My Facebook

not shown

Arti Sebuah Cerita

Pernah dengarkan cerita-cerita hikayat rakyat yang berbentuk legenda dan mitos? Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa punya banyak sekali cerita hikayat, soalnya masing-masing daerah punya cerita sendiri-sendiri.

Arsitek Mimpi

Tahun 2009 gue pulang ke rumah orang tua gue untuk beristirahat, sekalian menyembuhkan keadaan gue setelah cukup lama keluar masuk rumah sakit.

Resep Masakan dan Kue

Kumpulan resep-resep favorit gue yang sudah dimodifikasi dan diracik dari dapur sendiri, bisa dilihat di halaman Hobi. Silahkan mencoba!

Mengenai Penyesatan

Ada banyak sekali aliran keyakinan dan sekte di dunia, dan beberapa diantaranya yang menggemparkan dunia dibahas di blog ini. Tulisan terdiri dari tiga bagian, bagian pertama dan kedua membahas aliran sesat yang berujung maut. Tulisan ketiga membahas aliran yang dianggap sesat dan sedang berkembang dewasa ini.

Ada Yang Sama?

Terkadang kita menemukan dua hal yang persis sama pada suatu kesempatan, baik itu nama, wajah, tanggal lahir dll. Akhir-akhir ini gue menemukan beberapa hal yang kebetulan menyamai diri gue yang gue bahas disini.

Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Maret 2012

No Comment on BBM-BLT

Mau lidah nggak kering, pergi kekantin di siang bolong
     beli minuman jus yang putih, atau  yang kuning.
Ketika badan semakin ceking,  perutpun bunyi keroncong
     tinggal pilih mau dikasih, atau jadi maling.


Pantun diatas bukan punya gue tapi dari temen gue (yang milih dua-duanya). Kalau gue sendiri, no komen lah soal kenaikan BBM dan BLT-nya yang super aneh. Tapi serangan kedua nantinya pasti akan berasa dan ngaruh banget buat semuanya. Soalnya, di Indonesia BBM nyambungnya ke inflasi (beda sama negara lain dimana ada kenaikan BBM tapi inflasi masih bisa ditekan rendah). Listrik pastinya yang akan cukup berdampak, dan transport kayaknya harus ganti dengan yang lebih murah. Hmmmm...  apa mungkin ini cuma april mop ya?

Tapi, apapun yang terjadi please have a faith, don't go with the flow, instead, go by the rule. Kalau kita mengikuti aturan, kita pasti akan dipaksa untuk memutar otak kita dan menggunakan sumber daya secara efisien sesuai dengan kemampuan kita masing-masing.  Hal tersebut pastinya akan jauh lebih baik dari pada pertentangan dan pertikaian seperti sekarang ini, yang bisa membuat kita terjebak kedalam sebuah proses yang berbahaya yang bisa menghancurkan fondasi kita dalam berbangsa dan beragama. (Aksi-reaksi sangat rentan untuk dimanipulasi menggunakan proses dialektik misalnya).

Lagipula, ketika kita berbicara mengenai ekonomi, kita bicara soal distribusi kelangkaan, bukan distribusi uang. Bagaimana akses kita terhadap produk sehingga kelangkaan dapat teratasi, dan bukannya akses kita kepada uang yang hanya merupakan alat dalam sistem ekonomi. Kemajuan teknologi memang dapat memacu produksi sehingga dapat mengatasi kelangkaan, mempercepat distribusi sehingga sampai ketujuan, menciptakan mirage bahwa produk semakin mudah didapat. Ketika barang mudah didapat, uang pun akan menjadi mudah didapat pula. Tapi, coba jangan senang dulu, kalau memang teknologi memegang peran penting dalam perekonomian serba mudah yang kita jalani sekarang, itu artinya teknologi adalah modal yang mutlak dibutuhkan dan dimiliki (teknologi yang gue maksud bukan BB, Smart Phone, etc yang mudah didapat dengan uang). Semakin cepat roda perekonomian diputar, semakin besar pula kebutuhan akan modal-modal yang mendasarinya. Yang artinya pula, teknologi adalah kelangkaan yang kalau tidak segera ditanggulangi akan mengancam kehidupan bersama. Mungkin inilah kenapa kita terkena dampak inflasi sekarang? Selain untuk melonggarkan tekanan beratnya beban bunga utang dan menciptakan ruang untuk membuat utang baru (another fast fresh flow of money with the cost of our future)?
 
Ibaratnya sepeda melaju dijalanan menurun, tanpa butuh tenaga dan usahapun jalannya bisa melaju kencang, ngerem pun sulit. Bablasssss! Jadi, kapan perampokan ini akan berakhir, setelah negara dirampok dengan penjualan aset-aset negara seperti BUMN, sekarang rakyatnya juga harus dirampok dengan inflasi akibat pengurangan subsidi. Dan sepertinya hasil rampokan tersebut tidak hanya diperuntukan sebagai uang "cepat" untuk dibagi-bagi ke rakyat deh... Kalau ada bagian yang ternyata hilang, kemana kira-kira larinya ya?




Kit: There's no such thing as an easy money, Squeaky.
 (After gotten inside in an abandoned Russian ship caught in the middle of the eye of Liah typhoon).
Virus (1999)
         

Senin, 21 Maret 2011

Motif si Pemberi Pinjaman

Kalau kita punya barang bagus, terkadang kita berpikir panjang untuk meminjamkan barang tersebut ke seseorang bahkan ke teman sekalipun. Apalagi kalau barang tersebut adalah pemberian atau mungkin titipan dari orang lain. Maklumlah, karena kalau terjadi apa-apa belum tentu orang yang kita kasih pinjam mau bertanggung jawab, iya kalau orangnya baik kalau ga baik gimana dong? Toh pemegang tanggung jawab sebenarnya ada ditangan yang memberi pinjaman.

Andaikan punya sendiripun pastilah sayang banget untuk dipinjam dan kita jadi sangat hati-hati meminjamkannya. Kalau dipinjam juga kita harus tahu untuk apa dan dalam kapasitas apa. Memangnya sampai sejauh mana sih barang-barang pribadi dapat dipinjamkan? Makanya, dalam hal pinjam-meminjam, motif dari yang mendapat pinjaman biasanya lebih dianalisa. Lalu, apakah motif dari si pemberi pinjaman bisa menjadi tidak penting?

Didalam masyarakat yang sudah seharusnya semakin kritis, motif si pemberi pinjaman harusnya juga di pertimbangkan. Apalagi kalau barang tersebut cukup fragile atau dapat menimbulkan konflik karena harga yang mahal misalnya. Ada niat apa kok dengan mudahnya meminjamkan barang sebagus ini? Bahkan apabila motif si pemberi malah kemudian melilit yang meminjam ya ga baik juga nantinya.  

Tulisan ini hanya untuk menyadarkan betapa pentingnya komunikasi dan keterbukaan dan juga  agar motif-motif terselubung tidak menjadi beban orang lain dikemudian hari. Lah nanti kalau ada yang komentar gini: "Emangnya lilin, gampang dipinjam-pinjam. Kalo lilin diminta juga nggak apa-apa."

Selasa, 15 Maret 2011

Rezekikah yang Datang Tak Diundang, Pergi Tak Tauk Rimbanya?

Terkadang rezeki dapat datang tiba-tiba, eh tapi tunggu, jangan GR dulu, soalnya apa benar rezeki yang datang berasal dari sesuatu yang baik dan halal. Jangan-jangan rezekinya dari sumber yang ga jelas, apalagi zaman sekarang, dimana segala sesuatunya saling terkoneksi dan uang seakan-akan lebih berharga dari segalanya.
Lalu gimana tauknya kalau uang yang dihasilkan memang dari sumber yang benar? Susahlah ngejawab yang beginian. Tapi menurut gue ada beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan ketika kita menerima rezeki:

1. Prinsip kewajaran --> maksudnya segala sesuatu harusnya proporsional, dari kemampuan dan keterampilan yang kita miliki, dari kerja keras kita, dari efisiensi dan efektifitas kerjanya (bukan kerja bodong), dari lamanya waktu kita mendapatkan hasil, dan dari banyaknya rezeki yang didapatkan. Untuk yang terakhir ini harusnya selalu diingat bahwa resiko berbanding lurus dengan jumlah uang yang ingin didapat. Sesuatu dengan resiko yang besar maka hasilnya akan besar pula, begitu pula sebaliknya. Kalau resiko kecil tapi uang yang dihasilkan besar nah perlu deh curiga. Ketidakpastian juga sebuah resiko. Makanya ketika orang bisa mendapatkan hasil yang lumayan besar dengan resiko ketidakpastiannya rendah akan cukup mengherankan (kecuali kalau sudah mapan). Jadi kalau ada yang menawarkan yang pasti-pasti aja, pasti dapet, pasti untung, pasti langgeng dsb, curigalah akan biaya yang menyertainya yang tersembunyi dibalik kepastian tersebut.

2. Prinsip kehati-hatian --> maksudnya ga gampangan menurut terhadap bujukan yang tidak masuk akal atau bahkan bujukan yang masuk akal tapi tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat secara umum. Jangan subjektif, karena yang namanya identitas (dalam bentuk apapun: suku, agama, gender, status sosial, background dan umur) gampang dipalsukan dan dimanfaatkan.

3. Pertimbangkan persyaratan yang disyaratkan baik yang bersifat umum, terselubung atau rahasia. Syarat umum biasanya tidak berbahaya, yang berbahaya adalah yang terselubung atau bersifat rahasia. Nah yang rahasia inilah yang harusnya diwaspadai kenapa harus dirahasiakan. Berbahayakah bagi orang lain atau diri kita untuk kedepannya? Yang pasti, ketika digunakan syarat-syarat yang sebenarnya ga ada hubungannya sama sekali dengan urusan yang bersangkutan nah kita harus curiga. Pokoknya syarat-syarat yang ridiculous dan ludicrous lebih baik jangan diikuti, walaupun syarat tersebut negligible alias ga berarti apa-apa menurut pendapat kita.

4. Tidak merugikan dan mempersulit orang lain.
Jangan merugikan pihak ketiga karena tanggung jawab yang terbesar bukan berada pada pihak ketiga. Pihak ketiga adalah orang-orang selain pihak pelaksana dan pihak peminta.

5. Faktor ketergantungan. Identifikasi dari keterkaitan dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan rezeki tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung.

Wah, kapan jadi kaya kalau banyak yang harus dipikirin? Yah, ga semuanya memang yang dapat terpenuhi, tapi cobalah pertimbangkan baik-baik point-point diatas. Semakin berkuasa dan maju seseorang, maka harus semakin banyaklah hal-hal yang perlu dipertimbangkan. Uang dan jabatan yang mudah didapat pasti mudah juga pergi, tapi kalau rezeki yang halal pastinya ga kemana-mana.

Kalau kita menemukan sesuatu yang dianggap resikonya nol alias pasti-pasti aja, bukankah artinya sesuatu tersebut tidak mempunyai nilai atau nothing to lose? Mudahnya orang mendirikan bangunan saat ini ditengah banyaknya musibah dan bencana seperti gempa dan tsunami bukankah sebuah bukti bahwa nilai sebenarnya dari bangunan tersebut adalah tidak ada alias nol? 

Pada intinya, kalau kita sudah merasa seperti berada di negeri dongeng, waspadalah!


Survival of The Fittest

Lagipula, rezeki juga ga melulu uang dan hal-hal yang bersifat materi. Jangan sampai rezeki yang bersifat materi dan yang terlihat, yang berasal dari olahan manusia, menyepelekan atau merendahkan rezeki atau anugerah yang langsung diciptakan oleh Tuhan YME, yaitu alam dan mahluk hidup yang ada didalamnya. Jangan sampai melihat orang-orang yang tidak mendapat rezeki materi sebagai orang-orang yang tidak beruntung karena tidak mendapat rezeki yang terlihat, padahal orang-orang tersebut adalah mahluk hidup yang merupakan karunia Tuhan YME. Siapa tahu rezeki yang berupa materi dan kasat mata malah datang dari jin... lebih tidak beruntung lagi bukannya?

Masalahnya, orang cenderung berputar pada poros yang sama. Ketika mereka terjebak didalam sistem hutan rimba dimana yang menang adalah yang lebih kuat, solusi yang mereka tawarkan adalah solusi dimana mereka bisa menjadi lebih kuat. Yang pertama, bisa dengan usaha melampaui yang lebih kuat dari mereka, seperti meningkatkan sumber daya untuk diolah menjadi sumber kekuatan baru. Yang kedua, dengan menindas yang lemah atau dengan merangkul yang lebih kuat. Alasannya, mereka takut yang lebih lemah akan mengalahkan mereka apabila mereka tidak menjadi lebih kuat, bahkan lebih gila lagi, mereka akan mengatakan membuang mudharat yang ditimbulkan oleh kekalahan ketika kebobrokan diungkap. Padahal kalah dan menang seharusnya hal yang biasa. Makanya, solusi yang mereka lakukan akan memberi jalan untuk mempertahankan sistem agar tetap berada di hutan rimba, yaitu, yang lebih kuat yang hidup. Dan ini berarti, ketika mereka tahu bahwa ada yang jauh lebih kuat dari mereka dan tidak bisa mereka lampaui, maka sebenarnya mereka sadar kemana takdir akan membawa mereka.

Di dalam sebuah lingkungan dimana fear lebih dominan dibandingkan hal yang lain, maka solusi kedualah yang diambil. Akibatnya kemudian fatal karena mereka yang kemudian berhasil adalah mereka yang membuang resiko kekalahan tanpa harus menambah kekuatan dengan mengolah sumber dayanya dengan baik. Secara keseluruhan masyarakat akan menjadi lemah karena ketidakmampuan untuk mengolah sumber daya menjadi kekuatan yang dibutuhkan.

Dengan mengandalkan cara-cara termudah yang ada atau yang ditawarkan kita akan terjebak pada mengurangi resiko dengan cara mentransfer tanggung jawab atau menghilangkan tanggung jawab untuk diberikan kepada orang-orang yang berada diatasnya. Ketika sebuah solusi termudah ditawarkan, cobalah melihat ke sisi koin dibaliknya. Siapa yang terbebani dengan biaya hilangnya resiko akibat mengambil cara termudah yang ditawarkan tersebut? Pada akhirnya, kelompok yang terlemah dari masyarakatlah yang harus membayar beban resiko yang dihilangkan tersebut. Dan yang saya maksudkan adalah anak-anak, padahal, bukankah mereka adalah segalanya? Hmm..





Sebenarnya, saya kurang setuju dengan dua cara yang ditawarkan pada survival of the fittest. Karena sederhana saja, tanpa usaha untuk keluar dari sistem hutan rimba tersebut, kita semua pasti akan kalah. Lebih baik berhadapan dengan kebenaran dan menunjukkan niat baik daripada membawa semuanya pada jurang kehancuran.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites Gmail More