My Facebook

not shown

Selasa, 19 Agustus 2014

Gembala

Jujur aja ketika menganalisa aliran sesat banyak hal yg muncul dibenak gue krn untuk gue perilaku mereka banyak yg aneh dan ga wajar. Mereka ini follower, mereka gembala tapi orang yg mereka ikuti sebenarnya cuma orang yg hrsnya diragukan kebenarannya dan legitimasinya. Ok orang yg mereka follow tersebut mungkin tidak diragukan eksistensinya, dia mungkin eksis dan dikenal secara luas atau dia mungkin powerful shg bisa membuat pengikutnya eksis disebuah jaringan yg dia miliki, tapi tetap saja eksistensi tsb tdk bisa memverifikasi legitimasi dia utk diikuti. Kita tauk masing-masing agama punya rasul dan nabinya masing-masing, para nabi dan rasul pun legitimasinya jelas krn hal tsb ada di kitab suci. Tapi kayaknya pada aliran sesat mereka lebih mengutamakan eksistensi, shg krn para nabi dan rasul ini sudah wafat, mereka kmd mencari hal lain yg masih eksis atau yg bisa mewujudkan eksistensi mereka. Terkadang malah krn banyak aliran sesat sifatnya shady, mk pengikutnya tdk mengakui eksistensi dr apa yg mereka ikuti. Mereka tdk akan mengakui adanya aliran sesat tsb, tapi eksistensi mereka sendiri akan mereka akui walaupun hal tsb tidak pernah terlepas dr pengaruh yg bsr aliran sesat tsb. Terjadilah paradoks krn eksistensi para pengikutnya ternyata berasal dr hal yg tdk eksis dan tdk diakui. Disini mereka hrsnya sadar bhw sesuatu yg shady pasti berhubungan dg kejahatan terorganisir, shg yg namanya hal yg baik tdk mungkin berasal dr hal yg shady tapi eksis tersebut. Hal yg baik tdk mungkin berasal dr uluran tangan yg tdk bisa diakui. Mereka pun harus sadar bahwa sesuatu yg shady sering memakan korban dan menimbulkan konsekuensi yg hrs diterima baik pengikutnya atau korbannya.

Pada aliran sesat yg berbahaya, sesuatu yg mereka follow ternyata mengajak mereka utk mengikuti naluri dan instinct tanpa menggunakan batasan (batasan ini contohnya batasan kemampuan sesuai kodrat kita sebagai manusia, batasan ajaran dan aturan yg berlaku, batasan hak dan kepentingan orang lain, batasan antara hubungan satu hal dengan yg lainnya, batasan wilayah, dll). Hal inilah yg membuat aliran sesat berbahaya krn yg digembala ternyata adalah sekelompok orang dg kebuasan dan keliaran naluri mereka. Analoginya klo ada orang yg menggembala kambing atau sapi, kita tentunya tidak akan terganggu. Kambing dan sapi tidak agresif dan tidak buas, mereka bukan pemangsa. Nah klo ada orang yg menggembala harimau atau banteng atau gajah, bisa kebayang ga bgmn kacaunya lingkungan disekitarnya. Kebuasan, keliaran dan kekuatan yg bsr klo digembala bisa sangat menakutkan. Belum lagi ancaman apabila yg menggembala tiba-tiba melepaskan gembalaannya. Hancurlah semuanya.

Analogi gue diatas mungkin terlalu meremehkan kompleksitas yg ada pada manusia apabila manusia tsb adlh pengikut. Manusia jauh lebih kompleks makanya jauh lebih berbahaya. Yg jauh lebih kompleks ini hrsnya mau utk diatur oleh batasan-batasan yg kompleksitasnya sulit terukur oleh manusianya itu sendiri. Manusia dibatasi oleh wilayah negara mereka masing-masing. Kenapa hrs dibatasi? Manusia dibatasi oleh ajaran dan aturan agama mereka masing-masing. Kenapa hrs dibatasi? Kenapanya ini sangat sulit utk dijelaskan krn kompleksitasnya yg tinggi. Krn kompleksitas yg tinggi ini pula orang jadi kmdn lebih memilih yg gampang dan mudah. Lebih gampang dan mudah mengikuti naluri dan instinct, krn kita bisa mengikuti hati kita aja. Lebih gampang dan mudah mengikuti hal yg eksis (materi) atau yg membuat kita eksis. Akhirnya karena yg eksis ini atau yg membuat kita eksis bentuknya manusia atau uang(materi), merekapun tunduk pada kekuasaan manusia atau uang tersebut yg ternyata tdk mempunyai batasan shg buas dan liar walaupun masih terkendali (krn digembala oleh kekuatan dr kekuasaan tsb).

Lalu kenapa orang yg beragama bisa digembala oleh kekuasaan dan kekuatan orang lain (seperti pd People's Temple)? Hal ini mungkin karena mereka menggunakan realitas utk mendefinisikan keyakinan mereka. Misalnya realitas sebuah institusi(atau orang) dg embel-embel dan nuansa agamis yg kental yg eksis di masyarakat sbg hal yg agamis. Orang-orang yg menggunakan realitas utk mendefinisikan keyakinannya akan mempercayai dan meyakini institusi(/orang) tsb sbg bagian dr keimanannya. Mereka pun dibiasakan melakukan ketidakwajaran demi eksistensi yg dibawa institusi/orang tsb. Lalu kenapa ketika institusi tsb menyimpang, mereka masih juga belum sadar? Karena realitas yg menyimpang tsb ga kelihatan oleh mereka. Persepsi mereka sdh sangat diplintir utk menihilkan penyimpangan seakan akan penyimpangan tsb hal yg hrs terjadi dan perlu utk dilakukan (akibat kompetisi dg feedback negatif). Lagipula kebanyakan dari mereka realitasnya sdh dikungkung, realitas adlh sebuah penjara bagi mereka. Realitas dibangun seperti benteng shg bahkan keyakinan agama tidak bisa menyentuh mereka. Jadi akibat embel-embel dan nuansa agamis, nuansa kebenaran sebagai realitas yg mereka pertontonkan, penyimpangan yg bertentangan dg agama dan hukum pun dilakukan tanpa bisa tersentuh oleh yg diluar benteng tsb.

Pada aliran sesat benteng realitas tsb dibangun dg jargon-jargon, informasi, dan orasi yg menyejukkan hati, menyanjung dan menampilkan nilai moralitas yg tinggi utk khalayak ramai atau manfaat yang sebesar-besarnya. Sehingga masyarakat tauknya kelompok aliran tsb hebat dan bermartabat. Tapi didalam benteng tsb, mereka terbagi lagi menjadi komunitas-komunitas kecil yg ternyata bergerak menyimpang dari apa yg diketahui khalayak ramai tsb, didalam komunitas inilah hal yg tdk bermartabat dan bermoral terjadi. Komunitas kecil tsb keluar dari benteng dan mengganggu korbannya (utk alasan baik yg dibuat-buat), ketika korban sudah lemah, komunitas kecil yg lainnya membantu si korban dan dipertontonkan deh bantuan mereka kekhalayak ramai. Akhirnya si korban dan masyarakat lainnya pun tertarik utk masuk menjadi bagian aliran tsb. Begitu seterusnya kerjaan dan gaya hidup mereka, sampai yg namanya integritas dan profesionalisme pupus. Komunitas yg terkecil dr mereka adalah keluarga. Disinilah kenapa perceraian sangat mudah terjadi pada aliran sesat. Harusnya mereka sadar, realitas tuh cuma temporer doang, mereka boleh berkoar mereka kuat, kekuatan masa mereka menang, tapi klo mereka menginjak-injak hukum dan aturan agama dan negara, mereka pasti kalah, semua yg membiarkan hal kayak gini terjadi pun terkena imbasnya (ini yg membuat gue gerah).

Pada aliran sesat, realitas mereka dibangun atas dasar kecepatan, kepastian, dan tanpa melanggar hukum. Hal seperti ini agak ga masuk diakal sebenarnya, krn yg cepat biasanya melanggar hukum atau lewat jalan blkg. Yg cepat biasanya minus mengolah dan mengelola sesuatu. Manusia juga kodratnya ga tauk akan hal yg pasti, manusia tuh penuh ketidakpastian. So, supaya realitas tsb masuk akal utk mereka, merekapun dikasih realitas berupa misi, dipuji-puji (dileverage), trus mereka difokuskan pd kekurangan dan kelemahan apapun yg diluar mereka. Dan krn realitas yg idealis dan sempurna tsb memang apa yg mereka inginkan, mereka akan menerima realitas tsb. Surgawi bgt ga sih realitas kayak gitu, cepat, pasti, ga melanggar hukum, misi jelas, dileverage dan mereka cuma hrs fokus pada kekurangan dan kelemahan yg lain. Realitas tsb pun dikomunikasikan searah saja (one direction, broadcast), hanya dari pemimpin ke pengikutnya, bahkan terkadang lewat alam bawah sadar. "Anda pokoknya ga perlu korupsi, mencuri atau tindak kriminal yg lain, semua akan kami sediakan dg cepat krn anda orang baik, tapi anda kerja seperti biasa ya, dan turuti apa yg kami perintahkan." Inilah yg menghancurkan loyalitas, amanah dan tanggung jwb.

Yg namanya gembala tuh pengikut, dan utk aliran sesat mereka ikuti apapun yg di perintahkan, bahkan sampai hal terkecilpun, hal yg berupa keseharian tdk luput dr penggembalaan ini. Ga wajar sebenarnya ketika hal yg personal diputuskan atau dituntun oleh orang lain. Hal yg personal yg menyangkut diri kita, yg menyangkut hubungan kita dg orang lain dan dengan Tuhan YME digadaikan hanya demi sebuah eksistensi dan materi. Ini kemunafikan yg parah sekali. Mereka tanpa ancaman dan paksaan mau disuruh "hey, situ hari ini jam segini sama si ini ke tempat ini ya lakukan ini katakan begini karena begini nih", so mereka akan selalu ada at the right time, at the right place, a right condition for a right cause utk para korbannya. Dan merekapun merasa "right all the time whatever happens". Dan suruhan-suruhan seperti ini adalah bagian gaya hidup yg menunjang penghidupan mereka, dan mereka berfikir mereka orang baik krn semua mereka lakukan utk tujuan yg baik: eksistensi mereka sebagai orang baik. Mereka ga sepenuhnya percaya bhw klo tdk ada cara mudah dan baik seperti ini, mereka tdk dpt eksis sbg orang baik. So, mudah bukan utk menjadi baik dan mendpt kehidupan yg baik, tapi ga semua orang mau hidup dg cara seperti ini, eksis dg cara seperti ini. Terkadang topeng mereka tuh agama mknya nereka kelihatan seperti orang baik-baik, tapi aksi mereka lintas agama. Merekapun makan informasi yg diberikan ke mereka dan mereka bertindak berdasarkan informasi tsb. Mereka tuh seperti latihan makan bara api yg berkobar krn dicekoki fitnah. It's just low, very low, tapi krn hal ini tersembunyi mereka pun asyik-asyik aja membanggakan eksistensi dan materi yg mereka miliki. Harga diri mereka sudah dibarter dg materi. Mengerikan klo membiarkan mereka merajalela krn dijaman modern ini uang memang berbicara lebih banyak dan teknologi bahkan bisa berbicara lebih banyak lagi.

Pembaca blog ini mungkin heran kenapa gue jadi agak obsesi thdp aliran sesat ini. Masalahnya yg namanya aliran sesat tuh banyak korbannya (korban tkdg juga berarti pengikut) dan biasanya perempuan dan anak-anak. Dan terkadang hal seperti ini is a matter of life and death. Mereka melakukan operasi terselubung thdp perempuan, tkdg ngebully perempuan tsb dan usaha mereka tuh sebenarnya utk merubah takdir orang. Mereka sangat aktif dan kelakuan mereka sangat sulit untuk ditindak krn motifnya ga pernah bisa terungkap. Karena hal ini sudah terjadi sepanjang hidup mereka, kesalahan dan tipu muslihat dan kemunafikan selalu berhasil ditutupi, mereka tuh jadi sangat berani, thdp hukum, agama ataupun sesama makhluk Tuhan lainnya. Pada aliran sesat, mental mereka sudah dirubah utk menyepelekan dan meninggalkan amanah (gue udah pernah bahas bgmn hal ini dilakukan pd posting gue: Mengenai Penyesatan bag.3). Amanah seperti suami ke istri, ortu ke anak, dan jabatan, dimainkan hanya utk kepentingan yg dianggap lebih besar, yaitu kepentingan aliran sesat tsb. Gue cuma bisa analisa aja mengenai hal ini supaya bisa diketahui banyak orang sambil berharap ruang lingkup aliran sesat ini tdk semakin membesar. Klo banyak orang yg tauk, mk gerakan mereka akan semakin terbatas. Mungkin yg terbatas ini akan membuat mereka semakin menggila, mengancam kemana-mana, menubruk siapa saja, tapi setidaknya akan lebih banyak orang yg menghadapi kenyataan aliran sesat ini, banyak akan lebih baik dari satu orang bukan? Kita ga bisa ngarepin super hero utk menyelesaikan masalah kita, sementara kitanya sibuk lomba lari marathon, lari dari masalah yg ada.

Akhir kata, gembala aliran sesat seperti sebuah perhiasan dunia yg mendatangkan musibah. Sangat indah tapi menyesatkan. Mentereng, keren, terhormat, tapi ga ada harganya.

------------


Side note:Gue agak heran kenapa orang-orang yg sangat mempercayai eksistensi, selalu menganggap hal yg eksisten bisa dijadikan referensi. Referensi harusnya berasal dari hal yg konseptual, prevail, dan bisa diimplementasikan, dan bukan berasal dari suatu hal yg eksis (seperti orang, institusi, komunitas, dsb). Referensi adalah subjek yg bisa menjelaskan sesuatu sdgkan hal yg eksisten adalah objek yg bisa dijelaskan menggunakan referensi tsb.

Ketika gue menjelaskan dan menganalisa aliran sesat (hal yg eksis dewasa ini), gue menggunakan logika gue yg dibangun berdasarkan pengetahuan agama gue, tapi krn gue ingin tulisan ini netral, gue cuma menampilkan logika gue aja (walaupun tkdg tergelitik juga utk menampilkan dasar agamanya). Yg gue heran adalah ketika orang-orang membedah dan menganalisa agama mereka sendiri, apa dasar referensi yg mereka gunakan dlm membedah agama mereka? Apakah logika mereka yg jadi dasar referensi mereka? Kalau logika mereka yg dijadikan referensi, mk cara berpikir mereka akan tanpa dasar, endlessly looping by itself.
Juga ketika gue menganalisa aliran sesat, rasa-rasanya aliran seperti ini berasal dr orang-orang yg membedah agamanya dan menegasikannya. Kayak ada yg berusaha outsmarting agama mereka utk kepentingan mereka sendiri.

Memang terkadang sebelum bertindak ada baiknya kita bertanya kepada diri kita, "what is my point of reference on doing this action? Is it me, or, is it other, or is it reality that defines me?" Shg kita tidak terjebak pada hal yg terlalu complicated.



0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More