Ada kesalahan di dalam gadget ini

My Facebook

not shown

Senin, 11 Juli 2011

Arsitek Mimpi

...simple little idea that will change everything, that her world wasn't real. That the death is the only escape. Inception (2010)

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit. Hampir setahun gue terkena infeksi kelenjar getah bening, beberapa kelenjar getah bening ditubuh gue membengkak, alirannya tersumbat dan terkadang membuat respon imunitas gue menjadi terlalu aktif. Setelah cukup sehat, gue menyempatkan diri untuk pulang kampung. Walaupun masih berada didaerah perkotaan, tapi tetap saja bukan Jakarta, bukan sebuah kota metropolitan yang bisa menguras energi hanya dengan berada ditengah hiruk pikuknya saja. Bahkan ketika pertama kali datang masih ada suara tokek, jangkrik dan bunyi-bunyian malam lainnya.

Mungkin karena irama malam yang lebih asri itulah mimpi menjadi lebih berbeda. Pernah suatu malam gue bermimpi dengan gambaran-gambaran yang terlalu rumit untuk kapasitas subconscious otak gue. Bahkan ketika gue explore lebih jauh, mimpinya berhasil memberikan detail yang akurat. Mungkin tidak seperti yang kita lihat di film Inception karena gue yakin hal yang canggih tersebut merupakan buatan komputer. Tapi, setidaknya lebih detail dari biasanya.

Biasanya mimpi terdiri dari gambar-gambar yang tidak jelas, bahkan cenderung tidak masuk akal. Kita tidak memiliki kesadaran yang cukup didalam tidur untuk menggambarkan detail seperti yang mungkin dilakukan ketika dalam keadaan sadar. Kesadaran adalah hal yang jarang ditemukan didalam tidur walaupun bukan tidak mungkin kita tersadar dalam tidur. Hipnotis misalnya, selalu dilakukan dengan membuat si korban tertidur, tapi tetap ada kesadaran alam bawah sadar walaupun tidak bisa berpikir lebih jauh untuk mencegah hal-hal yang buruk.

Pernah gue tersadar kalau gue berada di alam mimpi yang sepertinya bukan hasil rekaan subconscious gue, dan ternyata gue cukup sadar untuk menolak mimpi tersebut. Ketika gue memaksa bangun dari mimpi tersebut dan ternyata berhasil, gue tidak senantiasa terbangun dari tidur. Gue berada dalam keadaan tersadar tapi tidak mengetahui dialam mana gue berada. Bukan perasaan yang enak karena lebih mirip helpless dan tersesat. Butuh kekuatan luar biasa untuk kemudian dapat berhasil bangun dari tidur. Mungkin inilah yang di film Niception dikatakan berada dalam kondisi Limbo, makanya adanya sedatif bisa memperparah keadaan Limbo tersebut. Kita bisa tersesat dalam pikiran kita tanpa bisa terbangun.

Loh, kalau gitu kenapa mimpinya saja tidak diteruskan daripada memaksa bangun? Masalahnya, terkadang mimpi bisa dipakai untuk memprogram kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak kita, seperti hipnotis. Bedanya, kalau hipnotis kita melakukan sesuatu tersebut secara tidak sadar, sedangkan kalau lewat mimpi, bisa saja mimpi-mimpi tersebut menjadi pikiran kolektif kita yang akan mempengaruhi segala keputusan yang kita ambil. Hasilnya jelas lebih buruk karena akan menjadi tindakan yang sah, tindakan yang diambil dengan sebuah kesadaran. Nightmare yang menjadi nyata.

Manusia memang paling vulnerable ketika dalam keadaan tertidur. Hipnotis, sirep, dan mungkin banyak ilmu lainnya yang saya tidak tahu, menggunakan tidur sebagai alatnya. Cara berpikir kita mungkin juga menentukan keampuhan ilmu-ilmu tersebut. Semakin tinggi tingkat kesadaran kita, semakin sulit ilmu-ilmu tersebut melakukan penetrasi walaupun memang terkadang sudah tidak dapat dihindari lagi. Terutama jangan perlakukan ibadah sebagai alat meditasi, karena akan menciptakan keringanan dan kekosongan pemikiran. Pedulikan tafsir dan maknanya, serta hindarkan maksud lain dalam menjalankan ibadah, seperti misalnya keampuhannya untuk menyembuhkan penyakit atau supaya mudah berhadapan dengan orang lain.

Adanya gangguan dalam kehidupan juga membuat kita lebih vulnerable dan lebih mudah goyah karena energi kita terkuras untuk mengatasi gangguan tersebut. Pertentangan, pertikaian, permusuhan dan lainnya membuat pemikiran kita mudah menyerah terhadap ilmu-ilmu seperti sihir dan sirep. Apalagi ketika pemikiran kita mengenal keadaan damai sebagai keadaan yang ideal, sebuah mimpi yang harus dikejar dan didapat. Yang kemudian membuat kita menghindar dari substansi masalah dan memilih cara yang tercepat.

Makanya, jangan terjun ke alam mimpi...entar ada yang ngomong gini lagi: "bisa, bisa aja lu ngomong, mimpi kali lu!"

Langit malam nan pekat pun bisa terlihat putih
Setelah tiga bintang jatuh menjadi tiga titik dilangit...
Sebuah pertanda kelanjutan rencana untuk sebuah malam
Good night and nice dream!


1 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More