My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Selasa, 17 Juni 2014

Don't Take Things For Granted

Kampanye hitam? Bagaimana dengan pelanggaran-pelanggaran yg cuma berkumandang ketika kampanye doang tapi tidak pernah ditindak ketika berkuasa? (semua pihak sebenarnya sudah pernah berkuasa sblmnya, cuma interface aja yg beda). Bagaimana dengan kebaikan-kebaikan yg terus-terusan berkumandang ketika kampanye berlangsung? Hal-hal ini bisa membutakan masyarakat, terlalu silau shg gelap mata. Ini lebih gelap dari kampanye hitam yg jelas-jelas hitam dan mudah dikenali dan dihindari.


Di masa kampanye seperti sekarang tingkat kesadaran masyarakat seperti sedang diuji. Sekali lagi masyarakat dihujani oleh informasi-informasi yg bisa menggiring masyarakat menjadi judgemental, berprasangka buruk, kompetisi yg penuh intrik sekaligus terbawa oleh janji-janji manis baik dari kandidatnya atau pendukungnya. Padahal masyarakat sebentar lagi harus mengambil keputusan yg penting dlm menentukan arah kemana negara akan dibawa. Di dalam era demokrasi, tanggung jawab dalam menentukan arah haluan negara (gue pakai arah dan haluan karena lebih realistis dibanding masa depan, klo pakai masa depan tuh jadi kayak Tuhan yg bisa aktif menjadi penentu takdir) ditanggung oleh setiap individu warga negara. Ini berarti setiap individu warga negara sepenuhnya bertanggung jawab dalam menentukan arah kemana negara akan dibawa. Masalahnya terkadang orang menyangka bahwa yg demokratis ini sama dengan musyawarah untuk mufakat. Dalam musyawarah semua suara akan terakomodasi dan berusaha dipersatukan dalam permufakatan. Jadi dalam permusyawaratan setiap orang bisa menerima dan belajar dari pengetahuan dan kebijakan orang lain ketika menerima permufakatan, sehingga its okay klo dlm permusyawaratan setiap orang pada awalnya hanya memiliki sepersekian pengetahuan. Tapi dalam demokrasi karena sifatnya yg lebih individual, yang sepersekian pengetahuan ini seharusnya tidak terjadi. Transparansi dan keterbukaan adalah asumsi awal terjadinya  proses demokrasi sehingga setiap individu punya akses pengetahuan yg sama dalam mengambil keputusan. Bahkan demokrasi berasumsi bahwa setiap individu dalam proses tersebut adalah individu dewasa yang mampu mengambil keputusan secara utuh. Secara utuh maksudnya manusia yg dengan intelegensia mereka bisa mempertimbangkan dengan matang segala aspek (percabangan) yang ada dalam pengambilan keputusan. Ini berarti mereka harusnya imun terhadap penggiringan informasi dan pengetahuan kearah tertentu. Mereka harusnya aktif dlm mencari pengetahuan yg relevan utk pengambilan keputusan tersebut. Merekapun harus yakin bahwa suara mereka adalah satu dan bukan sepertigaratusjuta suara. Artinya mereka sadar suara mereka yang satu itu adalah penentu arah kehidupan mereka dalam berbangsa dan bernegara sehingga mereka tidak bisa hanya mendengarkan suara perut mereka saja tapi juga masalah keamanan mereka, kedaulatan mereka. Ga bisa kalau kemudian seorang individu hanya memikirkan aspek kesejahteraan saja dan menyerahkan aspek lainnya pada orang lain. Sehingga klo misalnya yg duaratusjuta pemikirannya seperti ini, hanya kesejahteraan aja yg dipikirkan (krn kemiskinan merajalela ataupun tidak mandiri), maka demokrasi akan mudah goyah dari aspek keamanan dan kedaulatan karena yg menang adalah yg melulu kesejahteraan (urusan perut). Pemilih pada ruang lingkup yg kecil bisa sangat menyadari tanggung jwbnya utk memperhitungkan segala aspek krn aspek-aspek tersebut bersangkutan langsung pada dirinya. Tetapi pemilih pada ruang lingkup yg besar, jauh lebih sulit utk melakukan hal tersebut krn aspek yg seharusnya diperhitungkan tidak secara langsung mengena pada dirinya. Pada ruang lingkup yg kecil, seorang ibu rumah tangga, ketika memilih prt utk keluarganya, dia ga bisa memilih yg paling murah gajinya shg kesejahteraan si ibu ini meningkat. Dia hrs lihat kejelasan keluarga dan asal usul si prt. Klo masalah sifat dan sikap prt, kita jangan terlalu naif, banyak orang bagus diluar, manis tutur katanya, santun bahasanya, lemah lembut orangnya tapi ternyata.... Percaya dengan jaminan keamanan dari si penyalur juga, well, yg namanya jaminan cuma uangnya aja yg balik, resikonya ditanggung sendiri. Ibu rumah tangga tauk klo sembarangan dan percaya-percaya aja maka resikonya harta bahkan nyawa keluarga. Yg namanya keamanan tuh bukan dijamin tapi dijaga. Ujung-ujungnya yah kerjain aja sendiri. Itu ibu rumah tangga yg bertanggung jawab. Ah, itu mah namanya mempersulit diri sendiri, kita mah hrsnya percaya kemudahan datangnya dari Tuhan YME, klo solusi yg mudah ada kenapa hrs mempersulit diri sendiri. Yah masalahnya, klo dari Tuhan YME ya ga mungkin datangnya dari calo, dari perantara orang lain, kemudahan yg dimaksud adalah krn keikhlasan seorang ibu menerima tanggung jawabnya yg berat dan bukan keikhlasan seorang ibu melepas tanggung jawabnya kepada calo. Nah, klo pemilih dimana cakupannya lebih luas, mk tanggung jwbnya pun lebih luas dan besar, resiko pun jauh lebih besar.  Ga bisa kemudian, ah yg penting yg janji proyeknya macam-macam, masalah keamanan nanti bayar uang keamanan aja, beres. BERES! Pada ruang lingkup seperti negara, kasus seperti lepasnya timor-timur, sipadan ligitan,  dan penjualan indosat dari tangan RI harusnya jadi bahan pertimbangan yg menyangkut aspek kedaulatan (coba diingat di zaman siapa kita kecolongannya). Sementara dari aspek keamanan dan kebebasan warga negaranya, RI selalu punya catatan kelam, bahkan sampai sekarang. (Gue aja heran, ditengah maraknya pembunuhan sadis, penembakan disiang bolong dll, yg terjadi baik diluar atau didalam negeri, kok ada pemimpin yg terlihat santai dan aman-aman saja. Ironis). Aspek-aspek ini penting utk dipertimbangkan dan bukan melulu yg berhubungan dengan uang seperti korupsi, upah, investasi, dan segala janji-janji gratisan. Hati-hati dengan penggiringan informasi yg hanya mementingkan kesejahteraan saja, janji semua gratisan tapi tanah, bumi dan aset kita hilang satu persatu.

Peradaban kita dibangun atas asumsi-asumsi yg hrs dijaga. Baik itu sistem pendidikan, pemerintahan ataupun perekonomian. Asumsi harus dijaga krn klo tidak terjaga bisa menghancurkan bangunan yg berdiri diatasnya. Bangun mall misalnya, asumsinyakan mall tersebut untuk tempat berbelanja dan makan, ketika pengunjung mall tersebut lebih banyak yg nongkrong doangan maka tutuplah mall tersebut. Makanya ketika mendirikan mall, sideveloper harus yakin apakah asumsi tersebut bisa dijaga. Asumsi-asumsi ini ada di setiap sistem yg dibangun. Pemerintahan yg demokratis berasumsi bahwa setiap rakyat punya independensi, kebijaksanaan dan kedewasaan dalam sistem yg transparan. Begitu juga dengan sistem pendidikan kita, ada asumsi yg juga harus dijaga bahwa sistem penilaian adalah cukup utk mendukung pendidikan sekolah tapi tidak bisa mencakup semua faktor dalam diri anak sehingga dibuat batasan 12 thn untuk menjaga asumsi kecukupan tersebut.

Asumsi-asumsi ini kalau tidak disadari sepenuhnya rawan akan penyelewengan dan dpt dimanfaatkan oleh sebagian orang. Ketika banyak orang yang karena kenaifannya atau ketidakmandiriannya, atau sifat ignorance mereka, berasumsi bahwa mereka sudah mendapat informasi yg sebenar-benarnya dan transparan padahal ada sebagian dari mereka yg secara aktif mengunci, menggiring, menutup informasi pada yg berhak mengetahuinya, maka rusaklah asumsi tersebut. Sebagian orang yg lebih tauk ini akan bisa menari-nari dg kebebasan yg mereka miliki, menabrak batasan-batasan yg ada, diatas ketidaktaukan orang lain. Belum lagi tingkat rasional orang yg berbeda-beda (krn perbedaan pendidikan dan kemampuan) atau tingkat strata dimasyarakat yg berbeda-beda (akibat kedudukan dan kesejahteraan yg berbeda) sehingga kerawanan akan penyelewengan bisa terjadi. Egoisme dan demi kepentingan pribadi adalah kelemahan manusia yang ada dan akan selalu ada. Dengan keegoisannya, orang yg lebih pintar akan merasa lebih mampu untuk mengunci informasi kepada yg lain krn mereka merasa lebih mampu mencerna informasi tersebut daripada yg lain. Begitu pula orang yg merasa lebih bodoh, karena keegoisannya mereka akan pasrah saja dibodohi krn membutuhkan momongan dr orang lain. Opposite attract. Lalu ada pula orang yg ditengah, yg super egois, mau dibodohi krn membutuhkan momongan orang lain, tapi kemudian membodohi sebagian yg lain dengan mengunci informasi dan kongkalingkong main belakang. Split personality. Mereka yg ditengah ini orang pintar yg pura-pura bodoh, atau orang bodoh yg pura-pura pintar, entahlah. Yg lebih sejahtera dan yg kurang sejahtera pun begitu, idem dito. Merekapun menjadi masa mengambang. Ditengah jargon keterbukaan dan transparansi, hal yg mereka percayai dan jalankan lain. Level tanggung jawab akan sangat sangat rendah dan kecil sekali krn apa yg sesungguhnya mereka lakoni tdk pernah terlihat bentuknya, bahkan bentuk yg tampak diluar bisa 180 derajat bedanya. Mereka menari diatas asumsi demokrasi yg ada yaitu keterbukaan. Demokrasi pun rusak. Bahkan yg aktif bicara rusaknya demokrasi ternyata aktif pula merusak demokrasi memanfaatkan dangkalnya pola pikir yg ada.

Lalu apakah demokrasi berasumsi bahwa perbedaan-perbedaan tersebut harusnya tidak ada? Tidak. Perbedaan didalam demokrasi ada tapi hak dan kewajiban setiap individu  yg disamakan, diharapkan pula kedewasaan individu menyikapi perbedaan tsb. Klo perbedaan ga ada namanya jadi sosialis.

Gue rasa Indonesia dengan dasar negara Pancasila tidak sesuai dengan demokrasi yg kebablasan menjadi sosialis. Kebablasan? Ya, misalnya dengan menghapus perbedaan tersebut sehingga semua sama, sehingga toleransi tdk dibutuhkan lagi. Utk jelasnya bgmn perbedaan tsb berusaha dihilangkan, gue akan analogikan bangunan demokrasi dengan sebuah mall yg megah biar lebih mudah neranginnya. Asumsi ketika dibangun mall adalah pengunjung datang untuk berbelanja. Ketika pengunjung datang cuma utk windows shopping apakah hal tersebut perlu ditindak? Apakah perlu pihak mall menyuruh orang utk melakukan tindakan seperti menggiring atau membullying pengunjung yg cuma windows shopping sehingga asumsi mall bisa tercapai? Sehingga tidak ada lagi perbedaan diantara pengunjung? Padahal pengunjung yg cuma windows shopping sudah melakukan kewajibannya (dalam konteks mall) misalnya seperti bayar parkir, tdk buang sampah sembarangan dll. Masalah dia mau memakai hak dia atau tidak utk berbelanja sebenarnya terserah si pengunjung. Ketika kemudian ada spg yg belingsatan supaya pengunjung membeli bukankah hal ini mengesalkan sekali, apalagi klo sampai si spg kurang ajar sehingga norma dan nilai yg umum didalam mall bahwa kastemer adalah raja dilanggar, bahkan nilai dan norma yg cakupannya lebih umum lagi pun dilanggar, seperti kita hrs menghormati sesama misalnya. Bahkan utk mendapat alasan dalam melakukan pelanggaran, pihak mall pun mengobok-obok kewajiban yg dilanggar si pengunjung diluar konteks mall. Akhirnya si spg mendapat info dr pihak intel mall, bahwa si pengunjung yg cuma windows shopping tadi menerabas lampu merah waktu mau belok ke arah mall . Dan akhirnya si spg berubah menjadi polisi lalin yg merasa berhak menindak si pengunjung. Terjadilah pelanggaran yg lebih berat lagi yg dilakukan spg yg merasa sdh mendpt justifikasi akan tindakannya thdp pengunjung. Apakah bisa kemudian pelanggaran si spg disalahkan pada pengunjung tersebut yg sebenarnya korban pihak mall? Ah, abisnya si pengunjung keras kepala tdk mau beli kata si spg, atau ah, kita kan tdk bisa baca pikiran dia jadi kita tidak tauk bahwa perbuatan kita mengganggu. Baca pikiran orang, wow, rasional sekali cara pikir spg ini ya, sangat rasional tapi tidak cukup dewasa utk menggunakan batasan-batasan yg ada. Akhirnya si spg tadi mendapat kenaikan gaji dan jabatan krn misi bantuan sosialnya utk menyadarkan pengunjung yg cuma windows shopping sudah sukses.

Semua pelanggaran dr pihak Mall dilakukan ketika pengunjung yg lain tdk tauk apa yg terjadi dengan pengunjung lain yg cuma windows shopping. Mereka sibuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yg bisa diberikan oleh pihak mall, sementara pihak mall mengunci informasi. Mereka tidak tauk bahwa ada hal yg tdk tertulis yg berusaha dipaksakan oleh pihak Mall. Ada hal yg tidak jelas dilakukan oleh pihak Mall. Hal yg tdk tertulis bahkan diluar konteks utk memenuhi asumsi mall tersebut yg kita tauk sudah bablas, yaitu jangan ambil kesempatan masuk ke mall ini klo ga punya kemampuan (atau keinginan) utk membeli (secara umumnya, jangan mengambil kesempatan klo kita tidak punya kemampuan dan keinginan yg mendukung). Hal seperti ini menyangkut perbedaan diantara pengunjung. Pihak mall mungkin bisa berkelit bhw mereka menjunjung tinggi toleransi thdp perbedaan dengan melindungi orang-orang yg berbeda, yg nyeleneh, yaitu orang-orang yg mau melakukan pelanggaran-pelanggaran dalam sebuah sistem demi eksistensi dari sistem tersebut. Inilah paham sosialis dan sedikit komunis yg bisa terbaca dari perilaku mereka.

Sebentar, dalam konteks mall apakah hanya penyelenggara saja yg dpt merusak sistem yg ada di mall tersebut? Tidak. Kastemer mungkin ada yg mengetahui apa yg dilakukan pihak mall, tapi akibat pendewasaan dengan negative feedback, mereka merasa hal ini perlu utk dilakukan. (Pendewasaan dg negative feedback yg ada ditulisan gue sblmnya menganggap orang yg tidak berfeedback negatif adalah orang yg tidak dewasa sehingga tidak perlu diperhitungkan. Masalahnya, orang dengan negative feedback tidak memiliki sense negatif pada hal yg negatif. Mereka berpikir hal yg negatif adalah hal yg lumrah terjadi sehingga yg negatif pun dianggap biasa saja, bahkan bisa menjadi positif (ada paradoks disini, bahwa feedback negative justru menghasilkan persepsi yg melulu positif). Logika berpikir pun akhirnya rusak krn cara pikir menjadi seperti jalan tol, tidak ada lagi kanan dan kiri (positif dan negatif). Semua yg didepan, yg eksis dan kelihatan oleh mereka adalah positif, sementara yg dibelakang adalah hal yg sudah tidak eksis lagi, hal yg mendapat umpan balik negatif. Pada suatu titik mereka bahkan meyakini bahwa hal yg tidak eksis adalah hal yg seharusnya ditolak. Ini makanya mereka sangat mudah menerima yg eksis tapi menolak hal yg dianggap tidak eksis. So, pengambilan keputusan didasarkan pada apa yg eksis dan tidak eksis, bukan positif dan negatif. Sehingga hanya keputusan ya dan tidak yg dihasilkan tanpa penindakan lanjutan. Padahal ketika kita bertemu dg hal yg negatif seharusnya ada hal lain yg perlu dilakukan (penindakan sesuai aturan yg berlaku) dan bukan cuma melabelkannya sebagai tidak eksis. Bahkan dengan logika seperti ini hal yg sebenarnya positif tapi tidak eksis akan mereka tolak (bahkan mendapat penindakan dg temporarily melebarkan konteks permasalahan), sementara hal yg negatif akan mereka terima selama yg negatif tersebut tidak eksis (tdk tampak dipermukaan). Ini artinya mereka akan bisa sejalan dengan suatu masalah selama masalah tersebut tidak terlihat (tidak eksis). Merekapun sangat mudah menerima hal yg baru hanya karena eksistensi dari hal yg baru tersebut. Lemparkan saja solusi, kesempatan, informasi, dll didepan muka mereka dan mereka akan terima hal tsb selama hal tsb dianggap eksis. Mereka akan jadi pengikut sejati hal-hal yg eksis. Ketika mereka dihadapkan pada kegagalan akibat aktivitas mereka, mereka akan menggunakan apapun mekanismenya utk membuat kegagalan tsb tidak eksis (menutupinya). Singkat cerita, pada pendewasaan berfeedback negatif, pada setiap decision making, logika berpikir yg harusnya terdiri dari positif dan negatif, kanan dan kiri, menjadi logika positif yg menilai apapun yg didepan mereka sbg eksis dan tidak eksis, logika 1 (eksis) dan 0 (tdk eksis). Logika 1 dan 0 ini ada diwilayah positif krn 1 dan 0 memang nilainya positif. Disini perilaku yg mereka tunjukkan adalah perilaku get and give. Mereka akan ambil apa-apa yg (dianggap dan diinginkan) eksis, dan melempar hal-hal yg (dianggap dan diinginkan) tdk eksis. Akibatnya hanya ada pertambahan dari keputusan yg mereka ambil krn 1 dan 0 memang tidak pernah bernilai negatif. Makanya mereka akan terus bergerak maju, tanpa bisa melihat persimpangan krn sense negatif sudah ga ada. Jangankan belok, berhenti pun tidak ketika ada hal yg negatif. Bahkan mereka melihat yg negatif sbg hal yg positif klo didukung atau mendukung hal yg (dianggap) eksis. Permasalahan/problem adalah tidak eksis, sementara saya adalah eksis, krn saya dan permasalahan ada diwilayah yg sama yaitu positif, maka saya berdiri diatas permasalahan yg ada. Selama saya bisa memanipulasi permasalahan shg menjadi tdk eksis, saya akan terus bisa eksis, kita semua bisa eksis, jadi ayuh ramai ramai kita tutupi (naungi) permasalahan yg ada. Klo dia adalah bagian dari permasalahan mk dia tidak eksis. Mereka seakan-akan setuju bahwa ketika permasalahan menjelma menjadi hal yg eksis maka saat itulah mereka sudah tidak eksis lagi. Persetujuan seperti inilah yg berbahaya krn permasalahan yg cuma dianggap tidak ada sebenarnya terus berkembang krn dinaungi (ditutupi). Pada pendewasaan berfeedback negatif mereka tidak akan terganggu oleh hal yg negatif (masalah) tp mereka akan terganggu ketika ada hal yg mengganggu eksistensi, mengganggu hal yg dianggap eksis. Logika berpikir seperti ini kemudian akan menjadi sangat kuantitatif krn nilainya semua positif. Logika seperti ini tidak kualitatif krn ketika keputusan berpatokan pada hal yg eksis atau tidak eksis, prior knowledge akan tidak diperlukan lagi. Mereka cuma berpegangan/mengikuti apa yg saat itu eksis saja. Pada logika yg mengalami pendangkalan seperti ini, penilaian hal-hal yg konseptual dan mendasar seperti agama, dasar negara, dll menjadi sangat kuantitatif, bahkan menjadi objek penilaian yg kuantitatif sehingga akhirnya implementasinya pun jadi cuma hal yg klise, hanya dipakai untuk mendukung eksistensi mereka. Agama misalnya, mereka hanya dukung agama tsb hanya krn agama tsb punya eksistensi dimasyarakat. Untuk mereka hanya sesuatu yg mendukung eksistensi saja yg bermakna dlm hal yg konseptual. Padahal semenjak agama diturunkan, manusia menyadari bahwa ada hal-hal yg jauh lebih penting dari eksistensi mereka. Ada hal-hal yg wajib mereka pertahankan bahkan dengan mempertaruhkan eksistensi mereka. Hal-hal yg hrsnya dibela dg mempertaruhkan eksistensi mereka, sekarang malah dibalik, hal-hal tsb dipertaruhkan untuk membela eksistensi mereka. Gue melihat paradoks disini. Nah, bukan hanya utk hal yg konseptual saja pengaruh yg signifikan dari logika ini, tapi juga utk hal yg "dimarjinalkan" di masyarakat seperti perempuan dan anak-anak. Yg marjinal sering kali dianggap tidak eksis. Masalahnya, sampai seberapa jauh yg marjinal ini hrs dieksploitasi untuk merubah anggapan tersebut. Apakah anggapan tersebut ternyata jauh lebih penting daripada kaum yg marjinal-nya itu sendiri. Ketika anggapan tsb jauh lebih penting maka makna perempuan dan anak-anak hanya akan sebatas eksistensi mereka saja, sehingga hanya ketika seorang perempuan/anak mendukung eksistensi atau didukung oleh suatu eksistensi saja dia akan bermakna. Selain daripada itu, tidak. Eksploitasi perempuan dan anak-anak pun terjadi dan dianggap positif hanya krn eksploitasi tsb mendukung eksistensi. Hal ini akan gue bahas dilain posting, sekarang cukup disini dulu, lanjut ke topik awal). Kastemerpun bisa turut aktif membantu pihak mall mengganggu si pengunjung demi tercapainya asumsi tersebut. Mereka tidak sepenuhnya independen, they have common ground, yaitu eksistensi mall tersebut. Sama seperti si spg, merekapun melebarkan sayap mereka secara temporarily utk bisa aktif mendukung eksistensi mall. Patokan mereka adalah hal yg eksis, sehingga ketika dihadapkan dan dibandingkan dengan eksistensi mall, hal-hal lainnya seperti pengunjung mall tsb menjadi dianggap tidak eksis. Mereka akan bertindak diluar konteks mereka sbg kastemer. Atau mereka bisa pula mendukung secara implisit aktivitas mall, seperti ketika mereka mengetahui kesulitan yg dihadapi pengunjung lain, mereka malah menyuruh pengunjung yg cuma windows shopping tersebut membuat buku dan cerita mengenai beban dan derita hidup yg dia hadapi di mall ini sehingga buku tsb bisa dijual di mall sebagai sebuah kontroversi. Disini terlihat logika kuantitatif bahwa masalah (kesulitan pengunjung lain) dianggap tidak eksis, mereka akan full denial akan apa-apa yg dianggap tidak eksis. Lalu muncul solusi atas hal yg tdk eksis tersebut yaitu mentransformnya menjadi hal lain yg eksis, yaitu buku tadi, supaya orang bisa belajar. Dan apa yang orang bisa pelajari? Yg mereka pelajari adalah jangan ke mall tsb klo ga mau belanja. Hilanglah satu kebebasan yg dimiliki pengunjung diganti oleh norma baru yg mereka pelajari. (Permasalahanpun dianggap nothing, tdk eksis, shg merekapun bisa aktif membuat masalah baru). Moralitas pun hancur tdk berbekas.

Kastemer juga bisa jual buku cara-cara asyik belanja di mall, utk mendukung aktivitas mall tersebut. Akhirnya saking asyiknya mereka melakukan aktivitas mereka, mereka tdk sadar klo salah satu pengunjung yg cuma windows shopping yg mereka jahili adalah anak dari pemilik mall yg juga developer dan pemilik tanah seluruh kompleks di mall tersebut. The lack of respect and their denial untuk hal-hal yg dianggap tdk eksis, pada akhirnya memunculkan suatu kegagalan. Ketika kegagalan seperti ini yg mereka hadapi, mereka akan buka semua possibility yg ada utk menutupi kegagalan mereka. Ibaratnya keran, semuanya dibuka, mereka akan bisa menenggelamkan semua yg ada dengan aliran air yg melimpah. Oh...noooo, the drama, dan terjadilah apa yg kemudian terjadi, the drama. Okay cerita yg terakhir ini mungkin cuma karangan gue aja, atau karangan orang lain, tapi gue harap intinya jelas mengenai bangunan mall ini.

Satu hal lagi dari pemikiran sosialis (sedikit komunis), ketika seorang pengunjung datang ke mall tersebut, dia punya hak yg sama utk membeli barang yg ada di mall. Tapi hak membeli ini dibatasi oleh kemampuan dia utk menggunakan haknya tersebut. Kemampuan seseorang adalah apa yg dia miliki. Seseorang tentu bisa meningkatkan kemampuannya tapi dengan fasilitas dan legalitas yg jelas. Klo di mall dia bisa pake atm misalnya. Masalahnya orang dengan pemikiran sosialis terkadang berpikir bahwa hak membeli yg sama berarti kemampuan utk menggunakan hak tersebut harus disejajarkan, hrs secara kuantitas sama. Sehingga ketika dia masuk ke mall dan dia melihat pengunjung lain yg lagi berbelanja, dia akan menggunakan nalurinya dan berpikir kalau dia harus bisa dan mampu membeli barang tersebut sama seperti pengunjung yg lain. Akhirnya karena terdorong akan tuntutan penggunaan hak yg sama tersebut, dia pun mau menggunakan cara-cara yg tidak legal dan tidak jelas. Keadilan yg menganggap penggunaan hak secara kuantitatif dan kualitatif harus sama, bukanlah arti adil yg sesungguhnya. (Perempuan banyak terjebak pada naluri seperti ini). Akhirnya degradasi moral terjadi krn setiap orang mengejar kemampuan membeli barang yg ada di mall tsb krn mereka merasa mereka memiliki hak membeli tsb. Naluri seperti ini adalah "the red gem" dari pergerakan sosialis dan komunis. It's the heart of socialism and communism that will destroy the liberty. Harusnya kita ingat peribahasa yg mengatakan "tak akan lari gunung dikejar". Untuk apa mengejar sesuatu yg secara kuantitatif sudah fix. Klo dilihat dr cerita mall ini mk keaktifan "the red gem" bahkan sampai pada mengejar-ngejar, dengan berupa ilusi, gangguan, persekongkolan dan godaan, kepada orang yg tidak mengejar gunung agar berubah haluan mengejar gunung. Ilusi (misalnya dengan membuat seakan-akan gunung bisa lari menjauh), gangguan, persekongkolan dan godaan seperti inilah yg merusak kebebasan setiap individu. Nah cerita diatas adalah analogi jadi bukan cerita mall beneran. Di mall ga ada cerita ginian, cuma analogi aja supaya lebih mudah gue neranginnya.

Bangunan mall bisa diruntuhkan krn ga ada kastemer yg beli seperti juga sistem yg runtuh krn ga ada lagi orang yg percaya pada sistem tersebut. Dan seperti juga sebuah sistem, bangunan mall juga bisa runtuh krn degradasi moral oleh orang-orang yg ada didalamnya. Ketika bangunan mall runtuh akibat ga ada yg beli, setidaknya orang-orang tsb bisa menggantinya dengan membangun bangunan lain, seperti pasar tradisional misalnya. Tapi ketika mall tersebut runtuh krn degradasi moral, apa yg bisa dibangun diatas runtuhan tsb akibat sumber daya yg rusak.

Hak yg kita miliki sebagai manusia memang tidak ada yg boleh mengganggu gugat, tapi dengan peradaban yg kita junjung tinggi harusnyalah kita sadar klo hak ini dibatasi. Hak hidup misalnya, setiap manusia punya hak hidup tapi klo kita WNI dan hidup dinegara lain, hak hidup kita dibatasi oleh surat perijinan. Klo ijin udah habis ga bisa lagi hidup dan tinggal disana, hrs pulang. Sewaktu gue sekolah di Chicago (tempatnya mafia amrik jaman dulu), gue lihat tingkat kesejahteraan dan keteraturan masyarakat yg tinggi. Pas balik kesini (gue cuma dua thn disana ga selesai sekolahnya), yah balik dengan kesemrawutan dan hiruk pikuk beragam strata masyarakat...dan bajaj. Gue bingung ketika ada pemikiran kita akan disamakan dg negara maju. Jujur aja, mereka pakai otak, kita masih pakai dengkul. Gue cari nomor rumah disana gampang banget, setiap blok udah ada range penomorannya, tinggal hitung blok aja. Disini, kita harus muter-muter nanya sana sini. Sistem pendidikan juga disana bagus bgt, semua yg dibutuhkan udah disediakan. Gue aja sampai kayak orang norak disana karena ga nahan sama fasilitasnya yg berlimpah dan bersihnya itu lo! Mereka juga sangat tepat waktu. Ketika mereka sudah menemukan dan menciptakan sesuatu, kita masih mondar-mandir cari informasi atau berharap ada informasi jatuh dari langit biar kita bisa menciptakan sesuatu. Masih jauhlah klo kita mengharap kesamaan tsb.
Dr segi pertahanan keamanan aja kita tdk mampu utk disamakan, dr segi sumber daya apalagi, kemampuan mengolah, memanage sumber daya, mereka jauh diatas kita. Kenapa kok kita mau jadi sejahtera (secara kuantitatif) kayak mereka, punya fasilitas kayak mereka. Klo minjem cara berpikir orang sosialis, maka klo kita ingin kesejahteraan, fasilitas, dll disamakan dg mereka, apakah kita juga siap dianggap sama dari segi pertahanan keamanan dan sumber daya? Hal-hal seperti ini gue kemukakan supaya kita ga mudah terbujuk mengambil kesempatan (proyek) yg ada tanpa tauk siapa yg memberi kesempatan tsb, apa paham, prinsip yg mereka anut. Janji-janji proyek yg banyak, aliran uang yg berlimpah (yg memang bukan milik kita), jaminan keamanan, hrs bisa disikapi dg bijak.

Seperti yg pernah gue tulis sebelumnya mengenai kesempatan, kesempatan tuh ga punya kaki, jreng... tiba-tiba muncul, jreng...tiba-tiba hilang, jreng ...tiba-tiba lompat. Lain sama jabatan yg harus merangkak naik utk sampai ke posisi tertentu dan punya tanggung jawab. Resistensi utk penyelewengan tetap ada ketika orang mempunyai jabatan krn dia bisa dipersalahkan dan dimintai pertanggungjawabannya. Kesempatan yg tanpa kekuasaan dan jabatan biasanya sangat rakus. Apalagi ketika orang-orang yg biasanya berkuasa kmdn tidak lagi berkuasa, dia akan ambil apapun kesempatan yg datang utk mempertahankan posisinya. Ibaratnya gajah yg biasanya duduk manis menunggu kelapa jatuh. Ketika dia terusik dan ga bisa duduk manis lagi, itu pohon kelapa bisa kecabut sampai keakarnya klo gajah tersebut menginginkan kelapanya. Diposting gue sebelumnya gue pernah cerita soal gajah dan semut. Its just not wise utk membiarkan gajah senada seirama dg semut menggunakan hanya bahasa universal (money).

Hal ini juga berlaku utk sesuatu yg masif dan besar kayak gajah. Apalagi klo yg masif itu bernuansa negatif, dilepas dari lokalisirnya, dari jatidirinya yg negatif, padahal keran semuanya dibuka sehingga mengalir semua pengaruh dan hal dari luar. Nah yg masif dan negatif tersebut yg sudah lepas bebas ini kayak mendapat angin segar dr pengaruh luar yg negatif utk menjadi besar, bahkan tanpa jejak dan tersembunyi bercampur baur ditengah degradasi moral yg terjadi tanpa resisten berarti. Yg namanya menjadi bijak sehingga bisa menelurkan kebijakan, bukanlah dengan satu kaki dibenamkan ke lumpur dan satu kaki dibenamkan ke air surga. Lalu yg diperlihatkan cuma kakinya yg bersih yg berbau surga sehingga menghilangkan resisten yg ada. Menghilangkan sesuatu yg negatif harusnya dengan melakukan penindakan sesuai dengan hukum yg berlaku, bukan dengan hanya menghilangkan labelnya, menurunkan plang namanya, menghapus eksistensinya. Tanpa penindakan tidak akan ada resistensi di dlm masyarakat akan hal yg negatif. Begitu juga dengan yg namanya komunisme, yg merupakan sebuah paham yg berakar dari pandangan materialistis seseorang. Klo dari pandangan gue yg sebenarnya awam (bkn bidang gue sebenarnya masalah kayak gini, tapi semenjak gue menganalisa aliran sesat gue hrs melirik definisi dr paham ini yg menurut gue punya kemiripan dg paham di aliran sesat) komunisme ini paham yg memaksakan fleksibilitas untuk memenuhi rasionalitas mereka terhadap hal yg sifatnya materi dimana fleksibilitas ini membebankan entitas lain atau sistem. Yg namanya paham tidak bisa dihilangkan begitu saja, akan selalu ada dan tetap ada. Laten, bisa tumbuh dan berkembang tanpa embel-embel dan label tertentu. Ingat klo di Indonesia paham ini pernah punya pengaruh dan masa yg sangat besar dan asalnya dari rakyat. Dan cuma pernah di Indonesia yg agamis bisa bergandeng tangan dengan komunis. Yg membuat gue prihatin ketika gue melihat video (ada di channel youtube gue, dislike 3) sebuah institusi di Bandung yg jauh dari kewajaran. Jelas ada atheisme disitu, tapi gue juga melihat bibit paham merah yg justru lebih berbahaya krn pd paham tsb selalu disertai dg aksi dan perbuatan (mereka berorasi) secara bersama-sama. Ada fleksibilitas yg dipaksakan demi tuntutan eksistensi mereka (eksistensi=materi) yg akan membebani sistem krn mereka adlh orang-orang yg membawa embel-embel agama. Padahal agama itu hal yg mendasar, pada sesuatu yg bersifat materi pun agama sangat strict, jauh dr fleksibilitas. Kenapa yg membawa embel-embel agama ini menjadi sangat fleksibel dan kenapa yg seperti ini luput dr pengetahuan masyarakat dan media, shg masyarakat tdk tauk apa yg sedang berkembang ditengah-tengah mereka. Sebegitu besarnya kah masalah ini sampai tidak ada yg mampu utk mengeksposnya. Klo dari contoh bangunan mall karangan gue, bibit paham komunis terlihat dr tindakan dan perbuatan mereka yg tidak wajar dan membedakan terhadap seorang pengunjung demi tujuan mereka yg dilakukan secara bersama-sama. Tidak wajar karena perbuatan mereka ga ada dasarnya, makanya mereka hrs tutupi apa yg sdh mereka lakukan ke korbannya. Mereka fleksibel krn hanya melebarkan sayap mereka pada orang-orang tertentu saja. Herannya mereka melihat perbuatan mereka sbg hal yg wajar hanya krn adanya eksistensi yg mendukung perbuatan tsb. Sama sekali tidak ada resistensi akan ketidakwajaran yg terjadi. Makanya kita harus selalu mendidik dan mengajarkan masyarakat akan bahaya dari paham tersebut, apa arti dari paham tersebut, supaya ada resistensi terhadap paham tersebut. Bukan dilepas begitu saja ditempa pengaruh luar.

Resistensi itu perlu dalam sebuah sistem supaya tidak bablas, apalagi utk yg segede gajah. Orang yg idealis akan selalu tergiur oleh hal yg baru yg minim resistensi. Yg minim resistensi hrsnya perlu dicurigai krn hal yg tdk real, tdk nyata, biasanya minim resistensi, melayang dg berbagai macam jaminan. Harusnya mereka sadar klo mereka tidak perfect. Mereka pikir mereka perfect shg tidak membutuhkan resistensi. Percayalah, sirkuit listrik aja bisa short klo ga ada resisten.

Balik ke masa kampanye, di masa kampanye seperti sekarang, banyak janji dan kesempatan manis yg ditawarkan baik secara terbuka atau individual. Gue bahkan denger ada yg janji bhw aliran dana akan masuk dengan derasnya klo si ini maju. Well gue rasa yg kayak gini pasti janji kampanyenya penuh dengan proyek, proyek besar akan ada dimana-mana. Duh masa milih pemimpin yg mirip calo proyek sih. Uang is a universal language, semua paham akan arti uang bahkan anak kecil sekalipun. Tapi anak kecil ga ngerti ilmu ekonomi. Anak kecil ngertinya klo harga permen naik artinya uang jajan harus naik, udah. They take everything for granted. Mereka ga ngerti kalau inflasi atau kenaikan harga barang dan penurunan nilai tukar Rupiah bisa terjadi akibat pengeluaran uang yg berlebihan apalagi larinya ke LN. Bedanya anak kecil dan orang dewasa, orang dewasa bisa mencari tauk mengenai hal ini. Orang dewasa bisa mengetahui bahwa indikator terpenting dari perekonomian negara adalah yg dua itu, inflasi dan nilai tukar rupiah, bukan hanya konsumsi dan investasi masyarakat. Kebijakan seperti pengurangan subsidi bbm dan konversi minyak tanah yg katanya utk mengurangi beban negara (dan menambah beban rakyat) ternyata tidak berpengaruh pada tingkat inflasi dan nilai tukar. Belum lagi pajak yg katanya akan ditingkatkan pendapatannya. Lalu kemana larinya uang hasil penghematan tsb klo kmdn rakyat masih tetap dibebani oleh indikator yg kata ahli ekonomi bagus tsb. Hemat berartikan harusnya kita lebih stabil, tapi kok malah inflasi  dan penurunan nilai tukar yg kita dapatkan? Tapi memang ditengah konsumsi dan investasi yg tinggi, banyak masyarakat seperti tdk sadar klo mereka sedang digerogoti. Oleh pembodohan publik ataupun indikator yg katanya bagus tsb.

Gue ngerasa di masa kampanye ini informasi terutama dr media tdk ditampilkan secara utuh. Ada rekam jejak yg diekspos habis-habisan dan ada yg ditutupi. Ketika gue cek rekam jejak salah satu capres, ada beberapa hal yg tdk pernah terekspos. Pada capres nomor urut dua, dia sudah berganti nama, nama masa kecilnya berbeda dg yg sekarang. Itu yg gue baca dr wiki. Apakah itu artinya semua ijazah yg dia pegang beserta akte kelahiran tdk menggunakan nama dia yg sekarang? Ini penting soalnya gue aja klo ngelamar pekerjaan semua ijazah hrs lengkap, beda nama dikit aja gue sudah dicurigai. Apalagi ini jabatan yg teramat penting di negeri ini. Satu hal lagi, klo dia berhasil jadi presiden nantinya, ini berarti dia sudah dua kali meninggalkan posisi dia kepada kelompok minoritas. Ketika dia meninggalkan Solo, dia meninggalkannya kpd wakilnya yg beragama kristen, sementara di Jakarta dia akan meninggalkannya kpd Ahok yg merupakan warga keturunan. Ini agak jarang ditanah Jawa bahwa pucuk kepemimpinan dipegang oleh minoritas. Dua kali bisa disebut sbg sebuah "prestasi" di negeri ini, bahwa ada kesetaraan, walaupun agak kurang fair krn harusnya hal tsb hasil dr pemilihan warganya. Yg tidak fair tdk pantas disebut prestasi.

Anyway, bicara soal dua kali, gue jadi ingat pepatah orang luar yg mengatakan "once is happenstance, twice is coincidence and third is enemy action". Ini artinya situ ngundang serangan musuh siluman klo sampai suatu hal terjadi dua kali. Musuh siluman tdk terlihat, yg tdk terlihat tdk bisa dilawan, you just simply cannot win. Negeri ini terbukti bisa menang melawan musuh yg kelihatan, Portugis, Belanda, Jepang, komunisme, diktator(bkn musuh sebenarnya tp produk ignorance kita bersama dan kita sdh buat sistem yg bagus utk menangkalnya skrg), butuh pengorbanan dan waktu yg panjang, tapi kita hadapi semuanya. Cuma nyawa yg dipertaruhkan. Nah klo musuh yg ga kelihatan, semua kita pertaruhkan pun kita tdk akan menang. Ketika dasar negara Pancasila, agama dipertaruhkan, kita akan berada diujung tanduk. Its next to nothing.

Tulisan gue cuma berupa analisa dan pendapat aja, bkn hal yg besar dan gede menurut gue. Tulisan ini juga bukan postulat yg biasanya ditulis oleh orang yg punya gelar yg gede. Ini cuma sebuah tulisan yg mungkin bisa diterima dan mungkin juga nggak. Bukan juga sebuah kedudukan dan jabatan yg gede, uang yg gede, proyek gede, profesi gede, bahkan impian yg gede dll yg gede-gede yg mungkin sangat sulit utk ditolak. Klo dianggap gede, mungkin karena yg seadanya cuma terlalu besar utk muat dikepalanya yg sudah kepenuhan oleh yg gede-gede kayak gelar, harta dan kedudukan.

Tulisan gue juga cuma berupa common sense aja bukan hal yg hebat seakan-akan gue tauk segalanya, tauk bgmn dunia ini berputar sehingga merasa mampu dan berani menerima apapun fasilitas, misi, informasi dan kesempatan yg ditawarkan, yg diberikan, yg ditampilkan. Mereka yg menerima dan menerima melakukannya dengan asumsi mereka tauk hal tersebut untuk apa. Padahal ketika menerima sesuatu, mereka juga memberi sesuatu yaitu kebebasannya dan terkadang kebebasan orang lain.

Tulisan ini juga terbuka dan apa adanya, tidak seperti sebuah lakon, sandiwara, kebohongan publik, persekongkolan atau konspirasi yg menganggap manusia tdk equal sehingga yg satu lebih tauk dr yg lain. Walaupun akhirnya yg lebih tauk dari yg lain ini nyatanya tidak tauk apa-apa dan menyebabkan yg lain yg mereka anggap ga tauk terseret dalam dunia kegelapan akibat persekongkolan yg mereka lakukan. Tulisan ini cumalah common sense yg biasa dimiliki oleh orang kebanyakan (terutama yg belum silau oleh mudahnya kesempatan-kesempatan emas). Seperti perkataan "Don't take things for granted" yg hanya sebuah common sense dan bukan ungkapan yg sok tauk kepada "dia" yg belum tauk.

Ah iya gue masih belum menyelesaikan tulisan gue "Mengenai Penyesatan bagian  3". Hal-hal yg tragis bisa terjadi ketika menaruh perantara sebagai seorang pemimpin. Pada hakekatnya perantara menempati tempat diantara dua hal yg jelas batasannya dan dia akan lebih menginginkan tempat tersebut tersembunyi. Tapi ketika batasan sdh tidak jelas lagi maka si perantara akan menjelma menjadi pemimpin. Sebagai pemimpin dia akan mempunyai urgensi utk dikenal dan terlihat powerful, membuat sejarah, making a bold statement of his existence, walaupun dengan cara-cara yg tdk wajar. Dan karena ini adalah aliran sesat, bukan hanya kekuasaan yg dia cari (dia sudah punya kuasa tsb dan terbukti dia bisa melakukan apa aja yg dia inginkan), tapi juga persetujuan, persetujuan tanpa perlawanan akan ketidakwajaran dan kesesatan yg dia lakukan termasuk dlm mengakhiri hidup para pengikutnya.
Hal-hal yg tragis juga bisa terjadi ketika moralitas terkikis justru oleh orang-orang yg senang mengumandangkan peace, love and freedom, sebagai jargon yg membiuskan. Bahkan senyum dan tawa dan kelakuan yg full denial yg berusaha perempuan-perempuan ini tampilkan diatas permasalahan yg terjadi, yaitu pembunuhan keji atas korban yg juga perempuan, semakin memperlihatkan hancurnya moralitas perempuan-perempuan ini di sebuah komunitas tersebut. Masak korbannya udah berdarah-darah gitu mereka masih juga ngomong peace sih. Gue sampai sekarang masih heran kenapa dictatorship ala jin dan yg sesat lainnya bisa sangat menarik. Dictatorship ala manusia memang mengungkung naluri manusia lainnya utk berkembang tetapi tdk mengukung pilihan personal mereka. Klo dictatorship ala jin memang naluri dibuka selebar-lebarnya, kita bisa dapatkan semua yg diinginkan, tapi ada syarat-syarat yg personal dan khusus yg hrs dijalani. Si jin akan berbisik, klo situ mau punya mobil mk mobilnya hrs yg ini ya, yg warnanya merah dan harus bau menyan. Atau klo situ mau rumah, mk disini nih lokasinya dan jeruji pagar hrs ganjil, dan isinya hrs begini dan begitu. Naluri memang terpuaskan tapi dictatorship ala jin ini jauh lebih berbahaya daripada dictatorship ala manusia. Klo manusia masih bisa diturunkan, lah klo jin, turun kemana? Emang sih full happy hour tapi ...bahaya. But still, history repeats by itself...



Well, thats a scary decepticon when all hell break loose.

Jumat, 16 Mei 2014

Tujuh Warna Pelangi

Waktu kecil dulu gue suka nonton film animasi yang ceritanya mengenai seorang gadis kecil bernama Lulu yang mendapat misi keliling dunia mencari bunga 7 warna agar bunga tersebut tidak jatuh ketangan orang jahat. Untuk misinya tersebut dia mendapat sebuah keajaiban yaitu bisa merubah penampilannya sesuai dengan apa yg diinginkannya. Selama dia berkelana, dia membantu orang-orang yg ditemuinya dengan keajaiban yg dia miliki. Diapun harus berkejaran dengan orang jahat yg ingin memiliki bunga 7 warna tsb. Beberapa kali dia hampir menemukan bunga 7 warna tsb, tetapi hanya palsu atau isu belaka. Gue ga tauk akhir ceritanya gimana karena jaman dulu film animasi itu rentalan (format vhs jadul) dan ga ada yg bisa komplit masuk ke Indonesia, cuma beberapa episode dan setelahnya ga ada kelanjutannya lagi. 

Anyway, sesuatu yg berwarna-warni tentunya sangat menarik karena keindahan warnanya. Apalagi yg asli dan natural sangat jarang terjadi, seperti pelangi misalnya. Karena keindahannya, warna pelangi sering dijadikan simbol oleh masyarakat tertentu. Di Amerika sana warna pelangi dijadikan simbol kebanggaan untuk kaum trans gender dan homosexual. Gue ga tauk kenapa pelangi dijadikan simbol oleh kaum tersebut tapi mungkin karena indahnya kebebasan dan fleksibilitas yg ada pada warna pelangi tersebut. Daripada warna hitam-putih yg membosankan dan membatasi, warna pelangi memberikan banyak opsi yang menarik. Kesempatan untuk menjadi sebebas-bebasnya (berwarna) tanpa komitmen pada batasan yg putih dan yg hitam. Bebas menjadi apa yg diinginkan selama kesempatan tersebut ada. Pada kaum trans gender, ketika yg kita lihat adalah seorang laki-laki ternyata dia bukan laki-laki, dan yang kita lihat perempuan ternyata dia bukan perempuan. Yg kita lihat putih ternyata tidak putih dan yg kita lihat hitam ternyata tidak hitam. Penampilan boleh fix pada batasan tertentu tapi jiwanya (baca:komitmen) melayang mengambil opsi-opsi yg ada. Integritas batasan yang bertolak belakang tersebut hilang. Bingung? 

Setauk gue putih adalah warna ketika semua warna dihilangkan dan hitam adalah ketika semua warna digabungkan. So putih adalah warna ketika fleksibilitas dihilangkan, dan hitam adalah ketika fleksibilitas digabungkan. Ini berarti opsi fleksibilitas warna-warni berada ditengah, diantara hitam dan putih. Pelangi adalah warna transisi. Dan karena kita sangat senang dengan keindahan maka efek trans ini menarik kita utk mengambil semua warna yg ada. Ilusi atas warna-warni pelangi tersebut kemudian bisa terjadi dengan bantuan cahaya. Ketika semua warna bisa berubah-ubah dengan cepat (satu warna hilang berganti dg yg lain) maka yg warna-warni tersebut akan memantulkan warna putih (seperti pada disc yg sudah kita cat warna-warni dan disc tersebut diputar dengan cepat maka yg tampak adalah warna putih). Ketika warna-warni tersebut tidak mendapat cahaya maka tidak ada cahaya yg memantulkan warna mereka sehingga semuanya menjadi hitam. 

Kita sebagai manusia kayaknya sulit untuk bisa komit pada batasan tertentu. Dengan kelemahan yg kita miliki, selalu ada opsi yg kita pilih yg keluar dari batasan tersebut. Kalau pilih begini ya kelihatannya begini, kalau pilih begitu ya kelihatannya begitu. Apa adanya. Kalau gue merah ya gue kelihatan merah dan akan sulit buat gue untuk mengambil opsi warna-warni lain karena warna gue ya cuma merah itu. Tapi ketika kita memilih untuk tidak apa adanya, penuh kebohongan, kerahasiaan dan tipu muslihat,  fleksibilitas kita akan tinggi, kita bisa memilih dan berganti-ganti warna sesuai opsi yg ada dan kita bisa terlihat putih. Seperti ilusi warna yg gue ceritakan sebelumnya. Ilusi yg seperti ini bisa berbahaya karena bisa menempelkan dirinya kemana-mana, dia bisa berubah jadi merah dan menempel ke merah, jadi hijau dan nempel ke hijau, jadi kuning dan nempel ke kuning. Ketika berubah menjadi warna tertentu dia melakukan operasi (kayak polisi aja) diwilayah orang tersebut, berurusan dan kalau perlu malah ngurusin wilayah orang tersebut seakan-akan mereka punya solusi yang baik untuk orang diwilayah tersebut. Mereka beroperasi diwilayah tersebut tanpa ada komitmen bahwa kalau mereka masuk menjadi biru maka mereka harus tetap biru, berjiwa biru dan terlihat biru. Mereka yakin mereka bisa jadi solusi dan bantuan untuk setiap orang, walau tanpa ada hubungan apapun atau komitmen apapun atau tanggung jawab apapun, sehingga mereka bisa  melompat-lompat beroperasi atas orang lain. Walhasil yg nempel kemana-mana ini membuat yg merah, hijau, kuning dan biru ini jadi tercampur. Mereka tidak defending integritas dari setiap warna tersebut tapi mereka mixing warna-warni tsb. Kesuksesan mencampur warna-warni tersebut terlihat ketika yg hijau dirubah kemerah tanpa boleh defending warna hijau mereka. Tulus ikhlas dirubah ke merah. 

Terkadang it makes you wonder, darimana fasilitas, kekuatan, energi yg mereka miliki utk berubah-ubah dengan cepat, melakukan operasi disana-sini tanpa harus menjejakkan kaki mereka. It's like they are crawling to the top of pyramid dengan mem-blur-kan identitas mereka, dengan mengambil setiap opsi dan kesempatan one at a time. Compromising the integrity dari identitas mereka dan tentunya yg paling parah integritas yg lainnya. Pada akhirnya ketika ilusi tersebut mulai terkuak, they start to crawl for their life, menyelamatkan diri mereka sendiri dengan compromising everything. Ketika ini terjadi ga ada lagi yg tersisa dari mereka untuk dibela, all is compromised.

Ketika orang sibuk mencari solusi tercepat, mereka akan pindah dari satu eksisten ke eksisten yg lain. Ketika satu eksisten ditampilkan compang-camping maka solusi yg muncul adalah eksisten yg lain. Begitu terus sehingga mereka akan terus ketarik ketengah diatas pusaran arus kehidupan. Gue ngomongin warna-warni disini jangan diartikan sempit sebagai cuma warna-warni. Warna-warni disini adalah opsi-opsi dan kesempatan yg bisa berupa jabatan, posisi, kerjaan, materi, identitas, atau berupa opini, informasi, faktual, idola atau yg lebih prinsip seperti ideologi, suku, bangsa dan agama. Semakin cepat dan mudah opsi-opsi ini utk diambil, berganti-ganti dengan cepat, semakin blur dan putih warna yg dihasilkan dibawah cahaya spotlight. So utk tetap terlihat putih (bersih tidak bernoda) mereka membutuhkan opsi-opsi ini, loncatan-loncatan kesempatan yg berwarna-warni. Tidak heran kalau kemudian mereka tidak bisa membedakan antara yg putih dan hitam karena persepsi putih yg mereka tangkap di indra mereka adalah bukan putih sebagai warna yg memang putih(hakiki) tapi putih sebagai ilusi cahaya hasil dr lompatan-lompatan ini. Ibaratnya orang yg mempunyai warna kuning masih bisa melihat batasan yg putih dan yg hitam, tapi orang yg putih akibat cahaya spotlight ini sangat susah utk membedakan antara yg putih dan hitam. Integritas batasan (warna putih) yg prinsip kemudian terancam akibat fleksibilitas opsi (lompatan-lompatan) yg mewarnai kehidupan ini. 

Balik ke film animasi yg gue tonton, dulu film animasi ceritanya selalu berkisar pada tokoh yg ingin menjaga kedamaian dunia, memberantas kejahatan, mencegah pengrusakan dunia. Penerimaan kita akan tontonan seperti ini sangat tinggi. Sekarang film, baik animasi ataupun tidak, sudah banyak yg bercerita ketika kerusakan total sudah terjadi (post-apocalyptic). Dunia hancur total tapi penerimaan masyarakat tetap tinggi. "Ah, itukan cuma imajinasi orang aja. Ga beneran." Tapi perkataan tersebut agak aneh ketika keluar dari orang-orang yg mempercayai impian bisa dicapai, harus digapai dan dikejar. Ga konsisten menurut gue karena, relatif terhadap kehidupan, imajinasi dan impian cuma beda tipis.

Ah ya, bicara soal loncatan, kucing-kucing gue banyak kutu loncatnya. Sulit dibersihin klo cuma atu-atu dipetesin. Mungkin saatnya "the owner" melakukan mass extermination kutu-kutu loncat. Hmmmm...



Ini bunga mawar artificial atau rekayasa genetik, bagus banget.
 So, Lulu finally get her rainbow flower. Or is it the villain?



Senin, 30 Desember 2013

Happy New Year 2014


Happy New Year and good luck!

Senin, 16 September 2013

Penyesatan Berbentuk Peluang dan Kesempatan

Ketika kita sedang disibukkan dengan masalah korupsi dan krisis yang terjadi, kita tidak sadar bahwa ada yang lebih berbahaya dari korupsi yang biasanya memanfaatkan kondisi krisis, yaitu peluang dan kesempatan yang menyesatkan. Kita terbiasa melihat bagaimana kekuasaan berubah menjadi mesin pencetak uang atau kekayaan, tapi kita jarang mengekspos yang sebaliknya yaitu bagaimana uang dan kekayaan diubah menjadi kekuasaan. Seseorang dengan jabatan (pemegang kuasa) tapi menginginkan kekayaan dapat melakukan penyimpangan dengan melakukan korupsi untuk mendapat uang yang tidak terbatas, tetapi orang yang tidak mempunyai jabatan dan kekuasaan tidak dapat melakukannya walaupun dia mempunyai uang yang berlimpah. Lalu bagaimana yang memiliki uang dan kekayaan ini mengubah uang dan kekayaan tersebut menjadi kekuasaan yang menyimpang? Ya dengan peluang dan kesempatan yang aktivitasnya tidak terbatas pada bisnis semata melainkan merambah pada mencari bentuk kekuasaan yang tidak terbatas. Yang tidak terbatas biasanya mengarah pada penguasaan atas kebebasan individu atau kedaulatan suatu wilayah. Peluang dan kesempatan seperti ini bisa terdeteksi ketika mereka masuk ke wilayah personal individu atau masuk ke aspek keamanan suatu wilayah tertentu. Ketika mereka masuk ke wilayah personal individu, misalnya mengatur keseharian seseorang dan mengatur preferensi seseorang, maka sebenarnya sudah ada penyimpangan. Sayangnya banyak yang melihat hal ini sebagai sebuah proses timbal balik semata yang menguntungkan kedua belah pihak. Bahkan banyak pula yang merasa tercerahkan karena dampak positif yang dirasakan akibat pengaturan keseharian dan preferensi mereka, setidaknya mereka merasa lebih baik dari sebelum mereka tercerahkan. Mereka pun menganggap orang yang memberi peluang dan kesempatan pada mereka sebagai pelindung karena berhasil mengisi kekosongan mereka yang gelisah akan ketidakpastian dimasa krisis. Kekuasaan seperti ini kemudian akan sangat manipulatif dan menjadi kekuasaan yang absolut. Kekuasaan dimana aktivitas yang negatif pun akan berdampak positif karena termanipulasi. Kekuasaan dimana batasan-batasan timbul tenggelam akibat besarnya kekuasaan yang melindungi dirinya. Sebagai contoh, ketika seseorang menerima sebuah peluang usaha bisnis, dia dibina sampai pada batas pengaturan akan rutinitas kesehariannya,yang sebenarnya tidak krusial atas bisnis usaha yang dijalankan, untuk tujuan memaksimalkan dirinya, seperti misalnya bagaimana dan dimana dia harus makan, apa yang harus dilakukan sebelum tidur, bagaimana dan kapan dia harus menggosok gigi setiap harinya, dll. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ketika dia melihat orang lain yang tidak menjalankan rutinitas tersebut, seperti misalnya rutinitas langsung menggosok gigi setelah makan, dia merasa orang lain tersebut tidak tercerahkan seperti dirinya, merasa bahwa orang tersebut lebih rendah dari dirinya yang sudah dimaksimalkan kesehariannya. Akibatnya dia pun merasa ada yang perlu dirubah untuk menjadi maksimal. Disini orang yang merasa tercerahkan tersebut dapat saja memandang kehidupan keseharian orang lain adalah hal yang tidak berarti jika belum tercerahkan. Dia pun bisa saja kemudian melecehkan orang yang sedang menjalankan aktivitas kesehariannya, misalnya dengan ejekan, sindiran atau perbuatan yang melanggar privasi seseorang atau bahkan masuk kedalam kehidupan pribadi orang lain hanya untuk pembenahan rutinitas keseharian orang lain tersebut. Dia berpikir kalau dirinya mau untuk dimaksimalkan berarti oranglain juga harus mau untuk dimaksimalkan. Hal ini juga terjadi pada aliran sesat. Pada aliran sesat bukan kehidupan keseharian yang dibina melainkan keyakinan dan ibadahnya dibina dan dituntun sehingga dia merasa keyakinan dirinya lebih superior dibandingkan yang lain. Dengan keyakinan yang super inilah dia bisa masuk ke kehidupan orang lain dan mengajarkan hal-hal yang dia rasa benar tapi terkadang bertentangan dengan ajaran agamanya. Makanya terkadang orang-orang yang dibina dengan cara demikian bisa diarahkan untuk mengganggu atau bahkan merusak aktivitas keseharian orang lain. Merekapun melanggar batasan yang ada dengan aktivitas mereka untuk menimbulkan dampak yang mereka anggap positif.

Peluang dan kesempatan dengan kekuasaan tidak terbatas ini dapat menimbulkan ketergantungan karena adanya perlindungan akan kehidupan mereka yang tercerahkan, yang artinya pula jika tidak ada peluang dan kesempatan yang seperti ini maka kehidupan mereka terancam. Akibatnya mereka melihat ada simbiosis antara eksistensi pelindung/sponsor mereka dengan kehidupan mereka sehingga timbal balik yang mereka berikan adalah juga perlindungan akan eksistensi dari sponsor atau pelindung mereka. Inilah yang terkadang berbahaya karena aktivitas masa bisa terbentuk untuk melindungi sponsor/pelindung mereka dan aktivitas ini yang terkadang berubah menjadi hal-hal yang sifatnya merusak.

Sebenarnya kalau mau dianalisa lebih jauh, dampak negatif dari peluang dan kesempatan bisa menjadi besar ketika peluang dan kesempatan ini sifatnya berupa bantuan agar kita bisa melebihi dari apa yang sudah ada pada diri kita sekarang. Peluang dan kesempatan yang berupa bantuan seperti ini sifatnya instan, karena merupakan cara cepat untuk mendapatkan sesuatu yang melampaui keterbatasan kemampuan yang kita miliki. Biasanya hal ini disebabkan karena kita merasa diri kita mampu melakukan hal yang lebih tapi terkendala oleh  keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Kita merasa gelisah dan tidak nyaman dengan kondisi kita. Ekspektasi kita akan diri kita jauh lebih tinggi dari keterbatasan kita. Ekspektasi yang besar terhadap diri kita ini bisa ditimbulkan oleh adanya impian yang ideal atau merasa tidak adanya keadilan. Ketimpangan antara impian dan kenyataan tersebut kemudian membuat kita merasa kita berhak mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah dimiliki, sehingga kita pun menerima tawaran yang akan mengubah kondisi yang terbatas tersebut. Masalahnya, terkadang yang instan membuat kita terlena dan lupa akan jati diri kita karena kita kemudian melakukan lompatan kemajuan tanpa harus bersusah payah mengelola kemampuan kita yang terbatas tersebut. Kitapun menjadi egois dan sombong akibat cara yang instan tersebut. Kita bukannya berjuang untuk kehidupan tapi malah sibuk kongkalingkong supaya mendapat peluang dan kesempatan yang instan ini. Kita pun tidak bisa melihat permasalahan yang sesungguhnya dengan adanya pelindung dan malah menggunakan alasan pribadi kita. Banyak alasan yang kemudian bisa dilontarkan akibat termakan bujuk rayu si pemberi peluang instan ini, mulai dari alasan bahwa kita orang baik yang nggak korup sehingga sebagai orang baik kita pasti bisa memanfaatkan peluang yang diberikan dengan baik. Atau bukan orang baik tapi pintar atau hebat atau canggih, genius, cakep...dll. Yang bagus...bagus lah alasannya. Tapi bagusnya lagi, yang terjebak dengan kondisi pendewasaan berfeedback negatif akan mengejek orang, yang ga mau menerima pelindung yang seperti ini, sebagai bayi yang tidak mengerti bagaimana dunia berputar (pengalaman dan persepsi dia sebenarnya tidak tepat dan tidak cukup untuk menggambarkan perputaran dunia, ada pengetahuan yang mendasar yang harusnya dipergunakan sehingga persepsi dan pengalaman dia tidak membuat dirinya menjadi liberated). Ada pula yang diyakinkan menggunakan contoh keberhasilan orang lain yang sudah lebih dulu berhasil menggunakan peluang dan kesempatan instan tersebut. Atau yang sebenarnya mengerti bahayanya tancap gas seperti ini menganggap bahwa konsekuensi akibat tindakan mereka akan terjadi jauh dimasa datang, setidaknya bukan mereka yang nanti akan terkena imbasnya. Sebagian lagi mempunyai alasan klasik "mengikuti arus".  Sebagian lagi malah harus diancam dan dikecewakan demi membangun alasan pribadi tersebut.Masalahnya yang instan itu membuat segala sesuatu dimainkan secara fast forward, yang berarti jangan berharap terlalu lama untuk sampai di the end of line. Lagipula resiko peluang instan tergantung juga pada bagaimana kekuasaan tersebut terakumulasi, seberapa besar dan apa yang kemudian terjelantahkan dari kekuasaan tersebut. Kalau semua mengangkat tangan diatas dan menyerahkan risk management tersebut kepada yang punya kuasa (yang memberi peluang instan) maka malapetaka yang datang di the end of line tersebut.

Sewajarnya, untuk setiap penawaran akan peluang dan kesempatan, semakin besar gain yang ingin kita dapatkan maka semakin besar resiko yang harus kita terima. Tapi lain halnya untuk peluang dan kesempatan yang instan, semakin besar gain yang ingin didapatkan, semakin besar resiko yang harus orang lain terima. Makanya orang dengan bantuan instan, buta akan yang namanya resiko. Ini akibat cara instan yang memang tidak melibatkan dirinya secara langsung dengan pergumulan untuk menentukan nasibnya sendiri. Mereka akan terlihat putih bersih tanpa noda sampai pada akhirnya si pelindung mereka memutuskan untuk membuka kebobrokan mereka (biasanya ketika mereka sudah tidak sejalan dengan kemauan pelindungnya yang mungkin saja mengarah pada hal yang membahayakan). Bandingkan dengan orang-orang yang tanpa pelindung ketika sistem yang menaungi mereka bocor dimana-mana, mereka akan terlihat sangat kotor dalam pergumulan tersebut sehingga mudah untuk dicari kesalahannya. Merekalah yang paling besar menerima resiko tersebut. Cara instan berarti ada resiko yang dihilangkan atau dipermudah, padahal cara instan berarti pula resiko yang semakin besar. Lalu kemana larinya resiko tersebut karena yang namanya resiko tidak bisa hilang begitu saja. Pada cara instan, resiko tersebut tidak lari tapi tertunda atau pindah ke orang lain karena yang namanya instan sifat alamiahnya merugikan orang lain. Pada aliran sesat resiko dari peluang dan kesempatan yang hilang ini diklaim sebagai act of God. Mereka meyakini perantara mereka sehingga melemahkan keyakinan mereka pada Tuhan mereka.

Dengan menerima peluang yang instan sebenarnya hal tersebut menunjukkan bahwa diri kita ada pada dua titik ekstrem yang berbeda, yang satu adalah bahwa kita sangat optimis diri kita mampu dan bisa menerima hal yang lebih, dan yang satu lagi adalah bahwa kita pesimis sehingga diri kita harus membutuhkan bantuan sponsor. Untuk kenyamanan dan kedamaian diri kita maka dua titik ekstrem ini harus bertemu (berdamai), makanya ketika seseorang merasa dirinya adalah pusat/sentral dari segalanya(egois) dia akan berusaha mencari titik temu tersebut yaitu menerima tawaran untuk mendapatkan yang lebih. Kita merasa menjadi diri kita sendiri dengan jalan tidak menjadi diri kita sendiri (dengan bantuan sponsor yang diterima). Disini terlihat hipocrisy akibat dari dualitas titik ekstrem tersebut. Hal seperti ini sangat mudah ditimbulkan dari pendewasaan berfeedback negatif yang sudah gue bahas sebelumnya. Hipocrisy ini juga akan diperparah ketika satu titik ekstrem yang dianggap positif yaitu optimisme diekspos keluar sementara titik ekstrem yang lain yaitu pesimisme  disembunyikan. Yaitu ketika lompatan kemajuan berusaha diekspos tapi unsur bantuannya yang bisa membuat diri kita tampak lemah disembunyikan, dan inilah yang kemudian membuat diri kita menjadi defensif. Kalau sudah defensif seperti ini maka segala cara bisa dilakukan untuk melindungi hal yang tidak terekspos. (Perilaku akan berbeda ketika kita hanya pada satu titik ekstrem tertentu misalnya optimis. Ketika kita hanya optimis maka kita akan sibuk mengelola dan mengolah apa yang sudah dimiliki. Psikologi memang dapat digunakan untuk memanipulasi seseorang. Makanya ga usah kita mikir psikologi kita, optimis atau tidak, kalau kita menggunakan keyakinan agama kita tentunya kita tidak akan membutuhkan kuasa lain untuk menjadi pelindung atau bantuan cepat seperti ini, apalagi tertarik dengan hal yang ideal yang mereka tawarkan. Peluang dan kesempatan instan seperti ini menandakan kita membutuhkan kuasa lain sebagai penentu kehidupan kita selain kuasa dari Yang Diatas).

Kerusakan bisa kemudian timbul akibat hipocrisy ini. Ketika kemudian peluang yang berupa bantuan instan tersebut hilang maka akan sulit untuk mempertahankan kondisi yang sama karena ketidakmampuan mengelola dan mengolah apa yang dimiliki.  Akhirnya demi mempertahankan kondisi maksimal tersebut merekapun menghalalkan segala cara yang dapat menimbulkan pengrusakan. Merekapun mencari titik temu dengan berdamai lebih jauh lagi pada tindakan kriminal dan merusak. Titik berdamai inilah yang kemudian membutuhkan pengorbanan-pengorbanan yang sifatnya merusak dan apabila bantuan tersebut bersifat masiv maka pengrusakan massal dapat terjadi. Hal ini klasik sebenarnya, massa yang kaget menerima kenyataan bahwa kondisi mereka jatuh, akan berbuat anarki karena pada dasarnya mereka tidak tauk harus berbuat apa untuk menahan posisi mereka. Vulnerabilitas yang muncul akibat hilangnya bantuan dan dukungan kemudian ditutupi dengan menggunakan atau mengorbankan masa pengikutnya. Peluang dan kesempatan yang instan memang seringkali mengumpulkan masa karena kekuasaan memang membutuhkan masa pendukung, dan semakin banyak uang dan kekayaan yang digelontorkan maka akan semakin tertarik orang untuk mengikuti kekuasaan tersebut bahkan ketika cara-cara yang dilakukan sudah tidak benar. Berikan saja embel-embel dan bendera sebagai common groundnya (landasan kebersamaan dalam kelompok tersebut), maka hilanglah landasan dan batasan yang umum berlaku di masyarakat. Akhirnya mereka malah lebih terpuruk lagi akibat pengrusakan dan anarki yang dilakukan, karena selain hilangnya bantuan dan sokongan yang biasa mereka dapatkan, mereka juga kehilangan massa yang merasa kondisi maksimal tersebut adalah hak mereka. Pada aliran sesat hal ini jelas terlihat ketika pengikutnya berdamai dengan keinginan pemimpin aliran sesat tersebut untuk melakukan bunuh diri masal. Pada satu titik pengikutnya masih menginginkan hidup senang dan tentram tapi dititik yang lain mereka tidak mampu untuk membela dirinya sendiri. Ketika pemimpinnya secara intensif berceramah yang mempengaruhi keyakinan mereka bahwa mereka harus ikhlas berkorban dan menerima kondisi yang ada karena surga menanti mereka, maka mereka pun menemukan titik temu tersebut sehingga damailah (RIP=rest in peace) pilihan mereka. Disinilah kita lihat permasalahan yang bisa ditimbulkan oleh peluang dan kesempatan yang instan, adanya hipocrisy damailah ini. Menurut gue pemimpinnya pesimis bahwa para pengikutnya tidak akan terjebak dengan cara cepat dan merusak untuk mempertahankan kondisi kehidupan mereka ketika pemimpinnya sudah tidak ada. Maklumlah karena para pengikutnya memang sudah terjebak dengan menggunakan cara cepat ini dengan mengikuti ajaran aliran sesat tersebut.

Di zaman modern ini, mengolah peluang dan kesempatan lebih dilihat pada menghasilkan uang (pendapatan) secara sustainable dan bukan untuk menghasilkan produk secara sustainable. Ketika kita melihat peluang untuk menghasilkan produk yang sustainable, kita mengambil kemungkinan yang datang untuk dimiliki (dikuasai secara penuh) dan kemudian diolah supaya hasilnya bisa berkelanjutan. Tetapi ketika peluang dan kesempatan hanya untuk meningkatkan pendapatan, maka kita hanya akan mengambil kemungkinan-kemungkinan yang datang tersebut tanpa pernah berusaha untuk menguasainya secara penuh sehingga kita seperti terlihat melompat-lompat mengambil setiap kesempatan yang ada. Akibatnya, bantuan dari orang lain untuk memberikan peluang seperti ini akan selalu dibutuhkan demi sebuah kemajuan. Kitapun seperti melangkah diatas angin, cepat dan tidak berpijak. Ketika kita sibuk akan lompatan-lompatan ini, kita lupa bahwa sebenarnya pekerjaan rumah kita untuk mengolah dengan benar atas apa yang kita miliki tidak pernah dilakukan. Kita selalu tertarik melihat teknologi baru, kesempatan dan peluang baru yang mungkin tidak kita butuhkan atau tidak bisa kita kelola. Juga dalam mencari pekerjaan, dengan alasan ingin mencari uang sendiri dan mandiri kita tidak mau mengelola apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita atau apa yang sudah kita miliki. Contohnya, ortu kita punya kebun yang sangat luas, tapi kemudian kita lebih memilih mengambil tawaran orang lain untuk menjadi orang kantoran. Kata pepatahnya rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput sendiri.

Kalau dalam ilmu ekonomi ketika kita tidak bisa mengelola untuk menghasilkan produk yang sustainable maka secara riil produktivitas kita menurun. Kita hanya fokus meningkatkan pendapatan yang bisa kita dapatkan dengan terus mengambil dan mengambil peluang dan kesempatan yang ada (walaupun itu berarti kita terus membolongi perut bumi sampai malapetaka terjadi). Dengan pendapatan yang menjadi fokus peningkatan maka inflasilah yang menjadi feeder peningkatan pendapatan. (Kalau ada yang bilang sistem seperti ini adalah sistem riba gue rasa kurang tepat karena sistem seperti ini berbasis inflasi, negara menggelontorkan uang lewat surat utang yang diserap oleh perbankan. Pda sistem berbasis inflasi ini, bunga atau riba hanya sebuah mekanisme untuk mendistribusikan inflasi. Dan jujur aja, sistem berbasis riba jauh lebih mendingan daripada sistem berbasis inflasi karena dalam sistem riba kita masih punya pilihan, tapi pada sistem berbasis inflasi semua dipaksa untuk mengikuti arus inflasi ini). Ketika yang kita ambil terus menerus adalah sumber daya alam, maka ketika sumber daya alam tersebut harganya tinggi dipasaran, penurunan produktivitas tidak menjadi masalah. Hal ini karena penurunan produktivitas dapat dicounter dengan memasukkan barang dari luar menggunakan pendapatan yang tinggi tersebut. Konsumerisme akhirnya menjadi gaya hidup. Inflasi yang menjadi feeder sistem ini pun tidak muncul kepermukaan  karena supply (kita masih bisa mendatangkan dari luar) dan demand (konsumerisme) masih seimbang. Kitapun melihat hal ini sebagai peningkatan daya beli (sayangnya dengan menurunkan daya saing). Hanya saja yang seperti ini biasanya tidak bisa berlangsung lama. Inflasi akan mulai terlihat ke permukaan ketika produktivitas yang menurun ini mulai menunjukkan giginya, yaitu ketika penurunan produktivitas lebih laju daripada kenaikan pendapatan. Biasanya hal ini terjadi karena yang terus menerus diambil ini semakin susah didapat atau harganya dipasaran melorot. Disini inflasi menyerap jumlah uang yang beredar dimasyarakat sehingga daya belipun berkurang. Otoritas keuangan yang biasanya punya mekanisme tersendiri untuk menyerap atau menggelontorkan uang (lewat surat utang) tidak akan cukup berdaya karena mekanisme pasar (the invisible hand) mulai bekerja. Ketika krisis terjadi siklus pun berulang dengan munculnya peluang dan kesempatan yang sifatnya instan bahkan yang berbasis money laundering (Uang digelontorkan dalam bentuk kesempatan dan peluang dimana uang tersebut adalah hasil kejahatan yang sudah dibungkus secara apik. Uang tersebut harus dibelanjakan untuk membeli kebutuhan atau produk tertentu sehingga uang tersebut mengalir kembali kepada si pelaku kejahatan yaitu pemilik atau produsen produk tertentu tersebut. Produk tersebut biasanya juga bodong artinya tidak memiliki arti atau manfaat yang durable' walaupun bisa juga durable. Contoh yang durable misalnya seseorang punya toko cat dan juga tempat hiburan malam yang ilegal. Dia akan menggelontorkan uang hasil kegiatan ilegal kepada anak buahnya untuk dibelikan cat ditokonya agar uang tersebut kembali kepada dirinya. Akhirnya anak buahnya kerjanya ngecat rumahnya melulu. Disini sangat terlihat simbiosis yang terjadi). Peluang dan kesempatan yang seperti ini memang bisa meningkatkan daya beli tetapi hanya sementara karena pada akhirnya akan menimbulkan inflasi yang jauh lebih dahsyat lagi. Dalam sistem seperti ini mengumpulkan uang dengan mengambil kesempatan dan peluang yang datang sebagai bekal kemandirian akan seperti memberi garam kelautan. Percuma.

Pilihan untuk mengambil kesempatan dan peluang yang datang, daripada mengolah apa yang sudah ada juga berdampak buruk pada level tanggung jawab yang dimiliki seorang individu atas apa yang dikerjakannya. Pilihan tersebut mengisyaratkan tanggung jawab yang rendah pada apa yang sudah dimiliki. Ketika tanggung jawab rendah maka pengrusakan akan mudah terjadi. Selain itu, kesempatan dan peluang inipun lebih mudah untuk dilepasnya karena memang pertimbangannya hanya manfaat yaitu uang yang didapat (pendapatan). Ketika manfaatnya berkurang atau ada yang lebih besar lagi manfaatnya (pendapatan) maka dengan mudahnya kita melompat. Coba bandingkan ketika aktivitas kita didasarkan pada keyakinan dan kesadaran bahwa apa yang kita miliki sudah cukup, tinggal kita mengolah dan mengelolanya dengan benar. Ketika muncul hal yang baru yang lebih menguntungkan, setidaknya keyakinan dan kesadaran tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan kita kearah mana kita akan melangkah. Sayangnya manfaat seperti uang dan materi lebih terlihat oleh persepsi kita daripada keyakinan dan kesadaran seperti ini. Padahal yang namanya kesombongan dan keegoisan akan naik sampai kelangit ketujuh kalau bicara mengenai "manfaat" materi. Orang akan dirasakan lebih hebat dan terhormat ketika dia bisa membangun bangunan yang megah, atau membuat acara di hotel yang wah...atau berhasil membuat panggung hiburan yang megah. Masa bodo deh sponsornya darimana yang penting brojol-brojol deh uangnya. Hal tersebut bahkan akan sangat membanggakan. Padahal dibelakang itu semua kita mungkin tidak tauk aktivitas apa yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan peluang dan kesempatan seperti ini. Mungkin saja uang tersebut hasil dari money laundering, dan mungkin saja pada akhirmya aktivitasnya bisa merugikan kita semua. Ketika ada orang yang sebenarnya dengan keyakinannya sudah susah payah mempertahankan apa yang sudah dimiliki, maka orang akan mencibir karena tidak ada kemajuan yang berarti yang bisa membuat orang lain ikutan senang dan bahagia. Ga ada kemajuan....hmm, memangnya kita sudah cukup pantas menerima kemajuan yang seperti ini?

Masalah lain yang bisa timbul dari peluang dan kesempatan yang ga jelas dan instan ini adalah bisa menciptakan ketidaksesuaian antara usaha yang dilakukan dengan kemampuan dan level tanggung jawab yang dimiliki. Yang kemudian bisa mempersulit orang lain yang sebenarnya mempunyai tingkat kemampuan dan tanggung jawab yang sesuai, atau bahkan menghilangkan kesempatan orang. Seorang bawahan misalnya dia menjadi lebih berkuasa daripada atasannya karena dia yang menerima peluang usaha dari luar. Atasan kemudian tunduk kepada bawahannya hanya karena bawahannya mempunyai koneksi yang lebih menguntungkan, padahal atasan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Ketika terjadi sesuatu atasanlah yang kemudian bertanggung jawab dan bawahannya hanya lenggang kangkung saja. Atau bisa saja bawahannya ini menjadi sebuah kekuatan rival yang membayangi kekuasaan atasannya tanpa harus mempunyai tanggung jawab tertentu dan menggerogoti kuasa atasannya. Ketika atasannya ingin dijatuhkan dia tinggal menggunakan informasi yang buruk mengenai atasannya dimana informasi ini memang dengan mudahnya dia dapatkan karena dialah perantara untuk peluang yang didapat bosnya, dan akibat informasi yang buruk mengenai atasannya tersebut dia malah menjadi pahlawan pengungkap kebenaran. (Disini terlihat bagaimana informasi lebih dihargai daripada beban tanggung jawab seseorang). Peluang dan kesempatan yang instan memang kerap menggunakan informasi yang instan yang biasanya didapat dari luar. Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada lingkup bisnis tapi bisa juga terjadi pada lingkup yang lebih kecil seperti didalam sebuah keluarga, pertemanan atau lingkungan tetangga. Setelah mendapat peluang dan kesempatan emas dia juga mendapat informasi buruk perihal pasangannya atau temannya atau tetangganya yang bisa menjatuhkan pasangannya atau temannya atau tetangganya. Atau dia mendapat informasi yang baik mengenai penyempurnaan kepribadian atau keseharian dirinya. Informasi yang personal inilah yang kemudian menjadi sangat dihargai bukan hanya karena peluang dan kesempatan emas yang menyertainya tapi juga karena informasi tersebut secara kultural diterima sebagai masukan yang berharga (cara instan tanpa proses untuk mengenal seseorang atau diri sendiri). Aroma busuk peluang dan kesempatan emas yang dia dapat tersebut tidak tercium akibat dia hanya bisa mencium  informasi busuk yang dia dapat perihal pasangannya atau temannya atau tetangganya, atau aroma wangi dari perbaikan dan penyempurnaan dirinya. Disini tatanan kehidupan bermasyarakat tergrogoti oleh nafsu yang didapat dari peluang dan kesempatan ini.

Peluang dan kesempatan yang menggunakan informasi yang instan ini bisa terdeteksi ketika mereka menganggap informasi tersebut adalah pengetahuan yang bisa diimplementasikan. Padahal informasi sebenarnya tidak cukup untuk dijadikan pengetahuan, karena pengetahuan adalah hal yang mendasar yang tidak terpengaruh oleh implementasi serta situasi kondisi yang ada. Pengetahuan yang seperti ini biasanya didapat dari textbook, tertulis dan terverifikasi, atau dari hasil pengamatan selama puluhan tahun atas objek yang bersangkutan. Ilmu agama yang berasal dari kitab suci adalah salah satu pengetahuan dasar tersebut. Akibat penggunaan informasi yang instan, maka pengetahuan yang mendasar tidak dibutuhkan lagi. Makanya peluang dan kesempatan yang seperti ini biasanya sangat menarik karena full of implementation tapi kekurangan originalitas atas inisiafif yang dilakukan akibat tidak memiliki pengetahuan yang mendasar. Ibaratnya kita mengenal pribadi seseorang dari hasil uji psikotes daripada melalui pertemanan selama bertahun-tahun. Atau menggunakan teknologi canggih tanpa tauk bagaimana membuat teknologi tersebut.

Kegagalan yang kemudian terjadi akibat peluang instan tersebut adalah karena keaktifan mereka didasarkan pada suatu titik kelemahan. Mereka "act based on weakness". Mereka bisa aktif karena mendapatkan bantuan (bantuan bisa dikategorikan sebagai kelemahan). Merekapun bisa aktif karena melihat atau mendapat informasi mengenai kekurangan orang lain. Inilah pesimisme mereka yang mereka tolak untuk akui.



In hipocrisy, white lose. When white lose, the end will be really really nasty.

Kamis, 11 Juli 2013

Jumat, 05 April 2013

Kompetisi Dengan Feedback Negatif

Dari kecil kita sudah terbiasa dengan yang namanya kompetisi baik dilingkungan keluarga (antara adik dan kakak) atau sekolah. Kompetisi selalu identik dengan kemenangan yang cakupannya lebih kecil, seperti antar individu atau antar kelompok. Kompetisi ada karena adanya persaingan dan bukan perlawanan sehingga kemenangannya bersifat lebih lemah dan mudah. Permasalahan timbul ketika kompetisi sangat rentan dengan penyimpangan yaitu berbagai kecurangan dan tipu muslihat. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi akibat tidak kuatnya penegakan hukum dan aturan, memberikan reward terhadap penyimpangan yang dilakukan, dengan memenangkan orang yang lebih jahat atau yang lebih licik atau yang lebih masiv. Kompetisi-kompetisi dengan penyimpangan seperti inilah yang menciptakan feedback untuk hal yang negatif.  Negatif berarti selalu berekspektasi kalau hal yang tidak baik, jahat, terselubung atau masiv diperlukan/dibutuhkan untuk mendapat kemenangan, sebuah proses pendewasaan akibat feedback negatif dari lingkungan yang tidak mempunyai aturan hukum yang kuat. Proses pendewasaan seperti ini cenderung aktif karena selalu melihat adanya kompetisi walaupun tidak tampak, dimana didalam kompetisi tersebut ada yang menang dan ada yang kalah, sehingga mereka akan berusaha mencari kekuatan untuk diri mereka (dan kelompoknya) serta mencari kelemahan lawan dengan manipulasi dan tipu muslihat. 


Kompetisi dengan proses pendewasaan yang negatif juga sangat tidak sehat karena menciptakan situasi kekanak-kanakan yang harus selalu membutuhkan pengayoman (dan pembelajaran) agar tercipta suasana yang kondusif. Proses pendewasaan negatif berpikir kalau kejahatan dan keaktifan mereka ada manfaatnya dan berakibat baik untuk mereka atau orang lain. Tindakan mereka lebih dipengaruhi oleh kondisi dan fakta daripada keyakinan, dengan awareness yang rendah terhadap keyakinan mereka. Inilah makanya orang-orang dengan proses pendewasaan negatif sangat sulit untuk "dibilangin" kalau apa yang mereka lakukan salah, mereka hanya bisa "mentok/kepentok" kalau mereka ketemu dengan konsekuensi yang bersifat duniawi. Artinya, mereka lebih mempercayai konsekuensi/pengalaman duniawi seperti sebab-akibat dan karma sebagai pembelajaran, sebagai patokan, sehingga ketika mereka adalah orang yang aktif, maka mereka pun aktif pula mentokin orang(menciptakan konsekuensi) sebagai proses pembelajaran. Inilah, yang ketika berhubungan dengan keyakinan, membuat mereka bisa saja melakukan pengorbanan-pengorbanan dan penyalahan takdir/kodrat.  


Pendewasaan dengan feedback negatif sebenarnya biasa terjadi dan bisa membuat kehidupan manusia menjadi berwarna-warni (mirip rainbow cake). Secara natural proses pendewasaan dengan feedback negatif akan menemui konsekuensi-konsekuensi (duniawi) akibat dari perbuatannya atau mendapat proses pembelajaran baik dari ilmu/ pengetahuan yang dia dapatkan (dari pendidikan formal dan ajaran seperti agama) sehingga feedback negatif tersebut bisa terhenti. Tetapi, ketika sebuah pandangan bahwa proses pembelajaran yang seharusnya didapat dari pendidikan orang tua dan formal tidak cukup, dan malah lebih mengutamakan pembelajaran menggunakan konsekuensi akibat dari perbuatannya, dimana hanya lingkungan yang bisa memberikan konsekuensi-konsekuensi tersebut, maka pengalaman yang berasal dari lingkungan tersebutlah yang akan menjadi fokus pembelajaran dengan menitikberatkan pada konsekuensi yang bersifat duniawi (pengalaman, sebab-akibat, karma). Karena fokus mereka pada lingkungan inilah yang bisa membuat mereka aktif menciptakan lingkungan dengan konsekuensi-konsekuensinya. Padahal, justru lingkungan jualah yang telah menciptakan feedback-feedback negatif dimana artinya lingkungan adalah hal yang tidak bisa dipercaya dalam sebuah proses pembelajaran. Ketika konsekuensi/pengalaman menjadi sangat dibutuhkan sekali untuk pembelajaran, pelanggaran yang terjadi dalam penciptaan konsekuensi tersebut akan tidak terlihat. Seorang kakak misalnya, melihat adiknya tidak mau menurutinya sebagai kakak yang lebih tua, maka sang kakak menghukum adikya dengan menjahili dan tidak mau berbagi dengan adiknya. Ketika sang kakak kemudian tidak menuruti orang tuanya dan lolos dr hukuman, sang adikpun mendapat feedback negatif akan mudahnya ketidakadilan terjadi. Di kemudian hari sang adikpun menjahili kakaknya sebagai jawaban atas feedback negatif yang diterimanya, yang berarti kenakalan sang adik malah menjadi-jadi. Disini gue melihat permasalahannya bukan pada ketidakadilan, tapi bagaimana peraturan ditegakkan dalam sebuah lingkungan kecil seperti keluarga, dimana hukuman atas pelanggaran yang terjadi tidak bisa dilakukan oleh sembarang anggota keluarga seperti seorang kakak yang tidak mempunyai kewenangan. Apabila hukuman ditegakkan dengan benar dan hukuman tersebut cukup dirasakan, maka hal negatif yang dilakukan akan bisa dirasakan sebagai hal yang tidak boleh dilakukan, sehingga bukan feedback (untuk melakukan kejahilan) yang dia terima tapi tuntunan dalam pengambilan keputusan di kemudian hari (feedback juga terjadi apabila hanya reward dan kepositifan yang diterimanya setelah melakukan hal yang negatif dimana akan menghilangkan sense kenegatifan dari hal yang negatif). Permasalahan seperti diatas didalam lingkungan keluarga sangat lumrah terjadi, tetapi apabila hal tersebut dibawa sampai kelingkungan luar dimana setiap orang tidak mempunyai keterkaitan yang khusus dan jelas, kompleksitas permasalahan akan menjadi tidak terkendali. Setiap orang bisa "memberi pelajaran" kepada orang lain karena dianggap/dinilai melakukan kesalahan padahal hal tersebut diluar kewenangannya. Keaktifan pada pendewasaan negatif pada akhirnya sangat mudah disesatkan karena solusi yang dijalankan hanya akan menciptakan spiral permasalahan yang baru seperti adanya hukuman yang ga jelas (feedback negatif). Bahkan terkadang keaktifan ini bisa mentrigger dia untuk menghukum dirinya sendiri atas kesalahan yang dia lakukan. Makanya, edukasi mengenai peraturan negara dan agama oleh ortu atau sistem pendidikan formal dengan kurikulumnya yang kaku adalah yang terpenting daripada mengenal konsekuensi duniawi (pengalaman, sebab-akibat, karma) dalam pembelajaran mengenai mana yang benar dan salah (apalagi kalau konsekuensi duniawinya terlalu mengada-ada sehingga tidak logis dan tidak ada dalam hukuman dan peraturan didalam agama dan negara). Apabila konsekuensi duniawi tersebut yang dijadikan bahan pelajaran, maka hasilnya bisa saja main hakim sendiri, yang akan semakin menjauhkan diri kita dari ajaran agama dan peraturan yang ada dengan mempercayai hal lain seperti misalnya mempercayai sistem karma.  

Proses pendewasaan negatif berpikir bahwa dunia berputar karena adanya kompetisi yang membuahkan kemenangan dan kekalahan, dimana pemenangan kompetisi tersebut adalah hasil tipu muslihat dan kecurangan. Akibatnya, pada proses pendewasaan negatif terdapat konsep bahwa selama masih ada kompetisi dan rencana-rencana yang menyimpang, maka dunia masih berputar dan masih ada hari esok. Kedewasaan pun dilihat sebagai kemampuan melakukan hal yang jahat,  menyimpang, terselubung secara terkendali (terkendali disini maksudnya bertanggung jawab atau tertanggung jawab). Disini terlihat permasalahan utama dari proses pendewasaan negatif, dimana kedewasaan yang diwujudkan dengan berbagai tipu muslihat dan kecurangan, dimunculkan dengan penampilan yang positif, yaitu dengan nuansa kepentingan bersama/demi kebaikan/pembenaran, dan juga dengan penampilan positif bahwa semua orang bisa mendapatkan kemenangan tersebut. Jadi, pada orang dengan pendewasaan negatif, didalam diri mereka, mereka meyakini kompetisi, dimana ada yang kalah dan ada yang menang, tetapi tampilan luar yang mereka persembahkan justru adalah kebalikannya, yaitu kemenangan untuk semua orang (zero competition) akibat adanya persepsi "tanggung jawab" yang terkendali. Ketidakkonsekuenan inilah yang membuat proses alami tidak berjalan dengan semestinya sehingga perbuatan-perbuatan yang dilakukan berdasarkan proses pendewasaan negatif menjadi abu-abu dan apa yang dianggap terkendali sebenarnya tidak terkendali. Tidak terkendali karena biasanya pada pendewasaan negatif kendali tidak berada ditangannya akibat mengandalkan kemasivan atau kekuatan dari luar dirinya/lingkungannya. 

Salah satu contoh ketidakkonsekuenan dalam tipu muslihat yang bisa terjadi akibat pendewasaan negatif misalnya tindakan licik(smart) berpura-pura sebagai orang yang bodoh/lemah/rendah untuk mendapatkan hal yang lebih, dimana sebenarnya perbuatan tersebut sangat tidak bersesuaian. Ketika kita berpura-pura bodoh atau rendah, kita ga seharusnya minta/mendapatkan hal yang lebih (kalau kita minta lebih itu namanya mengakali dan menjadikan orang dimana kita merendah sebagai lawan kita yaitu orang yang kita akali). Kalau permainan pintar ini yang kita mainkan, kita harus sudah yakin siapa yang sedang kita tipu dan apa bisa menipu dia (kalau agama gue sudah jelas siapa-siapa yang kita tidak usah berurusan, baik dijadikan lawan atau kawan, dalam suatu urusan). Sudah seharusnya yang namanya tipu muslihat, kecurangan dan kebohongan dilakukan dengan kesadaran bahwa hal tersebut tidak menghasilkan kebaikan untuk kita atau orang lain sehingga kesadaran tersebut akan menimbulkan kewaspadaan. Dan bukan hanya itu, didalam kompetisi dengan pendewasaan negatif kita hanya terfokus mengalahkan sesama kita saja sehingga menciptakan pandangan bahwa "dia" dan "masalahnya" adalah yang menjadi objek utama dalam suatu permasalahan, dan bahwa "aku" dan "kelebihanku" adalah yang menjadi subjek utama dalam suatu perbaikan. Akibat dikotomi ini, pemikiran strategis tidak terbentuk dan malah mengarah pada perpecahan. Kita menjadi tidak berusaha untuk mengetahui siapa sebenarnya yang harus kita lawan, yaitu, siapa yang (membuat kita) menyalahi peraturan dan ajaran serta nilai-nilai yang ada (menerobos pertahanan strategis untuk sistem tempat kita bernaung). Kita juga menjadi tidak sadar akan siapa yang sedang kita tipu dan siapa yang berusaha kita outsmarting(akali) dari kepura-puraan yang dilakukan. Pada akhirnya, kompetisi dengan proses pendewasaan negatif tidak mengarahkan orang untuk terdeferensiasi (karena semuanya ingin mencapai satu titik yang sama yaitu kesuksesan), tapi malah terdeviasi (dari aturan, nilai dan ajaran yang umum dimasyarakat), sehingga menyebabkan rusaknya sistem kompetisi yang alami dan teratur. Jadi alih-alih sebuah kendali melalui keteraturan (less complex), deviasi inilah yang malah menimbulkan kebutuhan akan kendali melalui ketidakteraturan (more complex). Inilah biasanya yang menjadi pintu masuk bagi aliran sesat, organized crime, premanisme dsb.

---------------------------------------------------------------------------------
Off the topic: Ada seribu satu cara menciptakan ketidakteraturan dari sebuah keteraturan dan cara-cara ini dilakukan dengan sangat kreatif seperti sebuah permainan akrobatik yang sangat menarik. Salah satu cara adalah dengan menimbulkan/menampilkan karakter yang bersesuaian dengan kondisi chaos dan menegatifkan karakter yang tidak mendukung kondisi chaos. Misalnya saja, orang yang introvert, pendiam, tidak bergaul diasosiasikan dengan tindak kejahatan tertentu. Padahal, banyak dari pelaku tindak kejahatan tersebut mempunyai follower atau kelompok yang jumlahnya tidak sedikit, dan juga mempunyai ambisi yang tinggi dan tidak sungkan dan malu untuk menerjemahkan ambisi tersebut menjadi kenyataan. Kalau masalah tidak mau berinteraksi dengan lingkungan, tidak sedikit contoh anggota geng yang bahkan tidak peduli dan cenderung bermusuhan dengan lingkungannya, dan anggota geng tersebut biasanya bukan termasuk orang introvert apalagi pendiam (menurut gue seseorang masuk ke kelompok tertentu biasanya karena perasaan insecure ditambah ambisi yang tinggi). Sementara itu, lawan kata dari introvert dan pendiam dianggap lebih preferable, yaitu ekstrovert dan banyak bicara. Ketika yang ekstrovert dan banyak bicara tersebut kurang memahami batasan yang membatasi elemen lingkungan dengan elemen privacy, maka karakter tersebut bisa diarahkan untuk mendukung chaos. Begitu juga dengan spontanitas, ketika spontanitas adalah hal yang preferable karena memebuat kita lebih cepat melesat maju, efek samping dari spontanitas jadi terlupakan. Ketika spontanitas dilakukan tanpa proses berpikir dulu atau tanpa proses mengenal si objek spontanitas, maka spontanitas tersebut bisa diarahkan untuk mendukung chaos. 

Terkadang bahkan membutuhkan pancingan untuk menimbulkan karakter yang mendukung chaos. Agama pun seringkali dipergunakan sebagai pancingan. Dengan  iming-iming akan menghasilkan kebaikan, si A dengan kesengajaan memberi contoh atau suri teladan akan hal atau perbuatan yang tidak baik. Misalnya saja, si A memberi contoh kepada si B atau khalayak bahwa dia bisa berubah dari tidak baik menjadi baik. Apalagi kemudian dia dianggap sebagai contoh suri teladan yang benar yang harus diikutin. So ramai-ramailah orang menganggap berbuat yang tidak baik tidak apa-apa, asalkan nanti bisa menjadi baik lagi. Gue sendiri menganggapnya sudah ga bener kalau si A mau saja menggembar-gemborkan pengalaman pribadinya untuk menjadi panutan atau contoh seakan-akan kita sebagai umat beragama kekurangan contoh atau suri teladan. Masalahnya, siapa yang menilai perubahan tersebut serta baik buruknya perbuatan dia ketika yang ada cuma sebatas cerita dan informasi dari seseorang?  Apakah hal yang didasarkan pada cerita dan informasi seperti itu sudah cukup pantas menjadi contoh atau suri teladan? Bagaimana dengan sahabat Nabi seperti Umar r.a., bukankah beliau sudah cukup menjadi contoh dan suri teladan? Kenapa ingin yang lebih/lain? 

Terkadang orang dengan mudahnya dimanipulasi untuk memberi pelajaran/contoh/suri teladan atas hal yang tidak baik dan terkadang hal ini bisa menjurus ke tindak pelanggaran. Biasanya hal ini berhubungan dengan persepsi bahwa dunia ini keras dan kejam, makanya kekerasan dan kekejaman harus diajarkan sehingga orang menjadi terbiasa dengan keras dan kejamnya hidup. Keras dan kejamnya hidup ini adalah gambaran dunia yang chaotic dan mengajarkannya tanpa point yang jelas dan pegangan yang jelas malah akan menambah situasi chaos. Misalnya saja, ketika mendapat informasi bahwa si B terlalu baik dan pasif, si A pun memberi contoh hal-hal yang tidak baik dan terlalu aktif sampai-sampai dia melakukan hal-hal yang diluar batas kendalinya (hal-hal yang mendukung chaos). Contohnya lagi yang lebih berbahaya adalah ketika si A mendapat informasi bahwa si B tuh payah karena tidak berani membalas perlakuan ga jelas yang diarahkan kepada si B, si A pun menghina si B yang menurutnya payah tersebut dengan menghadiahkannya dengan anak ayam dan mencontohkan bagaimana caranya membalas dan melawan yang ga jelas. Walhasil, si A tidak hanya mengajarkan yang namanya balas dendam, tapi juga mengajarkan bagaimana bertingkah konyol dan menjadi agen chaos. Sekali lagi gue katakan kita sudah punya suri teladan dan contoh yang sebaik-baiknya yaitu Nabi dan para RasulNya, dan setauk gue mereka tidak gegabah membalas serangan ga jelas dan aniaya dari kaum jahiliyah. Untuk apa dengan sengaja memberikan contoh dan suri teladan yang tidak sejalan dengan Nabi dan RasulNya? Keberanian tersebut harusnya dilihat dari bagaimana para Nabi dan RasulNya berani merebut dan mempertahankan tanggung jawab terhadap hal yang diembankan kepada mereka dan bukan keberanian balas membalas. Lagipula, coba deh disimak lagi siapa yang pengecut, orang jahiliyah ini kan mainnya keroyokan, dalam situasi yang timpang ngambil kesempatan dalam kesempitan untuk berlaku aniaya, terkadang juga main belakang dan selalu berusaha membunuh para Nabi dan Rasul secara diam-diam dan tersembunyi, bukankah mereka yang sebenarnya pengecut?

Gue rasa tidak perlu seseorang menjadikan dirinya atau orang lain sebagai contoh atau suri teladan, perbuatan kita lebih baik diniatkan saja untuk mencari jalan yang lurus dan diridhoi Allah SWT. Niat tersebut sudah cukup daripada kemudian berbuat yang aneh-aneh dengan menampilkan apa-apa yang dianggapnya baik sementara yang jelek ditutup-tutupin hanya supaya bisa menjadi contoh dan suri teladan yang baik, takabur nanti padahal belum tentu ilmunya cukup. Niat untuk mencari jalan yang lurus dan diridhoi Allah SWT saja sudah cukup sulit dikerjakan apalagi kalau ditambah niat untuk menjadi contoh dan suri teladan yang baik. Yakin dan PD mampu mengemban amanah sebesar itu? 

Orang pun sangat mudah dimanipulasi untuk sesuatu yang dirasakan invisible. Para agen chaos juga biasanya diarahkan untuk merasakan objeknya sebagai sesuatu yang invisible, sesuatu yang dirasakan tidak tampak, sehingga kewenangan mereka terhadap yang dirasa tidak tampak tersebut bisa full dan overly done (semena-mena). Ketika perilaku yang overly done terhadap hal yang dirasa tidak tampak ini menjadi kebiasaan, maka hal-hal yang tidak tampak lainnya seperti keyakinan dan kesetiaan kita pada agama dan negara juga pada akhirnya digoyang dengan tindakan semena-mena (sekehendak hati...seenak hati....sesuai dengan hatinya). Tindakan yang bersifat invisible pun akan dibiarkan merajalela, seperti fitnah, kemunafikan, pengkhianatan dan sebagainya. (Gue sudah banyak melihat contoh kehancuran yang diakibatkan serangan yang visible seperti yang disini misalnya, tapi serangan yang invisible, bentuk kehancurannya seperti apa?)  

---------------------------------------------------------------------------------

Masalah kompetisi berfeedback negatif ini juga bisa menjelaskan perilaku para pengikut dalam aliran sesat. Pada aliran sesat para pengikutnya bertindak/berpura-pura sebagai orang yang lemah dan bodoh kepada pemimpinnya dengan mengikuti semua kehendak, arahan dan inisiatif pemimpin tersebut (give) bahkan dengan melanggar batasan dan aturan yang ada (give), tapi dengan mengharapkan yang lebih yaitu supaya impian-impian(cita-cita) mereka bisa terwujud (get). Secara tidak sadar mereka menempatkan pemimpin mereka sebagai lawan yang mereka akali. Ibaratnya menaiki sepeda tandem, maka para pengikutnya tidak berusaha untuk ikut menggenjot sesuai dengan arah yang mereka inginkan tetapi mereka menyerahkan sepenuhnya kepada pemimpinnya yang sebenarnya mempunyai tujuan tersendiri. Seakan-akan mereka berusaha mengakali pemimpinnya untuk dapat sampai ketujuan pribadi mereka. Kalau pemimpin mereka cukup pintar untuk memanipulasi mereka dengan perasaan positif (senang, tentram) maka hal ini akan membuat mereka menjadi tidak sensitif dan tidak memiliki keprihatinan terhadap hal yang negatif yang membuat perlawanan mereka hilang akibat merasa bahwa tujuan hidup sudah tercapai. Selain itu, perasaan positif ini pun membuat mereka sudah merasa benar, karena memang perasaan tersebut yang diperjelas dan diperkuat (get), sehingga, ketika mereka diminta untuk melakukan pengorbanan dan kesetiaan, pertahanan mereka pun hilang (mereka tidak lagi menggunakan ajaran dan aturan yang umum berlaku). Akibat dari ini semua yaitu, lemahnya pertahanan dan perlawanan, ketergantungan mereka terhadap pemimpinnya (lawan) semakin besar, yang membuat mereka membutuhkan lebih banyak lagi pengorbanan (give) dan mengikuti (give), merekapun melupakan cara berpikir strategis. Apalagi, sejalan dengan ini, kompetisi juga akan terdorong terus karena mereka mempunyai impian dan cita-cita yang umum (sama) yang ingin mereka wujudkan sehingga memandang sekitarnya sebagai lawan. Ketika pertahanan hilang, perlawanan hilang, permainan kompetisi semakin kuat, dan mereka hanya melakukan pengorbanan-pengorbanan dan mengikuti pemimpinnya, yang sebenarnya merupakan lawan mereka, sehingga melupakan cara berpikir strategis, maka akhir dari hal ini bisa sangat tidak menyenangkan.


Proses pendewasaan negatif memang sangat rentan terhadap pengaruh kesesatan yang berhubungan dengan keyakinan, karena mereka meyakini membutuhkan perbuatan yang tidak baik/jahat/kuat tersebut untuk bergerak maju, dan ini berarti mereka akan pergunakan alasan apapun (termasuk keyakinan) dalam mendasari perbuatannya tersebut. Akibatnya, keyakinan adalah sebuah kebutuhan hidup yang "dipakai"  sebagai alasan pembenaran untuk menjalani roda kehidupan. Padahal, keyakinan tuh sejatinya tidak sama dengan kebutuhan hidup (kebutuhan agar kita bisa hidup) karena kita dituntut untuk mempertahankan keyakinan tersebut dengan hidup kita sendiri. Mungkin gue akan pakai keyakinan orang jawa aja ya, mangan ora mangan ngumpul (makan atau tidak makan kumpul) sebagai contohnya untuk menjelaskan perilaku pada pendewasaan negatif terhadap sebuah keyakinan (keyakinan orang jawa gue pakai karena lebih mudah penjelasannya daripada keyakinan agama, dan karena gue sendiri keturunan jawa dimana keyakinan yang paling mudah yang gue tauk ya cuma perkataan itu, tapi bukan karena ingin menjelaskan keyakinan apalagi perilaku orang jawa). Pada pendewasaan negatif, dengan berpegang pada keyakinan tersebut, ketika ada yang susah mangan, mereka akan secara aktif (maksudnya aktif adalah dengan cara cepat) menghilangkan/mengucilkan yang susah mangan tersebut dengan alasan demi mendapat manfaat dan akibat yang baik (pengorbanan/mentokin orang). Seakan-akan keyakinan tersebut bisa dengan "kesengajaan dihilangkan" atau dirubah menjadi "tidak harus ngumpul". Tapi, ketika dirinya yang susah mangan, mereka akan secara aktif pula (dengan cara cepat) menggunakan keyakinan tersebut untuk membuat dirinya menjadi gampang mangan bahkan dengan melakukan tindakan terhadap orang-orang yang gampang mangan (pengorbanan pula/mentokin orang  pula).  Seakan-akan keyakinan tersebut bisa dengan "kesengajaan ditimbulkan" atau dirubah menjadi "harus kumpul". Pendewasaan negatif melakukan tindakan-tindakan yang transisional terhadap keyakinan dimana keyakinan tersebut bisa hilang dan muncul dan hal tersebut dibenarkan karena sesuai dengan kondisi dan keperluan. Semangat kebersamaan yang sebenarnya dijunjung tinggi pada keyakinan tersebut pun akhirnya hilang karena keyakinan tersebut ternyata hanya "dipakai" saja (seperti baju yang merupakan kebutuhan hidup sehari-hari) untuk mendatangkan manfaat sebagai pembenaran atas tindak-tanduk yang mereka lakukan. Dari sini bisa kita lihat juga pengaruh kompetisi pada pendewasaan negatif yang memberikan kecenderungan pada mereka untuk menggunakan cara aktif yang cepat (dengan melanggar penegakan aturan dan hukum, nilai dan ajaran). Kecepatan inilah yang terkadang tidak tepat karena ketepatannya ditujukan untuk sebuah tujuan dan bukan ketepatan pada aturan dan hukum, nilai dan ajaran yang umum dimasyarakat. Kalau orang jawa bilang alon-alon asal kelakon (nah kalau ini gue memang menjelaskan keyakinan orang jawa), pelan-pelan asal selamat, dimana keyakinan orang jawa adalah untuk tidak menggunakan cara-cara cepat yang tidak tepat tersebut (kehati-hatian seperti itu biasanya ditujukan untuk hal yang keras atau getas, seperti pot tanah liat, dan bukan untuk hal yang lembek dan fleksibel seperti karet yang mudah ditarik sana-tarik sini).       


Kompetisi dengan proses pendewasaan negatif sangat bergantung pada hal-hal yang cepat membawa mereka kepada tujuan mereka. Makanya kompetisi ini lebih menghargai informasi dan kemasifan daripada mengasah kemampuan dan keterampilan, karena informasi dan kemasifan adalah cara cepat untuk membuat mereka bisa selangkah lebih maju (up to date) dalam melakukan aksinya. Apalagi sekarang adalah jamannya informasi tanpa batas, sehingga siapa yang mendapat dan menguasai informasi-informasi lebih dahulu maka dialah yang terdepan. Dengan informasi tidak perlu lagi asahan kemampuan karena informasi bisa memberikan kita kemampuan yang kita inginkan. Makanya kita seharusnya tidak bisa percaya begitu saja dengan pemberi informasi, karena informasi tersebut ibaratnya jalan tol super cepat yang panjang, kita ga tauk pasti ujungnya ada dimana.  


Proses pendewasaan negatif juga menciptakan suasana saling percaya antar sesama manusia yang tidak wajar. Pada proses pendewasaan negatif, saling percaya timbul akibat persengkokolan dalam melakukan penyimpangan atau pelanggaran atas aturan dan ajaran yang berlaku. Saling percaya dan keterikatan dipaksakan timbul karena salah seorang misalnya melakukan kesalahan dan yang lain merahasiakannya. Tapi justru inilah yang menimbulkan rasa percaya tersebut defektif karena mempercayai orang yang sudah melanggar kepercayaan/keyakinannya sendiri. Karena rasa percaya yang defektif tersebutlah mereka merusak rasa saling percaya yang harusnya ada dalam bermasyarakat sehingga mereka menjadi takut untuk melangkah tanpa adanya dukungan dan sokongan yang masiv. Kalau menggunakan perumpamaan yang disebutkan pada tulisan Mengenai Penyesatan (Bag. 2) maka pendewasaan negatif membuat orang menjadi lebih mudah untuk menjadi penumpang di dalam sebuah kereta daripada menjadi pengendara mobil akibat hilangnya rasa percaya pada aturan yang umum yang berlaku.  

Singkat cerita, pendewasaan dengan feedback negatif diakibatkan krn orang lebih mempercayai kemampuan lingkungan sekitar untuk mendidik dan pembelajaran, lebih mempercayai pengalaman yang berasal dari lingkungan daripada pengamalan aturan, nilai dan ajaran yang sebenarnya sudah ada dan bisa dipelajari disekolah atau dirumah yang bisa dimulai dari diri sendiri. It's like going back to the stone age, dimana segala sesuatu hanya bisa dipelajari dari lingkungannya. (Terkadang gue pikir manusia memang ingin balik kejaman batu ketika orang yang makan binatang yang menjijikkan tanpa diolah lebih dulu dianggap hebat dan memenangkan kompetisi, memangnya manusia ga punya otak apa untuk mengolah makanannya terlebih dulu?)       



"Betty, you wouldn't believe what I've just heard as I headed back home..."

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More