My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Senin, 11 Juli 2011

Arsitek Mimpi

...simple little idea that will change everything, that her world wasn't real. That the death is the only escape. Inception (2010)

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit. Hampir setahun gue terkena infeksi kelenjar getah bening, beberapa kelenjar getah bening ditubuh gue membengkak, alirannya tersumbat dan terkadang membuat respon imunitas gue menjadi terlalu aktif. Setelah cukup sehat, gue menyempatkan diri untuk pulang kampung. Walaupun masih berada didaerah perkotaan, tapi tetap saja bukan Jakarta, bukan sebuah kota metropolitan yang bisa menguras energi hanya dengan berada ditengah hiruk pikuknya saja. Bahkan ketika pertama kali datang masih ada suara tokek, jangkrik dan bunyi-bunyian malam lainnya.

Mungkin karena irama malam yang lebih asri itulah mimpi menjadi lebih berbeda. Pernah suatu malam gue bermimpi dengan gambaran-gambaran yang terlalu rumit untuk kapasitas subconscious otak gue. Bahkan ketika gue explore lebih jauh, mimpinya berhasil memberikan detail yang akurat. Mungkin tidak seperti yang kita lihat di film Inception karena gue yakin hal yang canggih tersebut merupakan buatan komputer. Tapi, setidaknya lebih detail dari biasanya.

Biasanya mimpi terdiri dari gambar-gambar yang tidak jelas, bahkan cenderung tidak masuk akal. Kita tidak memiliki kesadaran yang cukup didalam tidur untuk menggambarkan detail seperti yang mungkin dilakukan ketika dalam keadaan sadar. Kesadaran adalah hal yang jarang ditemukan didalam tidur walaupun bukan tidak mungkin kita tersadar dalam tidur. Hipnotis misalnya, selalu dilakukan dengan membuat si korban tertidur, tapi tetap ada kesadaran alam bawah sadar walaupun tidak bisa berpikir lebih jauh untuk mencegah hal-hal yang buruk.

Pernah gue tersadar kalau gue berada di alam mimpi yang sepertinya bukan hasil rekaan subconscious gue, dan ternyata gue cukup sadar untuk menolak mimpi tersebut. Ketika gue memaksa bangun dari mimpi tersebut dan ternyata berhasil, gue tidak senantiasa terbangun dari tidur. Gue berada dalam keadaan tersadar tapi tidak mengetahui dialam mana gue berada. Bukan perasaan yang enak karena lebih mirip helpless dan tersesat. Butuh kekuatan luar biasa untuk kemudian dapat berhasil bangun dari tidur. Mungkin inilah yang di film Niception dikatakan berada dalam kondisi Limbo, makanya adanya sedatif bisa memperparah keadaan Limbo tersebut. Kita bisa tersesat dalam pikiran kita tanpa bisa terbangun.

Loh, kalau gitu kenapa mimpinya saja tidak diteruskan daripada memaksa bangun? Masalahnya, terkadang mimpi bisa dipakai untuk memprogram kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, seperti hipnotis. Bedanya, kalau hipnotis kita melakukan sesuatu tersebut secara tidak sadar, sedangkan kalau lewat mimpi, bisa saja mimpi-mimpi tersebut menjadi pikiran kolektif kita yang akan mempengaruhi segala keputusan yang kita ambil. Hasilnya jelas lebih buruk karena akan menjadi tindakan yang sah, tindakan yang diambil dengan sebuah kesadaran. Nightmare yang menjadi nyata.

Manusia memang paling vulnerable ketika dalam keadaan tertidur. Hipnotis, sirep, dan mungkin banyak ilmu lainnya yang saya tidak tahu, menggunakan tidur sebagai alatnya. Cara berpikir kita mungkin juga menentukan keampuhan ilmu-ilmu tersebut. Semakin tinggi tingkat kesadaran kita, semakin sulit ilmu-ilmu tersebut melakukan penetrasi walaupun memang terkadang sudah tidak dapat dihindari lagi. Terutama jangan perlakukan ibadah sebagai alat meditasi, karena akan menciptakan keringanan dan kekosongan pemikiran. Pedulikan tafsir dan maknanya, serta hindarkan maksud lain dalam menjalankan ibadah, seperti misalnya keampuhannya untuk menyembuhkan penyakit atau supaya mudah berhadapan dengan orang lain.

Adanya gangguan dalam kehidupan juga membuat kita lebih vulnerable dan lebih mudah goyah karena energi kita terkuras untuk mengatasi gangguan tersebut. Pertentangan, pertikaian, permusuhan dan lainnya membuat pemikiran kita mudah menyerah terhadap ilmu-ilmu seperti sihir dan sirep. Apalagi ketika pemikiran kita mengenal keadaan damai sebagai keadaan yang ideal, sebuah mimpi yang harus dikejar dan didapat. Yang kemudian membuat kita menghindar dari substansi masalah dan memilih cara yang tercepat.

Makanya, jangan terjun ke alam mimpi...entar ada yang ngomong gini lagi: "bisa, bisa aja lu ngomong, mimpi kali lu!"

Langit malam nan pekat pun bisa terlihat putih
Setelah tiga bintang jatuh menjadi tiga titik dilangit...
Sebuah pertanda kelanjutan rencana untuk sebuah malam
Good night and nice dream!


Rabu, 29 Juni 2011

The War As We Know It

Agak prihatin juga kalau melihat berita internasional yang melulu mengenai perang. Tidak banyak generasi kita tahu mengenai perang, karena Indonesia sendiri sudah merdeka hampir 66 tahun yang lalu (bentar lagi 66, angka yang unik). Yang mengalami pun sudah tidak ingat lagi bagaimana garangnya perang. Bahkan lukapun sepertinya sudah terhapus oleh waktu karena musuh sudah menjadi kawan sekarang.

Perang yang harusnya kita ketahui tidak melulu perang secara fisik, seperti tertera dalam buku sejarah. Perang yang merupakan bentuk perlawanan terkadang juga menyentuh hal yang sifatnya pemikiran dan ideologi. Andaikan dalam keadaan damai pun, kewaspadaan perlu tetap terjaga dari masuknya pengaruh asing. Intervensi ekonomi, sosial, politik dan budaya membuka kesempatan untuk berkembang. Tapi, haruskah sepenuhnya terbuka tanpa adanya posisi bertahan? Seharusnya, ada filter untuk meredam pengaruh asing yang masuk lewat pintu globalisasi. Namun, mudahnya masyarakat kita dibutakan dan tergiur oleh hal-hal yang baru dan menarik, membuat hal tersebut semakin sulit dibendung.

Setidaknya, sudah ada sebuah landasan ideologi yaitu Pancasila dan juga aturan dasar perundang-undangan yaitu UUD yang seharusnya bisa membendung aliran liberalisme yang masuk. Agama, norma dan etika juga mungkin salah satu yang bisa membantu melakukan kroscek terhadap paham liberalisme yang kebablasan.

Balik ke berita internasional, sekarang timur tengah sedang bergejolak, gejolak dari dalam maupun dari luar. Sebuah cermin  untuk tempat berkaca, apakah kita memang sudah cukup aman dari kemungkinan peperangan? Peperangan sangat identik dengan kekerasan. Kekerasan yang terjadi selama perang bukan hanya dialami tentara yang ada di medan perang, tapi juga para penduduk sipil. Akan banyak korban tidak berdosa akibat perang, walaupun terkadang perang memang tidak bisa dihindarkan.


Perang yang selama ini kita ketahui ada beberapa macam jenisnya. Berikut beberapa jenis perang tersebut:
  1. Perang Dunia : adalah perang yang melibatkan negara-negara adidaya dan berpenduduk banyak. Selama ini sudah terjadi dua perang dunia yaitu PD1 (1914-1918) dan PD2(1939-1945). Setelah dijatuhkannya bom nuklir di Jepang oleh Amerika Serikat, perang seakan-akan terhenti dan digantikan oleh Perang Dingin.     
  2. Perang Dingin : adalah perang yang terjadi paska PD2 antara Negara berpaham komunis dan negara-negara barat. Kata Perang Dingin sendiri berasal dari sebuah essay yang dibuat oleh George Orwell dimana di essay tersebut dia memperingatkan bahwa dunia yang ada dalam bayangan perang nuklir akan berada dalam "kedamaian yang tidak damai" yaitu suatu Perang Dingin yang permanen. Nuklir memang menakutkan, setelah Einstein (yang lahir di Jerman tapi pindah ke AS pada zaman kekuasaan Nazi) menemukan reaksi berantai dari suatu atom nuklir dan kemudian Amerika Serikat menggunakannya sebagai senjata dan menjatuhkannya di Jepang, momok dan trauma akan senjata nuklir tersebut ternyata cukup membuat negara-negara didunia berpikir panjang sebelum melancarkan sebuah agresi.     
  3. Perang Melawan Penjajahan : adalah perang melawan negara imperialis yang ingin menguasai suatu daerah. Indonesia melawan penjajahan negara-negara barat selama ratusan tahun dan kemudian Jepang selama 3,5 tahun. Tidak bijak mengatakan bahwa Indonesia kemudian diuntungkan dengan dijatuhkannya bom nuklir di Hiroshima dan Nagasaki. Tapi, memang setelah Jepang mengalami kejatuhan, Indonesia berhasil mendeklarasikan kemerdekaannya hanya dalam hitungan hari setelah bom atom tersebut dijatuhkan. Oleh karenanya, penting untuk menjaga amanah kemerdekaan dengan sebaik-baiknya kalau tidak ingin dijajah lagi.
  4. Perang antar Negara Tetangga atau Blok : adalah perang yang melibatkan negara-negara bertetangga, contohnya seperti perang Iran dan Irak.  
  5. Perang Saudara : adalah perang yang paling sering terjadi yang melibatkan beberapa kelompok orang dalam suatu negara, bahasa kerennya civil war (terkadang juga disebut intestine war atau domestic war). Perang Libya sekarang bisa termasuk perang saudara dimana NATO terlibat didalamnya.   
  6. Perang Melawan Terorisme : adalah perang yang terjadi setelah serangan 911 di AS. Perang Melawan Terorisme dilontarkan oleh presiden AS waktu itu, George W. Bush. Perang ini utamanya berfokus pada militan islam dan Al-Qaeda yang dianggap bertanggung jawab atas teror yang terjadi di AS. Kontroversi terhadap Perang Melawan Terorisme mengemuka karena tidak jelasnya siapa yang harus dilawan dan melawan. Kontroversi yang juga mewarnai kehidupan George W. Bush (sudah lihat filmnya W. belum? ). Sudah banyak korban baik di pihak AS maupun muslim dalam perang ini, apakah masih harus ada lagi W. yang lainnya? 

Jadi, adakah yang bisa kita pelajari selama tiga setengah abad plus tiga setengah tahun penjajahan dan peperangan dinegeri ini? Apakah kita sudah cukup bersyukur atas kemerdekaan yang kita miliki dengan mengemban amanah sebaik-baiknya dan tidak membiarkan orang asing menentukan jalan hidup kita? Perang memang memakan sumberdaya, energi, jiwa dan raga. Tidak ada yang menginginkan perang, tidak ada yang ingin terpecah-belah. Pastikan NKRI harga mati.




 *Sigh* Is not there a thing not based on script???

Rabu, 22 Juni 2011

TKW Kita Yang Selalu Didera Masalah

Kasihan sekali TKW kita selalu menjadi korban tanpa ada yang bisa bangkit untuk menolong mereka. Sulit mungkin kalau mengharapkan TKW kita bisa bangkit dari keterpurukannya ketika masalah yang di hadapi sebenarnya sistemik. Mereka menjadi TKW juga sebenarnya karena ingin mendapat pekerjaan yang layak. Ya, pekerjaan yang layak dan perlakuan yang layak. Mereka terancam tidak bisa mencari nafkah kalau tidak pergi ke luar negeri. Andaikan saja orang-orang di negeri ini sadar kalau ancaman terhadap seseorang adalah sebuah peringatan atau alarm untuk yang lain, dan bukan sebagai buah bibir. Peringatan kalau ada masalah yang tidak seharusnya ditutup-tutupi, masalah tersebut harus dihadapi dan dicari akar permasalahannya. Karena kalau peringatan tersebut tidak dihiraukan, lama-kelamaan masalah tersebut akan mengenai yang lain dan berkembang tidak terkendali. Sekarang Ruyati, lalu selanjutnya siapa?

Tapi tidak, solusi singkatpun diambil dan korbanpun berjatuhan. Tapi tetap saja pemerintah kita bersandiwara seakan-akan problemnya akan selesai dengan mudah. Yah seperti biasa, terlupakan oleh waktu dan diambil hikmahnya. Sekarang gue mau tanya, apakah sandiwara yang seperti Ruyati yang diinginkan oleh Allah SWT? Hanya sandiwara yang bisa menutupi ketidaksempurnaan dengan sempurna. Sandiwara yang dipaksakan oleh para pencari kesempurnaan hidup.

Sudah banyak nyawa melayang karena hal ini, kalau memang ingin bangkit dari keterpurukan, bukankah sandiwaranya harus diakhiri dan mengambil kendali atas masalah?

Kamis, 02 Juni 2011

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri. Dahulu, cerita-cerita hikayat tersebut dan juga dongeng digunakan untuk penyampaian nilai-nilai dan aturan yang berlaku secara turun temurun di suatu wilayah tertentu, sebagai bentuk pengajaran kepada generasi berikutnya.


Ketika masyarakat mulai diperkenalkan pada ajaran agama yang pokok yaitu Hindu, Budha, Islam dan Kristen, cerita-cerita hikayat ini mulai bergeser kedudukannya. Walaupun mungkin sebelumnya terjadi proses asimilasi, tapi peran cerita-cerita hikayat pada akhirnya tergantikan oleh ajaran agama dan pendidikan moral yang baku melalui pendidikan formal. Pendidikan moral yang baku mengacu pada pancasila dan UUD. Sementara dalam PAI (Pelajaran Agama Islam), referensi yang digunakan adalah Al-Quran dan hadist shahih. Cerita hikayat sendiri dimasukkan sebagai contoh literatur dalam pelajaran bahasa dan sastra. Hal tersebut sangat berbeda dengan pendidikan dibarat, karena di sana kitab suci dimasukkan sebagai literatur sejajar dengan cerita-cerita yang lain.


Sekarang, nampaknya peran cerita-cerita tersebut, kembali mengambil bagian yang besar di kehidupan masyarakat seiring dengan berkembangnya media untuk penyiarannya. Mulai dari cerita sinetron yang ga abis-abis, cerita cinta, cerita yang dibuat seakan sebuah realitas (reality show), cerita magis, cerita serem, cerita gosip, cerita religi, cerita tolong-tolongan dan seterusnya... gue sampai BT melihat realitas di masyarakat yang penuh dengan cerita. Bahkan sebuah realitas pun sampai menjadi sebuah drama, kayak drama century yang terdiri dari banyak episode.


Ada yang mengatakan bahwa cerita-cerita tersebut bisa menjadi bahan pelajaran bagi masyarakat luas. Tapi benarkah hal tersebut diperlukan? Masalahnya, kita kan sudah memiliki ajaran dan aturan yang baku yang sudah dipelajari di bangku sekolah. Ajaran dan aturan yang baku tersebut berasal dari referensi yang sudah jelas kebenarannya sehingga penyimpangannya dapat dikurangi.


Lagipula, permasalahan adalah sesuatu yang inherent di setiap kehidupan manusia. Menurut agama gue saja, yang namanya iblis dan setan selalu ada dan akan selalu mengganggu manusia. Godaan akan selalu ada pokoknya. Selama kita percaya ketentuan dari Yang Diatas tersebut, ga perlu kita bantu kerjaannya iblis dan setan untuk mengganggu manusia yang lain. Lah wong orang jahat aja sudah banyak banget kok, kenapa mau jadi orang jahat, atau kenapa mau buat masalah. Belum lagi kalau nanti yang diganggu dengan cerita dan permasalahan tersebut ikutan jadi ga baik juga. Dimana keyakinan kita sebagai orang beragama kalau mensyaratkan jadi jahat untuk bisa survive?


Atau, mendiskriminasikan orang-orang yang DIANGGAP ga baik (berdasarkan stereotype dari cerita-cerita tersebut, yang sumbernya jelas sekali kalau tidak jelas) sebagai sebuah kelompok tersendiri dan dijauhi yang kemudian malah menjadi usaha untuk menutup pintu rahmat bagi orang-orang tersebut (karena simply ga ada orang baik yang mau dekat-dekat). Akhirnya, nanti muncullah sabda dari cerita-cerita aneh ini yang mengatakan orang-orang yang beginian nih kalau begini akan jadi begini dan begini dan pasti akan begini apapun yang akan terjadi. Lalu dengan sedikit hocus pocus...Nah benarkan akan begini! Sadarlah permainan nya sudah tidak wajar. Thumbs up untuk mereka yang berani memberikan kepastian bahwa jalan yang berdasarkan penalaran adalah yang terbaik. Two thumbs up untuk yang merasa jalan tersebut sudah memberikan kenyamanan extra untuk mereka. Pastinya untuk mereka yang mainan jempol tersebut, harga keimanan mereka ya cuma sebatas jempol.


Sebenarnya, tidak ada satu pemikiran manusiapun yang walaupun terlihat sungguh bagus dan mulia yang pantas untuk memaksakan kehendak diatas kehendakNya. Karena, kalau sampai kehendak tersebut jadi dipaksakan, perkataan atau pemikirannya akan jadi fitnah, makanya, fitnah dikatakan lebih kejam dari pembunuhan karena hanya dengan kata-kata, sebuah kehendak terhadap seseorang atau sekelompok orang dapat disimpangkan dan dipaksakan. Apalagi kalau kata-katanya ternyata bukan berasal dari referensi ajaran agama maupun ajaran moral kenegaraan seperti Pancasila. Kehendak tersebut dapat merubah takdir seseorang atau sekelompok orang tersebut yang kemudian dapat merugikan orang atau kelempok tertentu. Makanya, jangan memakan perkataan tersebut mentah-mentah apalagi melakukan perbuatan yang berdasarkan fitnahan tersebut.


Lagipula, bukannya nanti malah jadi psikopat atau anti-sosial, segala sesuatu dilihat dengan pandangan curiga. Sedikit aneh, seram, jelek, galak, culas, beda, sudah langsung mempersiapkan tindakan yang mengundang konflik atau kalau nggak menghasut yang lain untuk menyamakan persepsi biar melakukan tindakan seirama senestapa. Akhirnya, muncullah sebuah stereotype baru lengkap dengan subset perilaku yang bisa diterapkan kepada stereotype tersebut dan apa yang sesuai untuk stereotype tersebut.


Kalau kemudian berpikir bahwa dengan melihat masalah yang segudang kita bakalan jadi orang yang waspada, belum tentu juga kali ya. Bahkan kemudian tingkat kewaspadaannya malah menjadi subjektif dan salah kaprah. Heh, bukannya sudah banyak contoh, perkataan-perkataan yang manis dan wajah yang bersih nan rupawan dengan rezeki segudang dan da'i kondang malah melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah SWT?

Cerita Cinta

Senang dengan cerita berbau romance? Sama, gue juga suka baca cerita cinta, atau nonton film yang berbau romance, kayak Alpha and Omega misalnya (termasuk romance kan, tapi ceritanya memang mengenai Omega). Selama jalan ceritanya masih wajar, dan ga dibuat-buat jadi aneh, ok aja kok. Pernah ada yang bilang kalau masalah cinta membuat hidup seperti sinetron. Yah, ga usah pakai ada cinta-cintaan segala, kalau sang sutradara yang jadi bosnya, film horror pun jadilah.

Mungkin yang membuat cerita cinta menarik adalah karena memang cinta adalah sebuah fitrah manusia yang merupakan bagian dari emosi dan tidak mempunyai wujud fisik. Karena tidak berwujud itulah makanya cinta adalah sebuah misteri dan rahasia alam yang menarik. Bayangkan saja, seorang dokter dan pakar biologis aja masih belum bisa membongkar rahasia Tuhan YME mengenai tubuh manusia yang jelas-jelas ada perwujudan fisiknya. Apalagi emosi dan cinta. Makanya, aneh ketika orang bisa menilai sesuatu yang tidak berwujud tersebut, apalagi dengan menilainya sebagai salah dan benar atau besarannya.

Cinta ga bisa dibuktikan dengan hanya indera manusia, terkadang yang terlihat mungkin hanya penjelantahan dari nafsu manusia belaka atau emosi-emosi yang lain seperti ketakutan, kemarahan, kesedihan dan lainnya. Kita tidak bisa pungkiri bahwa ada banyak faktor yang mempengaruhi tindakan manusia dan setiap tindakan biasanya terjadi karena beberapa faktor-faktor yang berpengaruh tersebut. Oleh karenanya, suatu tindakan tidak bisa menjadi sebuah bukti akan ada atau tidaknya cinta. Satu contoh saja ya, orang jawa selalu mengatakan mangan ora mangan ngumpul. Maksudnya, mereka sangat mencintai kebersamaan apapun kondisinya. Sedangkan, kalau dibarat sana ternyata kalau kita mencintai anggota keluarga kita tapi tidak mampu untuk mengurusnya maka kita harus merelakannya untuk diurus oleh yang mampu merawatnya. Beda kan? Lalu yang mana dari kedua contoh tersebut yang merupakan tindakan cinta yang berlebihan? Jadi, jangan berusaha mengukur kadar cinta seseorang. We're not angels, we're human.

Kalau bicara agama, karena saya muslim, jadi yang saya tahu mengenai cerita cinta ya, Siti Hajar istri Nabi Ibrahim. Ketika sudah dari perjalanan jauh dan kehabisan air minum untuk anaknya, Ismail, Siti Hajar dengan doanya tanpa arah(an) berlari dari satu bukit ke bukit yang lain bolak balik untuk mencari air. Bagaimana seorang istri Nabi, doanya saja belum cukup dan harus berjuang tanpa putus asa dari Safa ke Marwah, adalah salah satu contoh cerita cinta yang patut diteladani. Kalau sekarang orang denger Safa Marwah ingetnya kan sama cerita sinetron yang ga abis-abis, entah sekarang ceritanya udah selesai apa belum. (: P)       

Yang menarik juga adalah bahwa cinta dapat membawa kita ke perasaan sedih dan gembira bahkan hanya dengan membacanya atau menontonnya. Ketika kemudian ada kisah kasih tak sampai yang membuat sedih, kita menyalahkan cinta tersebut sampai titik darah penghabisan. Bahkan menghakimi bahwa kesedihan tersebut adalah perbuatan yang salah, padahal, yang namanya gembira atau senang lebih banyak setannya. Ya kan?

Ditambah lagi, menyalahkan perasaan cinta tersebut padahal cinta adalah bagian dari manusia yang ga bisa dipisahkan dan diingkari. Biarkanlah saja secara wajar, karena kalau memang benar acuannya adalah agama, saya rasa adalah fitrah manusia untuk bisa membedakan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia bahkan untuk masalah cinta. Karena Allah SWT adalah zat yang berbeda dan mempunyai 99 sifat yang Maha- yang tidak dimiliki oleh manusia, setiap orang yang beriman pasti merasakan perbedaan ini dan menghasilkan cinta yang berbeda pula, tidak akan mudah untuk sebrang menyebrang. Tingkatkan saja keimanannya dan bukan menghakimi perasaan cinta yang sudah merupakan fitrah. Adanya pengingkar fitrah manusia inilah yang kemudian membesar-besarkan masalah yang sebenarnya tidak berdasar sampai pada akhirnya ketika cinta itu datang dan tidak bisa dipungkiri lagi.

Tapi herannya, cerita cinta yang sedih-sedih malah semakin menjamur akhir-akhir ini dan seakan jadi trend (generasi EMO semakin banyak?). Mungkin mereka memang cukup membaca dan menontonnya saja, ga usah merasakannya dan biarkan realitas menggigit mereka nantinya, sama aja toh hasilnya, bahkan jauh lebih buruk.

 
Keep looking UP ^^^ as always.

Jumat, 27 Mei 2011

Film Animasi Bukan Cuma Untuk Anak

Pada film animasi, ga ada yang terlalu artificial untuk menjadi lebih hidup. Gambar-gambar 2D dan 3D yang identikal dan berurutan membentuk ilusi akan sesuatu yang nyata dan hidup padahal tidak. Ilusi tersebut kemudian yang membawa kita sedih dan gembira sesuai kehendak sang sutradara. Makanya, film-film animasi digemari bukan hanya oleh anak kecil saja tapi juga orang dewasa. Baik itu yang dari Jepang seperti Naruto atau dari Hollywood seperti Despicable Me. Mulai dari animasi serial sampai animasi layar lebar.

Permainan ilusi melihat apa yang kita lihat dan mendengar apa yang kita dengar sebenarnya merupakan hasil akhir dari sebuah industri yang serius, penuh dengan kreativitas dan deadline. Ketika kita melihat Mickey Mouse berdiri di sebuah podium menggunakan topi dan mengayunkan tongkat ajaibnya, sebenarnya ada orang-orang sungguhan yang bekerja siang dan malam untuk membuatnya menjadi demikian. Mereka adalah orang-orang dibelakang layar, sebuah industri animasi dimana mereka sangat tergantung pada popularitas karakter yang mereka bangun untuk menyenangkan kalian. Oleh karenanya, semua image dan alur cerita dibuat dengan tidak sembarangan, pengisian suara pun harus sesuai script yang ditentukan karena kalau tidak synchron akan ketahuan bohongnya nanti. Bahkan suara sebuah karakter harus sesuai dengan stereotype karakter yang direpresentasikan. Akan jelek dilihat para pemirsa ketika cerita mengenai seorang putri disuarakan oleh seorang laki-laki bersuara parau. Bahkan setiap nama-nama, baik karakter utama atau karakter yang mengelilinginya secara khusus dipilih sehingga dapat benar-benar merepresentasikan keinginan sang sutradara.

Tidak heran kalau industri yang serius ini juga terkadang membicarakan hal yang serius pula. Seperti misalnya Avatar atau Naruto. Film serial ini selain berisi petualangan menarik juga mengetengahkan pemikiran-pemikiran dan filosofi yang cukup berat bahkan berbahaya kalau untuk diterima seorang anak kecil. Ada hal seperti karma (bahwa sesuatu yang buruk yang terjadi pada seseorang adalah akibat dan hasil dari perbuatan orang tersebut), meditasi, chakra, aura dan hal spiritualisme lainnya yang merupakan ajaran alternatif diluar ajaran agama Islam dan Kristen. Mungkin hal inilah yang menyebabkan animasi sekarang banyak ditonton oleh orang dewasa, karena mempersembahkan kompleksitas pemikiran-pemikiran dan bahkan pembangkitan spiritualisme yang biasanya dibatasi dan dikungkung oleh ajaran agama. Tanpa ajaran agama dunia memang tidak berbatas, seperti juga ketidakberbatasan artifisial dalam animasi.

Kalau mau contoh lain dari animasi yang ga sesuai untuk anak, coba deh tonton animasi shinchan berikut ini, dari judulnya aja harusnya kita sudah mulai berpikir apakah animasi ini cocok untuk anak-anak. Kita kan ga mau kalau anak-anak tiba-tiba menyalahgunakan kekuasaan dan menyebabkan kerugian dikemudian hari, apalagi kalau sudah sampai memilih ideologi...bisa-bisa kekiri-kirian dan kekanan-kananan dan senggol-senggolan dan jadi politikus taman kanak-kanak gawat juga. Politik abusing power dan opresif ga seharusnya diajarkan ke anak kecil (ada loh ortu yang melihat kalau hal ini perlu diajarkan dengan membiarkan bahkan menyuruh anak-anak mereka meneror dan bertingkah jail kepada yang lain supaya mereka punya insting mencari kekuasaan). Sebagai anak-anak mereka sendirilah nantinya yang akan jadi korban atas mirage berupa kekuasaan yang sebenarnya tidak atau belum mereka punyai. Mereka pun terpaksa menghadapi konsekuensi yang dihasilkan dari  penyalahgunaan kekuasaan dan sikap opresif tersebut atau bahkan memaksa dirinya untuk mendapatkan kekuasaan yang tidak dimilikinya yang akan menempatkan dirinya dan orang lain dalam bahaya. Coba lihat wajah anak-anak ini ketika terompet berbunyi...mengerikan...

   

Kate Miller-Heidke "Are You Ready?" from Jeremy on Vimeo.



Karena menyinggung masalah Nazi, sekalian aja gue mau ngomongin sedikit off the topic. Bukan tidak mungkin sejarah pembantaian manusia dapat terulang, hanya saja mungkin motif, pelaku dan korbannya berbeda sama sekali. Makanya, penting untuk tidak memberikan kesempatan dalam menimpakan suatu kesalahan atau mengidentikkan sesuatu secara buta yang bersinggungan dengan SARA apalagi membiarkan sesuatu yang opresif. Ketika yang opresif mendapat lampu hijau, yaitu ketika yang akan dijadikan korban secara pandangan umum ditempatkan sebagai pelaku kejahatan dan si korban menerima hal tersebut karena simbiosis yang terjadi dengan latar belakang SARA tersebut dianggap masih menguntungkan, maka ketika si opresif ini cukup kuat untuk mengambil tindakan, si opresif dapat saja melakukan apa saja yang dikehendakinya dengan menyetir kepentingan umum. Bahkan salah satu cara yang dilakukan Nazi dalam melancarkan agendanya adalah dengan menggunakan media untuk mass distraction sehingga masa menjadi emosional dan gampang tersulut. Seperti shock therapy yang mengakibatkan masa menjadi short minded dan kehilangan objektivitasnya. (Bayangkan saja kalau hal ini dilakukan ketika ajaran agama tidak ada). Di zaman Nazi dulu, orang Yahudi sebenarnya sudah kuat secara finansial dan merekalah yang memutar roda perekonomian. Tapi uang bukanlah kekuasaan, lagipula, ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Dan nampaknya orang Yahudi di masa tersebut terlambat untuk menyadarinya dan harus menghadapi kekejaman tentara SS yang mengelabui mereka untuk bersih-bersih didalam ruangan m,andi yang sebenarnya adalah ruangan gas mematikan. (Topik ini juga membuat gue ingin tahu lebih banyak mengenai PKI dan wikipedia jadi sumber awal yang cukup lengkap mengenai partai yang sudah dinyatakan terlarang ini).

Jadi, jangan anggap enteng perilaku opresif pada anak-anak, baik ketika mereka menjadi pelaku ataupun korbannya. Sejarah membuktikan bahwa baik pelaku ataupun korbannya pada akhirnya akan menuai konsekuensi berat atas perilaku opresif tersebut.

Balik ke industri animasi, pada akhirnya, industri besar tersebut ternyata bisa menyedot banyak perhatian dan mengeruk keuntungan yang besar, seperti Disney misalnya. Mickey Mouse pun sampai punya fans club sendiri, bahkan punya playground yang mendunia. Seiring perkembangan teknologi, imajinasi sutradara dalam menciptakan cerita apapun dan karakter apapun yang makin hidup juga semakin menjadi kenyataan. Apakah kemudian yang artificial akan menggantikan yang asli? Kita tunggu saja, to infinity and beyond...

Selasa, 10 Mei 2011

Pinky Piggy Nose!

Ketika salah satu syarat hidup adalah mengemis dengan hal ini:

{harusnya ada gambarnya tapi gue ga nemu gambar yang pas buat menggambarkan pelaku suap-suapan} 

untuk mendapatkan ini:


atau yang ini:

atau mungkin juga yang ini:


Lalu, bagaimana nanti kalau jadi seperti ini:



Ini benar-benar pinky piggy Nos..se..no...se...Nose!

Terkadang orang menghalalkan segala cara untuk survive, dengan imbalan tertentu mau melakukan apapun permintaannya. Jadi mirip kanibal atau zombie. Hidup seperti tidak ada hari esok. Untuk yang doyan disuapin dan dicekokin, nyanyi bareng-bareng ya "tangan ke sampink...tangan diatas...tangan kedepan...cuci tangannya..."   Kualitas hidup juga dilihat dari masa depannya, dan pastinya ga melulu cuma berisi uang dan identitas yang bisa masuk kedompet dan dibawa kemana-mana. Tapi memang, selama masyarakatnya bisa dibutakan dengan hal yang terlihat bagus, uang yang banyak dan identitas yang meyakinkan, akan banyak orang yang rela melakukan apa saja. Akhirnya, semua jadi saksi betapa bobroknya sistem ketika semua diterabas hanya untuk terlihat...bagus. Ini solusi jin iprit.

Hanya mengingatkan bahwa ada hal-hal yang lebih besar daripada hidup itu sendiri. Hal-hal yang patut kita perjuangkan. 

Selasa, 03 Mei 2011

Yang Harus Diketahui Konsumen Mengenai Iklan

You got something that you want me to sell
Sell your sin. Just cash in.
You got something that you want me to tell
You'll love me. Wait and see.
Jewel - Intuition



TV sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan keseharian di peradaban yang modern sekarang ini. Apalagi, TV sekarang sudah bisa dibawa kemana-mana dan bentuknya bukan sebuah kotak yang besar dan berat lagi. Makanya, apa yang ditampilkan oleh TV sangat berdampak bagi masyarakat secara umum. Termasuk juga iklan.

Sesuatu yang dipajang adalah sesuatu yang mungkin akan dijual. Oleh karenanya, menurut saya, cara yang paling sederhana dalam beriklan adalah dengan memajangnya. Beriklan yang lebih kompleks kemudian menggunakan sarana seperti media dan riset pemasaran. Mempersiapkan sesuatu untuk dikonsumsi khalayak ramai memang tidaklah mudah, harus kreatif, inovatif dan...manipulatif. Perencanaan dan rancangan dibuat khusus untuk menarik sebanyak-banyaknya perhatian dan tentu saja supaya mudah diingat. Pengkondisian dilakukan berdasarkan rancangan tersebut. Tapi, jangan lupa kalau iklan mempunyai target sasaran, yaitu anda sebagai konsumen dan juga masyarakat luas. Oleh karenanya, anda adalah target dari riset yang mereka lakukan dan target dari bujukan persuasif yang dihasilkan kemudian.

Ketika sesuatu ditawarkan atau ditampilkan, pernahkah anda berpikir kalau sebenarnya anda sedang ditawarkan sebuah konsep? Ya, sebuah konsep dimana konsep tersebut akan bermain dengan persepsi anda sebagai targetnya dan mengharapkan reaksi tertentu dari anda? Sudah barang tentu sesuatu yang ditawarkan, walaupun awalnya tidak menarik perhatian, tapi karena sudah dibungkus oleh apapun yang diketahui akan menarik untuk diperhatikan, maka akan menjadi perhatian juga. Inilah hasil dari riset yang dilakukan, yang bertujuan agar konsumen dapat dipengaruhi persepsinya atau bahkan dirubah persepsinya menjadi seperti yang diinginkan.

Pernah dengar iklan How Low Can You Go? Secara umum, being low bukan kualitas yang diinginkan, sehingga tidak mempunyai daya tarik dan tidak diperhatikan. Tapi setelah melihat iklan tersebut bukankah persepsi kita sudah dirubah? Sekelompok orang tertentu melihat kondisi being low sebagai magnet untuk mereka dan menjadikannya bahan perhatian yang baru. Pada akhirnya, pengikutnya pun bertambah dan menaikkan pangsa mereka.

Terkadang, iklan bahkan bersinggungan dengan nilai-nilai yang ada di masyarakat dan seakan menguji batasan nilai yang dimiliki. Dengan kreativitas, mengetengahkan sesuatu yang baru supaya nilai tersebut diterima oleh masyarakat. Atau bisa juga mengagungkan suatu nilai untuk mengurangi nilai yang lain yang kurang diinginkan. Misalnya saja, iklan makanan cepat saji yang berusaha mengubah nilai yang ada di masyarakat sehingga anak-anak lebih baik mendapatkan makanan yang menyenangkan (Happy) daripada yang sehat (Healthy). Mengajari untuk mengutamakan mainan dulu baru kemudian makanan?          

Beberapa iklan bahkan menghendaki masyarakat menjadi irrasional, tidak mempedulikan konteks, tujuan dan latar belakang sesuatu hal. Longgar dan tersesat. Setidaknya, mereka tidak mempertanyakan sesuatu hal tersebut. Seperti, mengapa diskon besar-besaran dilakukan tengah malam pada waktu jam tidur dan harus pula berdesak-desakan. Selama ada tulisan 80% off dicetak besar dan bertinta merah, nothing else matter.
 
Ada banyak metode pendekatan yang dilakukan oleh bagian pemasaran dalam beriklan. Mulai dari menggunakan emosional atau perasaan, tantangan dan petualangan, cita rasa, penalaran, sampai atraksi fisikal yang memikat. Sedangkan untuk mempengaruhi (memprovokasi) indera dapat digunakan warna atau theme dan slogan tertentu baik tersamar atau tidak. Konsumen tentu tidak mau dibingungkan ketika themenya adalah keceriaan tapi kok yang dipakai baju-baju hitam. Salah satu contoh iklan yang memprovokasi indera secara tersamar adalah menggunakan sebutan atau nama yang sering didengar, misalnya seperti Mario dan Maria pada iklan cat, agar konsumen teringat akan produk tersebut setiap mendengar nama atau sebutan tersebut.
   
Lalu, bagaimana dengan cara mendikte yang cukup mencolok. Salah satu cara sederhana seperti mengulang iklan pendek berkali-kali dalam satu slot, terkadang bisa sangat menjengkelkan. Gue heran apakah bukan merupakan pelanggaran terhadap kebebasan ketika sebuah alat kreativitas dapat didikte seperti ini. Seperti menggunakan kata magik, dan memanggil jin di botol untuk melakukan semua kreativitas selebihnya yang diperlukan.

Iklan juga menggunakan pendekatan berganda seperti emosional dan penalaran. Coba lihat contoh iklan dibawah ini:



Pertama, emosi atau perasaan kita dibuka dan dimainkan dengan mempersembahkan sebuah cerita, ada perpisahan, hubungan sepihak (yang cukup dipaksakan), dan penderitaan (diluar dan dibiarkan hujan). Lalu kemudian penalaran digunakan untuk menutup paksa emosi dan perasaan tersebut, bahwa cukup gila kalau lampu dikasihani. Hasilnya? Iklan yang berkesan.

Pesan-pesan subliminal juga terkadang dipakai dalam iklan. Hanya dengan tingkat kesadaran yang tinggi dan sensitifitas, kita dapat mengetahui yang tersirat dalam sebuah iklan. Apakah disengaja atau tidak, indera bawah sadar kita dapat terpengaruh oleh hal tersebut, terutama yang berbau negatif. Tinggal kemauan kita untuk membawanya ke alam kesadaran supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, atau, pindah channel ketika ada anak kecil disekitar kita karena mereka belum cukup dewasa untuk menolaknya secara sadar. Contoh subliminal gue rasa banyak juga di dalam negeri, salah satunya iklan makanan ringan wafer coklat untuk anak-anak yang kalau kita dengarkan nyanyiannya cukup menyeramkan. Lebih jauh mengenai subliminal message dapat dilihat disini.

Lalu, sampai seberapa jauh produsen bisa mendikte dan mempengaruhi target konsumennya lewat iklan? Semuanya tergantung target konsumennya, karena mereka yang memegang batasan nilai-nilai umum dan khusus yang dimiliki, sampai dimana mereka merasa batasan tersebut dilanggar. Kalau kemudian diketahui dapat membahayakan, harusnya tidak diikuti, bagaimanapun yang kemudian berperan adalah masyarakat yang ditargetkan, bukan bagian pemasaran yang memanipulasi iklan. Tidak mungkin mengharapkan peringatan atau pengajaran dari objek yang menjadi tontonan. Begitu pula sebaliknya. Karena, seharusnya sudah kita pelajari nilai-nilai umum tersebut di bangku sekolah dan lingkungan, dan nilai-nilai khusus di lingkungan rumah.

Makanya, hanya iklan rokok saja yang memberikan peringatan kesehatan, yang lainnya...terserah anda.

I'm just a simple girl
In a high tech digital world
I really try to understand
All the powers that rule this land
They say Miss J's big butt is boss
Kate Moss can't find a job
In a world of post modern fad
What was good now is bad

 Jewel - Intuition!


Jewel lyrics are property and copyright of their owners.
"Intuition" lyrics provided for educational purposes and personal use only.

Minggu, 01 Mei 2011

MayDay! Let's Learn English!

Di jaman dimana informasi mengalir sangat cepat dan dinamis, penguasaan bahasa asing sangat dibutuhkan. Adanya banyak cara untuk mendapatkan informasi bukan berarti miskomunikasi tidak dapat terjadi, malah dapat menyebabkan efek multiplier dari miskomunikasi tersebut. Bahasa inggris adalah bahasa yang paling banyak dipergunakan di dunia, oleh karenanya pemahaman bahasa inggris sangat penting supaya terhindar dari kesalahpahaman. Penggunaan alat-alat translasi bahasa seperti Google translate juga tidak dapat mengurangi kesalahpahaman yang terjadi apabila keterampilan bahasa inggris kita lemah. Akibat terburuk dari kurangnya pemahaman bahasa asing adalah terisolasi yang pada akhirnya menimbulkan hal yang tidak dikehendaki. Dengan bahasa inggris, kita memperkaya sumber informasi yang kita bisa dapatkan sehingga dapat mengambil keputusan dengan benar.

Contoh lucunya bisa ditonton disini, ini orang kok malah ribut mengenai apa yang dipikirin orang lain...padahal situasinya sudah gawat:



No not thinking...don't mind what I'm thinking...we are sinking!
Heh, terkadang orang benar-benar tidak melihat situasi dan kondisi. Gue rasa nih orang aslinya pemandu acara radio tengah malam yang isinya romantika dan roman picisan!

Sebagai tambahan, belajar literatur berbahasa inggris juga dapat melatih pemahaman berbahasa Inggris. Sekalian juga menambah pemahaman kita mengenai kebudayaan asing. Berikut beberapa literatur dan kursus gratis yang tersedia di Internet:


  • Sparksnotes : Sparksnotes menyediakan contoh analisa literatur selain literaturnya sendiri. Bahkan tersedia video untuk membantu pemahaman literatur tersebut. Memang, menonton cerita sebelum menganalisanya membuat prosesnya menjadi lebih mudah. Saya menonton animasi Dante's Inferno, baru kemudian membaca ceritanya. Walaupun ada perbedaan cerita tapi tetap saja membantu.
  • Bibliomania : Bibliomania menyediakan berbagai macam literatur dan cukup lengkap. Sama seperti Sparksnotes ada contoh analisa dan kesimpulannya.
  • U Moodle: English OpenCourse Ware : Walaupun kursus yang disediakan tidak up-to-date tapi terdapat petunjuk dan latihan yang dapat diikuti dalam mempelajari literatur. Kursus gratis yang diadakan oleh Universitas Utah ini cukup membantu dan tidak perlu registrasi untuk mengikutinya.


Info ini saya berikan terutama untuk yang mau test SAT dan GRE, biar nilai verbalnya ga seperti gue, jeblok. :)

Jumat, 22 April 2011

Welcome Mr. Bieber!

Remaja sekarang punya banyak pilihan untuk memilih idola mereka, dari dalam negeri maupun luar negeri. Ketika idola mereka mau konser, aksi mereka pun bermacam-macam, apalagi kalau yang manggung datang dari jauh seperti Justin Bieber yang lagi tenar-tenarnya. Harga tiket yang mahal pun tidak mengurungkan niat mereka, yang penting bisa ngeliat langsung performance Justin di panggung. Itupun kalau ga jatuh pingsan karena histeris!



See the Dream?

Tapi, denger-denger Justin Bieber sebenarnya seorang laki-laki tua berumur 51 tahun dan punya catatan kriminal. Ini beritanya. Jadi benarkah Justin seorang pedophilia dan misogynist, kalau benar, sungguh ironis buat para penggemarnya yang kebanyakan perempuan!

Anyway, welcome Mr. Bieber!    

Ada Yang Sama?

The optimist says the glass is half full. The pessimist says the glass is half empty. The engineer says the glass is twice as big as it needs to be. Unknown.

Gue nonton film Paul, eh, kok ada yang aneh ya, ada nama gue kayaknya tapi ga begitu jelas sih...di majalah yang dibuat sama temennya si Paul. Jarang-jarang nama yang mirip gue tuh...walaupun ada. Kalau tanggal lahir, temen sekantor dulu ada yang samaan tanggal lahirnya. Padahal dari gue SD sampai kuliah ga pernah ada yang samaan. Eh, di kantor gue yang dulu malah ada yang sama.

Kalau masalah tanggal ulang tahun, MetroTV punya nomor HP cantik yang harusnya buat gue...soalnya tanggal lahir gue kepakai semua di nomor cantik tersebut dan terpampang setiap pagi!

Terus kalau gue ketik nama gue di internet, larinya ternyata ke situs mobil balap kuno!

Lihat mobil balap kerennya.

Bicara soal Paul yang alien, ada orang yang berpikir bahwa kalau tidak realistis maka cara berpikir kita seperti alien. Kebanyakan orang mengartikan kalimat tersebut sebagai orang yang seperti alien adalah orang yang aneh atau lain sendiri karena tidak realistis. Tapi sebenarnya ada hal yang lebih mendasar lagi mengenai arti dari kalimat tersebut.

Setiap manusia mendapat karunia indera yang bisa merasakan dan menangkap sesuatu yang kemudian disimpan dalam bentuk informasi. Persepsi manusia kemudian menggunakan informasi tersebut dan mengolahnya menjadi gambaran sebuah realitas yang bisa mempengaruhi keputusan manusia. Persepsi dan perspektif manusia berkembang seiring dengan keinginan manusia untuk memenuhi kebutuhan, harapan, atau bisa juga karena opini dan permasalahan yang berkembang di masyarakat. Karena persepsi dan perspektif yang berubah-ubah inilah yang menyebabkan realitas yang terbentuk menjadi bersifat dinamis. Realitas juga tidak memiliki dasar dan batasan yang jelas dan distorted karena tidak terbatasnya informasi yang tersedia dan adanya berbagai macam perspektif. Tapi, justru karena semua dinamika inilah yang membuat realitas jadi sangat menarik, sehingga banyak orang yang terjebak pada realita kehidupan dimana sebenarnya manusialah pembuat realitas tersebut.

Realitas juga dapat membuat orang merasa insecure karena seseotrang terus menerus dituntut untuk bergerak dinamis sesuai dengan realitas yang berkembang di masyarakat. Rasa insecure ini ada, juga karena realitas, yang tidak mempunyai dasar dan landasan sehingga dapat terus dipacu bergerak, sangat rentan terhadap manipulasi dan tipuan. Ironinya, rasa insecure ini pulalah yang kemudian mendorong manusia terjebak dalam manipulasi dan tipuan yang dipersembahkan kehadapan mereka karena berusaha mengejar realitas yang bisa membuat dirinya secure. Hal lainnya yang lebih mendasar yang bisa mempengaruhi keputusan manusia seperti pengetahuan, nilai yang dimiliki manusia itu sendiri, dan yang terpenting, agama, terkadang hanya dipakai sebagai nuansanya saja. Seperti bungkusan apik atas kado-kado yang dapat memenuhi nafsu manusia dalam sebuah perayaan atau pesta.

Realitas juga dapat dimanipulasi untuk mengeksploitasi psikologi dan perasaan emosi dari manusianya. Hal ini karena kebutuhan, harapan, permasalahan dan opini-opini yang dimunculkan sebagai sebuah realitas berpengaruh langsung terhadap keadaan dan kondisi seorang individu. Akibatnya, banyak yang mengambil keputusan berdasarkan apa yang dirasa benar dan bukannya berdasarkan pada sebuah kebenaran mutlak. Jadi, GR atau Gede Rasa juga bisa digunakan untuk mendistorsi realitas karena manusia akan lebih memilih realitas yang menyenangkan dan meninggikan daripada yang tidak menyenangkan dan merendahkan ketika dua pilihan tersebut ada dan tersedia. Realistiskah kalau kita mengambil hal yang lebih menyenangkan daripada yang tidak? Ya. Tapi bukankah hal yang realistis harusnya lebih menggunakan nalar? Ya juga. Realitas memang sangat tidak konsisten sperti juga jalan pikiran manusia, makanya manusia tidak bisa menggunakan realitas sebagai pedoman dan patokan jalan hidup.

Terkadang manusia mengambil keputusan karena nalarnya menyatakan hal tersebut benar. Tapi, ketidak konsistensian realitas sebenarnya berasal dari persepsi manusia (dengan inderanya) yang memang tidak bisa menilai sesuatu dengan pasti(yang pasti-pasti aja? LOL). Ada banyak informasi yang tersedia dan tidak semuanya bisa ditangkap oleh indera manusia sehingga realitas tidak bisa sepenuhnya tergambarkan. Keterbatasan manusia inilah yang seharusnya membuat manusia sadar kalau dia memang tidak bisa berpikir panjang. Tidak cukup panjang untuk bisa membenarkan suatu hal yang salah, tidak cukup panjang untuk mempunyai misi dan tujuan yang baik tapi dengan cara-cara yang melanggar.

Ketika manusia dihadapkan kepada sebuah permasalahan dan sebuah jalan keluar, pasti yang diambil adalah jalan keluar yang bisa menghilangkan (meninggalkan) permasalahan, dan bukannya berhenti dulu mengambil permasalahannya untuk dapat menghadapi dan menganalisa permasalahan tersebut. Apakah hal tersebut realistis kalau orang lebih suka berlari? Ya, kalau dilihat dari sifat manusia yang egois dan ingin gampangnya saja, tapi tidak, kalau dilihat bahwa sebuah jalan keluar tidak akan ada sebelum permasalahannya ditelaah. Lagian bukankah GR namanya kalau jalan keluar bisa semudah itu didapat walaupun menurut nalar jalan keluar itu bisa diterima? Makanya, ketika pedoman (keyakinan) kita dalam mengambil keputusan adalah berdasarkan realitas, maka keputusan yang diambil akan mengedepankan egoisme dan harga diri karena manusia terjebak untuk mempertahankan realitas yang menenangkan dan memudahkan untuk dirinya. Hal ini juga berarti bahwa sebenarnya ego dan gede rasa ini dapat menjadi faktor intrinsik yang mempunyai peran penting dalam membangun (atau mendistorsi?) realitas di masyarakat.

Setiap manusia mempunyai sifat egois dan harga diri tinggi (pride), untuk dirinya sendiri atau untuk kelompoknya. Terkadang egoisme dan pride ini harus melampaui harga komunitas sosial diatasnya, bahkan melampaui harga kemanusiaan atau harga sebuah keyakinan supaya ego dan pride bisa exist. Makanya, ketika egoisme dan pride ini exist dalam taraf yang mengkhawatirkan, biasanya akan mengikis sistem yang diatasnya, bahkan sistem yang menaunginya. Ego dan pride ini kemudian dapat sangat berbahaya karena dapat digunakan dalam politik divide and conquer, mengarahkan kekuatan lawan pada ambisi pribadi atau kelompok.

Egoisme dan pride bisa dipupuk mulai dari bangku sekolah ketika kita memilih teman tertentu berdasarkan status misalnya, dan mengunci informasi hanya untuk teman-teman tertentu. Bisa juga didalam keluarga ketika kita mendapat pembenaran atau pengingkaran padahal sudah melakukan kesalahan. Dapat juga dimulai dengan banyaknya kata saya, untuk saya dan mengenai saya atau kalau bicara orang lain ya, mengenai dia, karena dia dan untuk dia. Seperti detached dengan keadaan yang sebenarnya terjadi, atau kalau bisa dibilang penguncian terhadap hal yang lainnya. Egoisme inilah yang kemudian membuat manusia selalu melihat keatas sehingga keputusan yang diambil seperti melayang-layang dan tidak membumi. Egoisme juga yang membuat manusia tidak sabar dan tamak dalam mengambil keputusan. 

Gue kasih satu contoh sederhana bagaimana keputusan manusia berdasarkan realitas dan nalar sangat tidak konsisten hasilnya. Si Bunga diberikan suatu subset permasalahan dan solusi. Dia diberitahu bahwa ada seseorang dalam bahaya sehingga dia harus melindungi atau mengcover orang tersebut, sekaligus memberikannya bekal kemampuan agar bisa melawan bahaya tersebut. Tapi semuanya itu harus dilakukan secara diam-diam, supaya tidak membuat orang tersebut ketakutan dan supaya dia bisa menjadi lebih mandiri. Secara nalar, subset masalah beserta solusinya tersebut bisa diterima, tapi penyederhanaan masalah dengan solusi yang dibatasi tersebut pada implementasinya bisa mendatangkan bahaya yang jauh lebih besar lagi, baik untuk orang tersebut, atau si Bunga sendiri atau bahkan orang lain. Kenapa? Karena didalam subset tersebut ada konstrein yang berupa syarat, ada insentif dan reward yang bisa mengeleviate perasaan dan keadaan seseorang, ada pula ego dari individu (si Bunga) dan juga ada harapan tersembunyi agar orang yang dalam bahaya tersebut bisa menggunakan bekal yang diberikan. Konstrein atau syarat yang harus dipenuhi oleh si Bunga, yaitu mengcover dengan cara diam-diam, secara implementasi berarti melanggar aturan dan kode etik, karena diam-diam sama dengan sembunyi dari sistem. Tapi, karena adanya insentif seperti perkataan "menolong orang yang ada dalam bahaya" pelanggaran tersebut seperti mendapat justifikasinya. Apalagi ketika "menolong orang yang ada dalam bahaya" tersebut juga mengisyaratkan adanya reward untuk si Bunga, yang secara nalar adanya reward memang mengindikasikan hasil dari sebuah pertolongan atau adanya niat baik. Lagipula, reward tersebut dapat menjadi bekal dikemudian hari agar bisa menolong sesama lagi. Hmmmm...make sense juga sih, tapi bagaimana reward yang berasal dari sebuah syarat yang memicu aksi pelanggaran dapat bermanfaat? Apa keyakinan kita sedang diuji disini untuk menyangsikan bahwa pelanggaran sebenarnya bisa bermanfaat, bisa memberikan hikmah?

OK, balik kepada subset permasalahan. Secara implementasi, sebenarnya memberikan bekal kemampuan dan kemandirian dapat saling bertolak belakang dengan perlindungan apabila batasannya longgar. Bahkan perlindungan yang diam-diam itu saja sebenarnya bukan perlindungan yang sesungguhnya, karena memakai cara-cara siluman seperti penampakan dan penghilangan sesuatu atau nilai. Walhasil, orang yang dalam bahaya tersebut sekarang lebih dalam bahaya lagi karena ditekan oleh cara-cara siluman tersebut dan fasilitatornya yang pastinya berasal dari dunia gelap. Sudah ga sesuai dengan nalar lagi kan? Lalu bekal kemampuan yang seperti apa yang mempunyai batasan longgar? Bekal kemampuan mengatasi intrik dengan sengaja menciptakan intrik dan kebohongan, kemampuan mengatasi godaan dengan sengaja menciptakan godaan, kemampuan menampik kesalahan dengan sengaja memberikan dan membuka kesempatan yang menjerumuskan, mengajarkan hidup dengan mempertontonkan dan menceritakan hal yang tidak pantas atau mengatakan hal yang tidak senonoh, kemampuan mengatasi perbuatan jahat dengan sengaja berbuat jahat dan pengkhianatan. Walhasil, si Bunga bukannya menolong orang dalam bahaya, tapi dia sendiri sibuk berbuat dan menyiarkan dosa (agar ada yang bisa belajar darinya? Yup, Bunga losing something). Dengan melakukan pelanggaran disengaja tersebut, batasan agama kita sudah hilang karena kita sudah tidak percaya lagi sama ajaran agama kita sendiri yang mengatakan bahwa pelanggaran (walaupun disengaja) adalah hal yang harus dihindari dan bukannya pelanggaran bisa memberikan kebaikan.

Kemandirian sendiri bisa jadi bablas misalnya, ketika si Bunga percaya 100% bahwa hal-hal buruk tidak akan terjadi, padahal dia tidak memberi batasan sehingga menyebabkan terbukanya kesempatan terjadinya hal-hal buruk tersebut. Ibaratnya sebuah barak dimana masing-masing individu bercampur baur dan diberi kepercayaan penuh tanpa ditegakkannya aturan yang jelas, pokoknya semua dianggap bisa mandiri alias menjaga diri sendiri hanya karena individu-individu tersebut dapat dipercaya. Batasan dan aturan yang harusnya ditegakkan dihilangkan, karena kepercayaan kita sudah pindah menjadi kepercayaan kepada suatu misi yang baik dan kepada individu pelaksananya.

Lagipula kenapa harus menyelesaikan masalah dengan solusi yang dibuat-buat seperti itu? Masalah adalah hal yang wajar didalam kehidupan, manusia mengambil keputusan dan kebijakan yang salah setiap waktu sesuai dengan ruang lingkup yang dimilikinya, dan agama/negara mengatur solusinya. Yang tidak wajar adalah ketika ada yang berusaha mengurangi masalah dengan jalan yang salah (melanggar) sehingga malah membuat masalah baru sekaligus memperluas ruang lingkup permasalahan (sekarang masalah bertambah dengan keikutsertaan si Bunga). Bukankah sudah ada cara-cara sederhana yang diatur di dalam ajaran agama yang dimiliki si Bunga atau aturan yang berlaku secara umum kalau memang dia seorang yang punya keyakinan? Kompleksitas solusi yang seperti itu bukan hanya dapat menjebak orang yang akan ditolongnya, tapi mungkin saja sebenarnya memang ditujukan untuk menjebak si Bunga sendiri kedalam maksud sebenarnya pemberian reward tersebut. Jujur saja, mungkin orang yang dalam bahaya itu sebenarnya tidak dalam bahaya, tapi setelah si Bunga melakukan cara-cara siluman dan menerima reward, si Bunga sendiri yang menempatkan orang tersebut  (dan juga si Bunga-nya sendiri) dalam bahaya .

Lalu, bagaimana kemudian terhadap orang yang lagi ditolong tersebut, apa yang terjadi kepadanya setelah bekal kemampuan dan kemandirian diterimanya dari si Bunga yang dilakukan dengan cara-cara "menyimpang" tersebut? Si Bunga kemudian dengan kepercayaannya yang sudah menyimpang jauh dan karena sudah dibutakan oleh reward yang diberikan kepadanya, setelah menarik orang tersebut keluar dari sistem (didalam aja udah bahaya apalagi diluar?), mendorong orang yang ditolongnya tersebut untuk berhadapan dengan bahaya yang tidak pernah ketahuan wujudnya apa. Hal tersebut dilakukan karena keyakinan bahwa solusi yang dilakukannya, yang tanpa pernah menyentuh permasalahan dan tanpa mengenal lebih jauh siapa si pemberi solusi, dapat senantiasa berguna. Si Bunga ini kemudian menginspirasi bunga-bunga yang lainnya untuk dapat melakukan hal yang sama dan mendapat reward tersebut. Dari sini, kompleksitas yang dihasilkan dari suatu solusi akhirnya menjadi lebih besar dari masalahnya. Ruang lingkup menjadi semakin besar karena solusi menimbulkan masalah baru menyangkut adanya reward dan cara-cara siluman, dan juga semakin banyaknya orang mengikuti jejak si Bunga yang semakin menambah runyam permasalahan.

Akhirnya, realitasnya yang terjadi kemudian untuk si Bunga dan orang yang ditolongnya adalah dua-duanya dalam bahaya. Ini akibat penggunaan nalar dan realitas dalam pengambilan keputusan karena si Bunga menganggap dirinya lebih bijak dan lebih mempunyai pemikiran yang panjang daripada Tuhannya akibat sudah terbuai-buai akan reward dan ego, serta perasaan bahwa dirinya lebih penting dari orang yang ditolongnya. Lagipula, apa tidak terbuai namanya ketika si Bunga mengharapkan dan bermimpi bahwa bantuan yang diberikannya adalah yang terbaik untuk orang yang ditolongnya tersebut, padahal si Bunga sendiri sudah salah jalan dan belum punya kewenangan dan otoritas yang dibutuhkan?

Realitas kalau manusia selalu berbuat dosa, tapi kenapa realitas ini yang kemudian dipakai sebagai patokan dan pedoman jalan hidup? Dalam hal si Bunga, dia dihadapkan pada realitas bahwa ada orang dalam bahaya tapi dia tidak menyadari bahwa realitas tersebut dapat membahayakan dirinya ketika dia tidak mempunyai batasan dan penegakan aturan di dalam sistem  dimana dia berada dan ajaran agama dia sendiri. Dia juga menempatkan kepercayaan yang besar bukan kepada Yang Diatas, tapi kepada orang yang memberikan subset permasalahan/solusi tersebut. Masa sih dia menaruh harapan kepada solusi siluman dan bukan pada aturan-aturan yang ditetapkan sama Yang Diatas dan aturan di dalam sistem? Adanya konstrein dan syarat yang ditetapkan dalam tindakan si Bunga juga sebenarnya sudah menyimpangkan si Bunga atas apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh si Bunga. Larangan yang dipegang si Bunga (dengan tidak memperingatkan atau memberi tahu adanya bahaya pada orang yang ditolongnya) adalah larangan yang mengada-ada dan bertentangan dengan ajaran agamanya dan kode etik yang berlaku. Yang terlarang dilaksanakan dan yang ga dilarang malah menjadi larangan.... Still feeling right with the subset?

Ketika terjadi permasalahan, ada saja orang yang kemudian menggunakan takdir sebagai alasan berkelit, "manusia jalannya memang kayak gini, sudah takdirnya." Tapi bolehkah kita terus menerus menyalahkan takdir dan kodrat akan hal-hal yang terjadi dan dilakukan, padahal kita sama sekali tidak peduli akan takdir dan kodrat tersebut, karena selalu berusaha kita ingkari dan terabas dengan pergerakan yang kita lakukan? Untuk kasus si Bunga, sebelum dia melakukan sesuatu, seharusnya dia menanyakan kepada dirinya sendiri apakah tindakan dia tidak melanggar takdir orang yang ditolongnya, ketika takdir orang tersebut adalah dia merupakan amanah dari orang lain? Bukankah si Bunga sendiri sudah bergerak seperti malaikat penyelamat yang hanya peduli pada sebuah misi padahal dia cuma manusia biasa?

Yang lebih parah lagi adalah ketika si Bunga ini menyadari dia mendapat masalah dikemudian hari atas apa yang dilakukannya. Dengan siasat tertentu dari orang-orang yang tidak bertanggung-jawab, bisa saja kemudian si Bunga menyalahkan apa yang terjadi, kepada orang yang berusaha ditolongnya tersebut, karena si Bunga terjebak untuk menyalahkan motifnya dan bukan apa yang sudah dilakukannya. Padahal, sebelum si Bunga mendapat masalah, motif ini berusaha disembunyikannya. Kelemahan yang seperti ini klasik sebenarnya, motif adalah hal yang dapat meringankan bahkan mengeliminasi suatu kesalahan, dan bisa timbul tenggelam sesuai keinginan si pelaku. Hal yang sudah sangat bertolak-belakang dengan prinsip-prinsip dasar dari ajaran agama dan aturan hukum yang berlaku dimana perbuatanlah yang pantas ditindak dan bukan motifnya.

Aturan dan hukum, baik agama maupun negara, dibuat sebagai solusi sistemik didalam masyarakat. Apabila seseorang dalam bahaya karena kegagalan sistemik, maka masalah yang ditimbulkan adalah akibat dari sistem yang tidak berjalan. Sementara, tindakan solusi yang dilakukan si Bunga adalah hal yang personal (untuk dirinya dan orang yang ditolongnya) dan bukan sistemik lagi karena yang dilakukan si Bunga adalah sembunyi dari sistem (keluar dari sistem). Jadi, ketika si Bunga tidak bisa (atau tidak mau) menyelesaikannya dan mengakuinya secara terbuka, bisa saja tanggung jawab ini kemudian menjadi sebuah konsekuensi dimana si Bunga harus membayar kesalahannya secara personal diluar sistem yang berlaku. Apalagi ketika si Bunga terpengaruh untuk melakukan tindakan yang menyalahkan motifnya atas masalah yang menimpa dirinya, semakin besarlah konsekuensi yang harus diterimanya dari orang-orang diluar sistem tersebut. Dan perlu diingat bahwa konsekuensi diluar sistem biasanya akan mengenai bukan hanya si Bunga sendiri, tapi orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan permasalahan. (This seems lampu ijo utk something really3x baddd).

Terkadang orang yang terjebak dengan realitas kehidupan akan terjebak pada kelemahan-kelemahan mendasar manusia yang tidak berbatas, karena digunakannya berbagai alasan dan justifikasi. Sebenarnya, kelemahan manusia yang tidak berbatas inilah terkadang yang tidak disadari sepenuhnya oleh manusianya. Realitas kemudian mengkonsumsi manusianya dari dinamika realitas yang mereka bentuk. Feminisme misalnya akan mengkonsumsi manusianya ketika kaum feminis menuntut kesetaraan secara kuantitas dimana malah akan berpengaruh negatif terhadap daya kompetitif dari masyarakat secara keseluruhan. Multikulturalisme juga akan mengikis habis tradisi dan budaya ketika multikulturalisme tersebut dibawa masuk kedalam ranah suatu budaya dan ranah personal orang-orang yang menjadi penyangga budaya tersebut (Multikulturalisme harusnya berada tepat diatas bermacam-macam kultur dan bukan infiltrasi kedalamnya yang membuat batasan sebuah kultur menjadi ambigu). Ketika sebuah kultur hilang maka yang terjadi kemudian adalah kultur homogen dimana sudah tidak ada lagi multikulturalisme dan tidak dibutuhkannya lagi toleransi antar kultur hanya karena pribadi-pribadinya tidak bisa menjaga semangat dari budayanya sendiri. Begitu juga dalam pengambilan inisiatif, ga perlu kebawa inisiatif yang macam-macam sampai memakan akal sehat. Terkadang orang mengajak untuk mengambil inisiatif dimana ajakan tersebut ternyata bukan berasal dari inisiatifnya sendiri. Untuk apa mendorong orang untuk punya inisiatif ketika dianya sendiri hanya mengikuti angin yang berhembus? Apa hal tersebut tidak menjebak namanya? Apa tidak lebih baik fokus kepada apa dan siapa dan punya kewenangan apa ketika akan mengambil tindakan?  Dalam kehidupan beragama, ketika ada yang menjustifikasi sebuah pelanggaran sebagai cobaan yang harus diterima, maka pelanggaran tersebut akan terus berlanjut sampai ada suatu hal yang menghentikannya, yang bisa jadi hal tersebut adalah sebuah malapetaka yang menghancurkan manusianya. Perkataan seperti "menerima apa adanya" yang harusnya diberlakukan hanya dalam lingkup terbatas malah terus dikerek menjadi menerima pelanggaran alias mengikhlaskan pelanggaran-pelanggaran yang ada. Manusia memang kalau sudah jahil bisa balik ke jaman jahiliyah dulu, ga ada aturan. Realitas memang dapat menciptakan zombie-zombie yang mengkonsumsi manusia lewat tindakan-tindakan tanpa batas aturan, norma, dan adat yang dilakukannya.

Kasus yang dialami Bunga hanya beberapa kasus dimasyarakat dimana si Bunga ini diberi kesempatan untuk melihat adanya permasalahan. Kalau si Bunga menyikapinya dengan bijak maka permasalahan tersebut seharusnya dapat mentrigger alarm akan adanya permasalahan yang harus diselesaikan, dan bukannya mengambil jalan pintas apalagi reward yang sudah disediakan. Tapi, banyak realitas yang ada di masyarakat tidak berupa subset solusi dan permasalahan seperti yang dihadapi si Bunga. Dewasa ini realitas banyak menghadirkan kesempatan-kesempatan yang menggiurkan dengan alih-alih bantuan, hadiah atau cuma "kesempatan emas". Dengan harapan dan impian untuk bisa mengubah apapun yang bisa di ubah bahkan dunia sekalipun, kesempatan tersebutpun berusaha untuk diraih. Tapi, realitas juga kemudian yang harus dihadapi, ketika ada permasalahan dikemudian hari akibat buntut dari kesempatan yang diambil, dan ternyata lebih mudah menampikkan masalah tersebut karena dianggap terlalu besar untuk ditangani. Kesempatan besar diambil, timbul masalah besar kocar-kacir, solusi ajaib yang tiba-tiba muncul diambil, masalah jadi lebih besar kocar kacir lagi. Siklus realitas menjadi sangat berbahaya ketika kita bergantung pada kesempatan dan solusi cepat.

Terkadang kesempatan diambil dengan alasan daripada jatuh ke pihak yang jahat. Walaupun kesempatan tersebut memicu pelanggaran, hasilnya tetap bisa dipergunakan untuk hal yang baik, apabila kesempatan tersebut kita yang ambil. Justifikasi yang menurut gue kebablasan, karena aturan dan hukum, baik agama maupun negara itu absolut. Kalau seperti Robin Hood yang mencuri uang kemudian dibagi-bagikan ke orang banyak, apakah realitas seperti ini benar? Bagaimana pertanggung-jawaban kita ketika kitab Hollywood yang jadi pedoman? Alasan diatas adalah sebuah konsep money laundering, dimana berapapun yang kita terima tetap hasilnya akan kembali jatuh ketangan yang jahat. 

Banyak orang meyakini realitas adalah sebuah kebenaran, bahkan sebuah realitas merupakan pernyataan baik atau buruknya suatu hal, dan bukannya meyakini berdasarkan keyakinan akan jalan yang benar. Jika realitas yang didapatnya bagus dan baik untuk dirinya, maka hal inilah yang benar apapun jalan yang ditempuh untuk mencapai realitas tersebut. Mereka-merekalah yang kemudian menjawab sebuah permasalahan dengan sebuah realitas sebagai bukti pembenaran. Pada akhirnya, mereka pun bisa mendefinisikan yang benar dan yang baik dengan sebuah realitas yang dapat ditentukan sendiri, yang menyenangkan tentunya. Gue aja terkadang dengernya sampai heran sendiri ketika ada yang bilang kalau negeri barat lebih islami dari negara Islam hanya karena kehidupan mereka terlihat ideal dan makmur dengan pemerintahan yang teratur. Pernahkah terpikirkan oleh mereka kalau hal tersebut adalah sebuah realitas dari persepsi sepintas dan merendahkan umat Islam? Apa ada yang mengharapkan untuk dijajah lagi seperti dulu oleh negeri barat?

Realitas memang bisa dengan gamblang menunjukkan perbedaan antara yang ideal dan yang tidak, hasil yang baik dan yang buruk dan semua perbedaan lainnya. Akhirnya, realitas bisa dipakai untuk acuan dalam mengukur, menilai dan menghakimi seseorang. Ketika seseorang mengedepankan realitas, mereka tidak mengikuti aturan tapi mengedepankan pertimbangan mereka. Pertimbangan mengacu pada kondisi yang ideal, yang tidak timpang, kalau yang ideal adalah begini, maka kita harus ikuti untuk amannya, dan kalau ada yang membuat kondisi timpang dan tidak ideal, ditampikkan, dijelek-jelekkan dan dieliminasi saja, atau kalau perlu dipelintir terus sampai kondisi ideal, aman dan tanpa masalah bisa tercapai. Sombong bukan, ketika pengkondisian yang dilakukan dan bukannya meyakini aturan? Sederhana sebenarnya, tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana agar kondisi yang ideal tanpa masalah bisa terpenuhi, kan sudah ada aturan dimana harus kita yakini aturan tersebut. Makanya, setiap orang atau kaum adalah sama dimata hukum dan ajaran agama, tapi bisa berbeda di mata persepsi seorang individu. Masalahnya, sampai sejauh mana tindakan kita didasarkan pada pengukuran berdasarkan realitas ini. Kalau gue biasanya hanya hal-hal yang bersifat pribadi untuk gue saja persepsi tersebut digunakan, dimana gue memang dituntut harus hati-hati. Tapi, ga gue gunakan untuk masuk ke ranah pribadi seseorang karena gue bukan "orang pintar" alias dukun dan ga mengerti masalah pribadi seseorang, walaupun ada "orang pintar" sekalipun yang ngasih tauk gue. Jujur aja sih, dosa kalau menggunakan jasa "orang pintar" buat menerawang orang lain.

Lagian menurut pengamatan gue, kalau orang tidak mempunyai kepentingan yang cukup akan suatu hal, maka egonya akan melambung tinggi memaksakan suatu kondisi yang ideal supaya citranya bisa melambung juga, apalagi kalau hal tersebut terekspos. Tapi, ketika menghadapi hal yang menyangkut kepentingannya sendiri, rontoklah kondisi ideal tersebut. Ini politik divide and conquer yang bisa cukup berhasil, seperti gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang jalan kelihatan jelas sekali. Sangat tidak konsisten. Kalau melihat kasusnya si Bunga diatas, adalah egonya yang mendorong orang yang ditolongnya untuk menerima hal yang dia lakukan sebagai sebuah kebaikan dan hal yang positif, sehingga dia pun membangun harapan bahwa kondisi ideal akan tercapai pada orang yang ditolongnya dan bisa mendapatkan output yang positif pula. Hal ini akibat si Bunga tidak punya kepentingan langsung terhadap orang yang bersangkutan sehingga bisa menihilkan hal yang negatif, "tidak ada apa-apa" katanya. Tapi, si Bunga yang sudah terbius akan reward dan kepercayaan yang didapatnya, sudah melakukan tindakan-tindakan negatif dan melenceng, seakan-akan memang sedang ada apa-apa, karena melihatnya sebagai kepentingan dirinya untuk melakukan sebuah misi. Tidak konsisten bukan ketika tidak ada apa-apa tapi malah melakukan banyak apa-apa? Kasus si Bunga hanya sebatas konteks yang melibatkan individu, tapi di dunia nyata, konteksnya bisa saja ditarik untuk cakupan yang lebih besar lagi seperti dalam konteks suatu kelompok tertentu, negara, agama, dsb. Kalau dalam politik, biasanya kita melihat seseorang dalam sebuah kelompok tertentu memilih ketuanya bukan dari kondisi yang ideal melainkan yang paling menguntungkan untuk kelompok tersebut atau individu tersebut. Sehingga, walaupun ada kasus yang menyangkut si calon ketua, dia tetap menempel dan memilih ketua tersebut. Tapi, ketika dihadapkan kepada kepemimpinan orang-orang yang dia tidak berkepentingan, maka dieksposnyalah calon ketua yang diajukan atau kalau perlu dicari-cari kejelekannya, seakan-akan hal tersebut adalah kepentingannya. Permainan kepentingan seperti ini adalah realitas yang berkembang di masyarakat dan apabila sudah melewati batas bisa berdampak buruk.

Realitas juga banyak menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kemudian digunakan sebagai dasar asumsi dan prasangka yang menjadi alasan dalam tindak-tanduk manusia. Realitas bahwa "no one is innocence" dijadikan asumsi awal untuk melakukan hal-hal buruk terhadap seseorang. Realitas bahwa perempuan lebih menggunakan emosinya dipakai untuk mengucilkan kemampuan perempuan ketika emosi tersebut ada dalam diri seorang perempuan.

Realitas juga bisa berwarna, ada yang hitam putih dan ada yang full color kayak pelangi (kalo di amrik, warna pelangi tuh lambangnya kaum homoseksual alias gay). Ketika seseorang menggunakan realitas maka dia akan melihat yang hitam dan putih sebagai pilihan yang valid untuk melangkah menuju kemenangan. Mereka akan berusaha memainkan langkah hitam dan putih tersebut seperti sebuah permainan catur, penuh strategi dan mampu menjatuhkan bukan hanya lawan tapi juga bidaknya sendiri. Yang tidak bermain dianggap bayi. Bagus? Adik yang top terdengar lebih baik? Nggak lah, yang ada kita malah dijadikan bidak-bidak permainan dan menguntungkan pihak yang tidak seharusnya. Yang kita lihat sebagai langkah putih ternyata adalah langkah si laskar hitam, siapa yang bayi sekarang?

Jadi bagaimana, salahkah untuk berpikir seperti alien? Apakah kita masih punya cukup waktu untuk membiarkan permainan ini merajalela?
Kalau kita memakai nalar dan pemikiran maka alien yang jauh lebih pintar bisa memperdayai kita.
Kalau kita mendewakan realitas maka alien jauh lebih mampu untuk memelintir realitas tersebut dan mengecohkan kita.
Lalu bagaimana dengan uang dan kekayaan? Sama aja, siapa tauk alien udah punya teknologi yang bisa nyetak uang sendiri...siapa tauk?




Kamis, 21 April 2011

Siapakah Seorang Teroris?

Saya orang awam sebenarnya kalau bicara mengenai teroris. Tapi, setelah mengalami banyaknya kejadian yang berhubungan dengan terorisme, sedikit banyak saya mulai paham apa dan bagaimana terorisme bisa berkembang seperti sekarang ini.
Saya rasa setiap orang pasti pernah merasa insecure atau tidak aman, di masa tersebut, ketika setiap hal terasa kurang, yang namanya prejudice atau prasangka, terhadap individu atau golongan dapat tersulut dengan mudah. Dengan cerita-cerita yang dapat direkayasa, pemikiran bahwa mereka jauh lebih baik dari yang lain sehingga dapat mempunyai peran lebih untuk mengubah hidup seseorang pun ditanamkan sampai ketaraf dimana perbuatan mereka yang sekalipun merugikan dapat bertujuan baik. Kebencian pun dapat tertanam.

Pada masa tersebut, ambisi juga dapat dengan mudah tersulut. Dengan sebuah gambaran ideal dan impian atau bahkan dengan cara menyanjung yang setinggi-tingginya kemuliaan dari hamba Allah SWT atau bahkan dengan hanya memanggil "bos" terhadap orang tersebut, tercipta perasaan sombong dan kemudian menjadi exclusive. Tidak ada dialog yang terbangun dengan individu atau golongan yang dianggap salah atau lain, yang ada hanya dialog dengan mereka yang sealiran, dan pemaksaan kehendak dengan perbuatan-perbuatan mereka, seperti berbohong, mencuri dll. Entah dengan bujukan apa. Dari sini munculah para pengantin yang siap direkrut.

Faktor kekerasannya sendiri saya rasa datang dari sikap non-kompromis dan asumsi-asumsi yang salah, seperti segala sesuatunya terjadi atas seijin Allah SWT, termasuk semua tindakan yang masuk kategori dosa besar. Tanpa adanya asumsi-asumsi tersebut akan sulit mereka mengingkari sebuah tindakan yang dosa. Kalau sifat radikal dan extremis, kemungkinan besar dari pengalaman-pengalaman atau gambaran kejadian yang nyata dan mengerikan yang dapat menghapus empati seseorang atau janji-janji manis yang menempatkan empati sebagai sesuatu yang tidak penting.


Kesemuanya dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi dan rahasia, ada yang mengatakan bahwa mereka bekerja secara terpisah dan berkelompok. Satu kelas tidak mengetahui apa tindakan yang dilakukan kelas selanjutnya. Untuk pelaku lapangan akan sangat sulit diminta keterangan atau pertanggung-jawaban karena mereka tidak memegang kontrol. Setiap orang hanya mengambil sebagian kecil dari tindakan. Tapi walaupun begitu, setiap tindakan dilakukan secara sistematis, artinya, dilakukan dengan suatu tujuan dan alasan tertentu. Akhirnya, setiap orang adalah martyr.

Awalnya hanya sekelompok kecil, lalu ada kelompok-kelompok lain yang menyambungkan aspirasi mereka, berlanjut dan berkesinambungan. Inilah sebuah latihan teroris kecil-kecilan yang pada akhirnya menjadi besar dan nyata. Satu hal yang mengganjal pemikiran saya, kalau memang untuk menyadarkan sesama muslim, kenapa tidak melalui syiar saja daripada melakukan teror. Syiar yang sesuai dengan ajaran agama dan bukan hasil rasionalisasi. Cukup sederhana saya rasa, daripada terjebak membuat perencanaan ini itu. Bukankah agama kita juga mengajarkan kesederhanaan?

Untuk lebih lengkapnya mengenai terorisme baca tulisan yang lebih canggih berikut ini.

Sabtu, 16 April 2011

Bom lagi?

Ada bom lagi, kali ini di dilakukan di tempat dan waktu yang tidak semestinya, di mesjid pada saat shalat Jum'at. Targetnya ga tangung-tanggung, kepolisian. Banyak korban yang terluka, dan ketika saya lihat video amatirnya, banyak yang histeris. Saya merasa prihatin sekali karena ada dua simbol penting yang diserang. Mesjid sebagai tempat ibadah yang suci dan kepolisian yang bertugas menjaga keamanan masyarakat. Oleh karenanya, bom ini merupakan awal malapetaka yang memerlukan perhatian serius. Dan untuk para pelakunya, kapan orang-orang ini sadar apa maksud dan tujuan pemboman atas nama Islam yang mereka lakukan.

Tapi selain itu, media juga sibuk menampilkan Briptu Norman dan hiruk-pikuk serta hura-huranya. Jadi, tidak ada yang perlu dipikirkan, segala sesuatu akan baik-baik saja.  Yang lalu biarlah berlalu. Maju terus Briptu!

Selasa, 12 April 2011

When Good People Goes Bad

Saya terus terang ga tauk kriteria orang baik apa dan orang jahat apa. Yang saya tauk, orang biasa melakukan hal yang ordinary setiap harinya, berusaha untuk hidup dan survive dan mereka orang-orang yang baik. Sekolah untuk belajar, bertani atau berdagang untuk mencari nafkah, bekerja dengan rajin agar hasilnya bagus. Kalau kemudian orang-orang tersebut terusik oleh sesuatu yang ga biasa atau extraordinary, sehingga harus melakukan sesuatu yang lain dari yang biasanya, adalah tergantung dari pertimbangan mereka untuk melakukan hal tersebut. Dan ketika kita memutuskan untuk melakukan suatu hal yang tidak biasa tersebut, apa sih yang kita lihat? Dilihat kemungkinan hasilnya, dilihat apa perbuatannya, seneng merasa dibutuhkan atau percaya aja apa kata orang. Lalu, apa sih yang membuat kita dipilih sampai bisa melakukan yang tidak biasa tersebut? Bukankah dengan melakukan hal yang tidak biasa tersebut, sebenarnya kita sedang mempertimbangkan kembali kearah mana kita akan melangkah?

Ah big deal, ga ngaruh, yang penting ikutin aja, kan ga ada sangkut-pautnya sama gue, ga ada ruginya di gue. Tapi, bukankah sekecil apapun tindakannya kalau dilakukan ramai-ramai maka hasilnya akan besar? Melihat sesuatu yang sepotong-sepotong juga dapat mengarahkan ke jalan yang salah. Apa lagi kalau melihat masalahnya dengan sebuah penyederhanaan sudut pandang seperti romantika atau materialisme, sedangkan permasalahannya sendiri dibuat kompleks dan rumit. Memangnya seberapa sering kita dengar orang bilang "ga tauk" di sebuah persidangan?

Sayangnya lagi, banyak hal yang kita lakukan tidak terlihat segera hasil akhirnya, dan disinilah kebanyakan orang kemudian melakukan tindakan dengan perkiraan hasil yang baik plus segudang keyakinan. Disinilah ketika pertanyaan seperti "How bad you go for doing good?" dijawab dengan "As bad as it gets." Masalahnya perbuatan yang bad biasanya hasilnya juga bad.

Pada akhirnya, kitalah yang menentukan hasil akhir dari perbuatan kita, bukan orang lain. Karena sesuatu yang tidak biasa tersebut maka kita akan mendapat hasil yang tidak biasa pula. Naif kalau berpikir setelah kita melakukan hal yang tidak biasa, lalu kita mengharapkan hasil yang normal atau sesuai dengan perkiraan. Berani berbuat, berani bertanggung jawab. Yakin mau menjadi bagian dari masyarakat yang sakit dan tanpa masa depan?

Lalu, bagaimana dengan kejadian anggota DPR yang terhormat dari fraksi PKS yang lagi heboh? Bukankah ini adalah salah satu contoh dari good people goes bad?    

Evening... Night... Dawn...

Senin, 11 April 2011

Kenapa Harus Prokonflik?

Akhir-akhir ini berita di TV berkutat mengenai 4 hal: bom buku, bahaya nuklir Jepang, kerusuhan Timur tengah dan perang Libya. Berita-berita ini sepertinya menginterupsi suguhan TV yang biasanya bersifat entertainment dan lifestyle. Hidup memang bisa berisi konflik, ga mungkin bisa tenang terus.

Gue memang bukan aktivis, dari dulu sampai sekarang gue ga tertarik untuk aktif dalam pergerakan tertentu. Kalau pernah ikutan kepanitiaan juga cuma satu dua, dulu banget waktu ada acara keputrian ski stt telkom dan ospek himpunan. Itu juga setelah ditarik dan dipaksa sana sini. Walaupun bukan orang aktif dan bukan dari keluarga broken home, gue sadar bahwa hidup tuh penuh dengan konflik. Gue hidup di kota besar yang memang selalu ada konflik, sahabat gue SMP juga dari keluarga broken home dan dari lingkungan yang berbeda jauh dengan gue.   

Kesadaran akan konflik membuat kita harus hati-hati dalam bersikap agar tidak mencetus konflik. Kesadaran akan konflik juga membuat kita sensitif terhadap segala sesuatu disekeliling kita. Sewaktu remaja, konflik kita paling seputar hubungan dengan orang tua, sekolah dan perasaan (bukan hubungan!) dengan lawan jenis. Sebagai ABG, seorang anak mungkin tidak menuruti semua perkataan orang tuanya, bolos sekolah, atau naksir seseorang. Selama dalam batas wajar ga apa-apa kan.

Beranjak dewasa, konflik dapat berkembang dan mungkin lebih kompleks tergantung lingkungan kita berada. Ketika kita berada dalam lingkungan kerja yang banyak berinteraksi dengan orang lain, sikap, perbuatan dan perkataan pastinya kita jaga jangan sampai melebar masuk ke wilayah non-formal. Kalau kemudian harus masuk lebih jauh supaya terlihat aktif, baiknya pahami dulu permasalahannya, jangan asal ikut-ikutan. Lebih baik melakukan aktivitas interaksi seperti percakapan daripada harus memonopoli tingkah laku agresif dan masuk ke wilayah abu-abu. Terkadang orang yang proaktif dapat menjelma menjadi prokonflik. Percayalah, akan lebih banyak ruginya kalau diteruskan. Yah, kalau mau main bom-bom car, nabrak sana, nabrak sini, seperti ga ada aturan, lebih baik ga usah sekolah aja. OK?

Lucunya lagi, saya sering banget ketemu sama orang-orang fear-mongering. Mereka percaya akan sebuah hal yang menakutkan sampai akhirnya mereka harus membuktikan hal tersebut sebagai sebuah pelajaran. Pada akhirnya, mereka malah menjadi pelaku aktif dari hal yang menakutkan tersebut dan secara tidak langsung mengabsahkan tindakan tersebut wajar dilakukan oleh masyarakat, kepada dirinya atau orang-orang yang dia sayangi. Pernah ada seorang rekan yang mengatakan "Jangan mengharapkan keadilan karena keadilan tidak ada di dunia ini." Dan memang kemudian dia terapkan dengan baik hal tersebut, dia kemudian berlaku tidak adil kepada saya dan entah kepada siapa lagi. Ada lagi yang mengatakan "Doa orang yang teraniaya pasti dikabulkan," dan dia pun sibuk menganiaya orang supaya orang tersebut berdoa dan doanya dikabulkan. 
Yang seperti ini kalau dilanjutkan nanti akan menjabarkan program pemberantasan kemiskinan menjadi program memberantas yang miskin dan program pemberantasan kebodohan menjadi memberantas yang bodoh. Ya, secara logika hasil akhirnya mungkin sama tapi perlu ditegaskan bahwa akan ada konflik yang menyertainya.

Satu hal lagi, melakukan sesuatu yang diluar proporsinya juga memicu konflik. Jadi jangan berlebihan. Contohnya aja gedung DPR yang baru yang menelan biaya trilyunan, apa tidak terlalu megah untuk orang Indonesia yang masih banyak masalah? Nanti malah DPR dan rakyatnya jadi saling curiga dan komunikasi ga berjalan lancar. Apa tidak semakin penuh konflik nantinya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More