My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Rabu, 07 November 2012

Ola la, Panggang atau Goreng?


Kayaknya gue ga pernah ngomong soal makanan yah di blog ini, makanya sekarang gue mau ngebahas mengenai makanan, mana yang lebih sehat, makanan dipanggang atau makanan digoreng?

Mungkin kalau pertanyaannya diganti mana yang lebih enak, makanan dipanggang atau makanan digoreng, maka akan banyak yang bisa jawab karena jawabannya preferensi masing-masing. Tapi kalau masalah sehat yang mana, tentu lebih sulit ngejawabnya karena harus ada alasannya. Makanan yang dipanggang tidak membutuhkan banyak minyak dan biasanya membutuhkan waktu yang lebih lama karena panasnya tidak langsung mengenai makanan. Sedangkan, digoreng berarti kita membutuhkan minyak yang banyak yang tentunya sangat tidak sehat, karena minyak tersebut ketika dipanaskan teroksidasi dan dapat berubah menjadi substansi yang berbahaya. Digoreng makanan juga akan lebih cepat matang karena minyak sudah dipanaskan dengan suhu tinggi terlebih dulu. Digoreng berarti juga lebih kering dan renyah karena panas yang tinggi langsung masuk ke makanan. Jadi berarti pemanasan dengan cara digoreng jauh lebih berbahaya dari pada dipanggang? Tergantung juga, kalau kita menggunakan lemak trans seperti dari mentega ketika memanggang, maka memanggang bisa menjadi lebih tidak sehat. Sementara, menggoreng yang lebih sehat bisa dilakukan dengan menggunakan minyak yang lebih tahan panas seperti minyak kelapa sawit atau minyak kelapa yang tidak mudah teroksidasi.  

Tapi memang kalau soal preferensi ternyata banyak yang lebih suka digoreng, padahal sangat tidak sehat. Kebanyakan gorengan dan lemak trans dapat menyebabkan penyakit jantung, sakit persendian, cacat pada kelahiran bayi atau mungkin penyakit biasa seperti sembelit, dehidrasi, susah napas, pusing, lesu, penat dan suntuk, kantung mata (pada anak-anak).  Nah, kalau weekend berasa gejala-gejala diatas, mungkin saja makanan kita sudah kebanyakan gorengan atau lemak trans... atau mungkin karena sebab yang lain yang harus dicek.


Jadi gimana, digoreng....
                                                         









atau dipanggang? 



Ya kalo dapat berkat dua-duanya ya dua-duanya...

NB: gue pernah denger digoreng dengan menggunakan tambahan bahan seperti plastik...wow, inikan seperti giving permission for people to die slowly and peacefully (is it peacefully?)...




Minggu, 07 Oktober 2012

Semut Vs. Gajah (A story of Wisdom)

Those who would give up Essential Liberty to purchase a little Temporary Safety deserve neither Liberty nor Safety. Benjamin Franklin 

Alkisah disebuah hamparan padang rumput ada koloni semut yang sangat giat bekerja membangun sarangnya sehingga tinggi menjulang ke angkasa. Semut-semut ini selalu bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan mereka, tapi mereka tidak puas hanya sampai disitu. "Sarang ini sempit, penuh sesak, kita harus bisa membangun yang lebih besar lagi, agar kita semua bisa merasakan kenyamanan" kata salah satu diantara mereka. "Tapi sarang ini sudah terlalu tinggi, kita tidak bisa membawa materialnya keatas, sudah terlalu jauh," jawab salah satu semut. Merekapun berpikir keras bagaimana caranya agar bisa membangun sarang yang lebih nyaman. Tiba-tiba seekor gajah lewat didepan mereka dan gajah itu berkata "wow sarang yang kalian bangun tinggi sekali,  bahkan hampir melewati tinggiku." Melihat si gajah, si semut berbisik kekelompoknya, "hey, bagaimana kalau gajah itu kita berdayakan saja, dia bisa sangat berguna." Semut yang lain pun mengangguk setuju. "Tapi, bagaimana cara membujuknya supaya dia mau melakukan apa yang kita kerjakan, mengeruk tanah dan membawanya keatas?" Kelompok semut itu pun akhirnya berunding dan membiarkan sang gajah terheran-heran dengan sikap para semut. Akhirnya merasa dirinya dicuekin, sang gajah pun pergi meninggalkan para semut tersebut, dan memilih duduk dibawah pohon rindang. Ketika sedang beristirahat, tiba-tiba seekor semut datang dan berkata, "Lihat, kami ini para pekerja yang hebat, dengan jerih payah kami, kami bisa membangun sarang setinggi itu. Coba bandingkan kami ini dengan kelakuan kamu yang kerjanya cuma duduk-duduk aja." Si gajah pun terdiam saja mendengar perkataan sang semut. Melihat si gajah tidak bergeming, dia pun melanjutkan "Ah, kamu tuh gajah yang payah dan malas, ga punya kemampuan," dan si semut pun memberikan isyarat kepada teman-temannya yang bersembunyi dibelakang semak untuk membantu dirinya. "Ouw, awww, aduh! Apaan ini?" teriak sang Gajah kaget. Dia merasa ada yang menggigit bagian belakang tubuhnya, terasa pedas sekali. Gajah pun berdiri dan merasakan dikakinya penuh semut yang siap menggigit dirinya. "Kami akan terus menggigiti badanmu sampai kamu mau melakukan apa yang sedang kami lakukan, mengikuti perintah kami. Kami mau kamu membantu kami bekerja membangun sarang." Sang gajah pun berkata, "kalau tidak mau bagaimana?" "Kalau tidak mau mengikuti kami, maka kamu harus pergi dari sini, keluar dari padang rumput ini," jawab si semut. "Tidak bisa, ini kan tempatku," ujar sang gajah. "Kalau begitu, ikuti apa yang kami kerjakan supaya semuanya bisa nyaman dan aman," balas si semut. Akhirnya merasa dipojokkan, si gajah pun mengikuti keinginan si semut. "Ikuti saja apa yang kami lakukan, OK gajah?" ujar si semut. Gajahpun mengangguk. Sang Gajah pun akhirnya bekerja mengikuti apa yang dilakukan si semut, mengeruk tanah dan membawa tanah tersebut keatas sarang dengan belalainya. Untuk sementara, semut-semut ini pun penuh suka cita karena sarangnya menjadi lebih besar dan nyaman, berkat kerja sang gajah. Tapi, tidak berapa lama, hujan pun turun dengan derasnya. Sarang semut yang bagian atasnya terlalu berat pun akhirnya runtuh dan hancur berantakan. Dan tidak hanya itu, akibat pengerukan yang dilakukan si gajah, genangan air pun ada dimana-mana sehingga para semut ini banyak yang mati tenggelam.

Contoh kisah diatas menunjukkan bagaimana sistem komunal yang bergerak untuk kepentingan bersama bisa merusak atau menghancurkan sistem itu sendiri. Ketika entitas-entitas didalam sistem komunal tersebut merasa mempunyai kekuatan yang lebih (massive karena bergerak secara masal) dan melanggar aturan serta etika yang ada hanya karena kepentingan bersama, maka mereka mengundang kehancuran sistemik untuk terjadi. Aturan, etika dan norma ada untuk kepentingan jangka panjang ekosistem tersebut, makanya, ketika terjadi pelanggaran secara masal (walaupun korbannya cuma satu atau sedikit) tapi impact-nya besar untuk kelangsungan hidup mereka. Kisah tersebut juga menunjukkan bagaimana rasio manusia tidak bisa selamanya benar, dimana hal-hal yang dianggap sebagai produktif bisa menjadi sangat tidak produktif kalau kita tidak bijaksana dan tamak dalam menyikapinya. Si semut yang berjiwa sosial juga sangat hipokrit ketika yang mereka lakukan adalah perbuatan ekstrem yang mencerminkan perilaku anti-sosial mereka. Si semut yang berjiwa sosial menyangka bahwa dengan menghina dan memojokkan gajah yang individualis dia bisa mendapat keuntungan besar. Mereka merasa lebih pintar dan kuat sehingga melawan sifat-sifat alami dari ekosistem mereka serta melanggar aturan dan norma yang berlaku, hanya karena sebuah pemikiran dan ide bahwa semua harus menuruti kehendak yang sama. Tidak adanya pemimpin yang definitif tapi hanya pemimpin struktural atas pergerakan yang dilakukan dan hanya mendasari pada kepentingan dan kehendak bersama, mencerminkan bagaimana longgarnya arti sebuah tanggung jawab. Pada akhirnya terbukti bahwa hanya karena mereka mendapat dukungan si Gajah dan menerima pemberian si Gajah, bukan berarti mereka berhak menerima apa yang si Gajah berikan.

Tapi tunggu dulu, apa sebenarnya yang terjadi pada kumpulan semut tersebut ketika Gajah pergi untuk beristirahat dibawah pohon yang rindang? Ternyata ketika si semut sedang berunding, datanglah Bison. Bison menghasut semut bahwa si gajah adalah binatang yang anti sosial dan tidak mau menolong. "Gajah hanya mementingkan diri sendiri dan mau enaknya aja," bisik Bison. "Lalu, apa yang harus kami lakukan?" tanya semut sedikit senang karena Bison ada dipihak mereka. "Lakukan dan katakan apa yang aku bisikkan pada kalian ke gajah tersebut..." dan Bison pun membisikkan sesuatu ke telinga para semut, para semutpun akhirnya mengangguk setuju. Di akhir cerita, Bison yang ternyata pawang hujan bersorak gembira karena rencananya berhasil. "Akhirnya hamparan tanah dengan air yang mengalir ini menjadi milikku. Hahaha...hohohoho..." Tinggalah para semut menyesali tindakan mereka karena hasil tidak wajar yang mereka terima dengan melakukan ketidakwajaran harus dibayar dengan mahal.

Nah, kisah diatas adalah kisah negeri semut, untungnya kita semua hidup di negeri dengan azas Pancasila yang artinya semua perbuatan kita bernapaskan sila-sila dalam Pancasila. Dan bukannya menempatkan Pancasila sebagai utopia dan tujuan hidup yang harus diraih bahkan dengan cara-cara yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD yang sudah kita yakini bersama.


Lagipula, kisah ini tentunya membuat kita berpikir mengenai bison, gajah aja digituin apalagi semut???

Senin, 17 September 2012

Proteksi Minimal Yang Bisa Dilakukan Perempuan

Segala sesuatu berubah sangat cepat dewasa ini. Ketika orang mau yang lebih untuk dirinya atau orang lain, mereka pun mau melakukan apa saja untuk memenuhi desakan perubahan tersebut. Loyalitas pun terkikis hanya karena orang kemudian lebih loyal pada keinginan untuk perubahannya dan bukan karena entitasnya. Orang ingin lebih baik, lebih sejahtera, lebih makmur, lebih terkenal, lebih mapan, lebih dll, tapi mengukur lebihnya dengan menggunakan takaran uang. Tidak heran kalau sekarang perubahan yang drastis bisa terjadi di semua aspek kehidupan. Lingkungan dengan cepatnya berubah, lebih polusi, lebih panas, matahari pun lebih menyengat. Cuaca berubah lebih ekstrem, lebih banyak badai dan angin puting beliung terjadi. Bumi pun berubah, lebih bergoyang dengan laut yang lebih agresif menyerang daratan. Agamapun berubah menjadi lebih radikal, tapi malah sangat kontras dengan kejahatan kriminal yang lebih kompleks dan violence. Pergerakan yang huru-hara dan hura-hura lebih banyak ditampilkan sebagai bagian kehidupan sehari-hari, it does look like we're getting worse, tapi tetap saja semakin banyak orang yang meneriakkan perubahan dan ingin yang lebih lagi, seakan-akan mereka kebal akan perubahan (huru-hara dan hura-hura inilah yang mungkin menyebabkan kita tidak sensitif akan adanya konsekuensi dari sebuah perubahan). Perempuan pun bisa jadi lebih vulnerable dan harus bisa menyikapinya dengan kesiapan fisik dan mental untuk menghadapi gempuran perubahan ini. Kesiapan fisik dan mental dapat dilakukan dengan aktif memproteksi diri terhadap hal yang bisa membahayakan baik dari unsur alam maupun lingkungan. Berikut beberapa hal yang minimal menurut gue yang dapat dilakukan sekarang oleh perempuan untuk memproteksi dirinya terhadap perubahan alam dan lingkungan:     


1. Penggunaan Sunscreen
Akhir-akhir ini ketika gue keluar dan matahari lagi terik-teriknya, wajah akan terasa panas banget dan mata berasa silau. Biasanya gue ga terlalu khawatir karena gue selalu pakai krim tabir surya yang emang udah dari dulu menjadi penghuni setia di dompet kosmetik gue (jauh sebelum bb krim yang identik dengan SPF muncul). Kulit gue termasuk yang sensitif, makanya butuh perlindungan ekstra dan SPF 30+ biasanya sudah cukup melindungi kulit wajah gue. Sun Protection Factor (SPF) memberi perlindungan terhadap sinar ultra violet, UVA dan UVB, dari matahari, walaupun banyak produk yang ternyata hanya memblock UVB saja. Padahal, UVA sangat berbahaya bagi tubuh karena radiasi yang ditimbulkannya dapat membunuh tanpa ketahuan dan menyebabkan kanker. Label "broadspectrum" pada produk SPF mengindikasikan kalau produk tersebut juga dapat memblock UVA selain UVB, atau untuk produk-produk dari Asia, label yang digunakan adalah PA beserta tanda plus, dimana yang tertinggi saat ini adalah PA+++. SPF mempunyai nilai berkisar antara 8 sampai dengan 50, dimana diatas 50 tidak akan terlalu memberikan perlindungan tambahan yang berarti.

Tapi, walaupun sudah menggunakan produk SPF bukan berarti kulit kita sudah terlindungi. Gue aja sekarang ngerasa kalau produk SPF yang biasa gue pakai udah kurang efektif. Selalu aja ada patch gelap di kulit muka gue setelah gue berjemur (sebentar) di matahari (dulu ga begitu loh, produknya selalu sukses menjaga kulit gue). Mungkin perlu juga ditambah dengan foundation yang bisa menutup kulit dengan warna secara sempurna. Serangan matahari? Foundation + sunscreen here I come...

2. Asupan Antioxidant
Banyaknya suplemen berisi antioxidant dipasaran menandakan masyarakat sudah cukup sadar akan pentingnya antioksidan. Antioksidan dapat memproteksi tubuh karena menghambat proses oksidasi molekul-molekul di dalam tubuh yang dapat menghasilkan radikal bebas. Radikal bebas berbahaya karena bisa menimbulkan reaksi berantai yang merusak sel-sel dalam tubuh. Ada banyak sekali sumber-sumber antioksidan baru yang khasiatnya berlipat ganda dari yang biasa kita konsumsi sehari-hari, dan banyak yang berasal dari tanaman tropis negeri ini. Kita mengenal vitamin A, C dan E sebagai antioksidan yang baik yang bisa didapatkan dengan mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan segar. Antioksidan lainnya adalah Lycopene yang bisa didapatkan dengan mengkonsumsi tomat, lemon atau semangka. Flavonoid, yang sering terdapat pada tanaman obat tradisional dan rempah-rempah, juga termasuk antioksidan yang berguna bagi tubuh kita. Pokoknya, kalau ingin tubuh kita sehat dan terbebas dari berbagai penyakit degeneratif, maka antioksidan adalah salah satu solusi yang akan menjaga tubuh kita dari serangan-serangan penyakit tersebut. Bahkan kalau tubuh kita mendapatkan virus dan bakteri (bakteri penyebab jerawat juga termasuk!) tak terduga, antioksidan dapat membantu tubuh kita untuk melawan serangan tak terduga tersebut. 

3. Physical Exercise
Dulu sampai bosen kita disekolah mendengar kata "Men sana in corpore sano, di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat" untuk menegaskan betapa pentingnya kesehatan tubuh kita (gue rasa mungkin pada masanya, ada benarnya perkataan tersebut, tetapi untuk masa modern sekarang ini dimana ada banyak faktor yang lebih kuat yang dapat mempengaruhi jiwa kita selain tubuh kita, maka gue agak meragukan arti dari kalimat ini). Walaupun gue agak ragu akan arti pernyataan ini, tapi bukan berarti tubuh menjadi tidak penting untuk kesejahteraan kita, karena kalau kita sakit pasti daya berpikir dan emosi kita akan terpengaruh. Latihan fisik secara teratur dan berkelanjutan memang penting untuk menjaga tubuh agar tetap sehat. Olah fisik dapat melancarkan peredaran darah, melatih otot, tulang dan jantung, serta membantu tubuh mengeluarkan racun lewat keringat yang keluar. Kekuatan fisik yang didapatkan dari olah tubuh secara teratur dapat menjaga kesehatan tubuh, sehingga minimal tubuh dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik. Bahkan, latihan fisik dapat membantu wanita menghadapi hal-hal yang tak terduga seperti berhadapan dengan orang jahat, mungkin tidak untuk melawan, tapi cukup punya kekuatan untuk bisa mengelak dan mengambil langkah seribu (kalau ibu-ibu biasanya larinya malah mengejar Smiley, tapi hal ini sangat tidak disarankan!). Latihan fisik sangat beragam bentuknya, mulai dari yang membutuhkan daya tahan yang ringan seperti berjalan kaki sampai yang berat seperti sepeda marathon. Ada juga yang butuh keahlian khusus seperti panjat tebing dan akurasi seperti bowling. Olah tubuh lain bahkan membutuhkan kerjasama team seperti basket. Untuk wanita, olahraga yang membutuhkan kelenturan seperti senam dan balet, atau yang membutuhkan konsentrasi seperti Yoga banyak diminati. Dengan pilihan yang banyak, maka para wanita dapat memilih olah tubuh yang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan kesenangannya. Lebih enak dan nyaman rasanya melakukan latihan apabila tidak terpaksa atau memaksa diri. Gue sendiri memilih Yoga dan berjalan kaki sebagai bentuk latihan fisik yang gue sukai. Jalan kaki bisa dilakukan di tempat-tempat favorit pilihan kita atau hanya dengan memilih untuk naik busway (yang kita tauk beberapa jalanan koridor transitnya cukup panjaaang) daripada menggunakan mobil atau motor pribadi.    

4. Self-Awareness
Biasanya perempuan lebih gampang aware dengan hal-hal yang berbau keindahan dan materi, pokoknya yang bagus, baru dan menarik pasti akan masuk waiting list daftar belanjaan kita. Ketika ada event perayaan, kita pun ingin tampil berbeda dan baru, at least kalau ga bajunya ya sepatunya, belum lagi tambahan aksesorisnya, tasnya, rambutnya... namanya juga perempuan, kitakan mikirnya semakin indah dan bagus maka akan semakin baik. Apalagi sekarang jamannya teknologi canggih, perempuan pun ingin yang terlihat bagus dan canggih tanpa mempertimbangkan rasio. Ada BlackBerry baru kepingin, ada iPad yang lebih keren kepingin, padahal ga butuh-butuh banget karena teknologi yang lama dan yang sudah dimiliki sudah mencukupi. Gue terus terang ga punya yang namanya BlackBerry (kasian deh gue...Smiley), makanya gue sering dibilang gaptek. Masalahnya, kenapa harus bangga kalau cuma bisa makai teknologi orang, malu dong, buatnya aja kita ga bisa kok makainya bangga. Lagian, kalau ilmunya aja kita ga punya, kok berani kita mimpi punya ini itu. Palingan kita jadi tergantung sama teknologi orang apalagi yang baru-baru tuh costnya mahal, bisa-bisa semakin berat aja kita menggantung...lah kalau nanti keberatan dan talinya putus gimana? (kasian deh lo...Smiley). Makanya, perlu juga untuk belajar mengerem dan mengenal siapa, apa dan bagaimana diri kita, seberapa cepat dan jauh kita bisa melangkah. Kalau ini saja kita ga ngerti, bisa-bisa tahun depan tergadai semua milik kita. Mungkin para perempuan harus bertanya pada diri mereka sendiri, apakah orang yang ingin kita terlihat lebih cantik, lebih bagus, lebih ini dan itu berarti orang yang mencintai dan menyayangi kita? Terlihat peduli mungkin, tapi loyalkah? (mengingat kemampuan kita yang terbatas). Apa mau kita diutak-atik, tuning sana-sini untuk mendapatkan leverage yang lebih itu, lalu bagaimana kalau sudah mentok? Masih ingatkan kasus perempuan yang dijanjikan mau dijadikan model, sudah dipoles sana, dipoles sini tapi ujung-ujungnya malah dieksploitasi?

Perempuan terkadang sulit untuk aware akan konsekuensi yang akan atau bisa dihadapi dalam sebuah situasi. Apalagi ketika lingkungan dimana mereka berada, memasang modus siluman atau stealth mode, maksudnya, tidak mengakui adanya permasalahan ketika sebenarnya ada permasalahan. Modus siluman mengabaikan permasalahan sehingga permasalahan akan semakin besar dan akan menimbulkan kerugian yang terbesar pada elemen terlemah didalam society (anak-anak dan perempuan). Bahkan ketika ada yang  seakan-akan peduli dan bertanya mengenai sebuah permasalahan dan menjajikan solusi, perempuan tidak bisa percaya begitu saja. Karena, ketika yang bertanya dan berjanji tersebut adalah bagian dari permasalahan, sehingga menyebabkan si perempuannya terbentur pada solusi yang percuma, maka, hal tersebut bisa membuat dia putus asa yang malah akan mendorong perempuan untuk ikut mengingkari permasalahan. Ketika perempuan ikut mengingkari permasalahan (hypocrisy) sehingga melepaskan tamengnya, disinilah kekuatan jahat yang mengintai dapat tiba-tiba muncul dan mungkin berakibat fatal. Makanya ladies, kalau ada orang nongol mau memberikan solusi atau sekedar mengatakan "ceritakan dong ke Pram permasalahannya apa..." dan sok ngorek-ngorek masalah, jangan langsung percaya, karena kalau terbukti mereka adalah bagian orang yang ikut berkongkalingkong, hal-hal tersebut malah akan membuat perempuan tersebut dimanfaatkan. Jangan gunakan penilaian per individu karena dalam sebuah perkongkalingkongan tidak ada yang namanya inisiatif sendiri. Jadi, walaupun orang tersebut terlihat sebagai orang baik-baik atau si Pram ini mengaku ustadz dan memberikan banyak kebaikan, jangan mengharapkan apa-apa dari personality individual mereka, that's just the way they work. Seingat gue ada peristiwa mahasiswi yang ga nongol pas UAS, dibawa orang tauk-tauk dah sampai ke RS (dapet lampu "kuning" tuh). Eh, dejavu, mau berulang lagi kejadiannya ketika setelah pulang dari pusat perbelanjaan (untungnya prampuan ini udah pulang sekarang, kalau nggak, bisa-bisa dapet lampu "merah"). Banyak orang mengatasnamakan agama untuk aktivitas kriminal mereka, sehingga jangan sampai terhipnotis oleh tampang, perilaku santun dan atribut agama. Coba cek dulu keluarganya dan tempat tinggalnya dimana dia sudah berpuluh-puluh tahun tinggal, kalau ada yang ga beres atau aneh dengan kondisi keluarganya (ortu ga ada, istri/suami yang ditelantarkan, diceraikan dengan percekcokan, atau anak yang tidak ketahuan juntrungannya) maka sebagai perempuan, kita harus hati-hati.

Uang (dan peluang) ga bisa dijadikan patokan akan sebuah kebaikan. Kalau kita menerima uang, bukan berarti yang memberikan uang (dan peluang) baik sama kita, tapi kemungkinannya kita akan dimanfaatkan dengan banyaknya persyaratan yang harus dipenuhi. Manfaat dan persyaratan yang seperti apa, harusnya bisa kita ukur dengan mengenal kemampuan kita dan batasannya apa. Apakah ada keanehan dan ketidak wajaran dari persyaratannya, misalnya berupa pengambilan hak diri sendiri atau orang lain sebagai syarat uang tersebut? Karena, ga bisa kita biarkan diri kita dimanfaatkan dan diarahkan dalam hal apapun hanya supaya bisa lolos untuk hari ini atau esok hari, atau untuk euforia sesaat, karena bisa jadi taruhannya adalah masa depan orang banyak atau diri sendiri yang memang ga bisa diukur dengan uang (dan peluang). Orang lain yang peduli dan menyuplai kehidupan dan penghidupan kita, belum tentu peduli dengan hidup dan nyawa kita. Banyak kasus dimana perempuan mendapat kehidupan dan penghidupan yang lebih baik seperti di negeri seberang pada akhirnya malah kehilangan nyawanya.

Terkadang orang yang kita bisa percayapun dapat melakukan tipu muslihat, hanya perlu sensitifitas kalau ada yang sedikit aneh. Contoh kasus ya, gue punya teman orang padang, dia didatengin saudara jauhnya (tauk sendirikan orang padang banyak banget saudaranya). Dia bawa teman yang menurut pengakuannya berasal dari padang juga. Sebenarnya teman gue ini udah curiga karena logat padang orang yang dibawa ini ga ada dan pas lihat ktp dia juga bukan lahir di padang tapi di jawa. Tapi, karena tingkah laku dan bawaan orang ini alim dan santun, temen gue nih percaya aja malah termotivasi dengan cerita-cerita suksesnya dan memberikan dia jabatan sebagai penanggung jawab. Lagian, bisnis yang dilakukan dengan saudara jauhnya ini juga menghasilkan keuntungan banyak karena kemudahan pasokan barang yang dia terima dari saudara jauhnya ini. Suatu saat temen gue nih menderita sakit tiba-tiba, sehingga harus ke RS. Ketika dia pulang dari rumah sakit, dia melihat rumahnya sudah porak peranda dan mendapatkan harta benda yang sudah dia dapat dari hasil jerih payahnya berbisnis selama ini hilang, hal-hal yang dia dapat sehingga impian-impian indahnya bisa terwujud hilang. Bisnisnya pun akhirnya ambruk karena uang kas dibawa kabur orang, dan teman gue ini kemudian menyalahkan orang bawaan saudara jauhnya yang hilang tak tauk rimbanya. Saudara jauhnya mengaku tidak tauk menauk masalah tersebut dan ikut menuding orang yang dia bawa (yang udah kabur entah kemana). Usut punya usut, ternyata bisnis yang selama ini temen gue lakukan menguntungkan bos saudara jauhnya karena dialah pemasoknya (bosnya semakin kaya). Temen gue pun akhirnya bangkrut karena utang yang harus dibayar dan modal awal yang sudah semakin tinggi untuk memulai bisnisnya. Dari cerita ini harusnya kita melihat kalau kecurigaan tidak bisa dianggap enteng, temen gue mungkin hanya kehilangan harta bendanya, tapi bisa jadi di cerita yang lain, orang akan kehilangan nyawanya. Sekali lagi gue tekankan, cek keluarganya dan tempat tinggalnya dimana dia sudah berpuluh-puluh tahun tinggal, kalau ada yang ga beres maka kita harus hati-hati. Awareness itu penting apapun situasinya, jangan hanya uang dan peluang saja yang dilihat.                 

Masalah awareness ga bisa ditampik dengan alasan yang ga jelas dasarnya apa. Terkadang, ada aja perempuan yang mengatakan "berserah diri aja sama yang diatas dan minta perlindungannya, insya allah akan aman-aman saja" ketika perempuan dinasehati untuk tidak sering pulang malam, atau menempuh rute perjalanan ditempat yang sepi, atau mengendarai sendiri motor kemana-mana. Mereka pun menjadi tidak hati-hati dan menganggap enteng apa yang sudah biasa mereka lakukan. Seakan-akan mereka bawa-bawa nama agama, tapi mereka tidak aware akan ketentuan-ketentuan dalam agama tersebut. Mereka hanya yakin pada dirinya sendiri kalau sudah mendapat blessing, tapi tidak yakin pada ketentuan dalam agama tersebut sehingga pelanggaran apapun bisa mengatasnamakan Tuhan. Ketika kita (gue termasuk) berjalan sendiri di tempat yang sepi misalnya, kita harusnya sadar sedang mengundang takdir buruk untuk terjadi sehingga akan selalu waspada. Kalau kuat keyakinannya akan ketentuan Tuhan YME, maka minimal kita tidak mau melakukannya lagi, apalagi kalau untuk mendapat kenaikan gaji (karyawati) atau menjadi aktivis sejati (mahasiswi). Lebih baik bekerja pada waktunya atau belajar lebih keras lagi daripada menghalalkan segala cara seperti diatas. Lagian, kita tidak sedang berada di surga dimana orang beriman pasti mendapat semua kebaikan (kesejahteraan, ketentraman) yang sudah dijanjikan Tuhan YME. Banyak perempuan mengejar kebaikan-kebaikan tersebut didunia, dengan sengaja melanggar tanpa menyadari akibatnya karena beranggapan hal tersebut ditujukan untuk kebaikan-kebaikan ini. Kekuatan orang-orang jahat muncul karena adanya hypocrisy seperti ini, makanya perlu untuk membangkitkan dan mengembalikan kesadaran dan tanggung jawab para perempuan, at least pada diri mereka sendiri. Kita sedang hidup di dunia dimana kejahatan bermacam-macam bentuknya dan dapat mengenai siapa saja, apalagi tanpa adanya awareness. Ilmu dan pengetahuan perlu ditingkatkan untuk membangun self-awareness tersebut sebatas apa yang bisa dilakukan oleh seorang perempuan.

Untuk menunjukkan betapa vulnerablenya perempuan dalam masa-masa perubahan alam dan lingkungan ini, maka berikut data yang gue dapatkan dari search engine mengenai kematian mahasiswi oleh berbagai sebab dalam satu tahun terakhir (dan daftarnya terus bertambah):

UPH, Caroline Oktavianie Tamboto, 25 Nov'11, 19th, Lippo village (kondo-dibunuh)  
Trisakti, Arum Natalie Ratna, 12 Jan, depan Kompleks Istana Negara (RS- tertimpa pohon)
Unsuri, Suhartini, 15 jan, 20th, Sidoarjo (kubangan parit-dibunuh)
ITB, Angelina Yovanka, 5 Feb, 19th, Garut (sungai-tenggelam)
IT Telkom, Diayu Eritasari, 7 maret, 20th, dayeuhkolot (kos-dibunuh)
Syiah Kuala, Siska, 22 Maret, 20th, Lhokseumawe (RS-sakit tiba-tiba)
STAIN, Dakwatul Khoirot, 27 Mar, Pamekasan (jalan-kecelakaan motor)
IPB, Rifda Izatunisa, 30 Mar, 19th, Bogor (jalan-kecelakaan motor)
Stikes, Lilik Andriana, 5 April, 19th, Surabaya (rumah-dibunuh)
UIN Syarif H, Izzun Nahdiyah, 7 Apr, 24th, Tangerang (rumah pelaku-dibunuh)
STAIN, Afridarni, 2 Mei, 21 th, Bukittinggi (jurang-dibunuh)
UNDIP Fisip, Bunga Hoetami, 7 Mei, 20th, Semarang (jalan-kecelakaan motor)
 Trisakti, Suharti La Popo, 9 Mei, 22th, Tangerang (jurang-dibunuh)
  ..., Noviani, 14 Mei, 22th, Pacitan (RSUD-overdosis miras)
..., Charstia Anggraeni, 6 Jun, 17th, Wonogiri (jalan-kecelakaan motor)
UNDIP Sastra Inggris, Natisa Listyani Nasiroh, 7 Jun, 24th, Semarang (jalan-jambret)
IPDN, Nesya Khairunisa, 16 Jun, 22th, Bandung (RS-sakit kanker darah)
Petra, Zaza Yesika Sinjaya, 19 Jun, 20th, Surabaya (kos-gantung diri)
STIAMI, Aprilia Indriyani, 3 Jul, 21th, Penjaringan (Hotel Pondok Kencana Indah-dibunuh)
UNS, Umi Khasanah, 23 Jul, 19th, Solo (jalan-kecelakaan)
UI, Lucia Novianti Dewi, 24 Jul, 23th, Pondok bambu (jalan-kecelakaan motor)
STIE Wira Wacana, Karin Kamba Ipu, 7 Agu, 22th, Waingapu Sumba Timur (RS-kekerasan)
STIKES Ahmad Yani, Desy Sriyudianti, 9 Agu, 22th, Cimahi (kost-dibunuh)
Unibraw, Lintang Chandra, 10 Agu, 21th, Madiun (jalan-kecelakaan motor)
Unika Kupang, FB, 27 Agu, 22th, Kupang (kos-aborsi)
STKIP, Azizatul Sakdiyah, 1 Sep, 22th, Klatakan Situbondo (warung pantai-dicekek)

Sementara yang hilang:
Trisakti, Nadia Dwi, Nov '11, 20th (ditemukan)
UI, Nurul Fitriyah, Juni, 23 th (ditemukan)


Makanya proteksi itu penting, ga bisa jugakan korbannya kalau cuma disuruh ngomong "jangan dong...". Tapi, bukan berarti proteksi hanya untuk para mahasiswi aja lo. So, the next para ibu, para istri...harus hati-hati dan waspada karena sekarang bukan saatnya positif thinking lagi, jaman berubah, alam semakin kejam dan kejahatan dapat mengintai dimana-mana, jangan biarkan kejahatan tersebut menang secara total. Lagian, kita juga sudah kehilangan Bu Menkes dan gue rasa hal tersebut alarm untuk perempuan akan kondisi yang semakin vulnerable. 

Sebagai tambahan, angka kecelakaan selama lebaran naik dari tahun lalu dengan kenaikan 32,48% untuk sepeda motor dan 16% untuk korban meninggal dunia (Sumber: disini). Sementara itu, angka kecelakaan lalin DKI Jakarta dari Januari sampai Oktober 2011 memprihatinkan dengan jumlah kecelakaan 6732 kasus dengan 935 orang meninggal dunia. Di wilayah Jakut hampir setiap pekan ada kecelakaan yang melibatkan truk kontainer (Sumber: Jalan Raya Bak Medan Perang, Warta Kota, hal 2, 29 November 2011)


Noah said its going to be painful for them...to learn its the sea of life.


Sabtu, 08 September 2012

Milih-milih...Milih yang mana ya?

Setelah habis milih-milih baju yang mana yang akan digunakan untuk berlebaran, apa memakai baju yang lama atau baju yang baru, kemudian milih mau jalan-jalan kemana di akhir minggu lebaran...akhirnya tiba saatnya milih hal yang lebih berat lagi...milih pemimpin untuk kota Jakarta!

Milih pemimpin memang tugas yang berat, kalau salah milih, bukannya rakyat yang selangkah lebih maju, malah dapet langkah seribu berlari meninggalkan segudang masalah. Pemilih adalah para individual yang sudah dewasa, dimana pengetahuan, nilai dan persepsi akan permasalahan yang ada sudah terbentuk melalui sebuah proses panjang, sehingga semua hal tersebut sudah melekat erat dalam pemikirannya yang dapat dipakai dalam mengambil keputusan. Pemilih diharapkan bukan orang yang mudah diperintah dan didoktrin seperti anak kecil, dimana yang benar dan yang salah hanya berdasarkan perkataan saja, dan mudah mempercayai impian-impian idealis yang disampaikan. Seorang pemilih yang dewasa akan menyikapi dengan bijak, sekat-sekat, perbedaan dan permasalahan yang ada, dengan tidak mengacuhkannya dan tidak melibasnya dengan sebuah langkah tidak membumi yang penuh idealisme, simbolisasi dan impian seakan-akan perbedaan dan sekat-sekat tersebut tidak ada dan tidak pernah ada didalam kehidupan bermasyarakat. Sekat-sekat, perbedaan dan permasalahan harus digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan dengan menyikapinya dengan sikap tenggang rasa, kepedulian dan menghormati antar sesama manusia agar ketentraman dalam bermasyarakat dapat terjaga. Isu SARA yang dihembuskan (hembusan terlalu halus sebenarnya, karena isu SARA ini dipakai untuk menggempur habis-habisan persepsi masyarakat Jakarta) di masa pemilihan gubernur Jakarta ini, seakan-akan mengkriminalkan sebuah pemikiran akan sisi Jakarta dimana justru kaum yang dianggap mayoritas dan penduduk aslinya masih sering  termaginalkan dan masih timpang dalam hal ekonomi dan pendidikan. Kaum yang dianggap mayoritas ini kepentingannya masih dianggap belum tercukupi, sehingga diharapkan dengan mengangkat pemimpin yang berasal dari mereka, maka gap dan ketimpangan yang terjadi dapat diminimalkan (dan meminimalkan gesekan yang masih sangat rawan terjadi). Sementara itu, untuk kaum yang dianggap minoritas, sejak jaman reformasi sudah cukup banyak sebenarnya hal yang dilakukan untuk menghormati kepentingan kaum minoritas, jangan sampai hal tersebut dirusak dengan langkah grasak-grusuk yang secara picik mengangkat isu SARA.

Lagipula, sebagai pemilih, ada banyak faktor yang menjadi alasan untuk memilih figur tertentu yang tidak bertumpu hanya pada rasio saja. Walaupun kita bisa menggunakan rasio untuk menyelesaikan problem hidup, tapi tetap saja rasio tersebut harus dibatasi dengan nilai-nilai yang kita miliki. Sehingga, faktor keyakinan, agama dan nilai-nilai yang kita pegang selama ini seharusnya juga dapat berpengaruh dalam memilih siapa pemimpin Jakarta nantinya. Kerusuhan di Sampang bisa dikatakan tindakan berdasarkan isu SARA, tetapi, pemilih yang menggunakan nilai dan keyakinannya ga bisa diplintir dan disalahkan dengan menggunakan isu SARA. Pemilih adalah seorang individu dewasa, dan mereka berhak memilih berdasarkan keyakinan dan nilai-nilai yang mereka miliki karena hal tersebut adalah hal yang legal. Mereka toh tidak melakukan tindakan lain (baik tersembunyi maupun terang-terangan) yang bisa merusak pilkada seperti menghasut, intimidasi, teror dan lainnya. Di negara paman Sam aja, faktor agama sering menjadi bahan perdebatan dalam pemilihan pemimpin mereka (mereka mendebatkan masalah agama gereja mormon yang dimiliki salah satu kandidatnya). Dan, mereka tidak melihat hal tersebut sebagai masalah SARA, melainkan kesiapan warganya menerima figur dari agama gereja mormon tersebut yang merupakan minoritas, karena, walaupun Amerika cukup liberal kalau dilihat dari kacamata orang kita, tapi mereka tetap melihat agama sebagai faktor yang kritikal dalam pemilu mereka dan merupakan bagian dari pandangan kritis mereka, akan nilai-nilai yang mereka miliki. Nah, jika kesiapannya yang dilihat, maka, apakah warga Jakarta sudah siap dipimpin oleh figur yang berasal dari kalangan minoritas? Jawabannya tentu harus secara real tergambarkan dari apa yang ada di lapangan dan bukannya melulu hasil survey. Hasil survey tidak menjawab hal real seperti: apa warga Jakarta yang mayoritas bisa menjamin dan menjaga keamanan warganya yang minoritas akibat dari gesekan yang mungkin timbul akibat pemilihan ini sehingga warga minoritas tidak perlu lagi sibuk menjaga lingkungannya dengan mendirikan portal-portal dan pagar-pagar yang tinggi di kota Jakarta? (Survey menggunakan sampling dan gue bukan fans dari teknik-teknik statistik seperti sampling apabila hal yang disampling terlalu crucial dan kompleks. Sampling dilakukan untuk menentukan tindakan yang tepat bagi keseluruhan populasi. Karena targetnya adalah keseluruhan populasi maka sampling harus acak, jumlahnya cukup dan bisa merepresentasikan populasi. Individu atau sekelompok orang dipilih untuk menjadi objek atau sasaran experiment atas hal yang akan berpengaruh terhadap populasi yang ditargetkan. Sampling adalah "cara cepat dan mudah" untuk mendapatkan kesimpulan atas gambaran keseluruhan populasi, sehingga dapat dilakukan tindakan yang tepat bagi populasi tersebut.)  

Gue cuma berharap masyarakat Jakarta tidak bisa dikerdilkan dan dengan mudahnya dibodohi dengan diberikan hanya "isu SARA" karena dua pilihan yang ada untuk masyarakat Jakarta, masing-masing ada alasan tersendiri untuk memilihnya. Ga bisa kalau dikatakan kita memilih si anu berarti masalah SARA sudah tidak ada di Jakarta, atau kita memilih si anu berarti kita pro terhadap sikap yang SARA. Kita menghargai masing-masing individu dengan tidak melakukan tindakan terhadap orang lain berdasarkan SARA tanpa dasar dan peraturan yang jelas. Kita juga tidak bisa ikut campur mempengaruhi kebebasan seorang individu dalam menggunakan haknya, baik dengan intimidasi berupa perkataan maupun perbuatan karena hal tersebut adalah bentuk teror. Teror berisu SARA yang terjadi belakangan ini memang tidak berhubungan dengan pilkada DKI, tapi timingnya sangat tepat untuk mempengaruhi keputusan warga Jakarta dengan persepsi yang bisa merugikan dan membelah kedua kubu sehingga tercipta suasana yang tidak sehat dan tidak produktif. Di satu kubu isu SARA mendeskriditkan agama dan menyudutkan kubu tertentu, sementara di kubu yang lain bisa saja merasa sedang diteror.

Off the topic: gue mau bicara sekali lagi soal teror. Kriminalitas yang terjadi di lingkungan masyarakat biasanya berupa pengambilan hak seseorang secara paksa yang berwujud fisik atau materi yang dilakukan perorangan atau berkelompok, sehingga, persepsi yang fisik dan materi ini dapat jelas tertangkap oleh masyarakat dan masyarakat paham benar bentuk-bentuk kriminalitas ini. Pencurian, pemerasan, penyuapan, pengrusakan sampai kriminalitas berat seperti korupsi dan pembunuhan sudah cukup dipahami bentuk-bentuknya oleh masyarakat beserta hukumnya. Teror adalah tindak kriminal yang masih belum jelas dasar hukumnya apalagi yang bersifat individual dan perseorangan karena bukti yang dihasilkan sangat minim. Bukti yang minim tersebut karena teror menyerang (usaha untuk merusak, mengambil, mengubah dengan paksaan) fitrah seseorang yang tidak mempunyai wujud fisik seperti jati diri, pemikiran, psikologi (emosi dan perasaan), nilai, perilaku dan keyakinan. Teror bisa dibedakan dengan kriminalitas biasa karena adanya pengulangan (tindakan yang berulang-ulang) kepada satu target. Teror yang melibatkan masyarakat luas (dimana masyarakat luas sebagai pelakunya atau targetnya) biasanya sudah terorganisir dengan baik dan para pelaku biasanya hanya menjalani perintah atau mengikuti orang lain. Teror memang tidak bertujuan mengambil materi atau uang dari korbannya, bahkan pelaku teror biasanya malah harus mengeluarkan dana untuk aksinya, walaupun demikian, akar masalah atau penyebab dari tindak kejahatan teror mungkin karena masalah ekonomi juga, yang dibungkus rapi dengan tujuan-tujuan yang mulya dan baik. Makanya, sumber dana dan bagaimana para pelaku mendapatkan dana dan fasilitasnya adalah hal yang penting dalam mengusut tindakan terorisme ini. Menurut pendapat gue pribadi, pelaku teror adalah orang-orang yang tidak puas atas hasil ciptaan Tuhan atau kuasa Tuhan, sehingga mengambil jalan pintas untuk mengubah psikologis, nilai dan keyakinan orang lain dengan cara-cara paksaan. Cara-cara paksaan maksudnya dihadapkan langsung, face to face, dengan sikap dari keyakinan mereka tapi dengan konsekuensi targetnya tidak bisa mengelak atau melawan karena ketidakjelasan tindakan dan serangan yang dilakukan (teror mungkin membuat kita bertanya dan meragukan orang lain, ini kawan atau lawan?). Teror merancukan pemikiran kita akan siapa the real enemy is karena tendensi dan persepsi kita sudah dirusak oleh teror tersebut. Kita selalu dibuat mengira-ngira apa sebenarnya tujuan (yang tidak jelas atau tersembunyi) dari tindakan teror tersebut. Ok, back to topic.

Hal yang lebih penting sebenarnya daripada mengangkat isu SARA ini, adalah bagaimana program dan kesiapan dari masing-masing kandidat dalam memimpin Jakarta kedepannya. Apakah Jakarta akan dirubah dengan menggunakan jalan pintas dengan memanfaatkan fasilitas dari pihak lain sehingga dapat membebani Jakarta dan independensinya di masa mendatang? Apakah Jakarta akan dirubah secara drastis sehingga Jakarta bisa jadi kehilangan akar budayanya dengan kehilangan cagar budayanya? Bagaimana sikap para kandidat terhadap para pemilihnya, yaitu warga Jakarta sebagai stakeholder dalam pembangunan kota Jakarta, apa akan disingkirkan dan diasingkan begitu saja (secara damai atau paksaan tetap saja namanya disingkirkan) atau diajak berperan serta? Ingat kalau Jakarta, walau menyandang status sebagai ibukota RI yang representatif terhadap keberagaman RI secara keseluruhan, tetapi Jakarta harus tetap sebagai Jakarta yang mempunyai kekhasan tersendiri. (Salah satu kandidat memang khas banget betawinya, tapi kandidat lainnya mengusung kekhasan yang mengingatkan gue pada video klip lagu "The Lazy Song"-nya Bruno Mars).             

Kalau dilihat dari incumbent atau bukan, pastinya masing-masing bisa punya argumennya sendiri. Yang incumbent memang ga sempurna, tapi, masih banyaknya pendukung yang mempercayai dan berharap akan kepemimpinanya membuktikan dia memang layak sebagai pemimpin. Sementara itu, yang bukan incumbent dapat memberikan harapan dan impian yang baru dari yang sudah didapatkan warga Jakarta selama ini.

Yang juga sangat penting adalah, bagaimana seorang pemimpin harusnya bisa bekerja secara independen, tanpa dibayang-bayangi tekanan, intimidasi atau ancaman dari kubu-kubu yang membawa kepentingan kelompok atau perorangan. Kalau kondisi tersebut tidak tercapai, maka percuma saja kita bicara dan berdiskusi panjang lebar mengenai maslahat bangsa, karena kebijakan yang diambil tidak akan atau tidak bisa berpihak pada rakyat. Ketika seorang pemimpin berkata "saya mendapat tekanan" atau "saya terus diganggu bisikan-bisikan" atau "ada yang terus mengikuti saya", maka hal tersebut jangan dianggap sebagai paranoia dari pemimpin tersebut, melainkan ancaman serius dalam kehidupan bernegara. Seorang pemimpin adalah orang yang bisa dimintai pertanggung jawabannya akan kebijakannya memimpin rakyat, sementara rakyat harus mau dipimpin dan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pemimpin tersebut dalam menjalankan kewajibannya. Apa iya rakyat dapat dibebankan tanggung jawab penuh ketika pada kenyataannya, rakyat bisa lari kocar-kacir, tapi pemimpin tidak mungkin melakukan hal tersebut (hal ini seharusnya menjadi pertimbangan akan bentuk demokrasi yang kita inginkan). Nah, kalau rakyat dan pemimpinnya kemudian yang selalu kemasukan pengaruh dan unsur asing, bagaimana sebuah wilayah dapat tetap menjadi tempat berlindung dan memberi lingkungan yang kondusif? Aturan dan hukum memang dapat melindungi warga negaranya, tapi ancaman dari luar adalah persoalan lain, persoalan wilayah. Seperti sebuah keluarga dimana terdapat suami, istri dan anak. Apabila suaminya terus menerus memberi peluang akan kebebasan dan kemandirian kepada anggota keluarga lainnya, sehingga, istrinya selalu membayang-bayangi kepemimpinan suaminya dengan kekuasaan dan pengaruh dari luar yang dimilikinya, atau anak terus menerus memakai peluang kebebasan yang dimilikinya untuk membawa masuk pengaruh dan unsur dari luar, apa jadinya keluarga tersebut?  

Akhir kata, disini gue tambahkan artikel dalam bahasa inggris yang memperlihatkan kesuksesan dan kegagalan beberapa kota besar di dunia:

Chicago: http://www.time.com/time/nation/article/0,8599,1193833,00.html
Stockton, California: http://www.cbsnews.com/8301-201_162-57461273/stockton-calif-to-become-largest-city-to-declare-bankruptcy/
Moscow: http://www.askmen.com/top_10/travel/top-10-public-transit-systems_2.html
Tokyo: http://www.askmen.com/top_10/travel/top-10-public-transit-systems_1.html


Sabtu, 18 Agustus 2012

Kamis, 19 Juli 2012

Ga Kerasa Sudah Bulan Puasa Lagi...

Makanya, untuk pembaca yang muslim gue mau mengucapkan:




<img src="SalingBermaaf_maafan.jpg" height="14" width="33" style="cool">  

Kamis, 28 Juni 2012

Yang Aneh dan Lucu dari Negara Tetangga

Setiap negara pasti punya kehidupan keseharian yang unik kalau menurut negara lainnya. Bisa saja suatu negara menganggap kesehariannya tersebut biasa-biasa saja, tapi negara yang lain melihatnya sebagai keanehan yang lucu. Tapi gue harap semua sepakat kalau perbedaan pandangan tersebut adalah bagian dari keindahan dunia yang sekarang kita tempati, dimana masing-masing bisa menghargainya.

Berikut keseharian dari negara tetangga yang bisa jadi lucu untuk orang kita:


Malaysia:
Banyak bahasa malaysia yang kalau menurut orang Indonesia aneh dan lucu. Misalnya saja pasien dirawat diberitakan dengan mangsa dirawat, atau korban banjir disebut mangsa banjir. Terus kalau sedang mengendarai mobil, orang malaysia lebih banyak pusingnya dari pada orang Indonesia (padahal kemacetannya tidak separah disini) soalnya kalau lagi nyetir mereka menyebut  pusing kanan/kiri untuk belok kanan/kiri. Terus yang lebih lucu lagi, mereka bilang toilet = bilik termenung, anak = budak, gratis = percuma, jalan-jalan = makan angin dan pintu darurat = pintu kecemasan. Terus kalau buldozer apa coba bahasa malaysianya? (He3x)....setrika bumi!


Singapura:
Kita tauk kalau Singapura sangat teratur dan tertib, tapi terkadang peraturannya bisa bikin ketawa pelancong dari luar. Coba lihat gambar berikut:


Funny signs from Singapore
Ha ha ha, segitu menyeramkannya kah durian sampai ada peraturannya! Tapi aneh juga, terus "fine" nya kira-kira apa ya? Ditimpuk pakai duren kali ya...hmmm, priceless.


Di bus:
By law NO Assault on Bus Captain
Di Indonesia perlu ga yah didalam busway ada kayak gini?



Thailand:
Ternyata Thailand adalah salah satu negara yang kreatif, coba lihat iklan-iklannya yang lucu:


Lucu...dia mengulang terus. Yang ngeliatin sampai ga bereaksi gitu, mungkin mikirnya: OMG, she really is a machine. She doesn't look at my face and keeps on continuing her dialogue, what??? 


Ha ha ha... jadi inget hp teh celup dan dx kaleng krupuk pake riben!


 Yellow pages kayak gini iklannya....hahaha. Banyak amat gerombolan reporternya yang udah siap mau memberitakan kejadian aneh itu ya...


China:
Negeri tirai bambu yang mempunyai jumlah penduduk terbanyak didunia ini pastinya mempunyai segudang masalah kependudukan terutama masalah keterbatasan lahan, tapi mereka cukup pintar menyiasatinya, perhatikan saja contoh berikut:



Pakistan:
Negara yang mayoritasnya beragama Islam ini sudah mempunyai militer dan persenjataan yang cukup canggih, setidaknya mereka sudah bisa menciptakan senjata nuklir sebagai salah satu kemampuan strategis mereka. Tapi kalau dilihat transportasinya, kok ga canggih-canggih amat kayak gini:


PAKISTAN RAILWAY = THE BEST FUN IN TRANSPORT
Ya ampun, perempuan pun ada yang gelayutan di pintu! Tapi, lihat kekompakan mereka waktu mau difoto! 1,2,3... say Cheeeeese!


India:
India juga termasuk negara dengan jumlah populasi terbanyak didunia, mereka pun punya masalah di bidang transportasi, kereta penuh seperti di pakistan pada gambar diatas bukan hal yang jarang terjadi. Bahkan anak-anak pun menyiasati sistem transportasi mereka, coba lihat disini. Ayo, coba hitung jumlah tasnya ada berapa...


Jepang:
Orang Jepang sangat workaholic, ini terlihat dari fenomena ketika mereka berangkat dan pulang dari kantor. Negara produsen mobil ini ternyata masih sangat mengandalkan sistem kereta bawah tanahnya untuk transportasi mereka. Bagaimana dengan Indonesia?

 

Dan ini terjadi setiap hari di stasiun-stasiun di Jepang! Massage gratis ala Jepang ini terjadi lebih karena kebiasaan daripada kekurangan moda transport, soalnya didorong-dorong seperti ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu di Jepang. Gue rasa karena kebijakan Just In Time mereka yang sangat menghargai waktu. Amazing...coba bayangkan kalau di Jakarta naik Busway harus kayak gini!


Nah kalau di Indonesia, apa ya yang kira-kira membuat orang asing terkejut atau tertawa?

Salah satunya mungkin pengalaman naik Bajaj di Jakarta yang full angin, full getaran (apalagi kalau lewat perlintasan kereta, ouch!), full bau kali yang dilewatin, full berisik, pokoknya pull abis deh! Tapi gue heran sama kaca spion yang ada didalem bajaj, kayaknya ga guna deh di situ, soalnya, udah kaca belakang tuh sebenarnya plastik burem yang ga lagi tembus pandang, penumpangnya juga nutupin hampir sebagian plastik burem itu. Pengalaman gue sih, abangnya malah kayak ngeliatin gue daripada ngeliatin mobil dibelakang (hahaha kok jadi GR...). Pokoknya pengalaman naik bajaj ga bisa dilewatkan kalo melancong ke Jakarta!

Pelancong juga terkadang heran lihat perempatan jalan di Indonesia, apalagi kalau lagi macet. Pull sampai semua mentok! Kereta di Indonesia, walaupun ga sepenuh India dan Pakistan, tapi bisa dikatakan cukup padat, ada karyawan, pramuniaga, pedagang, pelajar, mahasiswa/i semua masuk deh pokoknya.
Selain itu, Indonesia juga banyak yang kreatif kayak di Thailand, nah coba deh lihat iklan berikut. Lucu!

Tapi, itulah asia. Keunikan asia...is in our DNA, at least a month from now we wouldn't want it changed... Keeksotisan asia... is within our land,  at least two months from now we wouldn't want it bore a hole in it...
wouldn't we?


Ha ha ha ... bajaj-bajaj ku!!! Revenge of the BAJAJ: pak tua berpeci dilempar oleh jok-nya...dodol!
Joke apa nih?  Hanya dengan euforia kendaraan baja, penguasa baru Jakarta datang dengan robot-robot merah-orangenya siap menghancurkan kota mulai dari perubahan tempat terkumuh? Ini bukan politik tapi penguasaan wilayah, karena robot tidak berjiwa. Tapi, robotnya taat pajak (he3x). Yah, kita tunggu putaran kedua...   (kalau metal-metalnya bisa kena charging kayak gini, apa manusianya ga sakit body?)  

Kamis, 21 Juni 2012

Mengenai Penyesatan (Bag. 2)

We can only see a short distance ahead, but we can see plenty there that needs to be done. Alan Turing - Computing Machinery and Intelligence. 


Ada beberapa hal dari keempat contoh sebelumnya yang bisa gue catat dan analisa mengenai aliran sesat beserta pemimpinnya, yaitu:



Click here for more graphics and gifs!  Kebanyakan aliran sesat masuk sebagai petunjuk yang membawa agama/aliran tertentu, menuntun pengikutnya sehingga pengikut tersebut menjalankan ritual-ritual ibadah yang dianjurkan oleh agama/aliran tersebut. Para pengikutnya merasa dituntun untuk mendapatkan pengalaman religius sehingga mereka percaya pada aliran tersebut. Akibatnya, setiap penugasan yang diperintahkan pemimpinnya dianggap sebagai ibadah karena untuk tujuan baik/bersama bahkan ketika terjadi penyimpangan dalam kotbah yang mengandung unsur riya (mengekspos ibadah yang dilakukan supaya orang lain mengikuti), munafik (ada unsur ajakan bunuh diri, menghancurkan rasa saling percaya satu sama lain, dll), syirik (mereka mempercayai pemimpinnya seperti Tuhan, mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, menghalalkan perkara yang haram), takabur (merasa spesial dimata Tuhan, meyakini karma dan bukan hari akhir), fitnah dsb. Sifat dari ritual yang dijalankan ditujukan untuk mendapatkan keselamatan dan kemakmuran dalam hidup, ketenangan batin dalam menjalankan kehidupan, hampir sama seperti ritual pada ajaran animisme dan dinamisme, dimana sifat dan tujuan keduniaan dari ritual aliran tersebut lebih dititik-beratkan. Makanya dengan mudah aliran ini meninggikan ego individual dari pengikutnya, dengan memenuhi kebutuhan duniawi dan impian dari pengikutnya tersebut sebagai konsep kehidupan yang baik (PT). Apalagi perkumpulan mereka lebih mengarah ke jemaah daripada umat, sehingga masa yang dibangun lebih rapat karena aktifnya pemimpin mereka. Bahkan ketika ajakan dan ajarannya bisa menyimpang dari ajaran Nabinya sendiri. Ego individual bisa juga ditinggikan dengan memuji superioritas manusia atau kelebihan yang dimiliki oleh pengikutnya (HG & AS). Kalau di MF, gue rasa Manson memang pintar memilih para perempuan pengikutnya yang mempunyai ego yang tinggi dengan paras cantik dan bertalenta. Para pengikutnya pun merasa terangkat dan mudah hidupnya setelah mengikuti dan menjalani ritual di aliran tersebut, karena spiritualitas mereka naik bersamaan dengan meningkatnya kehidupan mereka (mereka seperti terjamin kualitas hidup dan batinnya). Ketenangan ini memberikan aura positif, sehingga ketika aliran ini meminta hal yang menyimpang untuk kelompok mereka, mereka masih pada pikiran positif mereka.

Intermezzo: Gue rasa kita di Indonesia lebih beruntung daripada mereka di LN. Kita mendapatkan pelajaran agama dan pelajaran mengenai Pancasila dan UUD di sekolah, sehingga sebagai individu, kita mengetahui apa yang menjadi ekspektasi dalam hubungan dengan orang lain ketika bermasyarakat, yaitu masing-masing memahami dan mengikuti aturan antar individu tersebut sesuai dengan peraturan agama dan negara yang diajarkan. Ekspektasi bahwa kita menggunakan aturan, norma dan ajaran yang berlaku adalah hal yang paling sederhana dalam kehidupan antar individu dalam bermasyarakat yang bisa menjaga ketentraman dan kemaslahatan bersama. 

Tapi pada aliran sesat seperti PT, ekspektasi dalam hubungan dengan orang lain dapat dirusak karena Jim berhasil memanipulasi ekspektasi dalam hubungan dengan Tuhannya. Ada beberapa cara yang terlihat dilakukan oleh Jim, salah satunya adalah dengan meyakinkan bahwa Tuhan YME akan memberikan segala sesuatu yang diinginkan, dijanjikan atau dibutuhkan, apabila mengikuti ajaran Jim. Misalnya, dengan berusaha aktif menentukan takdir dirinya dengan mengikuti arahan dan perintah Jim, penghapusan dosa dengan mengikuti arahan dan perintah Jim, dsb.

Cara lainnya adalah dengan menjadikan orang lain atau dirinya sendiri, sebagai penjelantahan dari keinginan Tuhan, yang harus dia perlihatkan dan diekspos (dengan menempatkan dirinya sebagai subjek atau eksekutor kuasa Tuhan) sehingga orang lain mendapatkan pembelajaran (juga atas ajaran Jim). Mereka akan memperlihatkan dengan kemunafikan (sandiwara) jika perlu atas kekuasaan Tuhan agar yang lain mendapat cahaya mereka.  Mereka bisa mengetahui, menimbang, menilai hubungan dirinya atau orang lain dengan Tuhannya, sehingga mereka bisa memperlakukan dirinya atau orang lain sebagai wujud KuasaNya sesuai dengan pertimbangan tersebut (eksekutor). Artinya, mereka bisa aktif/pasif secara instan menghukum atau menganugrahkan dirinya/orang/orang banyak berdasarkan informasi dan pertimbangan dia sendiri, dengan tindakan yang menurut dia pantas terhadap  dirinya/orang/orang banyak (misalnya bad karma atau anugerah keajaiban penyembuhan). Bandingkan ekspektasi perilaku manusia adalah penjelantahan keinginan Tuhan ini dengan ekspektasi kalau perilaku manusia adalah sebagai hamba Tuhan, dimana penanggung-jawab dan penyebab dari semua langkah yang diambil oleh seseorang adalah masih pada dirinya sendiri. Orang-orang ini tidak mempercayai hari akhir, mereka bisa menempatkan dirinya ditengah-tengah hubungan seorang individu dengan Tuhannya, dan bahkan menentukan/berbicara takdir.

Ketika mereka melihat seseorang atau dirinya berhasil (mendapat kesembuhan, menjadi pemimpin, mendapat impiannya), dengan cepatnya mereka mengambil kesimpulan bahwa hal tersebut terjadi karena anugrah Tuhan, padahal dia tidak punya cukup informasi atau memang sengaja mengacuhkannya untuk menilai hal tersebut. Banyak hal yang tidak kasat mata yang terjadi diluar pengetahuan kita, bisa jadi seseorang yang sukses dan menjadi pemimpin seperti Shoko dan Jim adalah hal yang akan mendatangkan malapetaka. Mungkin para pengikutnya dulu sempat berkata "ini mukjizat dari Tuhan dia bisa jadi orang hebat seperti ini", walaupun pada saat itu sudah banyak terjadi pelanggaran, masalah dan perkara buruk. Hanya orang dengan ego yang tinggi bisa mengabaikan berbagai pelanggaran tersebut dan lanjut terus, memuaskan ego mereka akan konsep kehidupan yang lebih baik.

Orang-orang yang sangat egois juga mampu mengambil kesimpulan dan kesempatan atas penderitaan dan permasalahan orang lain, karena menganggap masalah tersebut adalah takdir yang harus diterima orang itu, padahal tidak pada tempatnya manusia mengambil kesimpulan akan takdir seseorang. Manipulasi ekspektasi perilaku manusia yang selalu merupakan penjelantahan dari  keinginan Tuhannya (mempunyai keyakinan bahwa setiap langkahnya adalah langkah Tuhan) dan bukan hambaNya tentunya membutuhkan sifat egosentris yang tinggi dari para pengikutnya. Makanya, para pemimpin aliran sesat adalah orang-orang dengan ego yang super, merekapun dapat merubah orang lain menjadi sangat egosentris. Mereka mengubah orang menjadi sangat egosentris dengan dua cara, bisa dengan menyanjung dan meninggikan orang yang mempunyai sifat egois tersebut, atau bisa juga dengan membuat orang tersebut berkorban (give) banyak atau menjadi korban sehingga merasa berhak mendapatkan solusi yang terbaik (gue rasa menerima (get) banyak juga akan membuat orang berpikir bahwa mereka akan/sudah mendapat solusi terbaik).    


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Setelah ego individu ini membesar, para pemimpin aliran sesat inipun mulai berkotbah mengenai kesamaan tujuan. Terkadang dengan menggembar-gemborkan sebuah permasalahan yang ada di masyarakat, realitas yang menyakitkan dan ketidakadilan yang secara umum sedang terjadi, bahaya yang mengancam, atau mungkin dengan menandingkan dengan musuh abadi dari para pengikutnya sehingga akan menimbulkan keinginan mencari solusi bagi para pengikutnya. Kebutuhan akan salvation atau penyelamat inilah yang kemudian bisa mempersatukan para pemimpin ini dengan pengikutnya. Ego individu yang sudah dibesar-besarkan itu kemudian pelan-pelan diparalelkan dengan ego kelompok (ego pemimpinnya) dengan solusi yang dibawanya. Ketika kedua ego ini diperbesar dan saling menyokong, para pengikutpun mulai melebur individualisme mereka dengan misi dan tujuan kelompok.

Intermezzo: Karena Jim sudah berhasil memanipulasi ekspektasi dalam hubungan dengan Tuhan (karena seseorang bisa menjadi subjek/eksekutor Tuhan dan langkah manusia merupakan penjelantahan keinginan Tuhan), maka ketika mereka menginginkan solusi, orang yang sangat egosentris menganggap solusi bisa didapatkan atau diberikan oleh individu lainnya atau dirinya sebagai eksekutor dari Tuhan atau keinginan Tuhan. Hal ini akan merubah ekspektasi dalam hubungan dengan orang lain menjadi perilaku get and give, mendapatkan dan memberikan. Mereka berharap memberi (dengan menjadi bagian dari solusi) dan mendapatkan sesuatu (solusi itu sendiri) dari individu lain, Jim atau dirinya sendiri sebagai eksekutor Tuhan. Seperti sebuah konsep perantara, dimana mempunyai perantara bisa jadi termasuk menyekutukan Tuhan YME (perantara dari jin, orang dengan ilmu magis, dll).     

Normalnya, jika kita punya ekspektasi antar individu, maka hal tersebut karena kita punya aturan dan pedoman dalam hubungan antar individu, kita berharap aturan dan pedoman tersebut dijaga dan dilaksanakan. Ketika kita tidak percaya pada sistem sehingga tidak mempunyai ekspektasi apa-apa terhadap sistem tersebut, kekosongan itu akan diisi oleh orang-orang seperti Jim dengan ekspektasi Get and Give diatas. Dimana pada ekspektasi give kita bisa memberikan dengan berpartisipasi, melakukan pengorbanan, pengucapan, memberitahukan, memperlihatkan, membayar, menguji dan menghukum sesuatu hal sebagai hal yang benar. Dan ekspektasi get, dimana kita bisa mendapatkan dengan mengambil, menerima, menyetujui, menyambut, mengabulkan, penyesuaian, pengiyaan dan penyimpulan sesuatu hal sebagai hal yang benar. Hanya ada aura positif didalam ekspektasi tersebut, yaitu tanpa batas (bisa lagi dan lebih lagi). Hal ini jauh berbeda dengan ekspektasi akan penegakan ajaran dan aturan, dimana ada unsur batasan dan hukuman disitu, yang memberikan aura negatif seperti takut, tidak bebas, terbatas, terhukum dll. (Sebenarnya didalam ekspektasi Get and Give juga ada rasa takut, terbatas dan terhukum, tapi semuanya remang-remang sehingga ga bisa dipertanggung jawabkan. Takutnya bukan sama aturan tapi ga tauk sama apa. Terhukum tanpa sebuah aturan sehingga batasannya ga ada. Terbatas tapi sangat subjektif, padahal subjektivitas tidak mengenal batasan, dll).   

Untuk pengikut aliran sesat, masalahnya adalah bahwa sesuatu hal yang diberikan dan didapatkan ini akan ditentukan oleh pemimpinnya. Ketika jemaah PT mendapatkan penghidupan yang mereka inginkan (get), mereka harus memberikan (give) individualisme mereka dengan mengiyakan perkataan pemimpinnya (mereka melepaskan kebebasan berpikir), dilanjutkan dengan memberikan (give) kepatuhan, terkadang melalui tindakan yang menyimpang dari ajaran dan aturan yang ada (mereka harus melepaskan nilai, ajaran dan pengetahuan yang mereka punya). Mereka pun harus membuktikan ketidaksesuaian mereka dengan sistem yang ada dengan perilaku menyimpang tersebut atau dengan membangun rivalry dari sistem yang ada.

Untuk lebih jelasnya,, kita bisa menganalogikan ekspektasi mengikuti aturan main yang jelas dalam hubungan antar individu adalah seperti mengendarai mobil, dan ekspektasi Get and Give adalah seperti menaiki subway (kereta bawah tanah). Setiap pengendara mobil mempunyai ekspektasi bahwa pengendara lain mengikuti aturan yang berlaku sehingga tidak terjadi kesemrawutan dijalan. Pengendara mobil mempunyai tujuan yang berbeda-beda, dan sangat bergantung pada kemampuan pengambilan keputusan individu-individu lainnya untuk mengetahui, memahami dan melaksanakan peraturan di jalan. Makanya kepercayaan menjadi sangat penting, dan ini yang membuat mereka lebih fragile dalam mencapai tujuan, yang mungkin sekali tidak tercapai ketika kepercayaan tersebut dilanggar. Sementara itu, pengguna subway mempunyai ekspektasi untuk dapat sampai ketujuan (get) dengan memberikan (give) segala keputusan kepada masinis dan sistem komputerisasi di subway tersebut. Pengguna subway bisa saling tidak percaya satu sama lainnya walaupun mereka saling berdekatan, bahkan ada rivalry untuk bisa tetap berada di subway tersebut. Banyaknya pengguna Subway tergantung pada kesamaan pandangan, tujuan dan bujukan untuk masuk ke subway tersebut. Apapun yang terjadi antara pengguna didalam subway, dengan tidak ada atau adanya aturan, tidak akan berdampak pada pencapaian tujuan dari subway. Walaupun ketika pada akhirnya pengguna subway cuma tersisa satu orang, subway akan terus melaju menuju tujuan. 


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs! Ketika individualisme mereka sudah melebur dengan misi dan tujuan kelompok, persepsi, pemikiran, pengetahuan dan nilai dari individu tersebut pun menjadi tidak penting lagi. Mereka menjadi satu kata dalam hal persepsi, pemikiran dan nilai yang dipegang. Para pengikutnya mulai menjalani kehidupan ganda (double life), di satu sisi mereka membawa identitas fisik sebagai seorang individu yang merupakan bagian dari masyarakat, tapi disisi lain mereka membawa roh atau jiwa sebuah kelompok dan mendasari tindakan mereka terhadap jiwa dari kelompok tersebut. Dan ini berarti setiap pengikut meyakini yang benar atau yang salah berdasarkan kesepakatan dalam kelompok tersebut atau mengikuti pemimpin dari kelompok tersebut. Individualisme yang membawa pengetahuan, persepsi, pemikiran masing-masing individu yang terakumulasi sebelum mengikuti kelompok tersebut, yaitu ketika mereka belum menjadi pengikut dan berada disebuah lingkungan masyarakat dengan aturan, nilai dan norma didalam masyarakat tersebut, dapat hilang dan tergantikan. Beberapa aliran sesat menggunakan LSD untuk mempercepat proses replace and conformity ini. Merekapun dengan mudahnya bersandiwara dan menikmati peran masing-masing. Kehidupan ganda yang dijalankan semakin jelas ketika mereka tidak bersesuaian lagi dengan aturan dan hukum di dalam masyarakat dimana mereka berada.

Intermezzo:   Didalam ekspektasi Give and Get, sesuatu hal yang diberikan dan didapatkan akan ditentukan oleh pemimpinnya, Jim misalnya, dengan sebuah alasan yang masuk diakal. Akibat ekspektasi yang sudah dimanipulasi ini, hubungan antara pengikut aliran sesat dan pemimpinnya adalah hubungan yang logical. Jika mereka diberikan sebuah alasan, mereka akan segera menjelantahkannya menjadi suatu aksi. Logical tidak mengenal fisik, aksi tersebut tidak memandang bulu apakah terhadap orang dikenal atau tidak atau siapa orang tersebut. Akibat dari hubungan yang logical terhadap pemimpinnya ini, jiwa dan fisik pengikut aliran sesat seperti terpisah. Secara fisik mereka berada di dalam masyarakat, tapi secara jiwa, keyakinan pada mana yang benar dan salah dipegang oleh pemimpinnya. Inilah yang membuat para penganut aliran sesat ini secara fisik dimasyarakat, kalau dianalogikan, terlihat seperti pengendara mobil. Secara fisik, mereka mempunyai identitas masing-masing dengan tujuan lokasi yang berbeda-beda, dimana masyarakat harus menaruh kepercayaan kepada mereka, sehingga semua dapat melanjutkan kehidupan kesehariannya dalam sistem yang ada. Tapi secara jiwa, mereka dapat dianalogikan seperti ada didalam subway, bersama pengikut lainnya (yang secara fisik mungkin tidak berdekatan) dengan basis rivalry dan ketidaksesuaian dengan sistem yang ada. Pemisahan fisik dan jiwa inilah yang membuat mereka menjadi ringan mengambang ditengah masyarakat.  

Didalam masyarakat, tidak seorangpun mempunyai ekspektasi, bahwa orang yang mereka hadapi secara fisik adalah manifestasi dari keinginan dan perintah Manson/Jim/Shoko, yang dapat memaksa seseorang tersebut secara tidak langsung berurusan dengan Manson/Jim/Shoko. Hal ini menyebabkan secara tidak langsung Manson/Jim/Shoko telah merusak rasa kepercayaan antar individu, dan seperti yang sudah disebutkan diatas, kepercayaan adalah hal yang penting dalam bermasyarakat (analoginya, kepercayaan adalah modal utama pengendara mobil untuk sampai ke tujuan). Akibatnya bisa ditebak, keresahan masyarakat.  Hal ini terlihat ketika jiwa pengikut aliran sesat sudah dipegang oleh pemimpinnya, maka semua hubungan seperti perkawinan, kekeluargaan, profesi, pertemanan, kemasyarakatan, terreduksi nilainya menjadi hanya koneksi fisik. Jika diminta oleh pemimpinnya, seorang suami bisa menceraikan istrinya, teman mengucilkan teman lainnya, ilmuwan bisa menggunakan ilmunya untuk mencederai masyarakat, dsb.      

Nah, akibat dari pemisahan jiwa dari fisiknya inilah, maka para penganut aliran sesat pada suatu waktu dapat ditrigger (diaktivasi) jiwanya hanya dengan sebuah alasan untuk memangsa korbannya, dan ini dilakukan tanpa disadari masyarakat. Orang-orang ini, yang terkadang mempunyai tujuan yang sungguh mulia (baca: besar dan jangka panjang), tapi karena kewenangan tidak/belum dimiliki, mereka tidak/belum mampu membuat hal yang besar tersebut menjadi kenyataan. Merekapun akhirnya bisa menjustifikasi tindakan terhadap seseorang/sebagian kecil orang yang merupakan bagian dari sistem bermasalah sebagai "act of authority" mereka. Akibatnya, mereka mampu memandang seseorang/sebagian kecil orang adalah masalah tersebut, walaupun seseorang tersebut sangat tidak relevan untuk mewakilkan sistem yang bermasalah (MF). Makanya aliran sesat kebanyakan mempengaruhi anak muda dan pelajar yang masih belum punya kewenangan (AS, MF). Menurut gue, Shoko dan Manson berhasil menekan kemampuan dan keterampilan anak-anak muda tersebut yang bisa digunakan untuk kemaslahatan bersama dengan mengarahkan kepada kemampuan yang bisa menghancurkan manusia. Dengan manipulasi, orang seperti Shoko dan Manson bisa mengajarkan mereka untuk melakukan penyerobotan kewenangan dengan memasuki properti orang/umum dan tidak menghargai martabat orang lain. Bahkan bisa saja tindakan tersebut dilakukan kepada orang-orang yang dikenal atau dekat dengannya apabila pemimpinnya mulai meminta bentuk-bentuk pengorbanan tertentu (PT). 

Ketika sebuah kelompok dengan tujuan yang besar ini mempermasalahkan dan mempergunakan orang per orang sebagai bagian dari usahanya, dan bukannya menggunakan kewenangan dalam  memperbaiki sistem yang ada, disitulah bentuk pengorbanan (give&get) mulai dilakukan. Bahkan ketika sebuah kelompok mempunyai target seseorang/beberapa individu, maka bisa dikatakan mereka mulai memangsa (MF). Padahal, untuk para korbannya, menghadapi dan berhadap-hadapan dengan pengikut aliran sesat ini, sama saja seperti mobil yang berada di jalur hantu kereta subway super cepat, bukan tandingannya dan ga kelihatan kalau yang dihadepin tuh kereta, karena yang terlihat adalah sebuah mobil juga. Makanya, jarang aliran sesat dapat dihilangkan sebelum terjadi hal yang buruk dan masiv, bahkan setelah terjadi hal yang burukpun mereka masih susah untuk dibubarkan. Merekapun sulit terdeteksi karena yang berkaitan adalah jiwa mereka, bisa saja secara fisik mereka tidak terkait (AS).   

Rata-rata pemimpin aliran sesat sangat tidak konsisten, dan ketidakkonsistensian ini bisa terdeteksi pada para pengikutnya. Hanya dengan kaca pembesar, ketidakkonsitensian para pengikut aliran sesat ini terlihat melalui perkataan dan perbuatan mereka. Karena ibaratnya lipsync, mereka mengatakan dan melakukan hal yang persis sama dengan pemikiran dan perkataan pemimpinnya. Bahkan setiap perkataan dan perbuatan, dari pengikut yang loyal, adalah sebuah bagian dari puzzle yang apabila disusun dengan benar bisa menggambarkan sifat dan misi dari pemimpin aliran sesat tersebut, bahkan bisa menggambarkan sebuah blueprint pembantaian yang akan dilakukan. Gue aja harus menggali lebih jauh, dari rekam jejak masa lalu yang ada, apa saja perkataan mereka dan yang mereka lakukan (yang cukup nyeleneh menurut gue) untuk mendapat gambaran mengenai aliran sesat tersebut.

Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Ketika ego kelompok (ego pemimpinnya) semakin besar karena kepatuhan dari para pengikutnya, maka ego kelompok ini dapat diarahkan untuk menghancurkan ego individu dan individualisme dari orang-orang diluar kelompok tersebut, atau bahkan menghilangkannya sama sekali dengan menghilangkan nyawa individu diluar kelompok tersebut (MF & AS). Atau seperti yang terjadi pada PT dan HG, ego individu dan individualisme dari setiap anggota kelompok tersebut benar-benar dihilangkan dengan menghilangkan nyawa para pengikutnya. Hal tersebut biasanya dilakukan dengan tujuan menguji kesetiaan dari pengikutnya terhadap misi dari kelompok. Intimidasi dilakukan untuk orang-orang yang dianggap tidak setia dan tidak conform pada tujuan kelompok. Banyak aliran sesat terbukti memaksakan kehendak dan menahan orang diluar kehendak orang yang bersangkutan dengan ancaman, intimidasi dan gangguan-gangguan lainnya. Mereka bisa dengan sistematis atau perorangan melakukan tindakan tidak etis dan pelanggaran berat atau ringan terhadap seseorang. Nampaknya mereka tidak mengerti bahwa manusia bukan pembawa takdir, sehingga tidak bisa bicara atau menentukan takdir sembarangan. Bukan tugas manusia untuk menentukan takdir, tugas manusia hanya mengikuti ajaran dan petunjuk dari Yang Diatas.

Intermezzo: Proses membangun ekspektasi give and get ini kemudian dipakai untuk mengontrol ego mereka sekaligus mengontrol sistem tertutup yang mereka bangun (PT). Memberi dan menerima (Give and Get) dalam konteks ini akan membangun persepsi bahwa segala sesuatu adalah seperti properti yang bisa dipindahtangankan begitu saja kepada orang lain. Seakan-akan segala sesuatu adalah properti yang  bisa diberikan dan didapatkan. Perkataan seperti boleh, tidak boleh, bisa, tidak bisa  yang tidak berdasar sering dikatakan Jim yang merasa pengikutnya adalah propertinya. Nah, properti menurut persepsi kita adalah sesuatu yang bisa dimiliki, sehingga cara pemikiran dari aliran sesat ini tidak mengenal yang namanya amanah (titipan yang tidak bisa dimiliki oleh siapapun kecuali penciptanya), seperti bumi beserta isinya, anak dan istri (untuk yang pria). Karena konsep amanah tersebut hilang, akibatnya yang tidak dimilikipun (amanah/tanggung jawab) dapat diberikan dan didapatkan. Bahkan para pengikut aliran sesat ini menjadi ringan jalannya karena sudah bisa/boleh melepas beban (tanggung jawab) duniawi ketangan Jim. Dari faktor inilah pengrusakan dapat timbul termasuk pembunuhan dan bunuh diri.

Ketika Jim ingin melakukan eksekusi terhadap para pengikutnya, dengan loudspeaker Jim meminta anak-anak dulu untuk diikhlaskan oleh orang tuanya. Jim melihat bayi dan anak-anak adalah properti yang bisa dia ambil (get). Pada awalnya orang tua mereka merasa bahwa anak adalah properti mereka dan tidak bisa diambil oleh Jim. Tapi setelah dorongan dan bujukan dari Jim, akhirnya mereka menyerahkannya. Dari sini, terlihat Jim berhasil mereduksi segala sesuatu (bukan hanya individualisme dan materi saja) menjadi hanya properti (hak milik) yang bisa diserahkan dan diambil, dan bukan amanah yang mempunyai aturan dalam perlakuannya. Ketika mereka melihat teman, saudara, ortu, anak atau istri, atau dirinya sendiri terambil nyawanya, mereka terbiasa dengan ekspektasi give sehingga tidak melakukan apapun, pemberian adalah hal yang positif. Mereka pun positif berpikir akan mendapatkan (get) sesuatu sebagai pembalasannya (bisa berupa blessing, kemurnian, imortalitas dll). Padahal pembunuhan tersebut adalah pembunuhan masal dengan berdalih pengorbanan (PT), bad karma (AS, MF) dan imortalitas (HG). Hal ini pun menyadarkan kita bahwa jika amanah tidak terjaga, kita akan kehilangan what we don't have, semua titipan kita yang sebenarnya jauh lebih berharga daripada apa yang kita miliki (materi) AS dan MF bahkan berkeinginan menghancurkan dunia yang jelas bukan miliknya demi mewujudkan cita-cita kelompok mereka. AS mengambil nyawa pengikutnya sebagai cara untuk mengatur siapa yang keluar dan masuk dalam sistem tertutup mereka.       

Ketika seseorang melihat segala sesuatu sebagai properti yang bisa diberikan dan didapat, ekspektasi mereka adalah mereka bisa memberi dan mendapatkan sesuatu. Mereka pun menjadi aktif dalam menentukan takdir mereka sendiri karena faktor give and get ini yang langsung bisa terlihat hasilnya (makanya Jim selalu berusaha memenuhi kebutuhan para pengikutnya). Mereka menjadi terbiasa untuk aktif sebagai penentu takdir dimana pada akhirnya mereka pun bisa sangat aktif menentukan takdir orang lain diluar kewenangan mereka. Dan inilah yang dimanfaatkan oleh orang-orang perantara seperti Manson dan Jim. Mereka tahu para pengikutnya mengasumsikan apa yang mereka terima (get) berguna dan baik untuk orang lain, sehingga ekspektasi mereka terhadap orang lain adalah orang lain mau mengikuti apa yang mereka inginkan atau tuntutkan (give) agar semua bisa mendapat solusi bersama, walaupun hal tersebut diluar kewenangan mereka (pemaksaan kehendak). Tidak ada yang namanya menghargai antar sesamanya karena mereka menginginkan individualisme yang membatasi antar orang perorang hilang (disini konsep amanah menjadi hilang sama sekali akibat campur tangan orang-orang yang tidak berkepentingan).  Mereka pun bisa teraktifasi untuk mengambil dari orang lain akibat tujuan bersama tersebut. 

Makanya para pengikut aliran sesat adalah orang yang sangat egosentris, dimana dia tidak bisa memikirkan akibat perbuatannya terhadap orang lain selain sebuah alasan yang diberikan. Analogi permasalahan yang diakibatkan oleh pengikut aliran sesat ini adalah ketika terjadi kecelakaaan pada pengendara mobil. Dengan muka tidak bersalah mereka bisa mengatakan, "oh, kami tidak melakukan apa-apa kok terhadap dia, tidak ada yang menyuruh kami, andaikan kami melakukan sesuatu kepadanya, itu karena alasan yang menurut kami benar, dan alasan itu kan menyangkut (karena) dia juga,"  seperti yang terjadi pada MF. Selama ada alasan, perbuatan apapun bisa dimaklumi dan dianggap tidak ada, bahkan ketika kecelakaan mobil terjadi. Padahal kita harusnya tauk, alasan bukanlah hal yang cukup untuk melandaskan suatu perbuatan, setiap orang bisa dicari-cari alasannya yang sifatnya sangat subjektif.  

Pemaksaan kehendak inilah yang berbuntut pada apa yang dilakukan MF. MF cukup menakutkan. Pelakunya adalah perempuan-perempuan yang biasa kita temui sehari-hari, yang bisa tiba-tiba muncul di glodok, di kantin, di mall KG, dirumah (sbg sales), dipinggir jalan nunggu diangkut.... Bedanya, mereka nyetor mukanya sambil membawa misi dari pemimpinnya. Kalau tiba-tiba mereka nongol bukan karena kebetulan tapi karena perintah menyatroni si korban yang memang menjadi target operasi, ketika si korban sedang melakukan aktivitasnya, padahal si korban tidak punya urusan apapun dengan mereka dan tidak mengerti alasan mereka, apakah hal tersebut bukan teror namanya? Teror dengan maksud dan alasan yang bisa dibenarkan menurut mereka, yang dilakukan dengan wajah yang indah dan seperti tidak ada apa-apa (seperti dipersidangan mereka), hmmm! (dan tujuan mereka sebenarnya cuma mau survived dan ingin mengambil bagian dari sesuatu yang besar??) OMG, fitnah apa yang masuk ketelinga mereka dari orang-orang seperti Manson, sampai mereka bertindak sembrono mengganggu dan berusaha menyakiti orang seperti itu demi peace and love? Ketika ditanyapun mereka seperti batu, ngeyel dan nyangkal. Pantas dinegeri paman Sam, Charles Manson menjadi sangat terkenal, karena perempuan-perempuan ini mau mempunyai hubungan pribadi dengan Manson dengan menuruti perintahnya. Apa para Devil's Advocate ini sadar kalau mereka sebenarnya adalah juga korban? Bahkan jika pada akhirnya tujuan mulia dari Manson tercapai pun (unlikely), seharusnya mereka berpikir keadaan tersebut tidak dapat membenarkan perbuatan mereka yang sudah mereka lakukan.  

Gue rasa alasan kenapa Jim dan Manson membawa ekspektasi para pengikutnya menjadi Get and Give adalah karena memang ingin menyesatkan orang. Para pengikutnya diharapkan can't do the right thing, karenanya mereka hanya bisa memberi (seperti partisipasi, pengorbanan, pengucapan, memberitahukan, memperlihatkan, membayar, menghukum, menguji) dan menerima(seperti persetujuan, penyambutan, pengabulan, penyesuaian, penyimpulan) sesuatu sebagai hal yang positif dan mendapat pembenaran. Ketika ada seseorang ingin melakukan hal yang benar dengan mengkritisasi atau keluar dari kelompoknya, ekspektasi Give and Get ini pun yang dijadikan senjata dialogis. Mereka akan mempeributkan bahwa hal tersebut tidak beralasan. Semuanya mendapatkan (get) hal yang baik, tidak kurang suatu apapun (PT), dan bahwa seseorang tersebut mengkritisasi atau keluar karena tidak mendapatkan sesuatu hal (get) atau tidak mau memberikan (give) sesuatu (AS). Bisa jadi ketika seseorang akan dipermasalahkan, hal yang dikedepankan adalah karena seseorang tersebut tidak mau melakukan ini (give dalam bentuk partisipasi, pengucapan , dll) atau dia tidak mau mengambil itu (get dalam bentuk persetujuan, penyambutan, pengabulan, dll). Get and Give adalah sebuah ekspektasi yang mengorbankan individualisme dengan kendali ditangan pemimpinnya. 

Gue akan kasih contoh bagaimana ekspektasi Get and Give ini menjadi dialog dikehidupan. Didalam sebuah kelompok, karena sesuatu alasan, seseorang akan memberitahukan sesuatu hal atau memperlihatkan sesuatu hal (give) kepada temannya yang lain demi mengharapkan reaksi darinya, yaitu berupa persetujuan dan penyimpulan (get) dari temannya tersebut. Seseorang tersebut tidak akan peduli apakah sesuatu hal yang dia beritahukan atau dia perlihatkan adalah hal yang benar atau salah, atau bersumber darimana, atau apakah akan menimbulkan masalah dikemudian hari. Dia hanya peduli kalau dia sudah memberikan (give) sesuatu hal tersebut. Dia juga mengharapkan temannya tersebut tidak peduli bahwa hal yang dia katakan atau lakukan adalah salah atau benar, dia hanya menginginkan temannya menimbulkan reaksi penerimaan (get). Dan ini adalah salah satu cara untuk membuka pintu kesesatan, yang memanfaatkan jalur pertemanan dimana rasa percaya seharusnya ada.     
   
Kalau dalam konteks aliran sesat, contohnya adalah seperti yang terjadi pada PT. Setiap hari pengikut PT disuguhkan bentuk-bentuk seperti pemberitahuan (give) dimana pemberitahuan itu seperti menuntut persetujuan dari pengikutnya. Para pengikutnya hanya mendengarkan dari loudspeaker dan lanjut dengan pekerjaannya sehari-hari, sepertinya kegiatan keseharian mereka tersebut merupakan bentuk persetujuan (get) mereka dengan apa yang dikatakan Jim. Para pengikutnya hanya melihat bentuk give and get ini (berupa pemberitahuan dan persetujuan), dan tidak mampu melihat sebuah permasalahan karena mereka sudah tidak ada ekspektasi lain lagi didalam hidupnya. Tapi, tidak peduli apakah pengikutnya setuju atau tidak, Jim akan terus melantunkan hal persetujuan yang sama. Terus menerus (get dan give ini) atas hal yang sama sampai saat tiba menjelang kematian. Malah gue lihat ini sebagai tanda-tanda kematian, karena Jim terus menerus mengulangi pernyataan dan pemberitahuan hal yang sama, bahkan ketika dia sudah tidak peduli akan reaksi pengikutnya. Gue tidak tahu apa tindakan yang mengulang dan mengulang terus hal yang sama tanpa perlu mengetahui reaksi atau sambutannya, adalah salah satu tindakan yang akan mengarah ke pembunuhan sadistis. Tapi memang kalau di cerita MF, salah satu perempuannya terus-menerus mengulang menikam korban walaupun korbannya sudah tidak bereaksi lagi, seakan-akan perempuan ini sudah ketagihan sampai tidak melihat kondisi lagi. Freaky! Jadi, apakah kegiatan pengucapan, pemberitahuan, memperlihatkan, dsb yang berulang-ulang atas suatu hal tanpa peduli apa reaksi dari si korban akan hal tersebut, adalah tindakan sadis yang dapat ditujukan kepada seseorang? Ga tauk deh, soalnya gue bukan expert sih. 

Tapi, jujur saja, untuk pengikut aliran sesat ini, sebenarnya jika mereka berani untuk menentukan nasibnya sendiri, mereka tidak perlu mempeributkan dan mempermasalahkan nasib dan takdir orang lain dengan mengharapkan orang lain melakukan Get and Give ini.    


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs! Para pemimpin aliran sesat biasanya adalah orang yang narsis dan psikopat, seorang megalomania yang mampu memanipulasi orang, mengelabui orang dengan menutupi tujuan mereka sebenarnya. Dengan egonya yang besar mereka mampu memandang pengikutnya seperti properti yang bisa dipermainkan takdirnya (Jim). Di dalam Islam hal ini sama dengan perbudakan. Coba baca makalah berikut mengenai perbudakan. Para pemimpin aliran sesat adalah seorang Mastermind seperti Shoko yang berusaha  mengalihkan dosa seluruh dunia ketangannya, yang mungkin bisa berarti dia ingin menguasai dunia atas apa yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan.         

Intermezzo: Faktor kepemimpinan sangat kuat pada aliran sesat ini, walaupun terkadang tidak ada link yang visible antara pemimpin dengan pengikutnya seperti di MF. Jika pemimpinnya tidak ada maka hilanglah tujuan yang dibawa pemimpinnya. Sepertinya Jim sadar akan hal tersebut, sehingga mengambil langkah yang dramatis. Karena sama seperti laju subway, pemimpin aliran sesat ini tidak mempunyai rasa bersalah atas perbuatan mereka, mereka akan maju terus membawa jemaahnya sampai tujuan tercapai, seperti seorang Jim. Karena disitulah arti tanggung-jawab seorang Jim yang sesungguhnya, mencapai tujuan. Dan bukannya tanggung-jawab atas segala perbuatannya seperti keyakinan di agama kita yang kemudian bisa memaksanya untuk berhenti.          


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Para pemimpinnya bisa mengangkat keadaan dan kondisi dari para pengikutnya dengan penghilangan resiko dan pemberian kepastian dalam menjalani kehidupan (PT), meditasi (AS), janji masa depan dengan dunia yang baru (HG & AS) dan LSD (AS & MF), sehingga mempengaruhi gaya hidup dari pengikutnya. Mereka mengasuh seakan-akan pengikutnya anak kecil yang harus didikte dan diberikan jalan kemana harus melangkah dengan alih-alih rasa keamanan, kemakmuran, cinta, perdamaian dll.

Intermezzo: Faktor kehati-hatian dari pengikutnya bisa hilang karena kepercayaan yang kuat pada pemimpinnya. Kalau berdasarkan analogi mobil-subway diatas, pengendara mobil bisa melakukan hal yang salah, tapi adalah tanggung jawabnya ketika terjadi kesalahan, makanya dia menjadi lebih hati-hati. Tapi kalau pengguna subway, mereka merasa tidak melakukan kesalahan karena faktor kebersamaan (tujuan bersama) dan kepercayaan bahwa pemimpinnya adalah benar. Padahal hal tersebut bisa fatal kalau tidak ada alur tanggung-jawabnya yang jelas seperti di MF atau mempunyai tujuan yang tersembunyi seperti di PT. Ketika mereka terbiasa mendengar yang baik-baik maka akan mudah baginya menerima yang buruk sebagai sebuah kebaikan. (Ibaratnya orang kalau sudah dibilangin yang bagus-bagus mengenai dirinya, maka akan susah dia untuk tidak mendengarkan yang jelek-jelek mengenai orang lain.) Para pengikut aliran sesat sebenarnya tidak mempunyai sokongan yang kuat seperti sangkaan mereka. Sokongan atau tiang tersebut sebenarnya hanya delusi yang dibangun oleh para pemimpin aliran sesat ini, dengan memaksimalkan ego para pengikutnya. Sokongan atau tiang yang dibangun dengan fondasi pemenuhan dan pemaksimalan ego tentunya bukan sokongan yang kuat. 

Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Para pemimpin aliran sesat ini, secara implisit (MF, AS, PT) atau terang-terangan (HG), secara langsung atau tidak langsung, menghendaki pengikutnya untuk membenci kehidupan dan dunia yang sekarang. MF misalnya, dengan gaya hidup ala hippie yang tanpa beban sangat mencintai kehidupan yang mereka jalani, tapi mereka sanggup merusaknya dengan teror dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap korban-korban mereka, sehingga mereka harus menanggung akibatnya sepanjang hidup mereka. Sedangkan AS bercita-cita mewujudkan Armageddon dan menghancurkan dunia. PT yang selalu mengumandangkan persamaan dan hak individu, kedamaian dan kemakmuran malah menciptakan sebuah sistem kecil seperti surga bagi para pengikutnya sebagai simbol ketidak sesuaian mereka dengan sistem. Sama sekali bukan solusi atas permasalahan yang selalu mereka dengungkan, karena mereka hanya aktif menolong dan mengisolasi korban permasalahan tanpa pernah menyentuh permasalahan tersebut lewat otoritas/kewenangan yang berlaku atau yang mereka miliki. Pada akhirnya mereka malah menciptakan ceruk pelarian dari sistem yang ada, dimana Jim harus mempertahankan kondisi bahagia didalamnya dengan memperlakukannya sebagai sistem yang tertutup (Ga heran kalau pengikutnya dikontrol pemikirannya, agar sistem kecil tersebut bisa lebih stabil). Cara mempertahankan kondisi stabil inilah yang menurut gue malah bisa membiakkan praktek-praktek tersamar seperti pencucian uang yang justru merupakan masalah dari sistem yang lebih besar. (Ada yang heran bagaimana Jim mendanai para penembak bayaran beserta persenjataannya? Ironi bukan ketika uang yang digerakkan oleh para pengikut aliran sesat tersebut digunakan untuk pembunuhan masal dimana mereka adalah juga korbannya?) 

Intermezzo: Yang termasuk secara langsung dalam membenci kehidupan adalah ketika pengikut aliran sesat dapat secara pasif (pembenaran) atau aktif (perlakuan) menyikapi persepsi mereka akan sesuatu yang benar dan adil dengan merusak, menghilangkan, meneror kepada para korbannya. Sementara yang tidak langsung adalah ketika mereka menjadi rivalry dari sistem yang ada, misalnya dengan pencucian uang, dimana hal tersebut adalah hal yang berbahaya apalagi dengan kemajuan teknologi sekarang ini. Fasilitas pemusnah masal yang dibangun dua puluh tahun yang lalu tidak akan bisa secanggih apabila dibangun saat sekarang, yang tentunya akan memakan korban jauh lebih banyak. 


Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Gue cukup heran ketika ternyata aliran-aliran sesat ini berhasil membangun mekanisme penghancur masal yang sistematis tanpa ketahuan masyarakat dan para pengikutnya. AS misalnya, membangun fasilitas penghancur masal berupa pabrik gas sarin dan mungkin fasilitas lainnya. PT menyewa para pembunuh bayaran dengan persenjataan untuk menghabisi para pengikutnya. MF berhasil menciptakan mesin pembunuh berwujud perempuan-perempuan cantik. Sementara HG juga menciptakan mekanisme bunuh diri bagi para pengikutnya.

Intermezzo: Terkadang para pemimpin aliran sesat ini menggunakan layering dalam menuntaskan aksi mereka sehingga tidak ada alur tanggung jawab yang jelas serta dapat tidak ketahuan oleh pengikutnya maupun masyarakat.  Para pengikutnya bisa tidak mengetahui bahaya yang mengancam dan tidak sadar bahwa mereka hanya dimanipulasi. Karena adanya layering inilah, proses Give and Get dapat berbahaya, karena sebagai bentuk persetujuan (give) mereka bisa melakukan sebuah tindakan atau perlakuan yang mungkin tidak berbahaya, tapi akan mengarahkan seseorang atau orang banyak pada kondisi dimana layer berikutnya akan melakukan eksekusi.    
Bahkan ketika ada permasalahan yang nampak, ekspektasi mereka masih memberi dan mendapatkan sesuatu, sehingga, selama mereka masih bisa memberi dan mendapatkan sesuatu hal (terjebak dalam putaran dialogis give and get), tidak akan ada yang peduli mengenai keanehan dan pelanggaran yang dilakukan. 

Kesadaran masyarakat akan berbahayanya aliran sesat memang terkadang terlambat, setelah ada kejadian yang signifikan dan masiv barulah kita sadar akan apa yang dapat terjadi. Walaupun kemungkinan sudah banyak korbannya, tapi karena tidak signifikan atau tidak terdeteksi sehingga masyarakat lengah dan aliran sesat tersebut masih bisa melancarkan aksinya (AS). Para pengikutnya pun berpikir korbannya sangat tidak signifikan kalau dibandingkan dengan tujuan yang akan dicapai. Padahal, harusnya bukan korbannya yang menjadi tolak ukur karena bukan disitu masalahnya, tapi berapa banyak jumlah pengikutnya dan kemampuan mereka dalam melancarkan aksi. Ingat bahwa pengikut adalah juga korban, dimana mereka adalah orang-orang yang dapat menyalahi/disalahi takdirnya karena semua langkahnya ditentukan oleh pemimpinnya. Pembunuhan dan bunuh diri adalah klimaks dalam manusia menyalahi takdir mereka.

Dari beberapa literatur barat yang gue baca, gue bisa ambil kesimpulan bahwa perbedaan antara orang barat dan timur dalam memandang penyebab bunuh diri adalah orang barat melakukannya karena mereka ingin takdir kematian adalah merupakan keputusannya sendiri, sebuah pernyataan dan pembuktian diri bahwa adalah hak mereka dalam menentukan kematiannya sendiri (pembangkangan terhadap Tuhan). Sedangkan orang timur melakukannya karena putus asa, karena hidupnya tidak punya harapan/berharga lagi atau mereka lebih berharga jika mereka mati.

Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!  Sebenarnya gue ga mau ngebahas soal psikologi disini, soalnya gue rasa yang menjadi faktor kunci dari aliran sesat ini adalah faktor manipulasi kepada para pengikutnya dan bukan psikologi para pengikutnya. Psikologi adalah sifat yang diberikan oleh Tuhan YME kepada masing-masing individu, sehingga tidak seharusnya kita utak-atik dan dipermasalahkan. Tapi karena psikologi tersebut sekarang dapat di"create" dan bisa saja bukan sifat alami dari si pengikut tersebut, jadi gue putuskan untuk membahasnya saja. Beberapa dari pengikut aliran sesat ini mempunyai kecenderungan sebagai orang yang anti sosial. Anti sosial bukan berarti tidak mau bersosialisasi dan penyendiri. Banyak orang-orang anti sosial yang malah aktif dan hidup berkelompok seperti pada MF dan AS. Anti sosial (mengutip dari salah satu acara di channel TV)  adalah suatu sifat dimana seseorang melakukan sesuatu hal yang tidak menghargai perasaan orang lain, tidak mengikuti aturan dan hukum yang berlaku, tidak menghargai kemakmuran dan kesejahteraan orang lain. Anti sosial bahkan tidak memperlihatkan penyesalan akan apa yang dilakukan atau bahkan berbohong. Mereka tidak berhati-hati dan sembrono pada keamanan orang lain, serta membengkokkan realitas dan melakukan hal yang ekstrem untuk menghindari tanggung jawab. Para pengikut aliran sesat ini juga kebanyakan orang-orang yang delusional karena tidak mendasarkan perbuatan dan keputusannya pada suatu hal yang benar yaitu yang memiliki dasar dan referensi yang jelas seperti ajaran dan aturan yang ada. Mereka malah mengikuti perkataan dari pemimpin aliran sesat ini. Para pengikut aliran sesat ini juga gagal dalam melihat proses sebab akibat yang nyata dari sebuah tindakan karena impian dan tujuan jangka panjang yang dibenamkan oleh pemimpin kelompok tersebut.

Intermezzo: Kalau di agama gue, niat adalah yang mendahului perbuatan. Sehingga ketika mengucapkan niat, disebutkan dulu perbuatannya (immediate action). Hal ini membuat kita sadar apa yang akan dilakukan. Kalau kita menggunakan tujuan, kita ga perlu mendahuluinya dengan menyatakan apa perbuatan kita sehingga akan terjadi banyak penyimpangan disitu. 


Terkadang pembunuhan dapat dijelaskan dengan hukum sebab-akibat, tapi ada pula yang tidak. Pembunuhan yang terjadi pada pengikut aliran sesat hampir mirip dengan yang terjadi pada pembunuhan oleh Serial killer. Serial killer hanya bisa dijelaskan menggunakan ilmu psikologi, ketika kondisi psikis seseorang adalah pusat dari segalanya. Serial killer sangat pintar menyembunyikan emosinya dan mungkin tidak mempunyai emosi walaupun sudah melakukan tindakan yang tidak manusiawi. Serial killer tidak tampak amarah, tidak ada rasa bersalah, tidak ada ketakutan dan biasanya sangat pintar untuk berbaur dan menyamarkan tindakannya dan memalsukan identitasnya. Ketika ada kondisi yang seharusnya menimbulkan kekesalan pada dirinya, dia tidak akan tampak gusar, bahkan cenderung tenang dan tidak mendendam. Ketenangan seperti itu adalah hal yang baik ketika kesabaran yang menjadi alasannya (orang yang sabar tetap punya kesadaran bahwa hal tersebut adalah hal yang salah, dan sesuatu harus dilakukan terhadap hal yang salah tersebut dengan tidak melanggar aturan). Tapi tidak ketika ketenangan disebabkan karena tidak adanya emosi dan tidak adanya kesadaran (hal ini dibuktikan dengan tidak adanya aksi lanjutan terhadap penyebab kondisi tersebut karena dia menganggap hal yang terjadi pada dirinya adalah bukan hal yang salah dan hal yang bisa dimaklumi). Pemakluman dapat menimbulkan mati rasa, karena kemudian dia belajar mengacuhkan, menghilangkan kesadaran bahwa hal tersebut seharusnya menimbulkan emosi (tidak ada memori untuk emosi). Masalahnya kemudian, dia dapat melakukan perbuatan yang sama terhadap orang lain, tanpa melibatkan emosi pada dirinya karena tidak adanya memori bahwa perbuatan seperti itu dapat mengesalkan, atau kesadaran bahwa perbuatan tersebut adalah hal yang salah. Makanya serial killer dapat terus melakukan aksinya karena memang perbuatannya tidak didasarkan pada dendam terhadap orang tertentu, bahkan mungkin didasarkan pada kesenangan dan pencapaian yang dia dapat setelah melakukan aksi tersebut. Psikis manusia yang demikian bisa berbahaya ketika dia melakukan aksi sendiri, apalagi ketika ada orang yang mampu memanipulasinya. Apabila ada orang yang bisa memanfaatkannya, seperti misalnya dia berada dalam kelompok aliran tertentu dimana kepatuhan dan kesetiaan dijunjung tinggi, perbuatan yang dia lakukan akan dapat diarahkan dan ditujukan untuk kepentingan pemimpin dari kelompok aliran tersebut. Atau mungkin saja aliran tersebut memang menciptakan orang-orang dengan kepribadian dengan emosi yang terkontrol tersebut untuk mencapai misinya.




Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs!  
Kesetiaan dan ketaatan (devotion) pada aliran sesat dilakukan dengan perbuatan-perbuatan yang bisa melanggar kode etik, tata-tertib, membahayakan keselamatan, atau melakukan hal yang tidak wajar. Seperti yang terlihat pada apa yang dilakukan oleh pengikut Shoko, mereka mengenakan helm yang bertujuan mensinkronisasi pikiran mereka dengan pemimpinnya, yang tentunya terlihat tidak wajar. Atau ketika mereka menempuh resiko menguji kemampuan mereka sampai kebatas maksimum dengan mengunci diri mereka di ruang bawah tanah tanpa makan dan membahayakan keselamatan diri mereka sendiri. Pada PT, pekerjaan sehari-hari yang dilakukan pengikutnya, bahkan bisa menjadi tanda kesetiaan pada pemimpinnya ketika mereka mengerjakannya demi berada didalam kelompok tersebut. Dalam kondisi dimana faktor eksternal dan internal terjaga sedemikian rupa sehingga beban resiko pengikutnya menjadi minimum, kesetiaan dan ketaatan akan dituntut untuk maksimum sehingga menyangkut segala aspek kehidupan dan penghidupan dari pengikutnya. Nah, yang maksimum inilah yang dapat menjelma menjadi hal yang extreme seperti terlihat pada PT.       


Intermezzo: Devotion pada aliran sesat tidak memakai nalar, reasoning yang digunakan dalam melakukan tindakan devotion tidak masuk akal dan tidak berhubungan sama sekali. Bahkan lebih extremenya terkadang malah tidak dibutuhkan reasoning sama sekali, mereka melakukannya hanya karena diperintah melakukannya. Pada aliran sesat, semakin loyal dan devoted mereka, maka mereka akan semakin berbahaya. Mereka tidak menggunakan karunia mereka, yaitu akal pikirannya sebagai bekal dalam menghadapi dunia diluar sana, sehingga membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain. Mereka percaya bahwa semua langkah mereka adalah benar karena manifestasi dari keinginan Tuhan YME. Devotion pada aliran sesat menggunakan tindakan Give and Get, sehingga faktor pengorbanan sangat melekat pada tindakan devotion. Mereka mendera dan menyakiti (give) dirinya sendiri atau orang lain, agar dirinya atau orang lain mendapat kesucian dan kemurnian (get). Bagaimana bisa, supaya orang sadar akan berkah kehidupan (get) yang diterimanya maka harus dilakukan dengan tindakan yang mempertaruhkan resiko keselamatan (give) dirinya atau orang lain tanpa dasar yang jelas. Benarkah menaruh orang didalam air dengan resiko maksimum dan menantang maut agar dirinya dapat merasa bahwa hidup adalah sebuah berkah (AS)? Menyadarkan manusia bahwa kita sudah diberi kesempatan hidup dan harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya? Menguji (give) kehidupan seseorang atau diri sendiri, dengan sengaja mengundang maut dan membuka pintu resiko sebesar-besarnya, bukankah hal tersebut adalah percobaan pembunuhan? Benarkah tindakan merusak ketentraman orang lain, mengganggu kegiatan kesehariannya, merampas haknya, untuk alasan agar orang lain tersebut mendapat berkah? Menguji kehidupan dengan cara demikian berarti kita menguji berkah dan rahmat Tuhan YME, yaitu kehidupan itu sendiri, dan menguji ciptaan Tuhan, inikah tanda terima kasih kita kepada Tuhan YME? Secara logika, nurani dan ajaran agama saja hal tersebut menimbulkan pertentangan, cuma orang-orang yang mati rasa dan akal yang bisa melakukan hal yang demikian. Itulah makanya gue mengatakan bahwa dalam ekspektasi Give and Get ini, orang tidak bisa melakukan hal yang benar.        





Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs! 
Pengikut aliran sesat terkadang membuat koneksi yang tidak rasional akan satu hal dengan hal yang lain. Seperti pada MF, bagaimana tindakan intimidasi dan pembunuhan brutal yang mereka lakukan dapat menjadi satu langkah untuk memenuhi keinginan menjadi survivor dan menjadi bagian sebuah kejadian yang besar? Ketika pembunuhan beruntun terjadi, polisi California sempat cuek dengan adanya rekam jejak dari hubungan yang tidak rasional tersebut pada TKP, sehingga memperlambat penyelidikan. Pola hubungan yang tidak rasional memang terkadang menjadi trademark aliran sesat. Contohnya saja, aliran sesat dapat memanfaatkan rasa kekeluargaan diantara para pengikutnya. Tujuannya agar tercipta lingkungan positif untuk melakukan manipulasi dan menimbulkan rasa saling percaya. Selain itu sistem kekeluargaan juga dapat memudahkan kita untuk melepas kontrol diri dan menjadi pengikut yang setia. Dilingkungan keluarga, banyak tindakan negatif, seperti saling memanipulasi, berbohong, bertengkar, adalah hal yang diabaikan (setidaknya perspektif kita mengatakan demikian).  Tapi disinilah masalahnya, hubungan kekeluargaan yang dibangun, menjadi sebuah koneksi yang tidak rasional ketika sebenarnya satu sama lainnya tidak mempunyai garis keluarga sama sekali. Sehingga, tindakan-tindakan negatif seperti yang disebutkan diatas, tidak seharusnya dianggap dapat diabaikan, melainkan sesuatu yang serius yang bisa menimbulkan konsekuensi negatif.  Yang kemudian lebih aneh lagi adalah ketika mereka lebih mempercayai Jim dan malah melihat kerabat dan teman sebagai orang yang harus diawasi, dicurigai dan bahkan dikhianati. Gue rasa sistem kekeluargaan yang dibangun oleh aliran sesat ini juga mempercepat penghilangan konsep amanah yang sesungguhnya karena mereka berpikir mengenai semua dapat menjadi amanah bersama, semua bisa campur tangan karena menjadi tanggung jawab bersama. Padahal jelas agama dan negara sangat ketat dalam pengaturan penentuan siapa yang berhak dalam memegang amanah/tanggung jawab atas seseorang atau sesuatu.

Intermezzo: Sensitivitas terhadap ketidakkonsistensian dapat menjadi filter dari pengaruh aliran sesat tersebut apabila kita berada dalam sebuah kelompok. Misalnya saja, untuk sebuah tujuan yang besar (MF), bagaimana mungkin pemikiran seperti anak kecil yang dengan mudahnya dikendalikan dan ga mengerti aturan dapat memenuhi tujuan tersebut. Contoh lainnya adalah pengujian loyalitas kepada kelompok, yang dilakukan dengan menyerahkan, mengkhianati, menyakiti, sesama manusia dengan melanggar hukum dan ajaran yang ada. Padahal kalau mau ditelaah lebih jauh, hal tersebut berarti mereka mencederai arti sesungguhnya dari loyalitas itu sendiri (terhadap sesama atau ajaran dan hukum yang ada). Lalu kemudian dengan loyalitas yang sudah terbukti "broken" dan "meaningless"  tersebut mereka mempercayai dan loyal pada pemimpinnya (dan berharap bahwa kata loyal tersebut tidak "broken"). Hal tersebut sangat tidak rasional dan tidak konsisten. Contoh lain lagi adalah ketika mereka melakukan perbuatan dan perkataan yang menghukum dan menindak seseorang atas sebuah permasalahan, tapi pada kenyatannya mereka ternyata membela orang yang benar-benar bersalah seperti Manson. Sebenarnya, pergerakan ini tidak peduli dengan apa yang terjadi pada korbannya (terbukti pada apa yang memang terjadi terhadap para korbannya). Tapi, mereka mendasarkan pergerakan tersebut pada rasa kepedulian antar sesama. Tidak konsisten bukan? Gue tidak tahu apakah para korbannya diberi tahu alasan perlakuan mereka, kenapa mereka membunuh korbannya. Tapi mungkin saja mereka berasumsi bahwa tidak diberitahupun harusnya para korban bisa tahu sendiri (Bleh, padahal para pengikut Manson ini pun tidak "bisa tahu sendiri" alias harus diberitahu dulu siapa yang menjadi korbannya dan apa yang harus dilakukan).  

Ketidakkonsistensian ini juga bisa terlihat dari motivasi mereka. Motivasi dari pengikut aliran sesat ini sebenarnya agar tetap bisa eksis (MF), tapi secara bersamaan mereka sudah diambil alih kendalinya oleh orang-orang seperti Manson (secara jiwa sudah tidak eksis lagi). Kalau di PT, bagaimana mereka bisa mempertahankan eksistensi ajaran mereka, ketika sebegitu banyak orang tapi tidak ada satupun yang mau/bisa melakukan hal yang benar menurut ajarannya, akan sebuah peristiwa, yang akhirnya menjadi sebuah tragedi.    






Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs! 
Manusia adalah makhluk sosial. Mereka akan berada di suatu kelompok yang cukup besar untuk pemenuhan kebutuhan ego mereka, tapi cukup kecil sehingga tidak membatasi dan mengalahkan ego mereka. Orang-orang yang sangat egosentris terkadang merasa tidak akan bisa mempunyai kedudukan yang bagus dengan konsep yang terlalu besar atau terlalu kecil (relatif terhadap individu tersebut). Orang-orang seperti Manson dan Jim tahu benar mengenai hal tersebut, sehingga mereka memanfaatkannya untuk membuat ceruk kecil mereka.

Intermezzo: Gue rasa orang-orang seperti Shoko/Jim/Manson sangat pintar memilih siapa-siapa saja yang masuk dalam kelompok mereka. Walaupun kelompok tersebut terkesan terbuka (ada video perempuan penyebar kopian di kampus, yang berarti kelompok mereka terbuka menerima siapa saja) tapi gue rasa ada mekanisme yang mengatur siapa yang masuk dan siapa yang keluar. Kemungkinan mereka sudah mempertimbangkan faktor psikologis dan/atau fisik dari para pengikutnya supaya kelompok mereka lebih terkendali. Ingat bahwa para pemimpin aliran sesat ini sangat narsis dan psikopat, mereka akan berusaha supaya kendali ada ditangan.

Mungkin kita sudah banyak mengenal kelompok-kelompok kecil dalam masyarakat, kelompok yang anggotanya adalah para dokter ahli misalnya, atau kelompok penghobi fotografi misalnya. Kelompok tersebut jelas dan kasat mata apa yang menjadi tujuan, aksi dan gerakan mereka serta apa yang mengelompokkan mereka (keterampilan atau keahlian mereka). Terkadang kita juga mengenal kelompok kejahatan seperti geng motor yang bringas atau kelompok preman wilayah tertentu, mereka  juga berkelompok untuk menentukan aturan main mereka (karena kejahatan memang tidak mempunyai aturan main yang tertulis). Tapi, kelompok yang didasarkan pada pertimbangan logis yang menuju kearah hal yang baik harusnya bisa lebih berhati-hati, karena arah yang baik tersebut sebenarnya sudah didefinisikan dengan jelas didalam aturan negara dan agama. Jangan sampai hanya untuk terdiferensiasi dengan yang lain, sebuah kelompok malah keluar dari apa yang sudah didefinisikan secara umum, dan mendefinisikan perubahan dari aturan negara dan agama untuk arah yang lebih baik. Istilahnya "overpowering" dari yang sudah ada, apalagi kalau menyangkut aliran sesat, ajaran agamanya yang akan di"overclock". Ditambah lagi, pemimpin aliran sesat ini biasanya menggunakan psikologi untuk memanipulasi orang, yang berarti kelompok yang dibentuk mempunyai karakter psikologis yang sama. Homogenitas kejiwaan...terdengar mengerikan!

Off the record nih, karakter kejiwaan terkadang juga bisa dikelompokkan dengan  menggunakan persepsi, terutama atas kondisi fisik manusia. Kalau untuk mempertontonkan pencapaian sebuah keberhasilan, harus membawa-bawa faktor kesamaan fisik pasti lebih terlihat lucunya daripada meyakinkan,  karena kayak gitu tuh ga ada hubungannya. Apa ga lucu kalau melihat yang seperti ini: Kami kelompok dengan tampang jelek tapi bisa sangat hebat, atau kami kelompok dengan wajah persentil 80% keatas yang mempunyai masa depan cerah. Bahkan menyatakan "kami bertampang jelek(atau cakep) tapi bisa hebat" saja sudah termasuk persetujuan terhadap penilaian fisik mereka, apalagi kalau sekelompok orang menyatakan hal yang seperti itu. Kalau gue boleh punya saran untuk yang muda-muda, jangan mau dipertontonkan karena kesamaan fisik, betapapun hebat dan memujinya alasan yang disampaikan (kecuali kelompok binaragawan atau foto model yang memang dituntut untuk dinilai secara fisik). Kesesatan memang menggunakan karakter manusia yang merupakan anugrah Tuhan seperti psikologi dan fisik untuk mengelompokkannya. Egoisme yang merendahkan ciptaan Tuhan yang beragam      


Kebanyakan para pengikut aliran sesat merasa nyaman dengan kelompok kecil yang mereka buat, sehingga terkadang mereka lupa bahwa ada sistem yang lebih besar lagi yaitu sistem dimana mereka berada dengan segala kemajuan dan pergerakannya. Tidak mungkin mereka bergerak maju tanpa memperhitungkan gerak langkah sistem diluar mereka. Tapi itulah yang terjadi pada para pengikut PT. Mereka gagal memperhitungkan bahwa walaupun mereka merasa lebih makmur dan sejahtera dari sistem luar yang dulu menaungi mereka, tapi aspek-aspek kehidupan yang berkembang di sistem luar tersebut jauh lebih kompleks dan canggih, dan akan selalu terkait dengan sistem kecil yang mereka bangun, karena mereka masih menjadi bagian dari sistem yang lebih besar tersebut. Dan ketika Jim adalah satu-satunya orang dalam kelompok tersebut yang berinteraksi dengan sistem luar, masalah pun timbul karena Jim mempunyai tujuan yang terselubung.      



Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs!  Di negara kita, kebebasan berkelompok, mengeluarkan pikiran dan berpendapat diamanatkan dalam Undang-undang. Tapi didalam undang-undang itu tidak ada yang namanya kebebasan bertindak, karena tindakan(perkataan, perbuatan, perlakuan) ada aturan lain yang mengaturnya. Nah, tindakan yang dilakukan oleh kelompok aliran sesat biasanya adalah tindakan yang tidak punya landasan hukumnya, baik agama maupun negara. Bahkan yang sulit adalah, terkadang tindakan mereka tidak dapat dilacak karena tindakan tersebut ada di wilayah abu-abu kalau dilihat dari hukum negara (mungkin kalau menggunakan hukum agama bisa dijelaskan). Karena yang dilanggar adalah hukum agama, makanya terkadang aliran sesat dapat lolos begitu saja dari pantauan masyarakat. Mereka tidak terlalu meresahkan dibandingkan maling ayam misalnya, karena yang digerogoti adalah ajaran agamanya yang tidak bisa dijelaskan oleh hukum negara. Palingan kita cuma punya feeling "wah ini pasti aliran sesat nih, abisnya tindakannya cuma berdasarkan informasi dan alasan dari pemimpinnya, melanggar ajaran agama pula" tapi tetap ga bisa berbuat apa-apa. Lagipula, bagaimana membuktikan kalau aliran sesat tersebut akan berakhir mengerikan seperti di PT atau MF? Makanya, membubarkan sebuah kelompok yang dianggap sesat adalah hal sulit dan tidak bisa sembarangan, mereka menggunakan agama sebagai pintu masuknya tapi menggunakan hukum negara sebagai celah untuk berkembang-biak.

Intermezzo: Menghentikan pergerakan dari aliran sesat cukup sulit, terbukti banyak aliran sesat masih ada sampai saat ini, walaupun pemimpinnya udah ga ada sekalipun. Hal tersebut karena jiwa pemimpin tersebut masih dipegang kuat oleh pengikutnya dan masih terus hadir ditengah masyarakat. 

Di era demokrasi tentunya kita lebih berharap kepada masing-masing individunya untuk bisa lebih mandiri dan mempunyai kemampuan dalam mengambil keputusan, karena mereka mempunyai kebebasan yang lebih daripada ketika mereka mempunyai sistem kediktatoran. Tapi, kebebasan apabila tidak terjaga dapat menimbulkan malapetaka melalui orang-orang seperti Manson/Jim/Shoko yang pintar dengan trik manipulasinya. Ketika negara tidak bisa menyentuh kelompok aliran sesat, agama bisa, dengan semua sensitivitas yang dimiliki, kita bisa melihat apa perbuatan mereka sesat atau tidak. Tapi agama kembali pada masing-masing individunya, dimana terkadang merekapun tidak sadar kalau agamanya sedang disenggol-senggol. Pembentukan opini disebuah kelompok aliran tertentu misalnya, kalau kita tidak kritis melihatnya dari segi agama, maka opini tersebut bisa dipakai sebagai bumerang terhadap agama itu sendiri. 



Click here for more graphics and gifs!

Click here for more graphics and gifs!Click here for more graphics and gifs! Gue tidak membahas aliran sesat yang mengarah ke aliran setan disini. Tapi dikehidupan nyata, aliran sesat selalu dapat mengarah ke bentuk-bentuk pemujaan setan karena mereka memakai metode yang hampir sama dengan aliran setan, ada pengikut, perantara dan ada pengorbanan. Tindakan memberi dan mendapatkan  (Give and Get) pada aliran sesat merupakan salah satu bentuk pengorbanan, dimana ada yang mengorbankan atau ada yang dikorbankan. Sedangkan, pengorbanan pada aliran setan lebih kearah persembahan, dimana persembahan tersebut bertujuan memanggil roh atau jin untuk membantunya melakukan sesuatu. Walaupun begitu, terkadang aliran sesat juga bisa mengarah kepada pengorbanan untuk memanggil setan dengan melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agamanya, yaitu dengan melakukan dosa besar seperti syirik, munafik, riya, fitnah dan pembunuhan atau bunuh diri, dengan perantara seperti Jim/Manson/Shoko. Sebagai ilustrasinya, ketika Jim menyuruh pengikutnya melakukan bunuh diri atau pembunuhan, sebenarnya dia menyuruh pengikutnya untuk berpihak pada musuh abadi manusia, yaitu iblis dan setan. Bahkan terkadang yang bukan dosa pun seperti menceraikan istri, akan menjadi dosa besar ketika hal tersebut dilakukan atas perintah Jim yang dilakukan demi menjaga keamanan dan ketentaraman didalam aliran sesat tersebut. Dualisme yang dibangun oleh aliran sesat, dimana didalam langkah yang mereka tempuh terdapat dua hal yang berbeda, tujuan yang baik dan perbuatan yang buruk, adalah bentuk kesesatan yang mengarah pada karakteristik aliran setan yaitu dualitas.


Tulisan berikutnya gue akan membahas mengenai keadaan sekarang ini, mengenai bagaimana penyesatan dilakukan oleh beberapa aliran yang ada dewasa ini, dan bagaimana yang namanya applied religion dapat masuk dan merusak kehidupan beragama kita.

Hmmm, sebagai bocorannya, mungkin salah satu cara penyesatan adalah dengan mengeksploitasi soft spot manusia, seperti ini:



R.I.P. May 2012

 Bersambung...  Smiley

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More