatif sudah fix. Klo dilihat dr cerita mall ini mk keaktifan "the red gem" bahkan sampai pada mengejar-ngejar, dengan berupa ilusi, gangguan, persekongkolan dan godaan, kepada orang yg tidak mengejar gunung agar berubah haluan mengejar gunung. Ilusi (misalnya dengan membuat seakan-akan gunung bisa lari menjauh), gangguan, persekongkolan dan godaan seperti inilah yg merusak kebebasan setiap individu. Nah cerita diatas adalah analogi jadi bukan cerita mall beneran. Di mall ga ada cerita ginian, cuma analogi aja supaya lebih mudah gue neranginnya.

Bangunan mall bisa diruntuhkan krn ga ada kastemer yg beli seperti juga sistem yg runtuh krn ga ada lagi orang yg percaya pada sistem tersebut. Dan seperti juga sebuah sistem, bangunan mall juga bisa runtuh krn degradasi moral oleh orang-orang yg ada didalamnya. Ketika bangunan mall runtuh akibat ga ada yg beli, setidaknya orang-orang tsb bisa menggantinya dengan membangun bangunan lain, seperti pasar tradisional misalnya. Tapi ketika mall tersebut runtuh krn degradasi moral, apa yg bisa dibangun diatas runtuhan tsb akibat sumber daya yg rusak.

Hak yg kita miliki sebagai manusia memang tidak ada yg boleh mengganggu gugat, tapi dengan peradaban yg kita junjung tinggi harusnyalah kita sadar klo hak ini dibatasi. Hak hidup misalnya, setiap manusia punya hak hidup tapi klo kita WNI dan hidup dinegara lain, hak hidup kita dibatasi oleh surat perijinan. Klo ijin udah habis ga bisa lagi hidup dan tinggal disana, hrs pulang. Sewaktu gue sekolah di Chicago (tempatnya mafia amrik jaman dulu), gue lihat tingkat kesejahteraan dan keteraturan masyarakat yg tinggi. Pas balik kesini (gue cuma dua thn disana ga selesai sekolahnya), yah balik dengan kesemrawutan dan hiruk pikuk beragam strata masyarakat...dan bajaj. Gue bingung ketika ada pemikiran kita akan disamakan dg negara maju. Jujur aja, mereka pakai otak, kita masih pakai dengkul. Gue cari nomor rumah disana gampang banget, setiap blok udah ada range penomorannya, tinggal hitung blok aja. Disini, kita harus muter-muter nanya sana sini. Sistem pendidikan juga disana bagus bgt, semua yg dibutuhkan udah disediakan. Gue aja sampai kayak orang norak disana karena ga nahan sama fasilitasnya yg berlimpah dan bersihnya itu lo! Mereka juga sangat tepat waktu. Ketika mereka sudah menemukan dan menciptakan sesuatu, kita masih mondar-mandir cari informasi atau berharap ada informasi jatuh dari langit biar kita bisa menciptakan sesuatu. Masih jauhlah klo kita mengharap kesamaan tsb.
Dr segi pertahanan keamanan aja kita tdk mampu utk disamakan, dr segi sumber daya apalagi, kemampuan mengolah, memanage sumber daya, mereka jauh diatas kita. Kenapa kok kita mau jadi sejahtera (secara kuantitatif) kayak mereka, punya fasilitas kayak mereka. Klo minjem cara berpikir orang sosialis, maka klo kita ingin kesejahteraan, fasilitas, dll disamakan dg mereka, apakah kita juga siap dianggap sama dari segi pertahanan keamanan dan sumber daya? Hal-hal seperti ini gue kemukakan supaya kita ga mudah terbujuk mengambil kesempatan (proyek) yg ada tanpa tauk siapa yg memberi kesempatan tsb, apa paham, prinsip yg mereka anut. Janji-janji proyek yg banyak, aliran uang yg berlimpah (yg memang bukan milik kita), jaminan keamanan, hrs bisa disikapi dg bijak.

Seperti yg pernah gue tulis sebelumnya mengenai kesempatan, kesempatan tuh ga punya kaki, jreng... tiba-tiba muncul, jreng...tiba-tiba hilang, jreng ...tiba-tiba lompat. Lain sama jabatan yg harus merangkak naik utk sampai ke posisi tertentu dan punya tanggung jawab. Resistensi utk penyelewengan tetap ada ketika orang mempunyai jabatan krn dia bisa dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawabannya. Kesempatan yg tanpa kekuasaan dan jabatan biasanya sangat rakus. Apalagi ketika orang-orang yg biasanya berkuasa kmdn tidak lagi berkuasa, dia akan ambil apapun kesempatan yg datang utk mempertahankan posisinya. Ibaratnya gajah yg biasanya duduk manis menunggu kelapa jatuh. Ketika dia terusik dan ga bisa duduk manis lagi, itu pohon kelapa bisa kecabut sampai keakarnya klo gajah tersebut menginginkan kelapanya. Diposting gue sebelumnya gue pernah cerita soal gajah dan semut. Its just not wise utk membiarkan gajah senada seirama dg semut menggunakan hanya bahasa universal (money).

Hal ini juga berlaku utk sesuatu yg masif dan besar kayak gajah. Apalagi klo yg masif itu bernuansa negatif, dilepas dari lokalisirnya, dari jatidirinya yg negatif, padahal keran semuanya dibuka sehingga mengalir semua pengaruh dan hal dari luar. Nah yg masif dan negatif tersebut yg sudah lepas bebas ini kayak mendapat angin segar dr pengaruh luar yg negatif utk menjadi besar, bahkan tanpa jejak dan tersembunyi bercampur baur ditengah degradasi moral yg terjadi tanpa resisten berarti. Yg namanya menjadi bijak sehingga bisa menelurkan kebijakan, bukanlah dengan satu kaki dibenamkan ke lumpur dan satu kaki dibenamkan ke air surga. Lalu yg diperlihatkan cuma kakinya yg bersih yg berbau surga sehingga menghilangkan resisten yg ada. Menghilangkan sesuatu yg negatif harusnya dengan melakukan penindakan sesuai dengan hukum yg berlaku, bukan dengan hanya menghilangkan labelnya, menurunkan plang namanya, menghapus eksistensinya. Tanpa penindakan tidak akan ada resistensi di dlm masyarakat akan hal yg negatif. Begitu juga dengan yg namanya komunisme, yg merupakan sebuah paham yg berakar dari pandangan materialistis seseorang. Klo dari pandangan gue yg sebenarnya awam (bkn bidang gue sebenarnya masalah kayak gini, tapi semenjak gue menganalisa aliran sesat gue hrs melirik definisi dr paham ini yg menurut gue punya kemiripan dg paham di aliran sesat) komunisme ini paham yg memaksakan fleksibilitas untuk memenuhi rasionalitas mereka terhadap hal yg sifatnya materi dimana fleksibilitas ini membebankan entitas lain atau sistem. Yg namanya paham tidak bisa dihilangkan begitu saja, akan selalu ada dan tetap ada. Laten, bisa tumbuh dan berkembang tanpa embel-embel dan label tertentu. Ingat klo di Indonesia paham ini pernah punya pengaruh dan masa yg sangat besar dan asalnya dari rakyat. Dan cuma pernah di Indonesia yg agamis bisa bergandeng tangan dengan komunis. Yg membuat gue prihatin ketika gue melihat video (ada di channel youtube gue, dislike 3) sebuah institusi di Bandung yg jauh dari kewajaran. Jelas ada atheisme disitu, tapi gue juga melihat bibit paham merah yg justru lebih berbahaya krn pd paham tsb selalu disertai dg aksi dan perbuatan (mereka berorasi) secara bersama-sama. Ada fleksibilitas yg dipaksakan demi tuntutan eksistensi mereka (eksistensi=materi) yg akan membebani sistem krn mereka adlh orang-orang yg membawa embel-embel agama. Padahal agama itu hal yg mendasar, pada sesuatu yg bersifat materi pun agama sangat strict, jauh dr fleksibilitas. Kenapa yg membawa embel-embel agama ini menjadi sangat fleksibel dan kenapa yg seperti ini luput dr pengetahuan masyarakat dan media, shg masyarakat tdk tauk apa yg sedang berkembang ditengah-tengah mereka. Sebegitu besarnya kah masalah ini sampai tidak ada yg mampu utk mengeksposnya. Klo dari contoh bangunan mall karangan gue, bibit paham komunis terlihat dr tindakan dan perbuatan mereka yg tidak wajar dan membedakan terhadap seorang pengunjung demi tujuan mereka yg dilakukan secara bersama-sama. Tidak wajar karena perbuatan mereka ga ada dasarnya, makanya mereka hrs tutupi apa yg sdh mereka lakukan ke korbannya. Mereka fleksibel krn hanya melebarkan sayap mereka pada orang-orang tertentu saja. Herannya mereka melihat perbuatan mereka sbg hal yg wajar hanya krn adanya eksistensi yg mendukung perbuatan tsb. Sama sekali tidak ada resistensi akan ketidakwajaran yg terjadi. Makanya kita harus selalu mendidik dan mengajarkan masyarakat akan bahaya dari paham tersebut, apa arti dari paham tersebut, supaya ada resistensi terhadap paham tersebut. Bukan dilepas begitu saja ditempa pengaruh luar.

Resistensi itu perlu dalam sebuah sistem supaya tidak bablas, apalagi utk yg segede gajah. Orang yg idealis akan selalu tergiur oleh hal yg baru yg minim resistensi. Yg minim resistensi hrsnya perlu dicurigai krn hal yg tdk real, tdk nyata, biasanya minim resistensi, melayang dg berbagai macam jaminan. Harusnya mereka sadar klo mereka tidak perfect. Mereka pikir mereka perfect shg tidak membutuhkan resistensi. Percayalah, sirkuit listrik aja bisa short klo ga ada resisten.

Balik ke masa kampanye, di masa kampanye seperti sekarang, banyak janji dan kesempatan manis yg ditawarkan baik secara terbuka atau individual. Gue bahkan denger ada yg janji bhw aliran dana akan masuk dengan derasnya klo si ini maju. Well gue rasa yg kayak gini pasti janji kampanyenya penuh dengan proyek, proyek besar akan ada dimana-mana. Duh masa milih pemimpin yg mirip calo proyek sih. Uang is a universal language, semua paham akan arti uang bahkan anak kecil sekalipun. Tapi anak kecil ga ngerti ilmu ekonomi. Anak kecil ngertinya klo harga permen naik artinya uang jajan harus naik, udah. They take everything for granted. Mereka ga ngerti kalau inflasi atau kenaikan harga barang dan penurunan nilai tukar Rupiah bisa terjadi akibat pengeluaran uang yg berlebihan apalagi larinya ke LN. Bedanya anak kecil dan orang dewasa, orang dewasa bisa mencari tauk mengenai hal ini. Orang dewasa bisa mengetahui bahwa indikator terpenting dari perekonomian negara adalah yg dua itu, inflasi dan nilai tukar rupiah, bukan hanya konsumsi dan investasi masyarakat. Kebijakan seperti pengurangan subsidi bbm dan konversi minyak tanah yg katanya utk mengurangi beban negara (dan menambah beban rakyat) ternyata tidak berpengaruh pada tingkat inflasi dan nilai tukar. Belum lagi pajak yg katanya akan ditingkatkan pendapatannya. Lalu kemana larinya uang hasil penghematan tsb klo kmdn rakyat masih tetap dibebani oleh indikator yg kata ahli ekonomi bagus tsb. Hemat berartikan harusnya kita lebih stabil, tapi kok malah inflasi  dan penurunan nilai tukar yg kita dapatkan? Tapi memang ditengah konsumsi dan investasi yg tinggi, banyak masyarakat seperti tdk sadar klo mereka sedang digerogoti. Oleh pembodohan publik ataupun indikator yg katanya bagus tsb.

Gue ngerasa di masa kampanye ini informasi terutama dr media tdk ditampilkan secara utuh. Ada rekam jejak yg diekspos habis-habisan dan ada yg ditutupi. Ketika gue cek rekam jejak salah satu capres, ada beberapa hal yg tdk pernah terekspos. Pada capres nomor urut dua, dia sudah berganti nama, nama masa kecilnya berbeda dg yg sekarang. Itu yg gue baca dr wiki. Apakah itu artinya semua ijazah yg dia pegang beserta akte kelahiran tdk menggunakan nama dia yg sekarang? Ini penting soalnya gue aja klo ngelamar pekerjaan semua ijazah hrs lengkap, beda nama dikit aja gue sudah dicurigai. Apalagi ini jabatan yg teramat penting di negeri ini. Satu hal lagi, klo dia berhasil jadi presiden nantinya, ini berarti dia sudah dua kali meninggalkan posisi dia kepada kelompok minoritas. Ketika dia meninggalkan Solo, dia meninggalkannya kpd wakilnya yg beragama kristen, sementara di Jakarta dia akan meninggalkannya kpd Ahok yg merupakan warga keturunan. Ini agak jarang ditanah Jawa bahwa pucuk kepemimpinan dipegang oleh minoritas. Dua kali bisa disebut sbg sebuah "prestasi" di negeri ini, bahwa ada kesetaraan, walaupun agak kurang fair krn harusnya hal tsb hasil dr pemilihan warganya. Yg tidak fair tdk pantas disebut prestasi.

Anyway, bicara soal dua kali, gue jadi ingat pepatah orang luar yg mengatakan "once is happenstance, twice is coincidence and third is enemy action". Ini artinya situ ngundang serangan musuh siluman klo sampai suatu hal terjadi dua kali. Musuh siluman tdk terlihat, yg tdk terlihat tdk bisa dilawan, you just simply cannot win. Negeri ini terbukti bisa menang melawan musuh yg kelihatan, Portugis, Belanda, Jepang, komunisme, diktator(bkn musuh sebenarnya tp produk ignorance kita bersama dan kita sdh buat sistem yg bagus utk menangkalnya skrg), butuh pengorbanan dan waktu yg panjang, tapi kita hadapi semuanya. Cuma nyawa yg dipertaruhkan. Nah klo musuh yg ga kelihatan, semua kita pertaruhkan pun kita tdk akan menang. Ketika dasar negara Pancasila, agama dipertaruhkan, kita akan berada diujung tanduk. Its next to nothing.

Tulisan gue cuma berupa analisa dan pendapat aja, bkn hal yg besar dan gede menurut gue. Tulisan ini juga bukan postulat yg biasanya ditulis oleh orang yg punya gelar yg gede. Ini cuma sebuah tulisan yg mungkin bisa diterima dan mungkin juga nggak. Bukan juga sebuah kedudukan dan jabatan yg gede, uang yg gede, proyek gede, profesi gede, bahkan impian yg gede dll yg gede-gede yg mungkin sangat sulit utk ditolak. Klo dianggap gede, mungkin karena yg seadanya cuma terlalu besar utk muat dikepalanya yg sudah kepenuhan oleh yg gede-gede kayak gelar, harta dan kedudukan.

Tulisan gue juga cuma berupa common sense aja bukan hal yg hebat seakan-akan gue tauk segalanya, tauk bgmn dunia ini berputar sehingga merasa mampu dan berani menerima apapun fasilitas, misi, informasi dan kesempatan yg ditawarkan, yg diberikan, yg ditampilkan. Mereka yg menerima dan menerima melakukannya dengan asumsi mereka tauk hal tersebut untuk apa. Padahal ketika menerima sesuatu, mereka juga memberi sesuatu yaitu kebebasannya dan terkadang kebebasan orang lain.

Tulisan ini juga terbuka dan apa adanya, tidak seperti sebuah lakon, sandiwara, kebohongan publik, persekongkolan atau konspirasi yg menganggap manusia tdk equal sehingga yg satu lebih tauk dr yg lain. Walaupun akhirnya yg lebih tauk dari yg lain ini nyatanya tidak tauk apa-apa dan menyebabkan yg lain yg mereka anggap ga tauk terseret dalam dunia kegelapan akibat persekongkolan yg mereka lakukan. Tulisan ini cumalah common sense yg biasa dimiliki oleh orang kebanyakan (terutama yg belum silau oleh mudahnya kesempatan-kesempatan emas). Seperti perkataan "Don't take things for granted" yg hanya sebuah common sense dan bukan ungkapan yg sok tauk kepada "dia" yg belum tauk.

Ah iya gue masih belum menyelesaikan tulisan gue "Mengenai Penyesatan bagian  3". Hal-hal yg tragis bisa terjadi ketika menaruh perantara sebagai seorang pemimpin. Pada hakekatnya perantara menempati tempat diantara dua hal yg jelas batasannya dan dia akan lebih menginginkan tempat tersebut tersembunyi. Tapi ketika batasan sdh tidak jelas lagi maka si perantara akan menjelma menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin dia akan mempunyai urgensi utk dikenal dan terlihat powerful, membuat sejarah, making a bold statement of his existence, walaupun dengan cara-cara yg tdk wajar. Dan karena ini adalah aliran sesat, bukan hanya kekuasaan yg dia cari (dia sudah punya kuasa tsb dan terbukti dia bisa melakukan apa aja yg dia inginkan), tapi juga persetujuan, persetujuan tanpa perlawanan akan ketidakwajaran dan kesesatan yg dia lakukan termasuk dlm mengakhiri hidup para pengikutnya.
Hal-hal yg tragis juga bisa terjadi ketika moralitas terkikis justru oleh orang-orang yg senang mengumandangkan peace, love and freedom, sebagai jargon yg membiuskan. Bahkan senyum dan tawa dan kelakuan yg full denial yg berusaha perempuan-perempuan ini tampilkan diatas permasalahan yg terjadi, yaitu pembunuhan keji atas korban yg juga perempuan, semakin memperlihatkan hancurnya moralitas perempuan-perempuan ini di sebuah komunitas tersebut. Masak korbannya udah berdarah-darah gitu mereka masih juga ngomong peace sih. Gue sampai sekarang masih heran kenapa dictatorship ala jin dan yg sesat lainnya bisa sangat menarik. Dictatorship ala manusia memang mengungkung naluri manusia lainnya utk berkembang tetapi tdk mengukung pilihan personal mereka. Klo dictatorship ala jin memang naluri dibuka selebar-lebarnya, kita bisa dapatkan semua yg diinginkan, tapi ada syarat-syarat yg personal dan khusus yg hrs dijalani. Si jin akan berbisik, klo situ mau punya mobil mk mobilnya hrs yg ini ya, yg warnanya merah dan harus bau menyan. Atau klo situ mau rumah, mk disini nih lokasinya dan jeruji pagar hrs ganjil, dan isinya hrs begini dan begitu. Naluri memang terpuaskan tapi dictatorship ala jin ini jauh lebih berbahaya daripada dictatorship ala manusia. Klo manusia masih bisa diturunkan, lah klo jin, turun kemana? Emang sih full happy hour tapi ...bahaya. But still, history repeats by itself...



Well, thats a scary decepticon when all hell break loose.

1 comments:

Talking about twice, turut berduka cita atas tragedi MH17 pd 17 juli 2014. Ini sudah yg kedua kalinya utk MA, stlh sblmnya MH370 menghilang dan blm ditemukan.

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More