My Facebook

not shown

Senin, 16 September 2013

Penyesatan Berbentuk Peluang dan Kesempatan

Ketika kita sedang disibukkan dengan masalah korupsi dan krisis yang terjadi, kita tidak sadar bahwa ada yang lebih berbahaya dari korupsi yang biasanya memanfaatkan kondisi krisis, yaitu peluang dan kesempatan yang menyesatkan. Kita terbiasa melihat bagaimana kekuasaan berubah menjadi mesin pencetak uang atau kekayaan, tapi kita jarang mengekspos yang sebaliknya yaitu bagaimana uang dan kekayaan diubah menjadi kekuasaan. Seseorang dengan jabatan (pemegang kuasa) tapi menginginkan kekayaan dapat melakukan penyimpangan dengan melakukan korupsi untuk mendapat uang yang tidak terbatas, tetapi orang yang tidak mempunyai jabatan dan kekuasaan tidak dapat melakukannya walaupun dia mempunyai uang yang berlimpah. Lalu bagaimana yang memiliki uang dan kekayaan ini mengubah uang dan kekayaan tersebut menjadi kekuasaan yang menyimpang? Ya dengan peluang dan kesempatan yang aktivitasnya tidak terbatas pada bisnis semata melainkan merambah pada mencari bentuk kekuasaan yang tidak terbatas. Yang tidak terbatas biasanya mengarah pada penguasaan atas kebebasan individu atau kedaulatan suatu wilayah. Peluang dan kesempatan seperti ini bisa terdeteksi ketika mereka masuk ke wilayah personal individu atau masuk ke aspek keamanan suatu wilayah tertentu. Ketika mereka masuk ke wilayah personal individu, misalnya mengatur keseharian seseorang dan mengatur preferensi seseorang, maka sebenarnya sudah ada penyimpangan. Sayangnya banyak yang melihat hal ini sebagai sebuah proses timbal balik semata yang menguntungkan kedua belah pihak. Bahkan banyak pula yang merasa tercerahkan karena dampak positif yang dirasakan akibat pengaturan keseharian dan preferensi mereka, setidaknya mereka merasa lebih baik dari sebelum mereka tercerahkan. Mereka pun menganggap orang yang memberi peluang dan kesempatan pada mereka sebagai pelindung karena berhasil mengisi kekosongan mereka yang gelisah akan ketidakpastian dimasa krisis. Kekuasaan seperti ini kemudian akan sangat manipulatif dan menjadi kekuasaan yang absolut. Kekuasaan dimana aktivitas yang negatif pun akan berdampak positif karena termanipulasi. Kekuasaan dimana batasan-batasan timbul tenggelam akibat besarnya kekuasaan yang melindungi dirinya. Sebagai contoh, ketika seseorang menerima sebuah peluang usaha bisnis, dia dibina sampai pada batas pengaturan akan rutinitas kesehariannya,yang sebenarnya tidak krusial atas bisnis usaha yang dijalankan, untuk tujuan memaksimalkan dirinya, seperti misalnya bagaimana dan dimana dia harus makan, apa yang harus dilakukan sebelum tidur, bagaimana dan kapan dia harus menggosok gigi setiap harinya, dll. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari sebelumnya. Ketika dia melihat orang lain yang tidak menjalankan rutinitas tersebut, seperti misalnya rutinitas langsung menggosok gigi setelah makan, dia merasa orang lain tersebut tidak tercerahkan seperti dirinya, merasa bahwa orang tersebut lebih rendah dari dirinya yang sudah dimaksimalkan kesehariannya. Akibatnya dia pun merasa ada yang perlu dirubah untuk menjadi maksimal. Disini orang yang merasa tercerahkan tersebut dapat saja memandang kehidupan keseharian orang lain adalah hal yang tidak berarti jika belum tercerahkan. Dia pun bisa saja kemudian melecehkan orang yang sedang menjalankan aktivitas kesehariannya, misalnya dengan ejekan, sindiran atau perbuatan yang melanggar privasi seseorang atau bahkan masuk kedalam kehidupan pribadi orang lain hanya untuk pembenahan rutinitas keseharian orang lain tersebut. Dia berpikir kalau dirinya mau untuk dimaksimalkan berarti oranglain juga harus mau untuk dimaksimalkan. Hal ini juga terjadi pada aliran sesat. Pada aliran sesat bukan kehidupan keseharian yang dibina melainkan keyakinan dan ibadahnya dibina dan dituntun sehingga dia merasa keyakinan dirinya lebih superior dibandingkan yang lain. Dengan keyakinan yang super inilah dia bisa masuk ke kehidupan orang lain dan mengajarkan hal-hal yang dia rasa benar tapi terkadang bertentangan dengan ajaran agamanya. Makanya terkadang orang-orang yang dibina dengan cara demikian bisa diarahkan untuk mengganggu atau bahkan merusak aktivitas keseharian orang lain. Merekapun melanggar batasan yang ada dengan aktivitas mereka untuk menimbulkan dampak yang mereka anggap positif.

Peluang dan kesempatan dengan kekuasaan tidak terbatas ini dapat menimbulkan ketergantungan karena adanya perlindungan akan kehidupan mereka yang tercerahkan, yang artinya pula jika tidak ada peluang dan kesempatan yang seperti ini maka kehidupan mereka terancam. Akibatnya mereka melihat ada simbiosis antara eksistensi pelindung/sponsor mereka dengan kehidupan mereka sehingga timbal balik yang mereka berikan adalah juga perlindungan akan eksistensi dari sponsor atau pelindung mereka. Inilah yang terkadang berbahaya karena aktivitas masa bisa terbentuk untuk melindungi sponsor/pelindung mereka dan aktivitas ini yang terkadang berubah menjadi hal-hal yang sifatnya merusak.

Sebenarnya kalau mau dianalisa lebih jauh, dampak negatif dari peluang dan kesempatan bisa menjadi besar ketika peluang dan kesempatan ini sifatnya berupa bantuan agar kita bisa melebihi dari apa yang sudah ada pada diri kita sekarang. Peluang dan kesempatan yang berupa bantuan seperti ini sifatnya instan, karena merupakan cara cepat untuk mendapatkan sesuatu yang melampaui keterbatasan kemampuan yang kita miliki. Biasanya hal ini disebabkan karena kita merasa diri kita mampu melakukan hal yang lebih tapi terkendala oleh  keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Kita merasa gelisah dan tidak nyaman dengan kondisi kita. Ekspektasi kita akan diri kita jauh lebih tinggi dari keterbatasan kita. Ekspektasi yang besar terhadap diri kita ini bisa ditimbulkan oleh adanya impian yang ideal atau merasa tidak adanya keadilan. Ketimpangan antara impian dan kenyataan tersebut kemudian membuat kita merasa kita berhak mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang sudah dimiliki, sehingga kita pun menerima tawaran yang akan mengubah kondisi yang terbatas tersebut. Masalahnya, terkadang yang instan membuat kita terlena dan lupa akan jati diri kita karena kita kemudian melakukan lompatan kemajuan tanpa harus bersusah payah mengelola kemampuan kita yang terbatas tersebut. Kitapun menjadi egois dan sombong akibat cara yang instan tersebut. Kita bukannya berjuang untuk kehidupan tapi malah sibuk kongkalingkong supaya mendapat peluang dan kesempatan yang instan ini. Kita pun tidak bisa melihat permasalahan yang sesungguhnya dengan adanya pelindung dan malah menggunakan alasan pribadi kita. Banyak alasan yang kemudian bisa dilontarkan akibat termakan bujuk rayu si pemberi peluang instan ini, mulai dari alasan bahwa kita orang baik yang nggak korup sehingga sebagai orang baik kita pasti bisa memanfaatkan peluang yang diberikan dengan baik. Atau bukan orang baik tapi pintar atau hebat atau canggih, genius, cakep...dll. Yang bagus...bagus lah alasannya. Tapi bagusnya lagi, yang terjebak dengan kondisi pendewasaan berfeedback negatif akan mengejek orang, yang ga mau menerima pelindung yang seperti ini, sebagai bayi yang tidak mengerti bagaimana dunia berputar (pengalaman dan persepsi dia sebenarnya tidak tepat dan tidak cukup untuk menggambarkan perputaran dunia, ada pengetahuan yang mendasar yang harusnya dipergunakan sehingga persepsi dan pengalaman dia tidak membuat dirinya menjadi liberated). Ada pula yang diyakinkan menggunakan contoh keberhasilan orang lain yang sudah lebih dulu berhasil menggunakan peluang dan kesempatan instan tersebut. Atau yang sebenarnya mengerti bahayanya tancap gas seperti ini menganggap bahwa konsekuensi akibat tindakan mereka akan terjadi jauh dimasa datang, setidaknya bukan mereka yang nanti akan terkena imbasnya. Sebagian lagi mempunyai alasan klasik "mengikuti arus".  Sebagian lagi malah harus diancam dan dikecewakan demi membangun alasan pribadi tersebut.Masalahnya yang instan itu membuat segala sesuatu dimainkan secara fast forward, yang berarti jangan berharap terlalu lama untuk sampai di the end of line. Lagipula resiko peluang instan tergantung juga pada bagaimana kekuasaan tersebut terakumulasi, seberapa besar dan apa yang kemudian terjelantahkan dari kekuasaan tersebut. Kalau semua mengangkat tangan diatas dan menyerahkan risk management tersebut kepada yang punya kuasa (yang memberi peluang instan) maka malapetaka yang datang di the end of line tersebut.

Sewajarnya, untuk setiap penawaran akan peluang dan kesempatan, semakin besar gain yang ingin kita dapatkan maka semakin besar resiko yang harus kita terima. Tapi lain halnya untuk peluang dan kesempatan yang instan, semakin besar gain yang ingin didapatkan, semakin besar resiko yang harus orang lain terima. Makanya orang dengan bantuan instan, buta akan yang namanya resiko. Ini akibat cara instan yang memang tidak melibatkan dirinya secara langsung dengan pergumulan untuk menentukan nasibnya sendiri. Mereka akan terlihat putih bersih tanpa noda sampai pada akhirnya si pelindung mereka memutuskan untuk membuka kebobrokan mereka (biasanya ketika mereka sudah tidak sejalan dengan kemauan pelindungnya yang mungkin saja mengarah pada hal yang membahayakan). Bandingkan dengan orang-orang yang tanpa pelindung ketika sistem yang menaungi mereka bocor dimana-mana, mereka akan terlihat sangat kotor dalam pergumulan tersebut sehingga mudah untuk dicari kesalahannya. Merekalah yang paling besar menerima resiko tersebut. Cara instan berarti ada resiko yang dihilangkan atau dipermudah, padahal cara instan berarti pula resiko yang semakin besar. Lalu kemana larinya resiko tersebut karena yang namanya resiko tidak bisa hilang begitu saja. Pada cara instan, resiko tersebut tidak lari tapi tertunda atau pindah ke orang lain karena yang namanya instan sifat alamiahnya merugikan orang lain. Pada aliran sesat resiko dari peluang dan kesempatan yang hilang ini diklaim sebagai act of God. Mereka meyakini perantara mereka sehingga melemahkan keyakinan mereka pada Tuhan mereka.

Dengan menerima peluang yang instan sebenarnya hal tersebut menunjukkan bahwa diri kita ada pada dua titik ekstrem yang berbeda, yang satu adalah bahwa kita sangat optimis diri kita mampu dan bisa menerima hal yang lebih, dan yang satu lagi adalah bahwa kita pesimis sehingga diri kita harus membutuhkan bantuan sponsor. Untuk kenyamanan dan kedamaian diri kita maka dua titik ekstrem ini harus bertemu (berdamai), makanya ketika seseorang merasa dirinya adalah pusat/sentral dari segalanya(egois) dia akan berusaha mencari titik temu tersebut yaitu menerima tawaran untuk mendapatkan yang lebih. Kita merasa menjadi diri kita sendiri dengan jalan tidak menjadi diri kita sendiri (dengan bantuan sponsor yang diterima). Disini terlihat hipocrisy akibat dari dualitas titik ekstrem tersebut. Hal seperti ini sangat mudah ditimbulkan dari pendewasaan berfeedback negatif yang sudah gue bahas sebelumnya. Hipocrisy ini juga akan diperparah ketika satu titik ekstrem yang dianggap positif yaitu optimisme diekspos keluar sementara titik ekstrem yang lain yaitu pesimisme  disembunyikan. Yaitu ketika lompatan kemajuan berusaha diekspos tapi unsur bantuannya yang bisa membuat diri kita tampak lemah disembunyikan, dan inilah yang kemudian membuat diri kita menjadi defensif. Kalau sudah defensif seperti ini maka segala cara bisa dilakukan untuk melindungi hal yang tidak terekspos. (Perilaku akan berbeda ketika kita hanya pada satu titik ekstrem tertentu misalnya optimis. Ketika kita hanya optimis maka kita akan sibuk mengelola dan mengolah apa yang sudah dimiliki. Psikologi memang dapat digunakan untuk memanipulasi seseorang. Makanya ga usah kita mikir psikologi kita, optimis atau tidak, kalau kita menggunakan keyakinan agama kita tentunya kita tidak akan membutuhkan kuasa lain untuk menjadi pelindung atau bantuan cepat seperti ini, apalagi tertarik dengan hal yang ideal yang mereka tawarkan. Peluang dan kesempatan instan seperti ini menandakan kita membutuhkan kuasa lain sebagai penentu kehidupan kita selain kuasa dari Yang Diatas).

Kerusakan bisa kemudian timbul akibat hipocrisy ini. Ketika kemudian peluang yang berupa bantuan instan tersebut hilang maka akan sulit untuk mempertahankan kondisi yang sama karena ketidakmampuan mengelola dan mengolah apa yang dimiliki.  Akhirnya demi mempertahankan kondisi maksimal tersebut merekapun menghalalkan segala cara yang dapat menimbulkan pengrusakan. Merekapun mencari titik temu dengan berdamai lebih jauh lagi pada tindakan kriminal dan merusak. Titik berdamai inilah yang kemudian membutuhkan pengorbanan-pengorbanan yang sifatnya merusak dan apabila bantuan tersebut bersifat masiv maka pengrusakan massal dapat terjadi. Hal ini klasik sebenarnya, massa yang kaget menerima kenyataan bahwa kondisi mereka jatuh, akan berbuat anarki karena pada dasarnya mereka tidak tauk harus berbuat apa untuk menahan posisi mereka. Vulnerabilitas yang muncul akibat hilangnya bantuan dan dukungan kemudian ditutupi dengan menggunakan atau mengorbankan masa pengikutnya. Peluang dan kesempatan yang instan memang seringkali mengumpulkan masa karena kekuasaan memang membutuhkan masa pendukung, dan semakin banyak uang dan kekayaan yang digelontorkan maka akan semakin tertarik orang untuk mengikuti kekuasaan tersebut bahkan ketika cara-cara yang dilakukan sudah tidak benar. Berikan saja embel-embel dan bendera sebagai common groundnya (landasan kebersamaan dalam kelompok tersebut), maka hilanglah landasan dan batasan yang umum berlaku di masyarakat. Akhirnya mereka malah lebih terpuruk lagi akibat pengrusakan dan anarki yang dilakukan, karena selain hilangnya bantuan dan sokongan yang biasa mereka dapatkan, mereka juga kehilangan massa yang merasa kondisi maksimal tersebut adalah hak mereka. Pada aliran sesat hal ini jelas terlihat ketika pengikutnya berdamai dengan keinginan pemimpin aliran sesat tersebut untuk melakukan bunuh diri masal. Pada satu titik pengikutnya masih menginginkan hidup senang dan tentram tapi dititik yang lain mereka tidak mampu untuk membela dirinya sendiri. Ketika pemimpinnya secara intensif berceramah yang mempengaruhi keyakinan mereka bahwa mereka harus ikhlas berkorban dan menerima kondisi yang ada karena surga menanti mereka, maka mereka pun menemukan titik temu tersebut sehingga damailah (RIP=rest in peace) pilihan mereka. Disinilah kita lihat permasalahan yang bisa ditimbulkan oleh peluang dan kesempatan yang instan, adanya hipocrisy damailah ini. Menurut gue pemimpinnya pesimis bahwa para pengikutnya tidak akan terjebak dengan cara cepat dan merusak untuk mempertahankan kondisi kehidupan mereka ketika pemimpinnya sudah tidak ada. Maklumlah karena para pengikutnya memang sudah terjebak dengan menggunakan cara cepat ini dengan mengikuti ajaran aliran sesat tersebut.

Di zaman modern ini, mengolah peluang dan kesempatan lebih dilihat pada menghasilkan uang (pendapatan) secara sustainable dan bukan untuk menghasilkan produk secara sustainable. Ketika kita melihat peluang untuk menghasilkan produk yang sustainable, kita mengambil kemungkinan yang datang untuk dimiliki (dikuasai secara penuh) dan kemudian diolah supaya hasilnya bisa berkelanjutan. Tetapi ketika peluang dan kesempatan hanya untuk meningkatkan pendapatan, maka kita hanya akan mengambil kemungkinan-kemungkinan yang datang tersebut tanpa pernah berusaha untuk menguasainya secara penuh sehingga kita seperti terlihat melompat-lompat mengambil setiap kesempatan yang ada. Akibatnya, bantuan dari orang lain untuk memberikan peluang seperti ini akan selalu dibutuhkan demi sebuah kemajuan. Kitapun seperti melangkah diatas angin, cepat dan tidak berpijak. Ketika kita sibuk akan lompatan-lompatan ini, kita lupa bahwa sebenarnya pekerjaan rumah kita untuk mengolah dengan benar atas apa yang kita miliki tidak pernah dilakukan. Kita selalu tertarik melihat teknologi baru, kesempatan dan peluang baru yang mungkin tidak kita butuhkan atau tidak bisa kita kelola. Juga dalam mencari pekerjaan, dengan alasan ingin mencari uang sendiri dan mandiri kita tidak mau mengelola apa yang sudah menjadi tanggung jawab kita atau apa yang sudah kita miliki. Contohnya, ortu kita punya kebun yang sangat luas, tapi kemudian kita lebih memilih mengambil tawaran orang lain untuk menjadi orang kantoran. Kata pepatahnya rumput tetangga selalu lebih hijau dari rumput sendiri.

Kalau dalam ilmu ekonomi ketika kita tidak bisa mengelola untuk menghasilkan produk yang sustainable maka secara riil produktivitas kita menurun. Kita hanya fokus meningkatkan pendapatan yang bisa kita dapatkan dengan terus mengambil dan mengambil peluang dan kesempatan yang ada (walaupun itu berarti kita terus membolongi perut bumi sampai malapetaka terjadi). Dengan pendapatan yang menjadi fokus peningkatan maka inflasilah yang menjadi feeder peningkatan pendapatan. (Kalau ada yang bilang sistem seperti ini adalah sistem riba gue rasa kurang tepat karena sistem seperti ini berbasis inflasi, negara menggelontorkan uang lewat surat utang yang diserap oleh perbankan. Pda sistem berbasis inflasi ini, bunga atau riba hanya sebuah mekanisme untuk mendistribusikan inflasi. Dan jujur aja, sistem berbasis riba jauh lebih mendingan daripada sistem berbasis inflasi karena dalam sistem riba kita masih punya pilihan, tapi pada sistem berbasis inflasi semua dipaksa untuk mengikuti arus inflasi ini). Ketika yang kita ambil terus menerus adalah sumber daya alam, maka ketika sumber daya alam tersebut harganya tinggi dipasaran, penurunan produktivitas tidak menjadi masalah. Hal ini karena penurunan produktivitas dapat dicounter dengan memasukkan barang dari luar menggunakan pendapatan yang tinggi tersebut. Konsumerisme akhirnya menjadi gaya hidup. Inflasi yang menjadi feeder sistem ini pun tidak muncul kepermukaan  karena supply (kita masih bisa mendatangkan dari luar) dan demand (konsumerisme) masih seimbang. Kitapun melihat hal ini sebagai peningkatan daya beli (sayangnya dengan menurunkan daya saing). Hanya saja yang seperti ini biasanya tidak bisa berlangsung lama. Inflasi akan mulai terlihat ke permukaan ketika produktivitas yang menurun ini mulai menunjukkan giginya, yaitu ketika penurunan produktivitas lebih laju daripada kenaikan pendapatan. Biasanya hal ini terjadi karena yang terus menerus diambil ini semakin susah didapat atau harganya dipasaran melorot. Disini inflasi menyerap jumlah uang yang beredar dimasyarakat sehingga daya belipun berkurang. Otoritas keuangan yang biasanya punya mekanisme tersendiri untuk menyerap atau menggelontorkan uang (lewat surat utang) tidak akan cukup berdaya karena mekanisme pasar (the invisible hand) mulai bekerja. Ketika krisis terjadi siklus pun berulang dengan munculnya peluang dan kesempatan yang sifatnya instan bahkan yang berbasis money laundering (Uang digelontorkan dalam bentuk kesempatan dan peluang dimana uang tersebut adalah hasil kejahatan yang sudah dibungkus secara apik. Uang tersebut harus dibelanjakan untuk membeli kebutuhan atau produk tertentu sehingga uang tersebut mengalir kembali kepada si pelaku kejahatan yaitu pemilik atau produsen produk tertentu tersebut. Produk tersebut biasanya juga bodong artinya tidak memiliki arti atau manfaat yang durable' walaupun bisa juga durable. Contoh yang durable misalnya seseorang punya toko cat dan juga tempat hiburan malam yang ilegal. Dia akan menggelontorkan uang hasil kegiatan ilegal kepada anak buahnya untuk dibelikan cat ditokonya agar uang tersebut kembali kepada dirinya. Akhirnya anak buahnya kerjanya ngecat rumahnya melulu. Disini sangat terlihat simbiosis yang terjadi). Peluang dan kesempatan yang seperti ini memang bisa meningkatkan daya beli tetapi hanya sementara karena pada akhirnya akan menimbulkan inflasi yang jauh lebih dahsyat lagi. Dalam sistem seperti ini mengumpulkan uang dengan mengambil kesempatan dan peluang yang datang sebagai bekal kemandirian akan seperti memberi garam kelautan. Percuma.

Pilihan untuk mengambil kesempatan dan peluang yang datang, daripada mengolah apa yang sudah ada juga berdampak buruk pada level tanggung jawab yang dimiliki seorang individu atas apa yang dikerjakannya. Pilihan tersebut mengisyaratkan tanggung jawab yang rendah pada apa yang sudah dimiliki. Ketika tanggung jawab rendah maka pengrusakan akan mudah terjadi. Selain itu, kesempatan dan peluang inipun lebih mudah untuk dilepasnya karena memang pertimbangannya hanya manfaat yaitu uang yang didapat (pendapatan). Ketika manfaatnya berkurang atau ada yang lebih besar lagi manfaatnya (pendapatan) maka dengan mudahnya kita melompat. Coba bandingkan ketika aktivitas kita didasarkan pada keyakinan dan kesadaran bahwa apa yang kita miliki sudah cukup, tinggal kita mengolah dan mengelolanya dengan benar. Ketika muncul hal yang baru yang lebih menguntungkan, setidaknya keyakinan dan kesadaran tersebut akan mempengaruhi pengambilan keputusan kita kearah mana kita akan melangkah. Sayangnya manfaat seperti uang dan materi lebih terlihat oleh persepsi kita daripada keyakinan dan kesadaran seperti ini. Padahal yang namanya kesombongan dan keegoisan akan naik sampai kelangit ketujuh kalau bicara mengenai "manfaat" materi. Orang akan dirasakan lebih hebat dan terhormat ketika dia bisa membangun bangunan yang megah, atau membuat acara di hotel yang wah...atau berhasil membuat panggung hiburan yang megah. Masa bodo deh sponsornya darimana yang penting brojol-brojol deh uangnya. Hal tersebut bahkan akan sangat membanggakan. Padahal dibelakang itu semua kita mungkin tidak tauk aktivitas apa yang sudah dilakukannya untuk mendapatkan peluang dan kesempatan seperti ini. Mungkin saja uang tersebut hasil dari money laundering, dan mungkin saja pada akhirmya aktivitasnya bisa merugikan kita semua. Ketika ada orang yang sebenarnya dengan keyakinannya sudah susah payah mempertahankan apa yang sudah dimiliki, maka orang akan mencibir karena tidak ada kemajuan yang berarti yang bisa membuat orang lain ikutan senang dan bahagia. Ga ada kemajuan....hmm, memangnya kita sudah cukup pantas menerima kemajuan yang seperti ini?

Masalah lain yang bisa timbul dari peluang dan kesempatan yang ga jelas dan instan ini adalah bisa menciptakan ketidaksesuaian antara usaha yang dilakukan dengan kemampuan dan level tanggung jawab yang dimiliki. Yang kemudian bisa mempersulit orang lain yang sebenarnya mempunyai tingkat kemampuan dan tanggung jawab yang sesuai, atau bahkan menghilangkan kesempatan orang. Seorang bawahan misalnya dia menjadi lebih berkuasa daripada atasannya karena dia yang menerima peluang usaha dari luar. Atasan kemudian tunduk kepada bawahannya hanya karena bawahannya mempunyai koneksi yang lebih menguntungkan, padahal atasan mempunyai tanggung jawab yang lebih besar. Ketika terjadi sesuatu atasanlah yang kemudian bertanggung jawab dan bawahannya hanya lenggang kangkung saja. Atau bisa saja bawahannya ini menjadi sebuah kekuatan rival yang membayangi kekuasaan atasannya tanpa harus mempunyai tanggung jawab tertentu dan menggerogoti kuasa atasannya. Ketika atasannya ingin dijatuhkan dia tinggal menggunakan informasi yang buruk mengenai atasannya dimana informasi ini memang dengan mudahnya dia dapatkan karena dialah perantara untuk peluang yang didapat bosnya, dan akibat informasi yang buruk mengenai atasannya tersebut dia malah menjadi pahlawan pengungkap kebenaran. (Disini terlihat bagaimana informasi lebih dihargai daripada beban tanggung jawab seseorang). Peluang dan kesempatan yang instan memang kerap menggunakan informasi yang instan yang biasanya didapat dari luar. Hal seperti ini tidak hanya terjadi pada lingkup bisnis tapi bisa juga terjadi pada lingkup yang lebih kecil seperti didalam sebuah keluarga, pertemanan atau lingkungan tetangga. Setelah mendapat peluang dan kesempatan emas dia juga mendapat informasi buruk perihal pasangannya atau temannya atau tetangganya yang bisa menjatuhkan pasangannya atau temannya atau tetangganya. Atau dia mendapat informasi yang baik mengenai penyempurnaan kepribadian atau keseharian dirinya. Informasi yang personal inilah yang kemudian menjadi sangat dihargai bukan hanya karena peluang dan kesempatan emas yang menyertainya tapi juga karena informasi tersebut secara kultural diterima sebagai masukan yang berharga (cara instan tanpa proses untuk mengenal seseorang atau diri sendiri). Aroma busuk peluang dan kesempatan emas yang dia dapat tersebut tidak tercium akibat dia hanya bisa mencium  informasi busuk yang dia dapat perihal pasangannya atau temannya atau tetangganya, atau aroma wangi dari perbaikan dan penyempurnaan dirinya. Disini tatanan kehidupan bermasyarakat tergrogoti oleh nafsu yang didapat dari peluang dan kesempatan ini.

Peluang dan kesempatan yang menggunakan informasi yang instan ini bisa terdeteksi ketika mereka menganggap informasi tersebut adalah pengetahuan yang bisa diimplementasikan. Padahal informasi sebenarnya tidak cukup untuk dijadikan pengetahuan, karena pengetahuan adalah hal yang mendasar yang tidak terpengaruh oleh implementasi serta situasi kondisi yang ada. Pengetahuan yang seperti ini biasanya didapat dari textbook, tertulis dan terverifikasi, atau dari hasil pengamatan selama puluhan tahun atas objek yang bersangkutan. Ilmu agama yang berasal dari kitab suci adalah salah satu pengetahuan dasar tersebut. Akibat penggunaan informasi yang instan, maka pengetahuan yang mendasar tidak dibutuhkan lagi. Makanya peluang dan kesempatan yang seperti ini biasanya sangat menarik karena full of implementation tapi kekurangan originalitas atas inisiafif yang dilakukan akibat tidak memiliki pengetahuan yang mendasar. Ibaratnya kita mengenal pribadi seseorang dari hasil uji psikotes daripada melalui pertemanan selama bertahun-tahun. Atau menggunakan teknologi canggih tanpa tauk bagaimana membuat teknologi tersebut.

Kegagalan yang kemudian terjadi akibat peluang instan tersebut adalah karena keaktifan mereka didasarkan pada suatu titik kelemahan. Mereka "act based on weakness". Mereka bisa aktif karena mendapatkan bantuan (bantuan bisa dikategorikan sebagai kelemahan). Merekapun bisa aktif karena melihat atau mendapat informasi mengenai kekurangan orang lain. Inilah pesimisme mereka yang mereka tolak untuk akui.



In hipocrisy, white lose. When white lose, the end will be really really nasty.

0 comments:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More